• Tidak ada hasil yang ditemukan

adoc.pub teknik budidaya gaharu

N/A
N/A
febrasius masal

Academic year: 2025

Membagikan "adoc.pub teknik budidaya gaharu"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

PenelltlanDan~na-...,11Mt1t1111•

BalalPen ...

I Komang Suratadan I Mada 'Wldnyana

(Aquilar/a malaccensis Lamk.J

TEKNIK BUDIDAYA GAHARU

Nomor: 14, 2001 ISSN 1410 -1009

Olah:

n

(2)

AJamat:

JI umunq -Surapati No 7 (belakano)

Kotak Pos 69: Teip~ (038Q) 823357: Fax. (03BO) 831068 Kupanc .. .85

ii

5 '

Indonesia Diterbitkan Oieh :

Balai Penelitian Kehutanan Kupang

Pusat Perielitian Dan Penqernbanqan Hutan Dan Konservasi Alam : Rahman Kurniadi. S. Hut.

: (;eisberd Faah · Koordinator

Anggota

SEKRETARiAT REDAKSI : ir. I Wavan Widhiana Susila : ir. Edy Sutrisno. MSc : Ir. Harisetijono. MSc : Ir. i Komang Surata : Ir. Mariana Takandjandji

: Dr. ir. Maman Mansvur Idris. MS Ketua

Merangkap anggota Sekretaris

Anggota

DEWAN REDAKSi

: Kepaia Badan Litbang Kehutanan : Sekretaris Badan Litbang Kehutanan Ketua

Anggota

DEWAN PENYANTUN

AISULi adalah media resmi pubiikasi semi ilmiah/populer Baiai Peneiitian Kehutanan Kupang daiam bidang hutan dan kehutanan wilavah semi arid.

AiSULi dapat dikutip dengan menyebut sumbernva

• ---r --._,... . ...., ... n11 • .,;:.,:1•n_,..,, . Ct::C .... ·-~ •.• .;.,-c:•

(3)

ur Idris, MS Gaharu (Aquilaria maiaccensis Lamk.) adalah salah satu hutan non kayu di Propinsi Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara Barat khususnya dan Indonesia umumnya. Namun dewasa ini potensinya sudah menurun. oleh karena itu perlu dilakukan penanaman.

Sampai saat ini gaharu belum banyak diusahakan secara khusus sebagai hutan tanaman. salah satu kendalanya antara lain keterbatasan pengetahuan dalam teknik budidayanya.

Buku pedoman budidaya gaharu (A,.auiiaria ma_laccensis Lamk.) disusun . berdasarkan hasil percobaan. pengalaman dan litelatur. Dengan tersusunnya pedoman ini diharapkan dapat membantu para penggunaipraktisi di lapangan.

waiaupun dengan bahan yang masih sederhana karena disadari bahwa pedoman ini masih kurang sempurna dan akan terus disempurnakan.

Ucapan terima kasih disampaikan kepada semua pihak yang telah turut membantu sehingga pedoman ini dapat diterbitkan. Semoga pedoman ini dapat dipakai dan bermanfaat untuk memantapkan upaya pelestarian gaharu.

KATA PENGANTAR

(4)

DOKUMENTASI & ARSIP

.BAPPENAS

Acc. No. : .~:

!.:!fi····

d-Oo;J

Class : " -11..._ __

.f:. _ .. _

Checked :

L'P. .. - l-

..Jc;io :2
(5)

11

4. Sistem Pembuatan Tanaman 12

5. Jarak Tanam 13

6. Pengangkutan Bi bit.. 13

C. Pelaksanaan penanaman 13

KAT A PENGANT AR i

DAFTAR ISi ii

DAFT AR GAMBAR iv

I. PENDAHULUAN 1

II. JENIS-JENIS GAHARU DAN PENYEBARAN 2

Ill. PERSYARATAN TEMPAT TUMBUH 4

A. lklim 4

B. Keadaan Tanah 4

C. . Ketinggian Tern pat · 4

IV. PENGADAAN BENIH (BIJI) 5

V. PENGADAAN BIBIT :': . .. ,6

A. Persemalan 6

1. Penaburan Benih (Biji) 6

2. Penyapihan 6

3. Pemehharaan Bi bit.. 7

4. Pernbuatan Benih dari Cabutan 8

5. Seleksi 8ibit .".'. ~ 9

VI. PENANAMAN .' , 9

A. Pemilihan Lokasi .: 9

. .

B. Persiapan Lapangan ' ::· r.: .,,. 9

···~

(',

1. Penataan Lapa.~gan , .. , : : :· : .. ~ .. 9

.

,;- '•

-

~ ~ .,

2. Pernbersihkan l;a.p~,!l~a~ ::·_.,- _. _ , .. 10 3. Naungan Lapangan ::'.'~ : ~··:~·· 10

~., ...

haiaman

DAFTAR ISi

(6)

. -

Iii

.t •\"

4. Pemangkasan dan Penjarangap 15

5. Pemberatasan Harn a dan penyakit 15

VIII. TEKNIK PENULARAN 16

A. Pembentukkan Gaharu 16

B. Teknik Penularan Gaharu 17

IX. PANEN DAN PRODUKSI 19

A. Pemanenan Gaharu ···:··· 19

B. Klasifikasi dan Produksi 20

X. DAFTAR PUSTAKA 22

···:··· 14 ... 14

••• J ••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••••• 14

1. Peyulaman 2. Peyiangan 3. Pemupukan

VII. PEMELIHARAAN 14

(7)

IV

Gambar 1. Tanaman uaharu di lapanqan denqan penaunq

sarnpinq (umur 2 tahun) 11

Gambar 2. Tanaman gaharu di lapangan tanpa penaung (umur 2

tahun) 11

Gambar 3. Lempengan gubal gaharu dari Aquil/aria malacensis hasil penularan inokulan jamur Fusarium spp di hutan

Amfoang. Kupang. NTI :.... 18

Gambar 4. Koloni beberapa jamur dari contoh gaharu alam dari

hutan Amfoang. Kupang. NTT 18

Gambar 5. Gaharu kelas teri ::· .. ~ :.. 21

Garn bar 6. Gaharu kelas super . . .. . . . .. . . .. . . .. 21 halaman DAFTAR GAMBAR

(8)

A!Sl.I,f No. 14, 2001

Gaharu tergolong hasil hutan non kayu yang dapat diandalkan khususnya apabila ditinjau dari harga yang sangat istimewa dibandingkan dengan komoditi hasil hutan non kayu lainnya. Jenis ini terkenal karena memiliki aroma yang dapat digunakan untuk berbagai keperluan sepertl parfurn, pewangi ruangan, hio /dupa. minyak, dan sebagai obat tradisional. Bentuk perdagangan gaharu beragam mulai dari bongkahan, chip . serbuk dan minyak gaharu.

