UNTUK PERTAMA KALI: Menetapkan Rencana Induk Pelabuhan Perikanan Nasional yang memuat Kebijakan Nasional Pelabuhan Perikanan dan Rencana Lokasi Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Keputusan Menteri ini. KEDUA: Rencana Induk Pelabuhan Perikanan Negara sebagaimana tercantum dalam Proklamasi KESATU merupakan pedoman dalam menentukan letak, perencanaan, pembangunan, pengembangan dan pengoperasian pelabuhan perikanan. KEENAM: Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor. 6/KEPMEN-KP/2018 tentang Rencana Induk Negara Pelabuhan Perikanan dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Dalam rencana pembangunan jangka menengah nasional, pelabuhan perikanan merupakan salah satu isu penting dalam pemenuhan kapasitas infrastruktur kelautan dan perikanan. Berdasarkan Pasal 197 ayat (1) dan ayat (9), Peraturan Pemerintah Nomor 27 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Bidang Kelautan dan Perikanan mengamanatkan Kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menyusun Rencana Induk Pelabuhan Perikanan Nasional yang akan dilaksanakan. ditetapkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Daerah kerja dan pengusahaan Vissershaven yang selanjutnya disebut WKOPP adalah suatu tempat.
RIPPN merupakan pedoman yang memuat kriteria, serta tahapan dan strategi penempatan, perencanaan, pembangunan, pengembangan dan pengoperasian pelabuhan perikanan; Selain itu, kebijakan pelabuhan perikanan nasional juga menjadi landasan atau pedoman dalam menentukan site plan Pelabuhan Perikanan yang akan dibangun atau dikembangkan.
KEBIJAKAN PELABUHAN PERIKANAN NASIONAL A. Tujuan dan Arah Kebijakan Pelabuhan Perikanan Nasional
Jumlah Pelabuhan Perikanan yang relatif banyak;
Beberapa Pelabuhan Perikanan telah menerapkan prinsip pengelolaan
Pembangunan Pelabuhan Perikanan merupakan amanat peraturan perundang
Pelabuhan Perikanan memberikan dampak pengganda yang relatif besar
Sebaran lokasi Pelabuhan Perikanan yang belum merata;
Sumber daya manusia pengelola Pelabuhan Perikanan yang relatif terbatas;
Sistem informasi Pelabuhan Perikanan yang belum optimal; dan
Konektifitas belum berjalan dengan baik 5. Masih terdapat Pelabuhan Perikanan yang
Dukungan pemerintah dalam membangun Pelabuhan Perikanan yang
Dukungan pemerintah dalam mengintegrasikan Pelabuhan
Peluang pasar dunia untuk komoditas perikanan masih relatif besar;
Tingkat konsumsi ikan dalam negeri terus mengalami peningkatan; dan
Memfasilitasi perikanan berkelanjutan dan bertanggung jawab;
Menggerakkan pertumbuhan ekonomi perikanan;
Mengintegrasikan kegiatan perikanan nasional dan internasional; dan
Pengembangan industri pengolahan di Pelabuhan Perikanan
Memfasilitasi pelayanan dasar kepelabuhanan dan pengembangan
Mewujudkan tata kelola Pelabuhan Perikanan yang baik;
Pengembangan sistem informasi kepelabuhanan perikanan nasional; dan
Isu lingkungan dalam pengelolaan Pelabuhan Perikanan;
Pendapatan pelaku perikanan masih belum maksimal; dan
Konflik pemanfaatan ruang
Meningkatkan daya saing produk perikanan;
Mengembangkan Pelabuhan Perikanan berwawasan ekonomi biru (blue economy);
Mendukung peningkatan kesejahteraan pelaku usaha perikanan; dan
Mengintegrasikan perencanaan pembangunan
Membangun keterpaduan pembiayaan pembangunan; dan
Membangun konektivitas antar Pelabuhan Perikanan
Pengembangan Pelabuhan Perikanan dan Kebijakan Terkait
- Kebijakan Sistem Logistik Ikan Nasional
- Kebijakan Perencanaan Spasial
- Kebijakan Pengembangan Kawasan Ekonomi
Tujuan sistem logistik perikanan nasional adalah untuk meningkatkan kapasitas dan pemantapan sistem produksi dan pemasaran perikanan nasional, memperkuat dan memperluas konektivitas antar sentra produksi hulu, mengefisienkan produksi dan pemasaran hilir, serta meningkatkan efisiensi pengelolaan rantai pasok ikan. , material dan peralatan produksi, serta informasi dari hulu hingga hilir. Berdasarkan tujuan sistem logistik perikanan nasional, pelabuhan perikanan menjadi penghubung antara perusahaan perikanan dengan perusahaan pengolahan dan pemasaran ikan. Pembangunan pelabuhan perikanan harus sesuai dengan rencana tata ruang, dalam hal ini rencana tata ruang provinsi.
