• Tidak ada hasil yang ditemukan

412eb54dd83723f517e831783815feb6 (1)

N/A
N/A
Risma Basa Uli Situngkir

Academic year: 2025

Membagikan "412eb54dd83723f517e831783815feb6 (1)"

Copied!
23
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Prosedur Pemeriksaan Perkara Pidana Menurut Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981

Sebagai negara hukum, maka telah diterima prinsip bahwa semua tindakan baik yang dilakukan secara pribadi maupun kelompok, termasuk lembaga dan pemerintah harus tunduk pada aturan hukum yang berlaku. Hal mana terkait dengan prinsip asas legalitas yang menjadi dasar berlakunya suatu ketentuan hukum. Asas legalitas dalam penegakan hukum memang dianggap sebagai dasar yang kuat, karena dengan asas tersebut pemerintah, inklusif lembaga penegak hukum tidak boleh bertindak sewenang-wenang.1

Sebagai pencerminan dari dianutnya asas tersebut, maka dalam proses peradilan pidana, dikenal beberapa asas hukum acara pidana yang menjadi dasar dapat tidaknya seseorang diperiksa jika disangka atau diduga telah melakukan suatu tindak pidana. Dari asas-asas tersebut, terdapat 3 (tiga) asas penting sebagai dasar penegakan hukum pidana, yakni2

1. Asas legalitas, di mana asas inidimaknai sebagai “tidak ada suatu perbuatan yang dapat dipidana tanpa ada peraturan yang mengaturnya (nullum delictum nulla poena sine lege poenali). Namun, dalam hukum acara pidana, asas legalitas memiliki makna setiap Penuntut Umum wajib segera mungkin menuntut setiap perkara. Artinya, asas legalitas lebih dimaknai setiap perkara hanya dapat diproses di pengadilan setelah ada tuntutan dan gugatan terhadapnya. Sedangkan penyimpangan terhadap asas ini dikenal dengan asas oportunitas yang berarti bahwa demi kepentingan umum, Jaksa Agung dapat mengesampingkan penuntutan perkara pidana.

1Eddy Hiaerij,, Asas Legalitas dan Penemuan Hukum Dalam Hukum Pidana, Erlangga, Jakarta, 2020, hal. 34

2Yahya Harahap, Pembahasan Permasalahan dan Penerapan KUHAP, Penyidikan dan Penuntutan, Edisi kedua, Sinar Grafika, Jakarta, 2003, hal. 15

(2)

2. Asas diferensiasi fungsional, di mana asas ini pada hakikatnya menegaskan bahwa setiap aparat penegak hukum dalam sistem peradilan pidana memiliki tugas dan fungsinya sendiri yang terpisah antara satu dengan yang lain;

3. Asas lex scripta, yakni asas ini yang berarti hukum acara pidana yang mengatur proses beracara dengan segala kewenangan yang ada harus tertulis. Selain itu, asas ini juga mengajarkan bahwa aturan dalam hukum acara pidana harus ditafsirkan secara ketat.

Untuk memperkuat pelaksanaan penegakan hukum pidana yang difungsionalkan dengan hukum acara pidana, maka KUHAP merumuskan asas-asas hukum sebagai filter dan dasar penegakan hukum sehingga dalam prakteknya ke depan tidak diperkenankan ada penyimpangan, baik secara prosedural maupun secara substansi. Hal ini beralasan, karena tujuan hukum pidana sebagaimana dikemukakan Radbruch, adalah (a) kepastian hukum; (b) keadilan dan (c) kemanfaatan hukum.3 Adapun kesepuluh asas hukum tersebut antara lain :

1. Asas peradilan yang cepat, sederhana dan biaya ringan;

2. Asas praduga tak bersalah (presumption of inonccen);

3. Asas oportunitas;

4. Asas pemeriksaan terbuka untuk umum;

5. Asas perlakuan setiap orang yang sama didepan hukum (equality berfore the law)

6. Asas peradilan dilakukan oleh hakim karena jabatannya dan tetap;

7. Asas batuan hukum bagi tersangka/terdakwa dalam proses peradilan;

8. Asas akusator atau perlakuan seseoang sebagai subjek dan bukan objek;

9. Asas pemeriksaan hakim secara langsung dan bersifat lisan;

10. Asas pemberian ganti rugi dan rehabilitasi bila salah tangkap tahan dan salah tuntut (remedy and rehabilitation)

Kesepuluh asas hukum acara ini selanjutnya menjadi dasar dalam penegakkan hukum pidana sesuai tata cara dan prosedur yang diatur dalam KUHAP serta peraturan pelaksana lainnya yang berlaku dilingkungan kerja

3Radbruch di dalam Satjipto Rajardjo, Ilmu Hukum, Citra Adytia, Bandung, 2000, 237

(3)

para aparat penegak hukum masing-masing dan digerakan oleh sebuah system yang disebut dengan sistem peradilan pidana terpadu atau integrated criminal justice system.4

Bekerjanya sistem peradilan pidana terpadu ini didasarkan pada prosedur design yakni hukum acara pidana (KUHAP) yang dikonstruksikan secara bertahap, sebagaimana diatur dalam KUHAP yang mengenal 2 (dua) tahapan pemeriksaan perkara pidana, yakni :5

a. Pemeriksaan pendahuluan, dan b. Pemeriksaan pengadilan.

