• Tidak ada hasil yang ditemukan

abstrak hasil penelitian pertanian komoditas tanaman serat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "abstrak hasil penelitian pertanian komoditas tanaman serat"

Copied!
321
0
0

Teks penuh

Penyebaran informasi hasil penelitian dan pengembangan pertanian berlangsung dengan cara yang berbeda-beda melalui media yang berbeda-beda, tidak hanya kepada pembaca di lingkungan eksternal, tetapi juga kepada para peneliti dan pengambil keputusan di lingkungan Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Tujuannya adalah untuk mengenalkan kepada pembaca berbagai informasi hasil penelitian Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Ringkasan Hasil penelitian pertanian produk serat disusun untuk meningkatkan efisiensi, efektivitas, keberlanjutan dan menghindari duplikasi kegiatan penelitian.

Ringkasan Hasil Penelitian Pertanian Tanaman Serat memuat 380 judul yang diterbitkan antara tahun 1982 hingga 2010, diambil dari Basis Data Hasil Penelitian Pertanian di PUSTAKA dan disusun untuk memudahkan peneliti dalam mencari informasi yang dibutuhkan, baik dalam rangka penyusunan proposal penelitian. penulisan ilmiah, laporan penelitian, serta kegiatan penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya. Rangkuman hasil penelitian pertanian tanaman serat biasanya memuat informasi terkini mengenai permasalahan aktual. Jika peneliti menginginkan artikel atau teks lengkap judul atau abstrak, PUSTAKA menawarkan layanan terbaik melalui email: [email protected] atau nomor fax telepon.

Bagi peneliti yang datang ke PUSTAKA, penelusuran dapat dilakukan di Operation Room Digital Library (ORDL) yang terletak di lantai 1 Gedung B. Abstrak Hasil Penelitian Pertanian Komoditas Tanaman Serat diharapkan dapat dimanfaatkan oleh peneliti di kapan saja untuk mempercepat dan mempermudah mencari informasi.

Abaka (Musa textilis) 1995

Pada penelitian ini dipelajari pertumbuhan dan produktivitas tanaman hasil kultur jaringan dan umbi-umbian sebagai kontrol. Penggunaan asam fusarat (FA) secara in vitro untuk seleksi abaka yang resisten terhadap Fusarium Oxysporum f.sp. Balai Penelitian Tembakau dan Serat, Malang); Sudarson. Seleksi in vitro dengan menggunakan agen seleksi asam fusarat (AF) merupakan metode yang efektif untuk mendapatkan klon abaka yang tahan terhadap infeksi Foc.

Seleksi in vitro untuk mengidentifikasi embrio somatik yang tidak sensitif terhadap AF dilakukan pada konsentrasi sublethal. Dari seleksi in vitro dihasilkan 85 tanaman klon Tangongon dan 28 tanaman klon Sangihe-1 yang diregenerasi dari embrio somatik yang tidak sensitif terhadap AF. Alternatifnya, keanekaragaman genetik tanaman abaka dapat ditingkatkan melalui mutasi dan induksi keanekaragaman somaklonal dalam kultur in vitro.

Untuk mengidentifikasi mutan atau varian dengan sifat unggul tertentu, perlu dilakukan seleksi in vitro. Mutasi menggunakan bahan kimia mutagen Ethyl Methane Sulfonate (EMS) yang dilanjutkan dengan seleksi in vitro menghasilkan varian abaca yang tahan terhadap Fusarium oxysporum f.sp cubense (Foc).

Eceng gondok (Eichhornia crassipes) 2001

Gulma air inilah yang menjadi sumber pendapatan masyarakat sekitar Rawapening, khususnya yang mencari batang eceng gondok. Tulisan ini menjelaskan hasil kajian efektivitas pengendalian penyebaran eceng gondok menggunakan pagar bambu (klanta) dalam mengurangi dampak yang mengganggu aktivitas komersial di perairan Bukit Cinta. Pengguna sumber air Bukit Cinta memberikan respon positif terhadap pengendalian eceng gondok menggunakan clanta.

Eceng gondok merupakan tanaman air yang sering tumbuh di sungai, sawah atau waduk. Selain gambut, bahan organik yang dapat dijadikan pupuk antara lain eceng gondok dan kotoran ternak. Kajian penerapan pupuk organik, pupuk organik gambut dan eceng gondok pada tanaman sayuran (tomat, buncis) dan padi telah dilakukan pada lahan pertanian di Kecamatan Dukun Kabupaten Magelang pada tahun 2004.

Eceng gondok (Eichhornia crassipes Mart) merupakan tanaman pengganggu (gulma) karena pertumbuhannya sangat cepat. Pengelolaan dan pemanfaatan eceng gondok harus memperhatikan dua aspek penting yaitu aspek lingkungan dan aspek estetika.

Kapas (Gossypium hirsutum) 1982

Ketahanan varietas kapas terhadap Jassid, Sundapteryx biguttula (Ishida)/Idrayani, I G.A.A.; Soebandrijo; Bindra, O.S. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Tumpangsari antara varietas kapas dan kacang hijau/ Kanro, M.Z.; Basuki, T. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Kajian aspek sosial ekonomi pengembangan kapas pada lahan bera setelah padi (studi kasus di Takalar-Sulawesi Selatan)]/ Isdijoso, S.H. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang); Sutisna, E.; Katakanlah, M.A. GOSSYPIUM; ORYZA SATIVA; PERTUMBUHAN EKONOMI;.

