• Tidak ada hasil yang ditemukan

2022 Materi stress dan koping stress

N/A
N/A
kharis oneti rode

Academic year: 2025

Membagikan "2022 Materi stress dan koping stress"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN STRESS DAN STRATEGI COPING

Oleh:

Kelompok 6 Kelas B

Aliyah Zahrah 2110322045

Annisa Melati Putri Wijaya 2110322021 Dheana Thalya Azzahra 2110322014 Muhammad Firdaus 2110322006

PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS ANDALAS 2022

(2)

ii KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas limpahan rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Stress dan Strategi Coping”. Kami juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Ibu Dra.

Kuswardhani, S. P, M.Si., Psikolog, Ibu Diny Amenike, M.Psi, Psikolog Amatul Firdausa Nasa, M.Psi., Psikolog selaku dosen pengampu mata kuliah Psikologi Kesehatan Universitas Andalas yang sudah memberikan kepercayaan kepada kami untuk menyelesaikan tugas ini.

Kami tentunya sangat berharap makalah ini dapat bermanfaat dalam rangka menambah pengetahuan juga wawasan pembaca mengenai komunikasi pada organisasi kerja.

Kami pun menyadari bahwa di dalam makalah ini masih terdapat banyak kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kami mengharapkan adanya kritik dan saran membangun demi perbaikan makalah untuk kedepannya agar menjadi lebih baik.

Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami dan bermanfaat untuk semua orang terutama bagi para pembaca.

Padang, 25 Oktober 2022

Penulis

(3)

iii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI...iii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 1

1.3 Tujuan... 1

BAB II PEMBAHASAN ... 3

2.1 What Is Stress? ... 3

2.1.1 What is a stressor? ... 3

2.1.2 Appraisal of stressor ... 3

2.2 Origins of The Study of Stress ... 4

2.2.1 Fight or flight... 4

2.2.2 Selye’s general adaptation syndrome ... 5

2.2.3 Tend-and-befriend ... 6

2.2.4 How does stress contribute to illness ... 6

2.3 The Physiology of Stress ... 7

2.3.1 Effects of long-term stress ... 8

2.3.2 Individual differences in stress reactivity ... 8

2.3.3 Physiological recovery ... 8

2.3.4 Allostatic load ... 9

2.4 What Makes Events Stressful? ... 9

2.4.1 Dimensions of stressful events ... 9

2.4.2 Must stress be perceived as such to be stressful? ... 10

2.4.3 Can people adapt to stress?... 10

2.4.4 Must a stressor be ongoing to be stressful? ... 10

2.4.5 Anticipating stress ... 11

2.4.6 Aftereffects of stress ... 11

2.5 How Has stress Been Studied? ... 11

2.5.1 Studying stress in the laboratory ... 11

2.5.2 Inducing disease ... 11

2.5.3 Stressful life events ... 12

(4)

iv

2.5.4 Daily stress ... 12

2.6 Sources of Chronic Stress ... 12

2.6.1 Effects of early stressful life experiences ... 12

2.6.2 Chronic stressful conditions ... 13

2.6.3 Stress in Workplace ... 13

2.6.4 Some Solution to Workplaces Stressors... 15

2.8 Coping and External Resources ... 20

2.9 Coping Outcomes ... 20

2.10 Coping Interventions ... 20

2.10.1 Mindfulness Meditation and Acceptance/Commitment Theory ... 21

2.10.2 Expressive writing ... 21

2.10.3 Self affirmation ... 21

2.10.4 Coping effectiveness training ... 21

2.11 Social Support ... 22

2.11.1 What is social support ... 22

2.11.2 Effects of social support on illness ... 22

2.11.3 Biophsychosocial pathways ... 22

2.11.4 Moderation of stress by social support... 23

2.11.5 What kinds of support are most effective? ... 23

2.11.6 Enhancing social support ... 23

BAB III PENUTUP ... 24

3.1 Kesimpulan... 24

DAFTAR PUSTAKA ... 25

(5)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Stres merupakan perubahan keadaan dalam tubuh individu ketika dihadapkan kepada ancaman, tekanan atau situasi yang baru. Ketika seorang individu mengalami stres maka tubunya akan melepaskan hormon adrenalin dan kortisol sehingga dapat memicu beberapa reaksi tubuh seperti, tekanan darah meningkat dan akan menyebabkan beberapa penyakit pada tubuh.

Pada makalah ini, ada beberapa pembahasan tentang stres yang akan dijelaskan pada masing-masing subbabnya, mulai dari definisi stres menurut beberapa ahli, hingga bagaimana melakukan pencegahan stres ini. Selain itu, juga dijelaskan apa itu fisiologi stres, peristiwa penyebabnya, serta bagaimana kita mempelajari stres ini.

1.2 Rumusan Masalah 1) Apa definisi dari stres?

2) Bagaimana asal mula studi terkait stres?

3) Apa itu fisiologi stres?

4) Apa saja peristiwa penyebab stres?

5) Bagaimana kita mempelajari stres?

6) Apa saja sumber stres kronis?

7) Bagaimana coping stress dan ketahanan individu terhadap stres?

8) Bagaimana coping stress terhadap stimulus eksternal?

9) Bagaimana coping outcomes itu?

10) Bagaimana intervensi coping itu?

11) Support sosial seperti apa yang dapat membantu individu?

1.3 Tujuan

1) Memahami definisi stres

2) Mengetahui asal mula studi terkait stres 3) Mengetahui fisiologi stres

4) Mengetahui peristiwa apa saja yang bisa menyebabkan stres 5) Memahami cara mempelajari stres

6) Mengetahui apa saja sumber stres kronis

7) Memahami bagaimana coping stres dan ketahanan individu terhadap stres

(6)

2 8) Memahami coping stres terhadap sumber daya eksternal

9) Mengetahui ciri coping yang efektif dan berhasil 10) Mengetahui bagaimana intervensi coping

11) Mengetahui dukungan sosial seperti apa yang efektif

(7)

3 BAB II

PEMBAHASAN 2.1 What Is Stress?

Stress merupakan pengalaman emosional bersifat negatif, yang berkaitan dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif, serta perilaku yang dapat diprediksi dan diarahkan untuk mengubah peristiwa stress maupun meminimalisir efek dari stress (Taylor, 2018). Menurut lavallo (dalam Sarafino, 2011) menjelaskan bahwa stress terbagi atas dua komponen yaitu physical, keadaan yang secara langsung berkaitan dengan tubuh dan psychological, ketika individu memperhatikan keadaan yang ada disekitarnya.

