Factors that Corelation to The Incidence of Occupational Contact Dermatitis on the Workers of Car Washes in Sukarame Village Bandar Lampung City
`
Mariz DR, Hamzah SM, Wintoko R Faculty of Medicine Lampung University Abstract
Occupational contact dermatitis is one of the most occurs skin disease of the worker. This disease may reduce worker productivities. Knowing the factors related to occupational contact dermatitis can make the prevention easier to done. The objective of this research is to investigate factors related to occupational contact dermatitis on workers at car washes. The study design of this analytic research is cross-sectional. The research subjects were selected using total sampling with 50 respondents. Data collecting procedure was carried out by questionnaire. This research used Fisher exact statistical test. The results of the study found that 78% of respondents experienced occupational contact dermatitis. Based on statistical tests, frequency of contact, duration of contact, personal hygiene and the use of Self Protection Device (SPD) obtained a result of p<0.05, which means there is a meaningful relationship to the incidence of occupational contact dermatitis.
Keywords: Factors that corelation, occupational contact dermatitis, workers
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada Karyawan Pencucian Mobil di Kelurahan Sukarame Kota Bandar
Lampung
ABSTRAK
Dermatitis kontak akibat kerja merupakan salah satu penyakit kulit akibat kerja yang banyak terjadi.Penyakit ini dapat menurunkan produktifitas pekerja. Dengan mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhinya diharapkan proses pencegahan dapat lebih mudah dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor- faktor yang mempengaruhi angka kejadian dermatitis kontak pada karyawan pencucian mobil di kelurahan Sukarame Bandarlampung. Penelitian ini adalah penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional. Responden penelitian diambil secara keseluruhan yaitu sebanyak 50 responden. Data yang diperoleh adalah data primer dari kuesioner, Setelah itu dilakukan uji statistik Fisher exact. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa 78% responden mengalami kejadian dermatitis kontak akibat kerja.
Berdasarkan uji statistik, faktor lama kontak, masa kerja, personal hygiene, dan penggunaan alat pelindung diri(APD) didapatkan hasil p< 0,05 yang berarti ada hubungan yang bermakna terhadap kejadian dermatitis kontak akibat kerja.
Kata kunci: Dermatitis kontak akibat kerja, faktor yang mempengaruhi, karyawan
Pendahuluan
Peningkatan perkembangan industri dan adanya perubahan gaya hidup masyarakat terutama pada masyarakat ibukota yang lebih menyukai hal-hal yang praktis membawa efek positif pada usaha penyedia jasa. Jenis usaha penyedia jasa yang berkembang dan semakin menjamur dikalangan masyarakat, salah satunya adalah usaha penyedia jasa pencucian mobil atau dikenal dengan istilah car wash. Hal ini memberikan konsekuensi semakin banyak orang yang bekerja dibidang jasa pencucian mobil, sehingga semakin banyak pula kemungkinan orang yang berisiko terkena penyakit kulit akibat kerja (Djunaedi, 2003).
Penyakit kulit akibat kerja (occupational dermatoses) adalah suatu peradangan kulit diakibatkan oleh suatu pekerjaan seseorang. Dermatitis kontak merupakan 50%
dari semua penyakit akibat kerja terbanyak yang bersifat nonalergi atau iritan.
Penelitian survailance di Amerika menyebutkan bahwa 80% penyakit kulit akibat kerja adalah dermatitis kontak (Kosasih, 2004).
Dermatitis kontak adalah dermatitis disebabkan bahan atau substansi yang menempel pada kulit. Dikenal dua jenis dermatitis kontak, yaitu dermatitis kontak iritan yang merupakan respon nonimunologi dan dermatitis kontak alergik yang diakibatkan oleh mekanisme imunologik spesifik. Keduanya dapat bersifat akut maupun kronis (Djuanda, 2007). Penyakit ini ditandai dengan peradangan kulit polimorfik yang mempunyai ciri-ciri yang luas, meliputi: rasa gatal, eritema (kemerahan), endema (bengkak), papul (tonjolan padat diameter kurang dari 55mm), vesikel (tonjolan berisi cairan diameter lebih dari 55mm), crust dan skuama (Freedberg, 2003).
