LOGO
REGRESI BERGANDA
www.themegallery.com
Regresi Berganda
Analisis regresi berganda digunakan untuk:
melihat pengaruh sejumlah variabel independen (bebas) X
1, X
2, ...,X
kterhadap variabel dependen (tak bebas/terikat) Y
memprediksi nilai suatu variabel dependen Y berdasarkan nilai variabel-variabel independen X
1, X
2, ...,X
k.
2
.themegallery.com
Model
Model Umum:
Y
i=
0+
1X
1i+
2X
2i+
3X
3i+ ...+
kX
ki+u
i
i = Banyaknya observasi
k = Banyaknya variabel bebas
0, 1, 2 , ..., k = Parameter/koefisien regresi
X1 , X2 ...Xk = Variabel bebas/independen Y =Variabel dependen/terikat
ui = error
www.themegallery.com
Pemeriksaan Regresi
Koefisien Determinasi (R2)
Uji Hipotesis:
Uji t Signifikansi koefisien regresi
Uji F Signifikansi model regresi
Uji asumsi klasik sebagai syarat
pendugaan OLS (Ordinary Least Square) bersifat BLUE (Best Linear Unbiased
Estimate)
Uji normalitas
Uji multikolinieritas
Uji homoskedastisitas
Uji autokorelasi
4
.themegallery.com
Uji-t
Dari tabel Coefficient (output regresi) lihat nilai Sig. (Significant) untuk
masing-masing koefisien variabel bebas:
Jika Sig. >= 0.05, maka terima H0, artinya koefisien variabel bebas = 0 tidak ada pengaruh variabel bebas
Jika Sig. < 0.05, maka tolak H0 atau terima H1, artinya koefisien variabel bebas ≠ 0 variabel bebas berpengaruh secara signifikan
www.themegallery.com
Uji F
Uji-F
Digunakan untuk uji hipotesis koefisien (slop) regresi secara bersamaan (simultan).
H0 : = 2 = 3 = 4 =...= k = 0
H1 : Tidak semua paling tidak, ada satu yang 0)
Dimana: k adalah banyaknya variabel bebas.
Pengujian lihat tabel ANOVA (Analysis of Variance).
Jika:
Sig. >= 0.05 terima H0 variabel bebas secara bersama-sama tidak berpengaruh terhadap variabel dependen (tak bebas)
Sig. < 0.05 tolak H0/terima H1 variabel bebas secara bersama berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen (tak bebas) menunjukkan kelayakan model atau model regresi bagus/baik
6
.themegallery.com
Asumsi-asumsi Dasar OLS
Pendugaan OLS akan bersifat BLUE (Best Linier Unbiased Estimate) jika memenuhi 3 asumsi utama, yaitu:
Tidak ada multikolinieritas
Tidak mengandung Heteroskedastisitas memenuhi asumsi homoskedastisitas
Bebas dari autokorelasi
www.themegallery.com
Multikolinieritas
Multikolinieritas adanya hubungan linier antara regressor (variabel
independen)
Misalkan terdapat dua buah regressor, X1 dan X2. Jika X1 dapat dinyatakan
sebagai fungsi linier dari X2, misal : X1 =
X2, maka ada kolinieritas antara X1 dan X2. Akan tetapi, bila hubungan antara X1 dan X2 tidak linier, misalnya X1 = X22 atau X1 = log X2, maka X1 dan X2 tidak kolinier.
8
.themegallery.com
Ilustrasi
Yi = 0 + 1X1 + 2X2 + 3X3 + ui Y : Konsumsi
X1 : Total Pendapatan
X2 : Pendapatan dari upah
X3 : Pendapatan bukan dari upah
Secara substansi: total pendapatan (X1) = pendapatan dari upah (X2) + pendapatan bukan dari upah (X3). Bila model ini ditaksir menggunakan Ordinary Least Square (OLS), maka i tidak dapat diperoleh, karena
terjadi perfect multicollinearity. Tidak
dapatnya diperoleh karena ( XT X )-1, tidak bisa dicari.
www.themegallery.com
Data Perfect Multikolinieritas
118 116
29
96 92
23
82 76
19
65 64
16
51 48
12
X3 X2
X1
Nilai-nilai yang tertera dalam tabel menunjukan bahwa Antara X1 dan X2 mempunyai hubungan: X2 = 4X1. Hubungan seperti inilah yang disebut dengan perfect multicollinearity.