2.1.1 What is a stressor?

Sarafino (2011) menjelaskan bahwa stressor adalah peristiwa atau kejadian menantang yang dialami oleh seseorang baik secara fisik ataupun psikologis yang dapat menyebabkan stress. Pada awalnya peneliti berfokus pada peristiwa yang dapat menyebabkan stress atau yang disebut sebagai stressor. (American Psychological Association dalam Taylor, 2018). Namun, pada penelitian ini ditemukan bahwa suatu pengalaman akan membuat seseorang stress, tetapi belum tentu orang lain akan merasakan stress pula. Karena pada setiap individu memiliki stressor yang berbeda tergantung pada penyebab dan pengalaman dari individu tersebut.

2.1.2 Appraisal of stressor

Menurut Taylor (2018) stress merupakan akibat dari proses penilaian yang dilakukan oleh seseorang. Penilaian stressor terbagi atas :

1. Primary appraisal (penilaian primer)

Penilaian primer adalah penilaian yang dilakukan seseorang ketika berusaha memahami penyebab dan arti suatu peristiwa. Peristiwa ini dapat dikategorikan dalam harm (kerugian), threat (ancaman) atau challenge (tantangan). Harm adalah penilaian pada kerusakan yang telah dialami , contohnya dipecat dari pekerjaan. Threat adalah penilaian untuk kemungkinan kerusakan yang akan terjadi, misalnya orang akan memperkirakan masalah yang akan datang karena hilangnya pendapatan. Challenge adalah usaha yang dilakukan seseorang untuk mengatasi peristiwa ataupun memandang peristiwa tersebut sebagai suatu keuntungan. Penilaian tantangan pada seseorang lebih tertuju pada kepercayaan

(8)

4 diri dalam menghadapi stressor, dapat mengontrol reaksi emosional terhadap stressor, serta juga memiliki manfaat dalam menurunkan tekanan darah (Blascovich dalam Taylor, 2018).

2.Secondary appraisal (penilaian sekunder)

Penilaian sekunder adalah penilaian yang dilakukan untuk mengukur kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memenuhi tuntutan lingkungannya. Apabila seseorang merasa kemampuannya lebih dari cukup, maka ia akan mudah untuk mengatasi situasi yang sulit, sedikit mengalami stress dan bahkan melihat stressor sebagai tantangan. Jika seseorang merasa kemampuannnya cukup, maka ia akan menghadapi peristiwa tersebut dengan usaha yang besar dan mengalami stress yang sedang. Namun, ketika seseorang merasa bahwa kemampuan yang dimilikinya tidak dapat mengatasi stressor, maka orang tersebut akan mengalami stress berat. Dengan demikian stress juga ditentukan oleh kesesuaian antara individu dengan lingkungannya.

2.2 Origins of The Study of Stress 2.2.1 Fight or flight

Kontribusi pertama dalam penelitian stress dilakukan oleh Walter Cannon (1932) mengenai fight or flight response. Cannon menjelaskan bahwa ketika individu mengalami ancaman, maka tubuh secara cepat akan merangsang dan memotivasi melalui sistem saraf simpatik dan sistem endokrin. Lalu respon fisiologis ini akan mengarahkan individu untuk melakukan perlawanan atau melarikan diri dari ancaman tersebut.

Fight or flight secara harfiah memiliki makna melawan atau menghindar sebagai bentuk respon stressor saat menerima serangan. Fight lebih mengacu pada respon agresif pada stress, sedangkan flight mencerminkan penarikan sosial yang dilakukan individu dengan penggunaan zat berbahaya ataupun melakukan aktivitas mengganggu. Pada saat tertentu fight or flight response dapat bersifat adaptif karena memungkinkan individu untuk dapat merespon ancaman dengan cepat. Namun, hal ini juga dapat membahayakan karena stress dapat mengganggu fungsi emosional dan fisiologis, apabila stress berkelanjutan akan menjadi penyebab terjadinya masalah kesehatan pada seseorang.

(9)

5 2.2.2 Selye’s general adaptation syndrome

Penelitian yang dilakukan Hans Selye menjelaskan mengenai sindrom adaptasi umum. Melalui percobaan nya pada tikus dengan memberikan berbagai jenis stressor seperti kedinginan dan kelelahan yang ekstrim, disimpulkan bahwa stressor-stressor tersebut memberikan pola perubahan fisiologis yang sama.

Stressor tersebut menyebabkan pembesaran korteks adrenal, penyusutan timus dan kalenjer getah bening dan ulserasi lambung dan duodenum. Melalui hasil pengamatan ini Selye dapat mengembangkan teori sindrom adaptasi. Ia menjelaskan bahwa seseorang akan memobilisasi diri untuk bertindak ketika menghadapi stressor. Menurut Selye, respon tidak bersifat spesifik pada stressor atau penyebab ancaman, namun respon akan lebih spesifik pada reaksi fisiologis yang sama. Pada saat ini pernyataan tersebut ditentang karena paparan stress yang berkepanjangan dapat menyebabkan keausan pada sistem.

Sindrom adaptasi umum terbagi atas tiga fase yaitu :

1. Alarm (waspada), seseorang akan dimobilisasi untuk menghadapi ancaman.

2. Resistance (perlawanan), seseorang akan berusaha untuk menghadapi ancaman.

3. Exhaustion (kelelahan), ketika seseorang gagal mengatasi ancaman dan menghabiskan sumber daya fisiologisnya.

Beberapa kritik yang disampaikan pada sindrom adaptasi umum model Selye, yaitu :

1. Teori Selye kurang memberikan peran pada faktor psikologis, karena peneliti lain mempercayai bahwa penilaian psikologis dari suatu peristiwa berperan penting pada penyebab stress (Lazarus & Folkman, 1984).

2. Teori Selye berlawanan dengan fakta bahwa tidak semua stressor dapat menyebabkan respon biologis yang sama (Kemeny, 2003). Saat seseorang menanggapi stress, maka dipengaruhi oleh karakter, emosi dan konstitusi biologisnya nya (Moons, Einsberger, & Taylor,2010).

3. Selye menjelaskan bahwa kelelahan sumber daya fisiologis atau aktivasi kronis sangat terlibat dalam stress. Sedangkan penelitian lain menunjukkan bahwa aktivasi lanjutan (fase kedua) dapat menyebabkan kerusakan pada sistem fisiologis, daripada kelelahan.

Pada akhirnya Selye menilai stress sebagai titik akhir dari sindrom adaptasi umum. Karena faktanya, orang merasakan efek stresss yang melemahkan pada saat suatu peristiwa berakhir atau bahkan pada saat mengantisipasi terjadinya

(10)

6 stress. Walaupun reservasi ini memiliki banyak keterbasan, model Selya tetap menjadi landasan yang digunakan pada lapangan.(Taylor, 2002).

2.2.3 Tend-and-befriend

Teori Tend-and-befriend mengenai teori respons terhadap stress yang dikembangkan oleh (Taylor, Klein, et al.,2000). Teori ini menjelaskan bahwa dalam merespon stress baik manusia maupun hewan tidak hanya dengan melakukan perlawanan atau melarikan diri, tetapi juga melakukan afiliasi sosial dan perilaku pengasuhan kepada keturunan.

