• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kelompok 1 Gangguan Perdarahan Awal Kehamilan

N/A
N/A
Agustina Dewi

Academic year: 2023

Membagikan "Kelompok 1 Gangguan Perdarahan Awal Kehamilan"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH KEPERAWATAN TENTANG GANGGUAN PERDARAHAN AWAL KEHAMILAN DAN ASUHAN KEPERAWATAN

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Mata Kuliah Kesehatan Reproduksi

Disusun oleh :

KELOMPOK I

1. I NENGAH ANTARA (223221330) 1. PUTU VINA VITRIADEWI (223221345) 2. NI PUTU KRISNA ANDIANI (223221342) 3. AGUSTINA DEWI ASTUTI (223221310) 4. DWI ANDRIYANI (223221369)

Program Studi Ilmu Keperawatan STIKES Wira Medika Bali

2022

(2)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Konsepsi merupakan suatu proses bertemunya ovum dengan sperma sehingga terjadilah suatu proses kehamilan, persalinan dan nifas. Suatu proses antepartum, intrapartum maupun postpartum tidak selamanya berjalan secara normal. Kadangkala hal ini merupakan jembatan kematian bagi para ibu di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor yang terkadang tidak disadari oleh para ibu hamil maupun tenaga kesehatan. Ketidaksigapan tenaga kesehatan di indonesia inilah yang mengakibatkan angka kematian maternal di Indonesia masih cukup tinggi. Penyebab kematian ibu paling banyak disebabkan oleh perdarahan obstetris diantaranya solusio plasenta 19%, laserasi/ruptur uteri 16%, atonia uteri 15%, koagulopati 14%, plasenta previa 7%, plasenta akreta/inkreta/perkreta 6%, perdarahan uteri 6%, retensio plasenta 4% (Chicakli, 1999). Perdarahan obsteri yang tidak dengan cepat ditangani dengan transfusi darah atau cairan infus dan fasilitas penanggulangan lainnya (misalnya upaya pencegahan dan/atau mengatasi syok, seksio sesaria, atau histerektomi dan terapi antibiotika yang sesuai), prognosisnya akan fatal bagi penderita. Perdarahan di sini dapat bersifat antepartum atau selama kehamilan seperti pada plasenta previa dan solusio plasenta atau yang lebih sering lagi terjadi yaitu perdarahan postpartum akibat dari atonia uteri atau laserasi jalan lahir.

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pada triwulan terakhir dari kehamilan.

Batas teoritis antara kehamilan muda dan kehamilan tua adalah kehamilan 28 minggu tanpa melihat berat janin, mengingat kemungkinan hidup janin diluar uterus. Perdarahan setelah kehamilan 28 minggu biasanya lebih banyak dan lebih berbahaya daripada sebelum kehamilan 28 minggu, oleh karena itu memerlukan penanganan yang berbeda.

Pada setiap perdarahan antepartum pertama-tama harus selalu dipikirkan bahwa hal itu bersumber pada kelainan plasenta, karena perdarahan antepartum yang berbahaya umumnya bersumber pada kelainan plasenta, sedangkan kelainan serviks tidak seberapa berbahaya. Komplikasi yang terjadi pada kehamilan trimester 3 dalam hal ini perdarahan antepartum, masih merupakan penyebab kematian ibu yang utama. Oleh karena itu, sangat penting mengenali tanda dan komplikasi yang terjadi pada penderita agar dapat memberikan asuhan keperawatan secara baik dan benar, sehingga angka kematian ibu yang disebabkan perdarahan dapat menurun.

(3)

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengaplikasikan ilmu yang sudah didapat secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum secara komprehensif.

2. Tujuan Khusus

Setelah membaca makalah dan diskusi kelompok, mahasiswa diharapkan dapat : a. Mengetahui dan memahami pengertian, jenis-jenis, etiologi, patofisiologi,

manifestasi klinis, penatalaksanaan, komplikasi, pemeriksaan penunjang pada pasien dengan perdarahan antepartum.

b. Mampu melaksanakan pengkajian pada pasien dengan perdarahan antepartum c. Mampu menganalisa dan menentukan masalah keperawatan pada klien dengan

perdarahan antepartum

d. Mampu melakukan intervensi dan implementasi untuk mengatasi masalah keperawatan pada klien dengan perdarahan antepartum.

e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Perdarahan Antepartum 1. Pengertian

Perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam semasa kehamilan di mana umur kehamilan telah melebihi 28 minggu atau berat janin lebih dari 1000 gram (Manuaba, 2010). Sedangkan menurut Wiknjosastro (2007), perdarahan antepartum adalah perdarahan pervaginam yang timbul pada masa kehamilan kedua pada kira-kira 3% dari semua kehamilan. Jadi dapat disimpulkan perdarahan antepartum adalah perdarahan yang terjadi pada akhir usia kehamilan.

2. Jenis-Jenis Perdarahan Antepartum a. Plasenta Previa

Pengertian

Plasenta previa adalah plasenta atau biasa disebut dengan ari-ari yang letaknya tidak normal, yaitu pada bagian bawah rahim sehingga dapat menutupi sebagian atau seluruh pembukaan jalan rahim. Pada keadaan normal ari-ari terletak dibagian atas rahim (Wiknjosastro, 2005).

Klasifikasi

Jenis-jenis plasenta previa di dasarkan atas teraba jaringan plasenta atau ari-ari melalui pembukaan jalan lahir pada waktu tertentu.

1) Plasenta previa totalis, yaitu apabila seluruh pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta atau ari-ari.

2) Plasenta previa parsialis, yaitu apabila sebagian pembukaan tertutup oleh jaringan plasenta.

3) Plasenta Previa marginalis, yaitu apabila pinggir plasenta atau ari-ari berada tepat pada pinggir pembukaan jalan ari.

4) Plasenta letak rendah, yaitu apabila letak tidak normal pada segmen bawah rahim akan tetapi belum sampai menutupi pembukaan jalan lahir (Wiknjosastro, 2005).

Etiologi

Mengapa plasenta atau ari-ari bertumbuh pada segmen bawah rahim tidak selalu jelas.

Plasenta previa bisa disebabkan oleh dinding rahim di fundus uteri belum menerima implantasi atau tertanamnya ari-ari dinding rahim diperlukan perluasan plasenta atau ari-ari untuk memberikan nutrisi janin (Manuaba, 2010).

(5)

Disamping masih banyak penyebab plasenta previa yang belum di ketahui atau belum jelas, bermacam-macam teori dan faktor-faktor dikemukakan sebagai etiologinya.

Strasmann mengatakan bahwa faktor terpenting adalah vaskularisasi yang kurang pada desidua yang menyebabkan atrofi dan peradangan, sedangkan browne menekankan bahwa faktor terpenting ialah villi khorialis persisten pada desidua kapsularis.

Faktor-faktor etiologinya : 1) Umur dan Paritas

- Pada primigravida, umur di atas 35 tahun lebih sering dari pada umur di bawah 25 tahun.