Bila dihubungkan dengan jenis pekerjaan, dermatitis kontak dapat terjadi pada hampir semua pekerjaan. Biasanya penyakit ini menyerang pada orang-orang yang sering berkontak dengan bahan-bahan yang bersifat toksik maupun alergik, misalnya ibu rumah tangga, petani dan pekerja yang berhubungan dengan bahan- bahan kimia dan lain-lain (Orton, 2004).
Metode
Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan pendekatan cross-sectional yang kemudian akan dideskripsikan untuk menggambarkan hubungan faktor-faktor yang dianggap mempengaruhi kejadian dermatitis kontak akibat kerja. Sampel dalam penelitian ini adalah karyawan pencuci mobil di tempat pencucian mobil di kelurahan sukarame Bandar lampung yang diambil secara keseluruhan. Waktu penelitian adalah 4 minggu. Metode Penelitian yang digunakan untuk pengumpulan data adalah menggunakan kuesioner yang diisi sendiri oleh responden (self completion questionnaire). Kuesioner yang digunakan telah diuji oleh peneliti lain.
Sebagai variabel dependent dalam penelitian ini adalah penyakit dermatitis kontak akibat kerja. Dalam melakukan diagnosis untuk menentukan variabel dependent, penelitian ini hanya berdasarkan anamnesa melalui pertanyaan yang diajukan dalam kuesioner. Untuk pemeriksaan klinis dan penunjang tidak dilakukan.
Anamnesa merupakan dasar penegakan diagnosis, sehingga dengan anamnesa ini dirasakan sudah cukup mewakili dalam menentukan diagnosis awal. Recall period untuk dermatitis tidak dipertimbangkan dalam penelitian ini, dengan asumsi bahwa desain studi adalah cross sectional untuk mendapatkan gambaraan sesaat.
Sedangkan sebagai variabel independent yang diteliti antara lain lama kontak, usia pekerja, masa kerja, jenis kelamin, riwayat penyakit kulit sebelumnya, penggunaan APD, dan personal hygiene. Dengan analisis bivariat dapat dilihat hubungan antara variabel dependent dengan variabel independent menggunakan uji statistik Fisher exact karena expected value <5 pada setiap sel.
Hasil
Berdasarkan hasil dari anamnesis yang ada di dalam kuesioner pada penelitian didapatkan angka kejadian dermatitis kontak akibat kerja seperti yang tertera pada Tabel 1.
Tabel 1. Angka Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja pada Pekerja Pencucian Mobil di Kelurahan Sukarame Bandar Lampung
Variabel Kategori Frekuensi Persentase (%)
Lama Kontak < 5 jam 39 78
> 5 jam 11 22
Usia < 20 tahun 32 64
> 20 tahun 18 36
Jenis Kelamin Laki-Laki 50 100
Perempuan 0 0
Masa Kerja < 1 tahun 37 74
> 1 tahun 13 26
Riwayat Penyakit Kulit Sebelumnya
Memiliki Riwayat 12 24
Tidak Memiliki Riwayat 38 76
Personal Hygiene Baik 10 20
Tidak Baik 40 80
Penggunaan APD Lengkap 18 36
Tidak Lengkap 32 64
Hubungan antara faktor-faktor yang mempengaruhi dengan angka kejadian dermatitis kontak akibat kerja dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hubungan Faktor-Faktor Dengan Kejadian Dermatitis Kontak Akibat Kerja Pada Pekerja Pencuci Mobil Di Kelurahan Sukarame Bandar Lampung.