Tend-and-befriend memiliki mekanisme biologis khusus yang mendasari yaitu hormone oksitosin. Oksitosin merupakan hormon stress yang dilepaskan dengan cepat sebagai respon dari peristiwa stress dan efeknya dipengaruhi oleh estrogen.

Oksitosin berfungsi untuk memberikan dorongan afiliasi baik pada hewan maupun manusia dan juga meningkatkan semua jenis perilaku afiliasi terutama pada ibu (Taylor, 2002). Dan juga pada hewan dan manusia yang memiliki tingkat oksitosin tinggi maka akan lebih tenang dan rileks, serta dapat berpartisipasi pada perilaku sosial dan dalam pengasuhan.

Terdapat juga penelitian lain yang mendukung beberapa komponen pokok teori ini. Yang menyebutkan bahwa wanita memang lebih mudah merespons stress dan mengungkapkan pada orang lain daripada pria

2.2.4 How does stress contribute to illness

Beberapa kontribusi studi awal mengenai stress, dapat menjelaskan stress sebagai penyebab dari kesehatan yang buruk (Taylor, 2018) :

1. Stress memberikan efek pada fisiologis

Stress dapat mempengaruhi fungsi biologis, efek fisiologis dari stress dapat berupa tekanan darah yang tinggi, penurunan sistem kekebalan tubuh, dan perubahan kadar lipid kolesterol.

2. Perilaku kesehatan buruk

Hal ini dibuktikan dengan orang yang mengalami stress kronis maupun stress akut memiliki kebiasaan kesehatan yang lebih buruk daripada orang yang tidak stress. Kebiasaan kesehatan buruk ini dapat berupa merokok, kurang tidur, penggunaan zat-zat terlarang dan lainnya. Kebiasaan buruk ini apabila

(11)

7 dilakukan secara terus menerus dapat menyebabkan timbulnya penyakit tertentu.

3. Stress mempengaruhi sumber daya psikososial

Stress dapat menyebabkan seseorang menghindari kontak sosial bahkan sengaja berperilaku buruk agar orang lain menjauh, padahal kontak sosial diperlukan untuk membantu meningkatkan kesehatan yang baik. Selain itu, optimisme, harga diri dan kontrol pribadi juga mempengaruhi kesehatan yang baik, namun stress melemahkan keyakinan seseorang mengenai hal ini.

4. Stress berdampak buruk pada kurangnya menggunakan layanan kesehatan dan kepatuhan pengobatan. Ketika mengalami stress, orang cenderung menghindari perawatan untuk gangguan yang harus diobati dan bahkan terdapat orang yang tidak akan mencari perawatan sama sekali.

2.3 The Physiology of Stress

Stress dapat mempengaruhi tekanan psikologis dan dapat menyebabkan perubahan pada kesehatan tubuh, baik itu berakibat dalam jangka panjang maupun dalam jangka pendek. Terdapat 2 sistem yang saling terlibat dan berkaitan dalam respon stress yaitu the sympathetic-adrenomedullary (SAM) system and the hypothalamic- pituitary- adrenocortical (HPA) axis.

1. Aktivitas simpatik

Korteks serebral pada otak berfungsi untuk mengidentifikasi peristiwa yang dianggap berbahaya atau mengancam. Informasi dari korteks diteruskan ke hipotalamus, yang menyebabkan rangsangan sistem saraf simpatik. Lalu saraf simpatik merangsang medula kelenjar adrenal, sehingga melepaskan katekolamin epinefrin (EP) dan norepinefrin (NE). EFek-efek ini menyebabkan perasaan kacau sebagai bentuk respon terhadap stress, yaitu berupa peningkatan tekanan darah, denyut jantung meningkat, penyempitan pembuluh darah, peningkatan keringat dan lainnya.

2. Aktivitas HPA

Hipotalamus-hipofisis Adrenal (HPA) juga diaktifkan sebagai respons pada stress. Hipotalamus melepaskan Corticotrophin Releasing Hormone (CRH), yang merangsang kalenjer pituatri untuk mengeluarkan hormom adrenokortikotropik (ACTH), yang melakukan stimulasi pada korteks adrenal untuk melepaskan glukortikoid. Dari jumlah tersebut, kortikol sangat signifikan bertindak untuk menghemat simpanan karbohidrat dan membantu mengurangi peradangan apabila

(12)

8 terjadi cedera. Selain itu, juga membantu tubuh untuk kembali ke keadaan normal setelah mengalami stress.

2.3.1 Effects of long-term stress

Stress yang dialami dalam jangka panjang, menyebabkan terjadinya pelepasan epinefrin dan norepinefrin yang berlebihan. Hal ini dapat menyebabkan penurunan fungsi kekebalan sehingga menghasilkan perubahan hemodinamik seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan detak jantung, memprovokasi variasi irama jantung normal, yang dapat menjadi penyebab kematian mendadak, dan menyebabkan ketidakseimbangan neurokimia yang berpengaruh pada perkembangan gangguan jiwa.

Kortikosteroid juga memiliki efek imunosupresif yang dapat mengganggu fungsi sistem kekebalan. Sekresi kortisol yang berkepanjangan dikaitkan dengan kerusakan neuron pada hipokampus, yang dapat menyebabkan masalah pada fungsi verbal, memori, dan konsentrasi (Starkman, Giodarni, Brenent, Schork, &

Schteingart, 2001)

Selain itu, stress dalam jangka panjang juga mempengaruhi kualitas tidur yang buruk. Padahal seseorang membutuhkan tidur yang cukup karena pada saat tidur terjadi aktivitas restorative vital, apabila tidur tidak tercukupi maka akan mengganggu kesehatan dan menimbulkan penyakit. (Edwards, Hucklebridge, Clow, & Evans, 2003)

2.3.2 Individual differences in stress reactivity

Setiap orang memiliki reaktivitas yang berbeda terhadap stress. Reaktivitas adalah tingkat perubahan yang terjadi dalam respon otonom, neuroendokrin, dan imun sebagai akibat dari stress. Reaktivitas terhadap stress dipengaruhi oleh faktor genetik dan pengalaman prenatal, yang menyebabkan seseorang secara biologis lebih reaktif terhadap stress. Hal ini juga menyebabkan seseorang menjadi sangat rentan terhadap akibat kesehatan yang buruk karena stress (Boyce et al., 1995; Jacobs et al., 2006).

2.3.3 Physiological recovery

Pemulihan stres sangat penting dan mempengaruhi kondisi fisiologis.

Pemulihan stres yang terlalu lama dapat menjadi pertanda telah terjadinya

(13)

9 kerusakan pada kemampuan tubuh menangani stres. Dalam suatu penelitian (Perna dan McDowell, 19995) kepada atlet elit didapatkan hasil bahwa atlet dengan stres berlebihan memiliki respon kortisol yang berkepanjangan.