- Lebih sering pada paritas tinggi dari paritas rendah

- Di Indonesia, plasenta previa banyak dijumpai pada umur muda dan paritas kecil, hal ini disebabkan banyak wanita Indonesia menikah pada usia muda dimana endometrium masih belum matang.

1) Hipoplasia endometrium, bila kawin dan hamil pada umur muda

2) Endometrium cacat pada bekas persalinan berulang-ulang, bekas operasi, kuretase dan manual plasenta.

3) Korpus luteum bereaksi lambat, dimana endometrium belum siap menerima hasil konsepsi.

4) Tumor-tumor, seperti mioma uteri, polip endometrium.

5) Kadang-kadang pada mal nutrisi (Manuaba, 2010).

Patofisiologi

Perdarahan tanpa alasan dan tanpa rasa nyeri merupakan gejala utama dan pertama dari plasenta previa. Walaupun perdarahannya sering dikatakan terjadi pada triwulan ketiga, akan tetapi tidak jarang pula dimulai sejak kehamilan 20 minggu karena sejak itu segmen bawah rahim telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis. Dengan bertambah tuanya kehamilan, segmen bawah rahim akan lebih melebar lagi, dan leher rahim mulai membuka.

Apabila plasenta atau ari-ari tumbuh pada segmen bawah rahim, pelebaran segmen bawah rahim dan pembukaan leher rahim tidak dapat diikuti oleh plasenta yang melekat disitu tanpa terlepasnya sebagian plasenta dari dinding rahim. Pada saat itulah mulai terjadi perdarahan.

Sumber perdarahannya ialah sinus uterus yang terobek karena terlepasnya plasenta dan dinding rahim atau karena robekan sinus marginalis dari plasenta. Perdarahannya tidak dapat dihindarkan karena ketidakmampuan serabut otot segmen bawah rahim untuk berkontraksi menghentikan perdarahan itu, tidak sebagaimana serabut otot uterus menghentikan perdarahan pada kala III dengan plasenta yang letaknya normal, makin rendah letak plasenta, makin dini perdarahan terjadi (Winkjosastro, 2005).

(6)

Frekuensi

Frekuensi plasenta previa pada Ibu yang hamil berusia lebih dari 35 tahun kira-kira 10 kali lebih sering dibandingkan dengan Ibu yang kehamilan pertamanya berumur kurang dari 25 tahun. Pada Ibu yang sudah beberapa kali hamil dan melahirkan dan berumur lebih dari 35 tahun. Kira-kira 4 kali lebih sering dibandingkan yang berumur kurang dari 25 tahun.

(Winkjosastro, 2003).

Tanda dan Gejala

Gejala utama dari plasenta previa adalah timbulnya perdarahan secara tiba-tiba dan tanpa diikuti rasa nyeri. Perdarahan pertama biasanya tidak banyak sehingga tidak berbahaya tapi perdarahan berikutnya hampir selalu lebih banyak dari pada sebelumnya apalagi kalau sebelumnya telah dilakukan pemeriksaan dalam. Walaupun perdarahannya dikatakan sering terjadi pada triwulan ketiga akan tetapi tidak jarang pula dimulai sejak kehamilan 20 minggu karena sejak saat itu bagian bawah rahim telah terbentuk dan mulai melebar serta menipis.

Pada plasenta previa darah yang dikeluarkan akibat pendarahan yang terjadi berwarna merah segar, sumber perdarahannya ialah sinus rahim yang terobek karena terlepasnya ari-ari dari dinding rahim. Nasib janin tergantung dari bahayanya perdarahan dan hanya kehamilan pada waktu persalinan (Winkjosastro, 2005).

Diagnosis

Pada setiap perdarahan antepartum, pertama kali harus dicurigai bahwa penyebabnya ialah plasenta previa sampai kemudian ternyata dugaan itu salah. Sedangkan diagnosis bandingnya meliputi pelepasan plasenta prematur (ari-ari lepas sebelum waktunya), persalinan prematur dan vasa previa (Winkjosastro, 2005).

Anamnesis

Perdarahan jalan lahir pada kehamilan setelah 22 minggu berlangsung tanpa nyeri, tanpa alasan, terutama pada multigravida. Banyaknya perdarahan tidak dapat dinilai dari anamnesis, melainkan dari pemeriksaan darah (Winkjosastro, 2005).

Pemeriksaan

Untuk menentukan penanganan yang tepat, guna mengatasi perdarahan antepartum yang disebabkan oleh plasenta previa. Perlu dilakukan beberapa langkah pemeriksaan.

1) Pemeriksaan luar

Pemeriksaan ini bertujuan untuk memastikan letak janin 2) Pemeriksaan inspekulo

Pemeriksaan ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui sumber terjadinya perdarahan 3) Penentuan letak plasenta tidak langsung

(7)

Pemeriksaan ini bertujuan untuk megetahui secara pasti letak plasenta atau ari-ari.

Pemeriksaan ini dapat dilakukan dangan radiografi, radioisotopi dan ultrasonografi.

4) Penentuan letak plasenta secara langsung.

Pemeriksaan ini bertujuan untuk menegakkan diagnosis yang tepat tentang adanya dan jenis plasenta previa dan pemeriksaan ini bisa dilakukan dengan secara langsung meraba plasenta melalui kanalis servikalis (Winkjosastro, 2005).

Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Kehamilan

Karena dihalangi oleh ari-ari maka bagian terbawah janin tidak terdorong ke dalam pintu atas panggul, sehingga terjadilah kesalahan-kesalahan letak janin seperti letak kepala yang mengapung, letak sungsang atau letak melintang. Sering terjadi persalinan prematur atau kelahiran sebelum waktunya karena adanya rangsangan koagulum darah pada leher rahim. Selain itu jika banyak plasenta atau ari-ari yang lepas, kadar progesteron turun dan dapat terjadi kontraksi, juga lepasnya ari-ari dapat merangsang kontraksi (Mochtar, 2003).

Pengaruh Plasenta Previa Terhadap Persalinan

1) Letak janin yang tidak normal, menyebabkan persalinan akan menjadi tidak normal 2) Bila ada plasenta previa lateralis, ketuban pecah atau dipecahkan dapat menyebabkan

terjadinya prolaps funikuli 3) Sering dijumpai inersia primer 4) Perdarahan (Mochtar, 2011)

Komplikasi Plasenta Previa

1) Prolaps tali pusat (tali pusat menumbung) 2) Prolaps plasenta

3) Plasenta melekat, sehingga harus dikeluarkan manual dan kalau perlu dibersihkan dengan kerokan

4) Robekan-robekan jalan lahir karena tindakan 5) Perdarahan setelah kehamilan

6) Infeksi karena perdarahan yang banyak

7) Bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah (Mochtar, 2011)

Pragnosis Plasenta Previa

Karena dahulu penanganan plasenta previa relatif bersifat konservatif, maka angka kesakitan dan angka kematian Ibu dan bayi tinggi, kematian Ibu mencapai 8-10% dari seluruh kasus terjadinya plasenta previa dan kematian janin 50-80% dari seluruh kasus terjadinya plasenta previa.

