1. Seorang perempuan, umur 28 tahun, P2A0, dalam kala III persalinan di PMB. Bayi lahir spontan 30 menit yang lalu, Oksitosin kedua telah diberikan, plasenta belum lahir. Hasil anamnesis: Ibu merasa lelah. Hasil pemeriksaan: KU cukup, TD 100/70 mmHg, N 80x/menit, S 36, 5°C, R 24x/menit, TFU setinggi pusat, Kontraksi Uterus kuat, terlihat darah keluar dari vagina, tidak terdapat laserasi jalan lahir. Diagnosa apakah yang paling tepat pada kasus tersebut?
a. Atonia uteri b. Inversio uteri c. Retensio Plasenta d. Plasenta Previa e. Solusio Plasenta Pembahasan:
Retensio plasenta adalah plasenta masih berada didalam uterus selama lebih dari setengah jam bayi lahir. Retensio plasenta adalah lepas plasenta tidak bersamaan sehingga masih melekat pada tempat implantasi, menyebabkan retraksi dan kontraksi otot uterus sehingga sebagian pembuluh darah tetap terbuka serta menimbulkan perdarahan.
Pada jawaban A tidak sesuai, karena kontraksi uterus keras dan TFU normal setinggi pusat pada Kala III.
Pada jawaban B tidak sesuai, karena uterus teraba.
Pada jawaban C sesuai, karena bayi telah lahir spontan 30 menit yang lalu, oksitosin kedua juga telah diberikan, namun plasenta belum lahir. Selain itu kontraksi uterus keras dengan TFU normal setinggi pusat.
Pada jawaban D tidak sesuai, karena kasus plasenta previa terjadi dalam kehamilan, yaitu plasenta menutupi jalan lahir sehingga bayi tidak dapat lahir secara normal pervaginam Pada jawaban E tidak sesuai, karena kasus solusio plasenta terjadi dalam kehamilan, yaitu plasenta terlepas dari implantasinya sehingga menimbulkan perdarahan dan nyeri pada ibu.
Kunci Jawaban: C. Retensio Plasenta
Referensi: Kurniarum, A. (2016). Asuhan Kebidanan Persalinan dan Bayi Baru Lahir. Pusdik SDM Kesehatan.
2. Seorang perempuan, umur 29 tahun, P2A0, dalam kala III persalinan di PMB, bayi lahir tunggal secara spontan 1 menit yang lalu. Hasil pemeriksaan:TFU 2 jari di atas pusat, Kontraksi uterus kuat, kandung kemih kosong. Apakah tindakan selanjutnya yang paling tepat pada kasus tersebut?
a. mengeluarkan plasenta b. melakukan PTT c. Massase Uterus
d. Suntikkan oksitosin 10 IU IM e. Kosongkan vesica urinaria Pembahasan:
Langkah utama manajemen aktif kala III ada tiga langkah yaitu:
1) Pemberian suntikan oksitosin.
Pemberian suntikan oksitosindilakukan dalam 1 menit pertama setelah bayi lahir.
Namun perlu diperhatikan dalam pemberian suntikan oksitosin adalah memastikan tidak ada bayi lain (undiagnosed twin) di dalam uterus.
2) Penegangan Tali Pusat Terkendali (PTT) 3) Masase Fundus Uteri
Pada jawaban A tidak sesuai, karena belum dilakukan pemberian suntikan oksitosin 10IU Pada jawaban B tidak sesuai, karena belum dilakukan MAK III berupa penyuntikan Oksitosin
Pada jawaban C tidak sesuai, karena plasenta belum lahir
Pada jawaban D sesuai, karena setelah bayi lahir MAK III yang pertama kali dilakukan yaitu penyuntikan Oksitosin 10 IU
Pada jawaban E tidak sesuai, karena kandung kemih sudah kosong Kunci Jawaban: D. Suntikkan oksitosin 10 IU IM
Referensi: Ayunda Insani, A., Bd, Sk., El Sinta, L. B., & Andriani, F. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Persalinan. Indomedia Pustaka. www.indomediapustaka.com
3. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G3P2A0, dalam kala I fase aktif datang ke PMB dengan keluhan perut mules sejak 4 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan: KU baik, TD 110/70 mmHg, N 78x/menit, S 36,8ºC, P 24x/menit, TFU 32cm, kepala masuk 3/5, kontraksi 3x/10’/40”, PD: portio lunak tipis, pembukaan serviks 7cm, selaput ketuban (+), teraba fontanella anterior dan orbita. Apakah presentasi janin pada kasus tersebut?