2.3.4 Allostatic load

Beban alostatik merupakan beban kumulatif yang disebabkan oleh paparan stres yang berulang-ulang. Beban Alostatik diakumulasikan sejak kita individu masih kanak-kanak dan mempengaruhi kondisi kesehatan sepanjang hidup (Doan, Dich, & Evans, 2014). Kenaikan berat badan dan tekanan darah dapat menjadi pertanda penumpukkan beban alostatik. Penumpukkan beban alostatik ini dapat menimbulkan berbagai penyakit bahkan hingga kematian (Gallo, Fortmann, & Mattei, 2014).

2.4 What Makes Events Stressful?

2.4.1 Dimensions of stressful events

Ada beberapa hal yang mungkin menimbulkan stres, yaitu:

1. Kejadian negatif

Kejadian negatif dapat menimbulkan stres. Stres yang ditimbulkan saat mengalami kejadian negatif lebih banyak dibandingkan saat mengalami kejadian positif. Kejadian negatif juga memberikan lebih banyak tekanan psikologis dibandingkan kejadian positif (Sarason, Johnson, & Siegel, 1978).

Pengalaman negatif seperti konflik sehari-hari, bercerai, atau mengalami kematian dalam keluarga memberikan lebih banyak tekanan psikologis dibanding pengalaman positif seperti mendapat liburan tak terduga atau menghadapi pernikahan.

2. Kejadian yang tidak dapat dikendalikan

Kejadian yang tidak dapat dikendalikan menimbulkan stres lebih besar dibandingkan kejadian yang dapat dikendalikan (Cankaya, Chapman, Talbot, Moynihan, & Duberstein, 2009). Stres yang ditimbulkan saat seseorang dapat mengetahui, mengendalikan, memprediksi, ataupun mengubah suatu kejadian lebih sedikit dibanding orang yang tidak dapat melakukan itu semua (Thompson, 1981).

(14)

10 3. Kejadian ambigu

Kejadian ambigu menghasilkan lebih banyak stres dibandingkan kejadian yang jelas. Di saat mengalami kejadian ambigu seseorang cenderung tidak dapat mengambil tindakan dan menghabiskan waktu dan energi untuk dapat memahami stresornya.

4. Overload

Overload menyebabkan stres lebih besar dibanding yang tidak mengalami overload. Orang dengan kerja dan tugas berlebihan mengalami stres lebih banyak dibandingkan orang yang mendapatkan tugas dan kerja yang lebih sedikit.

2.4.2 Must stress be perceived as such to be stressful?

Stressor memiliki efek yang berbeda-beda pada setiap orang dan dipengaruhi oleh pengalaman dan kemampuan orang tersebut. Pada studi tentang lalu lintas udara didapatkan bahwa stres yang diterima masing-masing individu dapat menggambarkan kondisi kesehatannya. Dengan kata lain stres dapat diketahui dari kondisi kesehatan dan perilaku individu tersebut.

2.4.3 Can people adapt to stress?

Kemampuan orang untuk beradaptasi terhadap stres sangat bergantung pada pengalaman dan masalah yang dihadapi. Pada sebagian besar orang dapat beradaptasi saat mendapatkan stresor sedang atau dapat diprediksi. Pada penelitian tentang efek kebisingan lingkungan (Nivison & Edresen, 1993) menunjukan bahwa tidak efek psikologis yang merugikan dalam jangka panjang.

Hal ini menunjukkan bahwa orang-orang dapat beradaptasi terhadap stres yang mereka hadapi. Namun menurut Cohen (1978) populasi rentan seperti anak dan orang tua kesulitan beradaptasi dalam menghadapi stres.

2.4.4 Must a stressor be ongoing to be stressful?

Stres tidak selalu terjadi akibat stresor. Salah satu kemampuan manusia adalah mampu mengantisipasi suatu kejadian sebelum kejadian itu terjadi. Hal ini dapat terjadi karena manusia memiliki kemampuan untuk membuat rencana.

Namun manusia juga memiliki kemampuan untuk merasa khawatir. Rasa khawatir inilah yang dapat menyebabkan stres.

(15)

11 2.4.5 Anticipating stress

Mengantisipasi stres dapat menimbulkan stres seperti situasi sesungguhnya, atau bahkan lebih parah dari kejadian sesungguhnya (Wirtz et al., 2006).

Contohnya saat akan menghadapi ujian tentunya akan memunculkan stres, tetapi di saat kita terlalu berusaha untuk mengantisipasinya yang terjadi malah membuat kita susah tidur dan memperburuk keadaan.

2.4.6 Aftereffects of stress

Efek samping stres dapat merugikan diri sendiri dan orang lain. Efek samping stres sendiri bertahan bahkan setelah kejadian stres sudah berlalu. Efek sampingnya dapat berupa kurang fokus dan kinerja yang buruk. Efek samping lain dalam bidang kognitif yaitu sulit untuk berkonsentrasi, sedangkan dalam aspek sosial orang yang terkena efek samping dari stres sulit untuk membantu orang lain.

2.5 How Has stress Been Studied?

Psikolog kesehatan menggunakan beberapa metode untuk memahami stres dan pengaruhnya dalam kehidupan sehari-hari.

2.5.1 Studying stress in the laboratory

Cara mempelajari stres yang paling umum adalah dengan membawa orang ke laboratorium dan memaparkannya dengan kejadian stres jangka pendek lalu mengamati dampaknya pada segala aspek. Pada paradigma stres akut dimana memberikan kondisi yang dapat menimbulkan stres pada seseorang membuat orang tersebut menjadi tertekan secara fisiologis dan menunjukkan gairah (Kirschbaum, Klauer, Filipp, & Hellhammer, 1995). Paradigma sters akut ini juga dapat menunjukkan siapa yang paling rentan mengalami stres (Pike et al., 1997).

2.5.2 Inducing disease

Selain mempelajari stres di laboratorium cara lain yang dapat dilakukan adalah dengan memaparkan orang dengan virus. Setelah orang tersebut dipaparkan virus kemudian dinilai apakah mengalami sakit dan seberapa sakit. S.

Cohen dan rekannya (1999) pernah melakukan percobaan untuk mengukur tingkat stres pada sekelompok orang dewasa. Sekelompok orang dewasa tersebut diinfeksi dengan virus influenza. Dari penelitian tersebut didapat bahwa orang

(16)

12 yang mengalami stres lebih banyak lebih cenderung terkena penyakit dan meningkatkan kekebalan tubuhnya dibanding orang yang stresnya lebih rendah.

2.5.3 Stressful life events

T.H. Holmes dan R.H. Rahe (1967) sebagai pelopor dalam penelitian stres menyatakan bahwa akan terjadi peningkatan stres jika seseorang harus beradaptasi dengan lingkungan baru. Contohnya pada saat pasangan kita meninggal dan menyebabkan segala aspek kehidupan terganggu dan menyebabkan stres yang besar. Contoh lainnya di saat kita kena marah oleh dosen, hal ini tentunya menyebalkan, tetapi tidak mengubah banyak aspek kehidupan dan hanya menimbulkan stres yang kecil.