Gaharu adalah nama perdagangan sejenis kayu yang berasal dari jenis pohon-pohonan penghasil gaharu yang terinfeksi atau mati yang dapat rnenqhasllkan damar gaharu. gubal dan kemedanqan yang terjadi secara alami rnaupun b~atan. Damar gaharu adalah kayu karas yang'_ rnenqandunq akumulasi

~\. .

damar wangi dengan konsentrasi tinggi, gubal gaharu adalah bagian kayu karas yari(l mengandung damar

:.in~r

dengan konsentrasi yang lebih rendah dan kemedangan adalah hasil akurnulasi damar wangi tahap awal pada kayu karas yang terbentuk secara perlahan-lahan dalam bentuk garis-garis coklat-putih (ASGARIN, 2001).

Sejauh ini damar gaharu mempunyai warna yang mendekati coklat-hitam dan aroma yang wangi. Warna dan aroma dijadikan indikasi awal oleh para pedagang dan pengguna untuk menentukan kualitas gaharu. Umumnya sernakln tinggi proses infeksi maka warnanya semakin hitam (tua), aromanya (ketajaman bau wangi) gaharu semakin terasa, kualitas serta harganya akan semakin tinggi.

Pohon yang rnenqatarnl proses pernsentukan gaharu akan memperlihatkan geja~a urriurn tumbuh merana dan pada beberapa bagian pohon tertentu terbentuk gaharu. Pohon yang mengandung qaharu sulit dikenali secara pasti tentang tingkatan kandungan dan kualitas gaharunya. Oleh karena ketidakpastian yang tinggi, masyarakat pencari gaharu umumnya melakukan pengumpulan gaharu dengan cara coba-coba menebang pohon - pohon yang mereka duga menghasilkan gaharu~ Kadangkala sering dilakukan oleh orang yang tidak berpengalaman dan dilakukan secara besar-besaran dan

I. PENDAHULUAN

(9)

.ust u

Yo././, 2001

2

Menurut Wiradinata (1995) pohon pengasil gaharu tumbuh di daerah tropika yaitu dari marga Aquilaria, Gyrinops dan ·Gonysti/us (keseluruhanya famili Thymelaeaceae) yang penyebarannya di daerah tropis Asia rnulai dari

India. Pakistan. Srilangka. Myanmar. Laos. Vietnam. Thailand. Kamboja. Cina Selatan. Malaysia. Philipina dan Indonesia.

Menurut Sidiyasa (1986) Jenis jenis pohon penghasil gaharu di Indonesia adalah: Aetoxylon svmpetalum Steen & Domke Airy Shaw. Aquailaria hirta

II.

JENIS JENIS GAHARU DAN PENYEBARANNYA

terus-rnenerus tanpa terkendali. Hal ini tentunya akan menimbulkan kerusakan pohon semakin besar dan mempercepat kepunahan .

Hasil penqarnatan di berbaqai daerah di di Proplnsi Nusa Tenqqara Timur (NTn dan Nusa Tenggara Barat ( NTB) menunjukkan bahwa populasi pohon penghasil gaharu dewasa ini telah menunjukkan adanya penurunan populasi yang sangat tinggi dan kondisinya sudah sangat mengkawatirkan (Widnyana dan Sinaga. 1998; Widnyana 1999). Lokasi pengambilan. gaharu telah jauh ke dalam hutan dan waktu yang dibutuhkan untuk pengambilan gaharu semakin lama. Bahkan untuk mencari bibit gaharu dalam skala yang memadai dewasa ini sudah mengalami kesulitan

Untuk menanggulangi kepunahan pohon gaharu perlu secepatnya dilakukan pelestarian baik in situ maupun eks situ. salah satunya diantaranya melalui pembudidayaan. Sampai saat ini budidaya gaharu belum mendapat perhatian yang memadai. baik oleh pengusaha gaharu. pemerintah daerah

can

rnasyarakat.

Salah satu faktor kendala dalam pen,gembangan gaharu adalah belum

'

adanya t~krio)bgi budidaya dan penularan yang memadai. Untuk itu, penggalian teknik budidaya untuk menunjang keberhasilan pengembangan gaharu perlu mendapat perhatian yang serius. Berkenaan dengan permasalahan tersebut maka Balai Penelitian Kehutanan Kupang menyusun pedoman budidaya gaharu (Aquilaria malaccensis Lamk) berdasarkan hasil penehtian yang dilakukan sejak tahun 1996 dan mengumpulkan informasi hasil penelitian yang sudah ada.

(10)

A/SUL! 1Vo. 14, 200 l 3

Aqui/aria ma/accensis Lamk. adalah salah satu pohon penghasil damar gaharu yang memiliki kualitas paling baik atau dikenal dengan nama sinonimnya Aqui/aria aga/Jocha Roxb, Agallochum secundarium coinemense dan Aqui/aria.

malaicense Rumph, Aquilaria ovata Cav., Aquilaria secundaria D.C., Aga/Jochum malaccense O.K. dan Aquilariella mallacencis van Tiegh (Wiradinata. 1995). Habitat. daerah penyebarannya dan tempat tumbuh jenis Aqui/aria malaccensis Lamk disajikan pada Tabel 1.

Sumber: Sidiyasa (1986) dan Wiradunata (1995).

I I

I

Aquiiaria

I

malaccensi s Larnk

I

I Daerah Tempat

I

Nama Lokal \ \

1 Penyebar(!n 1 Tumbuh Habitus/ciri .. ciri

\ Jenis Kayu

I

Hutan primer.

terutama di

I

tempat-tempat

j yang datar,

j lereng, r punggung bukit

I

lndia, malaya, Sumatera. Burma.

I

Kaiimantan, j Nusa

I

Tenggara dan

I

Philippina

I

I

Pohon .mencap. i tin~gi 1 Alim, gaharu.

I

sampar 40 m, dlarneter II garu, ha!im, sampat batang qO cm. Karas. kareh,

j permukaan batapg licin,

I

mengkaras.

I .

berwarna punn i:iatang onggak

I

lurus dan kadan$·kadang

I

(Sumatera);

bsraiur atau berbanir garu. gumbil,

I

tebal (sampai to'cm)

I

sigsigi

j sampai 2 m. Daun (Kalimantan);

I

berseling, eiips, denqan j ching karas,

I

urat daun bagian bawah

I

gaharu, galoop, halus jelas. Perbungaan garu. kekaras.

j malai, bunga berukuran

I

kepang

I

sekitar 5 .. 5 mm berupa

I

~M.~laysia) 1 tabung. Buah bundar

I

xenrnunan

!

gepeng berkullt tebal . (Lornbok)

Tabel 1. Habitus dan penyebaran gaharu Aquilaria rrialaccensis Lamk.

Ridley. Aquilaria ma/accensis Lamk. Enk/eia malaccensis Grif L.. Gonysfy/us banccanus (Miq). Kurz. Gonystylus macrop~y/Jus (Miq.) Airy Shaw., Wikstroemia androsaemifolia. Wikstroemia polyantha Merr.dan Wiksfromia tenuiramis Miq.

