Para Ilama dan Salaf memerintahkan para santrinya mempelajari adab terlebih dahulu sebelum mempelajari ilmu. Buku yang berjudul Perilaku Siswa dalam Perspektif Burhanuddin Al-Zarnujji ini menjelaskan tentang perilaku siswa dalam belajar.
- Perumusan Masalah
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
- Kajian Pustaka
- Landasan Teori
- Pendekatan Penelitian
Menurut Burhanuddin Al-Zarnujji dalam kitab Ta’lim al-Muta’allim Tariq al-Ta’allum, adab adalah membangun ketaatan dan kesadaran total dalam diri seorang siswa dalam menjalankan proses belajar sebagai tanggung jawab untuk mengabdi kepada Allah SWT seutuhnya. . 9. Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis terdorong untuk mengangkat penelitian ini dengan judul “Tata Krama Siswa Dalam Perspektif Burhanuddin Al-Zarnujji”. Jelas sangat berbeda jika buku di atas membahas tentang pemikiran pedagogi siswa, sedangkan penelitian ini mengkaji budi pekerti siswa dari sudut pandang Burhanuddin Al-Zarnuji.
Tentu berbeda dengan penelitian ini yang hanya fokus pada kajian perilaku siswa menurut Burhanuddin Al-Zarnuji. 15 Siti Nurhidayat, Konsep Etika Siswa Berdasarkan Pemikiran Syaikh Al-Zarnuji dalam Kitab Ta'lim Al-Muta'allim dan Implikasinya Bagi Siswa Madrasah Ibtidaiyah, Skripsi Universitas Uin Sunan Kali Jaga Yogyakarta, 2013. Kajian Pemikirannya juga fokus pada pemikiran-pemikiran yang berkaitan dengan perilaku dan kepribadian siswa, namun belum ada yang memfokuskan kajian pemikiran Burhanuddin Al-Zarnujji tentang perilaku siswa dalam belajar.
Mirip dengan teori Barat, peserta didik dalam pendidikan Islam adalah individu yang sedang tumbuh. Adab pelajar merupakan kewajiban pelajar dalam menuntut ilmu baik secara langsung maupun tidak langsung, demikian rumusan Abu Hamid Al-Ghazali. Siswa harus menyadari keagungan hasil atau manfaat, keyakinan dan kuatnya argumentasi dari ilmu yang dipelajarinya.
Dengan ilmu yang dimiliki santri akan semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT sehingga memiliki akhlak yang mulia.
- Riwayat Hidup dan Kepribadian
- Riwayat Pendidikan Burhanuddin Al-Zarnujji
- Siutuasi Pendidikan pada Masa Burhanuddin Al-
- Latar Belakang Eksternal Tokoh
- Karya-karya Burhanuddin Al-Zarnujji
- Sekilas Tentang Kitab Ta’lim Al-Mutaállim
- Latar Belalkang Penulisan Kitab Ta’lim Al-Mutaállim
Melihat kenyataan tersebut, terpikir oleh Burhanuddin Al-Zarnujji untuk menyusun kitab yang berjudul Ta'lim Al-Muta'allim untuk memberikan pengetahuan kepada siswa tentang syarat-syarat yang harus dipenuhi sebagai pelajar ilmu. Oleh karena itu, kitab Ta’lim Al-Muta’allim patut dipelajari dan dikaji kembali oleh para pelajar dan guru, karena isi kitab ini sangat cocok untuk dijadikan pedoman dalam kegiatan pendidikan. Cara-cara santri mencari ilmu dalam kitab Ta'lim Muta'allim karya Burhanuddin Al-Zarnujji Muta'allim karya Burhanuddin Al-Zarnujji.
Menurut Burhanuddin Al-Zarnujji, siswa yang mencari ilmu hendaknya mempunyai cara untuk memperoleh keberkahan dan memudahkan jalannya untuk mencapai Allah SWT. Jadi adab siswa mencari ilmu dalam kitab syarah Ta'lim Muta'allim Thariq Al-Ta'allum karya Syekh Burhanuddin Al-Zarnujji adalah : Dalam memilih guru, yang penting siswa memilih guru sebagai teladan atau guru. untuk meraih keberkahan saat belajar.