Bersamaan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang pada Pasal 245, RZWP-3-K akan diintegrasikan ke dalam rencana tata ruang provinsi. Kebijakan pembangunan kawasan ekonomi terkait pelabuhan perikanan untuk mendukung program pemerintah dituangkan dalam bentuk peraturan perundang-undangan.
Pendekatan Pengembangan Pelabuhan Perikanan
- kelayakan teknis, ekonomis dan lingkungan (letak geografis dan kondisi perairan, keunggulan kompetitif dan komparatif untuk sub
- keselarasan dengan rencana tata ruang;
- wilayah pengelolaan perikanan (lokasi dan potensi sumber daya ikan);
- keselarasan dengan rencana pengembangan infrastruktur kementerian/lembaga pendukung (dukungan prasarana wilayah);
- kebutuhan pengembangan fasilitas;
- kebutuhan operasional; dan 7. jumlah sumber daya manusia
- ketercukupan jumlah Pelabuhan Perikanan di suatu wilayah;
- sistem konektivitas dan hierarki Pelabuhan Perikanan di suatu wilayah; dan
- dampak pengganda (multiplier effect) Pelabuhan Perikanan bagi wilayah
Kriteria Tahapan Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan Tahapan pembangunan Pelabuhan Perikanan diarahkan untuk
- calon lokasi Pelabuhan Perikanan telah tercantum dalam RIPPN;
- ketersediaan lahan dan kejelasan status kepemilikannya;
- calon lokasi Pelabuhan Perikanan sesuai dengan perencanaan daerah dan/atau dokumen resmi lainnya;
- adanya dokumen terkait perencanaan pembangunan Pelabuhan Perikanan (studi kelayakan, persetujuan atau konfirmasi
- penyiapan minimal fasilitas Pelabuhan Perikanan yang meliputi
- adanya komitmen daerah dalam penyiapan sumber daya manusia dan kelembagaan pengelola;
- adanya komitmen daerah untuk pendanaan operasional dan pengembangan;
- adanya dukungan prasarana wilayah (prasarana jalan, listrik, air, dan telekomunikasi); dan
- adanya rencana induk pengembangan Pelabuhan Perikanan tingkat Daerah
- fasilitas pokok terdiri atas tanah, dermaga, kolam pelabuhan, dan jalan;
- fasilitas fungsional terdiri atas kantor administrasi pelabuhan, tempat pemasaran lkan, air bersih, dan listrik; dan
- fasilitas penunjang yaitu mandi cuci kakus
- Kriteria PPI
- mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia dan Zona
- memiliki fasilitas untuk kegiatan tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran 10 (sepuluh) gross tonnage;
- memiliki dan/atau memanfaatkan dermaga paling pendek 13 (tiga belas) meter dengan kedalaman kolam paling
- mampu menampung kapal perikanan sekurang- kurangnya 15 (lima belas) unit atau jumlah keseluruhan
- Kriteria PPP
- memiliki fasilitas untuk kegiatan tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran paling kecil 10 (sepuluh) gross
- memiliki dan/atau memanfaatkan dermaga paling pendek 100 (seratus) meter dengan kedalaman kolam paling
- mampu menampung kapal perikanan paling sedikit 30 (tiga puluh) unit atau jumlah keseluruhan paling sedikit
- memiliki dan/atau memanfaatkan tanah paling sedikit 5 (lima) hektare
- terdapat aktivitas bongkar muat ikan dan pemasaran hasil perikanan rata-rata 5 (lima) ton per hari; dan
- terdapat industri pengolahan ikan dan/atau industri penunjang lainnya
- Kriteria PPN
- mampu melayani kapal perikanan yang melakukan kegiatan perikanan di perairan Indonesia, Zona Ekonomi
- memiliki fasilitas untuk kegiatan tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran paling kecil 30 (tiga puluh)
- memiliki dan/atau memanfaatkan dermaga paling pendek 150 (seratus lima puluh) meter dengan kedalaman kolam