2.5.4 Daily stress

Masalah sehari-hari dapat menimbulkan tekanan psikologis yang merugikan. Masalah-masalah kecil yang dimaksud berupa terjebak macet, mengantri, dan konflik sehari-hari (Tobin et al., 2015). Masalah-masalah kecil ini dapat berdampak pada reaksi terhadap peristiwa besar dan dapat melemahkan seseorang hingga terkena penyakit (Marin, Martin, Blackwell, Stetler, & Miller, 2007; Serido, Almeida, & Wethington, 2004).

2.6 Sources of Chronic Stress

2.6.1 Effects of early stressful life experiences

Pengalaman masa kanak-kanak dapat mempengaruhi stres pada seluruh rentang kehidupan. Hal-hal yang dapat menyebabkan stres kronis tersebut seperti status ekonomi, kekerasan, dan lainnya. Pelecehan seksual di masa kanak-kanak juga dapat menyebabkan stres kronis di masa yang akan datang.

Repetti dan rekannya (2002) menemukan bahwa keluarga yang memiliki kekerasan yang tinggi dan tingkat pengasuhan yang rendah dianggap sebagai keluarga berisiko dan keluarga merisiko ini menghasilkan keturunan yang memiliki respon terhadap stres yang buruk. Anak-anak yang tumbuh dari keluarga berisiko ini tidak belajar bagaimana caranya mengenali dan mengendalikan emosinya sendiri dan orang lain. Hal ini mengakibatkan mereka bereaksi berlebihan terhadap stresor ringan. Anak-anak yang berasal dari keluarga berisiko ini juga mengalami kesulitan dalam hubungan sosial.

(17)

13 Hingga saat ini belum diketahui pasti apakah pengalaman dan tekanan yang didapat pada masa kanak-kanak dapat memprogram sistem stres secara permanen. Tetapi intervensi yang dilakukan pada masa kanak-kanak dapat berpengaruh sepanjang hidupnya.

2.6.2 Chronic stressful conditions

Stres kronis berkontribusi dan mempengaruhi tekanan psikologis dan penyakit fisik (Kahn & Pearlin, 2006). Dalam studi komunitas awal terhadap 2.300 orang didapatkan hasil bahwa orang yang mengalami stres dalam pernikahan, rumah tangga, pengasuhan, dan pekerjaan cenderung mengalami tekanan psikologis. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa perbedaan kelas sosial memiliki hubungan dengan stres dan kesehatan. Orang dengan status ekonomi rendah mengalami konflik interpersonal dan stres yang lebih besar.

Anak-anak yang berada dalam status ekonomi rendah pun juga beresiko tinggi mengalami permasalahan kesehatan seperti masalah tidur dan peningkatan berat badan.

2.6.3 Stress in Workplace

Menurut studi dari American Institute of Stress, stres kerja menghabiskan biaya sekitar 300 miliar dollar. Studi stres kerja ini penting karena bisa mengidentifikasi stressor umum pada kehidupan sehari-hari, memberikan bukti dari hubungan stres dan penyakit, stres kerja mampu dicegah dan diberi intervensi, dan terus meningkat.

1. Stress in Workplace

Di masa sekarang ini, pekerjaan yang banyak dilakukan yakni pekerjaan kantoran. Para pekerja kantor ini sendiri memiliki tingkat aktivitas fisik yang rendah dan stres yang tinggi sehingga memiliki pengaruh besar kepada kesehatan dan rentan untuk terkena penyakit.i 2. Overload

Beban kerja yang berlebihan mampu mempengaruhi tingkat stres seseorang. Jam kerja yang berlebihan serta serta terlalu keras

(18)

14 bekerja mampu menambah tingkat stres pekerja sehingga mempengaruhi kebiasaan hidupnya serta meningkatkan resiko penyakit.

3. Ambiguity and Role Conflict

Ambiguitas dan konflik peran sangat berpengaruh terhadap tingkat stres seseorang. Ambiguitas merupakan suatu kondisi dimana seseorang tidak mengetahui dan mengerti akan apa yang ia lakukan serta standar evaluasi untuk pekerjaannya. Bentuk dari ambiguitas ini ketika seorang pekerja tidak paham akan tugas dan tanggung jawab dari pekerjaannya sehingga tidak tahu bagaimana untuk mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan konflik peran ini merupakan sebuah kondisi dimana

4. Social Relationship

Ketika seseorang tidak mampu untuk membangun hubungan sosial dengan orang lain di tempat kerja, besar kemungkinannya untuk mengalami stres kerja, tekanan psikologis hingga penyakit fisik juga mental. Buruknya hubungan sosial yang ada di tempat kerja bisa meningkatkan resiko penyakit jantung koroner..Dengan memiliki hubungan sosial yang baik dengan rekan kerja mampu mengurangi dampak stressor di tempat kerja.

5. Control

Salah satu penyebab stres pada kehidupan kerja seseorang yakni karena kurangnya kontrol. Hal ini bisa berakibat pada ketidakpuasan kerja, ketidakhadiran (bolos), hingga adanya penyakit fisiologis. Bosma dkk (1997) berpendapat ketika seseorang memiliki kontrol yang rendah dalam pekerjaannya bisa meningkatkan resiko penyakit jantung koroner.

Ketika tuntutan tinggi dan kontrol rendah dan hanya sedikit dukungan sosial di tempat kerja (demand-control-support), risiko penyakit arteri koroner lebih besar (Hintsanen et al., 2007; Muhonen & Torkelson, 2003).

(19)

15 6. Unemployed

Menganggur dapat menyebabkan tingginya tekanan psikologis, munculnya penyakit dan gangguan pada fisik, penyalahgunaan alkohol, hingga gangguan fungsi imun.

