AGAMA SEBAGAI BENTUK ALIENASI
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas Teori Sosial Keagamaan
Disusun oleh:
1. Laila Robbaniah (22211982) 2. Miratu Azzahra (22212002) 3. Muliayana Putri (22212004)
Dosen Pengampu:
Dr. Arison Sani, M.A.
PRODI ILMU AL-QUR’AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH INSTITUT ILMU AL-QUR’AN (IIQ) JAKARTA
1444 H/ 2023 M
i
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT dengan segala rahmat, hidayah dan inayah-Nya sehingga makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat beriring salam semoga tetap tercurah limpahkan kepada junjungan kita nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyyah menuju zaman yang terang benderang seperti saat ini. Terima kasih kami ucapkan kepada teman-teman kelompok IV yang telah bekerja sama dalam penyusunan makalah ini. Dan tentunya tak lupa pula kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Drs. Arison Sani, M.A.
selaku dosen pengampu yang telah membimbing kami dalam proses belajar mengajar pada mata kuliah Teori Sosial Keagamaan.
Penulis berharap makalah ini dapat memberikan kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan yang lebih mendalam. Kami sadar dalam proses penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Karena itu, kami mengharap kritik dan saran dari pembaca sekalian.
Tangerang Selatan, 24 Februari 2024
Penulis
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 2
C. Tujuan ... 2
BAB II PEMBAHASAN ... 3
A. Ekonomi Dan Pertentangan Kelas ... 3
B. Materialisme, Alienasi Dan Dialektika Sejarah ... 7
C. Eksploitasi Kaum Buruh: Kapitalisme Dan Nilai Plus ... 9
D. Kritik Karl Marx Terhadap Agama ... 11
E. Kritik Terhadap Teori Karl Marx ... 16
BAB III PENUTUP ... 20
A. Kesimpulan ... 20
B. Saran ... 20
DAFTAR PUSTAKA ... 22
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah
Agama yang kini menjadi pedoman hidup bagi setiap manusia tidaklah muncul secara tiba-tiba, melainkan ia hadir dengan proses yang begitu panjang. Agama adalah suatu bentuk keterasingan seseorang dimana ia beranggapan bahwa ada sumber kekuatan diluar kemampuan manusia yang mempengaruhi perbuatannya, sehingga manusia menjadi pasif dan hanya menunggu saja tanpa adanya usaha. Agama adalah candu, perspektif ini di populerkan oleh Karl Marx seorang filusuf sosial dari Jerman. Menurutnya agama hanya sekedar ciptaan manusia saja.
Karl Marx mampu mempengaruhi pandangan dan tindakan orang banyak dengan pemikirannya, ia telah berhasil mengguncangkan peradaban umat manusia bahkan pengaruhnya masih membelenggu dalam pikiran dan tindakan manusia hingga saat ini.
Karl Marx adalah seorang komunisme, pada mulanya ia hanya membahas seputar ekonomi dan sosial saja, tidak ada sangkut pautnya dengan agama. Namun, ketika mengkaji tentang alienasi ia menyisipkan perihal agama dalam pembahasannya sehingga Marx sendiri mungkin juga sudah di anggap Tuhan oleh para pengikutnya.
Terdapat hal-hal menarik yang membuat penasaran dan ingin mengetahui lebih lanjut dan terperici terkait teori agama dan keterasingan Karl Mark. Pada dasarnya setiap agama mengajarkan kedamaian dan kebaikan yang akan mendatangkan kemaslahatan bagi para penganutnya, sehingga pada makalah ini membahas tentang
2
“Agama Sebagai Bentuk Alienasi”.
B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Ekonomi Dan Pertentangan Kelas?
2. Apa yang dimaksud dengan Materialisme, Alienasi Dan Dialektika Sejarah?
3. Bagaimana Eksploitasi Kaum Buruh: Kapitalisme Dan Nilai Plus?
4. Bagaimana Kritik Karl Marx Terhadap Agama?
5. Bagaimana Kritik Terhadap Teori Karl Marx?
C. Tujuan
1. Mengetahui Ekonomi Dan Pertentangan Kelas
2. Mengetahui Materialisme, Alienasi Dan Dialektika Sejarah 3. Mengetahui Eksploitasi Kaum Buruh: Kapitalisme Dan Nilai
Plus
4. Mengetahui Kritik Karl Marx Terhadap Agama 5. Mengetahui Kritik Terhadap Teori Karl Marx
3 BAB II PEMBAHASAN A. Ekonomi dan Pertentangan Kelas
Ideologi komunis yang muncul di Eropa Barat merupakan salah satu respons serta reaksi terhadap situasi dan kondisi kehidupan masyarakat di sana, terutama nasib para kaum buruh atau proletar. Penyebabnya ialah anggapan miring atau sebelah mata terhadap kaum buruh (proletariat) serta ketimpangan dan perbedaan kelas sosial dalam masyarakat Barat masa itu, sehingga memunculkan sebuah gerakan pembebasan kaum proletariat atau kelas buruh dari kaum borjuis. Ide tersebut lahir dari seorang Karl Marx, lebih dikenal dengan ‘Bapak Komunis’ dan akhirnya terbentuklah partai Komunis sebagai penguasa tunggal.1
Istilah komunisme (communism) dalam bahasa Inggris yaitu,
‘communism’ berarti teori atau sistem organisasi sosial di mana semua properti dimiliki oleh komunitas dan setiap orang berkontribusi dan menerima sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan mereka. Sedangkan dalam Kamus Webster’s istilah tersebut memiliki tiga makna, yaitu:
pertama, sistem sosial dengan produksi barang. Kedua, sebuah teori perubahan sosial atau economic expert yang mengacu pada teori masyarakat ideal tanpa kelas. ketiga, bermakna teori sosial yang menyerukan penghapusan kepemilikan pribadi dan kontrol oleh masyarakat atas urusan ekonomi. Dari uraian definisi diatas dapat
1 Fadhillah Rachmawati, “Kritik Terhadap Konsep Ideologi Komunisme Karl Marx,” Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) 1, no. 1 (31 Maret 2020): hlm. 67, https://doi.org/10.22373/jsai.v1i1.424.