- mampu menampung kapal perikanan paling sedikit 75 (tujuh puluh lima) unit atau jumlah keseluruhan paling
Sedangkan tahapan pengembangan pelabuhan perikanan terdiri dari 2 (dua) kriteria, yaitu kriteria teknis dan kriteria operasional pelabuhan perikanan. Kriteria-kriteria tersebut menjadi acuan arah pembangunan untuk mencapai setiap tahapannya. Kriteria operasionalnya rata-rata terdapat 0,5 (nol koma lima) ton per
- memiliki dan/atau memanfaatkan tanah paling sedikit 10 (sepuluh) hektare
- terdapat aktivitas bongkar muat ikan dan pemasaran hasil perikanan rata-rata 15 (lima belas) ton per hari; dan
- Kriteria PPS
- memiliki fasilitas untuk kegiatan tambat labuh untuk kapal perikanan berukuran paling kecil 60 (enam puluh)
- memiliki dan/atau memanfaatkan dermaga paling pendek 300 (tiga ratus) meter dengan kedalaman kolam paling
- mampu menampung kapal perikanan paling sedikit 100 (seratus) unit atau jumlah keseluruhan paling sedikit
- memiliki dan/atau memanfaatkan tanah paling sedikit 20 (dua puluh) hektare
- ikan yang didaratkan sebagian untuk tujuan ekspor;
- terdapat aktivitas bongkar muat ikan dan pemasaran hasil perikanan rata-rata 50 (lima puluh) ton per hari; dan
- Pelabuhan Perikanan
- sumber daya manusia pengelola yang kebutuhannya disesuaikan dengan beban kerja pengelolaan tugas dan
- nelayan yang beraktifitas di Pelabuhan Perikanan
- nelayan yang beraktifitas di Pelabuhan Perikanan; dan 3) telah menggunakan sistem informasi terpadu dalam
- nelayan yang beraktifitas di Pelabuhan Perikanan; dan
- telah menggunakan sistem informasi terpadu dalam pelayanan kepelabuhanan
- Tahapan Pembangunan, Pengembangan, dan Operasional Pelabuhan Perikanan
- penumbuhan lokasi Pelabuhan Perikanan; dan 2. penumbuhan wilayah Pelabuhan Perikanan
- Tahap I bertujuan untuk menyiapkan rencana pembangunan Pelabuhan Perikanan;
- Tahap II bertujuan untuk menyediakan fasilitas dasar Pelabuhan Perikanan;
- Tahap III bertujuan untuk menyelenggarakan pelayanan dasar kepelabuhanan perikanan dengan target mencapai kelas Pangkalan
- Tahap IV bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pelayanan kepelabuhanan dengan target mencapai kelas Pelabuhan Perikanan
- Tahap V bertujuan untuk menumbuhkan industri perikanan dan industri yang menunjang kegiatan perikanan dengan target
- Tahap VI bertujuan untuk mengembangkan Pelabuhan Perikanan yang berdaya saing global dengan target mencapai kelas Pelabuhan
- Tahapan Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan yang Dibangun oleh Pemerintah
- kesesuaian calon lokasi pelabuhan perikanan sebagaimana tercantum dalam RIPPN;
- penyiapan calon lokasi yang dibuktikan dengan dokumen penguasaan dan/atau kepemilikan tanah;
- kesesuaian dengan kebijakan rencana pembangunan Pemerintah Pusat dan/atau Pemerintah Daerah;
- penyiapan dokumen terkait perencanaan pembangunan pelabuhan perikanan (studi kelayakan, penetapan lokasi
- penyiapan dokumen lingkungan hidup;
- penyusunan peta rencana WKOPP; dan
- strategi penyiapan pendanaan rencana pembangunan, sumberdaya manusia dan kelembagaan oleh
- pembangunan fasilitas dasar (minimum operasional) Pelabuhan Perikanan;
- pembentukan lembaga pengelola Pelabuhan Perikanan;
- pelaksanaan operasional kapal perikanan
- strategi pada Tahap II sudah dilaksanakan;
- peningkatan fasilitas dasar (minimum operasional) Pelabuhan Perikanan;
- pembangunan fasilitas pemasaran lokal;
- pelayanan kesyahbandaran;
- operasional kapal perikanan;
- pelaksanaan pendataan;