Pada tahapan pemeriksaan pendahuluan, dilakukan beberapa tindakan hukum berupa :

a. Proses penyelidikan dan penyidikan guna membuat terang tindak pidana yang terjadi dan menemukan pelaku, dan;

b. Proses pra penuntutan, yang merupakan penyempurnaan berkas perkara antara Jaksa dengan penyidik.

Pada tahap pemeriksaan pendahuluan ini, seringkali tindakan dan upaya hukum yang dilakukan aparat penegak hukum tidak prosedural, sehingga sering menimbulkan mall procedur atau penyimpangan prosedur saat melakukan tindakan hukum sesuai tatacara dan prosedur pemeriksaan perkara yang telah diatur dalam KUHAP dan regulasi pelengkap lainnya yang dibuat dimasing- masing instansi.

4Romli Atmasasmita, Sistem Peradilan Pidana, Perspektif Eksistensialisme dan Abolisionieme, Binacipta, Bandung, 1996.

5Djoko Prakoso, Alat Bukti Dan Kekuatan Pembuktian Didalam Proses Pidana, Liberty Yogyakarta, 1988, hal. 29

(4)

Pada tahap pemeriksaan pendahuluan, yakni berupa penyelidikan dan penyidikan, penyelidik maupun penyidik berusaha untuk menemukan minimal 2 (dua) alat bukti, dan dengan alat bukti tersebut kemudian dibuat terang tindak pidana yang diduga dilakukan dan kemudian menemukan tersangka.6 Jika telah ditemukan 2 (dua) alat bukti dan menemukan tersangkanya, maka selanjutnya dibuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) perkara dengan berbagai lampiran surat-surat sebagai bagian dari kebutuhan administrasi peradilan.

Tindak lanjut dari dibuatnya BAP maka dilakukan koordinasi antara penyidik dengan Jaksa dengan maksud untuk membuat terang BAP tersebut, mengingat dasar pembuatan atau penyusunan dakwaan JPU adalah BAP yang dibuat penyidik.7 Oleh sebab itu, jika BAP belum sempurna seringkali terjadi bolak-balik perkara (P19) hingga perkaranya menjadi lengkap (P21). Hal mana diatur di dalam Keputusan Jaksa Agung RI Nomor 518/A/J.A/11/2001 tanggal 21 Nopember 2001 tentang Perubahan Atas Keputusan Jaksa Agung RI Nomor 132/JA/11/1994 tentang Administrasi Perkara Pidana.

Pemeriksaan di depan pengadilan terhadap suatu perkara (pidana) merupakan kelanjutan dari tahap penyidikan dan penuntutan dalam criminal justice system. Tahap ini di mulai sejak pengadilan menerima pelimpahan berkas perkara dari penuntut umum sampai dengan keputusan hakim yang berkekuatan hukum tetap terhadap perkara pidana dimaksud.

6Andi Hamzah., Pengantar Hukum Acara Pidana Indonesia, Sinar Grafika, Jakarta, 1982, hal. 53

7Lilik Mulyadi,, Kompilasi Hukum Pidana Dalam Perspektif Teoritis dan Praktik Peraduilan, Mandar Maju, Bandung, 2010, hal 79

(5)

Dalam tahap ini diatur ketentuan-ketentuan prosedur, urut-urutan tindakan atau kegiatan, tugas dan hak serta wewenang pihak-pihak yang terlibat, seperti penuntut umum, hakim, advokat (penasehat hukum), terdakwa, maupun saksi-saksi dan lain-lain. Tujuannya adalah dalam rangka tujuan hukum itu sendiri, yaitu kepastian hukum, kemanfaatan hukum dan keadilan, dengan dasar-dasar dan prinsip-prinsip kejujuran dan kebenaran.

Pengadilan merupakan tempat terpenting dan menentukan pada nasib terdakwa, yang merupakan tempat untuk pembelaan dirinya dan tempat untuk meminta keadilan yang sejujur-jujurnya, oleh karena itu mejadi dambaan bagi setiap pencari keadilan, maka bagi terdakwa diberi hak untuk didampingi oleh advokat guna melakukan pembelaan atas dirinya.

Setelah melewati pemeriksaan pada tahap pendahuluan yang ditandai dengan siapnya penyusunan Surat Dakwaan sebagaimana persyaratan dalam Pasal 143 ayat (2) KUHAP yakni memuat syarat formil dan syarat materiil, maka selanjutnya perkara yang telah siap ini ditingkatkan ke pemeriksaan di Pengadilan, yang antara lain berisikan proses pembuktian terhadap saksi-saksi, termasuk saksi ahli jika diperlukan serta alat bukti lainnya sesuai isi BAP. Pada pemeriksaan perkara di pengadilan, terdapat tiga jenis acara pemeriksaan, yakni :8

1. Acara pemeriksaan biasa 2. Acara pemeriksaan singkat 3. Acara pemeriksaan cepat

8Soejono Dirdjosiworo, Hukum Acara Pidana dan Penjelasan serta Praktek Penerapannya, Alumin, Bandung, 1983, hal 123,

(6)

Adapun ketiga jenis acara pemeriksaan perkara pidana dipengadilan tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :

1. Acara Pemeriksaan Biasa

KUHAP tidak menentukan batasan pengertian tentang perkara- perkara apa saja yang diperiksa dengan acara pemeriksaan biasa, namun demikian dapat diterangkan bahwa acara pemeriksaan biasa adalah semua perkara diluar perkara yang diperiksa dengan acara pemeriksaan singkat dan acara pemeriksaan cepat.9 Umumnya acara yang diperiksa dalam acara pemeriksaan biasa adalah perkara yang sulit pembuktiannya serta penerapan hukumnya. Oleh sebab itu, dalam acara pemeriksaan biasa, terdapat tahapan-tahapan yang diatur, yakni :

a. Tahap pendahuluan, dimana pada tahapan ini pemeriksaan perkara dimulai dengan ditunjuknya hakim ketua dan hakim anggota yang akan memeriksa perkara setelah mendapatkan perkara yang diajukan danatau didaftarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) ke pengadilan oleh Ketua Pengadilan Negeri (KPN) setempat. Tugas yang diberikan Ketua PN antara lain, calon Majelis Hakim yang ditunjuk itu wajib mempelajari dan mendalami serta menentukan apakah surat dakwaan yang didaftaran itu telah memenuhi syarat-syarat formil dan syarat materiel (Pasal 143 ayat (2) KUHAP).Jika dakwaan itu dianggap layak, maka Majelis Hakim akan berkoordinasi dengan JPU untuk menentukan waktusiding dan hari

9Wirjono Prodjodikoro, Hukum Acara Pidana di Indonesia, Alumni, Bandung, 1982, hal. 124

(7)

sidang serta memerintahkan kepada JPU supaya memanggil terdakwa dan saksi untuk datang ke pengadilan sesuai hari sidang yang ditetapkan.

b. Pembukaan sidang

Pada hari yang ditentukan didalam penetapan hari sidang (tapsid), maka Hakim Ketua (HK) membuka sidang dan menyatakan terbuka untuk umum, kecuali untuk perkara asusila dan perkara yang terdakwanya anak, sidang dinyatakan tertutup untuk umum. Kemudian terdakwa dipanggil masuk ke ruang sidang melalui penuntut umum.

c. Pembacaan surat dakwaan

Setelah HK menanyakan mengenai kesehatan terdakwa, identitas, dan memberikan penjelasan pada terdakwa perihal apa yang harus diperhatikan dan dilakukan selama sidang, serta menanyakan ada tidaknya penasihat hukum (advokat) mendampingi terdakwa, barulah penuntut umum membacakan surat dakwaan. Setelah itu HK menanyakan kepada terdakwa apakah sudah benar-benar mengerti tentang dakwaan.

d. Eksepsi

Setelah pembacaan dan penjelasan terhadap surat dakwaan oleh JPU, maka terdakwa atau Penasihat Hukum (advokat) dapat mengajukan keberatan (eksepsi) tentang apakah pengadilan yang memeriksa perkara tidak berwenang memeriksa perkara tersebut atau dakwaan tidak dapat diterima atau surat dakwaan harus dibatalkan (pasal 156 ayat (1) KUHAP). Setelah terdakwa/PH mengajukan eksepsi, maka HK

(8)

kemudian mempersilahkan JPU memberikan tanggapan atau pendapatnya (dapat secara tertulis maupun secara lisan), di mana hakim mempertimbangkan eksepsi terdakwa atau penasihat hukum (PH) secara seimbang dengan tanggapan penuntut umum, selanjutnya mengambil keputusan, apakah menerima atau menolak eksepsi (Pasal 156 ayat (1) KUHAP).

e. Pemeriksaan

Secara umum yang disebutkan dengan pemeriksaan perkara didepan pengadilan adalah dimulai sejak hakim membuka persidangan. Namun demikian pemeriksaan dalam arti sempit atau secara teknis adalah sejak hakim mulai mengajukan pertanyaan guna mendapatkan keterangan mengenai apa yang dirasakan, dilihat dan dialami, baik dimulai pada terdakwa maupun saksi, sehingga keterangan-keterangan tersebut ditambah dengan alat bukti yang lain hakim memperoleh keyakinan bahwa telah terjadi tindak pidana dan terdakwa adalah pelakunya. Pada umumnya pertanyaan yang diajukan adalah kepada terdakwa terlebih dahulu, lalu para saksi dan saksi ahli. Selesai perosesjawab-menjawab, baik antara hakim, JPU maupun penasihat hukum dengan terdakwa, saksi-saksi serta pemeriksaan barang bukti, maka Majelis Hakim menyatakan terdakwa “terbukti bersalah dan meyakinkan”, yang selanjunya diberikan kesempatan kepada JPU untuk membacakan tuntutan pidana (requisitoir). Setelah pembacaan tuntutan, maka oleh HK Sidang memberi waktu kepada terdakwa maupun penasihat hukum untuk

(9)

mengajukan pledooi, yang ditanggapi (replik) atas pledooi oleh JPU, dan selanjutnya duplik, hingga akhirnya HK menganggap pemeriksaan sudah cukup, karena itu Majelis Hakim beranggapan bahwa pemeriksaan selesai.

