FAKTOR-FAKTOR RESIKO PENGEMBANGAN NON-ALCOHOLIC FATTY LIVER DISEASE
PADA ORANG DEWASA
Aghnina Farhah Anwar
Jurusan Pendidikan Kimia Fakultas Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Email: [email protected] Abstrak
Penyakit hati berlemak non-alkohol (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease atau NAFLD) merupakan gangguan hati yang semakin menjadi perhatian global.
Prevalensinya berkisar antara 10 hingga 50% di berbagai negara, dipengaruhi oleh faktor etnis, jenis kelamin, dan meningkat seiring dengan masalah obesitas serta sindrom metabolik. Artikel ini membahas faktor-faktor risiko yang berkontribusi pada pengembangan NAFLD pada orang dewasa melalui studi literature review.
Faktor-faktor tersebut termasuk varian genetik tertentu seperti PNPLA-3 dan TM6SF2, kelebihan berat badan, diabetes tipe 2, hipertensi, usia, jenis kelamin, dan kelompok etnis tertentu. Selain itu, kualitas tidur yang buruk dan penyimpangan tidur juga telah dikaitkan dengan obesitas, yang memainkan peran dalam patogenesis NAFLD. Konsep lipotoksisitas juga menjadi perhatian, di mana akumulasi lemak beracun di jaringan non-lemak memicu peradangan dan gangguan seluler pada pasien NAFLD. Pemahaman terhadap faktor-faktor ini penting untuk pencegahan, diagnosis, dan pengelolaan NAFLD di masa depan.
Kata kunci :Faktor, resiko, Non-Alcoholic Fatty Liver Disease , Orang dewasa, Pengembangan Pendahuluan
Penyakit hati berlemak non-alkohol (Non-Alcoholic Fatty Liver Disease atau NAFLD) merujuk pada rentang gangguan hati yang dimulai dari perlemakan hati sederhana (steatosis), di mana terjadi akumulasi lemak dalam hati tanpa adanya inflamasi dan fibrosis.
Kemudian berkembang menjadi steatohepatitis non-alkohol (Non-Alcoholic Steatohepatitis atau NASH), yang ditandai oleh perlemakan hati disertai inflamasi dan fibrosis. Serta dapat berlanjut hingga sirosis hati, kondisi di mana hati mengalami fibrosis parah dan kehilangan fungsinya, tanpa adanya sejarah konsumsi alkohol yang signifikan, infeksi virus, atau penyebab spesifik lainnya yang terkait dengan penyakit hati (Banini, 2016).
NAFLD telah menjadi isu global dengan prevalensi yang berkisar antara 10 hingga 50%, yang juga dipengaruhi oleh faktor etnis dan jenis kelamin, dan diyakini meningkat seiring dengan peningkatan masalah obesitas dan sindrom metabolik di seluruh dunia.
Berikut merupakan Prevalensi Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) dalam populasi umum dan di antara kelompok dengan faktor risiko tertentu bervariasi di beberapa negara di wilayah Asia Pasifik (Tabel. 1).
Tabel.1 Prevalensi Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) dalam populasi umum dan di antara kelompok dengan faktor risiko tertentu bervariasi di beberapa negara di wilayah Asia Pasifik..
Berdasarkan tabel diatas dapat disimpulkan bahwa negara China memiliki penderita NAFLD yang paling tinggi diantara negara di Asia Pasifik lainnya (Amarapurkar DN, 2007).
Di wilayah Asia Pasifik sendiri peningkatan penderita NAFLD terus meningkat antara tahun 2012 dan 2017 yaitu dari 28,5% menjadi 33,9% (Sui-Weng Wong & Wah-Kheong Chan, 2020).
Pravelensi NAFLD ini akan semakin meningkat juga seiring bertambahnya usia, karena adanya faktor tambahan yang berkontribusi terhadap peningkatan NAFLD.
Diantaranya yaitu: resistensi insulin, genetika, obesitas, sindrom metabolik, dislipidemia, diabetes dan gaya hidup. Sehingga orang dewasa sangat rentan sekali terkena NAFLD (Daniel D. Setiono, 2022).