10
.themegallery.com
Akibat Multikolinieritas
Varians besar (dari taksiran OLS)
Interval kepercayaan lebar (variansi besar
Standar Error besar Interval kepercayaan lebar)
R2 tinggi tetapi tidak banyak variabel yang signifikan dari uji t.
Terkadang taksiran koefisien yang didapat akan mempunyai nilai yang tidak sesuai dengan substansi, sehingga dapat
menyesatkan interpretasi.
www.themegallery.com
Kesalahan Interpretasi
“Interpretasi dari persamaan regresi ganda secara implisit bergantung pada asumsi bahwa variabel-
variabel bebas dalam persamaan tersebut tidak saling berkorelasi. Koefisien-koefisien regresi biasanya
diinterpretasikan sebagai ukuran perubahan variabel terikat jika salah satu variabel bebasnya naik sebesar satu unit dan seluruh variabel bebas lainnya dianggap tetap. Namun, interpretasi ini menjadi tidak benar
apabila terdapat hubungan linier antara variabel bebas”
(Chatterjee and Price, 1977)
.
12
.themegallery.com
Ilustrasi
2267 220
160
2129 210
140
1954 190
135
1456 140
110
1234 120
100
1023 100
85
1136 110
90
856 80
65
659 65
50
500 50
40
Kekayaan (X2) Pendapatan (X1)
Konsumsi (Y)
www.themegallery.com
Ilustrasi
Model:
Y = 12,8 – 1,414 Pendapatan +
0,202 Kekayaan SE(4,696) (1,199) (0,117)
t (2,726) (-1,179) (1,721) R2 = 0,982
R2 relatif tinggi, yaitu 98,2%. Artinya?
Uji t tidak signifikan. Artinya?
Koefisien X1 bertanda negatif. Artinya?
14
.themegallery.com
Ilustrasi: Model Dipecah
Dampak Pendapatan pada Konsumsi Y = 14,148 + 0,649X1 SE (5,166) (0,037) t (2,739) (17,659)
R2 = 0,975
R2 tinggi, Uji t signifikan, dan tanda X1 positif.
Dampak Kekayaan pada Konsumsi Y = 13,587 + 0,0635X2 SE (4,760) (0,003) t (2,854) (19,280)
R2 = 0,979
R2 tinggi, Uji t signifikan, dan tanda X2 positif.
X1 dan X2 menerangkan variasi yang sama. Bila 1 variabel saja cukup, kenapa harus dua?
www.themegallery.com
Mendeteksi Multikolinieritas
1. Eigenvalues dan Conditional Index
Aturan yang digunakan adalah: Multikolinieritas ditengarai ada didalam persamaan regresi bila nilai Eigenvalues mendekati 0.
Hubungan antara Eigenvalues dan Conditional Index (CI) adalah sebagai berikut:
s eigenvalue
s eigenvalue
=
CI min
max
Jika CI berada antara nilai 10 sampai 30:
kolinieritas moderat.
Bila CI mempunyai nilai diatas 30:
kolinieritas yang kuat.
16.themegallery.com
2. VIF dan Tolerance
) R
= (
j
j
1
2VIF 1
; j = 1,2,……,kk adalah banyaknya variabel bebas
adalah koefisien determinasi antara variabel bebas ke-j dengan variabel bebas lainnya.
2
Rj
2
Rj 2
R
jJika = 0 atau antar variabel bebas tidak berkorelasi, maka nilai VIF = 1.
≠ 0 atau ada korelasi antar variabel bebas, maka nilai VIF > 1.