Setelah HK menyatakan pemeriksaan dinyatakan selesai, maka HK menyatakan persidangan selesai dan menunda persidangan, dengan menyatakan tunda sesuai dengan waktu yang dibutuhkan oleh majelis hakim untuk musyawarah dalam mengambil keputusan.

f. Putusan

Sebelum menjatuhkan putusan, Majelis Hakim mempertimbangkan fakta-fakta persidangan atas perbuatan yang dilakukan terdakwa, selanjutnya menetapkan hukumnyasesuai fakta-fakta tersebut yang dengan menggunakan penafsiran dapat ditentukan terdakwa dipidana atau tidak, bagaimana bentuk pidananya. Putusan hakim dalam perkara pidana berdasarkan Pasal 191 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) KUHAP terdiri dari tiga macam, yakni :

g. Putusan bebas dari segala dakwaan (vrijspraak)

Hal ini didasarkan bahwa kesalahan terdakwa atas perbuatan yang didakwakan kepadanya tidak terbukti secara sah dan meyakinkan (Pasal 191 huruf b KUHAP)

1) Putusan lepas dari segala tuntutan hukum (onsslag van alle rechtsvervolging). Putusan ini dijatuhkan bila perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa terbukti, tetapi menurut pertimbangan hakim perbuatan itu tidak merupakan suatu tindak pidana (Pasal 191 ayat (2) KUHAP)

(10)

2) Putusan pemidanaan (verordeling). Putusan yang dijatuhkan apabila tindakan yang didakwakan telah terbukti secara sah dan meyakinkan hakim dan terdakwalah bersalah melakukannya.

2. Acara Pemeriksaan Singkat

Pasal 203 ayat (1) KUHAP antara lain menegaskan bahwa yang diperiksa menurut acara pemeriksaan singkat adalah perkara yang berupa kejahatan atau pelanggaran yang menurut penuntut umum pembuktian dan penerapan hukum mudah, serta sifatnya sederhana.

3. Acara Pemeriksaan Cepat

Perkara yang diperiksa dalam acara pemeriksaan cepat terdiri dari tindak pidana ringan yang diancamdengan pidana penjara atau kurungan paling lama tiga bulan atau denda sebanyak-banyaknya tujuh ribu lima ratus rupiah dan penghinaan ringan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 315 KUHP. Selain perkara tindak pidana ringan juga perkara pelanggaran lalu lintas.

B. Kedudukan Hukum Acara Pidana Diluar KUHAP

Pada masa pemerintahan Kolonial Belanda, adanya perubahan perundang-undangan di negeri Belanda yang berdasarkan asas konkordansi diberlakukan pula di Hindia Belanda (Indonesia) pada tanggal 1 Mei 1848.

Sejak masa itu, Indonesia mengenal beberapa kodifikasi peraturan hukum acara pidana yang terus berlaku hingga saat ini, seperti, 10

10http://acarapidana.bphn.go.id/sekilas-hukum-acara-pidana/ diakses pada tanggal 26 Januari 2019 Lihat pula Mardjono Reksodipuro, Perenungan Perjalanan Reformasi Hukum, Perpustakaan Nasional RI : Katalog Dalam Terbitan, Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia, Jakarta, 2013

(11)

1. Reglement op de rechterlijke organisatie (RO. Stb 1847-23 jo Stb 1848-57) yang mengatur mengenai susunan organisasi kehakiman; Inladsch reglement (IR Stb 1848 Nomor 16) yang mengatur tentang hukum acara pidana dan perdata di persidangan bagi mereka yang tergolong penduduk Indonesia dan Timur Asing;

2. Reglement op de strafvordering (Stb. 1849 nomor 63) yang mengatur ketentuan hukum acara pidana bagi golongan penduduk Eropa dan yang dipersamakan; Landgerechtsreglement (Stb 1914 Nomor 317 jo Stb. 1917 Nomor 323) mengatur acara di depan pengadilan dan mengadili perkara- perkara sumir untuk semua golongan penduduk.

3. Ordonansi-ordonansi untuk daearah luar Jawa dan Madura yang diatur secara terpisah. Dalam perkembangannya ketentuan “Inlandsch Reglement”

diperbaharui menjadi “Het Herzien Inlandsch Reglement” (HIR), yang mendapat persetujuan Volksraad pada tahun 1941. HIR ini memuat reorganisasi atas penuntutan dan pembaharuan peraturan undang-undang mengenai pemeriksaan pendahuluan. Dengan hadirnya HIR ini, muncullah Lembaga Penuntut Umum (Openbare Ministrie) yang tidak lagi dibawah Pamongpraja, akan tetapi langsung berada dibawah Officer van Justitie dan Procucuer General. Pada pendudukan Jepang pada umumnya tidak terjadi perubahan yang fundamental kecuali hapusnya Raad van Justitie sebagai pengadilan untuk golongan Eropa. Dengan demikian acara pidanapun tidak berubah.

4. HIR dan Reglement voor de Buitengewesten serta Landgerechtreglment berlaku untuk Pengadilan Negeri, Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Agung.11

5. Undang-Undang Darurat Nomor 1 Drt tahun 1951 yang memuat hukum acara pidana sipil terhadap penuntut umum semua pengadilan negeri dan pengadilan tinggi, masih berpedoman pada HIR dengan perubahan dan tambahan.

6. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang UndangUndang Hukum Acara Pidana (KUHAP), segala peraturan yang sebelumnya berlaku dinyatakan dicabut. KUHAP yang disebut-sebut sebagai “karya agung”

bangsa Indonesia merupakan suatu unifikasi hukum yang diharapkan dapat memberikan suatu dimensi perlindungan hak asasi manusia dan keseimbangannya dengan kepentingan umum. Dengan terciptanya KUHAP, maka untuk pertama kalinya di Indonesia diadakan kodifikasi dan unifikasi yang lengkap. Dalam arti, seluruh proses pidana dari awal (mencari kebenaran) penyelidikan sampai pada kasasi dan peninjauan kembali di Mahkamah Agung.

Pada masa kemerdekaan, tepatnya masa pemeritahan orde baru Pemerintah kemudian mengeluarkan KUHAP sebagaikarya bangsa Indonesia

11Andi Hamzah, Op. Cit., hal. 56

(12)

karena mampu membuat suatu hukum acara menggantikan HIR yang dianggap tidak objektif dalam pemeriksan perkara pidana. Jadi dengan KUHAP, maka untuk pertama kalinya di Indonesia diadakan kodifikasi dan unifikasi yang lengkap dalam arti seluruh proses pidana dari awal (mencari kebenaran) sampai pada Kasasi di Mahkamah Agung, bahkan sampai dengan peninjauan kembali (herziening).

Simons menjelaskan bahwa hukum acara pidana disebut juga hukum pidana formal yang mengatur tentang bagaimana negara melalui alat-alatnya melaksanakan haknya untuk memidanakan dan menjatuhkan pidana. KUHAP tidak memberikan definisi tentang hukum acara pidana, tetapi bagian- bagiannya seperti penyidikan, penuntutan, mengadili, pra peradilan, upaya hukum, penyitaan, penangkapan, dan lain-lainnya diberi definisi secara jelas dalam KUHAP.12

Menurut J. M. Van Bemmelen, Ilmu Hukum Acara Pidana mempelajari serangkaian peraturan yang diciptakan oleh negara, dalam hal adanya dugaan dilanggarnya Undang-Undang Pidana, :13

1. Negara menyidik kebenaran adanya dugaan pelanggaran.

2. Sedapat mungkin menyidik pelakunya.

3. Melakukan tindakan agar pelakunya dapat ditangkap dan kalau perlu ditahan.

4. Alat-alat bukti yang diperoleh dari hasil penyidikan dilimpahkan kepada hakim dan dihadapkan terdakwa ke depan hakim tersebut.

5. Menyerahkan kepada hakim agar diambil putusan tentang terbukti tidaknya perbuatan yang didakwakan kepada terdakwa dan tindakan atau hukuman apakah yang akan diambil atau dijatuhkan.

6. Menentukan upaya hukum guna melawan putusan tersebut.

12Ibid,hal 4.

13Lilik Mulyadi, Hukum Acara Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001, hal. 102

(13)

7. Melaksanakan putusan tentang pidana atau tindakan untuk dilaksanakan.

Dalam hubungan itu, maka menurut S. M. Amin, hukum acara pidana adalah kumpulan ketentuan-ketentuan dengan tujuan memberikan pedoman dalam usaha mencari kebenaran dan keadilan, bila terjadi perkosaan atas sesuatu ketentuan hukum dalam hukum material, berarti memberikan kepada Hukum Acara ini, suatu hubungan yang meng”abdi” terhadap Hukum Material.14 Dengan kata lain Hukum Acara Pidana meliputi aturan-aturan yang menetapkan bagaimana negara dengan perantara alat-alat perlengkapannya melaksanakan haknya untuk mengenakan pidana. Hukum Acara Pidana ini merupakan aturan-aturan yang menjadi dasar bagi penegak hukum untuk melaksanakan Hukum Pidana Materiil.

Dalam pedoman pelaksanaan KUHAP yang dikeluarkan Menteri Kehakiman antara lain dijelaskan bahwa :

Tujuan hukum acara pidana yaitu untuk mencari dan mendapatkan atau setidak-tidaknya mendekati kebenaran materiil, ialah kebenaran yang selengkap-lengkapnya dari suatu perkara pidana dengan menerapkan ketentuan hukum acara pidana secara jujur dan tepat dengan tujuan untuk mencari siapakah pelaku yang dapat didakwakan melakukan suatu pelanggaran hukum, dan selanjutnya meminta pemeriksaan dan putusan pengadilan guna menemukan apakah terbukti bahwa suatu tindak pidana telah dilakukan dan apakah orang yang didakwa itu dapat dipersalahkan, sehingga dalam hal mencari kebenaran yang dimaksud kebenaran disini adalah kebenaran materiil.

Selain itu Van Bemmelen juga mengemukakan tiga fungsi hukum acara pidana, yaitu sebagai berikut:15

14S. M. Amin, Hukum Acara Pengadilan Negeri, Pradnja Paramita, Jakarta, 1971, hal.

15

15Ibid,hal 9.