(8)

Sekarang penanganan relatif bersifat operatif dini, maka angka kematian dan kesakitan Ibu dan bayi baru lahir jauh menurun. Kematian Ibu menjadi 0,1-5% terutama disebabkan perdarahan, infeksi, emboli udara dan trauma karena tindakan. Kematian perinatal juga turun menjadi 7-25%, terutama disebabkan oleh prematuritas, asfiksia, prolaps funikuli dan persalinan buatan (Mochtar, 2003).

Penanganan Plasenta Previa

Setiap perdarahan yang terjadi pada usia kehamilan di atas 22 minggu harus dianggap penyebabnya adalah plasenta previa sampai ternyata dugaan itu salah. Penderita harus dibawa ke rumah sakit yang fasilitasnya cukup.

Ada 2 cara penanganan yang bisa dilakukan : 1)Terapi Ekspektatif atau Sikap Menunggu

Tujuannya adalah supaya janin tidak terlahir sebelum waktunya dan tindakan yang dilakukan untuk meringankan gejala-gejala yang diderita. Penderita dirawat tanpa melakukan pemeriksaan dalam melalui kanalis servikalis.

Syarat-syarat bisa dilakukannya terapi ekspektatif adalah kehamilan belum matang, belum ada tanda-tanda persalinan, keadaan umum Ibu cukup baik dan bisa dipastikan janin masih hidup.

Tindakan yang dilakukan pada terapi ekspektatif adalah rawat inap, tirah baring dan pemberian antibiotik, kemudian lakukan pemeriksaan ultrasonografi untuk memastikan tempat menempelnya plasenta, usia kehamilan letak dan presentasi janin bila ada kontraksi.

Berikan obat-obatan MgSO4 4 gr IV, Nifedipin 3 x 20 mg/hari, betamethason 24 mg IV dosis tunggal untuk pematangan paru-paru janin.

Bila setelah usia kehamilan diatas 34 minggu, plasenta masih berada di sekitar ostium uteri internum maka dugaan plasenta previa menjadi jelas. Sehingga perlu dilakukan observasi dan konseling untuk menghadapi kemungkinan keadaan gawat darurat (Manuaba, 2010).

2) Terapi Aktif atau Tindakan Segera

Wanita hamil diatas 22 minggu dengan perdarahan pervaginam yang aktif dan banyak harus segera dilaksanakan secara aktif tanpa memandang kematangan janin. Bentuk penanganan terapi aktif.

a) Segera melakukan operasi persalinan untuk dapat menyelamatkan Ibu dan anak atau untuk mengurangi kesakitan dan kematian.

b) Memecahkan ketuban di atas meja operasi selanjutnya pengawasan untuk dapat melakukan pertolongan lebih lanjut.

c) Bidan yang menghadapi perdarahan plasenta previa dapat mengambil sikap melakukan rujukan ke tempat pertolongan yang mempunyai fasilitas yang cukup.

(9)

d) Pertolongan seksio sesarea merupakan bentuk pertolongan yang paling banyak dilakukan (Manuaba, 2010).

b. Solusio Plasenta

 Pengertian Solusio Plasenta

Solusio Plasenta adalah terlepasnya plasenta atau ari-ari dari tempat perlekatannya yang normal pada rahim sebelum janin dilahirkan (Saifuddin, 2006).

Klasifikasi Solusio Plasenta Menurut derajat lepasnya plasenta 1) Solusio Plasenta Parsialis

Bila hanya sebagian saja plasenta terlepasnya dari tempat perletakannya.

2) Solusio Plasenta Totalis

Bila seluruh plasenta sudah terlepasnya dari tempat perlekatannya 3) Prolapsus Plasenta

Bila plasenta turun ke bawah dan teraba pada pemeriksaan dalam.

 Etiologi Solusio Plasenta Penyebab Solusio Plasenta adalah 1) Trauma langsung terhadap Ibu hamil

a) Terjatuh trauma tertelungkup

b) Tendangan anak yang sedang digendong c) Atau trauma langsung lainnya

2) Trauma Kebidanan, artinya solusio plasenta terjadi karena tindakan kebidanan yang dilakukan :

a) Setelah versi luar

b) Setelah memecahkan air ketuban c) Persalinan anak kedua hamil kembar

3) Dapat terjadi pada kehamilan dengan tali pusat yang pendek faktor predisposisi terjadinya solusio plasenta adalah:

a) Hamil tua

b) Mempunyai tekanan darah tinggi atau eklampsia c) Bersamaan dengan pre-eklampsia atau eklampsia d) Tekanan vena kava inferior yang tinggi

e) Kekurangan asam folik (Manuaba, 2010).

Patofisiologi Solusio Plasenta

(10)

Perdarahan dapat terjadi dari pembuluh darah plasenta atau uterus yang membentuk hematoma pada desidua, sehingga plasenta terdesak dan akhirnya terlepas. Apabila perdarahan sedikit, hematoma yang kecil itu hanya akan mendesak jaringan plasenta, peredaran darah antara rahim dan plasenta belum terganggu dan tanda serta gejalanya pun tidak jelas. Kejadiannya baru diketahui setelah plasenta lahir, yang pada pemeriksaan didapatkan cekungan pada permukaan maternalnya dengan bekuan darah lama yang berwarna kehitam-hitaman.

Biasanya perdarahan akan berlangsung terus menerus karena otot uterus yang telah meregang oleh kehamilan itu tidak mampu untuk lebih berkontraksi menghentikan perdarahannya. Akibatnya, hematoma retroplasenter akan bertambah besar, sehingga sebagian dan akhirnya seluruh plasenta terlepas dari dinding rahim.

Sebagian darah akan menyelundup di bawah selaput ketuban keluar dari vagina atau menembus selaput ketuban masuk ke dalam kantong ketuban atau mengadakan ekstravasasi diantara serabut otot rahim.

Nasib janin tergantung dari luasnya plasenta yang terlepas dari dinding rahim. Apabila sebagian besar atau seluruhnya terlepas, anoksia akan mengakibatkan kematian janin.

Apabila sebagian kecil yang terlepas, mungkin tidak berpengaruh sama sekali, atau mengakibatkan gawat janin. Waktu sangat menentukan hebatnya gangguan pembekuan darah, kelainan ginjal, dan nasib janin. Makin lama sejak terjadinya solusio plasenta, makin hebat terjadinya komplikasi (Manuaba, 2010).

Frekuensi Solusio Plasenta

Solusio plasenta terjadi kira-kira 1 diantara 50 persalinan (Winkjosastro, 2005).

Tanda dan Gejala Solusio Plasenta

Solusio Plasenta yang ringan pada umunya tidak menunjukkan gejala yang jelas, perdarahan yang dikeluarkan hanya sedikit. Tapi biasanya terdapat perasaan sakit yang tiba- tiba diperut, kepala terasa pusing, pergerakan janin awalnya kuat kemudian lambat dan akhirnya berhenti. Fundus uteri naik, rahim teraba tegang.