4
disimpulkan bahwa istilah komunisme merujuk kepada suatu bentuk ideal sistem sosial masyarakat tanpa kelas.
Adapun secara terminologi dalam ilmu sosial, komunisme diartikan sebagai antologi doktrin-doktrin Marxis berupa kritik terhadap kapitalisme dan teori liberal dengan mengupayakan revolusi dari kaum proletariat yang nantinya akan menciptakan konsepsi masyarakat baru, disebut masyarakat komunis. Yaitu kehidupan masyarakat yang independen dari kemelaratan, tanpa kelas sosial, minus kesenjangan pembagian kerja, tanpa otoritas lembaga yang menjadi alat paksaan dan superioritas antar kelas sosial.2
Kelas sosial sendiri sejatinya adalah golongan masyarakat. Lenin, pemimpin Revolusi Rusia, mengartikan kelas sosial sebagai golongan sosial dalam sebuah tatanan masyarakat yang ditentukan oleh posisi tertentu dalam proses produksi. Namun di sisi lain, Karl Marx berpendapat bahwa kelas sosial dan golongan masyarakat adalah dua hal yang berbeda. Kelas sosial merupakan gejala khusus masyarakat pasca feodal, sedangkan golongan masyarakat adalah apa yang biasa disebut dengan kasta. Kelas sosial baru disebut sebagai kelas sosial dalam arti sesungguhnya apabila secara objektif merupakan golongan sosial dengan kepentingan sendiri dan secara subjektif merupakan golongan khusus dalam masyarakat yang mempunyai kepentingan-kepentingan spesifik serta mau memperjuangkannya.
Sejatinya pelaku utama dalam suatu kehidupan masyarakat adalah kelas-kelas sosial. Bertolak pada analisis alienasi atau keterasingan, kelas yang dimaksud di sini terbagi menjadi dua macam bila dilihat dari
2 Arif Budianto, “Tafsir Ekonomi Rakyat Gus Dur” (masters, IAIN Ponorogo, 2023), https://etheses.iainponorogo.ac.id/23888/.
5
sudut pandang ekonomi. Pertama, kelas atas, yakni kelas pemilik alat- alat produksi, seperti pabrik, mesin, dan tanah. Kelas atas memiliki satu prinsip, yaitu uang untuk memproduksi uang. Biasanya, yang termasuk dalam kelas atas adalah kaum borjuis atau kapitalis, seperti para bangsawan pemilik tanah. Kedua, kelas bawah, yakni kelas yang bekerja untuk pemilik alat-alat produksi.3 Kebanyakan yang termasuk dalam kelas bawah adalah kaum proletar atau pekerja, seperti para petani penggarap tanah milik bangsawan. Pada pembagian kelas ini, Karl Marx memberi perhatian lebih terhadap ketidakadilan yang terjadi di antara kedua kelas tersebut.
Pasalnya, kaum borjuis melaksanakan kegiatan ekonomi yang eksploitatif terhadap kaum proletar. Disebut eksploitatif, karena kaum borjuis membeli tenaga yang dimiliki kaum proletar dengan harga yang tidak sebanding dengan keuntungan yang didapatnya. Padahal sejatinya yang menjual jasa adalah kaum proletar, namun yang mendapat keuntungan justru kaum borjuis. Kaum borjuis pada umumnya bersikap konservatif, sedangkan kaum proletar bersikap progresif dan revolusioner. Dan kaum borjuis yang telah berkuasa sebenarnya merupakan kaum proletar yang berhasil lari dari pekerjaan kelas bawah.
Dengan kata lain, meskipun sebenarnya jumlah kaum proletar lebih banyak, kekuasaan kaum borjuis tetap lebih besar dan terbilang sulit untuk dikalahkan, mengingat kaum borjuis secara hakiki berkepentingan untuk mempertahankan status quo untuk menentang segala perubahan dalam struktur kekuasaan.
3 Muhammad Kambali, “Pemikiran Karl Marx Tentang Struktur Masyarakat:
Dialektika Infrastruktur Dan Suprastruktur,” Al Iqtishod: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Ekonomi Islam 8, no. 2 (28 Desember 2020): hlm. 73, https://doi.org/10.37812/aliqtishod.v8i2.154.
