Bagaimana proses peningkatan sikap kesetaraan gender melalui pembelajaran inklusi sosial berbasis gender di kelas V MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar. Apa saja kendala penerapan peningkatan sikap kesetaraan gender dalam pembelajaran inklusi sosial berbasis gender di kelas V MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar. Untuk mengetahui proses peningkatan sikap kesetaraan gender di kelas V MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar.
Untuk mengetahui jenis-jenis kegiatan peningkatan sikap kesetaraan gender dalam pembelajaran di kelas V MI Mamba’ul Huda Al-Islamiyah Ngabar.
Sistematika Pembahasan
Kajian Teori
Kesetaraan berarti keadaan yang setara bagi laki-laki dan perempuan untuk memperoleh kesempatan dan hak sebagai manusia, untuk dapat berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan dan pertahanan serta keamanan nasional dan kesetaraan dalam menikmati hak-hak asasi manusia. hasil pembangunan. Gender sebagai pembeda antara perempuan dan laki-laki berdasarkan konstruksi sosial tercermin dalam kehidupan bermasyarakat. Laki-laki dan perempuan mempunyai fungsi yang sama sebagai khalifah yang akan memikul tanggung jawab kekhalifahannya di muka bumi, sama halnya dengan mereka yang harus bertanggung jawab sebagai hamba Allah.
Barangsiapa beramal shaleh, baik laki-laki atau perempuan, dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga dan tidak dianiaya sedikitpun.” (QS.4:124). Kesetaraan gender berarti persamaan kondisi antara laki-laki dan perempuan. memperoleh kesempatan dan hak sebagai manusia, berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, dan pertahanan keamanan negara (HANKAMNAS), serta kesetaraan dalam menikmati hasil pembangunan. Gender kesetaraan juga mencakup penghapusan diskriminasi dan ketidakadilan struktural, baik terhadap laki-laki maupun perempuan.32.
Tidak terdapat perbedaan yang signifikan kemampuan siswa laki-laki dan perempuan pada semua mata pelajaran. Materi netral gender adalah bahan ajar yang secara membabi buta menyamakan anak laki-laki dan perempuan. Stainback dan Stainback berpendapat bahwa sekolah atau pendidikan inklusif adalah sekolah atau lembaga pendidikan yang menerima semua siswa dalam satu kelas yang sama.
Pembelajaran dengan dimensi GSI merupakan pengembangan dari model pembelajaran yang sudah ada di lembaga pendidikan dengan model pembelajaran yang memberikan kesetaraan akses, partisipasi, kontrol dan manfaat kepada seluruh peserta didik dalam belajar dengan tetap mengakomodasi perbedaan gender dan konstruksi sosial dalam diri teman. Selain diperuntukkan bagi siswa penyandang disabilitas, pendidikan inklusif juga digunakan untuk menjamin kesetaraan antara siswa laki-laki dan perempuan yang dikenal dengan pendidikan GSI, yaitu pendidikan yang mengakui dan mempertimbangkan perbedaan kebutuhan, minat, pengalaman dan cara belajar. konstruksi sosial di lingkungannya.
Telaah Hasil Penelitian Terdahulu
Dalam wawancara tersebut tergambar jelas bahwa kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh guru dan siswa terdapat ketimpangan gender dan bias gender. Pada gerakan pemanasan push up, siswa putra dihadapkan pada gerakan standar push up yaitu dengan mengandalkan telapak tangan dan kaki, namun bagi putri cukup menggunakan telapak tangan dan lutut agar gerakannya lebih mudah. Seperti yang dikatakan oleh Bpk. Hartono, guru penjas SD Taman Siswa: “push up bagi perempuan cukup menopang telapak tangan dan lutut, tidak sama dengan laki-laki yang harus melakukan standar push up pada umumnya.”
Implementasi perkuliahan GSI di STAIN Ponorogo belum sepenuhnya diterapkan pada mata kuliah kompetensi utama karena tidak semua dosen mendapatkan sosialisasi pendidikan gender dan inklusif. Faktor pendukung terselenggaranya perkuliahan GSI di STAIN Ponorogo adalah sebagian dosennya responsif gender, budaya kampus peka gender yang menghargai seluruh sivitas akademika serta bebas dari segala bentuk pelecehan dan kekerasan berbasis gender. Sedangkan faktor penghambat pembelajaran GSI adalah tidak semua dosen memiliki kepekaan gender.
