• Tidak ada hasil yang ditemukan

32 Nrt Dt Ryzkya Amanda Putri

N/A
N/A
maladaptive official

Academic year: 2025

Membagikan "32 Nrt Dt Ryzkya Amanda Putri"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Title Legal Review of the Availability of Public Green Open Spaces in the City of Pekanbaru

ISSN 2657-182X (Online)

JURNAL REFORMASI

HUKUM TRISAKTI

Volume 6 Nomor 2 Mei 2024

Diterima Maret 2024

Revisi April 2024

Disetujui Mei 2024

Terbit Online Mei 2024

*Email Koresponden:

[email protected] Kata Kunci:

Hukum Penataan Ruang

Kota Pekanbaru

Ruang Terbuka Hijau

● Pemerintah

Pihak Swasta Keywords:

Green Open Spaces

Pekanbaru City

Spatial Planning Law

Government

The Private Sector Ryzkya Amanda Putri1, Meta Indah Budhianti2

Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum, Universitas Trisakti, Jakarta, Indonesia

ABSTRAK

Ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) merupakan suatu kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap daerah, yaitu sebanyak 30% sebagaimana ditegaskan dalam Undang-Undang Penataan Ruang. Mengenai RTH tersebut, ternyata tidak sesuai dengan realitas yang terjadi di Kota Pekanbaru. Dalam penelitian ini menganalisa dua rumusan masalah. Pertama, apakah ketersediaan RTH di Kota Pekanbaru telah sesuai dengan Undang-Undang Penataan Ruang. Kedua, apa kendala dalam pemenuhan ketersediaan RTH dan apa upaya untuk mengatasi kendala tersebut oleh Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru. Penelitian ini mengaplikasikan metode penelitian hukum normatif. Hasil dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa Kota Pekanbaru belum memenuhi ketersediaan RTH sebanyak 30%, dan terjadi kendala karena lahan terbatas, anggaran, dan harga lahan tinggi. Adapun upaya yang dapat dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru adalah bekerjasama dengan investor dan pihak swasta. Kesimpulannya adalah Kota Pekanbaru belum memenuhi standar ketersediaan RTH yang telah diatur dalam undang-undang, karena terdapat kendala dalam pemenuhannya. Kolaborasi dengan investor dan pihak swasta diharapkan dapat mengatasi masalah ini dan meningkatkan RTH untuk kesejahteraan lingkungan dan masyarakat.

ABSTRACT

The availability of green open space (RTH) is an obligation that must be fulfilled by every region, namely 30% as stipulated in the Spatial Planning Law. Regarding this RTH, it turns out that it does not correspond to the reality in the city of Pekanbaru.

Therefore, this research will analyze two main problems. First, whether the availability of RTH in the city of Pekanbaru has complied with the Spatial Planning Law. Second, what are the constraints in fulfilling the availability of RTH and what efforts have been made by the Pekanbaru City Government to overcome these constraints. This research applies normative legal research methods. The results of this study reveal that Pekanbaru City has not met the 30% availability of green open space (RTH), facing obstacles such as limited land, budget constraints, and high land prices. Efforts that can be made by the Pekanbaru City Government include collaborating with investors and the private sector. In conclusion, Pekanbaru City has not met the RTH availability standards set by law due to these challenges. Collaboration with investors and the private sector is expected to address this issue and enhance RTH for the welfare of the environment and the community.

Sitasi artikel ini:

Putri, Budhianti. 2024. Tinjauan Yuridis Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau Publik di Kota Pekanbaru. Vol. 6 Nomor 2 Mei 2024.

Halaman 816-827. Doi: https://doi.org/10.25105/refor.v6i2.19872

(2)

I. PENDAHULUAN

Pada Pasal 33 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945 menyebutkan bahwa sumber daya alam seperti bumi, air, dan kekayaan alam lainnya yang terdapat di dalamnya dikuasai negara dan harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat dengan tujuan mencapai kemakmuran. Hal ini mengimplikasikan bahwa pemanfaatan ruang kota dan pengelolaan infrastruktur haruslah dilakukan dengan memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan masyarakat secara luas, serta tidak boleh mengabaikan hak-hak masyarakat dalam mengakses dan menikmati manfaat dari sumber daya alam tersebut.1