6
Karl Marx dalam melihat masalah kemasyarakatan memiliki pusat perhatian pada tingkat struktur sosial dan bukan pada tingkat kenyataan sosial budaya. Marx dalam hal ini lebih memusatkan perhatiannya pada cara orang menyesuaikan diri dengan lingkungan fisiknya. Dia juga melihat hubungan-hubungan sosial yang muncul dari penyesuaian ini dan tunduknya aspek-aspek kenyataan sosial dan budaya pada asas ekonomi. Marx memahami kenyataan sosial tidak ditemukan dalam ide- ide abstrak, tetapi dalam pabrik-pabrik atau dalam tambang batu bara di mana para pekerja menjalankan tugas yang luar biasa berat dan berbahaya, untuk menghindarkan diri dari mati kelaparan dan berbagai penderitaan kaum buruh, inilah kenyataan sosial.4
Teori kelas dari Marx berdasarkan pemikiran bahwa segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah pertikaian antara golongan. Menurut pandangannya, masyarakat mempunyai perbedaan- perbedaan fundamental antara golongan yang bertikai di dalam mengejar kepentingannya masing-masing. Bagi Marx, dasar dari sistem stratifikasi adalah tergantung dari hubungan kelompok-kelompok manusia terhadap sarana produksi. Kelas dalam hal ini adalah suatu kelompok orang-orang yang mempunyai fungsi, tujuan dan struktur sosial yang sama dalam organisasi.
Di dalam kapitalisme terdapat konflik kepentingan yang inheren antara orang yang memberi upah para buruh dan para buruh yang kerja pada mereka diupah kembali menjadi nilai surplus. Konflik inheren inilah yang membentuk kelas-kelas. Ada dua kelas yang menjadi
4 Rustono Farady Marta, “Esensi Dan Pemetaan Teoretisasi Media Komunikasi Dalam Perspektif Karl Marx,” Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi 2, no. 02 (17 November 2017): hlm. 121, https://doi.org/10.30813/bricolage.v2i02.839.
7
perhatian Marx yaitu proletariat dan borjuis. Proletariat adalah para pekerja yang menjual jasa mereka dan tidak memiliki alat- alat produksi sendiri. Kelas borjuis merupakan nama khusus untuk para kapitalis dalam ekonomi modern. Mereka memiliki alat-alat produksi dan memperkerjakan pekerja upahan. Borjuis adalah para pemilik modal yang memberi upah ke kaum proletariat. Dalam teorinya, Marx menemukan inti masyarakat kapitalis di dalam komoditas. Suatu masyarakat di dominasi oleh objek-objek yang nilai utamanya adalah pertukaran yang memproduksi kategori-kategori masyarakat tertentu.5 B. Materialisme, Alienasi dan Dialektika Sejarah
Materialisme adalah sistem pemikiran yang meyakini materi sebagai satu-satunya keberadaan yang mutlak dan menolak keberadaan apapun selain materi. Sistem berfikir ini menjadi terkenal dalam bentuk paham materialisme dialektika Karl Marx. Dalam kritik yang dilontarkan pada Hegel tentang manusia sebagai esensi dari jiwa. Marx menyanggah bahwa manusia adalah makhluk alamiah dalam obyek alamiah.6
Ada empat konsep sentral dalam memahami pendekatan materialisme historis menurut Morisson, yaitu: pertama, Means of Production (cara produksi) yaitu sesuatu yang digunakan untuk memproduksi kebutuhan material dan untuk mempertahankan
5 Risnawati Risnawati, Anshari Anshari, dan Aslan Abidin, “Pertentangan Dan Kesadaran Kelas Dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer (Pendekatan Teori Marxis),” RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya 9, no. 1 (2016): hlm. 72, https://doi.org/10.26858/retorika.v9i1.3795.
6 Hisam Ahyani, Muharir Muharir, dan Dian Permana, “Philosophical Review of Materialism and Idealism Married Age Limits in Indonesia,” Al-IHKAM: Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram 12, no. 2 (25 Desember 2020): hlm. 108, https://doi.org/10.20414/alihkam.v12i2.3048.
8
keberadaan. Kedua, Relations of Production (hubungan produksi), yaitu hubungan antara cara suatu masyarakat memproduksi dan peranan sosial yang terbagi kepada individu-individu dalam produksi. Ketiga, Mode of Production (mode produksi), yaitu elemen dasar dari suatu tahapan sejarah dengan memperlihatkan bagaimana basis ekonomi membentuk hubungan sosial. Keempat, Force of Production (kekuatan produksi), yaitu kapasitas dalam benda-benda dan orang yang digunakan bagi tujuan produksi.
Menurut Marx, alienasi bukan hanya berarti bahwa manusia tidak mengalami dirinya sebagai pelaku ketika menguasai dunia, tetapi juga dimaknai bahwa dunai tetap asing bagi manusia. Dunia berdiri di atas dan menentang manusia sebagai objek, meskipun dunia dapat menjadi objek ciptaan manusia. Alienasi pada dasarnya melanda dunia dan manusia sendiri secara pasif dan reseptif sebagai subjek yang terpisah dari objek. Perbuatan manusia sendirilah yang menyebabkan mereka teralienasi yang menjadi sumber utama kesengsaraan.7
Dialektika berasal dari bahasa Yunani dialegesthai yang kemudian popular sebagai dialog. Proses dialektika terdiri dari tiga unsur yang meliputi fase pertama, yang disebut tesis, fase kedua sebagai lawan tesis yaitu antithesis, dan dari pertarungan kedua fase tersebut muncullah fase yang ketiga yaitu sintesis. Oleh karenanya, Hegel menyampaikan menyampaikan bahwa dalam kehidupan ini tidak ada sesuatu yang
7 Helma Yances Pasulu, Rama Tulus Pilakoannu, dan Izak Y M Lattu, “Dilema Identitas pada Pelaksanaan Ma’pasilaga Tedong dalam Rangkaian Ritual Rambu Solo’,” no. 1 (2019): hlm. 31.
