TUGAS KELOMPOK
KEPERAWATAN MATERNITAS II Dosen Pengampu :
Asri Dwi Novianti, S. Kep, Ns, M. Kep
OLEH : KELOMPOK 3
SILFIA PARAMITA (P202301067) WULAN RISKI RAMADHANI (P202301065) EMILIA PUTRI NANDA (P202301066)
PROGRAM STUDI S1 ILMU KEPERAWATAN FAKULTAS ILMU-ILMU KESHATAN
UNIVERSITAS MANDALA WALUYA KENDARI
2025
BAB 1
LAPORAN PENDAHULUAN
A. Konsep Medis 1. Definisi
Plasenta previa adalah plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah Rahim (SBR) sehingga menutupi seluruh atau Sebagian dari ostium uteri internum (OUI).
Sejalan dengan bertambah membesarnya Rahim dan meluasnya segmen bawah Rahim kea rah proksimal memungkinkan plasenta yang berimplantasi pada segmen bawah Rahim ikut berpindah mengikuti perluasan segmen bawah Rahim seolah plasenta tersebut bermigrasi. Ostium uteri yang secara dinamik mendatar dan meluas dalam persalinan kala satu bisa mengubah luas permukaan serviks yang tertutup plasenta. Fenomena ini berpengaruh pada derajat atau klasifikasi plasenta previa Ketika pemeriksaan dilakukan baik dalam masa antenatal maupun masa intranatal, dengan ultrasonografi. Oleh karena itu pemeriksaan ultrasonografi perlu diulang secara berkala dalam asuhan antenatal maupun intranatal. (Andyanita, 2022)
2. Etiologi
Menurut Agustina (2023) penyebab yang pasti belum diketahui dengan jelas.
Plasenta bertumbuh pada segmen bawah uterus tidak selalu jelas dapat ditegakkan.
Bahwassannya vaskularisasi yang berkurang atau perubahan atropi pada desidua akibat persalinan yang lampau dapat menyebabkan plasenta previa, tidaklah selalu benar. Memang dapat dimengerti bahwa apabila aliran darah ke plasenta tidak cukup seperti pada kehamilan kembar maka plasenta yang letaknya normal sekalipun akan memperluaskan permukaannya sehingga mendekati atau menutupi sama sekali pembukaan jalan lahir. Beberapa faktor risiko yang di duga dapat memicu terjadinya plasenta previa antara lain :
1) Ovum yang dibuahi tertanam sangat rendah didalam Rahim, menyebabkan plasenta terbentuk dekat dengan atau di atas pembukaan serviks.
2) Lapisan Rahim(endometrium) memiliki kelainan seperti fibroid atau jaringan parut (dari previa sebelumnya, sayatan, bagian bedah Caesar atau aborsi) 3) Hipoplasia endometrium : bila kawin dan hamil pada umur muda
4) Korpus luteum bereaksi lambat, Dimana endometrium belum sip menerima hasil konsepsi.
5) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium 6) Riwayat seksio sesarea sebelumnya
7) Plasenta terbentuk secara tidak normal
8) Kejadian plasenta previa tiga kali lebih sering pada Wanita multipara daripada primipara
9) Ibu merokok atau menggunakan kokain.
10) Ibu dengan usia lebih tua.
3. Manifestasi Klinis
Menurut Agustina (2023) tanda dan gejala plasenta previa adalah :
1) Pendarahan tanpa alas an dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Perdarahan dapat terjadi selagi penderita tidur atau bekerja biasa, perdarahan pertama biasanya tidak banyak, sehingga tidak akan berakibat fatal.
2) Sumber perdarahan ialah sinus uterus yang robek karena terlepasnya plasenta dari dinding uterus, atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta.
3) Sering terjadi pada malam hari saat pembentukan SBR.
4) Bentuk perdarahan : sedikit tanpa menimbulkan gejala klinis atau banyak disertai gejala klinik ibu dan janin.
5) Gejala klinik ibu :
a) Tergantung keadaan umum dan jumlah darah yang hilang.
b) Terjadi gejala kardiovaskuler dalam bentuk : (1) Nadi meningkat dan tekanan darah menurun (2) Anemia
(3) Perdarahan banyak menimbulkan syok sampai kematian.
6) Gejala klinik janin :
a) Bagian terendah belum masuk PAP atau terdapat kelainan letak.
b) Perdarahan mengganggu sirkulasi retroplasenter, menimbulkan asfiksia intra uterin sampai kematian janin.
c) HB sekitar 5 gr/dl dapat menimbulkan kematian janin dan ibunya.
4. Patofisiologi
Letak plasenta biasanya umumnya di depan atau di belakang dinding uterus, agak ke atas arah fundus uteri. Hal ini adalah fisiologis karena permukaan bagian atas korpus uteri lebih luas, sehingga lebih banyak tempat untuk berimplantasi. Di tempat-tempat tertentu pada implantasi plasenta terdapat vena-vena yang lebar (sinus) untuk menampung darah Kembali. Pada pinggir plasenta dibeberapa tempat terdapat suatu ruang vena yang luas untuk menampung darah yang berasal dari ruang interviller diatas. Darah ibu yang mengalir diseluruh plasenta diperkirakan naik dari 300 ml tiap menit pada kehamilan 20 minggu sampai 600 ml tiap menit pada kehamilan 40 minggu. Perubahan-perubahan terjadi pula pada jonjot-jonjot selama kehamilan berlangsung. Pada kehamilan 24 minggu lapisan sinsitium dari vili tidak berubah akan tetapi dari lapisan sitotropoblast sel-sel berkurang dan hanya ditemukan sebagai kelompok-kelompok sel-sel; stroma jonjot menjadi lebih padat, mengandung fagosit-fagosit, dan pembuluh-pembuluh darahnya lebih besar dan lebih mendekati lapisan trophoblast. (Agustina, 2023)
Menurut Agustina (2023) perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa umumnya terjadi pada triwulan ketiga karena saat itu segmen bawah uterus lebih mengalami perubahan berkaitan dengan semakin tuanya kehamilan.