Artikel ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai faktor-faktor resiko dan peningkatan penderita NAFLD pada orang dewasa. Diharapkan pemahaman mengenai faktor resiko terkait NAFLD ini dapat membantu dalam mengarahkan upaya pencegahan dan intervensi yang lebih efektif untuk mengurangi penderita NAFLD.
Metode Penelitian
Metode penelitian yang digunakan yaitu literature review dengan cara mengumpulkan, menganalisis dan mensintesis informasi yang telah dipublikasikan sebelumnya oleh peneliti lain dalam bidang yang relevan. Dengan kata kunci Faktor-faktor resiko pengembangan NAFLD pada orang dewasa.
Hasil dan Pembahasan
Hasil skrining didapatkan 10 artikel untuk dilakukan literature review. Setelah mengkaji artikel yang disertakan dalam penelitian ini, kami berhasil mengidentifikasi beberapa faktor risiko yang berperan dalam pengembangan Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) pada orang dewasa.
Artikel pertama menyatakan bahwa varian genetik tertentu, seperti polimorfisme nukleotida tunggal yang mengandung domain fosfolipase yang mirip dengan patatin 3 (PNPLA-3) dan transmembran 6, anggota 2 (TM6SF2) telah terbukti dapat mempengaruhi perkembangan NAFLD. Dimana PNPLA-3 ini tidak hanya menyebabkan penumpukan lemak
hati sebesar 73% lebih tinggi tetapi juga penyakit yang lebih agresif di Korea (Chung GE, 2018).
Artikel kedua menyatakan bahwa steatosis hati pada pasien dewasa yang menderita fibrosis kistik adalah kondisi klinis dan fenotipik yang terpisah dari penyakit hati fibrosis kistik itu sendiri. Tidak ada korelasi yang ditemukan dengan kekurangan gizi, tetapi terdapat korelasi yang signifikan dengan indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi dan volume udara yang dikeluarkan dalam satu detik yang lebih tinggi setelah pemeriksaan fungsi paru (ppFEV1), menunjukkan kesamaan dengan Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) (Ayoub et al., 2018).
Artikel ketiga menyatakan bahwa prevalensi Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) di Bangladesh mencapai 32.2%. Faktor-faktor risiko yang secara signifikan berkontribusi terhadap NAFLD meliputi obesitas, hipertensi, diabetes, riwayat transfusi darah, infeksi hepatitis B, dan riwayat keluarga penyakit hati. Selain itu, ada korelasi yang signifikan antara tingkat pendidikan yang tinggi dan pendapatan yang tinggi dengan prevalansi NAFLD (Alam et al., 2018).
Artikel keempat menyatakan bahwa diabetes melitus tipe 2 (T2DM) memiliki dampak yang beragam dalan Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD). Dimana resistensi insulin pada penderita T2DM ini akan mengakibatkan akumulasi lemak yang meningkat dalam hati, menyumbang pada perkembangan dan progresi NAFLD (Jarvis et al., 2020).
Artikel kelima menyatakan bahwa obesitas atau kelebihan berat badan juga menjadi salah satu faktor resiko NAFLD, yang dapat menyebabkan penumpukan lemak dihati. Selain itu, obesitas juga berhubungan dengan peradangan dan resistensi insulin yang dapat memperburuk kondisi NAFLD (Younossi et al., 2018).
Artikel keenam menyatakan bahwa hipertensi juga menjadi faktor resiko NAFLD.
Karena adanya beberapa mekanisme yang terkait dengan NAFLD seperti peradangan, aktivasi sistem renin-angiotesin, aktivasi saraf simpatis dan resistensi insulin (Kong et al., 2023).