9
menetap dan selamanya akan mengalami perubahan.
Dialektika berarti sesuatu itu hanya benar apabila dilihat dengan seluruh hubungan yang berupa negasi, karena melalui negasi kita dapat maju, mencapai keutuhan, dan dapat menemukan diri sendiri. Dasar dialektika dari Hegel adalah relasionalisme internal, yakni pengertian bahwa keseluruhan kenyataan, dipahami sebagai manifestasi diri roh, yang terhubung satu sama lain dalam jejalin yang tidak terputus. Marx memandang dialektika Hegel terlalu mengarah ke mistik. Kemudian argumen Marx bahwa dialektikanya berbeda dengan dialektika Hegel.
Marx menyatakan bahwa dialektika Hegel berdirinya dengan kepala di bawah, sedangkan Marx ingin membalikkan dengan kepala di atas. Hal ini disebabkan, karena Hegel menjelaskan, bahwa ide sebagai primer dan benda sebagai sekunder, sedangakan Marx beranggapan sebaliknya yaitu benda adalah primer dan ide adalah sekunder.8
C. Eksploitasi Kaum Buruh: Kapitalisme dan Nilai Plus
Pada sekitar tahun 1944 Marx mulai menaruh perhatian pada karya Friederich Engels ‘Outlines of a Critique of Political Economy’ yang ditulis pada sekitar tahun 1843. Karya Engels ini akan berkontribusi besar dalam pemikiran Marx untuk memperluas ide mengenai alienasi.
Melalui karya ini, Marx menyadari bahwa alienasi bukan hanya berada di wilayah agama dan negara, akan tetapi juga terdapat pada relasi-relasi
8 Willy Riawan Tjandra, “Dinamika Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Peradilan Tata Usaha Negara,” Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, no. 0 (2011): hlm. 78, https://doi.org/10.22146/jmh.16158.
10
sosial antara pelaku produksi (buruh) dan pemilik modal (kapitalis).9 Alienasi dalam pekerjaan merupakan konsekuensi dari keberadaan dua kelas tersebut. Kelas borjuis atau kaum kapitalis adalah para majikan yang memiliki alat produksi yang berupa mesin-mesin industri, pabrik dan tanah. Kelas buruh adalah mereka yang melakukan pekerjaan tanpa memiliki tempat dan sarana kerja. Kelas buruh adalah kelas sosial yang terpaksa menjual tenaga dan waktu mereka kepada kelas kapitalis.
Karena mereka bekerja karena terpaksa dan tanpa memiliki sarana maka kegiatan bekerja serta hasil kerja bukan lagi milik para kaum pekerja, melainkan menjadi milik para pemilik modal. Inilah dasar dari keterasingan dalam masyarakat kapitalis.10
Kapitalisme adalah sistem ekonomi di mana produksi, distribusi, dan pertukaran barang dan jasa diatur oleh pasar bebas dan pemilik modal (kapital) untuk mencapai keuntungan. Dalam konteks kapitalisme, konsep "nilai plus" merujuk pada selisih antara nilai tambah yang dihasilkan oleh tenaga kerja dan upah yang diterima oleh pekerja.11
Dalam produksi barang dan jasa, tenaga kerja manusia memberikan nilai tambah melalui kerja keras dan kreativitas mereka. Namun, dalam sistem kapitalis, pemilik modal membayar upah kepada pekerja yang kurang dari nilai tambah yang dihasilkan oleh tenaga kerja tersebut.
Selisih antara nilai tambah dan upah inilah yang disebut sebagai "nilai
9 Datu Hendrawan, “Alienasi Pekerja Pada Masyarakat Kapitalis Menurut Karl Marx,” t.t., hal. 22.
10 Hendrawan, hal. 23.
11 Dan Divergensi, “Marx Di Zaman Antroposen: Nilai, Keretakan Metabolik, Dan Dualisme Non- Kartesian”.
11
plus". Nilai plus ini menjadi sumber keuntungan bagi pemilik modal, yang memperkuat struktur ekonomi kapitalis.12
Dengan kata lain, kapitalisme dan nilai plusnya menciptakan ketidaksetaraan ekonomi antara pemilik modal dan pekerja. Pemilik modal memperoleh keuntungan yang besar dari eksploitasi tenaga kerja, sementara pekerja cenderung mendapat upah rendah dan kondisi kerja yang tidak menguntungkan. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang keadilan sosial, distribusi kekayaan, dan peran negara dalam mengatur sistem ekonomi untuk memastikan kesejahteraan semua anggota masyarakat.13
Pemahaman tentang eksploitasi kaum buruh dalam konteks kapitalisme dan konsep nilai plus memberikan wawasan yang mendalam tentang dinamika sosial dan ekonomi dalam masyarakat. Dengan mengintegrasikan perspektif teori-teori sosial keagamaan, kita dapat mengembangkan pemikiran kritis dan aksi yang bertujuan untuk mencapai keadilan sosial dan kemanusiaan yang lebih besar.