Diagnosis Solusio Plasenta

Diagnosis solusio plasenta bisa ditegakkan bila pada anamnesis ditemukan perdarahan disertai rasa nyeri, spontan dan dikutip penurunan sampai terhentinya gerakan janin dalam rahim.

Anamnesis

(11)

Dari anamnesis didapatkan rasa sakit yang tiba-tiba diperut, perdarahan, dari jalan lahir yang sifatnya hebat berupa gumpalan darah besar dan bekuan-bekuan darah.

Pemeriksaan

Untuk menentukan penanganan yang tepat untuk mengatasi solusio plasenta, pemeriksaan yang bisa dilakukan adalah :

1) Pemeriksaan fisik secara umum

2) Pemeriksaan khusus berupa palpasi abdomen, auskultasi, pemeriksaan dalam serta ditunjang dengan pemeriksaan ultrasonogravi.

 Komplikasi Solusio Plasenta 1) Komplikasi langsung.

Adalah perdarahan, infeksi, emboli dan syok obstetrik.

2) Komplikasi tidak langsung

Adalah couvelair rahim, hifofibrinogenemia, nekrosis korteks renalis yang menyebabkan tidak diproduksinya air urin serta terjadi kerusakan-kerusakan organ seperti hati, hipofisis dan lain-lain (Mochtar, 2003).

Prognosis Solusio Plasenta 1) Terhadap Ibu

Kematian anak tinggi, menurut kepustakaan 70-80% dari seluruh jumlah kasus Solusio plasenta. Hal ini dikarenakan perdarahan sebelum dan sesudah persalinan, toksemia gravidarum, kerusakan organ terutama nekrosis korteks ginjal dan infeksi.

2) Terhadap Anak

Kematian anak tinggi, menurut kepustakaan 70-80% dari seluruh jumlah kasus solusio plasenta. Hal ini tergantung pada derajat pelepasan dari pelepasan plasenta, bila yang terlepas lebih dari sepertiga ari-ari maka kemungkinan kematian anak 100% selain itu juga tergantung pada prematuritas dan tindakan persalinan.

3) Terhadap Kehamilan Berikutnya

Biasanya bila telah menderita penyakit vaskuler dengan solusio plasenta yang lebih hebat dengan persalinan prematur (Mochtar, 2011).

Penanganan Solusio Plasenta 1) Terapi Konservatif

Prinsipnya kita menunggu perdarahan berhenti dan kemudian persalinan berlangsung spontan. Sambil menunggu berhentinya perdarahan kita berikan suntikan morfin subkutan, stimulasi kardiotonika seperti coramine, cardizol dan pentazol serta transfusi darah.

(12)

3) Terapi Aktif

Prinsipnya kita mencoba melakukan tindakan dengan maksud agar anak segera dilahirkan dan pedarahan berhenti. Pertolongan persalinan diharapkan dapat terjadi dalam 3 jam, umumnya dapat bersalin secara normal. Tindakan bedah seksio sesarea dilakukan apabila, janin hidup dan pembukaan belum lengkap, gawat janin tetapi persalinan normal tidak dapat dilaksanakan dengan segera, persiapan untuk seksio sesarea, hematoma miometrium tidak mengganggu kontraksi rahim dan observasi ketat kemungkinan terjadinya perdarahan ulang. Persalinan pervaginam dilakukan apabila : Janin hidup, gawat janin, pembukaan lengkap dan bagian terendah didasar panggul, janin telah meninggal dan pembukaan >2 cm (Saifuddin, 2006).

(13)

BAB III

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

A.

Konsep Asuhan Keperawatan 1. Pengkajian

Temukan data-data yang dapat menunjang masalah keperawatan pasien dengan anamnese, observasi dan pemeriksaan fisik:

a. Identitas

Tanyakan tentang identitas pasien dan penanggungjawab pasien. Hasil temuan biasanya pada kasus pre eklampsia usia sering terjadi < 20 tahun dan > 35 tahun.

b. Keluhan utama

- Keluhan yang paling sering muncul pada penderita perasaan sakit di perut secara tiba-tiba, perdarahan pervaginam yang datang tiba-tiba, warna darah bisa merah segar atau bekuan darah kehitaman.

- Kepala terasa pusing hebat, mual muntah, mata berkunang-kunang, badan lemas

- Adanya riwayat trauma langsung pada abdomen

- Pergerakan anak yang lain dari biasanya ( cepat, lambat atau berhenti) c. Riwayat penyakit sekarang

Tanyakan riwayat keluhan sampai pasien datang ke tempat pelayanan.

d. Riwayat penyakit dahulu

Terkait penyakit yang pernah diderita oleh pasien dan gangguan yang menjadi pemicu munculnya placenta previa atau solutio placenta, misalnya:

- Riwayat tekanan darah sebelum hamil, riwayat pre eklampsia/eklampsia - Riwayat solusio placenta pada kehamilan sebelumnya

- Riwayat hipertensi sebelumnya e. Riwayat penyakit keluarga

Tanyakan penyakit yang pernah diderita oleh keluarga f. Riwayat perkawinan

Tanyakan status perkawinan, umur saat menikah pertama kali, berapa kali menikah dan berapa usia pernikahan saat ini

g. Riwayat obstertri - Riwayat haid

Tanyakan usia menarche, siklus haid, lama haid , keluhan saat haid dan HPHT - Riwayat kehamilan

Kaji tentang riwayat kehamilan lalu dan saat ini. Tanyakan riwayat ANC,keluhan saat hamil, hasil pemeriksaan leopold, DJJ, pergerakan anak.

(14)

h. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik menggunakan sistem pengkajian head to toe dan data fokus obstetri harus dapat ditemukan

a) Kepala Leher

- Kaji kebersihan dan distribusi kepala dan rambut - Kaji expresi wajah klien (pucat, kesakitan)

- tingkat kesadaran pasien baik secara kualitatif maupun kuantitatif. Kesadaran kuantitatif diukur dengan GCS.

- Amati warna sklera mata (ada tidaknya ikterik) dan konjungtiva mata (anemis ada/tidak).

- Amati dan periksa kebersihan hidung, ada tidaknya pernafasan cuping hidung, deformitas tulang hidung.

- Amati kondisi bibir (kelembaban, warna, dan kesimetrisan).

- Kaji ada tidaknya pembesaran kelenjar tiroid, bendungan vena jugularis.

b) Thorak 1) Paru

Hitung frekuensi pernafasan, inspeksi irama pernafasan, inspeksi pengembangan kedua rongga dada simetris/tidak, auskultasi dan identifikasi suara nafas pasien.

2) Jantung dan sirkulasi darah

Raba kondisi akral hangat/dingin, hitung denyut nadi, identifikasikan kecukupan volume pengisian nadi, reguleritas denyut nadi, ukurlah tekanan darah pasien saat pasien berbaring/istirahat dan diluar his. Identifikasikan ictus cordis dan auskultasi jantung identifikasi bunyi jantung.