Dalam konteks Pasal 33 ayat (3) tersebut yang menegaskan pengelolaan sumber daya alam untuk mewujudkan kemakmuran dalam masyarakat, maka ketersediaan ruang terbuka hijau (RTH) menjadi sangat penting. Ruang terbuka hijau tidak hanya berperan sebagai sumber keindahan alam dan ekosistem yang penting, tetapi juga menjadi bagian integral dari kesejahteraan rakyat. Kehadiran RTH di tengah kota membawa manfaat yang signifikan. Pertama, ruang terbuka hijau menyediakan tempat untuk rekreasi dan aktivitas fisik, yang berkontribusi pada kesehatan dan kesejahteraan masyarakat. Kedua, sebagai paru-paru kota, ruang terbuka hijau membantu menyediakan udara bersih dan menyerap polusi, sehingga meningkatkan kualitas udara di lingkungan perkotaan. Ketiga, ruang terbuka hijau berperan dalam menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan dan mendukung keanekaragaman hayati, yang memiliki dampak positif pada lingkungan hidup dan mitigasi bencana.2

RTH merupakan area terbuka dalam suatu kawasan perkotaan yang ditumbuhi oleh berbagai jenis flora dan vegetasi. Fungsi utama RTH adalah untuk mendukung berbagai manfaat yang diperoleh langsung maupun tidak langsung di dalam kota tersebut, seperti aspek keamanan, kenyamanan, kesejahteraan, dan estetika wilayah perkotaan. RTH dapat mengambil berbagai bentuk di dalam wilayah perkotaan, masing-masing memiliki peran penting dalam mendukung keberlangsungan lingkungan perkotaan. Bentuk- bentuk dari realisasi RTH dapat berupa taman, area rel kereta, lapangan olahraga, dan lain sebagainya.3

Berdasarkan Pasal 29 ayat (2) Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang, telah memberikan amanat yang jelas terkait alokasi ruang terbuka

1 Asdar Nor, Asas-Asas Hukum Kontemporer (Sukabumi: Jejak Publisher, 2023).

2 Yunus Wahid, Pengantar Hukum Lingkungan, 2nd ed. (Jakarta: Kencana, 2018).

3 Sukanda Husin, Penegakan Hukum Lingkungan, Revisi (Jakarta: Sinar Grafika, 2020).

(3)

hijau (RTH) dalam rencana tata ruang wilayah setiap kota. Amanat ini menyatakan bahwa setiap kota wajib mengalokasikan minimal 30% dari wilayahnya sebagai RTH.

Dari jumlah tersebut, 20% harus dialokasikan untuk RTH publik, sementara 10% lagi diperuntukkan untuk RTH privat, yang dapat berada pada lahan yang dimiliki oleh swasta atau masyarakat.4

Penetapan alokasi ini bertujuan untuk memastikan ketersediaan RTH yang memadai di dalam kota, sehingga masyarakat dapat menikmati manfaatnya dalam mendukung kesehatan, rekreasi, dan kesejahteraan secara umum. Alokasi RTH publik memungkinkan masyarakat untuk memiliki akses yang mudah dan luas terhadap ruang terbuka hijau yang dapat digunakan untuk berbagai kegiatan sosial dan rekreasi.

Sementara itu, alokasi RTH privat memberikan kesempatan bagi swasta atau masyarakat untuk turut serta dalam pengelolaan RTH sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik setempat, dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip keberlanjutan dan pemerataan manfaat bagi masyarakat.

Alokasi RTH dalam rencana tata ruang wilayah setiap kota, seperti yang diamanatkan oleh Undang-Undang Penataan Ruang, memiliki manfaat yang signifikan dari segi lingkungan. Pertama-tama, RTH berperan dalam menjaga keanekaragaman hayati dan ekosistem perkotaan. Area RTH memberikan habitat yang penting bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan, membantu mempertahankan biodiversitas di tengah-tengah lingkungan perkotaan yang padat. RTH juga berfungsi sebagai penyerap polusi udara dan penyaring air. Tumbuhan yang tumbuh di RTH mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, membantu mengurangi polusi udara serta memperbaiki kualitas udara di sekitarnya. Selain itu, vegetasi di RTH juga berperan sebagai penyaring alami untuk air hujan, membantu mengurangi erosi tanah dan memperbaiki kualitas air tanah di sekitarnya. Terakhir, RTH juga memainkan peran penting dalam menjaga suhu udara perkotaan. Pepohonan dan vegetasi di RTH memberikan efek teduh dan mengurangi efek panas perkotaan yang disebabkan oleh material bangunan dan jalan yang menyerap panas. Hal ini membantu menciptakan lingkungan yang lebih nyaman bagi penduduk kota, serta mengurangi kebutuhan akan penggunaan pendingin udara, yang pada gilirannya mengurangi emisi gas rumah kaca.5

4 Muhar Junef, ‘Penegakan Hukum Dalam Rangka Penataan Ruang Guna Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan (Law Enforcement Within The Scope of Spatial Lay-Out for The Purpose Of Sustainable Development)’, Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 17.4 (2017), 373–90 <www.publikasi.unitri.ac.id,>.