Implantasi plasenta di segmen bawah Rahim dapat disebabkan : 1) Endometrium di fundus uteri belum siap menerima implantasi
2) Endometrium yang tipis sehingga diperlukan perluasan plasenta untuk mampu memberikan nutrisi janin.
3) Villi korealis pada korion leave yang persisten.
5. Klasifikasi
Menurut Agustina (2023) plasenta previa diklasifikasikan menjadi 4 jenis berdasarkan lokasinya :
1) Plasenta previa totalis : Ostium uteri internum tertutup seluruhnya oleh plasenta.
2) Plasenta previa parsialis : Ostium uteri internum tertutup Sebagian oleh plasenta.
3) Plasenta previa marginalis : Pinggir bawah plasenta sampai pada pinggir ostium uteri internum.
4) Plasenta previa letak rendah : Plasenta tertanam/ berimpantasi di segmen bawah uterus sehingga tepi plasenta terletak dekat dengan ostium tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir.
6. Komplikasi
1) Menurut Sulistyawati A (2009) komplikasi pada ibu dan janin selama kehamilan adalah sebagai berikut :
a) Kehamilan muda
Perdarahan pervagina (Abortus, kehamilan mola, kehamilan Ektopik)
Hiperemesis Gravidarum, yaitu mual muntah berlebihan sehingga menimbulkan gangguan aktivitas sehari-hari dan bahkan dapat membahayakan kehidupan.
b) Kehamilan lanjut
Perdarahan Pervagina (Plasenta Previa, Solusio Plasenta)
2) Menurut Green and Wikinson (2012) komplikasi yang mungkin terjadi pada plasenta previa adalah :
a) Hemoragi dan syok hipovolemik (antepartum atau postpartum) b) DIC
c) Pelahiran Premature d) Ketuban pecah dini (KPD) e) Hipoksia Janin
f) Anemia (antepartum atau postpartum) g) Infeksi (antepartum atau postpartum) 7. Penatalaksanaan Medis
Menurut Agustina (2023) penetalaksanaan medis pada ibu yang mengalami plasenta previa dapat di bagi dua yaitu :
1) Tatalaksana umum
Tidak dianjurkan melakukan pemeriksaan dalam sebelum tersedia kesiapan untuk seksio sesarea. (pemeriksaan boleh dilakukan diruang operasi). Perbaikan kekurangan cairan/darah dengan memberikan infus cairan IV (NaCl 0,9% atau Ringer Laktat). Kemudian lakukan penilaian jumlah perdarahan. Penilaian adalah sebagai berikut :
a) Jika perdarahan banyak dan berlangsung, persiapkan seksio sesarea tanpa memperhitungkan usia kehamilan.
b) Jika perdarahan sedikit dan berhenti, dan janin hidup tetapi premature, pertimbangkan terapi ekspektatif.
2) Tatalaksana khusus a) Terapi Ekspektatif
(1) Tujuan terapi ekspektatif ialah afar janin tidak terlahir premature, penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servisis. Upaya diagnose dilakukan secara non-invasif. Pemantauan klinis dilaksanakan secara ketat dan baik. Syarat-syarat terapi ekspresif:
kehamilan preterm dengan perdarahan sedikit yang kemudian berhenti, belum ada tanda-tanda inpartm, keadaan umum ibu cukup baik (kadar hemoglobin dalam batas normal), janin masih hidup.
(2) Rawat inap, tirah baring dan berikan antibiotic profilaksis.
(3) Lakukan pemeriksaan USG untuk mengetahui implantasi plasenta, usia kehamilan, profil biofisik, letak dan presentasi janin.
(4) Berikan tokolitik bila ada kontraksi : MgSO 4 IV dosis awal dilanjutkan 4 g setiap 6 jam, nefedipin 3x20 mg/hari, bethamethason 24mg IV dosis Tunggal untuk pematangan paru janin.
(5) Uji pematangan paru janin dengan tes kocok (bubble tes) dari hasil amniosentesis.
(6) Bila setelah usia kehamilan diatas 34 minggu, plasenta masih berada disekitar ostium uteri internum, maka dugaan plasenta previa menjadi jelas, sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat.
(7) Bila perdarahan berhenti dan waktu untuk mencapai 37 minggu masih lama, pasien dapat dipulangkan untuk rawat jalan (kecuali apabila rumah pasien diluar kota dan jarak untuk mencapai rumah sakit lebih dari 2 jam) dengan pesan untuk segera Kembali kerumah sakit apabila terjadi pendarahan ulang.
b) Terapi aktif
(1) Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak, harus segera di tatalaksana secara aktif tanpa memandang maturnitas janin.
(2) Untuk diagnosis plasenta previa dan menentukan cara menyelesaikan persalinan setelah semua persyaratan dipenuhi, lakukan PDMO jika:
a) Infuse/transfuse telah terpasang, kamar dan tim operasi telah siap b) Kehamilan >37 minggu (berat badan > 2500 gram) dan inpartu.
c) Perdarahan dengan bagian terbawah janin telah jauh melewati pintu atas panggul (2/5 atau 3/5 pada palpasi)
8. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Achadiat (2004) pemeriksaan penunjang pada ibu yang mengalami plasenta previa yaitu :
Laboratorium : darah lengkap, urine lengkap
KTG, Doppler, Laennec
USG untuk menilai letak/implantasi plasenta, usia kehamilan dan keadaan janin secara keseluruhan
B. Konsep Keperawatan 1. Pengkajian
a. Data Subjektif
Deskripsi verbal pasien mengenai masalah kesehatannya. Data subjektif diperoleh dari riwayat keperawatan termasuk persepsi pasien, perasaan dan ide tentang status kesehatannya.