- pelaksanaan penyuluhan nelayan;
- pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia sesuai dengan standar pelayanan kepelabuhanan;
- penyelesaian P3D (Personil, Prasarana, Pendanaan, dan Dokumen);
- penetapan kelas pelabuhan;
- pengelolaan aset dan penyelesaian status aset yang bermasalah;
- penetapan WKOPP; dan
- penyiapan dokumen perencanaan pengembangan dan penyiapan dokumen lingkungan hidup
- strategi pada Tahap III sudah dilaksanakan;
- pembangunan dan pengembangan fasilitas Pelabuhan Perikanan untuk meningkatkan skala ekonomi
- pengembangan fasilitas dan pembinaan usaha kecil dan menengah;
- pengembangan fasilitas pemasaran domestik antar kabupaten dan pusat jajan ikan;
- penyiapan manajemen mutu pelayanan kepelabuhanan;
- pembinaan cara penanganan ikan yang baik di Pelabuhan Perikanan;
- penyiapan pengelolaan bebasis manajemen mutu lingkungan;
- pengembangan fasilitas untuk mendukung konektivitas antar Pelabuhan Perikanan sub-hub (feeder penunjang)
- pendataan dan pelaporan sudah memanfaatkan sistem informasi kepelabuhanan perikanan;
- ketertelusuran hasil tangkapan ikan (penerapan sertifikat hasil tangkapan ikan dan log book penangkapan ikan);
- fasilitasi fungsi pengawasan dan pengendalian sumber daya ikan/IUU Fishing; dan
- penyusunan dokumen rencana pengembangan Pelabuhan Perikanan dan penyiapan dokumen lingkungan hidup
- strategi pada Tahap IV sudah dilaksanakan;
- pengembangan fasilitas dan pembinaan usaha menengah dan besar;
- pengembangan fasilitas pemasaran domestik antar provinsi dan pusat jajan ikan;
- penerapan manajemen mutu pelayanan pelabuhan;
- pelaksanaan pembinaan mutu hasil perikanan untuk penerbitan sertifikat cara penanganan ikan yang baik;
- penerapan ISO 14001 tentang pengelolaan lingkungan;
- pengembangan fasilitas untuk mendukung konektivitas antar Pelabuhan Perikanan sub-hub (feeder utama) dalam
- pengembangan fasilitas wisata bahari berbasis kepelabuhanan;
- persiapan layanan online dalam pelayanan pelabuhan;
- penyusunan dokumen rencana pengembangan Pelabuhan Perikanan yang mengadopsi teknologi terkini dan
- strategi pada Tahap V sudah dilaksanakan;
- pembangunan dan pengembangan fasilitas berstandar internasional dan ekspor;
- pengembangan fasilitas dan pembinaan usaha industri;
- pengembangan fasilitas pemasaran internasional;
- pengembangan pembinaan pelayanan pelabuhan berstandar internasional;
- pengembangan fasilitas industri kepelabuhanan terintegrasi;
- pengembangan fasilitas untuk mendukung konektifitas antar Pelabuhan Perikanan hub dengan pasar bertaraf
- fasilitasi kegiatan operasional Pelabuhan Perikanan yang berskala internasional;
- fasilitasi akses terhadap penyelesaian administrasi ekspor; dan
- Tahapan Pembangunan dan Pengembangan Pelabuhan Perikanan yang Tidak Dibangun oleh Pemerintah
Tujuan pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan adalah mewujudkan pelabuhan perikanan yang unggul sebagai penggerak perekonomian daerah, berdaya saing global, terpadu dan ramah lingkungan, serta memberikan kesejahteraan bagi yang terlibat. Pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan dapat dilaksanakan secara berturut-turut berdasarkan proyeksi pembangunan dan pengembangan pelabuhan perikanan, dengan memperhatikan sumber anggaran, kebijakan, dan kemampuan penyelenggara pelabuhan perikanan. Pembangunan pelabuhan perikanan dan kegiatan operasionalnya yang bukan dibangun oleh negara dilakukan oleh badan ekonomi bukan perseorangan (badan hukum).