3) Payudara

Kaji pembesaran payudara, kondisi puting (puting masuk, menonjol, atau tidak) , kebersihan payudara dan produksi ASI.

c) Abdomen

- kaji pembesaran perut sesuai usia kehamilan /tidak - lakukan pemeriksaan leopold 1-4

- periksa DJJ berapa kali denyut jantung janin dalam 1 menit - amati ada striae pada abdomen/tidak

- amati apakah uterus tegang baik waktu his atau diluar his - ada tidaknya nyeri tekan

(15)

d) Genetalia

- Kaji dan amati ada tidaknya perdarahan pevaginam

- k/p lakukan pemeriksaan dalam didapatkan hasil serviks bisa sudah terbuka atau tertutup, jika sudah maka serviks akan menonjol.

e) Ekstremitas

- Kaji ada tidaknya kelemahan - Capilerry revile time

- Ada tidaknya oedema - Kondisi akral hangat/dingin - Ada tidaknya keringat dingin - Tonus otot , ada tidaknya kejang

f) Pemeriksaan Obstetri

Dituliskan hasil pemeriksaan leopold dan DJJ janin

g) Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium

- Albumin urine (+), penurunan kadar HB - Pemeriksaan pembekuan darah tiap 1 jam 2) Pemeriksaan USG

- Tampak tempat terlepasnya plasenta - Tepian placenta

- Darah

2.

Diagnosis Keperawatan

Diagnosis keperawatan ditegakan dengan panduan Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia (lihat SDKI). Beberapa diagnosis yang dapat di tegakan berdasarkan SDKI, 2017 adalah :

a. Nyeri akut b.d agen pencedera fisiologi b. Ansietas b. d krisis situasional

c. Berduka b.d kehilangan/ kematian janin

d. Resiko hipovolemia b.d perdarahan pervaginam e. Hipovolemia b.d kehilangan cairan aktif/perdarahan

f. Gangguan ibu dan janin b.d penurunan suplai oksigen uteroplasental

(16)

3. Perencanaan

Pada perencanaan akan di bahas 1 Diagnosis keperawatan sebagai contoh, untuk selanjutnya mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan perencanaan secara mandiri dengan menggunakan SIKI dan SLKI.

No. Diagnosis Keperawatan

Tujuan Intervensi Rasional

1 Berduka berhubungan dengan

kehilangan janin yang ditandai dengan ibu mengatakan bahwa anak yang dikandungnya sangat

diharapkan, ibu tampak

menangis, sedih, ibu tampak selalu menitikan air mata jika ditanya tentang kondisinya, ibu hanya berdiam diri saja di tempat tidur.

Setelah dilakukan tindakan selama 2x24 jam, kondisi berduka menurun dengan kriteria

- Perasaan sedih pasien menurun

- Aktivitas pasien meningkat

- Harapan masa depan pasien meningkat

1. Manajemen dukungan Emosional

- Lakukan BHSP

- Jadilah pendengar terbaik bagi pasien

- Dorong pasien mengungkapkan perasaannya

- Diskusikan dengan pasien aktivitas yang dapat

membangkitkan semangat pasien

2. Manajemen spiritual

- Dampingi pasien berdoa bersama

- Dampingi dan konsultasikan klien ke pemuka agama

- Dorong dan diskusikan bersama pasien tentang harapan-

- Rasa percaya meningkatkan tingkat kooperatif pasien

- Menjadi pendengar terbaik menurunkan konfrontasi dan meningkatkan kepercayaan pasien ke perawat

- Bercerita tentang

perasaan akan meningkatkan semangat hidup pasien

-Doa menjadi sarana komunikasi individu ke yang Maha Pencipta -Pemenuhan

kebutuhan rohani dapat

meningkatkan rasa syukur dan rasa penerimaan pasien

-Harapan dalam kehidupan

(17)

harapannya merupakan unsur kebutuhan spiritual pasien

(18)

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Perdarahan antepartum merupakan suatu kejadian pathologis berupa perdarahan yang terjadi pada umur kehamilan 28 minggu atau lebih. Perdarahan yang terjadi dapat dibedakan menjadi 2 yaitu perdarahan yang ada hubungannya dengan kehamilan (plasenta previa, solusio plasenta, pecahnya sinus marginalis, dan perdarahan vasa previa) dan perdarahan yang tidak ada hubungannya dengan kehamilan (pecahnya varises, perlukaan serviks, keganasan serviks, dll). Perdarahan antepartum yang berhubungan dengan kehamilan harus segera dilakukan tindakan agar tidak berakibat fatal bagi ibu dan janinnya. Sedangkan perdarahan antepartum yang tidak berhubungan dengan kehamilan tidak membahayakan janin tapi hanya memberatkan ibu.

B. Saran

Sebagai seorang perawat kita harus mampu mendiagnosis dini kelainan atau keabnormalan yang terjadi pada ibu masa antepartum, intrapartum maupun postpartum.

Oleh sebab itu kita harus memahami setiap gejala-gejala yang ditimbulkan dari keabnormalan yang terjadi agar mampu mengambil keputusan secara cepat, tepat, dan efisien.

Secara khusus, seperti pembahasan dalam makalah ini yaitu tentang perdarahan antepartum. Sebagai seorang perawat harus memahami apa saja perdarahan antepartum yang bisa terjadi, gejala yang ditimbulkan, dan mampu memberikan asuhan yang tepat serta mampu melakukan rujukan secara cepat apabila terjadi suatu kegawatan obstetris.

(19)

DAFTAR PUSTAKA

https://ainicahayamata.wordpress.com/nursing-only/keperawatan-maternitas/askep-pada- pasien-perdarahan-antepartum/ (diakses 03 Oktober 2022).

Manuaba,IBG. 2010. Ilmu Kebidanan, penyakit Kandungan dan KB untuk Pendidikan Bidan Edisi 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Marilynn E. Doenges & Mary Frances Moorhouse. 2001. Rencana Perawatan Maternal/Bayi, edisi kedua. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta.

Sandra M. Nettina. 2001. Pedoman Praktik Keperawatan. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Jakarta.

Sarwono, 1997, Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Jakarta

Hanafi Wiknjosastro. 2005. Ilmu Kebidanan. Yogyakarta: Yayasan Bina Pustaka.

Wiknjosastro, Hanifa. 2007. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina

(20)

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Ny. DW DENGAN PENDARAHAN ANTEPARTUM DI RUANG CEMPAKA RSUP PROF. NGOERAH

TANGGAL 3 OKTOBER 2022 s/d 4 OKTOBER 2022

I. PENGKAJIAN

A. IDENTITAS PASIEN

Penanggung Jawab

Nama : Ny. DW Nama : Tn. DW

Umur : 28 Thn Umur : 32 tahun

Pendidikan : Diploma Pendidikan : Sarjana

Pekerjaan : PNS Jenis kelamin : Laki-laki

Status Perkawinan : Kawin Pekerjaan : PNS

Agama : Hindu Alamat : Denpasar

Suku : Bali Status perkawinan : Kawin

Alamat : Denpasar Agama : Hindu

No CM : 012345

Tanggal MRS : 3 Oktober 2022 Tanggal Pengkajian : 3 Oktober 2022

Sumber informasi : Pasien dan Rekam Medis

B. ALASAN MRS

a. Keluhan Utama MRS :

perdarahan pada usia kehamilan 28 minggu

b. Keluhan saat dikaji :

perdarahan dari jalan lahir

c. Riwayat Penyakit sekarang :

Sebelum MRS pasien mengalami perdarahan secara tiba-tiba sejak 3 Oktober 2022 pukul 07.00 WITA, tanpa disertai rasa nyeri konstraksi .Warna darah merah segar dan ada gumpalan darah. Sudah ganti pembalut sebanyak 4 kali. 3 hari sebelumnya pasien mengeluhkan ada sedikit Spotting. Kali ini merupakan kehamilan ketiga pasien, pasien sudah pernah ke dokter untuk memeriksakan kandungan dan dikatakan plasenta menutup jalan lahir namun tidak bergejala seperti sekarang.