Sumber data lain dapat diperoleh dari keluarga, konsultan dan tenaga kesehatan lainnya (Setiadi, 2012).
1) Identitas klien
a) Nama Pasien atau Suami
Mengetahui nama klien dan suami berguna untuk memperlancar komunikasi dalam asuhan sehingga tidak terlihat kaku dan akrab (Astuti, 2012).
b) Umur
Ibu dengan usia lebih tua, risiko plasenta previa berkembang 3 kali lebih besar pada perempuan di atas usia 35 tahun (Rohimah, 2016).
c) Pekerjaan
Mengetahui pekerjaan klien adalah penting untuk mengetahui apakah klien berada dalam keadaan dan untuk mengkaji potensi kelahiran, prematur dan pajanan terhadap bahaya lingkungan kerja, yang dapat merusak janin (Astuti, 2012).
2) Keluhan Utama
Keluahan utama plasenta previa adalah pendarahan tanpa sebab tanpa rasa nyeri dari biasanya berulang darah biasanya berwarna merah segar (Maryunani, 2013: 138).
3) Riwayat Kesehatan
Data dari riwayat kesehatan ini dapat kita gunakan sebagai penanda (warning) akan adanya penyulit masa hamil.
Adanya perubahan fisik dan fisiologis pada masa hamil yang melibatkan seluruh sistem dalam tubuh (Sulistyawati, 2012:
167).
a) Riwayat Penyakit Dahulu Pasien
Tanyakan kepada klien penyakit apa yang pernah di derita klien. Apabila klien pernah menderita penyakit keturunan, maka ada kemungkinan janin yang ada di dalam kandungan tersebut beresiko menderita penyakit yang sama (Astuti, 2012).
b) Riwayat Kesehatan sekarang
Tanyakan pada klien penyakit apa yang sedang di derita sekarang. Misal pasien mengatakan bahwa klien mengalami perdarahan , maka perawat harus memberikan asuhan kehamilan pasien dengan perdarahan.
c) Riwayat Kesehatan keluarga
Tanyakan pada klien apakah mempunyai keluarga yang saat ini sedang
menderita penyakit menular atau tidak.Apabila klien mempunyai keluarga yang sedang menderita penyakit menular, sebaiknya bidan menyarankan kepada kliennya untuk menghindari secara langsung atau tidak langsung bersentuhan fisik atau mendekat keluarga tersebut untuk sementara waktu agar tidak menular pada ibu (Astuti, 2012).
d) Riwayat kehamilan sebelumnya
Penelitian (Sencoro, et al, 2017) menyebutkan bahwa ada beberapa factor yang mempengaruhi plasenta previa seperti multigravida lebih dari 5 kali dan penyakit ginekologi serta ditambahkan menurut (R.Oktaviance,, 2018) Riwayat caesare, riwayat kuretase.
e) Riwayat antenatal
Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam pada usia ke hamilan di atas 28 minggu (Manuba, 2014).
Perdarahan antepartum merupakan salah satu dari kasus gawat darurat yang terjadi hanya berkisar 3 sampai 5%
dari seluruh persalinan penyebab perdana nanti partum yang paling umum adalah Plasenta previa 31%
(Athanasias et al, 2012).
4) Pemeriksaan Fisik
Dilakukan dengan cara melakukan pemeriksaan pada tubuh pasien dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan melihat keadaan pasien (inspeksi) peraba suatu sistem organ yang hendak diperiksa(palpasi) mengetuk suatu system atau organ (perkusi)dan mendengar suatu system atau organ(auskultasi) (Prawirohardjo, 2018).
Pada keadaan umum pada pasien keadaan umumnya lemah, dalam pemeriksaan TTV meliouti pemeriksaan tekanan darah, suhu, pernafasan, nadi.
Pada Breathing (B1) biasanya bentuk dada simetris, pola nafas teratur, tidak ada retraksi dada, otot bantu nafas, frekuensi nafas, penggunaan alat bantu nafas serta tidak ada suara nafas tambahan.
Pada Blood (B2) biasanya tidak mengalami sianosis, CRT, irama jantung teratur, tekanan darah bisa meningkat atau menurun, bunyi jantung S1, S2 tunggal.
Pada Brain (B3) kesadaran composmentis, orientasi baik, conjungtiva merah muda, pupil isokor Palpasi, Perkusi, Auskultasi : tidak ada masalah. Bladder (B4) biasanya pasien menggunakan kateter, warna urine, kuning kemerahan akibat perdarahan serta adanya gumpalan,
berbau amis terdapat berwarna merah segar, sedikit kotor, tidak ada nyeri tekan pada perkemihan.
Bowel (B5) biasanya mukosa bibir lembab, bibir normal, uterus bisa baik/tidak, terdapat nyeri tekan pada TFU 32 cm, abdomen tympani, terjadi penurunan pada bising usus.
Pada Bone (B6) turgor kulit elastis, warna kulit sawo matang atau kuning langsat, tidak ada edema, kelemahan otot, tampak sulit bergerak, kebutuhan klien masih dibantu keluarga, payudara menonjol, aerola hitam, puting menonjol, terdapat luka post operasi masih dibalut, terdapat striae, akral hangat Perkusi : reflek patella (+) Auskultasi : tidak ada.