D. Kritik Karl Marx Terhadap Agama
Pandangan Karl Marx terhadap agama tidak terlepas dari pengalaman di masa kecilnya, yaitu ketika ayahnya dipaksa harus pindah agama jika ingin menjadi pegawai negeri, kebijakan pemerintah tidak memperbolehkan agama pegawai berbeda dengan agama penguasa.
12 Eko Bahtiyar, “Kritik Islam Terhadap Konsep Marxisme Tentang Pengentasan Kemiskinan” 16, no. 2.
13 Muhammad Zuhdan, “Perjuangan Gerakan Buruh Tidak Sekedar Upah Melacak Perkembangan Isu Gerakan Buruh di Indonesia Pasca Reformasi,” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 17, no. 3 (21 September 2016): 272, https://doi.org/10.22146/jsp.13086.
12
Begitu rendah rasanya jika hanya dengan iming-iming materi seseorang rela menukar agamanya. Kejadian ini menjadi tolak ukur Karl Marx, ia menyimpulkan bahwa agama itu layaknya tempat sampah yang dipergunakan oleh lalat untuk mengais sisa-sisa makanan. Selain pengalaman keberagamaan keluarganya, ia juga dihadapkan dengan kondisi kapitalisme, di sisi lain para tokoh agama Protestan tidak memfungsikan nilai provetik mereka, justru malah memvaliditasi keputusan para penguasa agar warga dapat bersabar dan menerima kondisi yang sedang mereka hadapi dengan nasihat-nasihat agama. Marx memandang bahwa agama menjadi penyebab terhambatnya perubahan sosial.14
Selanjutnya bagi Marx, tidak ada doktrin agama dari sumber mana pun yang dianggap benar. Karena itu, ia tidak pernah membedakan antara kepercayaan dan takhayul agama, antara agama yang benar dan yang salah, meskipun ia percaya bahwa beberapa manifestasi keagamaan lebih berkembang daripada yang lain. Dia secara konsisten menyebut objek-objek agama “hantu agama (religious phantoms)” atau sebagai penghuni wilayah yang “diselimuti kabut (mist-enveloped)”.15
Dalam pandangan Marx, agama diposisikan sama seperti produk- produk dari kegiatan kreatif manusia lainnya. Artinya adalah agama dengan segala nilai dan moralitas yang dimilikinya sesungguhnya hasil dari kegiatan kreatif manusia yang diarahkan untuk mempertahankan hidup dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Namun bukan
14 Restu Prana Ilahi dkk., “Agama sebagai Alienasi dalam Pemikiran Karl Marx:
Memandang Agama sebagai Pelarian Diri Krisis Ekonomi,” Barus 1, no. 1 (2024): h.
32.
15 Fadhilah Rachmawati, “Kritik terhadap Konsep Ideologi Komunisme Karl Marx,” Aceh 1, no. 1 (2020): h. 71.
13
keberlangsungan dan kebutuhan hidup yang diberikan agama kepada manusia sebagai pembentuknya tetapi justru keterasingan dan pembatasan-pembatasan manusia mengembangkan kreativitasnya.
Pemikiran Karl Marx tentang agama banyak dipengaruhi pemikiran Feuerbach yang melakukan pembalikan terhadap filsafat Hegel.
Feuerbach memandang bahwa bukan Tuhan yang menciptakan manusia tetapi sebaliknya Tuhan adalah ciptaan angan-angan manusia. Kritik agama Feuerbach mendasari pemikiran Marx tentang agama. Marx mempercayai bahwa manusia menciptakan Tuhan sesuai dengan citranya, namun kenyataan yang terjadi dalam keagamaan masyarakat adalah sebaliknya seolah-olah Tuhan menciptakan manusia sesuai citra- Nya. Agama mengajak orang hanya berpasrah dengan keadaan daripada mengusahakan barang-barang yang dapat memperbaiki kondisi hidup.
Agama mengajarkan orang untuk menerima apa adanya termasuk betapa kecilnya pendapatan yang diperoleh. Dengan ini semua, secara tidak langsung agama telah membiarkan orang untuk tetap pada kondisi material dan menerima secara pasrah apa yang ada walaupun sedang mengalami penderitaan secara material. Agama mengajak orang untuk berani menaggungnya karena sikap menanggung itu sendiri dipandang sebagai keutamaan.16
Marx menyebut agama sebagai opium (candu). Meskipun agak susah memahami kata “opium” yang digunakan Marx pada waktu itu, paling tidak ada pemaknaan umum bahwa opium adalah sejenis narkotika yang bisa menimbulkan fantasi. Fantasi agama adalah sebuah bentuk pelarian dari kehidupan riil. Manusia telah memproyeksikan kebahagiaannya
16 Ahmad Muttaqin, “Karl Marx Dan Friederich Nietzsche Tentang Agama,”
Purwokerto 7, no. 1 (2013): h. 139-140.
14
sebagai sesuatu yang dapat dirasakan setelah kehidupan ini. Marx sangat tidak sepakat dengan kenyataan seperti itu. Kenapa manusia hanya dapat merasakan kebahagiaan hanya di akhirat nanti? Sementara di dunia ini ada segolongan orang yang selalu dapat merasakan kebahagiaan tersebut.17
Adalah sebuah kenyataan yang tidak adil jika buruh yang tenaganya telah terperas harus menunggu dan berharap menikmati kebahagiaan yang tidak pernah ada dalam kehidupannya, sementara para pemilik modal yang telah memeras tenaga buruh dapat menikmati kebahagiaannya kapan saja. Bagaimana jika seandainya surga tidak menyediakan apa pun bagi kaum tertindas tersebut? Bagi Marx, tentu lebih baik mengubah nasib di dunia, daripada mengharap sesuatu yang belum pasti.18
Agama adalah candu masyarakat, poin-poin agama dibuat candu bagi masyarakat miskin agar mereka menerima secara mentah-mentah kondisi kemelaratan yang mereka hadapi, agama yang seperti ini dinamakan agama ideologis yaitu agama yang dibuat-buat oleh manusia.