Terdapat 3 (tiga) tahap dalam pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Perikanan yang tidak dibangun
- kesesuaian calon lokasi Pelabuhan Perikanan sebagaimana tercantum dalam RIPPN;
- kesesuaian dengan kebijakan rencana pembangunan Pemerintah Pusat;
- penyusunan peta rencana WKOPP;
- penyiapan perizinan (izin lingkungan, persetujuan kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut, dan lain-
- penyiapan usulan permohonan lokasi pembangunan Pelabuhan Perikanan;
- penetapan lokasi pembangunan Pelabuhan Perikanan oleh Menteri; dan
- strategi penyiapan pendanaan rencana pembangunan, sumberdaya manusia dan kelembagaan oleh
- strategi pada Tahap I sudah dilaksanakan;
- penyiapan izin mendirikan bangunan dan persyaratan pembangunan lainnya;
- pelaksanaan pembangunan Pelabuhan Perikanan;
- menyediakan fasilitas untuk pelaksanaan fungsi-fungsi pemerintahan dalam operasional Pelabuhan Perikanan;
- penyiapan sumber daya manusia, organisasi, dan kelembagaannya;
- penyiapan usulan pengoperasian, penetapan kelas, dan WKOPP;
- penetapan oleh pemerintah sebagai Pelabuhan Perikanan yang tidak dibangun oleh pemerintah dan WKOPP;
- melakukan kegiatan operasional Pelabuhan Perikanan (melaksanakan fungsi pemerintahan dan fungsi
- pendataan dan pelaporan sudah memanfaatkan sistem informasi kepelabuhanan perikanan; dan
- penyiapan dokumen perencanaan pengembangan dan penyiapan dokumen lingkungan hidup
- peningkatan operasional Pelabuhan Perikanan di luar dokumen perencanaan pembangunan pada Tahap I;
- penyiapan dokumen perencanaan pengembangan dan penyiapan dokumen lingkungan hidup; dan
- menyiapkan perizinan dan prosedur lainnya sesuai Tahap I dan Tahap II
- Strategi Penumbuhan Wilayah Pelabuhan Perikanan
- pembangunan dan pengembangan Pelabuhan Perikanan di wilayah yang mempunyai potensi sumberdaya ikan, pemasaran ikan yang relatif besar
- pengembangan sistem informasi kepelabuhanan perikanan nasional;
- sinkronisasi dan koordinasi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah dalam perencanaan pembangunan dan pengembangan
- penyusunan rencana induk Pelabuhan Perikanan daerah sebagai implementasi dari RIPPN;
- sinkronisasi dan koordinasi antar pemerintah dalam pembiayaan pembangunan Pelabuhan Perikanan dan penyelesaian konflik
- sinkronisasi dan koordinasi antara Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah dalam pembiayaan pembangunan Pelabuhan
- sinkronisasi dan koordinasi antara Pemerintah Pusat dengan swasta dalam pembiayaan pembangunan fasilitas komersial
Penumbuhan kawasan Pelabuhan Perikanan dimaksudkan untuk mengurangi kesenjangan spasial yang ada, terutama berdasarkan persebaran berdasarkan WPPNRI dan potensi sumber daya ikan yang dimilikinya, serta membangun sinergi antar Pelabuhan Perikanan dalam suatu wilayah sehingga secara umum berdampak pada kesejahteraan masyarakat. operasi yang efektif dan efisien yang mempunyai dampak ekonomi lokal yang signifikan. Sumber data : Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 50/KEPMEN-KP/2017 tentang Perkiraan Potensi, Jumlah Hasil Tangkapan Yang Diperbolehkan Dan Tingkat Pemanfaatan Sumber Daya Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia Dan Keputusan Menteri Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 6/KEPMEN-KP/2018 tentang Rencana Induk Pelabuhan Perikanan Nasional. Pembangunan pelabuhan perikanan baru terutama di WPPNRI 717 (perairan Teluk Cendrawasih dan Samudera Pasifik) dan WPPNRI 718 (perairan Laut Aru, Laut Arafuru dan Laut Timor Timur).