(14)

1. Mencari dan menemukan kebenaran.

2. Pemberian keputusan oleh hakim.

3. Pelaksanaan keputusan.

Dengan ketiga fungsi d iatas, maka yang paling penting dan menjadi tumpuan kedua fungsi berikutnya menurut Van Bemmelen adalah “mencari kebenaran”. Setelah menemukan kebenaran yang diperoleh melalui alat bukti dan barang bukti itulah, kemudian hakim akan sampai pada sebuah putusan, karena fungsi yang pertama itu sangat penting, maka definisi hukum acara pidana yang tidak menyebut fungsi yang pertama tentang mencari kebenaran sebagai suatu kekurangan, misalnya dalam rumusan De Bosch Kemper, bahwa hukum acara pidana adalah keseluruhan asas-asas dan peraturan perundang- undangan mengenai mana saja negara yang menjalankan hak-haknya karena terjadi pelanggaran KUHAP, kelihatan kurang lengkap.16

Dalam perkembangannya ada juga hukum acara diluar KUHAP yang diatur dalam hukum pidana materiel. Hukum pidana materiel selain mengatur perbuatan-perbuatan yang dilarang dan diancam pidana juga mengatur hukum acara pidana tersendiri diluar dari KUHAP.

Fenomena pengaturan hukum acara pidana diatur diluar merupakan sebuah tuntutan dalam perkembangan hukum pidana di Indonesia, dan hal itu tentu dianggap wajar dan objektif, asalkan pengaturannya tetap dalam koridor asas dan aturan normatif sebagaimana aturan induknya.

16Ibid,hal 10.

(15)

Kedudukan hukum acara pidana khusus berawal ketika dikeluarkan Undang Undang Nomor 7 Drt Tahun 1955 tentang Pengusutan. Penuntutan dan Peradilan Tindak Pidana Ekonomi, yang kemudian diikuti dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dengan beberapa perubahan di dalamnya hingga Undang Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 31 Tahun 1999 tenteng Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Perkembangan berikutnya adalah bahwa kemudian pada beberapa undang-undang baik undang undang pidana khusus (special penal law), juga undang-undang pidana administrasi (administrasi penal law). Keberadaannya semua diperdebatkan, mengingat pengaturan acara secara khusus dalam hukum acara di dalam beberapa peraturan perundang-undang sering mengganggu proses jalannya peradilan, namun karena sifat tindak pidana atau kejahatan yang terjadi termasuk korban, maka pengaturan tersebut kemudian diterima, dengan prinsip bahwa asas lex specialis derogate, legi generali meruapan asas penyeimbanga antara hukum acara yang bersifat umum (generalis) dengan hukum acara pidana bersifat khusus (specialis).17

Beberapa hal yang dapat dikemukakan dan dirasakan mengganggu proses penegakan hukum adalah pengaturan kewenangan penyidikan, penuntutan hingga pemeriksan perkara disidang pengadilan berdasarkan UU Perikanan, sedangkan KUHAP hanya sebagai hukum acara yang mengisi

17Ruslan Renggong, Hukum Pidana Khusus, Kencana, Jakarta, 2016, hal. 4

(16)

kekurangan yang tidak diatur dalam UU Perikanan. Karena itu proses berpengaruh pada tujuan penyelenggaraan peradilan itu.

C. Tindak Pidana Perikanan Dalam Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Jo. Undang-Undang Nomor 45 Thun 2009

Dilihat dari jenisnya, tindak pidana itu ada yang dirumuskan dalam KUHP sebagai tindak pidana umum, ada yang dirumuskan secara khusus dan merupakan bagian dari hukum pidana atau disebut tindak pidana khusus, dan ada yang dirumuskan di dalam hukum administratif, yakni yang disebut dengan hukum pidana administratif.18

Pengaturan tindak pidana perikanan sebagai tindak pidana administratif pada hakikatnya sama dengan perumusan tindak pidana pada umumnya, yakni ada unsur subjektif, unsur objektif dan unsur tambahan sebagaimana tindak pidana lainnya. Terhadap tindak pidana perikanan, maka di dalamliteratur hukum perikanan, istilah tindak pidana perikanan atau yang sering disebut dengan IUU -fishing dikategorikan dalam tiga kelompok, yakni19

1. Illegal fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan secara illegal di perairan wilayah atau ZEE suatu negara, atau tidak memiliki ijin dari negara tersebut;

2. Unregulated fishing yaitu kegiatan penangkapan di perairan wilayah atau ZEE suatu negara yang tidak mematuhi aturan yang berlaku di negara tersebut; dan

3. Unreported fishing yaitu kegiatan penangkapan ikan di perairan wilayah atau ZEE suatu negara yang tidak dilaporkan baik operasionalnya maupun data kapal dan hasil tangkapannya.

18J.D. Pasalbessy, Peradilan Perikanan Dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana Di Indonesia, Disertasi pada Fakultas Hukum Universitas Airlangga Surabaya, 2016.

19Murdiyanto B., Pengelolaan Perikanan Pantai, Proyek Pembangunan Masyarakat Pantai dan Pengelolaan Sumberdaya Perikanan, IPB, Bogor, 2004, hal. 180 dst Diakses darisumber : http://mukhtar-api.blogspot.com/2013/07/aspek-hukum-penanganan-tindak- pidana.html, Senin, 20 Oktober 2014

(17)

Tindak pidana perikanan atau IUU Fishing ini adalah penangkapan ikan yang dilakukan secara illegal karena tidak sesuai aturan yang berlaku.

Oleh sasaran atau adrees dari tindak pidana itu sering dikaitkan dengan akibat yang terjadi, yakni berupa kerugian yang timbul dari perbuatan yang dilakukan.