Karl Marx menganggap manusialah yang menciptakan Tuhan dan agama dalam pemikirannya, bukan Tuhan yang menciptakan manusia.
Perspektif ini sangat bertentangan dengan doktrin agama di seluruh penjuru dunia pada umumnya. Ia beranggapan bahwa agama telah dijadikan sarana menipu dan menyengsarakan masyarakat. Marx juga menanggapi pernyataan agama yang menjanjikan adanya kebahagiaan sesudah kematian mengakibatkan orang-orang miskin yang tertindas
17 M. Misbah, “Agama dan Alienasi Manusia (Refleksi atas Kritik Karl Marx terhadap Agama),” Purrwokerto 9, no. 2 (t.t.): h. 199.
18 M. Misbah, h. 200.
15
tidak berniat mengubah nasib mereka. Agama hanya dijadikan candu masyarakat yang tertindas, ia seperti obat yang hanya mengurangi rasa sakit namun tidak menyembuhkan. Agama menjadi pembantu para kelas atas dan penguasa namun juga memberikan harapan-harapan ilusi mengenai dunia yang lebih baik dari segala hal yang sedang terjadi maupun telah berlalu.19
Karl Marx memandang agama sebagai alienasi atau tempat pelarian diri disebabkan munculnya berbagai masalah yang membelenggu, di mana manusia tidak bisa menjadi dirinya sendiri dan merealisasikan apa yang ia inginkan dalam hidupnya. Hal ini terjadi karena penindasan yang dilakukan oleh orang-orang yang berkuasa terhadap masyarakat yang lemah. Reaksi ketidaknyamanan yang muncul terhadap kondisi sosial tersebutlah yang mengakibatkan seseorang mengasingkan diri dari lingkungan sekitarnya, mencari tempat berlindung di alam bawah sadarnya, yang mampu menenangkan dan melepaskan segala keluh kesah yang ia hadapi. Kemudian diam saja terhadap kejadian yang menimpa mereka dan beranggapan bahwa suatu saat nanti akan bahagia karena adanya kedamaian, keadilan dan kesejahteraan jika telah masuk surga.20
Bagi orang-orang yang tidak merasakan pahitnya penindasan, agama adalah alat kekuasaan yang menguntungkan. Agama dapat menjamin proses produksi berlangsung secara terus menerus. Bagi orang-orang tertindas, agama tidak menjanjikan perubahan apa pun kecuali
19 Restu Prana Ilahi dkk., “Agama sebagai Alienasi dalam Pemikiran Karl Marx:
Memandang Agama sebagai Pelarian Diri Krisis Ekonomi,” h. 33.
20 Restu Prana Ilahi dkk., h. 33.
16
melanggengkan penindasan. Dengan justifikasi agama, yang kaya dapat menjadi semakin kaya dan yang miskin tetap dalam kemiskinannya.21
Agama berfungsi sebagai halusinasi yang hanya membawa kebahagiaan sesaat dan penuh fantasi. Namun agama tidak semata-mata menjadi penyebab utama terjadi alienasi manusia, melainkan alienasi terhadap agama terbentuk dari ekspresi kekecewaan dan ketidakbahagiaan seseorang dalam menjalani hidupnya. Perspektif Karl Marx yang menyatakan bahwa agama hanya akan menempatkan masyarakat pada posisi tertindas dan tidak bisa memberi kebahagiaan padanya merupakan kajiannya dengan pendekatan sosiologi sesuai realita yang terjadi di masyarakat.22
E. Kritik Terhadap Teori Karl Marx
Seorang Marxis yang berkomitmen dengan pemikiran Marx, tentu akan memperjuangkan kebebasan manusia dari keterasingan dengan berpijak pada prinsip materialisme dialektika secara realis dan berpegang pada metode empiris sebagai satu-satunya neraca kebenaran.
Dia akan mengakui bahwa kesadaran tidak menentukan realitas material, atau cara-cara produksi material dalam kegiatan kerja, melainkan sebaliknya, realitas yang menentukan kesadaran. Di dalam realitas itu terjadi kontradiksi yang merupakan proses dialektis objektif yang tidak tergantung pada kesadaran dan menegaskan bahwa metode empiris sebagai satu-satunya neraca penentu kebenaran. Kemudian mengakui
21 M. Misbah, “Agama dan Alienasi Manusia (Refleksi atas Kritik Karl Marx terhadap Agama),” h. 200.
22 Restu Prana Ilahi dkk., “Agama sebagai Alienasi dalam Pemikiran Karl Marx:
Memandang Agama sebagai Pelarian Diri Krisis Ekonomi,” h. 33-34.