Dermatitis kontak akibat kerja Total Pvalue Dermatitis Tidak dermatitis
n % n % n %
Lama Kontak
< 5 jam
> 5 jam
4 10,3 3 27,3 7 14 0,017
35 89,7 8 72,7 43 86
Usia
< 20 thn
> 20 thn
23 58,9 9 81,8 32 64 0,287
16 41,1 2 18,2 18 36
Masa Kerja
< 1 thn
> 1 thn
26 66,7 11 100 37 74 0,046
13 33,3 0 0 13 25
Riwayat Penyakit Kulit Sebelumnya Ya
Tidak
7 17,9 5 45,5 12 24 0,105
32 82,1 6 54,5 38 76
Personal Hygiene Baik
Tidak baik
5 34
12,8 87,2
5 6
12,8 54,5
10 40
20 20
0,030
Penggunaan APD Lengkap
Tidak lengkap
8 31
20,5 79,5
10 1
90,9 9,1
18 32
36 64
0,001
Hasil penelitian mengenai hubungan antara lama kontak dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada karyawan pencuci mobil dapat dilihat dari hasil uji statistic didapatkan nilai p-value sebesar 0,017. Kemudian hubungan anatara
personal hygiene dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja
pencuci mobil dapat dilihat dari hasil uji statistik didapatkan nilai p-value sebesar 0,030. Untuk hubungan antara faktor penggunaan APD dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja pencuci mobil dapat dilihat dari hasil uji statistik didapatkan nilai p-value sebesar 0,001. Sedangkan hubungan faktor masa kerja dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja pencuci mobil dapat dilihat dari hasil uji statistik didapatkan nilai p-value sebesar 0,046. Keempat hasil ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara lama kontak dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja karena p<0,05.
Hasil penelitian mengenai hubungan antara faktor tidak langsung (usia) dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja pencuci mobil dengan menggunakan uji statistic fisher exact didapatkan nilai p-value sebesar 0,287 sedangkan hubungan antara riwayat penyakit kulit sebelumnya dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada pekerja pencuci mobil dengan menggunakan uji statistic fisher exact didapatkan nilai p-value sebesar 0,105. Hasil ini menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna karena p>0,05.
Pembahasan
Dermatitis yang terjadi pada pekerja adalah dermatitis kontak akibat kerja.
Dermatitis kontak akibat kerja didefinisikan sebagai penyakit kulit dimana pajanan di tempat kerja merupakan faktor penyebab yang utama serta faktor kontributor. Hasil penelitian menunjukan bahwa 78% dari 50 orang pekerja di bagian pencucian mobil di kelurahan Sukarame Bandar Lampung menderita dermatitis. Hal tersebut sejalan dengan studi epidemiologi di Indonesia yang memperlihatkan bahwa 97% dari 389 kasus adalah dermatitis kontak, dimana 66,3% diantaranya adalah dermatitis kontak iritan dan 33,7% adalah dermatitis alergi (Hudyono, 2002).
Kontak dengan bahan kimia merupakan penyebab terbesar pada kejadian dermatitis akibat kerja. Pekerja di bagian pencucian mobil di kelurahan Sukarame Bandar Lampung berkontak dengan bahan kimia saat melakukan proses pekerjaan.
Bahan kimia tersebut terdapat didalam sabun dan sampo yang digunakan untuk mencuci mobil. Bahan-bahan kimia tersebut berpotensi untuk menimbulkan dermatitis. Bahan kimia yang terkandung dalam sabun umumnya bersifat iritan lemah dan sensitizer, sehingga dapat menyebabkan dermatitis. Terlihat dari 78% pekerja yang menderita dermatitis timbul kelainan kulit setelah berulang kali kontak dengan zat kimia, dengan kelainan kulit berupa, likenifikasi (penebalan kulit), visura (retakan) serta timbul gejala seperti nyeri, panas, kulit kering bahkan tanpa gejala, bercak kemerahan, papula (tonjolan padat), vesikel (tonjolan berisi cairan), endema (bengkak) dan gejala gatal serta kulit seperti bersisik. Lokasi terjadinya dermatitis pada pekerja terdapat pada bagian tangan sela jari dan telapak tangan serta di sela- sela jari dan telapak kaki (Freedberg, 2003)
Kejadian dermatitis pada karyawan pencuci mobil di kelurahan Sukarame Bandar Lampung, terjadi akibat proses kerja yang mengharuskan para pekerja berkontak dengan bahan kimia yang terdapat didalam sabun dalam jangka waktu yang lama serta faktor-faktor lain yang mendukung untuk terjadinya dermatitis pada pekerja.
Lama kontak merupakan jangka waktu pekerja berkontak dengan bahan kimia dalam hitungan jam/hari. Lama kontak setiap pekerja berbeda-beda. Berdasarkan hasil analisis bivariat menunjukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara lama kontak dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja, dengan p-value 0,017.
Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Fatma Lestari (2007) pada pekerja PT. Inti Pantja Press Industri, dimana pada penelitian tersebut didapatkan hasil bahwa adanya hubungan yang bermakna antara lama kontak dengan kejadian dermatitis kontak dengan p-value sebesar 0,003.