Pada wilayah pengelolaan perikanan yang jumlah pelabuhan perikanannya relatif jenuh, pembangunan pelabuhan perikanan ditujukan untuk meningkatkan mutu pelayanan dan tingkat operasional serta meningkatkan kelas pelabuhan.
RENCANA LOKASI PELABUHAN PERIKANAN
Rencana Lokasi Pelabuhan Perikanan Nasional
- perekonomian dikembangkan dengan mekanisme pasar yang berlandaskan persaingan sehat dan memperhatikan nilai-nilai
- peranan pemerintah yang efektif dan optimal sebagai fasilitator sekaligus katalisator pembangunan;
- daya saing global perekonomian perlu terus dikembangkan;
- kebijaksanaan industri dikelola dengan pengembangan jaringan rumpun industri (industrial cluster) yang sehat dan kompetitif,
- kebijakan industri perlu diintegrasikan dengan kebijakan perdagangan dan investasi; dan
- proses industrialisasi perlu mendorong peningkatan nilai tambah kegiatan sektor primer terutama pertanian dalam arti luas, dan
- memperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan. Hal ini dilakukan dengan pengelolaan
- meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing; dan
- memperkuat infrastruktur untuk mendukung pengembangan ekonomi dan pelayanan dasar
- Peningkatan pengelolaan kemaritiman, perikanan, dan kelautan yang meliputi strategi
- peningkatan kualitas manusia indonesia, melalui peningkatan daya saing sumber daya manusia kelautan dan perikanan dan
- struktur ekonomi yang produktif, mandiri, dan berdaya saing, melalui peningkatan kontribusi ekonomi sektor kelautan dan
- mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan, melalui peningkatan kelestarian sumber daya kelautan dan perikanan; dan
Ketimpangan juga terlihat jika pelabuhan perikanan dilihat dari sebaran wilayah pengelolaan perikanan seperti terlihat pada Tabel 3. Beberapa WPPNRI yang memiliki jumlah pelabuhan perikanan relatif banyak terutama jika dikaitkan dengan potensi sumber daya perikanannya adalah WPPNRI 511, WPPNRI 573, WPPNRI 711 dan WPPNRI 712. Hal ini berimplikasi pada belum optimalnya sinergi antar pelabuhan perikanan dalam mendukung distribusi dan logistik ikan yang efektif dan efisien.
Kelima, masih adanya disparitas operasional dimana masih terdapat pelabuhan perikanan yang tidak beroperasi, beroperasi di bawah kapasitas dan beroperasi melebihi kapasitas. Pelabuhan perikanan yang tingkat operasionalnya melebihi kapasitas akan mengakibatkan waktu pelayanan yang relatif lebih lama, misalnya antrian kapal pada saat bongkar muat hasil tangkapan. Begitu pula sebaliknya, pelabuhan perikanan yang tidak beroperasi akan menimbulkan beban anggaran dan operasional pelabuhan.