17
bahwa pada tahap tertentu kontradiksi tersebut akan memicu manusia sebagai agen perubahan sejarah untuk mengubah cara-cara produksi material dan pada akhirnya menciptakan masyarakat tanpa kelas manusia yang menguasai sarana produksi secara pribadi, sebagai bentuk penghapusan keterasingan manusia. Tanpa mengafirmasi pendapat- pendapat tersebut sebagai sentral pemikiran Marx, maka tidak akan mungkin dapat membangun dan mempertahankan pemikiran Marx secara murni.23
Jika dicermati pemikiran Marx tersebut setidaknya mengandung beberapa kelemahan, di antaranya ialah mereduksi alam semesta hanya menjadi realitas material semata, membatasi kebenaran hanya bersandar pada rasio-indrawi saja, dan mengandung kontradiksi pemikiran.
Kemudian daripada itu, penegasannya yang menganggap metode empiris sebagai satu-satunya neraca kebenaran ilmiah dan penolakannya terhadap logika rasional yang terlepas dari pengetahuan empiris menambah kejelasan bahwa pemikiran Marx mengingkari keberadaan Tuhan yang Ada tertinggi atau transenden, menolak keabsahan wahyu sebagai sumber ilmu pengetahuan, dan menafikan kebenaran agama karena agama bersandar pada wahyu dari Tuhan pencipta seluruh alam.24
Pandangan Marx yang menyatakan bahwa keberadaan manusia ditentukan atau dikondisikan oleh realitas material yang berada di luar jangkauan kesadaran, dan pada saat yang sama juga menyatakan bahwa manusia dengan aktivitas produksi materialnya dapat menciptakan
23 Derajat Fitra Marandika, “Keterasingan Manusia menurut Karl Marx,” Tsaqafah 14, no. 2 (27 November 2018): h. 316, https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v14i2.2642.
24 Marandika, h. 317.
18
sejarah manusia itu sendiri, adalah jelas merupakan kontradiksi yang tidak dapat diterima akal sehat. Secara tidak disadari oleh Marx, justru inti dari pernyataan-pernyataan tersebut sebenarnya menyiratkan keharusan adanya Pencipta dan yang dicipta. Pandangan Marx yang menolak Tuhan yang transenden, yang tidak terjangkau indra dan pikiran, tetapi menerima bahwa segala sesuatu adalah berasal dari realitas material, sama artinya mengakui bahwa segala sesuatu tercipta oleh sesuatu yang lain, tetapi bukan Tuhan yang gaib, melainkan realitas material. Kemudian dari itu, jika prinsip pemikiran Marx menyatakan bahwa segala sesuatu, termasuk manusia, pada hakikatnya adalah objek indrawi atau realitas material dan jika dikatakan bahwa manusia adalah pencipta sejarahnya sendiri, maka dalam pandangan Marx, manusia itu adalah ciptaan sekaligus pencipta dirinya sendiri.25
Berkenaan dengan hal tersebut, Ghanim Abduh menjelaskan bahwa segala sesuatu membutuhkan ‘dzat’ yang menciptakannya atau khalik, sehingga semuanya tadi merupakan makhluk atau ciptaan. Makhluk boleh jadi dicipta oleh dirinya sendiri atau ciptaan yang lain dan tidak ada pilihan lain. Realitas makhluk yang terindra membuktikan bahwa pandangan yang menyatakan manusia dicipta dirinya sendiri jelas batil, karena manusia akan menjadi ciptaan dan pencipta dirinya sendiri secara bersama-sama. Jadi, manusia harus dicipta oleh yang lain. Dengan cara ini, keberadaan pencipta dapat dibuktikan. Artinya, keberadaan sesuatu yang dapat diindra dan dipikirkan itu sebagai ciptaan sang pencipta, dan
25 Marandika, h. 317.
19
bahwa penciptanya itu adalah selain diri yang dapat diindrai dan dibayangkan dalam pikiran berhasil dibuktikan keberadaannya.26
Adapun kontradiksi pemikiran Marx lainnya, juga tergambar dalam visinya yang mengandaikan adanya masyarakat tanpa kelas sebagai realitas akhir di mana manusia terbebas dari segala bentuk penindasan dan keterasingan. Konsepsi tersebut kontradiktif dengan keyakinan dialektikanya yang menyatakan bahwa realitas tidak akan berhenti mengalami perubahan karena terdapat pertentangan-pertentangan di dalamnya. Menegaskan akan berakhirnya keadaan suatu masyarakat dalam bentuk masyarakat tanpa kelas sekaligus menafikan akan berhentinya keadaan masyarakat tersebut dari mengalami perubahan, atau sama dengan menegaskan bahwa sesuatu itu “terjadi” sekaligus
“tidak terjadi” secara bersamaan. Suatu kontradiksi yang mustahil dapat dibenarkan oleh akal sehat.27
26 Marandika, h. 317-318.
27 Marandika, h. 318.
20 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan
Dengan memahami konteks sosial Karl Marx, kritiknya terhadap agama dapat dipahami sebagai kegelisahannya atas model keberagamaan yang dominan saat itu yang justru menjadi alat kekuasaan. Eksistensi agama bukannya meningkatkan kualitas kemanusiaan, tapi justru dimanipulasi untuk memberikan legitimasi etis untuk mengeksploitasi dan menindas masyarakat miskin dan marginal. Agama mengalienasikan manusia dari diri dan realitas sosial, sehingga dosa sosial dapat terjadi secara sistemik.