Disamping itu masih ada jenis lain di Indonesia yang dilaporkan menghasilkan gaharu yaitu Dalbergia parviflora. Aquil(flria microcarpa (Sumadiwangsa dan Zulnelly, 1999) serta. Aquilaria beccariana. Aquilaria cumingiana dan Aqui/aria filaria (Wiriadinata, 1995). Sementara itu, hasil identifikasi BPK Kupang (1990) di Pulau Sumba dan Pulau Timor ditemukan 3 jenis pohon -pohon penghasil gaharu. yaitu Aqui/aria malaccensis Lamk, Wikstroemia_ sp. dan Gyrinops cumingiana.

(11)

A.IS[ V \'o. 14. 2001 4

C. Ketinggian Tempat

Jenis pohon ini tumbuh di daerah dengan ketinggian hingga 300 - 750 m dari permukaan laut. Ada juga yang tumbuh di data ran rendah < 100 m dari permukaan laut tetapi kualitas gaharunya lebih rendah dari pada yang tumbuh di dataran tinggi. Karena perbedaan tempat tumbuhnya maka dalam istilah perdagangan yang tumbuh di dataran rendah disebut gaharu laut, gaharu rawa dan gaharu cabut.

B. Keadaan Tanah

Untuk menghasilkan pertumbuhan yang baik gaharu membutuhkan tanah subur, sarang, drainase baik, reaksi tanah netral- basa dan solum tanahnya ti pis- dalam. Di Pusuk dan disekitar Gunung Rinjani Pulau Lombok dan Jereweh Pulau Sumbawa gaharu tumbuh pada jenis tanah Regosol coklat, Kompleks Regosol coktat-kelabu, Mediteran Haplik dan Karnbisol Eutrik pada batuan induk vulkan dan tanah kapur (PPT dan Aqrokhrnat, 1993), Gaharu tidak cocok pada tanah pasir yang kering, begitu pula pada tanah yang kedap air.

A.iklim

Gaharu dari jenis Aqularia ma/accensis Larnk. di NTT dan NTB tumbuh dengan baik pada kondisi hutan musim. Jenis ini tumbuh di daerah curah hujan rata-rata 1500-2500 rnrn/tahun, tipe iklim C-D Schmidt dan Ferguson (1951).

Rata-rata temperatur berkisar antara 27°C - 32°C pada siang nan dan 20°c - 24°C pada malam hari. Kelembaban relatif paoa rnuslrn kemarau 60% - 70%

Jenis pohon ini termasuk toleran (membutuhkan naungan) untuk pertumbuhannya.

Ill PERSYARATAN TEMPAT TUMBUH

(12)

5

USl U \'o. I./, 2001

Masalah utama yang perlu diperhatikan dalam perbenihan adalah bahan yang dipakai untuk keperluan biji harus berasal dari tegakan yang berkualitas baik antara lain ditentukan oleh: sumber benih, waktu pemungutan yang tepat dan koleksi secara tepat. Hal ini perlu dilakukan agar nantinya diperoleh tegakan yang baik .

Pada umumnya musim berbunga dan berbuah masak gaharu terjadi pada buian April - Mei. Buah gaharu kemasakannya tidak seragam. Kemasakan fisiologis buah ditandai oleh warna kulit buah kuning. Buah mempunyai 4 'kelooak biji tetapi biasanya hanya 2 - 3 kelopak yang ada bijinya. Bijinya disukal oleh burung. Pohon gaharu bisa berbuah pada urnurS tahun tetapi kuranq baik untuk bibit di persemaian. ·

Untuk mengunduhkan buah dilakukan dengan cara memanjat atau menggunakan galah berkait dengan memetik buah yang masak, Dalam pemetikan buah dihindarj pemotongan dahan sebab. akan mengganggu produksi buah dan pertumbuhan pohon selanjutnya. Pohon gah~ru dapat menghasilkan biji X - 1/2 kg/pohon.

Penqarnbilan buah yang dilakukan dengan cara memungut dan mengumpulkan buah-buah yang jatuh di bawah pohon kurang baik. Jika pemungutan buah dilakukan dengan menunggu [atuhnva buah di bawah pohon maka kemungkinan buah tersebut sudah banyak yang kosong (hanya tinggal kulitnya sala) karena biasanya sudah pecah atau dimakan burunq. Biji gaharu dapat dlpunqut dari atas tanah dengan memiiih buah-buah/biji-biji yang baru jatuh yaitu bekas dari biji yang dimakan burung atau biji yang sudah pecah dari daging buahnya. Pengumpulan buah di atas tanah harus segera dilakukan karena kalau terlambat buah tersebut mudah diserang jamur dan membusuk sehingga tidak dapat digunakan untuk bi bit.:

Setelah buah terkumpul maka langkah selanjutnya adalah mengeluarkan biji dari buah dengan cara dibuka atau dipijat. Biji yang baik harus dipilih adalah biji yang berwarna coklat kehitaman dan padat.

iV. PENGADAAN BENIH

(BIJI)

(13)

Benih qaharu termasuk recalsiltran tidak bisa duernur tancsuno di smar matahari dan disimpan lama dan biii vane baru dikupas dan dibersihkan harus segera disemaikan. Penyirnpanan biii dapat menurunkan dava kecambah. Biji vane disirnpan selarna 1 minqgu rnernpunvai dava kecambah 55%. 2 mingqu 30% dan 3 minqqu 8% dan 4 minqqu 1.2% (Surata, 1998). Dalam I kq hiii gaharu terdaoat 1 500 biii

V. PENGAOAAN BIBIT

A.Persemaian

1 . Penaburan Benih (Biji)

Pengadaan bibit canaru daoat dilakukan lewat pendederan d1 bedenq tabur atau ditanam langsunq di oolvbao (bedeno saoih). Benih qaharu didederkan di bak kecambah ukuran .40 x 25 x 1 O cm vang diberi lubanq dibawahnva dengan iarak 1 0 cm dan diameter 2 mm. Bak kecambah diletakkan di bawah nauncan sunokup plastik atau rumah kaca Media vane diounakan untuk penaburan benih adalah tanah . oasir = 1 . 1 vana telah disterilkan denqan cara disanoqrai terlebih dahulu.

Biii qaharu ditabur dan dibenamkan di dalam media tabur sedalam 0.5 cm denuan jarak 3 - 5 cm. Sebelum ditabur diberi perlakuan Rotone F. 400 ppm (Surata. 1998). Untuk menqhindari kerusakan semai atau biii teranqkat saat penvirarnan maka penvirarnan dilakukan dengan metode pencelupan dasar bak kecambah dalam air sarnpai mencapai kapasitas laaanq.

Setelah 10 hari, biji qaharu mulai berkecambah dan setelah umur 30 hari perkecambahan biji sudah berhenti . Bibi! siap disapih setelah umur 20 - 30 hari atau 3 - 4 daun dan tinoci bibit 3 - 5 cm.