Pasien merasa khawatir akan kondisinya dan kondisi bayi. Pasien mengatakan gerakan bayi masih dirasakan bergerak seperti biasa.

d. Riwayat Penyakit Dahulu :

adanya section secaria dan curettage berulang

C. RIWAYAT OBSTETRI DAN

GINEKOLOGI

a. Riwayat Menstruarsi :

 Menarche : umur 11 tahun

 Siklus : teratur ( √) tidak ( )

 Banyaknya : 80cc/hari

 Lama : 4-5 hari siklus 28 hari

 Keluhan : tidak ada keluhan menstruasi

 HPHT : 20 Juni 2022 b. Riwayat pernikahan

 Menikah : 1 kali

(21)

 Lama : 3 tahun

c. Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu :

Anak Ke Kehamilan Persalinan Komplikasi nifas Anak

No Thn Umur kehamilan

Penyulit jenis penolong Penyulit laserasi infeksi Perdarahan Jenis Kelamin

BB Pj

1 2019 Aterm tidak

ada SC Dokter

Sp.OG KPD Tidak

ada Tidak

ada Tidak ada Laki-

laki 4kg 50cm

2 2021 3 minggu Blinded

ovum curet Dokter

Sp.OG Tidak

ada Tidak

ada Tidak

ada Tidak ada Tidak

ada Tidak

ada Tidak ada

d. Riwayat kehamilan saat ini Status Obstetrikus :

 G3P1A1H1 UK : 28 minggu

 TP : 27 Maret 2023

 ANC kehamilan sekarang : Pasien mengatakan selama hamil rutin memeriksakan kehamilannya ke Puskesmas banyak 1 kali, dr Spog 3 kali dan bidan ± 5 kali, di puskesmas pasien mendapatkan imunisasi TT. Pasien juga melakukan USG di dokter kandungan untuk melihat kondisi kandungannya.

e. Riwayat keluarga berencana

 Akseptor KB : Bidan

 Jenis : pil KB

 Lama: 1 tahun

 Masalah : tidak ada masalah

D. RIWAYAT PENYAKIT

1. Klien : tidak ada Riwayat DM, Hipertensi, Hemofilia dan penyakit menular

2. Keluarga : tidak ada Riwayat DM, Hipertensi, Hemofilia dan penyakit menular

E. POLA FUNGSIONAL KESEHATAN

1. Pemeliharan dan persepsi terhadap kesehatan

Pasien memiliki persepsi yang positif terhadap kesehatannya. Jika pasien atau keluarga ada yang sakit, pasien dan keluarga selalu memeriksakan dirinya ke pelayanan kesehatan (Puskesman, Rumah sakit, Bidan Praktek)

2. Nutrisi / metabolik

Pasien mengatakan selama sakit, pasien dapat makan 3 kali perhari habis 1 porsi dan minum 1,5 liter/hari

3. Pola eliminasi

Selama sakit ini px tidak mengalami gangguan dalam BAB, px BAB 1 kali sehari dengan konsistensi cair, berwarna kuning kecoklatan dan berbau khas. Untuk BAK pasien mengatakan 3-5 kali sehari berwarna kuning dan berbau khas.

4. Pola aktivitas dan latihan

Kemampuan perawatan diri 0 1 2 3 4

Makan / minum 0

Mandi 2

Toileting 3

Berpakaian 2

(22)

Mobilisasi di tempat tidur 2

Berpindah 2

Ambulasi ROM 2

0 : mandiri, 1 : alat Bantu, 2 : dibantu orang lain, 3 : dibantu orang lain dan alat, 4 :tergantung total

Kesimpulan : pasien melakukan ativitas dengan dibantu orang lain selama sakit karena pasien bedrest.

5. Pola tidur dan istirahat

Pasien tidak ada gangguan pola tidur dan istirahat untuk saat ini., Pasien biasa tidur 7-8 jam sehari

6. Pola kognitif dan perseptual :

Komunikasi lancer dan memori baik. Px tampak lemas dan terbaring di tempat tidur.

7. Pola persepsi diri :

Pasien mengatakan khawatir dengan kondisinya, dan takut merepotkan keluarga dengan kondisinyaPasien memiliki persepsi yang positif terhadap dirinya.

8. Pola seksual dan reproduksi :

Pasien mengatakan melakukan hubungan seksual dengan suaminya 1-2 kali seminggu sebelum hamil. Saat hamil pasien tidak melakukan hubungan seksual.

9. Pola peran – hubungan :

Hubungan suami-istri ini tampak harmonis, pasien didampingi suaminya saat masuk dan dirawat di Rumah Sakit serta tampak suami pasien merawat dan menemani pasien

10. Pola manajemen koping stress :

Pasien merasa cemas dengan keadaan perdarahan dan bayinya. Pasien mengatakan jika dirinya mengalami masalah, maka dia akan menceritakan dan berbagi dengan suaminya untuk memutusan masalah tersebut.

11. Sistem nilai dan keyakinan :

Pasien menganut kepercayaan agam Hindu dan menjalankan tradisi adat bali.

Bersembahyang setiap hari serta hari keagamaan. Pasien berdoa agar dirinya cepat smebuh dan bisa beraktivitas seperti biasanya.