2.6.4 Some Solution to Workplaces Stressors

1. Minimalkan stressor kerja fisik, seperti suara, pencahayaan, keramaian, atau suhu yang ekstrim.

2. Meminimalkan ketidakpastian dan ambiguitas dalam tugas yang diharapkan dan standar kinerja.

3. Libatkan pekerja sebanyak mungkin dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi pekerjaan mereka.

4. Membuat pekerjaan semenarik mungkin.

5. Memberikan kesempatan pada pekerja untuk mengembangkan hubungan sosial mereka.

6. Lebih berfokus kepada reward dibanding punishment kepada pekerja.

7. Mengenali gejala stres dari awal sehingga tidak mempengaruhi pekerjaan.

8. Memperbaiki dan menambah fasilitas yang ada untuk meningkatkan kualitas hidup. (Cosser, 2008).

2.6.5 Combining work and family roles

Banyak orang yang mengalami stres biasanya terjadi karena memiliki berbagai peran dalam kehidupannya. Masing-masing peran ini memerlukan tanggung jawab atas kewajiban yang berat, dan stres dapat terjadi ketika seseorang mencoba untuk menggabungkan beberapa peran (Nylén, Melin, &

Laflamme, 2007).

a. Woman with Multiple Roles

Hampir sebagian wanita yang bekerja sudah menikah dan memiliki anak. Tentu saja hal ini membuat wanita sulit untuk mengatur tanggung jawab pekerjaan dan keluarga mereka sekaligus. Wanita yang bekerja dan memiliki anak memiliki tingkat kortisol dan reaktivitas kardiovaskular lebih tinggi dibanding yang tidak memiliki anak di rumah. Sementara itu, Wanita lajang yang membesarkan anak sendiri paling berisiko mengalami masalah kesehatan

(20)

16 b. Protective Effects of Multiple Roles

Meskipun ada resiko terjadinya konflik peran dan kelebihan beban, ada efek positif dari peran ganda wanita antara pekerjaannya di kantor dengan di rumah. Peran ganda ini memberikan manfaat bagi kesehatan dan kesejahteraan wanita, meningkatkan harga diri, perasaan efikasi diri, dan kepuasan hidup. Menjadi orang tua juga memberikan ketahanan terhadap pilek. Adanya kontrol dan fleksibilitas atas lingkungan kerja seseorang, penghasilan yang baik, ada yang membantu pekerjaan rumah, pengasuhan anak yang memadai, pasangan, dan pasangan yang suportif dan membantu mengurangi kemungkinan bahwa tuntutan peran ganda akan menyebabkan stres dan biaya psikologis dan fisiknya.

c. Men and Multiple Roles

Tidak hanya wanita, pria juga bisa mengalami stres ketika memiliki peran ganda. Studi menunjukkan bahwa pria biasanya stres karena tekanan keuangan atau stres kerja. Permasalahan seorang ayah di tempat kerja juga dapat berpengaruh kepada interaksi dengan keluarganya di rumah.

d. Children

Ketika anak-anak dan remaja mengalami stres, hal ini bisa membuat kehidupan rumah juga menjadi stres. Sebuah studi mengatakan bahwa ketika anak mengalami kegagalan dalam akademik di sekolah, misalnya seperti tidak diterimanya anak di lingkungan pertemanan ataupun kesulitan dengan tugas sekolah, bisa mengakibatkan meningkatnya perilaku buruk pada anak. Stres pada anak juga dipengaruhi oleh pekerjaan orang tua, tuntutan dari orang tua hingga peraturan yang ada di lingkungan keluarga. Hal ini bisa mempengaruhi prestasi anak hingga tindakan anak di masa remaja.

2.7 Coping with Stress and Resilience

Coping merupakan suatu pikiran dan perilaku yang digunakan untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal dari situasi yang dinilai sebagai stres. Coping sendiri memiliki dua karakteristik. Pertama, hubungan antara coping dan stres merupakan hubungan yang dinamis. Maksudnya, coping bukanlah tindakan satu kali yang

(21)

17 dilakukan seseorang melainkan serangkaian respons, yang terjadi dari waktu ke waktu, di mana lingkungan dan orang tersebut saling mempengaruhi.

Kedua, coping sendiri melibatkan adanya reaksi emosional. termasuk kemarahan atau depresi, adalah bagian dari proses koping, seperti juga tindakan yang dilakukan secara sukarela untuk menghadapi kejadian tersebut.

2.7.1 Personality and Coping

Karakteristik kepribadian yang dibawa setiap orang ke peristiwa yang membuat stres mempengaruhi bagaimana dia akan mengatasi peristiwa itu (Taylor, 2018)

1. Negativity, Stress and Illness

Ketika orang memiliki tingkat afektivitas yang tinggi (neurotisisme), hal ini bisa mengakibatkan buruknya tingkat kesehatan seseorang hingga munculnya resiko adanya penyakit kronis. Mereka mengekspresikan kesusahan, ketidaknyamanan hingga ketidakpuasan dalam banyak situasi. Afektivitas negatif juga bisa menyebabkan adanya peningkatan pada stres, seperti kortisol, detak jantung, peradangan, serta resiko penyakit jantung koroner. Neurotisisme ditambah dengan penghambatan dan isolasi sosial (kepribadian tipe D) merupakan kombinasi buruk bagi kesehatan karena membuat respon menjadi rendah ketika ada di dalam masa pengobatan.

2. Positivity and Illness

Emosi yang positif mampu meningkatkan kesehatan baik mental maupun fisik menjadi lebih baik hingga umur yang lebih panjang. Emosi positif ini terbentuk karena tingkat stres yang rendah seperti kortisol dan respon kekebalan yang lebih baik terhadap rangsangan seperti paparan virus flu. Ketika seseorang merasakan emosi positif, mereka mampu menginvestasikan waktu dan upaya untuk mengatasi hambatan dalam mengejar tujuan mereka.

2.7.2 Psychosocial Resources

Menurut Taylor (2015), ada beberapa psychosocial resource, yakni:

1. Optimism

Sifat optimis membantu dalam mengatasi stres dengan lebih efektif dan mengurangi risiko penyakit. Orang yang optimis memiliki stres fisiologis yang lebih baik pada indikator seperti kortisol, tekanan darah, dan peradangan Sifat

(22)

18 optimis dapat membantu seseorang mengurangi resiko penyakitnya secara efektif. Yang mana penyakit merupakan suatu bentuk stressori. Oleh karena itu, orang yang optimis memiliki stres fisiologis yang rendah. Dengan adanya sifat optimis dalam diri individu dapat membuatnya gigih dalam melakukan coping untuk kesehatan psikologis dan fisik. Individu yang optimis menggunakan perdekatan problem-focused coping dalam mengatasi stressor, mencari dukungan sosial dari orang lain, dan selalu berpikir positif dalam situasi stres.

2. Psychological Control

Psychological control merupakan keyakinan individu dalam menentukan perilakunya, mempengaruhi lingkungannya, dan memperoleh hasil yang sesuai dengan keinginannya. Psychological control ini dapat membantu seseorang dalam mengatasi stressor, dimana keyakinan seseorang untuk dapat mengontrol stres dapat meningkatkan kesehatan, emosional baik, dan stressor teratasi.

3. Self-Esteem

Jika seseorang memiliki self-esteem yang tinggi, maka orang tersebut memiliki coping stres yang baik.. Dan ketika seseorang memiliki self-esteem yang rendah, maka ia memiliki coping stres yang buruk. Individu yang memiliki self-related source yang kuat memiliki kebiasaan kesehatan yang lebih baik, misalnya cenderung tidak merokok atau menggunakan alkohol secara berlebihan (Friedman et al., 1995).