2. Penyapihan

Penvaolhan bibit dari bedenq saoih ke bedenq tabur dilakukan dengan menggunakan kantuno plastik (polvbaq) ukuran 1 5 x 20 cm. Penvapihan dilakukan secara hati-hari aoar akar semai dan daun tidak rusak.

II�( fl \o 1-1. JUUi

(14)

Penvanihan dilakukan pada waktu pagi atau sore han di ternpat vane teduh. Pada waktu penvaoihan diusahakan terhindar dari ternperatur yang ekstrim/terlalu panas dan dilakukan di bawah nauncan. Bibit di persemaian rnenoounakan naungan paranet denqan intensitas penyinaran 50% atau mengqunakan daun kelapa/alanq-atanq.

Media yang dipergunakan dalam penyapihan bibit gaharu adalah campuran tanah : kornoos

=

4 : 1 (terutama pada media tanah yang kurang subur), Dalam penyapihan perlu diperhatikan hal-hal sebagai berikut: akar tidak boleh terlipat atau patah. bibit yang disapih hanya bibit yang baik dan sehat, sedangkan bibit yang kondisinva kurang baik/sehat lebih baik dipelihara. Pada urnur 6 - 7 bu Ian bi bit sudah siap untuk dipindahkan ke tempat penanaman.

Pembuatan bibit bisa juga dilakukan dengan penanaman biji secara - r

langsung dengan jumlah 3 biji/polybag. Biji yang ditanam diperlakukan terlebih dahulu dengan Rotone F 400 ppm.

3. Pemeliharaan Bibi!

Pemeliharaan bibit ditujukan untuk mendapatkan kualitas bibit yang baik di oersernalan. Kegiatan ini meliputi: penyiraman, penyulaman. pemupukan.

pembersihan qulrna. rnernotono akar yang tembus dan pengendalian hama/penyakit .

a. Penyiraman dilakukan secukupnya. yaitu sehari sekali sarnpai media semai rnencaoai kapasitas lapang.

b. Penyulamam dilakukan terhadap bibit yang tidak tumbuh yang dilakukan sampai umur 2 bulan.

c. Pemupukan dibutuhkan di persemaian jika media semai kurang subur yaitu dengan menggunakan pupuk urea 2 g/bibit atau NPK 3 g/bibit.

Pemupukan dilakukan pada umur bibit rnencaoat 3 bulan.

d. Pembersihan outrna dilakukan dengan cara mencabut gulma untuk mengurangi pesaing yang dilakukan setiao saat.

e. Pengendalian hama dan penvakit dilakukan apabila adanva gejala seranuan. Semai yang terserang hama/penyakit sebaiknva dipisahkan dan diberi perlakuan khusus untuk secara intensif dilakukan

I/SI 11 \u U. JOn! 7

(15)

penqendalian hama/penvakit. Apabila kondisinya tidak daoat puhh sebaiknva bibit dimusnahkan saia.

f. Pemotonqan akar vano ternbus ianah dilakukan untuk rnenquranqi kerusakan brbrt dan meruapa kesehatan brbrt saai drpmdahkan ke iapangan.

4. Pembuatan Bibi! dari Cabutan

Bibi! gaharu selain dibuat dari penyemaian biii dapat outa dioerqunakan anakan dari permudaan alam dengan cara cabutan. Bibit cabutan vang dipergunakan adalah bibit vang mencapai tinggi 4 - 5 helai daun. Pengambilan cabutan dilakukan dengan cara mencungkil anakan alam sedemikian rupa.

sehingga masih ada tanah yang melekat bersama akarnya. Waktu pencabutan anakan diusahakan kondisi tanah dalam keadaan basah dengan cara menyiram (untuk mengurangi kerusakan akar). Anakan vang teiah dicabut dibungkus dengan oelepah pisang dan selaniutnva segera ditanam di persemaian. Periu diperhatikan waktu penvemaian bibit cabutan akarnva ianqan sampai teriipal. Seteiah ditanam. anakan diletakkan di bawah naungan paranet 50 persen atau atap alang-alang/daun kelapa.

Mengingat pada waktu pengambiian bibit cabutan sering teriadi kerusakan akar, maka sebeium anakan cabutan ditanam di polvbaq terlebih dahuiu akar dicelupkan selama 1 menit di daiam larutan Rotone F 1 O q + 1 kg tan ah vane diambil disekitar perakaran + 1 liter air Teknik ini dapat meningkatkan pertumbuhan 95 oersen dan mempercepat hidup dan pertumbuhan anakan (Surata. 1997).

Permudaan alam untuk bahan cabutan semai gaharu terutama daoat diambii dari iokasi-lokasi di bawah pohon gaharu. Biasanya di bawah sekitar tegakan pohon gaharu banyak anakan alamnya yang bergerombol. Aoar tidak mengganggu persediaan permudaan alam maka oerlu disisakan persediaan anakan alam secukupnya yaitu jarak 3 x 3 m terutama disisakan anakan vang te,tinggi atau yang sudah tidak rnunqkin iagi untuk dipakai bibit cabutan.

/ISi

u

\"v. Ii. JO(; I
(16)

4.Seleksi Bibi!.

Sebulan sebelurn tanaman dtpindahkan ke laoanqan dllakukan seleksi b1b1t uniuk mendapatkan bibit vanq slap tanam Blbit vanq berkualltas balk akan relaltf tahan menghadapi perubahan kondrs: kenng dt lapanqan dan akan rneninqkatkan pertumbuhan tanaman.

Bibit vane slap tanam dipisahkan dengan bibit yang belum siap tanam.

Bibi! yang tidak siao tanam memerlukan pemeliharaan lanjutan. Bibi! yang siap tanam, sebelum dipindahkan ke lapangan diperlakukan hardening off ( cahaya ditingkatkan. oenvlrarnan dikurangi). Hal ini dimasudkan agar bibi1 daoat beradaptasi dengan keadaan yang baru di lapangan.

VI.

PENANAMAN

A. Pemllihan Lokasi

Dalam memilih lokasi untuk pembuatan hutan tanaman gaharu hendaknya dlperhatikan hal-hal sebagai berikut.:

(1) Lahan (antara lain : iklirn. tanah. ketinggian dari permukaan laut) harus sesuai denqan persyaratan yang dikehendaki tanaman gaharu.

(2) Kondisi sosial ekonoml masyarakat. hal ini dikaitkan dengan kemungklnan memperoleh tenaga kerja untuk penanaman. upaya penqarnanan hutan beruoa kebakaran dan bahaya ternak.

B Persiapan Lapangan 1. Penataan Lapangan

Penataan lapanqan dilakukan sebetum kegiatan penanaman. Guna keperluan tersebut oertu dilakukan pemeriksaan laoanqan dan selanjutnya ditentukan batas-batas blok dan petak tanaman.