F. PEMERIKSAAN FISIK

Keadaan umum :

 GCS : E4V5M6

 Tingkat kesadaran : Composmentis

 Tanda – tanda vital : TD : 110/80mmHg N : 90x/mnt RR : 12x/mnt T:

36.5oC

 BB : 65 kg TB: 160 cm LILA : 25 cm

Head toe toe :

 Kepala wajah :

- Inspeksi : Bentuk simetris, kulit kepala bersih, rambut ada, pucat - Palpasi : Nyeri tekan (tidak ada ) edema (tidak ada) cloasma ada

 Mata

- Inspeksi : Konjungtiva Anemis +/+ icterus -/- pupil isokor - Palpasi : Nyeri tekan (-)

(23)

 Leher

- Inspeksi : Bentuk simetris, hiperpigmentasi (-)

- Palpasi : Pembesaran kelenjar tiroid (-), pembesaran limfa (-)

 Dada

- Inspeksi : Penggunaan otot bantu napas (-), ictus cordis tidak terlihat, bentuk simetris, payudara +/+

- Palpasi : Nyeri tekan (-) vocal fremitus kanan kiri sama. Denyut IC regular dengan frekuensi 80x /menit teraba di ICS V

- Perkusi : Sonor +/+

- Auskultasi : Vesikuler +/+ Wheezing -/- ronchi -/-, suara S1S2 tunggal regular, murmur (-) gallop (-)

 Abdomen

- Inspeksi : Luka bekas operasi (+), benjolan (-), sianosis (-), distensi (-) striae alba (+), linea nigra (+), Pembesaran sesuai UK : sesuai UK

- Palpasi : Nyeri tekan (-), Gerakan Janin : ada Kontraksi : tidak ada

Ballottement : ada

Leopold I : Kepala / bokong / kosong TFU: 26 cm diatas simfisis Leopold II: Kanan : punggung/bagian kecil/bokong /kepala

Kiri : punggung / bagian kecil /bokong/kepala Leopold III : Presentasi kepala / bokong/kosong

Leopold IV : belum masuk PAP (konvergen/divergen/sejajar)

Penurunan kepala : 5/5 bagian terbawah janin seluruhnya teraba diatas simfisis pubis

Kontraksi : tidak ada

- Perkusi : Suara Timpani (+)

- Auskultasi : BU (+) normal, bising usus 10x/menit, DJJ : cepat 120x/mnt

 Genetalia dan perineum :

Kebersihan : terdapat darah dari vagina berwana merah muda, +/- 200 cc/hari Keputihan : tidak ada Karakteristik : tidak ada

Hemoroid : tidak ada

 Ekstremitas

Atas :

Oedema : tidak ada Varises : tidak ada CRT : < 2 detik Bawah :

Oedema : tidak ada Varises : tidak ada CRT : < 2 detik

Refleks : reflekx patella ada

G. DATA PENUNJANG

 Pemeriksaan Laboratorium :

(24)

Nama Test Nilai Satuan Nilai Rujukan

(25)

HEMATOLOGI

Leukosit (WBC) 13.01 10^3/uL 4.00 – 10.00

Neu# 10.28 10^3/uL 2.50 – 7.50

Lym# 1.46 10^3/uL 1.00 – 4.00

Mon# 1.17 10^3/uL 0.10 – 1.20

Eos# 0.06 10^3/uL 0.00 – 0.50

Bas# 0.04 10^3/uL 0.00 – 0.10

Neu% 79.0 % 47.0 – 80.0

Lym% 11.2 % 13.0 – 40.0

Mon% 9.1 % 2.0 – 11.0

Eos% 0.4 % 0.5 – 5.0

Bas%m 0.3 % 0.0 – 2.0

Eritrosit (RBC) 3.93 10^6/uL 3.50 – 5.50

Hemoglobin (HGB) 9.2 g/dL 11.0 – 16.0

Hematokrit (HCT) 30.8 % 37.0 – 48.0

M C V 78.3 fL 80.0 – 100.0

M C H 26.9 Pg 27.0 – 34.0

M C H C 34.4 g/dL 32.0 – 36.0

RDW-CV 14.2 % 11.0 – 16.0

RDW-SD 42.1 fL 35.0 – 56.0

Trombosit (PLT) 290 10^3/uL 150 – 450

MPV 7.9 fL 6.5 – 12.0

PCT 0.230 % 0.108 – 0.282

PDW 16.0 fL 9.0 – 17.0

GOLONGAN DARAH

Golongan Darah B

HEMOSTASIS

Waktu perdarahan (BT) 2.00 Menit 2 – 6

Waktu Pembekeuan (CT) 8.00 Menit 6 – 15

 Pemeriksaan USG :

Plasenta menutupi jalan lahir Sebagian, Tepian placenta - Darah

H. DIAGNOSA MEDIS

G3P1A1H1 UK 28 Minggu , Placenta Previa Parsialis

I. PENGOBATAN

Stabilisasi hemodinamik. Bedrest. Kristaloid RL 500 ml @6jam. Pantau tanda-tanda vital, urine output minimal 30ml/jam. Lakukan cross-match pada 2–4 kantong packed red blood cells pada pasien jika mengalami peningkatan volume perdarahan atau perdarahan hebat. Pemantauan denyut jantung janin.

- ANALISA DATA

DATA ETIOLOGI MASALAH

DS :

Pasien mengatakan ini kehamilan yang ke tiga

- Pasien mengatakan mengalami perdarahan tiba-tiba dari jalan lahir pada pukul 07.00

DO :

Plasenta Previa

Adanya Perdarahan aktif

Resiko Syok

Resiko Syok

(26)

a) Pasien tampak bedrest dan lemas.terpasang IVFD di tangan kiri.

b) TTV : TD : 110/80mmHg N : 90x/mnt RR : 18x/mnt T: 36.5oC, TFU : 26 cm diatas simfisis, Perdarahan pervaginam.

DS

Pasien mengatakan khawatir akan kondisinya dan kondisi bayinya.

DO :

Pasien tampak pucat, saat berbicara suara bergetar. N : 90x/mnt RR : 18x/mnt

Perdarahan pada kehamilan

↓ Hospitalisasi

↓ Ansietas

Ansietas

Diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas : 1. Resiko Syok b.d perdarahan pervaginam 2. Ansietas b. d krisis situasional

II. RENCANA KEPERAWATAN

No Tgl /

jam Diagnosa Rencana Keperawatan

Tujuan Intervensi

1 Senin, 3-10- 2022 Pukul 17.45 wita

Resiko Syok Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan resiko syok teratasi dengan kriteria hasil:

1. Tekanan darah sistolik dan diastolic membaik (5)

2. Kulit pucat dan akral dingin menurun (5) 3. Urine output dan

kekuatan nadi

meningkat (5)

Pencegahan syok (I.02068) Observasi

- Monitor status kardiopulmonal (frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi nafas, TD, MAP)

- Monitor status oksigen (oksimetri nadi, AGD)

- Monitor status cairan (masukan dan haluaran, turgor kulit, CRT)

- Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil

- Perikas riwayat alergi Terapiutik

- Berikan oksigen untuk

mempertahankan saturasi oksigen

>94%

- Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu

- Lakukan skin test untuk mencegah reaksi alergi

Edukasi

- Jelaskan penyebab/faktor risiko syok - Jelaskan tanda gejala awal syok

(27)

- Anjurkan melapor jika

menemukan/merasakan tanda dan gejala awal syok

- Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral

- Anjurkan menghindari allergen Kolaborasi

- Kolaborasi pemberian IV, jika perlu - Kolaborasi pemberian tranfusi darah,

jika perlu

- Kolaborasi pemberian antiinflamasi, jika perlu

Pemantauan Cairan Observasi

- Monior frekuensi dan kekuatan nadi - Monitor frekuensi napas

- Monitor tekanan darah - Monitor berat badan

- Monitor waktu pengisian kapiler - Monitor elastisitas turgor kulit

- Monitor jumlah, warna dan berat jenis urine

- Monitor kadar albumin dan protein total

- Monitor pemeriksaan serum (mis, osmolaritas serum, hematokrit, natrium, kalium, BUN)