Jika
Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa kolinieritas tidak ada jika nilai VIF mendekati angka 1
www.themegallery.com
Tolerance
VIF ini mempunyai hubungan dengan Tolerance (TOL), dimana hubungannya adalah sebagai berikut:
Variabel bebas dinyatakan tidak
multikolinieritas jika TOL mendekati 1
1 2
TOL
j1 = R
j= VIF
18
.themegallery.com
Mengatasi Multikolinieritas
Melihat informasi sejenis yang ada
Tidak mengikutsertakan salah satu variabel yang kolinier
– Banyak dilakukan.
– Hati-hati, karena dapat menimbulkan
specification bias yaitu salah spesifikasi kalau variabel yang dibuang merupakan variabel yang sangat penting.
Mentransformasikan variabel
Mencari data tambahan
www.themegallery.com
Heteroskedastisitas
Variasi Error tidak konstan. Umumnya terjadi pada data cross section. Misal data konsumsi dan pendapatan, atau data keuntungan dan asset perusahaan
0 20 40 60 80 100 120
0 20 40 60
Pola Data Heteroskedastis
20
.themegallery.com
Data Heteroskedastisitas
Fakta:
hubungan positif antara X dan Y, dimana nilai Y meningkat searah dengan nilai X.
semakin besar nilai variabel bebas (X) dan
variabel bebas (Y), semakin jauh koordinat (x,y) dari garis regresi (Error makin membesar)
besarnya variasi seiring dengan membesarnya nilai X dan Y. Atau dengan kata lain, variasi data yang digunakan untuk membuat model tidak
konstan.
www.themegallery.com
Pemeriksaan Heteroskedastisitas
1. Metode Grafik
Prinsip: memeriksa pola residual (u
i2) terhadap taksiran Y
i.
Langkah-langkah:
Run suatu model regresi
Dari persamaan regresi, hitung u
i2 Buat plot antara u
i2dan taksiran Y
i22
.themegallery.com
Pola Grafik
ui2
Pengamatan: i
1.Tidak adanya pola yang sistematis.
2.Berapapun nilai Y prediksi, residual kuadratnya relatif sama.
3.Variansi konstan, dan data homoskedastis.
,
www.themegallery.com
Pola Adanya Heteroskedastisitas
Pola sistematis
ui2 ui2
i i
24
.themegallery.com
Mengatasi Heteroskedastisitas
Transformasi dengan Logaritma Transformasi ini ditujukan untuk
memperkecil skala antar variabel bebas.
Dengan semakin ‘sempitnya’ range nilai observasi, diharapkan variasi error juga tidak akan berbeda besar antar
kelompok observasi.
Adapun model yang digunakan adalah:
Ln Yj = β0 + β1 Ln Xj + uj
www.themegallery.com
Autokorelasi
Autokorelasi: korelasi antara variabel itu sendiri, pada pengamatan yang berbeda waktu atau individu.
Umumnya kasus autokorelasi banyak terjadi pada data time series Kondisi sekarang dipengaruhi waktu lalu. Misal:
Tinggi badan, upah, dsbnya.
Salah satu alat deteksi melihat pola hubungan antara residual (ui) dan
variabel bebas atau waktu (X).
26
.themegallery.com
Mendeteksi Autokorelasi
Pola Autokorelasi
ui ui
*
* **
* * * * * *
* * * **
* * * Waktu/X **
Waktu/X
* * * * ***
*
Gambar nomor (1) menunjukan adanya siklus, sedang nomor (2) menunjukan garis linier. Kedua pola ini
menunjukan adanya autokorelasi.