Selain itu, oerlu oula ditetapkan batas-batas bagian tapangan yang tidak boleh dibuka seperti 3 m dari pinggir ju rang dan tepi sungai. 1 O m dari daerah mata air. laoanqan yang memerlukan saluran drainase. rintisan jalan pemeriksaan dan untuk keperluan sarana lainnya.

I/SC 7 I Yo 14. 2110 I

(17)

AISUU No. 14. 200 I

lO

3. Naungan Lapang

Gaharu memerlukan naungan lapang selama pertumbuhannya . Ketika masih berumur 1 t 3 tahun tanaman gaharu memerlukan naungan atas 50%, sedangkan umur 4 - sampai panen memerlukan naungan samping 50%

.Menurut Surata (1998) anakan gaharu yang umurnya masih muda akan tumbuh baik bila ditanam di bawah naungan semak atau kelompok pohon dibandingkan dalam keadaan terbuka. Sebagai perbandingan untuk tanaman gaharu yang ditanam dengan naungan pohon setelah umur 2 tahun mempunyai 2. Pembersihan Lapangan

Areal yang akan dipergunakan untuk penanaman gaharu perlu dilaklikan pembersihan lapangan. Pada dasarnya tujuan dari pemperslhan lapangan ini adalah untuk menciptakan prakondisi yang baik untuk memacu pertumbuhan tanaman. ;~-Berkenaan dengan hal tersebut faktor-faktor penghambat pertumbuhan tanaman gaharu seperti rumput harus dibersihkan/dikendalikan.

Mengingat gaharu membutuhkan naunqan lapang maka pohon pohon penaung ditinqqalkan dan diatur sedemikian rupa dengan cara memangkas cabang- cabang pohon yang tidak perlu sehingga diperoleh naungan 50%.

Cara-cara penyiapan lahan kehutanan secara umum bisa direkomendasikan untuk penyiapan areal penanaman gaharu. Tempat penanaman harus terbebas dari gulma atau bila memungkinkan tanahnya diolah (bila ditanam dengan sistem tumpahg sari).

I' ·r

Hasil penataan lapangan kemudian diberi tanda batas ·yang lelas di lapangan dan dipetakan. Jalan pemeriksaan dibuat dengan kerapatan 0.1 km/ha. Jalan pemeriksaan tersebut harus bersambungan satu dengan yang lainnya. Penampang jalan tersebut harus miring ke luar untuk mencegah terjadinya erosi parit.

Untuk setiap petak tanaman dibuat sebuah gubug kerja yaitu untuk keperluan penyimpanan peralatan kerja. tempat berteduh dan menginap mandor. Letaknya di tengah-tengah petak tanaman dan di tepi jalan angkutan/

pemeriksaan.

(18)

I I

.usi

7J Ya.

u.

100 I

Gambar 2. Tanaman Gaharu di Lapanqan Tanpa Penaunq (umur 2 tahun).

... :\

Gambar 1. Tanaman Gaharu di l.apanqan denqan Penaunq Samping .

. j

(19)

.asu:

\'v. l./. 2001

12

4. Sistem Pembuatan Tanaman

Sistem pembuatan tanarnan 'dapat diselengg~rakan de9.gan:

.,~

(1) Sistem penanaman di tempatterbuka. Pada dasarnya slstem tumpang sari dapat dilakukan pada lokasi yang terouka/tanpa ada pohon peneduh. Sistem ini adalah cara membuat tanaman yang dikerjakan bersarna-sarna dengan penanaman tanarnan semusim dan pohon penaunq jangka panjang. Hasil ini terbukti paling baik meningkatkan pertumbuhan gaharu. mengingat gaharu sangat sensitif terhadap persaingan gulma dan perlu tempat naungan. Keuntungan lain adalah kemudahan untuk mendapatkan tenaga kerja, menekan biaya tanam dan mensejahterakan masyarakat di sekitar hutan.

(2) Sistem penanaman di bawah naungan. Pada dasarnya sistem ini

•\"

r

adalah cara pembuatan tanaman yang dikerjakan pada areal yang sudah ada pohon penaung secara alami. Sistem penanaman ini dilakukan dengan cara hanya membersihkan rumput di bawah . naungan/lokasi penanaman dan selanjutnya mengatur intensitas penaung dengan cara inemangkas penaung yang terlalu rapat dan penanam pohon penaung oada tempat penaung yang masi.h kurang.

tinggi 103,69 cm. diameter 1,615 cm dan persen hidup 6.37 persen dibandingkan tanpa naungan mempunyai til')QQi 43,65, diameter 1, 123 cm dan hidup 33,46 persen (Surata, 1998).

Penggunaan tanarnan penaung dapat iuqa dilakukan dengan memanfaatkan naunqan tumpang sari seperti dengan padi ladanq, iagung dan palawila. Dalam pola tanam ini perlu ditanam pohon penaung jangka panlanq yang permanen baik pohon pengahasil pakan ternak. buah. kayu bakar maupun penghasil kayu pertukangan. Hasil penelitian gaharu yang ditanam dengan sistem tumpang sari jagung dan ketela pohon dapat meningkatkan persen tumbuh sampai 60.56% (Surata. 1997).

(20)

I ~

.-USC 1J \"o. 1./. 200 l

C. Pelaksanaan Penanaman

Pelaksanaan penanaman dilakukan

pada

permulaan musim hujan yaitu apabila curah hujan sudah normal (curah hujan sudah mencapai minimum 100 mm). Daerah yang agak kering oenanaman dilakukan setelah tanah memiliki kelembaban yang cukup.

Dalam pelaksanaan penanaman perlu dilakukan secara hati-hati, kantung plastik dilepas sebelum bibit diterneatkan di lubang tanam. bagian akar jangan sampai terlipat atau patah. Setelah bibit masuk selanlutnva lubang tanam ditutup denqan tanah sarnpai penuh, Selanjutnya tanah ditekan dengan tanqan 6. Pengangkutan bibit

Menjelang penanaman. bit:iit harus sudah. diangkut dan disiaokan di lapangan . Bibit yang akan diangkut ke lapangan harus melalui seleksl dan disiram terlebih dahulu. Pengangkutan bibit dari persemaian ke lapangan dilakukan pada pagi hari atau sore hari dan terlebih dahulu dilakuk.~rn penyiraman terutama bagi bibit yang memerlukan jarak angkut yang memakan waktu lama.

Pembongkaran bibit di lapangan harus dilakukan dengan hati-hati, sepertl halnya pada waktu pengangkutan, iangan sarnpal menimbulkan kerusakan. Bibit yang telah diangkut tetapi belum dapat seqera ditanam, dirawat seperti merawat

· bibit di persemaian, yaitu denuan menyiram dan menaruh bibit di tempat yang teduh.

. pohon penaung. Lubang tanam dibuat dengan ukuran 30x 30 x 30 cm.