Fauzi menambahkan bahwa,20

Akibat perbuatan illegal dibidang perikanan, dikenal istilah overfishing, yang artinya ada sejumlah ikan yang ditangkap melebih jumlah yang dibutuhkan untuk mempertahankan stock ikan dalam suatu daerah atau wilayah tertentu, sementara masih banyaknya kapal-kapal asing maupun domestik yang secara illegal beroperasi, dan melakukan penangkapan di wilayah perairan nusantara, bahkan terkadang melakukan overship dilaut bebas.

Terhadap hal demikian, maka dapat dikatakan bahwa dampak dari IUU Fishing adalah selain timbul kerugian juga tergolong perbuatan melanggar hukum.

Adapun rumusan tindak pidana perikanan sebagaimana diatur dalam UU Perikanan antara lain :

a. Tindak pidana terhadap penggunaan bahan-bahan berbahaya atau yang dapat membahayakan kelestarian sumberdaya ikan dan lingkungan, sebagaimana diatur dalam Pasal 84 UU No. 31/2004 :

(1) Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.200.000.000,00 (satu miliar dua ratus juta rupiah). (Pasal 84 ayat (1));

(2) Nakhoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan, dan anak buah kapal yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan

20Fauzi, Fauzi, Kebijakan Perikanan dan Kelautan, Isu, Sintesis, dan Gagasan, Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2005, hal. 28

(18)

perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp1.200.000.000,00 (satu miliar dua ratus juta rupiah). (Pasl 84 ayat (2))

(3) Pemilik kapal perikanan, pemilik perusahaan perikanan,penanggung jawab perusahaan perikanan, dan/atau operator kapal perikanan yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan usaha penangkapan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). (Pasal 84 ayat (3))

(4) Pemilik perusahaan pembudidayaan ikan, kuasa pemilik perusahaan pembudidayaan ikan, dan/atau penanggung jawab perusahaan pembudidayaan ikan yang dengan sengaja melakukan usaha pembudidayaan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara, dan/atau bangunan yang dapat merugikan dan/atau membahayakan kelestarian sumber daya ikan dan/atau lingkungannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). (Pasal 84 ayat (4))

b. Tindak pidana yang menggunakan alat penangkap ikan atau alat bantu penangkakan ikan yang mengganggu dan atau merusak sumberdaya ikan sebagaimana Pasal 85 UU No. 31/2004,

Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan ikan dan/atau alat bantu penangkapan ikan yang berada di kapal penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan ukuran yang ditetapkan, alat penangkapan ikan yang tidak sesuai dengan persyaratan, atau standar yang ditetapkan untuk tipe alat tertentu dan/atau alat penangkapan ikan yang dilarang dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima)tahun dan denda paling banyak Rp.

2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). (Pasal 85)

c. Tindak pidana yang berkaitan dengan pencemaran/kerusakan sumber daya ikan/lingkungan sebagaimana Pasal 86 ayat (1) UU No. 31/2004

(19)

(1) Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan perbuatan yang mengakibatkan pencemaran dan/atau kerusakan sumber daya ikan dan/atau lingkungannya dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). (Pasal 86 ayat (1))

d. Tindak pidana tentang pembudidayaan ikan sebagaimana Pasal 86 ayat (2), (3) dan (4) UU No. 31/2004 :

(2) Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesiamembudidayakan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/atau lingkungan sumber daya ikan, dan/atau kesehatan manusia dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). (Pasal 86 ayat (2))

(3) Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesiamembudidayakan ikan hasil rekayasa genetika yang dapat membahayakan sumber daya ikan, dan/atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusiadipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). (Pasal 86 ayat (3))

(4) Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia menggunakan obat-obatan dalam pembudidayaan ikan yang dapat membahayakan sumber daya ikan dan/atau lingkungan sumber daya ikan dan/atau kesehatan manusiadipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). (Pasal 86 ayat (4))

e. Tindak pidana yang berhubungan dengan perusakan plasma nutfah sebagaimana Pasal 87 UU No. 31/2004, yakni :

(1) Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia merusak plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (Pasal 87 ayat (1))

(2) Setiap orang yang karena kelalaiannya di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia mengakibatkan rusaknya plasma nutfah yang berkaitan dengan sumber daya ikan dipidana dengan

(20)

pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (Pasal 87 ayat (2)) f. Tindak pidana yang berkaitan dengan pegelolaan perikanan yang merugikan

masyarakat sebagaimana Pasal 88 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang yang dengan sengaja memasukkan, mengeluarkan mengadakan, mengedarkan, dan/atau memelihara ikan yang merugikan masyarakat, pembudidayaan ikan, sumber daya ikan, dan atau lingkungan sumberdaya ikan ke dalam dan/atau ke luar wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). (Pasal 88) g. Tindak pidana yang berkaitan dengan pengelolaan ikan yang kurang atau

tidak memenuhi syarat kelayakan,sebagaimana Pasal 89 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang yang melakukan penanganan dan pengolahan ikan yang tidak memenuhi dan tidak menerapkan persyaratan kelayakan pengolahan ikan, sistem jaminan mutu, dan keamanan hasil perikanan dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). (Pasal 89) h. Tindak pidana yang berhubungan dengan pemasukan atau pengeluaran hasil

perikanan dari dan ke wilayah negera RI tanpa dilengkapi sertifikasi kesehatan sebagaimana Pasal 90 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang yang dengan sengaja melakukan pemasukan atau pengeluaran ikan dan/atau hasil perikanan dari dan/atau ke wilayah Republik Indonesia yang tidak dilengkapi sertifikat kesehatan untuk konsumsi manusia dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). (Pasal 90)

i. Tindak pidana yang berkaitan dengan penggunanan bahan atau alat yang membahayakan manusia dalam melaksanakan pengolahan ikan sebagaimana Pasal 91 UU No. 31/2004, yakni :