Dalam skripsi yang disusun Ahmad Muthali’in dalam rangka penyelesaian studi pascasarjana, program studi kajian budaya Universitas Udayana yang dilaksanakan di SDN Kleco I Kota Surakarta yang dicatat dengan judul “Bias Gender dalam Pendidikan” menyebutkan SDN Kleco I sebagai salah satu sekolah unggulan. Ketika kelas IV mulai memisahkan siswa yang berprestasi dan yang biasa-biasa saja, mereka dipisahkan. Fakta lain terlihat pada saat upacara bendera, petugas upacara yang ditugaskan menjadi komandan upacara selalu laki-laki dan pembawa bendera, pembawa nampan, pembaca pembukaan UUD 1945, pembawa acara dan pemimpin lagu Indonesia Raya semuanya perempuan. Implementasi pendidikan jasmani menunjukkan dengan lebih jelas adanya perbedaan perlakuan antara laki-laki dan perempuan.
DESKRIPSI DATA
Deskripsi Data Umum
Lingkungan alam sekitar MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar dekat dengan kawasan Pondok Wali Songo Ngabar sehingga menawarkan keunggulan dalam bidang akademik khususnya bidang keagamaan. Visi, Misi dan Tujuan MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar adalah lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan Kementerian Agama RI. Fasilitas yang ada di MI Mamba'ul Huda Al-Islamiyah Ngabar terdiri dari: 1 ruang utama, 1 ruang guru, 1 ruang TU, 13 ruang kelas, 1 musala, 1 lab komputer, 1 perpustakaan, 1 ruang UKS, 6 toilet, lapangan sepak bola , selain itu tersedia juga 1 set ban drum.59.
Deskripsi Data Khusus
- Proses peningkatan sikap kesetaraan gender melalui pembelajaran berbasis gender sosial inklusi di kelas V MI
- Bentuk-bentuk kegiatan peningkatan sikap kesetaraan gender dalam pembelajaran berbasis gender sosial inklusi di kelas V MI
- Hambatan dalam pelaksanaan peningkatan sikap kesetaraan gender dalam pembelajaran berbasis gender sosial inklusi di kelas
Dalam memberikan pelayanan kepada pelajar, kami tidak membeda-bedakan antara laki-laki dan perempuan. Tidak adanya perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan mencerminkan kehidupan sosial siswa yang beragam dan setara di madrasah. Karena kita lebih giat belajar dan tidak ada pilih kasih antara laki-laki dan perempuan, maka mereka semua setara.” 62.
Dan para guru juga tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, padahal di sini banyak guru perempuan.” Para guru sebenarnya tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, namun kebijakan pondok pesantren mengharuskan mereka dipisahkan. Sementara itu, menurut kepada guru kelas V merupakan salah satu bentuk kegiatan untuk meningkatkan kesetaraan gender dalam pembelajaran di kelas 5 dengan meningkatkan interaksi antara laki-laki dan perempuan dalam pembelajaran, salah satu kegiatannya adalah kerja kelompok.
Menurut saya, kendala utama dalam mencapai kesetaraan antara anak laki-laki dan perempuan di madrasah adalah kebijakan asrama. Dan aturan pondok adalah kesenjangan abadi antara anak laki-laki dan perempuan. Kendala lainnya adalah peraturan pesantren yang mengharuskan pemisahan antara anak laki-laki dan perempuan.
ANALISIS DATA
Pada pembelajaran di kelas V, proses peningkatan kesetaraan gender dimulai sejak awal pembelajaran dengan meningkatkan interaksi antara anak laki-laki dan perempuan, sehingga berdampak luas pada kehidupan sosial siswa di masa depan. Akibat yang langsung dapat dirasakan adalah munculnya rasa ketidakadilan dalam pembelajaran dan juga kemungkinan terjadinya kecemburuan sosial dikalangan siswa apabila proses pembelajaran cenderung berpihak pada salah satu gender. Berbagai bentuk ketidakadilan yang bersumber dari lemahnya upaya peningkatan kesetaraan gender antara lain beban kerja yang lebih besar pada salah satu gender.
Misalnya, jika membersihkan kelas adalah tanggung jawab anak perempuan, maka beban kerja anak perempuan lebih berat dibandingkan anak laki-laki. Sebagai fasilitator utama dalam pembelajaran, guru juga mempunyai pengaruh yang besar dalam proses peningkatan sikap kesetaraan gender dengan tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran di Kelas V mampu memfasilitasi seluruh siswa untuk mencapai kesetaraan partisipasi, akses, kontrol dan manfaat dalam pembelajaran dengan mengakomodasi perbedaan gender dan konstruksi sosial.
