PENDAHULUAN
Rumusan masalah
Deskripsi hasil belajar bahasa Indonesia (pre-test) siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe sebelum diterapkan model pembelajaran role play. Deskripsi hasil belajar (post-test) bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe setelah diterapkan model pembelajaran role play. Jadi dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran role play berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe Kabupaten Maros.
Tujuan pembelajaran
Manfaat penelitian
Artinya penerapan model pembelajaran role play dapat mempengaruhi hasil belajar siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe Kabupaten Maros. Rendahnya hasil belajar siswa sebelum diterapkan model pembelajaran role play disebabkan oleh kurangnya minat belajar siswa. Hasil belajar bahasa Indonesia (pre-test) siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe sebelum diterapkan model pembelajaran role play tidak memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar klasikal, yaitu hanya 18,18% siswa yang tuntas. <75%.
KAJIAN PUSTAKA
Penelitian yang relevan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil belajar meningkatkan keterampilan berbicara bahasa Indonesia siswa IV. kelas di MI Miftahul Huda Kecamatan Marakurak Kabupaten Tuban dengan menggunakan metode pembelajaran role play tahun ajaran 2013/2014 pada siklus I diperoleh data yang menunjukkan hasil tes evaluasi. Dalam II. siklus, diperoleh data hasil tes evaluasi siswa yang mencapai KKM 70 (lulus) sebanyak 15 siswa dan yang mencapai KKM (gagal) 2 siswa, serta tingkat keberhasilan klasikal sebesar 88%. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan keterampilan berbicara siswa pada kelas I. dan II.
Pembelajaran Bahasa Indonesia
Sedangkan bahasa Indonesia merupakan alat komunikasi yang menjadi salah satu ciri khas bangsa Indonesia dan digunakan sebagai bahasa nasional. Namun bahasa Indonesia juga merupakan mata pelajaran yang wajib kita pelajari dan harus diselaraskan dengan ilmu-ilmu lainnya. Dalam mata pelajaran bahasa Indonesia banyak sekali materi yang perlu dipelajari seperti konstruksi kalimat, tata bahasa dan lain sebagainya.
Keterampilan menyimak
Keterampilan menyimak merupakan bagian yang sangat penting dalam keterampilan berbahasa karena keterampilan menyimak merupakan landasan dalam menguasai suatu bahasa. Mendengarkan merupakan salah satu keterampilan berbahasa diantara empat keterampilan berbahasa lainnya seperti menulis, membaca, dan berbicara. Oleh karena itu, keterampilan menyimak merupakan bagian yang penting dan tidak dapat diabaikan dalam pembelajaran bahasa, apalagi jika tujuan pelaksanaannya adalah penguasaan keterampilan berbahasa secara utuh.
Model Pembelajaran Role Playing
Model pembelajaran role play merupakan salah satu proses belajar mengajar yang tergolong model simulasi. Sosiodrama menekankan pada masalah sosial, sedangkan psikodrama menekankan pada pengaruh psikologisnya; dan 3) Role play atau bermain peran, yaitu model yang bertujuan untuk memberikan ilustrasi. Beberapa keuntungan penggunaan model pembelajaran role-playing dalam pembelajaran antara lain: ketika dilakukan role-playing, siswa dapat bertindak dan mengungkapkan perasaan dan pendapatnya tanpa khawatir akan mendapat hukuman; mereka juga dapat mereduksi dan mendiskusikan masalah kemanusiaan dan pribadi tanpa rasa cemas; bermain peran memungkinkan siswa mengidentifikasi situasi nyata dan melalui gagasan orang lain;.
Terakhir, model pembelajaran role play merupakan salah satu teknik komunikasi yang mengembangkan kelancaran siswa, mendorong interaksi di kelas, meningkatkan motivasi siswa, dan membantu siswa memperhatikan isi teks dialog. Permainan peran menggunakan cerita dan real estat, misalnya memainkan peran sebagai penjaga toko bersama pelanggannya. Dalam model pembelajaran role-playing, pemain diminta memainkan peran tertentu dan menyajikan “role play” serta melaksanakannya.
Role-playing hendaknya mengungkapkan suatu permasalahan atau kondisi nyata, yang akan dijadikan bahan pembahasan atau pembahasan materi tertentu. Menerapkan permainan peran di kelas dapat menambah variasi, perubahan dan peluang produksi bahasa serta memberikan banyak kesenangan. Namun, sang guru tidak yakin dengan keberhasilan permainan peran tersebut, sehingga ia jatuh ke dalam keinginannya.
Penerapan model pembelajaran role play pada pembelajaran teks dialog akan memudahkan siswa dalam memahami isi, penafsiran yang logis, ketepatan dalam menangkap isi, ketahanan konsentrasi, ketepatan dalam menangkap dan lain sebagainya.
Kerangka Pikir
Selain itu proses pembelajaran berbicara menjadi lebih menyenangkan dan menarik, sehingga anak akan lebih aktif dalam mengikuti kegiatan pembelajaran sehingga menghasilkan hasil belajar yang lebih baik bagi siswa Langkah-langkah model pembelajaran role play 1) Guru memperkenalkan dan menjelaskan tekniknya kepada siswa. pelaksanaan metode pembelajaran role play 2) Guru membagi siswa menjadi 5 kelompok. Berdasarkan uraian tinjauan pustaka dan kerangka pemikiran di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah “terdapat pengaruh model pembelajaran role-playing terhadap keterampilan menyimak dialog pada mata pelajaran bahasa Indonesia kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe Kabupaten Maros” .
Rancangan Penelitian
- Jenis Penelitian
- Desain Penelitian
Populasi dan Sampel
- Populasi
- Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas V SDN 127 Inpres Mocongloe Kecamatan Moncongloe Kabupaten Maros. Berdasarkan data guru kelas V pada tahun pelajaran ganjil, jumlah siswa kelas V berjumlah 22 siswa. Jadi, jumlah sampel pada survei siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe Kabupaten Maros ini berjumlah 22 siswa.
Definisi Operasional Variabel
Jika t Hitung > t tabel maka H0 ditolak dan Ha diterima yang berarti penerapan model pembelajaran role play berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe Kabupaten Maros. Jika t Hitung < t tabel maka H0 diterima dan Ha ditolak yang berarti penerapan model pembelajaran role play tidak berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe Kabupaten Maros. Sumber: Data diolah pada Lampiran B. Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pada tahap pretest sebelum diterapkan model pembelajaran role play terdapat 4 siswa (18,2%) yang berada pada kategori sangat rendah kategori rendah sebanyak 14 siswa (63,6%) pada kategori sangat rendah dan 4 siswa (18,2%) pada kategori sedang.
Dari data diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa sebelum diterapkan model pembelajaran role play masih terdapat 4 siswa yang berada pada kategori sangat rendah. Sumber: data diolah pada Lampiran B. Berdasarkan Tabel 4.5 terlihat hasil belajar siswa pada tahap post test setelah penerapan model pembelajaran role play sebanyak 2 orang siswa (9,1%) dengan kategori rendah, 2 orang siswa (9,1%) dengan kategori rendah. siswa (9,1%) berada pada kategori sedang, 3 siswa (13,6%) berada pada kategori tinggi, dan 15 siswa (68,2%) berada pada kategori sangat tinggi. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe belum memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar klasikal dimana hanya 18,2% siswa <75% yang tuntas.
Jadi dapat disimpulkan bahwa hasil belajar bahasa Indonesia siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe telah memenuhi kriteria hasil belajar klasikal, dimana siswa yang tuntas berjumlah 90,9% >. Jadi hasil belajar bahasa Indonesia setelah diterapkan model pembelajaran role play mempunyai hasil belajar yang lebih baik dibandingkan sebelum diterapkan model pembelajaran role play. Hal ini terlihat dari hasil belajar siswa yang memenuhi kriteria ketuntasan pada tahap pre-test yaitu 18,2% dan post-test yaitu 90,9%. Karena thitung > ttabel pada taraf signifikansi 0,05 maka hipotesis nol (H0) ditolak dan hipotesis alternatif (Ha) diterima, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran role play berpengaruh terhadap hasil belajar. siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe Kabupaten Maro.
Hasil belajar bahasa Indonesia (post-test) siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe setelah diperkenalkannya model pembelajaran role play adalah memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar klasikal, yaitu 90,9% > 75% dari nilai ketuntasan. siswa yang menyelesaikannya.
Instrument Penelitian
Teknik Pengumpulan Data
Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan, serta alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, kecerdasan, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh seseorang atau suatu kelompok. Dalam penelitian ini tes merupakan metode utama yang terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang perlu dijawab. Penelitian dengan menggunakan metode tes digunakan untuk memperoleh data pemahaman mendengarkan siswa yang diterapkan pada pre dan post test. Dalam penelitian ini data diperoleh dengan menguji kemampuan siswa berdasarkan aspek kebahasaan yaitu: pemahaman isi, berpikir logis, struktur kalimat.
Jika jawaban lengkap diberi skor 20, jika jawaban kurang lengkap diberi skor 10, dan jika salah diberi skor 0.
Teknik Analisis Data
Berdasarkan tabel 4.1 di atas diperoleh informasi bahwa rata-rata skor hasil belajar bahasa Indonesia siswa sebelum diajar dengan model pembelajaran role play adalah 64,55 dengan standar skor 10,11. Jika skor belajar bahasa Indonesia siswa dikelompokkan berdasarkan kriteria penilaian hasil belajar, maka diperoleh tabel distribusi frekuensi dan persentase skor sebagai berikut. Sumber : Data yang diolah pada Lampiran B. Jika tabel 4.3 dihubungkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar siswa yang ditentukan peneliti yaitu jika jumlah siswa mencapai atau melebihi nilai KKM maka dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia hasil belajar bahasa siswa kelas V SDN 127 Inpres Moncongloe tidak memenuhi kriteria ketuntasan hasil belajar klasikal dimana hanya 18,2% siswa yang tuntas <75%.
Sumber: Data diolah pada Lampiran B. Berdasarkan tabel 4.4 di atas diperoleh informasi bahwa rata-rata skor hasil belajar setelah diajar menggunakan model role play adalah 94,09 dengan standar skor 10,07. Skor tertinggi yang dicapai adalah 100 dan skor ideal adalah 100. Sebagai skor Hasil belajar siswa tersebut dikelompokkan berdasarkan kriteria penilaian hasil belajar, sehingga diperoleh tabel sebaran, frekuensi dan persentase skor sebagai berikut. Sumber : Data yang diolah pada Lampiran B. Jika Tabel 4.6 dihubungkan dengan indikator kriteria ketuntasan hasil belajar siswa yang telah ditetapkan peneliti, yaitu banyaknya siswa yang berprestasi.
Berdasarkan hasil pre-test rata-rata nilai siswa sebelum penerapan model pembelajaran role play adalah 64,55. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh terhadap keterampilan menyimak siswa yang terlihat dari hasil belajar sebelum dan sesudah tes. Selain itu, proses pembelajaran berbicara menjadi lebih menyenangkan dan menarik sehingga anak lebih aktif mengikuti kegiatan pembelajaran, yang diikuti dengan peningkatan hasil belajar siswa.
Meningkatkan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia Siswa Kelas IV MI Miftahul Huda Kecamatan Marakurak Kabupaten Tuban dengan Menggunakan Metode Pembelajaran Role Play.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan
Melihat persentase hasil yang ada maka dapat dikatakan bahwa tingkat kemampuan siswa dalam menyimak isi teks drama sebelum diterapkan model pembelajaran role play relatif rendah. “Model pembelajaran role play adalah suatu cara penguasaan materi pembelajaran dengan mengembangkan imajinasi dan penghayatan siswa dengan berperan sebagai tokoh hidup atau benda mati” (Hamdani, 2011: 87). Penerapan model pembelajaran role play dalam menyimak teks dialog akan memudahkan siswa dalam memahami isi, menangkap isi secara akurat, menjaga konsentrasi, akurasi menangkap dan kemampuan memahami materi.
Model pembelajaran role play merupakan salah satu teknik komunikasi yang mengembangkan kelancaran berbahasa siswa, meningkatkan interaksi di kelas, meningkatkan motivasi siswa, dan membantu siswa memperhatikan isi teks dialog. Penggunaan Metode Role Playing Menggunakan Media Audio Visual untuk Meningkatkan Keterampilan Berbicara Siswa Kelas IVB SDN Gisikdromo 03 Semarang. Akhirnya Aldo mau jalan-jalan!” (Teriakan kegirangan) (Ayah dan Ibu keluar kamar saat mendengar teriakan Aldo).
KESIMPULAN DAN SARAN
Saran
Untuk lebih memahaminya, bacalah teks percakapan di bawah ini bersama temanmu di depan kelas dengan pengucapan dan intonasi yang baik dan benar. Sebelum mementaskan sebuah drama, aktor atau aktris harus mengingat dan menghayati dialog tokoh yang diperankannya. Ada apa, do?" (sambil melihat ke arah Aldo) Aldo : "Aldo mau jalan-jalan paman, tapi ayah dan ibu tidak bisa.