5. Jarak Tanam

Arah ialur tanam vanq dipasanu aiir perlu mendapatkan perhatian. Daiam hal ini ailr searah denqan qarls kontur. Pembuatan iarak tanam dan lubanq tanam yang drrekornendasikan untuk tanaman qaharu. pada ternoat vane terbuka/ belum ada pohon penaung dilakukan denqan menanam 1 ialur tanaman gaharu dan 1 jalur yang lain tanaman penaunu secara bergantian dengan jarak tanam 3 x 3 m. Pada lokasi yang sudah ada penaung alamnya penanaman dilakukan dengan iarak tanam 4 x 4 m yang dilakukan di sela-sela

(21)

,-lISW,i No. I -I, 200i 14

i '

Pemupukan

Agar tanarnan dapat tumbuh balk maka.keqiatan pemupukan di lapangan perlu dilakukan. Pemupukan dituiukan untuk memacu pertumbuhan tanaman di lapariqan .~ehingga tahan terhadap kondisi kering dan persen tumbuhnya lebih tinggi. Pemupukan dilakukan 1 kali setahun yaitu pada musim hujan.

PemY:,P~~~fl_£~rt_ama dllakukan 2 bulan setelah penanaman dengan pupuk NPK dosi~.J~O.<gLp,Qh.on, t - k l '~ ... ' '... . .dan 120 g/pohon pada umur 1 - 2 tahun setelah tanaman.

'i r" \ ~ i ••

2. Penyianqan

Penyiangan adalah pembebasan tanaman pokok dari pesaing yang meliputi pernbersihan rum put. yang dilakukan radius 1 m disekitar tanaman qan pendangiran .dilakukan · dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman radius 30 cm. Penyiangan tanaman dilakukan setiap 3 bulan sampai dengan tanarnan berurnur 2 tahun. Penyiangan dilakukan secara bijaksana terhadap pohon ,Penaung dengan tetap memepertahankan intensitas penyinaran atas 50% sarnpal umur 1 - 3 tahun dan pohon penaunq samping sebesar 50%

.

\~

setelah bibit tanaman berurnur lebih dari 3 tahun.

~..

1. Penyulaman

i;>enyulqpian tanaman yang mati dilakukan pada saat curah hujan masih turun. yaqg

1~\\c;i,~ykan pada tahun berjaian, tahun pertama dan kedua. Bibit untuk keper,~yan~p,enyulaman harus sudah dipersiapkan terlebih dahulu.

Pemeliharaan tanaman periu dilakukan dengan baik agar tanaman yang

.

masih muda dapat tumbuh dengan baik sesuai dengan yang diharapkan.

Pemeliharaan yang diiakukan terutama penyulaman, penyiangan. pemupukan, pemangkasan. penjarangan, pemberantasan hama dan penyakit.

VII. PEMELIHARAAN

di iubang tanam u.ituk membuat anakan berdiri kokoh. Penanaman tanaman tumpang sari dlaniurkan ditanam di sela-seia tanaman pokok.

(22)

AJSl V . Yo.

u.

2001

5. Pemberantasan Hama dan Penyakit

Pemberantasan hama dan penyakit adalah salah satu pemeliharaan agar dapat dicapai hasil yang optimal pada akhir daur.

Pemberantasan hama dan penyakit terutama dilakukan pada tanaman yang sejak dini terserang.

Jenis hama dan penyakit yang biasanya menyerang tanaman gaharu adalah sbb:

(1) Hama menyerang daun. tunas dan ranting pohon. Daun yang terserang menjadi berlubang. Pengendalian hama ini dengan

insektisida.

(2) Rayap kadang-kadang menyerang tanaman muda.

4. Pemangkasan dan Penjarangan

Agar tanaman dapat membentuk batang yang bagus. iurus dan sehat maka kegiatan pemangkasan perlu dilakukan agar pohon tumbuh lebih balk . Teknik pemangkasan cabang dilakukan pada cabang pohon bawah sebanvak 1 - 2 cabang. Terutama dilakukan pada pohon terlalu banyak cabang untuk

· . rnernbuat pertumbuhannya lebih _baik. Khusus untuk gaharu pemangkasan cabang ini akan membuat Iuka baru dan secara alami akan merangsang infeksl pembentukan gaharu.

Teknik penjarangan untuk gaharu sampai saat' ini belum ada. Akan tetapi untuk penjarangan perlu dilakukan terhadap pohon-pohon vang tajuknya saling menutup baik terhadap naungannya maupun antar pohonnya sendiri dan juga dilakukan terhadap pohon-pohon yang tumbuh kerdil atau tertekan. pohon yang mati, pohon yang rapat, pohon yang terserang hama dan penyakit.

Pemupukan dilakukan pada larikan tanaman sedalam 10 cm dengan radius 20 cm di sekitar oohon. Bekas larikan pupuk seianjutnya ditimbun denuan tanah

(23)

.. .

-IIS[

u

\'u. i -I, :!00 I

B. Teknik Penularan Gaharu.

Pohon gaharu dapat menghasilkan damar gaharu dengan teknik penularan menggunakan jamur penyebab terbentuknva darnar gaharu. Secara alami -: pernbentukan qaharu ini daoat terjadi melalui infeksi karena terluka atau cabang Asperqil/us, Penicil/ium, dan Fusarium sp.Di Lombok iuua ditemukan sejenis iarnur Fussarium laterium penyebab pembentukan uaharu (Parman.

- .

1999).

lnfeksi yang terjadi pada pernbentukan gaharu akibat bakteri atau jamur

I

akan rnenirnbulkan kelainan dalam zat-zat ekstraksi dan terjadi penumpukan zat yang berlebthan, sehingga terjadi penyumbatan dalam saluran makanan. Dalarn keadaan tersebut pohon mengadakan reaksi yang ditandai dengan diproduksinva cairan vane berbau wangi. akan tetapi tidak keluar dari batang/gubal dan mengendap menjadi satu dalam batang (Oetomo, 1995).

Secara teori, kemungkinan mekanisme pembentukan. gaharu adalah teriadinva penvimpanqan fisioloqis tanaman inang (tanaman penqhasil gaharu) vane diakibatkan oleh aktifltas enzimatis jamur patogen. Bau harum yang terjadi dlduua disebabkan oleh terbentuknva senvawa-senvawa atsiri (zat volatile) yang khas sesuai dengan karakteristik zat ekstraktif tanaman inang akibat proses di atas. Na mun sampai saat ini zat-zat ekstraktif tersebut belurn diketahui secara . · oasti (Oetomo.1995).

A. Pembentukan Gaharu

Proses pembentukan qaharu dioeroleh dari batanq pohon kavu penghasil qaharu vanq sakit/terinfeksi oieh hama dan penyakit karena terluka dan terbentuk gumpalan coklat-hitam. lnfeksi disebabkan oleh serangan hama dan penvakit (seranqqa. iamur dan bakteri). Hasil penelitian vane dilakukan Suharti dan Sidiyasa (1987) didaoat adanya berbagai jamur seperti Dip/odia so, Phytium so., dan Fusarium soloni yang diduga mernpunyai oeranan penting dalam pernbentukan gaharu. Menurut Tunstat dalam Beniwal (1989) bahwa di India juga ditemukan sejenis jamur yang menunjukkan adanya hasil yang positif datarn oembentukan gaharu. Adaoun jenis jarnur tersebut antara lain jamur

'

VIII. TEKNIK PENULARAN

(24)

,.