2. Diagnosa Keperawatan
a. Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis.
b. Ansietas berhubungan dengan krisis situasional.
c. Defisit pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang plasenta Previa.
d. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan fisik
e. Resiko Cedera pada Janin berhubungan dengan Riwayat persalinan sebelumnya, Nyeri abdomen, plasenta previa
f. Resiko perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan perdarahan pervaginam.
g. Risiko perdarahan berhubungan dengan komplikasi kehamilan (Plasenta previa) h. Risiko hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif
Sumber : (PPNI, 2016)
3. Intervensi Keperawatan
No. Diagnosa Keperawatan Luaran Intervensi 1. Nyeri akut berhubungan
dengan agen pencedera fisiologis (D.0077)
tingkat nyeri (L.08066) kontrol nyeri (L.08063)
Manajemen Nyeri (I.08238)
Edukasi Manajemen Nyeri (I.12391) 2. Ansietas berhubungan
dengan krisis situasional (D.0080)
Tingkat Ansietas (L.09093)
Dukungan sosial (L.13113)
Reduksi Ansietas (I.09134)
Dukungan emosional (I.09256)
3. Defisit pengetahuan
berhubungan dengan Tingkat
pengetahuan Edukasi kesehatan (I.12383)
kurang informasi tentang
plasenta Previa. (D.0111) (L.12111) Motivasi (L.09080)
Bimbingan sistem kesehatan (I.12360) 4. Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan kelemahan fisik (D.0058)
Toleransi aktivitas (L.05047)
Ambulansi (L.05038)
Manajemen energi (I.05178)
Dukungan ambulansi (I.06171)
5. Resiko Cedera pada Janin berhubungan dengan Riwayat persalinan sebelumnya, Nyeri abdomen, plasenta previa (D.0138)
Tingkat Cedera (L.14136) Tingkat infeksi (L.14137)
Pemantauan Djj (I.
02056)
Pencegahan cedera (I.14537)
6. Resiko perfusi perifer tidak efektif berhubungan dengan perdarahan pervaginam (D.0023)
Perfusi perifer (L.02012)
Tingkat perdarahan (L.02017)
Pencegahan syok (I.02068)
Edukasi program pengobatan (I.12441) 7. Risiko perdarahan
berhubungan dengan komplikasi kehamilan (Plasenta previa) (D.0012)
Tingkat perdarahan (L.02017)
Status Cairan (L03208)
Pencegahan perdarahan (I.02067)
Pemantauan Cairan (I.03121)
8. Risiko hipovolemia berhubungan dengan kehilangan cairan secara aktif (D.0034)
Status Cairan (L03208) Keseimbangan cairan (L.03020)
Manajemen
hipovolemia (I.03116) Pemantauan Cairan (I.03121)
(Sumber (PPNI, 2016) (PPNI, 2018) (PPNI, 2018)) 4. Implemetasi
Implementasi adalah tindakan dari rencana keperawatan yang telah disusun dengan menggunakan pengetahuan perawat, perawat melakukan dua intervensi yaitu mandiri/independen dan kolaborasi/interdisipliner (NANDA, 2015).
Tujuan dari implementasi antara lain adalah: melakukan, membantu dan mengarahkan kinerja aktivitas kehidupan sehari-hari, memberikan asuhan keperawatan untuk mecapai tujuan yang berpusat pada klien, mencatat serta melakukan pertukaran informasi yang relevan dengan perawatan kesehatan yang berkelanjutan dari klien (Asmadi, 2008).
5. Evaluasi
Evaluasi merupakan sebagai penialian status pasien dari efektivitas tindakan dan pencapaian hasil yang diidentifikasi terus pada setiap langkah dalam proses keperawatan, serta rencana perawatan yang telah dilaksanakan (NANDA, 2015).
Tujuan dari evaluasi adalah untuk melihat dan menilai kemampuan klien dalam mencapai tujuan, menentukan apakah tujuan keperawatan telah tercapai atau belum,
serta mengkaji penyebab jika tujuan asuhan keperawatan belum tercapai (Asmadi, 2008).
Menurut Hutahaen (2010) evaluasi dilakukan dengan pendekatan pada SOAP, yaitu:
S: Data subjektif, yaitu data yang diutarakan klien dan pandangannya terhadap data tersebut.
O: Data objektif, yaitu data yang didapat dari hasil observasi perawat, termasuk tanda-tanda klinik dan fakta yang berhubungan dengan penyakit pasien (meliputi data fisiologis, dan informasi dan pemeriksaan tenaga kesehatan).
A: Analisis, yaitu analisa ataupun kesimpulan dari data subjektif dan data objektif.
P: Perencanaan, yaitu pengembangan rencana segera atau yang akan datang untuk mencapai status kesehatan klien yang optimal.
BAB 2 Tinjauan Kasus A. Asuhan keperawatan
1. Pengkajian Kasus :
Ny. S 27 tahun beragama Islam bersuku Jawa/ Indonesia sudah menikah dan mempunyai satu orang anak. Pasien dirawat dengan diagnosa medis Plasenta Previa Totalis. Pasien masuk dari IGD pada 5 april 2024 pukul 06.00 masuk di ruang IGD ponek dan masuk di ruang VK IGD pada 07.55.
Alasan kunjungan sakit pasien mengatakan telah mengalami perdarahan warna merah segar sejak 3 hari yang lalu disertai adanya gumpalan, kontraksi pada pukul 04.55 lalu dengan usia kehamilan 35/36 minggu pada saat di IGD pasien mengalami perdarahan 250cc dan penurunan hematokrit yang terdapat gumpalan disertai penuruna kadar hematokrit dan disertai HIS 1x10 s per 10 min DJJ: 144x/dopp ,TBJ 2200-2300 gr dengan observasi tekanan darah 112/76 mmHg nadinya 68 dengan RR 16 kali /menit dan pembukaan serviks 5.
Ny. S mengatakan kadang merasa nyeri di bagian abdomen dengan hasl pemeriksaan P : kontraksi uterus Q : kenceng R: abdomen bawah S : 3 T : Hilang Timbul. Ny S juga mengatakan khawatir akan kondisi yang dialami saat ini.
Pasien mengatakan sebelumnya pernal melakukan persalinan SC dibantu oleh dokter adanya riwayat KB yaitu IUD serta tidak ada masalah yang terjadi.