4. Additional Psychosocial Resource

Conscientiousness merupakan sumber daya psikososial yang memiliki manfaat terhadap kesehatan. Conscientiousness merupakan individu yang bersifat teliti dan hati-hati dalam segala tindakannya dan melakukan pertimbangan yang matang untuk mengambil keputusan. Orang-orang dengan conscientiousness lebih mungkin untuk hidup sampai usia tua, lebih berhasil menghindari situasi berbahaya karena mereka lebih memikirkan kesehatan mereka, lebih patuh pada rekomendasi pengobatan, dan mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka secara efektif.

(23)

19 Sumber daya coping merupakan hal yang penting karena dapat membantu orang dalam mengelola tuntutan peristiwa stres sehari-hari dengan tekanan emosional yang lebih sedikit, risiko penyakit yang lebih sedikit, kebiasaan kesehatan yang lebih baik, dan kualitas hidup yang lebih tinggi.

Dengan demikian, sumber daya coping sangat membantu populasi rentan, terutama orang-orang dengan status sosial ekonomi rendah (Taylor, 2018).

2.7.3 Resilience

Kehidupan seseorang, tujuan hidup, kepercayan terhadap orang lain, keyakinan akan agama, dan merasa hidup layak dijalani merupakan sumber daya yang dapat mendorong resilience, keefektifan coping, dan kesehatan.

Selain itu, melakukan istirahat, relaksasi, berpikir positif, dan membuat suasana gembira. Bahkan, mampu menimbulkan emosi positif walaupun sedang mengalami stres merupakan metode coping stres yang digunakan oleh orang- orang yang memiliki resilience.

2.7.4 Coping style

Coping memiliki dua gaya yaitu approach dan avoidance yang mana masing-masing gaya tersebut memiliki kelebihan tersendiri. Namun, secara keseluruhan approach coping lebih berhasil mengatasi stressor dibandingkan avoidance coping. Individu yang menggunakan approach coping dapat mengelola dengan baik stres dalam jangka panjang, sedangkan individu yang menggunakan avoidance coping dapat menangani permasalahan secara efektif dalam jangka pendek. Akan tetapi, jika stres terus berlanjut avoidance coping tidak akan berhasil.

2.7.5 Problem-focused and Emotion-focused coping a. Problem-Focused Coping

Problem-focused coping melibatkan suatu upaya untuk mengatasi stres dengan cara berfokus pada penanggulangan stressor atau menyelesaikan permasalahan yang menjadi penyebab stres.

b. Emotion-Focused Coping

Emotion-focused coping merupakan metode coping yang melibatkan emosi dalam mengatasi stressor. Dimana adanya proses perubahan emosi

(24)

20 individu terhadap sumber masalah yang mana awalnya emosi sulit dikendalikan menjadi stabil sehingga dapat mengatasi stressor.

Selain gaya coping tersebut, juga terdapat berbagai gaya yang mungkin adaptif untuk mengatasi stres dalam keadaan tertentu, seperti menghindar dari pengalaman negatif dapat menjadi adaptif untuk mengelola suatu peristiwa yang menyebabkan stres, melakukan penilaian positif terhadap stressor, dan lainnya. Coping dapat bersifat proaktif yang mana individu melakukan antisipasi terhadap stressor dengan cara mencegah atau mengurangi dampaknya. Seseorang dapat melakukan coping proaktif dengan cara yaitu mendeteksi potensi stres, melakukan coping untuk mengelola stres, mengatur diri atau mengendalikan diri, dan mengoreksi tindakan melawan stressor.

2.8 Coping and External Resources

Taylor (2015) menjelaskan bahwa coping tidak hanya dipengaruhi oleh sumber daya internal saja, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh sumber daya eksternal. Seseorang yang memiliki sumber daya yang besar dapat mengatasi stressor dengan baik. Salah satu sumber daya eksternal yaitu status sosial ekonomi, dimana individu yang memiliki status sosial ekonomi yang tinggi, maka akan mudah dalam mengatasi stressor.

2.9 Coping Outcomes

Coping dikatakan berhasil apabila seseorang dapat (Karatsoreos & McEwen, dalam Taylor, 2018):

1. Mengurangi atau menghilangkan stress.

2. Mentoleransi atau menyesuaikan diri terhadap peristiwa negatif atau kenyataan.

3. Mempertahankan self-image positif.

4. Menjaga keseimbangan emosional.

5. Melanjutkan hubungan yang memuaskan dengan orang lain.

6. Meningkatkan prospek pemulihan saat sakit.

7. Menjaga fisiologis, neuroendokrin, dan reaktivitas kekebalan relatif rendah atau memulihkan sistem ini ke tingkat pra-stres.

2.10 Coping Interventions

Intervensi untuk coping stress dikembangkan karena tidak semua orang bisa melakukan coping stress dengan cara mereka sendiri.

(25)

21 2.10.1 Mindfulness Meditation and Acceptance/Commitment Theory

Meditasi kesadaran (Mindfulness meditation) mengajarkan kita untuk mengendalikan keadaan pikiran yang ditandai dengan meningkatnya kesadaran (awareness) tentang masa kini, fokus pada momen tersebut dan menerimanya, serta mengakuinya tanpa merasa terganggu atau tertekan oleh stress.

Mindfulness-based stress reduction (MBSR) merupakan systematic training pada mindfulness untuk membantu individu mengendalikan reaksi mereka terhadap stress dan emosi negatif yang mungkin dihasilkan. Studi mengatakan bahwa MBSR efektif untuk mengurangi stress, kecemasa, dan distress.

Sama dengan MBSR, acceptance, dan commitmhent therapy (ACT). ACT adalah teknik CBT yang menggabungkan penerimaan masalah, perhatian terhadap kejadiaannya, dan kondisi yang memunculkannya komitmen terhadap perubahan perilaku.

2.10.2 Expressive writing

Mengekspresikan emosi dapat memberikan efek positif pada kita dan kesehatan kita. Saat seseorang mengalami pengalaman traumatis dan tidak dapat menyampaikan apa yang sedang ia rasakan, hal itu dapat tersimpan bertahun- tahun di dalam diri kita.

Sebuah penelitian berhasil menemukan bahwa menulis pengalaman pengalamaan traumatis dalam hidup, dapat membuat kita lebih lega serta berkurangnya tekanan terhadap diri kita.

2.10.3 Self affirmation

Afirmasi diri terwujud ketika seseorang secara positif meyakini nilai dirinya dan merasa lebih positif tentang dirinya. Menurut Taylor, orang dengan kemampuan afirmasi diri yang baik, memiliki tingkat aktivitas psikologi yang rendah sehingga stress dapat di redam.

2.10.4 Coping effectiveness training

Mengajarkan orang-orang teknik yang efektif untuk coping adalah benefitt lainnya adari intervensi. Sebagian besar dari intervensi ini menarik prinsip- prinsip dari CBT. pelatihan efektifitas coping biasanya dimulai dengan

(26)

22 mengajar orang bagaimana menilai peristiwa stress dan memisahkan stress ke dalam tugas-tugas tertentu.