Kritik Marx diatas bisa dijadikan pijakan untuk merekonstruksi teologi yang humanis yang mampu membebaskan dan mengemansipasi manusia dari segala belenggu. Untuk itu, teologi pembebasan bisa menjadi dasar praksis untuk melakukan berbagai transformasi sosial.
Dalam konteks ini, beragama tidak hanya berimplikasi munculnya kesalehan individual tapi lebih-lebih kesalehan sosial. Keimanan tidak semata-mata dihayati sebagai persoalan personal, namun realisasinya dalam wilayah sosial justru menjadi konsekuensi iman yang paling penting. Seorang yang beriman harus menjadi “intervensionis” yang mengubah sejarah demi tetap terciptanya masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai kemanusiaan universal.
B. Saran
Setelah memahami materi mengenai agama sebagai bentuk alienasi,
21
pemakalah menyarankan kepada para pembaca untuk lebih mengenal lagi mengenai agama sebagai bentuk alienasi dengan membaca buku- buku yang dijadikan referensi.
22
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Muttaqin. “KARL MARX DAN FRIEDERICH NIETZSCHE TENTANG AGAMA.” Purwokerto 7, no. 1 (2013).
Ahyani, Hisam, Muharir Muharir, dan Dian Permana. “Philosophical Review of Materialism and Idealism Married Age Limits in Indonesia.” Al-IHKAM: Jurnal Hukum Keluarga Jurusan Ahwal al-Syakhshiyyah Fakultas Syariah IAIN Mataram 12, no.
2 (25 Desember 2020): 107–24.
https://doi.org/10.20414/alihkam.v12i2.3048.
Bahtiyar, Eko. “Kritik Islam Terhadap Konsep Marxisme Tentang Pengentasan Kemiskinan” 16, no. 2 (t.t.).
Budianto, Arif. “Tafsir Ekonomi Rakyat Gus Dur.” Masters, IAIN Ponorogo, 2023. https://etheses.iainponorogo.ac.id/23888/.
Divergensi, Dan. “Marx Di Zaman Antroposen:Nilai, Keretakan Metabolik, Dan Dualisme Non- Kartesian,” t.t.
Fadhilah Rachmawati. “Kritik terhadap Konsep Ideologi Komunisme Karl Marx.” Aceh 1, no. 1 (2020).
Hendrawan, Datu. “Alienasi Pekerja Pada Masyarakat Kapitalis Menurut Karl Marx,” t.t.
Kambali, Muhammad. “Pemikiran Karl Marx Tentang Struktur Masyarakat: Dialektika Infrastruktur Dan Suprastruktur.” Al Iqtishod: Jurnal Pemikiran Dan Penelitian Ekonomi Islam 8, no. 2 (28 Desember 2020): 63–80.
https://doi.org/10.37812/aliqtishod.v8i2.154.
M. Misbah. “Agama dan Alienasi Manusia (Refleksi atas Kritik Karl Marx terhadap Agama).” Purrwokerto 9, no. 2 (t.t.): 2015.
Marandika, Derajat Fitra. “Keterasingan Manusia menurut Karl Marx.”
Tsaqafah 14, no. 2 (27 November 2018): 229.
https://doi.org/10.21111/tsaqafah.v14i2.2642.
Marta, Rustono Farady. “Esensi Dan Pemetaan Teoretisasi Media Komunikasi Dalam Perspektif Karl Marx.” Bricolage : Jurnal Magister Ilmu Komunikasi 2, no. 02 (17 November 2017): 47–
53. https://doi.org/10.30813/bricolage.v2i02.839.
Pasulu, Helma Yances, Rama Tulus Pilakoannu, dan Izak Y M Lattu.
“Dilema Identitas pada Pelaksanaan Ma’pasilaga Tedong dalam Rangkaian Ritual Rambu Solo’,” no. 1 (2019).
Rachmawati, Fadhillah. “Kritik Terhadap Konsep Ideologi Komunisme Karl Marx.” Jurnal Sosiologi Agama Indonesia (JSAI) 1, no. 1 (31 Maret 2020): 66–78. https://doi.org/10.22373/jsai.v1i1.424.
23
Restu Prana Ilahi, Fathul Zannah Tanjung, Isma Hasibuan, dan Muhammad Burhanuddin. “Agama sebagai Alienasi dalam Pemikiran Karl Marx: Memandang Agama sebagai Pelarian Diri Krisis Ekonomi.” Barus 1, no. 1 (2024).
Risnawati, Risnawati, Anshari Anshari, dan Aslan Abidin.
“Pertentangan Dan Kesadaran Kelas Dalam Novel Bumi Manusia Karya Pramoedya Ananta Toer (Pendekatan Teori Marxis).” RETORIKA: Jurnal Bahasa, Sastra, Dan
Pengajarannya 9, no. 1 (2016).
https://doi.org/10.26858/retorika.v9i1.3795.
Tjandra, Willy Riawan. “Dinamika Keadilan Dan Kepastian Hukum Dalam Peradilan Tata Usaha Negara.” Mimbar Hukum - Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, no. 0 (2011): 75–
88. https://doi.org/10.22146/jmh.16158.
Zuhdan, Muhammad. “Perjuangan Gerakan Buruh Tidak Sekedar Upah Melacak Perkembangan Isu Gerakan Buruh di Indonesia Pasca Reformasi.” Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik 17, no. 3 (21 September 2016): 272. https://doi.org/10.22146/jsp.13086.