Untuk menentukan model pembelajaran mana yang akan digunakan, siswa diberikan kuasa untuk memilih, meskipun tidak untuk semua keterampilan dasar yang dipelajari. Untuk mendapatkan hasil yang sama dalam pembelajaran, guru memberikan perhatian khusus kepada siswa yang belum memahami materi. Manusia diciptakan laki-laki dan perempuan, sama-sama sebagai hamba Allah SWT, dalam kapasitasnya tidak ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan.
Bentuk-Bentuk Kegiatan Peningkatan Sikap Kesetaraan Gender Dalam Pembelajaran Kelas V Pembelajaran Berbasis Gender Sosial
Salah satu kegiatan ekstrakurikuler yang wajib diikuti oleh siswa MI Mamba'ul Huda Ngabar adalah Pramuka. Dalam setiap kegiatannya, siswa mempelajari berbagai syarat untuk memperoleh hak-haknya sebagai manusia agar dapat berperan dan berpartisipasi dalam kegiatan politik, hukum, ekonomi, sosial budaya, pendidikan, dan pertahanan keamanan negara (HANKAMNAS). Kegiatan ekstrakurikuler dan belajar yang memuat kegiatan peningkatan sikap terhadap kesetaraan gender, sebenarnya terfokus pada potensi, perkembangan, kebutuhan dan minat peserta didik dan lingkungan, serta bertujuan untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menciptakan kesetaraan aktivitas antar siswa. siswa dan siswi, serta menciptakan kreativitas yang setara antar peserta.
Jenis kegiatan lainnya adalah memberikan kesempatan yang sama untuk menjawab pertanyaan dan melakukan presentasi di kelas. Namun dalam pembelajaran tidak dapat dipungkiri adanya dominasi anak perempuan, faktor penyebabnya adalah kemampuan, menurut guru kelas V anak perempuan lebih tinggi dibandingkan anak laki-laki. Anak perempuan mempunyai ketekunan dan keuletan yang tidak dimiliki anak laki-laki, sehingga anak perempuan mampu mendominasi pembelajaran.
Upaya guru untuk mengurangi dominasi tersebut adalah dengan memberikan motivasi kepada anak laki-laki agar tidak kalah dengan anak perempuan. Pada pembelajaran kelas V, kerja kelompok dapat meningkatkan kesetaraan gender siswa melalui interaksi yang terjadi pada saat kegiatan kelompok. Agar para siswa tidak bosan dengan suasana kelas, tempat duduk mereka diatur sedemikian rupa sehingga setiap hari berganti-ganti.
Hambatan Dalam Pelaksanaan Peningkatan Sikap Kesetaraan Gender Dalam Pembelajaran Berbasis Gender Sosial Inklusi di Kelas
Hambatan penerapan peningkatan sikap terhadap kesetaraan gender dalam pembelajaran berbasis gender di kelas. Guru yang tidak tersertifikasi terkesan ceroboh dalam mengajar dan cenderung tidak mau mengetahui keadaan dan kebutuhan siswa. Pada lembaga pendidikan yang mempunyai unsur GSI, peserta didik diatur secara khusus dalam setiap pelaksanaan pembelajaran agar dapat turut serta mewujudkan tujuan pendidikan sesuai dengan kebutuhan zaman.
Seluruh siswa tanpa terkecuali hendaknya terlibat aktif dalam pengelolaan kegiatan pembelajaran sehingga mampu menciptakan kondisi lingkungan sekolah yang baik. Di kelas V terlihat banyak kebiasaan mereka di rumah yang terbawa hingga pembelajaran di kelas.
PENUTUP
Kesimpulan
Kendala dalam implementasi peningkatan sikap kesetaraan gender dalam pengajaran kelas V adalah kebijakan pondok pesantren yang belum sepenuhnya responsif gender dan juga tenaga pengajar yang kurang proaktif dalam mengajar akibat adanya kecemburuan antara guru yang tersertifikasi dan yang tidak tersertifikasi. . Siswa juga bisa menjadi penghambat dengan kebiasaan-kebiasaannya dari rumah yang terbawa ke dalam suasana kelas, misalnya berkelahi, memanjakan, dan lain-lain. Solusinya, madrasah harus tetap mematuhi aturan pesantren tanpa mengabaikan upaya memaksimalkan potensi peserta didik.
Saran-Saran