5 Ardiansah and Silm Oktapani, “Analisis Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Pekanbaru,” Jispo 9, no. 2 (2019): 276–

96.

(4)

Kota Pekanbaru, dengan luas wilayahnya mencapai 63.226 hektar, seharusnya mempunyai luas RTH setidaknya sebesar 30% dari total luas kotanya. Namun, kenyataannya, luas total RTH di Kota Pekanbaru hanya mencapai 80.582 hektar. Data ini mengindikasikan bahwa ketersediaan RTH di Kota Pekanbaru masih sangat terbatas.

Kota Pekanbaru seharusnya memiliki luas RTH publik sebesar 12.645,2 hektar, namun saat ini hanya sekitar 0,637 persen dari jumlah tersebut yang terpenuhi. Kekurangan luas ruang terbuka hijau ini menunjukkan bahwa prioritas pembangunan di Kota Pekanbaru cenderung lebih mengutamakan aspek fisik daripada pengembangan ruang terbuka hijau, sehingga terjadi ketidakseimbangan antara pertumbuhan infrastruktur fisik dengan pengembangan ruang terbuka hijau.6

Menimbang background case tersebut, maka rumusan masalah penelitian ini adalah berupa apakah ketersediaan RTH di Kota Pekanbaru telah sesuai dengan ketentuan dalam Perda Kota Pekanbaru, dan apa kendala yang terjadi di Kota Pekanbaru dalam pemenuhan ketersediaan RTH dan apa upaya yang dapat diimplementasikan dalam pemenuhan ketersediaan RTH di kota Pekanbaru.

II. METODE PENELITIAN

Penelitian hukum normatif merupakan jenis penelitian yang diterapkan dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan peraturan perundang-undangan. Sehingga secara de jure membenturkan antara law in book dengan law in action. Penelitian ini mengkaji teks peraturan perundang-undangan tertentu dan melihat apa makna yang terkandung di dalamnya serta bagaimana seharusnya penerapannya. Dengan penelitian yang demikian itu, maka akan diperoleh penelitian hukum yang komprehensif sesuai dengan tujuan dari hukum itu sendiri.7

III. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area di dalam kota yang ditujukan untuk area terbuka, seperti taman, lapangan, atau area hijau lainnya, yang berfungsi untuk memberikan ruang rekreasi, menyediakan habitat bagi flora dan fauna, serta membantu

6 Vernanda Yuniar Ulenaung, “Implementasi Penataan Ruang Dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007,” Lex Administratum 7, no. 2 (2019): 63–73, https://doi.org/10.1007/s11273-020-09706-

3%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.jweia.2017.09.008%0Ahttps://doi.org/10.1016/j.energy.2020.117919%0Ahttps://doi.

org/10.1016/j.coldregions.2020.103116%0Ahttp://dx.doi.org/10.1016/j.jweia.2010.12.004%0Ahttp://dx.doi.o.

7 Peter M. Marzuki, Penelitian Hukum, 13th ed. (Jakarta: Kencana, 2017).

(5)

mengurangi dampak negatif lingkungan perkotaan. RTH juga penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan, mengurangi polusi udara, menyediakan ruang penyerapan air hujan, serta meningkatkan kualitas udara dan kehidupan sosial masyarakat di sekitarnya.8

Menurut pasal 1 butir 31 dalam UU Penataan Ruang mengemukakan bahwa RTH merujuk pada area yang memiliki karakteristik panjang atau kelompok, dengan penggunaannya yang lebih cenderung terbuka, tempat tumbuhnya berbagai jenis tanaman, baik alamiah maupun melalui proses tangan manusia. RTH bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap daerah. Hal ini telah diatur secara tegas dalam Undang-Undang Penataan Ruang. Setiap daerah diwajibkan untuk menyediakan RTH sebanyak 30% dari total wilayahnya. Kewajiban ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan lingkungan, memberikan ruang terbuka bagi kegiatan rekreasi, serta meningkatkan kualitas hidup penduduk kota. Dengan memenuhi kewajiban ini, diharapkan setiap daerah dapat menciptakan lingkungan perkotaan yang lebih sehat, hijau, dan berkelanjutan untuk generasi mendatang.9

Berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 1 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mengartikan RTH dalam wilayah perkotaan sebagai area yang lebih banyak digunakan untuk penghijauan dengan tanaman atau tumbuhan alami atau yang dibudidayakan seperti lahan pertanian, taman, kebun, dan sejenisnya. RTH biasanya diperuntukkan untuk meningkatkan vegetasi sebagai salah satu elemen penting dalam suatu kota yang bertujuan untuk memberikan kenyamanan dan keindahan pada lingkungan kota. Kepentingan kenyamanan mencakup fungsi sebagai penyaring kebisingan, penghadang sinar matahari (peneduh), dan penyaring udara. Sedangkan keindahan mencakup penataan tanaman dengan dukungan konstruksi seperti beton, batu alam, dan sebagainya, yang bertujuan untuk mencegah erosi. Penyusunan RTH juga memperhatikan estetika dalam pemenuhannya.10

RTH dapat dibagi menjadi dua kategori utama, yaitu RTH publik dan RTH privat.

RTH publik adalah area terbuka yang dimiliki dan dikelola oleh pemerintah daerah, seperti taman kota, lapangan, dan taman bermain yang tersedia untuk digunakan oleh masyarakat umum. Di sisi lain, RTH privat adalah area terbuka yang dimiliki dan dikelola

8 Anggraini Dwi Lestari et al., “Pemanfaatan Lahan Kosong Dan Sampah Plastik Sebagai Ruang Terbuka Hijau Di Desa Lebo,” Nusantara Community Empowerment Review 1, no. 2 (2023): 95–100, https://doi.org/10.55732/ncer.v1i2.979.

9 Ulenaung, “Implementasi Penataan Ruang Dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Menurut Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007.”

10 Ulenaung.

(6)

oleh individu, perusahaan, atau lembaga swasta, seperti taman perumahan, taman industri, atau taman kantor yang biasanya hanya tersedia untuk pengguna internal atau penduduk tertentu. Kedua jenis RTH memiliki peran penting dalam memberikan manfaat lingkungan dan kesejahteraan bagi masyarakat, meskipun dengan pendekatan dan tujuan yang berbeda.11

RTH memiliki peran yang sangat penting dalam penataan ruang perkotaan yang berkelanjutan. RTH tidak hanya menjadi elemen estetika, tetapi juga berdampak kepada peningkatan kesejahteraan hidup dalam masyarakat dan lingkungan perkotaan secara keseluruhan. Salah satu faktor yang mendukung pentingnya RTH adalah kontribusinya dalam menjaga keseimbangan ekosistem perkotaan. RTH berperan sebagai paru-paru kota yang menyediakan udara bersih dan menyerap polusi udara. Tanaman dan vegetasi di RTH mampu menyerap karbon dioksida dan menghasilkan oksigen, membantu mengurangi tingkat polusi udara yang dihasilkan oleh aktivitas perkotaan seperti kendaraan bermotor dan industri. Dengan demikian, keberadaan RTH membantu menjaga kualitas udara di dalam kota dan mengurangi risiko terjadinya masalah kesehatan akibat polusi udara.12

Dalam konteks asas penataan ruang, yaitu keterpaduan, keserasian, keselarasan, dan keseimbangan, RTH memainkan peran penting sebagai elemen yang mendukung pencapaian asas-asas tersebut sebagaimana disebutkan dalam Pasal 2 UU Penataan Ruang. Penyediaan RTH yang terpadu, serasi, dan seimbang dalam struktur perkotaan tidak hanya menciptakan lingkungan yang nyaman dan estetis, tetapi juga mendukung keberlanjutan lingkungan perkotaan secara keseluruhan. Melalui RTH, prinsip-prinsip keberlanjutan, keberdayagunaan, keterbukaan, dan perlindungan kepentingan umum dalam penataan ruang dapat diwujudkan dengan lebih baik. Selain itu, RTH juga mencerminkan aspek kebersamaan dan kemitraan dalam pengelolaan ruang perkotaan.

Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta dalam pengembangan dan pengelolaan RTH menjadi penting untuk memastikan keberhasilan dan keberlanjutan pengelolaan ruang terbuka hijau tersebut.13

Sebagai ibu kota Provinsi Riau, Kota Pekanbaru memegang peranan penting dalam memelihara keseimbangan lingkungan dan kesejahteraan masyarakatnya. Satu diantara

11 Refiana Adista Riyanto and Rahayu Subekti, “Implementasi Kebijakan Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Kabupaten Purbalingga,” Jurnal Pacta Sunt Servanda 4 (2023): 156–68, https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/JPSS.

12 Dadang Mashur and Zaili Rusli, “Upaya Dan Implikasi Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (Rth),” Jurnal Kebijakan Publik 9, no. 1 (2018): 45, https://doi.org/10.31258/jkp.9.1.p.45-52.

13 Husin, Penegakan Hukum Lingkungan.

(7)

beberapa cara untuk mewujudkan hal tersebut adalah dengan berupaya mewujudkan ketersediaan RTH yang memadai. RTH publik di Kota Pekanbaru tidak hanya berfungsi sebagai ruang terbuka untuk menjaga keberagaman ekosistem, tetapi juga sebagai tempat rekreasi dan relaksasi bagi warga setempat.

Taman Kebun Binatang Pekanbaru menjadi salah satu RTH yang populer di kota ini. Selain menjadi tempat konservasi dan edukasi tentang satwa liar, taman ini juga menjadi destinasi wisata bagi keluarga dan pengunjung yang ingin menikmati keindahan alam serta belajar mengenai keanekaragaman hayati. Taman Alam Mayang adalah area konservasi alam yang berfungsi sebagai paru-paru kota Pekanbaru. Dengan ragam flora dan fauna yang terjaga, taman ini tidak hanya menjadi tempat berolahraga dan rekreasi, tetapi juga menyediakan lingkungan yang sejuk dan menyegarkan bagi warga kota.

Taman Bandar Pekanbaru merupakan RTH yang dilengkapi dengan berbagai fasilitas publik seperti jogging track, area bermain anak, dan taman bunga. Taman ini menjadi tempat berkumpulnya masyarakat untuk beraktivitas olahraga dan sosial. Taman Cendrawasih adalah taman yang memiliki nilai sejarah dan kebudayaan tinggi. Selain menjadi ruang terbuka hijau, taman ini juga sering digunakan untuk acara budaya dan seni, sehingga menjadi pusat kegiatan sosial dan seni di Kota Pekanbaru. Taman Budaya Riau juga memiliki peran yang penting dalam mempromosikan dan melestarikan budaya daerah. Dengan adanya pertunjukan seni dan budaya yang rutin diadakan di taman ini, masyarakat dapat lebih memahami dan mengapresiasi kekayaan budaya daerah mereka. RTH yang terdapat di kompleks perumahan tidak hanya menjadi sarana rekreasi bagi penghuni perumahan, tetapi juga memperindah lingkungan sekitar dan meningkatkan kualitas hidup penghuninya. Dengan adanya RTH di dalam kompleks perumahan, penghuni dapat menjalankan aktivitas rekreasi dan menjaga kebersamaan dengan tetangga secara lebih intens.14

Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau di Kota Pekanbaru

Menurut Undang-Undang Penataan Ruang, setiap daerah diwajibkan untuk menyediakan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebesar 30% dari total luas wilayahnya.

Kewajiban ini bertujuan untuk mengamankan dan melestarikan lingkungan hidup perkotaan serta meningkatkan kualitas hidup penduduk. Dengan menjaga proporsi yang telah ditetapkan, diharapkan setiap daerah dapat menghadirkan ruang-ruang terbuka

14 Ardiansah and Oktapani, “Analisis Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Pekanbaru.”

(8)

yang memadai bagi kegiatan rekreasi, penyerapan air, serta peningkatan keberlanjutan ekologis perkotaan. Ketersediaan RTH yang memadai juga dapat membantu mengurangi dampak negatif perkotaan seperti polusi udara dan banjir, sambil memberikan manfaat positif bagi kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan.