Burhanuddin Al-Zarnujji mengatakan untuk menghindari teman-teman yang dapat membawa kita pada hal-hal buruk karena teman-teman tersebut mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupan siswa. Oleh karena itu, hendaknya siswa mencari teman yang dapat mengajaknya berbuat kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Adab Menghargai Ilmu Burhanuddin Al-Zarnujji telah mengatakan dalam kitabnya bahwa seorang siswa tidak dapat mengambil manfaat dari ilmu yang diterimanya kecuali dengan menghormati ilmunya dan gurunya.
Siswa tidak akan mencapai tujuannya dalam menuntut ilmu jika tidak menghargai ilmu yang dimilikinya dan gurunya. Metode pengajaran siswa dalam memperoleh ilmu menurut Ilmu Burhanuddin AL-Zarnujji menurut Burhanuddin AL-Zarnujji. Untuk mencapai hal tersebut, siswa harus menghormati ilmu dan guru serta menunjukkan sikap santun.
Oleh karena itu, pemikiran Burhanuddin Al-Zarnujji mengenai adab siswa yang dijelaskan di atas sangat tepat jika diterapkan pada siswa yang serius dalam menuntut ilmu. Metode pembelajaran bagi siswa dalam mengejar ilmu pengetahuan menurut Burhanuddin Al-Zarnujji Ilmu menurut Burhanuddin Al-Zarnujji. Hal ini sangat perlu dilakukan agar siswa semakin semangat belajar.
Bahkan dengan metode pembelajaran yang tepat, siswa tidak mudah bosan dan lelah dalam belajar. Cara-cara santri mencari ilmu dalam kitab Ta'lim Muta'allim karya Burhanuddin Al-Zarnujji.
Adab Peserta Didik Menuntut Ilmu dalam Kitab Ta’lim
Siswa adalah orang yang mendambakan ilmu dan menjadikannya sebagai ibadah dalam perjuangan memperoleh cahaya dari Allah SWT, baik dalam pendidikan formal maupun nonformal. Meskipun belajar dengan orang yang seumuran atau lebih muda boleh-boleh saja, hal ini akan mengurangi rasa hormat dan hormat karena guru dan siswa seumuran. Berdasarkan cerita tentang Abu Hanifah, peneliti dapat menyimpulkan bahwa perhatian juga diperlukan dalam memilih guru bagi siswa/pencari ilmu.
Sebagaimana dikatakan Abu Hanifah, guru yang dipilih bagi muridnya haruslah berakhlak mulia, sabar dan bijaksana. Sebaiknya siswa memilih guru yang sudah tua atau lanjut usia, yang waro’ dan bertakwa. Adab memilih teman, siswa merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap siswa pasti mempunyai teman.
Siswa pasti akan mempunyai teman yang bisa diadu/dipercaya mengenai hal-hal yang berhubungan dengan pelajaran atau masalah lainnya sehingga dia bisa mendapatkan solusi dari teman yang bisa diadu. Berdasarkan hadis di atas, menjadikan murid sebagai budak dan tawanan untuk mengabdi di depan pintu rumahnya, inilah kesempurnaan penghormatan terhadap guru. Namun semua itu tergantung pada guru yang mengajar muridnya, apakah guru tersebut ingin menjualnya, memperbudaknya atau membebaskannya.
Menghargai ilmu juga harus menghormati kitab, oleh karena itu hendaknya santri tidak mengambil kitab yang tidak bersih. Padahal guru dalam Islam adalah orang-orang yang berilmu yang harus benar-benar dihormati asalkan apa yang disampaikannya benar dan sesuai dengan Al-Quran dan ajaran Nabi Muhammad SAW, karena dengan hadirnya guru maka siswa dapat memperoleh ilmu dan memperoleh ilmu. manfaat dan keberkahan. Menghormati guru adalah salah satu alasan keberkahan yang mereka terima ketika belajar. Siswa dalam belajar harus menyadari etika menghormati guru dengan baik.
Ini adalah kisah yang terjadi pada siswa ketika mereka sedang belajar, siswa tersebut mengalami kesulitan dalam pelajaran karena menyakiti gurunya. Pada dasarnya siswa hendaknya meminta persetujuan dari seorang guru, karena guru adalah orang yang memberikan ilmu kepada siswa, maka untuk menghargai dan menghormati berarti siswa menggunakan perilaku terhadap gurunya. Jangan membuat marah guru dengan mengikuti perintahnya, selama perintah tersebut tidak berupa pembangkangan atau bertentangan dengan apa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, maka ikutilah agar siswa mendapat ridho dari guru dan dimudahkan mereka. agar mereka dapat menuntut ilmu dan memperoleh manfaat serta keberkahan dari ilmu yang mereka cari.