- Monitor intake dan output cairan - Identifikasi tanda- tanda hipovolemia

(mis, frekuensi nadi meningkat, nadi teraba lemah, tekanan darah menurun, tekanan nadi menyempit, turgor kulit menurun, membran mukosa kering, volume urine menurun, hematokrit meningkat, haus, lemah, konsentrasi urine meningkat, berat badan menurun dalam waktu singkat)

- Identifikasi tanda- tanda hipervolemia (mis, dispnea, edema perifer, edema anasarka, JVP menigkat, CVP menigkat, refleks hepatojugular positif, berat badan menurun dalam waktu singkat)

- Identifikasi faktor risiko ketidakseimbangan cairan (mis, prosedur pembedahan mayor, trauma/perdarahan, luka bakar, aferesis, obstruksi intestinal,

(28)

peradangan pankreas, penyakit ginjal dan kelenjar, disfungsi intestinal) Terapeutik

- Atur interval waktu pemantauan sesuai dengan kondisi pasien - Dokumentasikan hasil pemantauan

Edukasi

- Jelaskan tujuan dan prosedur pemantauan

- Informasikan hasil pemantauan, jika perlu

2 Senin, 3-10- 2022 Pukul 17.45 wita

Ansietas Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam, diharapkan tingkat ansietas menurun dengan kriteria hasil:

1. Verbalisasi

khawatir khawatir terhadap kondisi yang dihadapi menurun (5)

2. Perilaku tegang menurun (5)

3. Verbalisasi kebingungan menurun (5)

Reduksi Ansietas Observasi:

- Identifikasi saat tingkat ansietas berubah

- Identifikasi kemampuan mengambil keputusan

- Monitor tanda-tanda ansietas Terapeutik:

- Ciptakan suasana teraupetik untuk menumbuhkan kepercayaan

- Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika memungkinkan - Pahami situasi yang membuat ansietas - Dengarkan dengan penuh perhatian - Gunakan pendekatan yang tenang dan

meyakinkan

- Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu kecemasan

Edukasi

- Jelaskan prosedur, termasuk sensasi yang mungkin dialami

- Informasikan secara faktual mengenai diagnosis, pengobatan, dan prognosis - Anjurkan keluarga untuk tetap

bersama pasien

- Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi ketegangan

- Latih teknik relaksasi

(29)

III.

IV. IMPLEMENTASI

Tgl/Jam No.Dx Implementasi Evaluasi Proses Paraf/Nama

3 Oktober 2022

17.00 WITA 1 - Memonitor frekuensi dan kekuatan nadi, frekuensi nafas, TD.

TD : 110/80mmHg N : 90x/mnt RR : 18x/mnt T:

36.5oC,

18.00 WITA 2 - Menciptakan suasana teraupetik untuk menumbuhkan kepercayaan,

Meginformasikan secara faktual mengenai

diagnosis, pengobatan, dan prognosis

Pasien dapat memahamai rencana perawatan dan merasa lebih rileks akan kondisi yang dialami

19.00 WITA 1 - Monitor intake dan output cairan, membantu pasien BAK

Pasien minum cairan 600ml, terpasang IVFD RL 500 ml/6jam, tetesan lancer Urine : 250 ml, warna kuning pucat.

Pasien masih bedrest

20.00 WITA 1 - Menjelaskan

penyebab/faktor risiko syok, tanda gejala awal syok Menganjurkan melapor jika

menemukan/merasakan tanda dan gejala awal syok

Pasien dan keluarga paham akan penjelasan yang diberikan

22.00 WITA 2 - Memahami situasi yang membuat ansietas, Mendengarkan dengan penuh perhatian

Pasien mengatakan merasa lebih tenang, dan akan memulai tidur.

23.00 WITA 1 - Memonitor keadaan umum pasien

Pasien tidur, TD : 110/70 mmHg, N: 90 kali/menit, RR: 16x/menit, Suhu : 37x/mnt

4 Oktober 2022 08.00 WITA

1 - Memonitor intake dan output cairan,

Mengidentifikasi tanda- tanda hypovolemia,

Pasien ADL di tempat tidur, minum 100 ml, makan habis satu porsi, ganti pembalut satu kali penuh, warna darah merah muda. TD : 110/70 mmHg, N: 90 kali/menit, RR:

16x/menit, Suhu : 37x/mnt

10.00 WITA 1 - Menganjurkan

memperbanyak asupan cairan oral

Pasien paham dengan anjuran yang diberikan

(30)

12.00 WITA 2 - Mengidentifikasi

perubahan tingkat ansietas - Melatih Teknik relaksasi

nafas dalam

Pasien mengatakan sudah merasa lebih tenang karena mengerti akan kondisinya dan perawatan yang diberikan.

Pasien dapat menggunakan Teknik relaksasi nafas dalam

14.00 WITA 1 - Monitor berat badan, waktu pengisian kapiler, elastisitas turgor kulit

BB : 60 Kg, CRT< 2detik, kulit segar, turgor elastis, tidak ada edema, kulit lembab

16.00 WITA 1 - Memonitor intake dan output cairan,

Mengidentifikasi tanda- tanda hypovolemia,

Pasien sudah minum 600 ml, perdarahan 20 ml, warna merah muda, sudah ganti pembalut 2 kali/24 jam, TD : 120/70 mmHg, N: 82 kali/menit, Suhu : 36.5 Urine output 1500 ml/24jam. Warna kuning pucat.

17.00 WITA - Memonitor tanda-tanda ansietas

Pasien mengatakan sudah merasa tenang dan akan menjalani perawatan dengan ikhlas

V. EVALUASI Tgl/Jam No Dx

Evaluasi Hasil Selasa,

4 Oktober 2022

1 S : Pasien mengatakan setelah bedrest perdarahan berkurang, ganti pembalut 2 kali perhari.

O : Pasien masih bedrest, kesadaran : CM TD : 120/70 mmHg, N: 82 kali/menit, Suhu : 36.5, nadi kuat, akral hangat, konjungtiva merah muda, Makan dan minum adekuat. Urine output 1500 ml/24jam. Ganti pembalut 2 kali/ 24jam.

A : Resiko Syok teratasi

P : Pertahankan komdisi pasien. Lanjutkan Intervensi pemantauan cairan.

2 S : Pasien mengatakan sudah lebih tenang setelah mendapatkan penjelasan tentang kondisinya dan mendapatkan perawatan.

O : Pasien masih bedrest, kulit muka segar. tenang TD : 120/70 mmHg, N: 82 kali/menit, Suhu : 36.5, nadi kuat, akral hangat. Pasien paham tentang Teknik relaksasi nafas dalam

A : Ansietas teratasi

P : Pertahankan kondisi pasien Lanjutkan Intervensi Reduksi ansietas

(31)

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan : Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan ada pengaruh antara anemia dalam kehamilan terhadap kejadian perdarahan post partum persalinan normal. Jadi diharapkan bagi