A. Presentasi Dahi B. Presentasi Kaki C. Presentasi Muka D. Presentasi Mulut E. Presentasi Bokong Pembahasan:
Malpresentasi adalah kondisi di mana bagian anatomi janin yang masuk terlebih dahulu ke pelvic inlet adalah bagian lain selain vertex. Pada kondisi normal, presentasi janin yang ditemukan adalah presentasi vertex. Presentasi lain selain vertex seperti presentasi bokong (sungsang), transverse, muka, dahi, atau compound disebut sebagai malpresentasi.
Pada jawaban A sesuai, karena pada presentasi Dahi teraba oksiput lebih tinggi dari sinsiput, teraba fontanella anterior dan orbita
Pada jawaban B tidak sesuai, karena presentasi kaki akan teraba tumit dengan sudut 90, terasa jari-jari
Pada jawaban C tidak sesuai, karena pada presentasi muka teraba muka, mulut hidung dan pipi
Pada jawaban D tidak sesuai, karena pada presentasi mulut ada hisapan di jari, teraba rahang dan lidah.
Pada jawaban E tidak sesuai, karena pada presentasi bokong akan teraba bokong atau kaki, sering disertai adanya mekonium.
Kunci Jawaban:
A. Presentasi Dahi Daftar Pustaka:
Pilliod, R. A., & Caughey, A. B. 2017. Fetal Malpresentation and Malposition: Diagnosis and Management. In Obstetrics and Gynecology Clinics of North America (Vol. 44, Issue 4).
4. Seorang perempuan, umur 24 tahun, P2 A0 bayi lahir spontan, menangis kuat, riwayat kala II normal. Hasil pemeriksaan: KU Baik, TTV dalam batas normal, TFU 2 jari diatas pusat, sudah terdapat tanda-tanda pelepasan plasenta. Yang termasuk tanda kala III adalah...
A. Vulva membuka B. Ada cairan ketuban C. Perineum Menonjol D. Adanya tekanan pada anus
E. Adanya semburan darah mendadak dan singkat
Pembahasan:
Semburan darah mendadak dan singkat.Darah yang terkumpul di belakang plasenta akan membantu mendorong plasenta keluar di bantu oleh gaya gravitasi. Apabila kumpulan darah (retroplasental pooling) dalam ruang di antara dinding uterus dan permukaan dalam plasenta melebihi kapasitas tampungnya maka darah tersembur keluar dari tepi plasenta yang terlepas. Tanda ini kadang – kadang terlihat dalam waktu satu menit setelah bayi lahir dan biasanya dalam 5 menit.
Pada jawaban A tidak sesuai, karena merupakan tanda persalinan kala II Pada jawaban B tidak sesuai, karena air ketuban keluar saat sebelum bayi lahir Pada jawaban C tidak sesuai, karena merupakan tanda persalinan kala II Pada jawaban D tidak sesuai, karena merupakan tanda persalinan kala II
Pada jawaban E sesuai, karena merupakan tanda pelepasan plasenta saat kala III
Kunci jawaban:
E. Adanya semburan darah mendadak dan singkat Referensi:
Ayunda Insani, A., Bd, Sk., El Sinta, L. B., & Andriani, F. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Persalinan. Indomedia Pustaka. www.indomediapustaka.com
5. Seorang perempuan, umur 28 tahun, G2P1A0, Umur kehamilan 39 minggu, dalam persalinan KalaI datang ke PMB sejak 4 jam yang lalu. Hasil pemeriksaan KU Baik, TD 120/70 mmHg, N 85x/menit, S 36,5ºC, TFU 33 cm, DJJ 144x/menit,Puka, Presentasi kepala, Kontraksi 2x/10’/25’’. Pembukaan serviks 7cm, ketuban (+). Tanda bahaya apakah yang paling penting di observasi pada kasus tersebut ?