A!Sl 1J \'o. I./, 200 I 17

kering/patah. Tetapi tidak selamanya ini bisa teriadi karena dipenqanrhi oleh faktor-faktor linqkunqan. 'Oleh karena itu untuk mempercepat dan meningkatkan pembentukan gaharu Pl~~rlukan teknik penularan secara sengaja. Di bawah ini

"l 1\-r~·

diberikan beberapa cafa yang digunakan untuk memoerceoat pernbentukan gaharu:

a. Dengan rnenvuntikkan inokulan jamur yang dapat merangsang pembentukan qaharu (seperti Fussarium spp) ke dalarn jaringan batang pohon yang belum terbentuk gaharu. Penyuntikan ini dilakukan pada diameter oonon lebih besar dari 15 cm. Kegiatan ini diawali dengan membuat lubang yang banyak pada batang· dengan bar kayu dan jarak antar lubang bor 50 cm. kedalaman bor 2/3 jari jari batang. Menurut Parman (1999) inakulasi dilakukan oenga~ memasukan cairan jamur dengan pinset sampai penuh-dan selanjutnya ditutup dengan lilin cair.

Akan tetapi Widnyana(1998) menemukan bahwa penutupan lubang dengan kapas hasilnya lebih baik. Semua peralatan harus diseterilkan terlebih dahulu. Setelah umur 6 bulan maka akan rnulal terbentuk gubai gaharu dengan warna jaringan kavu coklat

b. Melakukan perlukaan secara sengaja dengan menakik batang pohon uahaiu, kemudian dibiarkan terladi infeksi secara alami oleh jamur atau bakteri. Teknik ini selarna ini diterapkan oleh masyarakat pencari gaharu. Pembentukan gaharu akan terjadi setelah 1 tahun.

c. Dengan mengebar batang gaharu dengan bar kayu dan kemudian memasukkan cairan gula ke dalam lubang bar.

(25)

.1!Sl 7J \'o.

u.

200 i

JR

Gambar 4. Koloni beberapa Jamur dari Contoh Gaharu Alam dari Hutan Amfoang, Kupang, NTT.

Gambar 3. Lempengan Gubal Gaharu dari Aquillaria meiecensis Hasil Penularan lnokulan Jamur Fusarium spo di Hutan Amfoang,

Kupang, NTT. (umur tularan 4 bulan)

(26)

IQ ; . itst 7,J \'o. I./, 200 I

dan menggali akarnva. Selanjutnya dibersihkan kulit, cabang dan dipisahkan bagian batang/akar yang berwama putih · dan berwarna coklat-hnarn (yang ada damar gaharunya) dengan cara memotong dengan pisau yang mengikuti bentuk gubal gaharu (Widnyana dan Sinaga. 1998). Bentuk gubal gaharu ada 3 yaitu bentuk lempeng. mangkuk dan bulat. Selanjutnya gubal gaharu dibersihkan dari kotoran dan dimasukkan ke dalam karung (wadah). Hasil pengumpulan ini kemudian di jemur selama 5 ~ 6 hari dan setanjutnya disortir menurut kelas-kelas gaharu dan dimasukkan ke dalam kantung plastik atau karung kain.

B. Klasifikasi. dan Produksi

Klasifikasi gaharu dilakukan berdasarkan tingkat wama pada kayu gubalnya yang ditandai oleh warna coklat-hltarn. Semakin gelap warnanya A. Pemanenan Gaharu

Secara teknologi sederhana pemanenan gaharu dilakukan oleh para petani penqumpul gaharu dilakukan apabila pohon penghasil gahar1.1 sudah membentuk gaharu yang dicirikan oleh tanda-tanda sbb:

1) Ditandai dengan adanya pohon gaharu yang kelihatan merenggas/

hampir mati.

2) Untuk menqetahui banyak dan sedikitnya qubal yang terjadi dilihat dari banyak dan sedikitnya daun pohon gaharu yang rontok, makin sedikit daun yang rontok makin sedikit gubal yang terjadi dan sebaliknya.

3) Dengan menarik kulit pohon gaharu, apabila k~·lit.nya ditarik terputus putus

·I

maka sudah ada gubalnya dan sebaliknya kalau kulitnya ditarik dari ujung sampai pangkal tidak putus maka belum terbentuk gubal gaharu.

Dari hasil penelitlan Wiyono dkk (2000) telah menggunakan alat pernbor untuk mengambil contoh jaringan kayu dari ponon gaharu dengan memodifikasi alat pengukur riap pohon. Alat lni praktis untuk menduga keberadaan gaharu dan mengurangi resiko penebangan pohon yang ternyata tidak mengandung gaharu.

Pemanenan gaharu oleh masyarakat pencari gaharu dilakukan terhadap bagian pohon yang telah menghasilkan g.aharu dengan cara menebang pohon

, IX. PANEN DAN PRODUKSI

(27)

AISl 71 ,\fo. 14, 2001 p~ng,golongan gaharu dibagi menjadi 6 klas seperti: kelas super.A. AB, BC.C1 dan'c·2 (kemedanga·ii)'!

~ . { ~

Untuk membedakan mutu/klas gaharu adalah tidak mudah dan

·~·~nggolongannya s~l'lgat rumit dan rnernerlqkan banyak latihan dan

,,

penqalaman. Sese'Orang yang belum terlatih/pengalaman akan sulit rnernbedakan kualitas kelas gaharu karena semuanya berbentuk chip atau kayu bongkahan kecil yang memiliki warna yang hampir sama. Kesulitan ini akan diperburuk karena masih ada perbedaan klasifikasi antara pedagang pengumpul · dan biasanya bervar'iasi dari satu tempat ketempat yang lain.

Penentuan kualitas gaharu ini sifatnya subyektif sekali dan tldak seragam sehingga kualitas qaharu yang dihasilkan tergantung dari orang yang menentukannya. Dengan demikian ada kemungkinan gaharu yang mempunyai kelas yang sama, akan' tnempunvai kualitas yang berlainan karena orang yang menentukan \ 'berbeda. ,. _, t

Menurut Wiyoho, Santoso dan Anggraeni (19~6) beberapa parameter yang diusulkan diglinakao untuk menentukan kualitas gaharu secara kuantitatif adalah warna. kad·a'r resin, kadar minyak. bilangan ester. ukuran dan bentuk serpih. Gaharu yang mempunyai kualitas yang tinggi akan 'mengandung warna yang hitam 'dan mernpunyal kadar resin. kadar minyak. biiangan ester yang tinggi pula. Dengan demikian jeblh obyektif dan kualitas gaharu dapat ditentukan lebih tepat.

