PENOMERAN (STATIONING/STA) JALAN
DR. I MADE AGUS ARIAWAN, ST., MT.
PENOMORAN (STASIONING/STA) JALAN
Penomoran (Thp Perencanaan dan Pelaksanaan) memberikan nomor pada interval-interval tertentu dari awal pekerjaan,
Sarana komunikasi untuk dengan cepat mengenal dengan tepat lokasi yang sedang dibicarakan,
Menjadi panduan untuk lokasi suatu tempat,
Informasi tentang panjang jalan secara keseluruhan,
Setiap STA dilengkapi dengan penampang melintang jalan,
STA JALAN
Nomor jalan atau Sta jalan ini sama fungsinya dengan patok km di sepanjang jalan
PTK KM JALAN
CONTROL POINT DAN BENCH MARK
BM = 22 CP = 22
Existing Road
PATOK KM JALAN
Patok KM, patok permanen dipasang dengan ukuran standar yang berlaku.
Patok Km petunjuk yang diukur dari patok Km.0+000 yang umumnya terletak di
Ibu Kota Propinsi atau Kota Madya
PATOK STA DAN PATOK KM JALAN
NOMOR JALAN (STA) PATOK KM
• Patok STA merupakan petunjuk jalan yang diukur dari awal pekerjaan (proyek) sampai dengan akhir pekerjaan.
• Patok Km petunjuk yang diukur dari patok Km.0.00 yang umumnya terletak di Ibu Kota Propinsi atau Kota Madya
• Patok STA merupakan patok sementara selama masa pelaksanaan ruas jalan.
• Patok km berupa patok permanen dipasang dengan ukuran standar yang berlaku.
METODE PENOMERAN STA
Sta jalan dimulai dari 0+000 m yang berarti 0 km dan 0 m dari awal pekerjaan
Sta 10+250 berarti lokasi jalan terletak pada jarak 10 km dan 250 meter dari awal pekerjaan
Jika tidak terjadi perubahan arah tangen pada al. horizontal, al. vertikal, maka penomoran dilakukan :
1. setiap 100 m pada medan datar
2. Setiap 50 m pada medan bukit
3. Setiap 25 m pada medan pegunungan
PENOMERAN PADA TIKUNGAN
Pada tikungan penomoran dilakukan pada setiap titik penting (Sta titik TC, dan Sta titik CT pada
tikungan jenis lingkaran sederhana. Sta titik TS, Sta titik SC, Sta titik CS. Dan STA titik ST pada tikungan jenis spiral-busur lingkaran, dan spriral.
PEDOMAN UMUM PERENCANAAN ALINYEMEN
HORISONTAL
Pedoman Umum
Perencanaan Lengkung Horizontal
• Pada perencanaan alinyemen horizontal jalan, tak cukup hanya bagian Alinyemen saja yang memenuhi syarat, tetapi keseluruhan bagian haruslah memberikan kesan aman dan nyaman.
• Lengkung yang terlampau tajam, kombinasi lengkung yang tak baik akan mengurangi kapasitas jalan, dan kenyamanan serta keamanan pemakaian jalan.
• Alinyemen jalan sedapat mungkin dibuat lurus & mengikuti keadaan topografi.
• Pada alinyemen jalan yang relatif lurus dan panjang, jangan tiba-tiba terdapat lengkung yang tajam yang akan mengejutkan pengemudi.
• Sedapat mungkin menghindari penggunaan radius minimum untuk rencana kecepatan
tertentu (memudahkan penyesuaian alinyemen di kemudian hari)
Sedapat mungkin menghindari tikungan ganda. Hindarkanlah sedapat mungkin lengkung yang terbalik dengan mendadak.
Pada sudut-sudut tikungan yang kecil, panjang lengkung sering kali tidak cukup panjang (memberi kesan patah). Sudut tikungan 5°, panjang
lengkung sebaiknya dibuat > 150 m dan setiap penurunan sudut lengkung l°, panjang lengkung ditambah 25 m
Sebaiknya hindarkan lengkung yang tajam pada timbunan yang tinggi
(stabilitas timbunan lemah).
PEDOMAN UMUM PERENCANAAN ALINYEMEN HORISONTAL
Sedapat mungkin menghindari tikungan ganda, yaitu gabungan tikungan searah dengan jiri-jari yang berlainan. Tikungan ganda ini memberikan rasa ketidak nyamanan sipengernudi.
Tikungan ganda umumnya terpaksa dibuat untuk
penyesuaian dengan keadaan medan sekeliling, sehingga pekerjaan tanah dapat seefisien mungkin.
TIKUNGAN GANDA BERBALIK ARAH
Hindarkanlah sedapat mungkin lengkung yang berbalik mendadak. Pengemudi kendaraan sangat sukar mempertahankan kendaraan pada lajur jalannya dan juga kesukaran dalam pelaksanaan kemiringan melintang jalan.