2. Diagnosa Keperawatan
No Tanda dan gejala Penyebab Masalah
1. Ds :
Pasien mengeluh nyeri Do :
HIS : 1x10detik/10menit P : kontraksi uterus Q : kenceng
R: abdomen bawah S : 3
T : Hilang Timbul
Agen Pencedera
Fisiologis Nyeri Akut (D.0077)
2. Ds :
Merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi.
Do :
Pasien tidak fokus saat diajukan
pertanyaan
Krisis Situasional
Ansietas (D.0080)
3. Faktor resiko :
Komlikasi kehamilan (Plasenta Previa)
Perdarahan
Pervaginam Risiko perdarahan (D.0012) 4. Faktor resiko :
Riwayat persalinan sebelumnya SC
Nyeri pada abdomen
TBJ janin rendah 2200-2300gr
Gangguan plasenta
Resiko Cedera Pada Janin (D.0138)
Diagnosa pertama adalah Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera fisiologis dibuktikan dengan pasien mengeluh nyeri pada sisi abdomen bagian bawah, nyeri bersifat kencang dan hilang timbul serta skala nyeri 3.
Diagnosa kedua adalah Ansietas berhubungan dengan krisis situasional dibuktikan dengan pasien merasa khawatir dengan akibat dari kondisi yang dihadapi. Pasien tidak fokus saat diajukan pertanyaan.
Diagnosa ketiga adalah Risiko Perdarahan dibuktikan dengan Komlikasi kehamilan (Plasenta Previa), perdarahan pervaginam
Diagnosa keempat adalah Resiko Cedera Pada Janin dibuktikan dengan riwayat persalinan sebelumnya (SC), pasien merasa nyeri pada abdomen bawah dengan TBJ janin rendah yaitu 2200-2300 gr,
3. Intervensi
No .
Diagnosa Keperawata
n
SLKI Intervensi
keperawatan
1. Nyeri Akut berhubunga n dengan Agen Pencedera Fisiologis
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan nyeri akut teratasi dengan kriteria hasil :
1. Tingkat Nyeri (L.08066) Indikato r
Awal akhir Keluhan
nyeri
2 4
2. Kontrol Nyeri (L.08063) Indikator Awa
l akhi
r Melaporka
n nyeri terkontrol
2 4
Manajemen Nyeri (I.08238)
1. Identifikasi
lokasi,karakteristik durasi,frekuensi,kualita s intensitas nyeri, skala nyeri
2. Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri
3. Berikan teknik non Farmakologi untuk mengurangi nyeri 4. Fasilitasi istirahat dan
tidur
5. Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
6. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam 7. Observasi CHPB
(cortonen his, pembukaan bandle) Edukasi Manajemen Nyeri (I.12391)
1. Identifikasi kesiapan dan kemampuan menerima informasi 2. Sediakan materi dan
media pendidikan kesehatan
3. Jadwalkan
pendidikan kesehatan sesuai kesepakatan 4. Berikan kesempatan
untuk bertanya 5. Jelaskan penyebab,
periode, dan strategi meredakan nyeri 6. Anjurkan memonitor
nyeri secara mandiri 7. Anjurkan
menggunakan analgetik secara tepat 8. Ajarkan teknik
nonfarmakologis untuk mengurangi rasa nyeri
2. Ansietas berhubunga n dengan Krisis Situasional
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan ansietas teratasi dengan kriteria hasil :
1. Tingkat Ansietas (L.09093)
Indikator Awa
l akhi
r Verbalisasi
khawatir akibat kondisi yang dihadapi
2 4
Konsentras
i 2 4
2. Dukungan sosial (L.13113)
Indikator Awal akhir Dukungan
emosi yang disediaka n oleh orang lain
2 4
Reduksi Ansietas (I.09134)
1. Kaji saat tingkat ansietas berubah (mis., kondisi;
waktu,stesor) 2. Identifikasi
kemampuan
mengambil keputusan 3. Monitor tanda-tanda
ansietas (verbal dan nonverbal
4. Temani pasien untuk mengurangi
kecemasan,
5. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan 6. Motivasi
mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan
7. Anjurkan rileks dan merasakan sensasi relaksasi
8. Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam Dukungan Emosional (I.09256)
1.Identifikasi hal yang telah memicu emosi 2.Buat pernyataan
suportif atau empati selama fase berduka 3.Lakukan sentuhan
untuk memberikan dukungan (mis.
Merangkul, menepuk- nepuk)
4.Tetap bersama pasien dan pastikan
keamanan selama ansietas, jika perlu 5.Kurangi tuntutan
berpikir saat sakit atau lelah
6.Anjurkan
mengungkapkan
perasaan yang dialami (mis. Ansietas, marah, sedih)
7.Ajarkan penggunaan mekanisme pertahanan yang tepat
3. Risiko Perdarahan dibuktikan dengan Komlikasi kehamilan (Plasenta Previa)
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan risiko perdarahan teratasi dengan kriteria hasil :
1. Tingkat perdarahan (L.02017) Indikator Awa
l akhi
r Perdaraha
n vagina 2 4
hematokrit 2 4 2. Status Cairan
(L03208) Indikator Awa
l akhi
r Hematokri
t
2 4
Pencegahan
Perdarahan (I.02067) 1. Monitor tanda dan gejala perdarahan 2. Monitor nilai
hematokrit/hemoglob in sebelum dan setelah kehilangan darah
3. Pertahankan bed rest selama perdarahan 4. Jelaskan tanda dan
gejala perdarahan 5. Anjurkan
meningkatkan asupan cairan untuk
menghindari konstipasi 6. Anjurkan
menghindari aspirin atau antikoagulan 7. Anjurkan
meningkatkan asupan makanan dan vitamin K
8. Anjurkan segera melapor jika terjadi perdarahan
9. Kolaborasi pemberian obat pengontrol
perdarahan, jika perlu Pemantauan Cairan (I.03121)
1. Monitor frekuensi dan kekuatan nadi 2. Monitor frekuensi
napas
3. Monitor tekanan darah
4. Monitor hasil pemeriksaan serum
(mis. Osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kalium, BUN)
5. Monitor intake dan output cairan 6. )
7. Identifikasi faktor risiko
ketidakseimbangan cairan (mis,
trauma/perdarahan,) 8. Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien
9. Dokumentasi hasil pemantauan
10. Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan 4. Resiko
Cedera Pada Janin dibuktikan dengan riwayat persalinan sebelumnya (SC), pasien merasa nyeri pada abdomen bawah dengan TBJ janin rendah yaitu 2200- 2300 gr
Setelah dilakukan tindakan keperawatan 2x24 jam diharapkan Resiko Cedera Pada Janin teratasi dengan kriteria hasil :
1. Tingkat cedera (L.14136) Indikator Awa
l akhi
r Toleransi
aktivitas 2 4
Keteganga n otot
2 4
Perdarahan 2 4 2. Tingkat infeksi
(L.14137) Indikato
r Awal akhir
Nyeri 2 4
Pemantauan Djj (I. 02056)
1. Identifikasi status obstetric
2. Identifikasi riwayat persalinan
3. Identifikasi riwayat antenatal
4. Monitoring denyut jantung selama 1 menit
5. Monitor gerak janin (min 10x dlm 12 jam) 6.Lakukan pemeriksaan
USG dan CTG Pencegahan cedera (I.14537)
1. Identifikasi area lingkungan yang berpotensi
menyebabkan cedera 2. Identifikasi obat
yang berpotensi menyebabkan cedera 3. Sosialisasikan pasien dan keluarga dengan lingkungan ruang rawat (mis.