Setelah mempertimbangkan luas total wilayah Kota Pekanbaru sekitar 63,226 hektar, seharusnya kota ini mengalokasikan minimal 30 persen dari luasnya sebagai RTH. Dengan demikian, luas RTH publik yang seharusnya ada di Kota Pekanbaru mencapai 12.645,2 hektar. Padahal, apabila menelaah mengenai RTH publik privat, maka seharusnya untuk RTH publicsebanyak 20%. Di Kota Pekanbaru, ketersediaan RTH publik saat ini hanya mencapai sekitar 0,637 persen dari target yang seharusnya mencapai 20%. Kondisi ini menunjukkan ketidaksesuaian yang signifikan dengan standar yang telah ditetapkan. Keterbatasan RTH publik ini menjadi perhatian serius karena berpotensi menghambat upaya untuk menciptakan lingkungan perkotaan yang sehat dan berkelanjutan. Langkah-langkah perbaikan yang cepat dan efektif mungkin diperlukan untuk meningkatkan ketersediaan RTH publik dan memenuhi kewajiban yang telah ditetapkan oleh undang-undang.15

Mengukur proporsi RTH publik dalam suatu wilayah membutuhkan pendekatan yang sistematis dan tepat. Tahapan yang diperlukan untuk melakukan pengukuran proporsi RTH publik dalam suatu wilayah termasuk identifikasi wilayah, kemudian menetapkan definisi RTH sesuai dengan kriteria yang telah diregulasikan, seperti taman kota, area rekreasi, lapangan olahraga, taman lingkungan, area hijau di sepanjang jalan, dan lain sebagainya. Selanjutnya, pengumpulan data spasial tentang wilayah kota dilakukan dengan memanfaatkan peta, citra satelit, atau sumber data geospasial lainnya. Informasi ini dapat diperoleh dari lembaga pemerintah, lembaga penelitian, atau sumber data geospasial yang terpercaya. Pengukuran proporsi ruang terbuka hijau publik ini dapat memberikan kontribusi yang signifikan dalam membantu pemerintah dan pihak terkait lainnya dalam mengambil keputusan terkait perencanaan wilayah, pelestarian lingkungan, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat secara keseluruhan.

Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru belum sepenuhnya mengimplementasikan amanat dari Undang-Undang Penataan Ruang mengenai RTH, di mana seharusnya 30%

dari total luas wilayah, dengan 20% untuk RTH publik. Saat ini, RTH di Kota Pekanbaru hanya mencapai 10%, menunjukkan kesenjangan yang signifikan dari target yang

15 Ardiansah and Oktapani.

(9)

ditetapkan. Kondisi ini menyoroti perlunya tindakan yang lebih proaktif dan efektif dari pemerintah daerah untuk memperbaiki ketersediaan RTH, sehingga dapat mencapai standar yang telah diatur dalam undang-undang.

Kendala dan Upaya Pemerintah Daerah Kota Pekanbaru dalam Pemenuhan Ketersediaan Ruang Terbuka Hijau

Pasal 35 Undang-Undang Penataan Ruang mengatur mengenai pengendalian penataan ruang. Pasal ini menjelaskan bahwa tujuan dari pengawasan RTH adalah untuk memastikan bahwa penggunaan ruang dilakukan sesuai dengan rencana tata ruang yang telah ditetapkan. Ketentuan ini menekankan perlunya pengendalian pemanfaatan ruang secara teratur dan sesuai dengan rencana tata ruang yang telah diregulasikan. Tujuan dari pengendalian ini adalah untuk mencegah atau mengurangi dampak negatif dari pembangunan dan penggunaan lahan yang tidak terencana, serta untuk memastikan pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan.16

Hambatan finansial dan keterbatasan sumber daya manusia dapat menghambat proses pengembangan dan pemeliharaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Proses pembangunan dan pemeliharaan RTH membutuhkan alokasi dana yang cukup serta tenaga kerja yang terampil. Selain itu, adanya permintaan akan lahan untuk keperluan pembangunan infrastruktur, perumahan, industri, atau kegiatan komersial lainnya dapat mengakibatkan konversi lahan yang sebelumnya direncanakan sebagai RTH menjadi wilayah yang digunakan untuk tujuan lain. Untuk mengatasi kekurangan jumlah RTH, diperlukan kerja sama antara pemerintah, masyarakat, dan sektor swasta untuk menjaga dan mengembangkan RTH. Penerapan regulasi yang ketat, perencanaan kota yang berkelanjutan, peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya RTH, dan alokasi anggaran yang memadai adalah langkah-langkah kunci yang dibuthkan untuk memenuhi passing grade dalam undang-undang penataan ruang.17