Menurut Hudyono (2002), kontak kulit dengan bahan kimia yang bersifat iritan atau alergen secara terus menerus dengan durasi yang lama, akan menyebabkan kerentanan pada pekerja mulai dari tahap ringan sampai tahap berat. Pada penelitian ini menunjukan bahwa pekerja yang mempunyai rata-rata lama kontak dengan bahan
kimia lebih lama cenderung lebih banyak menderita dermatitis kontak akibat kerja, dibandingkan dengan pekerja yang mempunyai rata-rata lama kontak lebih singkat.
Terbukti bahwa lama kontak mempengaruhi kejadian dermatitis kontak akibat kerja.
Usia merupakan salah satu unsur yang tidak dapat dipisahkan dari individu.
Selain itu usia juga merupakan salah satu faktor yang dapat memperparah terjadinya dermatitis (Hayakawa, 2000). Berdasarkan hasil analisis univariat didapatkan hasil sebanyak 64% pekerja memiliki umur < 20 tahun dan 36% dengan usia > 20 tahun.
Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa tidak adanya hubungan yang signifikan antara usia dengan kejadian dermatitis kontak, dengan p-value sebesar 0,287.
Penelitian ini berbanding terbalik dengan penelitian yang dilakukan oleh Febria Suryani (2011) pada pekerja PT. Cosmar Indonesia. Dari hasil uji analisis bivariat menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan p-value 0,008. Menurut Erliana (2008) dalam konteks determinan kejadian dermatitis kontak berdasarkan umur dapat menyerang semua kelompok umur, artinya umur bukan merupakan faktor resiko utama terhadap paparan bahan-bahan penyebab dermatitis kontak.
Masa kerja adalah suatu kurun waktu atau lamanya tenaga kerja itu bekerja di suatu tempat. Masa kerja dalam penelitian ini merupakan jangka waktu pekerja mulai bekerja di bagian pencucian mobil di sampai waktu penelitian. Masa kerja penting diketahui untuk melihat lamanya seseorang telah terpajan dengan bahan kimia (Hudyono, 2002). Berdasarkan data pada Tabel 2 diketahui bahwa distribusi pekerja menurut masa kerja cukup bervariasi, dapat dilihat sebanyak 66,7% pekerja yang bekerja < 1 tahun sudah mengalami dermatitis kontak akibat kerja dan jumlahnya lebih banyak daripada pekerja yang bekerja > 1 tahun.
Dari hasil analisis bivariat, menunjukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara masa kerja dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja, dengan p-value 0,046. Hasil ini tidak sebanding dengan hasil penelitian Trihapsoro (2008) Hal ini bisa disebabkan karena setiap jenis kulit individu memiliki sensitivitas yang
berbeda-beda, serta variabel masa kerja juga memiliki faktor lain seperti berapa kali dia terpapar dalam sehari dan kontak dengan lebih 1 jenis bahan kimia.
Riwayat penyakit kulit dalam penelitian ini merupakan pekerja yang sebelumnya menderita atau memiliki penyakit kulit akibat kerja. Berdasarkan Tabel 2 didapatkan bahwa pekerja yang memiliki riwayat penyakit kulit dan menderita dermatitis kontak sebesar 17,9% sedangkan pekerja yang tidak memiliki riwayat penyakit kulit dan menderita dermatitis kontak sebesar 82.1% dengan uji bivariat didapatkan p-value sebesar 0,105 yang menunjukan tidak ada hubungan yang signifikan antara penyakit kulit sebelumnya dengan kejadian dermatitis kontak akibat kerja. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Anissa (2010) di TPA Cipayung yang menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara riwayat penyakit dengan kejadian dermatitis kontak iritan.
Kebersihan perorangan adalah konsep dasar dari pembersihan, kerapihan dan perawatan badan kita. Sangatlah penting untuk pekerja menjadi sehat dan selamat ditempat kerja. Kebersihan perorangan pekerja dapat mencegah penyebaran kuman dan penyakit, mengurangi paparan pada bahan kimia dan kontaminasi, dan melakukan pencegahan alergi kulit, kondisi kulit dan sensitifitas terhadap bahan kimia.