www.themegallery.com
Ketentuan Menggunakan Uji Durbin-Watson
Bandingkan nilai d yang dihitung dengan nilai dL dan dU dari tabel dengan aturan berikut :
Bila d < dL tolak H0; Berarti ada korelasi yang positif atau kecenderungannya = 1
Bila dL d dU kita tidak dapat mengambil kesimpulan apa-apa
Bila dU < d < 4 – dU jangan tolak H0; Artinya tidak ada korelasi positif maupun negatif
Bila 4 – dU d 4 – dL kita tidak dapat mengambil kesimpulan apa-apa
Bila d > 4 – dL tolak H0; Berarti ada korelasi negatif
28
.themegallery.com
Gambar Ketentuan Penggunaan Uji Durbin-Watson
Tidak tahu/ Tidak tahu/
Tdk ada kesimpulan Tdk ada kesimpulan
Korelasi positif Tidak ada autokorelasi korelasi negatif
0 dL dU 4-dU 4-dL 4
www.themegallery.com
Uji Asumsi Klasik pada SPSS
No. Asumsi Detektor Keterangan
1. Normalitas Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual
Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual memperlihatkan titik-titik data membentuk pola linear atau titik-titik data tersebar mendekati garis linear.
2. Homoskedastisitas Scatter Plot Scatter plot antara standardized residual *SRESID dan standardized predicted value *ZPRED tidak membentuk pola tertentu varians residual-nya konstan homoskedastis.
Jika scatter plot-nya berpola terjadi
heteroskedastisitas varians-nya tidak sama 3. Multikolinieritas VIF (Variance Inflating Factor) Nilai VIF : 1 – tak hingga
VIF = 1 multikolinearitas rendah
VIF < 10 Tidak terjadi multikolinearitas
VIF >= 10 terjadi multikolinearitas
TOL (Tolerance) Nilai TOL = 0 – 1; 0 kolinearitas tinggi dan 1 kolinearitas rendah
Nilai TOL mendekati 1 tidak ada multikolinearitas 30
.themegallery.com
Uji Asumsi Klasik pada PASW/SPSS
No. Asumsi Detektor Keterangan
3. Multikolinieritas Eigenvalues Nilai Eigenvalues mendekati 0 ada multikolinearitas
Nilai Eigenvalues mendekati 1 tidak ada multikolinearitas
Conditional Index (CI) CI < 15 tidak terjadi multikolinearitas
CI >= 15 terjadi multikolinearitas
4. Otokorelasi Durbin-Watson (DW) Nilai DW = 0 – 4
Bandingkan nilai DW dari output dan nilai DW dari tabel (Durbin-Watson Table), dengan kondisi:
• Jika : DW < dL korelasi positif
• Jika : dL ≤ DW ≤ dU tdk ada kesimpulan
• Jika : dU < DW < 4 – dU tdk ada otokorelasi
• Jika : 4 - dU ≤ DW ≤ 4 - dL tdk ada kesimpulan
• Jika : DW > 4 – dL
Lanjutan
www.themegallery.com
Aplikasi Regresi Berganda
Suatu perusahaan di bidang industri memiliki data sales person yang terdiri dari usia, penghasilan dan pengalaman kerja sebagai sales person. Pimpinan perusahaan ini ingin melihat apakah ada pengaruh usia dan pengalaman kerja terhadap penghasilan sales person. Selain itu perusahaan juga ingin membuat model regresi berganda untuk memprediksi income berdasarkan usia dan pengalaman kerja.
Model Regresi: Yi = b0 + b1X1 + b2X2 + ui
Y : Income
X1 : Usia
X2 : Pengalaman kerja
b0 ,b1, b2 : Parameter
32
.themegallery.com
Aplikasi Regresi Berganda
Berdasarkan data pada file multiple_reg1.sav kita akan
mencari persamaan regresi linear berganda, y = b0 + b1x1 + b2x2 dan melakukan uji hipotesis untuk mengetahui apakah koefisien regresi yang diperoleh signifikan.
Langkah-langkah:
1.Buka file multiple_reg1.sav
2.Klik Analyze Regression Linear
3.Pada tampilan Linear Regression, pindahkan variabel Income ke dalam box Dependent; dan variabel Usia dan pengalaman Kerja ke dalam box Independent(s).
4.Bagian Method : pilih Enter
5.Klik tombol Statistics, kemudian cek (beri tanda) pada
Estimates, Model fit, Collinearity Diagnostics dan Durbin-Watson 6.Klik Continue
7.Klik Plots
www.themegallery.com
Aplikasi Regresi Berganda
Langkah-langkah (lanjutan):
8.Pada tampilan Linear Regression: Plots di bagian
Standardized Residual Plots, pilih Normal probability plot.