Regulasi yang mengatur penataan ruang di Kota Pekanbaru secara lebih rinci dapat ditemukan dalam Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2020 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pekanbaru Tahun 2020-2040. Dokumen ini memberikan detail tentang rencana tata ruang wilayah provinsi, kota, dan khususnya Kota Pekanbaru. Peraturan daerah ini juga memberikan panduan dan ketentuan terkait penggunaan lahan serta

16 Mashur and Rusli, “Upaya Dan Implikasi Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (Rth).”

17 Ardiansah and Oktapani, “Analisis Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Pekanbaru.”

(10)

perkembangan wilayah di suatu kota atau daerah. Tujuan dari rencana tata ruang wilayah ini adalah pengaturan pembangunan dan pertumbuhan wilayah secara terencana dan berkelanjutan. Meskipun demikian, Pasal 4 dari Peraturan Daerah No 7 Tahun 2020 ini yang menyatakan tujuan penataan ruang untuk menciptakan RTH yang bersih, nyaman, aman, environment oriented, dan berkelanjutan untuk pusat pendidikan, perdagangan, dan kebudayaan. Namun, hal tersebut masih belum diimplementasikan sepenuhnya oleh pemerintah Kota Pekanbaru. Hal ini tercermin dari komentar Edward yang menyatakan bahwa RTH di Kota Pekanbaru seharusnya dilengkapi dengan lebih banyak fasilitas untuk mengatasi kondisi cuaca yang panas.18

Pemenuhan ketersediaan RTH di Kota Pekanbaru menghadapi sejumlah kendala yang signifikan. Pertama-tama, minimnya lahan yang dapat dialokasikan sebagai RTH menjadi salah satu hambatan utama. Dengan pertumbuhan perkotaan yang pesat, lahan yang tersedia untuk pengembangan RTH semakin terbatas. Selain itu, kendala anggaran yang terbatas juga menjadi faktor penting. Pemerintah Kota Pekanbaru mungkin menghadapi keterbatasan dalam alokasi anggaran untuk mengembangkan dan memelihara RTH yang ada. Selain itu, harga lahan yang semakin mahal juga menjadi tantangan serius. Dalam situasi di mana harga lahan terus meningkat, sulit bagi pemerintah untuk memperluas atau mengakuisisi lahan baru untuk RTH tanpa menghadapi tekanan finansial yang besar. Kombinasi dari ketiga kendala ini menggambarkan kompleksitas tantangan yang dihadapi dalam upaya memenuhi ketersediaan RTH di Kota Pekanbaru. Solusi yang holistik dan kreatif mungkin diperlukan untuk mengatasi kendala-kendala tersebut.19

Untuk mengatasi kendala dalam pemenuhan ketersediaan RTH di Kota Pekanbaru, pemerintah dapat melakukan berbagai upaya kolaboratif, termasuk bekerja sama dengan investor dan pihak swasta. Kolaborasi semacam ini bisa menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi keterbatasan lahan dan anggaran yang sering menjadi hambatan dalam pembangunan dan pemeliharaan RTH. Dengan melibatkan investor dan pihak swasta, pemerintah dapat memanfaatkan sumber daya dan expertise tambahan untuk mengembangkan RTH yang lebih luas dan berkualitas. Investor mungkin tertarik untuk berinvestasi dalam proyek-proyek pembangunan RTH yang berkelanjutan, sementara pihak swasta bisa memberikan kontribusi dalam bentuk

18 Ulenaung, “Implementasi Penataan Ruang Dalam Peraturan Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Menurut Undang- Undang Nomor 26 Tahun 2007.”

19 Ardiansah and Oktapani, “Analisis Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Pekanbaru.”

(11)

dukungan finansial atau teknis. Melalui kerjasama yang sinergis antara sektor publik dan swasta, diharapkan pembangunan dan pemeliharaan RTH di Kota Pekanbaru dapat dipercepat dan ditingkatkan, sehingga masyarakat dapat menikmati manfaatnya secara maksimal.

