204 BAB V. PENUTUP
Pada bab ini disajikan simpulan maupun saran yang disarikan dari keseluruhan pembahasan penulisan tesis. Berikut beberapa hal penting terkait dengan kesimpulan maupun saran.
5.1. Simpulan
Berdasarkan temuan dan hasil penelitian pada bab IV, berikut disampaikan tiga simpulan dari penelitian dan pengembangan yang telah disampaikan dalam rumusan masalah.
Pertama, pelatihan AKM yang selama ini diikuti diadakan oleh Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK), Kemendikbudristekdikti. Model pelatihan dari Kemendikbudristekdikti berupa serangkaian kegiatan pelatihan secara mandiri. Pada tingkatan provinsi maupun kabupaten, untuk jenjang SMA ada beberapa sekolah yang melakukan pelatihan AKM berdasarkan inisiatif dari Kepala Sekolah dan bersifat mandiri dan internal. Bisa dikatakan belum ada kebijakan khusus dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan yang mewajibkan
205 sekolah untuk mengadakan pelatihan AKM secara mandiri dan berkelanjutan.
Kedua, kelemahan pelatihan AKM oleh Kemendikbudristekdikti meliputi; 1). Adanya batas waktu dalam mengakses materi dimana guru yang mendaftar terlambat tidak punya kesempatan untuk mengikuti pelatihan. Oleh karena itu, guru yang tidak memperbaharui informasi tidak pernah mengikuti; 2). Materi diklat AKM yang diberikan tidak secara khusus membahas mengenai mata pelajaran yang diajarkan oleh guru dan lebih bersifat umum untuk semua mata pelajaran; 3).
Dalam mengikuti diklat, peserta harus dalam posisi daring sehingga akan bermasalah jika sinyal internet yang dimiliki guru kurang memadai.
Ketiga, pengembangkan e-modul pelatihan penulisan soal AKM bidang seni budaya tingkat SMA dengan multimedia interaktif menggunakan articulate storyline dilakukan dengan menggunakan model pengembangan Borg and Gall yang terintegrasi dengan model ADDIE. Hasil pengembangan menunjukkan bahwa e-modul penulisan AKM memperoleh nilai
206 total untuk validasi ahli materi adalah 45 dari skor ideal 48 (94%) dengan kriteria ”sangat layak”. Perolehan nilai total untuk validasi ahli modul adalah 61 dari skor ideal 68 (90%) dan dinyatakan “Sangat Layak” untuk digunakan sebagai e-modul.
Perolehan nilai total untuk validasi ahli media adalah 83 dari skor ideal 100 (83%) “Sangat Layak”. Berdasarkan hasil uji validasi e- modul pelatihan oleh para ahli, secara umum dapat dinyatakan bahwa e-modul pelatihan penulisan soal AKM Seni Budaya dinyatakan sudah valid. Valid di sini dapat diartikan bahwa e- modul memiliki keabsahan untuk dicobakan dalam pelatihan mandiri, namun perlu dilakukan beberapa revisi. Kefektifan e- modul berdasarkan hasil Paired T Test, diperoleh taraf signifikansi hitung sebesar 0,000. Oleh karena 0,000 < α = 0,050, maka H0 ditolak dan Ha diterima dimana kompetensi hasil pelatihan setelah menggunakan e-modul Pelatihan Mandiri Penulisan AKM Seni Budaya lebih tinggi dari sebelum menggunakan e-modul Pelatihan Mandiri Penulisan AKM Seni Budaya. Selain uji efektivitas, uji kepraktisan dan keberterimaan e-modul juga dilakukan dengan menggunakan angket. Hasilnya
207 menunjukkan bahwa kualitas e-modul baik dan sangat layak.
Perinciannya adalah pada aspek tampilan 92,6%, aspek akses 84%, aspek interaksi diperoleh 87,3, dan aspek implementasi mendapat 93 %. Dapat disimpulkan bahwa hampir semua peserta pelatihan mandiri menyatakan bahwa e-modul ini sudah sangat layak untuk digunakan sebagai materi pelatihan AKM.
5.2. Saran
Berdasarkan simpulan pelatihan dan pengembangkan e- modul pelatihan penulisan soal AKM bidang seni budaya tingkat SMA dengan multimedia interaktif menggunakan articulate storyline dapat disampaikan saran-saran berikut:
a. Bagi guru, disarankan menerapkan kemampuannya dalam memahami dan menyusun soal-soal yang mengacu pada AKM.
b. Bagi kepala sekolah, disarankan agar memotivasi guru untuk mengikuti pelatihan AKM menggunakan e-modul ini dan diperkuat dengan melaksanakan pelatihan IKM secara mandiri.
208 c. Bagi peneliti lain yang akan melakukan penelitian lanjutan, disarankan agar mengembangkan e-modul dengan menggunakan perangkat lunak lainnya atau menambah fitur pada e-modul ini menjadi lebih lengkap dan berdaya guna seperti mampu merekam hasil pelatihan peserta dalam proses dan menambah database terkait dengan penelitian.