Kemudian pindahkan *SRESID (standardized residual) ke dolam kotak Y dan *ZPRED (standardized predicted value) ke dalam kotak X.
9.Klik Continue lalu klik OK.
34
.themegallery.com
Interpretasi Output Regresi Berganda
1. Koefisien Determinasi (R2)
Nilai R2 menunjukkan bahwa 94.1 % varian Income dapat dijelaskan oleh perubahan dalam variabel Usia dan Pengalaman Kerja.
2. Uji Otokorelasi
Nilai Durbin-Watson = 1.497 tidak ada kesimpulan/tdk bisa ditentukan
www.themegallery.com
3. Uji F dan Uji-t :
36
Interpretasi Output Regresi Berganda
.themegallery.com
Uji F :
Dari tabel ANOVA:
Uji hipotesis:
H0 : b1 = b2 = 0 H1 : b1 ≠ b2 ≠ 0
Jika Sig. (p value) < = 0.05 tolak H0 terima H1 b1 dan b2 tdk semuanya bernilai nol (minimal satu ≠ 0)
Jika Sig. (p value) > = 0.05 terima H0 tolak H1 b1 dan b2 bernilai nol
Hasil (lihat tabel ANOVA):
Sig. (p value) = 0.000 < = 0.05 signifikan tolak H0 variabel usia dan pengalaman kerja (variabel bebas) secara bersama-sama dan
signifikan mempengaruhi income (variabel terikat) model regresi baik
Interpretasi Output Regresi Berganda
www.themegallery.com
Uji-t
– Untuk menguji apakah masing-masing koefisien regresi signifikan lihat tabel Coefficient
Hasil:
– Variabel Usia :
– Sig. : 0.000 < 0.05 Signifikan variabel Usia secara signifikan mempengaruhi variabel Income
– Variabel Pengalaman Kerja (PK):
– Sig. : 0.013 < 0.05 Signifikan variabel PK secara signifikan mempengaruhi
variabel Income
38
Interpretasi Output Regresi Berganda
.themegallery.com
Persamaan Regresi yang diperoleh:
Y = -10360.5 + 1201.098 X1 + 1663.516 X2
Di mana: Y = Income
X1 = Usia
X2 = Pengalaman Kerja
Arti koefisien regresi:
b1 = + 1201.098 setiap kenaikan 1 unit Usia, income akan bertambah sebesar 1201.098 unit (jika faktor lain dianggap tetap)
b2 = + 1663.516 setiap kenaikan 1 unit pengalaman kerja, income akan bertambah sebesar 1663.516 unit (jika faktor lain dianggap tetap)
4. Uji Normalitas:
Lihat Normal P-P Plots of Regression titik-titik data tersebar
mendekati garis diagonal membentuk pola linear data terdistribusi normal
Interpretasi Output Regresi Berganda
www.themegallery.com
40
Interpretasi Output Regresi Berganda
.themegallery.com
5. Uji Homoskedastisitas
Lihat hasil Scatterplot:
Sebaran data tidak membentuk pola tertentu varians-nya konstan
data bersifat homoskedastis atau tdk ada heteroskedastisitas
Interpretasi Output Regresi Berganda
www.themegallery.com
6. Uji Multikolinearitas
Lihat tabel Coefficients, bagian Collinearity Statistics:
Nilai VIF = 1.377 < 10 tidak terjadi multikolinearitas
TOL = 0.726 mendekati 1 tidak ada multikolinearitas
42
Interpretasi Output Regresi Berganda
.themegallery.com
Santoso, S. (2012). Aplikasi SPSS pada Statistik Multivariat. Jakarta: PT Elex Media Komputindo.
Uyanto, S.S. (2009). Pedoman Analisis data dengan SPSS. Yogyakarta: Graha Ilmu.
DAFTAR PUSTAKA