A. Bradikardi B. Takhikardi C. Inersia uteri D. Atonia Uteri E. Ruptur Uteri Pembahasan:
Inersia uteri terjadi saat kontraksi uterus < 3 kali dalam 10 menit dan lam durasi < 40 detik maka lakukan rujukan jika 2 jam tidak lahir bayi. ditunjukan dengan terjadinya perpanjangan kala I fase aktif karena otot Rahim kurang maksimal dan efisiensi dalam berkontraksi sehingga tidak mampu menghasilkan dilatasi serviks dan mendorong janin keluar.
Pada jawaban A tidak sesuai, karena denyut jantung dalam batas normal Pada jawaban B sesuai, karena denyut jantung dalam batas normal Pada jawaban C sesuai, karena pada kasus tersebut Kontraksi 2x/10’/25’’
Pada jawaban D tidak sesuai, karena atonia uteri adalah kondisi ketika rahim gagal berkontraksi setelah melahirkan.
Pada jawaban E tidak sesuai, karena ruptur uteri adalah kondisi ketika timbul robekan pada dinding rahim ibu hamil.
Kunci jawaban:
C. Inersia Uteri Referensi:
Ayunda Insani, A., Bd, Sk., El Sinta, L. B., & Andriani, F. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Persalinan. Indomedia Pustaka. www.indomediapustaka.com
6. Seorang perempuan, umur 29 tahun, G2P1A0 hamil 39 minggu datang ke PMB bersama suaminya dengan keluhan perut mulas-mulas dan keluar lendir bercampur darah. Hasil Anamnesis: Rasa mules dirasakan sejak 5 jam yang lalu dan saat ini semakin sering. Hasil pemeriksaan KU baik, TD 120/70 mmHg, N 80x/menit, TFU 32 cm, kontraksi 3x/10’/41”, DJJ 120x/menit. PD: portio lunak tipis, pembukaan serviks 7 cm, selaput ketuban (+), ibu ingin persalinan ini berlangsung dengan kekuatan ibu sendiri dan melalui jalan lahir. Jenis Persalinan ini disebut....
A. Persalinan Buatan B. Persalinan Anjuran C. Persalinan Spontan
D. Persalinan forcep atau vakum E. Persalinan Sectio Caesaria (SC) Pembahasan:
Persalinan spontan adalah proses persalinan lewat vagina yang berlangsung tanpa menggunakan alat maupun obat tertentu, baik itu induksi, vakum, atau metode lainnya.
Pada jawaban A tidak sesuai, karena ibu ingin persalinannya dengan kekuatan sendiri Pada jawaban B tidak sesuai, karena butuh induksi perbuatan atau tindakan
Pada jawaban C sesuai, karena persalinan ini hanya dengan kekuatan ibu dan melalui pervaginam
Pada jawaban D tidak sesuai, karena butuh alat bantu untuk persalinan Pada jawaban E tidak sesuai, karena SC tidak melalu pervaginam.
Kunci jawaban:
C. Persalinan Spontan Referensi:
Nurhayati, 2019. Patologi & Fisiologi Persalinan: Yogyakarta: Pustaka Baru Press
7. Seorang perempuan umur 32 tahun, G3P2A0, datang ke PMB dengan keluhan mules dan keluar lendir bercampur darah. 5 jam kemudian ibu melahirkan. Hasil anamnesis: Bayi lahir normal, sudah diberikan oksitosin pertama dan kedua, plasenta belum lahir. Hasil pemeriksaan: Ku Baik, TD 100/70 mmHg, N 88x/menit, P 22x/menit, uterus teraba discoid dan tidak ada pengeluaran darah. Apakah tindakan yang harus dilakukan pada kasus tersebut..