Hasil analisis bivariat menunjukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara personal hygiene dengan kejadian dermatitis kontak, dengan P-value sebesar 0,030. Hal tersebut sejalan dengan penelitian Metty Carina (2008) pada pekerja pengangkut sampah kota Palembang, yang menunjukkan bahwa ada hubungan hygiene pribadi dengan kejadian dermatitis pada pekerja pengangkut sampah.
Penggunaan APD merupakan salah satu cara untuk mencegah terjadinya dermatitis kontak akibat kerja, karena dengan mengunakan APD dapat terhindar dari kontak langsung dengan bahan kimia yang terkandung di dalam sabun pencuci mobil.
Berdasarkan penelitian terdahulu menunjukan bahwa adanya hubungan yang signifikan antara penggunaan APD dengan kejadian dermatitis kontak. Diantaranya
penelitian yang dilakukan oleh Erliana (2008) pada pekerja percetakan paving blok, menunjukan bahwa pekerja yang tidak menggunakan APD 87,5% menderita dermatitis dibandingkan dengan pekerja yang menggunakan APD hanya 19%.
Simpulan
Dari hasil penelitian diatas didapatkan 78% responden mengalami kejadian dermatitis kontak akibat kerja. Faktor langsung berupa lama kontak dan faktor tidak langsung berupa masa kerja, personal hygiene dan penggunaan APD mempunyai pengaruh pada kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada karyawan pencuci mobil di kelurahan sukarame Bandar lampung. Sedangkan faktor usia dan riwayat penyakit kulit sebelumnya tidak memiliki pengaruh terhadap kejadian dermatitis kontak akibat kerja pada karyawan pencuci mobil di kelurahan sukarame Bandar lampung.
Daftar Pustaka
Carinna M. 2008. Hubungan antara higiene pribadi dengan kejadian dermatitis pada pekerja pengangkut sampah kota palembang tahun 2008. Skripsi mahasiswi fakultas kedokteran universitas sriwijaya. 79-86
Djuanda, A. Hamzah, M. Aisah, S. 2007. Ilmu penyakit kulit dan kelamin. Edisi ke-6. Departemen Ilmu Kedokteran Kulit dan Kelamin FK UI. Jakarta. 129-152
Djunaedi H, Lokananta MD. 2003. Dermatitis Kontak Akibat Kerja, Majalah Kesehatan Masyarakat Indonesia. 31(3). 27-33
Erliana. 2008. Hubungan karakteristik individu dan penggunaan alat pelindung diri dengan kejadian dermatitis kontak pada pekerja paving block CV. F. Lhoksumawe. Skripsi mahasiswi fakultas kesehatan masyarakat universitas sumatera utara. 88-93
Febria S. 2011. Faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak pada pekerja bagian processing dan filling PT. Cosmar Indonesia Tanggerang Selatan tahun 2011. 83-86
Fredberg I.M, et all. 2003. Fitzpatrick’s Dermatology In General Medicine. 6th Ed, McGraw-Hill Professional, New York. 253-379
Hayakawa, R. 2000. Contact Dermatitus. Nagoya J. Medicine. Sciene 63. 83-90. Nagoya
Hudyono J. 2002. Dermatosis akibat kerja. Majalah Kedokteran Indonesia, November 2002. 49(9):
16-23
Kosasih A. 2004. Dermatitis akibat kerja. Bagian ilmu penyakit kulit dan kelamin, Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia. Jakarta. 159-172
Lestari F, Nuraga W, Kurniawidjaja LM. Dermatitis kontak pada pekerja yang terpajan dengan bahan kimia di perusahaan industri otomotif kawasan industri Cibitung Jawa Barat. Makara Kesehatan. 12(2): 63-69
Mausulli A. 2010. Faktor-faktor yang berhubungan dengan dermatitis kontak iritan pada pekerja pengolahan sampah di TPA Cipayung kota Depok tahun 2010. Skripsi Universitas Islam Negeri. 78-83
Orton, D.I, Wilkinson, J.D. 2004. Cosmetic allergy: Incidence, Diagnosis and Management. Am J Clin Dermatol. 5(5): 327-337
Trihapsoro, I. 2003. Dermatitis kontak alergi pada pasien rawat jalan di RSUP H Adam Malik Medan.
Skripsi fakultas kedokteran Universitas sumatera utara. 78-89