Potensi sumber daya ikan di perairan Indonesia mencapai dua belas juta lima ratus empat puluh satu ribu empat ratus tiga puluh delapan ton dan baru dimanfaatkan sebesar enam juta enam ratus sembilan puluh enam ribu ton atau 53% (lima puluh tiga persen). Artinya peluang pemanfaatan sumber daya ikan tersebut masih ada sebesar lima juta delapan ratus empat puluh lima ribu empat ratus tiga puluh delapan) ton atau 47% (empat puluh tujuh persen). Ketiga, perubahan pada tataran peraturan perundang-undangan berimplikasi pada kejelasan kepemilikan dan pengelolaan pelabuhan perikanan di daerah.
Rata-rata pendapatan nelayan pada tahun 2017 sebesar 2,7 (dua koma tujuh) juta/bulan (laporan tahunan Kementerian tahun 2017), sehingga perlu ditingkatkan. Hal ini dilakukan melalui pengelolaan sumber daya ekonomi yang meliputi pemenuhan gizi dan pertanian, serta pengelolaan kelautan, kelautan dan perikanan, sumber daya air, sumber daya energi dan kehutanan, serta mendorong peningkatan nilai tambah pertanian dan perikanan. maritim, energi, industri, pariwisata. , serta ekonomi kreatif dan digital;. Hal ini dicapai melalui pengembangan sektor/barang/kegiatan dengan mengembangkan sektor/barang/kegiatan hulu daerah, menyebarkan pusat pertumbuhan ke daerah-daerah tertinggal, memperkuat kapasitas sumber daya manusia dan iptek berdasarkan keunggulan daerah, meningkatkan infrastruktur dan pelayanan secara berkelanjutan, dan meningkatkan daya dukung dan ketahanan lingkungan terhadap bencana dan perubahan iklim;
Peningkatan nilai tambah di bidang perikanan dilakukan melalui peningkatan mutu, kapasitas dan produktivitas industri pengolahan, perakitan industri rumput laut dan sumber daya alam kelautan yang mempunyai nilai tambah, penguatan daya saing unit pengolahan perikanan, penerapan standarisasi mutu, sertifikasi dan produk. ketertelusuran. . Visi kementerian tahun 2020-2024 adalah “Mewujudkan masyarakat kelautan dan perikanan yang sejahtera serta sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan” untuk mewujudkan “Indonesia maju yang berdaulat, mandiri dan berkepribadian berdasarkan gotong royong”. Berdasarkan identifikasi dan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman serta mempertimbangkan rencana pembangunan jangka panjang nasional, rencana pembangunan jangka menengah nasional dan usulan pemerintah daerah, disusun rencana penempatan lok. Pelabuhan perikanan disiapkan sebagaimana ditunjukkan pada Tabel 4.
Jangka Waktu RIPPN
Rencana Titik Lokasi Pelabuhan Perikanan Nasional
- sebanyak 570 (lima ratus tujuh puluh) lokasi Pelabuhan Perikanan yang dibangun oleh pemerintah dan melayani kapal perikanan yang
- sebanyak 7 (tujuh) lokasi Pelabuhan Perikanan yang dibangun oleh pemerintah dan yang melayani kapal perikanan yang melakukan
- sebanyak 15 (lima belas) lokasi Pelabuhan Perikanan yang tidak dibangun oleh pemerintah dengan rincian sebagaimana Tabel 6
- PPS sebanyak 7 (tujuh) lokasi;
- PPN sebanyak 18 (delapan belas) lokasi;
- PPP sebanyak 42 (empat puluh dua) lokasi;
- PPI sebanyak 47 (empat puluh tujuh) lokasi;
- PP sebanyak 280 (dua ratus delapan puluh) lokasi; dan 8. CP sebanyak 198 (seratus sembilan puluh delapan) lokasi
Pembiayaan Perencanaan, Pembangunan, Pengembangan, dan Pengoperasian Pelabuhan Perikanan
PENUTUP
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
SAKTI WAHYU TRENGGONO