Analisis curah hujan untuk menentukan tanggal tanam kapas di Jawa Tengah]/ Riajaya, P.D. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Pengaruh tumpangsari kapas dengan jagung terhadap pengendalian ulat kapas di kapas/. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Regionalisasi Komoditas Kapas di Sulawesi Selatan]/ Sahid, M. Sub Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Bajeng).

Penelitian Antarkultur Kapas + Tebu di Jawa Timur/Sulistyowati, E. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang);. Sistem tanam kapas di lahan tadah hujan]/ Hariyono, B.; Machfud, M.; Riajaya, PD. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Pengaruh unsur hara (N, P, K dan S) terhadap kualitas serat kapas]/ Sahid, M.; Sastrosupadi, A. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang).

Pengendalian pertumbuhan vegetatif pada kapas]/ Sastrosupadi, A.; Sahid, M. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Penyimpangan respon kapas terhadap pupuk nitrogen]/ Yusron, M.; Hariyono, B.; Cholid, M. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Pengelolaan air pada kapas (Gossypium hirsutum) dan tumpangsari tanaman palawija]/ Riajaya, P.D. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang).

Pengaruh ekstrak daun (Gliricidiasepium) terhadap kematian kutu daun kapas (Aphis gossypii Glover)]/ Tukimin S.W. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang); Perkembangan dan Permasalahan Kapas di Indonesia]/ Basuki, T.; Sahid, M.; Wanita, Y.P. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Kemajuan Amrasca biguttula (Ishida) dan predatornya di beberapa jalur kapas yang menjanjikan]/. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang).

Kemajuan genetik varietas kapas Indonesia yang dilepas di Sulistyowati, E. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Penentangan masuknya kapas terhadap Amrasca biguttula (Ishida)/Indrayani, I G.A.A.; Sumartini, S.;. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang).

Kapuk (Ceiba pentandra) 1988

Kesetimbangan kadar air biji kapas dan biji kapuk/ Saroso, B. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan protein dan minyak biji kapuk, mengetahui kemungkinan penggunaan tepung biji kapuk untuk pakan ternak dan peran sosial ekonomi dari penggunaan biji kapuk. Data diperoleh melalui penelitian lapangan yang dilakukan di Kabupaten Sumenep yang dilanjutkan dengan analisis laboratorium terhadap minyak dan bungkil biji kapuk.

Pemanfaatan tepung biji kapuk sebagai sumber protein pakan ternak bahkan dapat meningkatkan daya cerna. nutrisi dan pertumbuhan sapi dara. Dari segi sosial dan ekonomi, setiap ton benih kapuk pada proses pengolahan untuk produksi minyak dan tepung mampu menyerap 8 tenaga kerja HOK dan menghasilkan pendapatan bagi pengolah sebesar Rp17.282,00. Telah dilakukan penelitian terhadap bungkil kapuk sebagai bahan suplemen nutrisi kerbau.

Perlakuan terhadap hewan adalah sebagai berikut: (A) hewan hanya mendapat rumput sebagai kontrol; (B) hewan mendapat rumput dan suplemen 400 gram (7,50% tetes kecap + 7,5% biji kapuk); dan (C) hewan mendapat rumput dan suplemen sebanyak 400 gram (3,75% kecap dan 11,25% biji kapuk). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa bungkil biji kapuk dapat digunakan sebagai bahan. kompiler suplemen, didukung oleh data berikut. Biji kapuk (Ceiba petandra) merupakan salah satu produk limbah pertanian yang potensial untuk dijadikan pakan ternak karena mengandung kandungan protein yang cukup tinggi.

Namun minyak biji kapuk mengandung racun asam lemak siklopropenoat (CPFA) yang dapat menyebabkan kematian pada ternak jika asam lemak siklopropenoat beracun tersebut berada dalam konsentrasi yang tinggi. Sampel diambil setiap hari dari masing-masing PO dan SP untuk dianalisis kandungan minyaknya, kemudian senyawa toksik pada minyak biji kapuk dideteksi menggunakan uji Halphen. Hasil dari perlakuan PO dan PS menunjukkan bahwa penyimpanan yang terbaik adalah PO selama 2 hari dan PS selama 3 hari yang mampu menurunkan kadar minyak biji kapuk sebagai penurunan senyawa toksik pada minyak biji kapuk.

Minyak biji kapuk telah diteliti dan terbukti dapat diolah melalui transesterifikasi menggunakan metanol menjadi biodiesel. Berdasarkan sifat tersebut, biodiesel dari minyak biji kapuk dapat menggantikan minyak solar sebagai bahan bakar mesin diesel. Kecernaan nitrogen yang nyata pada kelinci yang diberi pakan yang mengandung tepung biji kapuk (Ceiba petandra Gaertner).

Kenaf (Hibiscus cannabinus) 1984

Referensi

Dokumen terkait

Pengantar Ilmu Pertanian Peny 22-0 41 Dian Hafizah, SP.. MSi Penjab Azwar Rasyidin,

HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penelitian karakter morfologi dari varietas Pisang Serendah dan Pisang Lidi di Kecamatan Sungai Sembilan memiliki 31 karakter persamaan morfologi