2.11 Social Support

2.11.1 What is social support

Social support atau dukungan sosial diartikan sebagai pemberitahuan dari orang lain bahwa seseorang itu dicintai, dipedulikan, berharga, dan bernilai.

Dukungan sosial dapat diperoleh oleh siapapun, misalnya keluarga, teman, sahabat, atau bahkan komunitas yang diikuti oleh seseorang. Menurut para ahli, seseorang yang memiliki cukup dukungan sosial, akan menjalani kehidupan dan pengalaman-pengalaman yang lebih positif, selain itu dukungan sosial yang cukup juga memungkinkan seseorang untuk mengalami lebih sedikit stress dibandigkan mereka yang tidak memiliki dukungan sosial yang cukup.

Ada banyak bentuk dukungan sosial, bisa berupa material, seperti pelayanan, bantuan keuangan, ataupun berupa benda. Selain aterial, dukungan sosial dapat berupa dukungan informasional yang biasanya didapatkan dari keluarga dan teman dekat.

2.11.2 Effects of social support on illness

Dukungan sosoial dapat membantu menurunkan kemungkinan terkena penyakit, mempercepat proses penyembuhan, dan mengurangi risiko kematian yang disebabkan oleh penyakit serius. Ratusan peneitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa dukungan sosial ini sangat bermanfaat. Orang-orang dengan dukungan sosial juga cenderung mempraktekkan perilaku sehat dan memanfaatkan fasilitas kesehatan. Namun dukungan sosial juga bisa berdampak merusak ketika kelompok tertentu yang memberikan dukungan sosial itu merokok, banyak minum, atau menggunakan narkoba.

2.11.3 Biophsychosocial pathways

Tantangan untuk penelitian dukungan sosial adalah untuk mengidentifikasi jalur biopsikososial dimana kontak sosial memberikan efek yang menguntungkan atau merugikan kesehatan. Studi menyatakan bahwa dukungan sosial ini memberikan efek yang bermanfaat pada cardiovascular, endokrin, dan sistem imun. Dukungan sosial dapat mengurangan respon fisiologis dan

(27)

23 neuroendokrin terhadap stress. Beberapa studi sudah memperlihatkan bahwa dukungan sosial memodifikasi respon otak terhadap stress.

2.11.4 Moderation of stress by social support Ada dua cara dalam menyederhanakan stress:

1. Direct effect hypothesis, menjelaskan bahwa dukungan sosial secara umum itu memiliki manfaat yang sama, baik pada keadaan yang memicu stress maupun tidak.

2. Buffering hypothesis, menjelaskan bahwa benefit dari dukungan sosial itu dapat berfungsi secara maksimal saat seseorang berada dalam fase stress tertinggi.

2.11.5 What kinds of support are most effective?

Setiap dukungan sosal itu tergantrung pada seberapa besar tingkatan stressnya.

Setiap kejadian pemicu stress, memiliki kebutuhan yang berbeda-beda. Jika kebutuhan tersebut terpenuhi, barulah suatu dukungan sosial dapat dikatakan tepenuhi, hal ini kita kenal dengan matching hypothesis.

2.11.6 Enhancing social support

Psikolog kesehatan menilai bahwasannya dukungan sosial ini adalah sesuatu yang penting dalam pencegahan. Meningkatnya jumlah dan kualitas dukungan sosial adalah salah satu tujuan penting dari intervensi psikologi kesehatan.

(28)

24 BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Stress merupakan pengalaman emosional bersifat negatif, yang berkaitan dengan perubahan biokimia, fisiologis, kognitif, serta perilaku yang dapat diprediksi dan diarahkan untuk mengubah peristiwa stress maupun meminimalisir efek dari stress.

Seseorang yang mengalami stress disebabkan oleh stressor. Stressor merupakan peristiwa atau kejadian menantang yang dialami oleh seseorang baik secara fisik ataupun psikologis yang dapat menyebabkan stress. Setiap individu memiliki stressor yang berbeda tergantung pada penyebab dan pengalaman dari individu tersebut. Stress dapat mempengaruhi tekanan psikologis dan dapat menyebabkan perubahan pada kesehatan tubuh, baik itu berakibat jangka panjang maupun jangka pendek. Setiap individu memiliki reaktivitas yang berbeda terhadap stress, tergantung dari faktor genetik dan pengalaman prenatal dari individu tersebut.Untuk mengatasi masalah pada stress seseorang perlu melakukan coping. Coping merupakan suatu pikiran dan perilaku yang digunakan untuk mengelola tuntutan internal dan eksternal dari situasi yang dinilai sebagai stres. Coping tidak hanya dipengaruhi oleh sumber daya internal saja, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh sumber daya eksternal. Apabila seseorang memiliki sumber daya yang besar maka ia akan dapat mengatasi stressornya dengan baik

(29)

25 DAFTAR PUSTAKA

Sarafino, E. P., & Smith, T. W. (2011). Health psychology, biopsychosocial interactions. John willey & sons.

Taylor, S. E. (2018). Health Psychology 10th Ed. New York: McGraw-Hill Education.

Referensi

Dokumen terkait

Namun, melakukan coping terhadap stres dengan baik bukanlah hal yang mudah dilakukan oleh seseorang yang sedang mengalami tekanan dalam kehidupannya, yang diliputi

Berdasarkan hasil analisis kuantitatif diketahui bahwa : 1). Terdapat pengaruh negatif stres kerja terhadap produktivitas kerja karyawan. Terdapat pengaruh negatif konflik

Penelitian ini mengungkapkan makna terdalam dari pengalaman stres pada ketiga subjek Ld, Ar, Rg dalam mengatasi masalah yang menimbulkan reaksi psikologis yaitu subjek

Berdasarkan hasil penelitian mengenai efektivitas teknik Problem Focused Coping dalam mengatasi stres belajar siswa pada pelajaran matematika di SMP Negeri 1 Galut

Dengan adanya pengetahuan dan pemahaman tentang coping stress ibu-ibu PKK RW 21 Kelurahan Purwantoro Kota Malang dapat mengantisipasi dan mengatasi stres yang dirasakan

Pada hasil uji hipotesis menunjukkan terdapat korelasi positif antara stres berkendara dengan gaya berkendara pada pengendara di kota Medan, bahwa stres berkendara berhubungan

Penelitian ini mengungkapkan makna terdalam dari pengalaman stres pada ketiga subjek Ld, Ar, Rg dalam mengatasi masalah yang menimbulkan reaksi psikologis yaitu subjek

Dengan memahami pengalaman dan proses pengembangan identitas pada kelompok minoritas, kita dapat lebih efektif mengatasi diskriminasi, presepsi negatif, dan stigma yang mungkin mereka