Jumlah produksi gaharu dalam satu pohon tidak dapat dihitung secara pasti. karena tidak semua potion gaharu yang mati menghasilkan damar wangi disamping kualitas/jumlah pohon gaharu yang semakin menyusut. 'Disamping itu pohon gaharu dari rnastnq-rnasinq pohon yang matipun tidak sarna hasllnya, .Hasu pehgamatan lapangan yang dilakukan Wiyono (1998) di Riau. NTB dan semakin tinggi kadar damarnya, semakin baik kelasnya semakin baik dan

harganya semakin tinggi. Menurut ASGARIN (2001) berdasarkan arralisa pasar

n1mJ

iia'h'aru .daoat dikelompokkan meniadl 16 klas. Kelas tersebut da,rj_

van8

'L !- : ~ ,!! • ,,.,• ' i t-, f'' r,

teroaiK sa·mpai. terendah adalah sbb: Super A, Super 8, Super R, ~B. AB 1.AB

·~

~

2 ..

TG

A ..

TG B. TtiTenqqelarn, Tri A, Tri B, Tri C, Kemedangan (MD): ¥DA, rv)D

···.• .,..,. ,j I ,.., ,,

B, ·

·Mb

C,

Mbb.

dan Tri. Para pedagang di NTB untuk memudahkan

'

.

(28)

'! .

.usr

1J .\'o. I./, 2001

Gambar 6. Gaharu Kelas Super.

Gambar 5. Gaharu Kelas Tri.

(29)

.us:

Li

\o.

14. WO!

Forester.

Meijer, W. 1974. Field Guide for Trees of West Malanesia. Missouri. Botanical Garden St. Louis. "!.1i$Souri. USA.

Oetomo. H.H. t 995. Tinjauan Terhadap Pemasaran Komoditi Gaharu Indonesia Diperdagangan lnternasional. Makalah dalam Lokakarya Pengusahaan Hasil Hutan Non Kayu. Surabaya 31 Juli- 1Agustus1995.

Parman. 1999. lnokulasi (Penyuntikan) Bibit Gubal Gaharu. Laporan Proyek Pembangunan Pusat Pengembangan Gaharu tahun Anggaran 1998/1999. Kerjasama Universitas Mataram dan Direktorat Jendral Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial. Departemen Kehutanan dan Perkebunan.

· t.aooran Teknis BPK Kupang.

, Beniwal. S.S. 1989. Sivicai Characteristics of Aqularia agallocha Rob. Indian Asosiasi Pengusaha Eksportir Gaharu Indonesia. 2001. Masalah/Kendala

Dalam Pengusahaan Kayu Gaharu. Makalah Dibawakan Dalarn Acara Loka Karya Pengembangan Gaharu. Mataram 4-5 September 2001.

Balai Penelitian Kehutanan Kupang. 1990. ldentifikasi lnanq Penghasil Gaharu.

X. DAFT AR PUST AKA

Kalimantan Timur mengindikasikan bahwa jumlah gaharu yang diperoleh dari pohon gaharu adalah sangat kecil, yaitu hanya sebesar 18 kg dari total berar pohon sekitar 2;S ton, saran

sekirar

0, 72 persen Sedangkan

Soeharrono

(200

l) di Kalirnantan menemukan hahwa penduduk Kayan

mengumpulkan gaharu dari pohon yang berdiameter di. hawah 20 cm yang diperoieh guhal berkisar 0,1 - 0,18 kg/pohon dan kemedangan 0,19- 3 00 kg/pohon Dalam saru pohon yang mati didaparkan beberapa 'kilogram guhal atau kemedangan Dengan demikian dalam panen gaharu

maka diperlukan target jumlah pohon yang akan ditehang cukup hesar

(30)

.-US[ LI \'o. I./, 100 I

Pusat Penelitian Tanah dan Agroklimat. 199'3. Peta Tanah Propinsi Nusa Tenggara Barat. Pusat Penelitian Tanah dan Aurokllrnat, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Boqor

Sohartono, T. 2001. Gaharu. Kegunaan dan Pemanfaatannya. Makaiah Disampaikari Pada Lokakarya Pengembangan Gaharu di Mataram 4-5 September 2001.

Sidiyasa. K.1986. Jenis jenis tumbuhan penghasil gaharu. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor. 2(1) 7-16 .

. sunartt M. dan Sidiyasa. K. 1987 . Jenis-jenis Tumbuhan Penghasil Gaharu.

Jumal Penelitian dan Pengembangan Kehuta,nan Bogor.

Surata. l.K. 1997. Uji Coba Penanarnan Gaharu di Rarung. Lombok. NTB.

Laporan Proyek Penelitian Tahun 199611997. Baiai Penelitian Kehutanan Kupang

Surata. l.K. 1998. Percobaan Penggunaan Rotone F Untuk Meningkatkan Perkecambahan Bili Gaharu. Laporan Teknis Intern. BPK Kupang. (tidak dipublikasikan).

Surata. l.K.1998. Percobaan Penggunaan Penaungan Alam Untuk Budidava . Gaharu. LaporanTeksnis Intern BPK Kupang (tidak dlpubllkastkan)

Widnyana, l.M. dan M.Sinaga. 1998. Kajian Pengusahaan Gaharu di NIT:

Studi Kasus di Daerah Amfoang Utara. Proseding Ekspose/Diskusi Hasil-Hasil Penelitian Balai Penelitian Kehutanan Kupanq. 6 Oktober 1997. Balai Penelitian Kehotahari"'K'upang .

Widnyana. I. M.. 1998 K~Jian· T-ekriis dan -sosiat Ekonomis. Pengusahaan

...

j .,. '

Gaharu dan Barn~µ di NTT da1f N\B, Laporan Proyek Penelitian Kehutanan Kupang 1997/199a Balai Penefitiarf K~hutanan Kupang.

Widnyana .l.M. 1999. Kajian Tek~s dan SoSial Ekonqm{ Pengusahaan Gaharu

... .

di NTT dan NTB. Laporan Proy"ek Peneliti~n Tahun 1998/1999. Balai Penelitian Kehutanan

Wiyono. B .. E. Santoso dan I. Anggraeni. 1996. Studi Pendahuluan Penentuan parameter Persyaratan Kualitas Gaharu. lnformasi Hasil Hutan. Bogor.

(31)

. i!S[LJ Yo.

u.

200/

/ I .. ·

Wiyono, B. 1998. Penelitian Teknik Penduqaan Gaharu. Makalah Penuniang.

Diskusi Hasil Hutan Bukan Kayu. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan dan Sosiai Ekonomi Kehutanan. Bogar.

Wiradinata. H. 1995. Gaharu. Aquiiaria spo. Perkembangannya dan Pemanfaatan yang Berkelanjutan. Lokarkarya Pengusahaan Hasil Hutan Non Kayu Indonesia. Indonesia-ODA-UK Tropical Forest Management Programme. Surabaya. 31 Juli -1 Agustus 1995 .

Referensi

Dokumen terkait