Metode Pembelajaran Peserta Didik dalam Menuntut
Dengan metode ini siswa dapat memperoleh ilmu dari siswa lain, karena tidak hanya melalui guru saja, tetapi juga melalui siswa lain mereka juga memperoleh ilmu, asalkan siswa tersebut dapat saling melengkapi. Cara ini bisa disebut dengan metode diskusi bersama kelompok, yaitu saling mengkritisi pendapat masing-masing kelompok. Setiap kelompok mempunyai anggota dan anggota tersebut mempunyai pandangan atau pendapat mengenai suatu hal yang dibicarakan untuk disampaikan kepada anggota lainnya. Dan musyawarah dilakukan hanya untuk menyimpulkan kebenaran, bukan untuk mencari kesalahan anggota diskusi yang lain.
Dan diskusi harus dilakukan dengan hati-hati dan sikap jujur; mereka tidak bisa diberi makan dengan kemarahan dan kebisingan. Metode ini dapat dilihat sebagai metode diskusi kelas, dimana salah satu anggota mengkritik anggota yang lain, atau sebagai metode debat untuk menguji dan mencari tahu siapa yang benar. Cara ini berbeda dengan diskusi kelompok, yaitu diskusi kelompok dipimpin oleh seorang anggota, sedangkan diskusi kelas dipimpin oleh seorang guru.
Biasanya guru memberikan materi kepada siswa kemudian mendiskusikannya dengan siswa untuk mendapatkan jawaban dari diskusi tersebut. Hal ini bisa terjadi jika proses pembelajaran dilakukan hanya dengan metode hafalan saja, tanpa dibarengi dengan aspek kognitif-rasional dan pengembangan wawasan, seperti yang sering terjadi pada proses pembelajaran kitab kuning di banyak pesantren. Namun jika yang terjadi adalah kolaborasi antara keduanya, yaitu metode hafalan yang dipadukan dengan aspek kognitif-rasional, maka dapat dikatakan keberhasilan dalam proses pembelajaran, karena hafalan pada hakikatnya akan memperkuat argumentasi dalam bidang keilmuan.
Artinya: “Siswa hendaknya selalu mencatat pelajaran yang telah dihafalnya dan sering mengulanginya, karena ini sebenarnya sangat bermanfaat. Berdasarkan ungkapan di atas mengisyaratkan bahwa di satu sisi Burhanuddin Al-Zarnujji menganjurkan untuk menghafal. Sedangkan disisi lain bagaimana mudzakarah (saling menegur), munadharah (saling mengeluhkan pandangan) dan mutarahah (berdiskusi) dijadikan sarana untuk mengembangkan aspek kognitif-rasional dan mengembangkan wawasan.
Dalam metode diskusi ini, Burhanuddin mengingatkan agar dilakukan dengan penuh kesadaran dan kehati-hatian dalam berpikir dan berekspresi karena fungsi metode ini hanya untuk mencari jawaban/kebenaran, bukan untuk mencari kemenangan. Pembicaraan hendaknya dilakukan hanya untuk mengetahui kebenarannya, bukan untuk menjatuhkan atau memperumit keadaan. Apabila pembahasan tersebut berubah menjadi perselisihan, maka tidak akan ada kebenaran dalam pembahasan tersebut, sehingga hanya akan menimbulkan perpecahan diantara satu sama lain.
Pembahasan
Saran
Sebagai guru yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT, maka guru harus selalu menaati perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Agar ilmunya bermanfaat dan berkah, maka sebagai siswa harus selalu menaati perintah guru, menunjukkan rasa hormat kepada guru dan selalu menghormati guru. Jenjang pendidikannya adalah sekolah dasar di SD Negeri 05 Surau Gadang, Kecamatan Nanggalo, Padang, Sumatera Barat, kemudian dilanjutkan ke Pondok Modern Babussalam (PMB) Kerjo Kebonsari Madiun, Jawa Timur dan Pondok Modern Darussalam Gontor.