A. Masase B. Kuretase
C. Manual Plasenta D. Penjahitan Robekan
E. Peregangan Talipusat Terkendali Pembahasan:
Apabila plasenta belum lahir 30 menit setelah bayi lahir, harus disahakan untuk mengeluarkannya. Tindakan yang biasa dilakukan adalah manual plasenta. Jika tidak didapatkan perdarahan, banyak yang menganjurkan dilakukan manual plasenta 30 menit setelah bayi lahir. Apabila dalam pemeriksaan plasenta kesan tidak lengkap, uterus terus di eksplorasi untuk mencari bagian bagian kecil dari sisa plasenta.
Pada jawaban A tidak sesuai, karena plasenta belum lahir Pada jawaban B tidak sesuai, karena plasenta belum lahir
Pada jawaban C sesuai, karena plasenta belum lahir setalah 30 menit dan tidak ada pendarahan
Pada jawaban D tidak sesuai, karena tidak ada robekan Pada jawaban E tidak sesuai, karena plasenta belum lepas Kunci jawaban:
C. Manual Plasenta Referensi:
Rosdianah, N., & Rismawati, N. (2019). Buku ajar kegawatdaruratan maternal dan neonatal. Sungguminasa Kab. Gowa: CV. Cahaya Bintang Cemerlang.
8. Seorang perempuan umur 26 tahun, G3P2A0, usia kehamilan 39 minggu, datang ke PMB dengan keluhan keceng kenceng sering dan teratur sejak 2 hari yang lalu. Ibu dibawa oleh suami dan dukun karena di tempat dukun telah dipimpin mengejan, tetapi pembukaan ibu tidak maju. Hasil pemeriksaan: Ku lemah, TD 90/60 mmHg, nadi 110/menit, S 38,9 ºC, VT pembukaan 8 cm, DJJ 170x/m. Diagnosa pada kasus tersebut adalah
A. Partus Lama B. Partus Normal C. Partus Serotinus D. Partus presipitatus
E. Partus dengan distosia bahu Pembahasan:
Partus lama adalah persalinan yang berlangsung lebih dari 18 jam yang dimulai dari adanya tanda - tanda persalinan. Partus lama merupakan salah satu penyebab kematian ibu dan janin. Partus lama juga dapat menyebabkan infeksi, kehabisan tenaga, dehidrasi, dan perdarahan post partum yang dapat menyebabkan kematian ibu. Pada janin akan terjadi suatu infeksi, cedera dan asfiksia yang dapat meningkatkan kematian bayi.
Pada jawaban A sesuai, karena persalinan lebih dari 24 jam Pada jawaban B tidak sesuai, karena persalinan lebih dari 24 jam
Pada jawaban C tidak sesuai, karena kehamilan ibu tidak lebih dari 42 minggu Pada jawaban D tidak sesuai, karena persalinannya tidak cepat
Pada jawaban E tidak sesuai, karena macet bukan karena distosia bahu Kunci Jawaban : A. Partus Lama
Referensi:
Rositawati. (2019). Hubungan paritas dan Usia Ibu Bersalin dengan Kejadian Partus Lama.
Artikel Penelitian, 9(1), 12–17. sectio caesarea.
9. Seorang perempuan, umur 24 tahun, G1P0A0, usia kehamilan 40 minggu, datang ke PMB dengan keluhan kencang kencang. Hasil Anamnesis: Darah lendir sudah keluar, Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, Nadi 80x/menit, S36,5 ºC, TFU 31 cm, DJJ 135x/menit, Kontraksi 3x/10’/40’’, Portio tipis lunak, pembukaan 5 cm, ketuban utuh, Rencana Asuhan apakah yang paling tepat pada kasus tersebut?