(21)

Setiap orang yang dengan sengaja menggunakan bahan baku, bahan tambahan makanan, bahan penolong, dan/atau alat yang membahayakan kesehatan manusia dan/atau lingkungan dalam melaksanakan penanganan dan pengolahan ikan dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).(Pasal 91) j. Tindak pidana yang berkaitan dengan usaha perikanan tanpa SIUP

sebagaimanaPasal 92 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan usaha perikanan di bidang penangkapan, pembudidayaan, pengangkutan, pengolahan, dan pemasaran ikan, yang tidak memiliki SIUP dipidana dengan pidana penjara paling lama 8 (delapan) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). (Pasal 92)

k. Tindak Pidana penangkapan ikan tanpa memiliki SIPI sebagaimana Pasal 93 UU No. 31/2004, yakni :

(1) Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkap ikan berbendera Indonesia melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dan/atau di Taut lepas, yang tidak memiliki SIPI dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah). (Pasal 93 ayat (1))

(2) Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal penangkapan ikan berbendera asing melakukan penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia, yang tidak memiliki SIPI dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp20.000.000.000,00 (dua puluh miliar rupiah). (Pasal 93 ayat (2))

l. Tindak pidana pengangkutan ikan tanpa memiliki SIKPI, sebagaimana Pasal 94 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang yang memiliki dan/atau mengoperasikan kapal pengangkut ikan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang melakukan pengangkutan ikan atau kegiatan yang terkait yang tidak memiliki SIKPI dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah). (Pasal 94)

(22)

m. Tindak pidana membangun, mengimpor, memodifikasi kapal perikanan tanpa izin dalam Pasal 95 UU No. 31 Tahun 2004, yakni :

Setiap orang yang membangun, mengimpor, atau memodifikasi kapal perikanan yang tidak mendapat persetujuan terlebih dahulu dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah). (Pasal 95)

n. Tindak pidana tidak melakukan pendaftaran kapal perikanan sebagaimana Pasal 96 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang yang mengoperasikan kapal perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang tidak mendaftarkan kapak perikanannya sebagai kapal perikanan Indonesia dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah). (Pasal 96)

o. Tindak pidana pengoperasian kapal perikanan asing oleh nakhoda sebagaimana Pasal 97 UU No. 31/2004, yakni :

(1) Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkapan ikan berbendera asing yang tidak memiliki izin penangkapan ikan, yang selama ini berada di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia tidak menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah). (Pasal 97 ayat (1))

(2) Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkapan ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan dengan 1 (satu) jenis alat penangkapan ikan tertentu pada bagian tertentu di ZEEI yang membawa alat penangkapan ikan lainnya dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). (Pasal 97 ayat (2))

(3) Nakhoda yang mengoperasikan kapal penangkapan ikan berbendera asing yang telah memiliki izin penangkapan ikan, yang tidak menyimpan alat penangkapan ikan di dalam palka selama berada di luar daerah penangkapan ikan yang diizinkan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

(Pasal 97 ayat (3))

p. Tindak pidana tanpa memiliki surat persetujuan berlayar sebagaimana Pasal 98 UU No. 31/2004, yakni :

(23)

Nakhoda yang berlayar tidak memiliki surat izin berlayar kapal perikanan yang dikeluarkan oleh syahbandar dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). (Pasal 98)

q. Tindak pidana melakukan penelitian tanpa izin pemerintah sebagaimana Pasal 99 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang asing yang melakukan penelitian perikanan di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia yang tidak memiliki izin dari Pemerintah dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

(Pasal 99)

r. Tindak pidana melakukan usaha pengelolaan perikanan yang tidak memenuhi ketentuan yang ditetapkan Undang Undang Perikanan, sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 100 UU No. 31/2004, yakni :

Setiap orang yang melanggar ketentuan yang ditetapkan dalam Pasal 7 ayat (2) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah). (Pasal 100)

Referensi

Dokumen terkait

perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan ikan dengan menggunakan bahan kimia, bahan biologis, bahan peledak, alat dan/atau cara,

bahwa penggunaan alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan pada jalur penangkapan ikan di wilayah pengelolaan perikanan Negara Republik Indonesia sebagaimana diatur

PER.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik

Lalu Pasal 5 ayat (1) memberikan pembagian bahwa yang termasuk dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia untuk penangkapan ikan dan/atau pembudidayaan

(2) Nakhoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkapan ikan, dan anak buah kapal yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan

Nakhoda atau pemimpin kapal perikanan, ahli penangkap ikan, dan anak buah kapal yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia melakukan penangkapan

Setiap orang yang dengan sengaja di wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia memiliki, menguasai, membawa, dan/atau menggunakan alat penangkapan ikan dan/atau alat bantu

PER.02/MEN/2011 tentang Jalur Penangkapan Ikan dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik