Mata Kuliah : Psikologi Keluarga
Dosen Pengampu : - Dr. Haerani Nur, S.Psi., M.Si - Wilda Ansar, S.Psi., MA
TUGAS REVIEW ISU
“PERCERAIAN DI ERA PANDEMI COVID-19”
DISUSUN OLEH
Hikma Gazvia Batariola 200701501079
Kelas A
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2022
A. Gambaran Isu
Ramadhani & Nurwati (2021) mengemukakan bahwa Pandemi Covid-19 atau SARS-CoV-2 merupakan suatu permasalahan global yang tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan. Melainkan juga berdampak pada masalah perekonomian dan masalah kependudukan khususnya adanya peningkatan kasus perceraian akibat dari pandemi covid- 19. Selama pandemi covid-19 berlangsung, Indonesia mengalami fenomena peningkatan kasus perceraian sebanyak 5 %.
Apriasari, Qotrunnada, Al-Jannah, dan Amani (2021) menyatakan bahwa perceraian merupakan adanya pembubaran pasangan secara hukum yang berasal dari pernikahan dimana diakui oleh hukum dan sosial.
Perceraian mengubah hak istimewa dan kewajiban dari kedua belah pihak individu yang terlibat. Pandemi covid-19 menimbulkan potensi perceraian terhadap sebagian besar keluarga.
Kondisi pandemic covid-19 memberikan batasan kaku antara keluarga inti dengan orang-orang di luar keluarga. Batasan antara pekerjaan dengan kehidupan pernikahan akan menjadi kabur. Sehingga, pada akhirnya akan menyebabkan terjadinya peluang baru terjadinya konflik dalam keluarga. Berdasarkan data dari Mahkamah Agung, individu yang mendaftarkan diri untuk melakukan perceraian yang awalnya hanya berjumlah 20.000 kasus pada bulan April-Mei 2020 meningkat menjadi 57.000 kasus perceraian pada bulan Juni-Juli 2020.
B. Faktor Penyebab Timbulnya Perceraian di Era Covid-19
Wijayanti (2021) mengemukakan bahwa terdapat beberapa faktor yang menjadi penyebab timbulnya perceraian di era pandemi covid-19, diantaranya:
1) Masalah ekonomi, selama pandemi covid-19 banyak suami yang tidak bekerja lagi yang akhirnya keuangan menjadi tidak stabil bahkan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
2) Suami tidak bekerja, tidak peduli, pergi dan tidak bertanggung jawab.
3) Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), adanya peraturan pemerintah seperti Stay at Home membuat angka kekerasan dalam rumah tangga pada perempuan dan juga anak akan meningkat secara global.
4) Perselingkuhan, hal ini dapat terjadi ketika lemahnya dasar cinta, emosi yang kurang stabil, sikap egois, kurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri, kurangnya kualitas keagamaan, dan juga kurangnya komunikasi.
5) Perselisihan, perbedaan yang terjadi antara pasangan suami-istri akan menimbulkan rasa tidak mampu hidup ditengah-tengah perbedaan yang ada diantara diri mereka.
6) Istri kurang perhatian, seperti hanya lebih fokus ke anak saja dan melupakan perannya sebagai istri untuk melayani suami.
7) Istri pemarah atau tempramental menyebabkan suami memilih berpisah. Hal ini bisa disebabkan karena menumpuknya kerjaan di rumah tanpa diimbangi dengan kasih sayang suami.
Mauliddina, Puspitawati, Aliffia, Kusumawardani, dan Amalia (2021) menyatakan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka perceraian pada masa covid-19, yaitu:
1) Penurunan perekonomian keluarga
2) Tidak seimbangnya waktu dan aktivitas bersama 3) Adanya pola perubahan komunikasi
4) Usia yang mulai rentan
5) Sering terjadi pertengakaran yang disebabkan karena perbedaan pendapat
6) Penelantaran rumah tangga
7) Perzinahan, mengonsumsi alkohol berlebih, dan juga pemakaian narkoba
8) Suami pengangguran
9) Pasangan dimana status istri bekerja
C. Dampak
Fadhlillah, Hadi, Ramadhena Fauziah, dan Asia (2021) mengemukakan bahwa dampak dari adanya perceraian di masa pandemi covid-19, yaitu:
1) Berdampak pada lingkungan, adanya stigma masyarakat terhadap keluarga yang bercerai dianggap tidak memiliki etika dan moral sebab melanggar nilai-nilai kesakralan dalam pernikahan.
2) Berdampak pada anak, dimana perceraian orangtua bisa menimbulkan permasalahan yang cukup besar bagi anak-anaknya.
Hal ini berdampak negatif terhadap proses pendidikan dan perkembangan jiwa anak khusunya sehingga menimbulkan trauma bagi anak-anak yang masih berada di sekolah dasar. Karena anak- anak pada usia ini masih rentan membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.
3) Keluarga antar kedua belah pihak, dimana akan terjadi kecanggungan dan merasa kecewa dengan pernikahan yang mempertemukan dua keluarga.
Mauliddina, Puspitawati, Aliffia, Kusumawardani, dan Amalia (2021) juga mengemukakan bahwa dampak dari perceraian dapat terjadi pada pelaku perceraian, yaitu:
1) Munculnya masalah baru yang harus dihadapi
2) Melakukan adaptasi kembali dengan peran ataupun hubungan dalam social relationship
3) Membawa konsekuensi yuridis dimana memiliki hubungan terhadap istri, suami, dan juga anak bahkan juga terhadap harta kekayaan.
D. Strategi yang Dilakukan
Ramadhani & Nurwati (2021) menyatakan bahwa terdapat upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya perceraian di tengah pandemi covid-19, diantaranya:
1) Berusaha menyeimbangkan materi, perhatian, pengorbanan, dan pembagian tugas dalam hubungan.
2) Pemerintah juga membuat strategi untuk mengurangi angka kasus perceraian dimana melakukan pembatasan usia perkawinan yaitu di atas 19 tahun.
3) Melakukan konseling pranikah maupun setelah menikah bagi para pasangan untuk mengkonsultasikan diri baik dari segi finansial maupun kesehatan sehingga dapat saling memahami.
Esti, Waileruny, dan Karo Karo (2021) juga menyatakan bahwa terdapat upaya strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya peningkatan kasus perceraian, diantaranya:
1) Melakukan penghayatan bahwa pernikahan adalah suat kesepakatan atau perjanjian antara suami-istri dengan Tuhan.
2) Membuat komitmen, pada hal ini dibagi menjadi dua yang pertama komitmen internal dimana bermuara pada hubungan pribadi suami istri itu sendiri terutama dalam hubungan yang bersifat batiniah.
Kedua, komitmen eksternal dimana komitmen suami istri untuk menjaga keutuhan rumah tangga sebagai bagian terkecil dalam sebuah masyarakat.
3) Membangun komunikasi dua arah yang terbuka dan jujur E. Kesimpulan
Dalam kehidupan pernikahan pasti terjadi permasalahan, tetapi permasalahan tersebut seharusnya tidak berujung pada sebuah perceraian.
Pasangan suami istri harus mampu mempertahankan keharmonisan dan keutuhan keluarganya sendiri. Apabila hal tersebut tidak dapat tercapai maka akan berujung pada perceraian. Berdasarkan data dari Mahkamah Agung, individu yang mendaftarkan diri untuk melakukan perceraian yang awalnya hanya berjumlah 20.000 kasus pada bulan April-Mei 2020 meningkat menjadi 57.000 kasus perceraian pada bulan Juni-Juli 2020 saat pandemi covid-19 mulai meingkat di Indonesia. Secara umum faktor
penyebab perceraian di era pandemi covid-19 terjadi karena adanya konflik dalam pernikahan yang disebabkan oleh permasalahan ekonomi, ketidakseimbangan aktivitas dan waktu bersama, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), berubah pola komunikasi, faktor usia dalam membina rumah tangga. Dampak dari perceraian akhirnya akan mengenai anak, lingkungan, dan juga kedua keluarga dimana mereka merasa kecewa, trauma, dan dianggap melanggar nilai-nilai kesakralan dalam pernikahan.
Strategi yang dapat dilakukan untuk mencegah perceraian dalam era pandemi covid-19 yaitu merendahkan atau menekan keinginan-keinginan individu tentang apa yang bisa diharapkan dari sebuah perkawinan, menanamkan nilai yang tidak mementingkan hubungan kekerabatan daripada hubungan suami-istri dalam perkawinan, “tidak menganggap penting” sebuah perselisihan, mengajarkan anak-anak dan para remaja untuk mempunyai harapan yang sama terhadap sebuah perkawinan, melakukan penghayatan, membuat komitmen, menyeimbangkan, membatas usia pernikahan, melakukan konseling pernikahan, dan menjalin komunikasi dua arah yang baik.
F. Refleksi
Berdasarkan materi pada pertemuan kali ini saya dapat memahami mengenai gambaran isu perceraian di tengah pandemi covid-19, apa-apa saja yang menjadi faktor penyebab, dampak, dan juga strategi yang dapat dilakukan pada isu perceraian di era pandemi covid-19. Pada isu perceraian kali ini faktor utama penyebab terjadinya perceraian yaitu kurangnya komunikasi. Dampak yang paling parah akan terjadi pada anak dimana ia akan mengalami trauma dan akan merasa kurang kasih sayang dari kedua orangtuanya. Terdapat banyak strategi yang dilakukan baik secara personal maupun yang dilakukan oleh pemerintah.
DAFTAR PUSTAKA
Apriasari, H., Qotrunnada, K., Al-Jannah, F. M., & Amani, Z. (2021). Divorce in the covid-19 pandemic era: An integrative study. In Proceding of Inter- Islamic University Conference on Psychology, 1(1). 1-11.
Fauziah, G., Hadi, F., Fadhlillah, F., & Ramadhena, G. (2021). Ketahanan keluarga dalam meminimalisir perceraian pada masa pandemi covid-19 di kecamatan cengkareng. Mizan: Journal of Islamic Law, 5(2), 303-314.
Puspitawati, A., Mauliddina, S., Aliffia, S., Kusumawardani, D. D., & Amalia, R.
(2021). Analisis faktor-faktor yang mempengaruhi tingginya angka perceraian pada masa pandemi covid-19: A systematic review. Jurnal Kesehatan Tambusai, 2(3), 10-17.
Ramadhani, S. R., & Nurwati, N. (2021). Dampak pandemi covid-19 terhadap angka perceraian. Jurnal Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (JPPM), 2(1), 88-94.
Suri, A., Fauziah, N., Fauzi, A. N., & Ainayah, U. (2020). Analisis maraknya perceraian pada masa pandemi. MIZAN: Journal of Islamic Law, 4(2), 181- 192.
Waileruny, S., & Karo, R. P. K. (2021). Upaya pencegahan perceraian di masa pandemi covid-19 perspektif teori keadilan bermartabat. Jurnal Kajian Lemhannas RI, 9(1), 605-624.
Wijayanti, T. U. (2021). Analisis faktor penyebab perceraian pada masa pandemi covid-19 di kabupaten banyumas. Jurnal Ilmu Keluarga & Konsumen, 14(1), 14-26.