Penggunaan telepon, tempat tidur,
penerangan ruangan dan lokasi kamar mandi)
4. Gunakan pengaman tempat tidur sesuai dengan kebijakan fasilitas pelayanan kesehatan
BAB 3
ANALISIS JURNAL A. Latar belakang
Kecemasan atau disebut dengan anxiety merupakan keadaan emosional yang tidak menyenangkan, berupa respon-respon psikofisiologis yang timbul sebagai antisipasi bahaya yang tidak nyata atau khayalan, tampaknya disebabkan oleh konflik intrapsikis yang tidak disadari secara langsung (Dorlan, 2010).
World Health Organization (WHO) memperkirakan 830 orang perempuan meninggal setiap harinya akibat komplikasi kehamilan dan proses persalinan diantaaranya adalah perdarahan sebesar 30% (WHO 2016). Komplikasi pada kehamilan dapat menjadi sumber kecemasan pada ibu hamil. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 52,7% ibu hamil yang mempunyai tingkat kecemasan sedang mengalami hipertensi, sedangkan 57,8% ibu hamil yang mempunyai tingkat kecemasan tinggi mengalami pre-eklampsia (Toussaint, 2021).
Seorang ibu yang mengalami perdarahan saat masa kehamilan dapat mengalami kecemasan yang dirasakan oleh ibu maupun keluarga. Dari timbulnya kecemasan dapat memicu ibu untuk berfikir negative atau lainnya. Tingkat kecemasan sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan ibu hamil maupun janin yang ada di dalam kandungan. Kecemasan saat kehamilan berkontribusi terhadap terjadinya gangguan emosional dan perilaku. (Glover, 2015)
Tingkat kecemasan yang rendah pada ibu hamil dapat mengurangi komplikasi yang ditimbulkan sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi angka kematian ibu dan bayi, sedangkan tingkat kecemasan yang tinggi dapat memperberat komplikasi angka kematian ibu dan bayi. Upaya untuk mengurangi kecemasan diantaranya dengan mengetahui penyebab dan melalui terapi deep breathing. Metode deep breathing bertujuan untuk menurunkan kecemasan pada ibu dan dapat melenturkan otot –otot ibu yang tegang. Beberapa teknik komplementer yang dapat dijadikan alternative pilihan pada ibu hamil yang mengalami kesemasan, seperti teknik pernafasan perut, afirmasi positif stress,terapi murotal Al-Qur’an, & berfikir positif. (Nurcahyani, 2020)
Menurut Goldfried dan Davidson relaksasi adalah salah satu teknik dalam terapi perilaku yang dikembangkan oleh Jacobson dan Wolpe untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan. Menurut Walker teknik ini dapat digunakan oleh seseorang tanpa bantuan terapis dan mereka dapat melakukannya untuk mengurangi ketegangan dan kecemasan yang dialami sehari-hari dirumah.Teknik relaksasi nafas dilakukan dengan cara mengatur pola pernafasan secara perlahan yaitu dengan menahan inspirasi secara maksimal dan menghembuskan nafas secara perlahan (Putri, 2021). Pernapasan dalam, yang juga dikenal sebagai pernapasan diafragma, adalah teknik yang didasarkan pada gagasan bahwa integrasi pikiran dan tubuh menghasilkan relaksas (Toussaint, 2021).
B. PICO
P : Ibu Hamil
I : Terapi deep breathing C :Tanpa kelompok control O : Mengatasi Kecemasan
C. Pertanyaan Klinis
Berdasarkan PICO yang telah dibuat, maka disusun pertanyaan: “Apakah Efektifitas Terapi Deep Breathing yang dilakukan dapat mengatasi kecemasan pada ibu hamil dengan plasenta previa.?”
D. Proses Pencarian Literature
Proses pencarian literature melalui Google Scolar dengan menggunakan kata kunci: Plasenta Previa, Terapi, Deep Breathing, Kecemasan. Pada Google Scolar diperoleh hasil sebanyak 90 jurnal.
Berdasarkan 90 jurnal yang diperoleh tersebut, selanjutnya dipilih jurnal yang mampu menjawab pertanyaan klinis yang telah ditegakkan. Jurnal tersebut dipilih dengan pertimbangan yaitu tahun terbitan kurang dari 5 tahun, abstrak dan full paper tersedia, dan isi dalam artikel tersebut mampu menjawab pertanyaan klinis. Jurnal yang dipilih yaitu : Efektivitas Deep Breathing Terhadap Kecemasan Ibu Hamil Dengan Plasenta Previa : Evidence Based Case Report.
E. Kritisi Jurnal
1. Ringkasan Artikel
Penelitian yang dilakukan oleh Uwin dan Santi Sofiyanti (2022) yang berjudul “Efektivitas Deep Breathing Terhadap Kecemasan Ibu Hamil Dengan Plasenta Previa : Evidence Based Case Report”, bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi Deep Berathing dalam mengatasi kecemasan pada ibu hamil dengan plasenta previa.
Desain penelitian dalam bentuk tabel yang menunjukkan nama sumber tempat pencarian, strategi pencarian, kriteria inklusi dan eksklusi artikel yang dipilih, jumlah artikel yang diperoleh melalui seleksi judul, dan jumlah naskah lengkap artikel yang diperoleh. Terhadap masing-masing artikel yang terpilih juga dilakukan penentuan derajat kekuatan bukti atau level of evidence, yang digambarkan dalam sebuah tabel, sehingga pada tabel tersebut akan tampak presisi, konsistensi, kesesuaian, dan kontroversi hasil, serta bukti mana yang merupakan the best evidence.
Partisispan dalam penelitian ini adalah ibu hamil pada trimester III, yang didapatkan terdapat pengaruh tehnik relaksasi nafas dalam yang dilakukan pada ibu hamil primigravida trimester III terhadap penurunan tingkat kecemasan dalam menghadapi persalinan, dengan nilai p<0,05. Hal ini berdasarkan hasil penelitian bahwa ibu hamil terlebih dahulu diajarkan tehnik relaksasi nafas dalam dan dilihat tingkat kecemasan yang dialaminya. Ibu dianjurkan untuk
melaksanakan relaksasi nafas sebanyak 3 kali sehari dan akan dinilai kembali tingkat kecemasannya setelah 6 hari.
Terapi deep breathing atau terapi nafas dalam dapat mengatasi kecemasan pada ibu hamil dengan risiko. Dimana terapi ini bekerja untuk merelaksasikan otot-otot dan syaraf pada tubuh yang tegang. Dengan teapi ini dapat juga megatasi stress, kecemasan yang disebabkan karena timbulnya rasa nyeri. Serta untuk mencegah terjadinya kelahiran premature diberikan terapi nifedipin sebagai tokolitik, yang bertujuan untuk mempertahankan kehamilan agar tidak terjadi kelahiran premature.
2. Saran Terhadap Artikel
Penelitian ini menggunakan pendekatan evidence based case report dengan kriteria inklusi dan eksklusi, namun terapat beberapa aspek yang harus lebih diperkuat yaitu pertama, penggunaan tiga artikel dalam tinjauan literatur mungkin terbatas untuk mendukung generalisasi temuan. Penambahan sumber data dari data base seperti CINAHL atau Embase dapat memperkasaya kualitas bukti dan mengurangi ririko bias seleksi. Kedua, studi ini tidak menjelaskan secara rinci bagaimana teknik deep breathing diimplementasikan (misalnya, durasi persesi, panduan visual dan pelatihan partisipasi). Detail prosedural ini penting untuk memastikan replikasi yang konsisten dalam praktik klinis. Selain itu, desain penelitian ini dapat dipertimbangkan untuk menguji efek jangka panjang terapi ini, mengingat studi ini hanya mengevaluasi kecemasan dalam rentang 6 hari.
Study ini menyatakan bahwa terapi deep breathing efektif menurunkan kecemasan, tetapi tidak membahas mekanisme fisiologis atau psikologis yang mendasarinya. Penambahan analisis terhadap parameter seperti kadar kostirol, detang jantung atau respons otonom dapat memperkuat temuan dan memberikan bukti multidimensi. Selain itu, perlu dipertimbangkan faktor konsektual seperti dukungan sosial, tingkat pendidikan, atau akses layanan kesehatan yang mungkin mempengaruhi tingkat kecemasan ibu hamil dengan plasenta previa.
Study inni juga dapat memperluas rekomdasinya dengan menyertakan panduan
adaptasi terapi untuk kelompok risiko tinggi atau ibu demham komlikasi tambahan.
3. Implikasi Terhadap Pelayanan Keperawatan
Berdasarkan hasil penelitian dalam jurnal tersebut, maka dapat diaplikasikan pada pelayanan wanita hamil dengan plasenta previa yang menunjukkan bahwa terapi deep breathing efektif mengurangi kecemasan.
Penelitian ini memerlukan intervensi kedalam protokol asuhan antenatal, khususnya pasien beresiko tinggi. Implementasi dalam penelitian ini dapat dirancang dengan mejadwalkan latihan terstruktur selama kunjungan antenatal atau melalui pendampingan home care yang sejalan dengan temuan study serupa yang menggunakan alat ukur seperti state trait anxiety inventory (STAI) untuk mengevaluasi non-farmakologis seperti deep breathing layak diadopsi secara klinis.
Intervensi deep breathing dapat diterapkan secara optimal, yang perlu dilatih untuk mengajarkan teknik dengan benar, termasuk durasi, frekuensi, dan panduan visual/audio. Berdasarkan penelitian oleh rahmawati dan margaretta (2022) menunjukkan bahwa penggunaan media audio atau video meningkatkan kepatuhan dan pemahaman pasien. Pelatihan ini dapat diintegrasikan kedalam program pengembangan kompetensi perawat maternitas, sehingga dapat memebrikan instruksi yang jelas dan memantau progres pasien.
Penelitian ini menggunakan pendekatan evidence based case report (EBCR) dengan tinjauan literatur berbasis. Perawat perlu melakukan asesmen awal untuk menentukan metode yang paling sesuai dengan kondisi psikologis, tingkat pendidikan, dan akses teknologi pasien. Misalnya, ibu hamil dengan keterbatasan literasi digital mungkin lebih memilih sesi tatap muka, sementara generasi muda lebih nyaman dengan panduan video (Rahmawati, 2022).