IV. KESIMPULAN

Secara keseluruhan, Kota Pekanbaru belum memenuhi target 30% ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sesuai Undang-Undang Penataan Ruang. Kendala yang dihadapi, seperti minimnya lahan, keterbatasan anggaran, dan harga lahan yang mahal, menjadi tantangan serius dalam pemenuhan ketersediaan RTH. Namun, terdapat solusi potensial melalui upaya kolaboratif dengan investor dan pihak swasta. Dengan kerjasama ini, diharapkan Kota Pekanbaru dapat mengatasi kendala tersebut dan meningkatkan ketersediaan RTH untuk kesejahteraan dan keberlanjutan lingkungan serta kehidupan masyarakat secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA

Ardiansah, and Silm Oktapani. 2019. Analisis Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Kota Pekanbaru. Jispo, 9 (2), 276–96.

Husin, Sukanda. 2020. Penegakan Hukum Lingkungan. Revisi. Jakarta: Sinar Grafika.

Junef, Muhar. 2017. Penegakan Hukum dalam Rangka Penataan Ruang Guna Mewujudkan Pembangunan Berkelanjutan (Law Enforcement Within The Scope of Spatial Lay-Out for The Purpose Of Sustainable Development). Jurnal Penelitian Hukum De Jure, 17 (4), 373–90. www.publikasi.unitri.ac.id.

Lestari, Anggraini Dwi, Ayu Lucy Larassaty, Rizka Amalia Widyani, Mochammad Julianto Ikhsyan, and Ria Ayu Setyorini. 2023. Pemanfaatan Lahan Kosong Dan Sampah Plastik Sebagai Ruang Terbuka Hijau Di Desa Lebo. Nusantara Community Empowerment Review, 1 (2), 95–100. https://doi.org/10.55732/ncer.v1i2.979.

Marzuki, Peter M. 2017. Penelitian Hukum. 13th ed. Jakarta: Kencana.

Mashur, Dadang, and Zaili Rusli. 2018. Upaya Dan Implikasi Penyediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Jurnal Kebijakan Publik, 9 (1), 45-52. https://doi.org/10.31258/jkp.

Nor, Asdar. 2023. Asas-Asas Hukum Kontemporer. Sukabumi: Jejak Publisher.

Riyanto, Refiana Adista, and Rahayu Subekti. 2023. Implementasi Kebijakan Penataan Ruang Terbuka Hijau Di Kabupaten Purbalingga. Jurnal Pacta Sunt Servanda, 4, 156–68. https://ejournal2.undiksha.ac.id/index.php/JPSS.

Ulenaung, Vernanda Yuniar. 2019. Implementasi Penataan Ruang Dalam Peraturan

(12)

Daerah Rencana Tata Ruang Wilayah Menurut Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Lex Administratum, 7 (2), 63–73.

Wahid, Yunus. 2018. Pengantar Hukum Lingkungan. 2nd ed. Jakarta: Kencana.

Referensi

Dokumen terkait

Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Denpasar sudah mencapai 38.5 persen artinya melebihi dari ketentuan minimal proporsi ruang terbuka hijau pada wilayah kota yaitu 30 persen. RTH di Kota

Penetapan Fungsi Dan Kesesuaian Vegetasi Pada Taman Publik Sebagai Ruang Terbuka Hijau (Rth) Di Kota Pekalongan (Studi Kasus: Taman Monumen 45 Kota

Tujuan penelitian mengenai Implementasi Peraturan Daerah Kota Semarang Nomor 7 Tahun 2010 tentang Penataan Ruang Terbuka Hijau Area Taman Di Kecamatan Tembalang

Skripsi yang berjudul Evaluasi Ruang Terbuka Hijau(RTH) Taman Kota Dan Jalur Hijau Jalan Di Kecamatan Nganjuk, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur disusun sebagai salah

Berdasarkan observasi awal melalui wawancara dengan pengunjung yang berada di sekitar kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Taman Kota Tengah, Taman Rekreasi Damai,

ALUR PEMIKIRAN DALAM MEWUJUDKAN RTH SEBAGAI UNSUR UTAMA PEMBENTUK KOTA TAMAN RTH Ruang Terbuka Hijau kota adalah sepenggal alam yang masih tersisa atau sengaja disisakan guna

Penyediaan Hutan Kota dan Taman Kota sebagai Ruang Terbuka Hijau RTH Publik Menurut Preferensi Masyarakat di Kawasan Pusat Kota Tangerang.. Discovering the Vernacular

Penetapan Fungsi dan Kesesuaian Vegetasi Pada Taman Publik Sebagai Ruang Terbuka Hijau RTH di Kota Pekalongan.. Jurnal Teknik