A. Menilai Kontraksi tiap 2 jam
B. Memeriksa tekanan darah setiap 1 jam C. Melakukan Observasi DJJ tiap 30 menit D. Melakukan periksa dalam 2 jam kemudian E. Mengukur nadi setelah 4 jam pemeriksaan
Pembahasan:
Kondisi ibu dan bayi yang dicatat dalam partograf:
1. DJJ tiap 30 menit
2. Frekuensi dan durasi kontraksi tiap 30 menit 3. Nadi tiap 30 menit
4. Pembukaan serviks tiap 4 jam
5. Penurunan bagian terbawah janin tiap 4 jam 6. Tekanan darah dan temperatur tubuh tiap 4 jam 7. Urin, aseton dan protein tiap 2-4 jam.
Pada jawaban A tidak sesuai, karena kontraksi diukur setiap 30 menit Pada jawaban B tidak sesuai, karena tekanan darah diukur setiap 4 jam Pada jawaban C sesuai, karena DJJ diukur setiap 30 menit
Pada jawaban D tidak sesuai, karena pembukaan serviks diukur setiap 4 jam Pada jawaban E tidak sesuai, karena nadi diukur setiap 30 menit
Kunci Jawaban : C. Melakukan Observasi DJJ tiap 30 menit
Referensi:
Ayunda Insani, A., Bd, Sk., El Sinta, L. B., & Andriani, F. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Persalinan. Indomedia Pustaka. www.indomediapustaka.com
10. Seorang perempuan umur 22 tahun, G1P0A0, umur kehamilan 39 minggu, datang ke Puskesmas dengan keluhan kencang-kencang sejak 4 jam lalu. Hasil anamnesis: keluar lendir bercampur darah dari vagina dan ibu merasa sakit karena kontraksi. Hasil pemeriksaan: TD 120/80 mmHg, 80x/menit, P 24x/menit, TFU 33 cm, DJJ 140x/menit terartur, kontraksi 3x/10’/40”, PD pembukaan serviks 4 cm, portio tebal lunak, kandung kemih penuh. Kebutuhan apakah yang harus dipenuhi pada kasus tersebut?
A. Menolong persalinan
B. Menganjurkan ibu untuk BAK C. Memberikan makan untuk ibu
D. Menganjurkan istirahat jika tidak sakit
E. Menganjurkan keluarga untuk memberi minum Pembahasan:
Pemenuhan kebutuhan eliminasi selama persalinan perlu difasilitasi oleh bidan, untuk membantu kemajuan persalinan dan meningkatkan kenyamanan pasien. Anjurkan ibu untuk berkemih secara spontan sesering mungkin atau minimal setiap 2 jam sekali selama persalinan. Kandung kemih yang penuh, dapat mengakibatkan: 1. Menghambat proses penurunan bagian terendah janin ke dalam rongga panggul, terutama apabila berada di atas spina isciadika 2. Menurunkan efisiensi kontraksi uterus/his 3. Mengingkatkan rasa tidak nyaman yang tidak dikenali ibu karena bersama dengan munculnya kontraksi uterus 4. Meneteskan urin selama kontraksi yang kuat pada kala II 5. Memperlambat kelahiran plasenta 6. Mencetuskan perdarahan pasca persalinan, karena kandung kemih yang penuh menghambat kontraksi uterus.
Pada jawaban A tidak sesuai, karena kandung kemih ibu penuh, sehingga mempersulit persalinan
Pada jawaban B sesuai, karena kandung kemih ibu penuh
Pada jawaban C tidak sesuai, karena ibu butuh ke Kamar mandi untuk BAK Pada jawaban D tidak sesuai, karena ibu masih merasakan sakit kontraksi Pada jawaban E tidak sesuai, karena kandung kemih ibu penuh
Kunci Jawaban : B. Menganjurkan ibu untuk BAK Referensi:
Ayunda Insani, A., Bd, Sk., El Sinta, L. B., & Andriani, F. (2019). Buku Ajar Asuhan Kebidanan pada Persalinan. Indomedia Pustaka. www.indomediapustaka.com