Terapi deep breathing efektif mengurangi kecemasan pada ibu hamil dengan plasenta previa, namun seringkali membutuhkan pendekatan multidisiplin. Perawat harus berkolaborasi dengan psikolog, bidan, dan dokter kandungan untuk mengombinasikan teknik relaksasi dengan konseling psikologis atau edukasi tentang manajemen resiko plasenta previa dan manajemen stress, sehingga dapat meningkatkan kesiapan mental ibu hamil menghadapi persalinan dan mengurangi kecemasan secara preventif.
Dengan demikian, integrasi terapi deep breathing dalam praktik keperawatan memberikan manfaat nyata dalam menurunkan kecemasan ibu hamil dengan plasenta previa, meningkatkan kualitas pelayanan dan mendukung hasil kehamilan yang lebih baik atau di inginkan.
Daftar Pustaka
Achadiat C. M., (2004). Obsetri dan Ginekologi. Jakarta: EGC Asmadi. (2008). Konsep Dasar Keperawatan. Jakarta: EGC
Astuti. (2012). Buku Ajaran Asuhan Kebidanan Ibu 1 (Kehamilan). Yogyakarta: Rahima Press . Athanansias PK, Afors K, Dornan SM. 2012. Antepartum Hemorrhage. Obstetrics
Gynaecology and Reproductive Medicine, 22(1) : 21-5
Dorland W. Kamus Kedokteran Dorland, Edisi 31. In: 31st ed. Jakarta: EGC; 2010.
. Glover V. Prenatal Stress and Its Effects on the Fetus and the Child: Possible Underlying Biological Mechanisms. Adv Neurobiol. 2015;10:269-283. doi:10.1007/978-1-4939- 1372-5_13
Green Carol J. and Wikinson M. Judith. 2012. Rencana asuhan keperawatan maternal & bayi baru lahir. Jakarta : EGC
Hanif Andyanita, H. dkk. (2022). Buku Ajar Pengantar Keperawatan Maternitas. Indramayu:
Penerbit Adab.
Hutahaen, S. (2010). Konsep dan Dokumentasi Keperawatan. Jakarta: Trans Info.
Manuba. IBF. (2010). Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan KB. Jakarta : EGC
Maryunani, Eka Puspita. (2013). Asuhan Kegawatdaruratan Maternal dan Neonatal. Jakarta : CV. Trans Info Media.
NANDA. (2015). Diagnosis Keperawatan : Definisi & Klasifikasi Edisi 10. Jakarta: EGC.
Ningsi Agustina, S. dkk. (2023). Asuhan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal. Klaten: Nas Media Pustaka.
Nugrahaheny, S. D. (2012). Asuhan Kebidanan Pada Ibu Bersalin. Jakarta: Salemba Medika.
Pangestuti R. Asuhan Kebidanan Ibu Hamil Dengan Plasenta Previa Totalis Di Rsud Pandan Arang Boyolali Restu Pangestuti. 2021;(1).
PPNI. (2016). Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia: Definisi Dan Indikator Diagnostik (1st ed). Jakarta : Tim Pokja SDKI DPP PPNI.
PPNI. (2018a). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia: Definisi Dan Tindakan Keperawatan (1st ed). Jakarta : Tim Pokja SDKI DPP PPNI.
PPNI. (2018b). Standar Luaran Keperawatan Indonesia: Definisi dan Kriteria Hasil Keperawatan (1st ed). Jakarta : Tim Pokja SDKI DPP PPNI.
Prawirohardjo, S. (2018). Buku Acuan Nasional : Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Putri ERT, Margaretta SS. Efektifitas Relaksasi Deep Breathing Dengan Teknik Self Intruction Training (SIT) Dalam Bentuk Video Dan Audio Untuk Mengurangi Kecemasan Pada Ibu Hamil. J Keperawatan dan Kesehat Masy STIKES Cendekia Utama Kudus.
2021;10(1):26-33.
Rafhani Rosyidah, S. B. (2019). Obsetri Pathologi Kehamilan. Sidoarjo: UMSIDA Press.
Rahmawati, E.T.P. dan Margaretta, S.S, (2021). Efektifitas relaksasi deep breathing dengan teknik self intruction training (SIT) dalam bentuk video dan audio untuk mengurangi kecemasan pada ibu hamil. Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Masyarakat, 10(1).
Rohimah. (2016). Pengaruh Usia Ibu Hamil Terhadapkejadian Plasenta Previa Di Rsup Soeradji Tirtonegoro. Jurnal Keperawatan Global, Volume 1, No 2, Desember 2016 hlm 55-103
Senkoro, E.E. dkk. (2017). Frequency, Risk Factors, and Adverse Fetomaternal Outcomes Of Placenta Previa in Northerm Tanzania. Journal Of Pregnancy, 2017, pp.7-11
Setiadi. (2012). Konsep Dan Penulisan Dokumentasi Asuhan Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu
Sofiyanti, S, (2022). EFEKTIVITAS DEEP BREATHING TERHADAP KECEMASAN IBU HAMIL DENGAN PLASENTA PREVIA: EVIDENCE BASED CASE REPORT.
Jurnal kesehatan siliwangi, 2(3), 822-833.
Sulistyawati, Ari.(2009). Asuhan Kebidanan Pada Masa Kehamilan. Jakarta : Salemba Medika Toussaint L, Nguyen QA, Roettger C, et al. Effectiveness of Progressive Muscle Relaxation, Deep Breathing, and Guided Imagery in Promoting Psychological and Physiological
States of Relaxation. Evidence-based Complement Altern Med. 2021;2021.
doi:10.1155/2021/5924040 WHO. Maternal Mortality. 2016.