Artikel ketujuh menerangkan mengenai faktor risiko yang terkait dengan Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) yang mencakup usia dan jenis kelamin. Dimana menunjukkan bahwa prevalensi NAFLD lebih tinggi pada pria, dengan wanita pasca- menopause memiliki risiko fibrosis hati yang sama dengan pria. Prevalensi NAFLD pada pria cenderung meningkat pada usia pertengahan dan menurun setelah usia 50 tahun, sementara pada wanita, prevalensi lebih rendah sebelum usia 50 tahun dan meningkat setelah menopause, mencapai puncak pada usia 60 tahun. Risiko NAFLD dan fibrosis juga meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada pria, karena faktor risiko seperti sindrom metabolik, diabetes tipe 2, dan hipertensi (Yang JD, 2014).
Artikel kedelapan menerangkan bahwa kelompok dan etnis juga termasuk salah satu faktor resiko NAFLD. Dimana Orang Hispanik lebih mungkin menderita NAFLD daripada orang Kaukasia dan Afrika-Amerika. Meskipun orang Afrika-Amerika cenderung memiliki obesitas dan masalah kesehatan metabolik yang lebih serius. Ini mungkin karena faktor genetik. Sebuah varian gen tertentu yang disebut I148M dari PLPLA3, yang terkait dengan penumpukan lemak di hati dan NAFLD, lebih umum terjadi pada orang Amerika keturunan
Hispanik, diikuti oleh orang kulit putih non-Hispanik, orang Asia-Amerika, dan orang kulit hitam non-Hispanik. Penelitian juga menunjukkan bahwa prevalensi I148M dan NAFLD lebih tinggi pada orang Asia India (Non-alcoholic Fatty Liver Disease Study Group, 2015).
Artikel kesembilan menerangkan bahwa kualitas tidur yang buruk dan penyimpangan tidur berkaitan dengan obesitas. Dimana obesitas ini berkontribusi pada patogenesis NAFLD. Salah satu mekanisme yang mungkin adalah peran zat kimia inflamasi dalam tubuh seperti interleukin 6 dan TNF-α, yang meningkat karena masalah tidur. Zat kimia ini meningkatkan pemecahan lemak dalam sel lemak, yang kemudian dapat menyebabkan lemak bebas menumpuk di hati. Selain itu, kurang tidur juga dapat memengaruhi cara tubuh mengatur stres dan hormon kortisol, yang juga dapat menyebabkan penumpukan lemak di hati (Targher G, 2006).
Artikel kesepuluh menerangkan bahwa lipotoksisitas atau akumulasi lemak beracun di jaringan non-lemak ini memicu peradangan dan gangguan seluler pada pasien NAFLD.
Hal ini berperan dalam perkembangan NAFLD menjadi steatohepatitis. Pasien NAFLD memiliki tingkat lemak darah yang tinggi, seperti trigliserida dan asam lemak bebas, yang berkontribusi pada risiko sirosis. Studi menunjukkan hubungan antara NAFLD dengan tingginya trigliserida dan rendahnya kolesterol HDL. Selain itu, PCSK9, protein yang dihasilkan oleh hati, berhubungan dengan tingkat lemak hati dan mempengaruhi penyerapan lemak dalam darah. Beberapa obat penurun lipid, seperti statin, efektif untuk memperbaiki kerusakan hati pada NASH dan mengurangi risiko kematian akibat penyakit hati (Kim G, 2018).
Kesimpulan
Dari hasil skrining literature review, dapat disimpulkan sejumlah faktor risiko pengembangan Non-Alcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD) pada orang dewasa yang telah diidentifikasi. Faktor-faktor ini termasuk varian genetik tertentu seperti PNPLA-3 dan TM6SF2, kelebihan berat badan, diabetes tipe 2, hipertensi, usia dan jenis kelamin tertentu, serta kelompok etnis tertentu seperti orang Hispanik. Studi juga menyoroti hubungan antara kualitas tidur yang buruk dan penyimpangan tidur dengan obesitas, yang merupakan faktor risiko lain yang berkontribusi pada patogenesis NAFLD. Selain itu, konsep lipotoksisitas, yaitu akumulasi lemak beracun di jaringan non-lemak, juga diidentifikasi sebagai faktor yang berperan dalam perkembangan NAFLD menjadi steatohepatitis. Hasil ini menegaskan pentingnya pemahaman tentang berbagai faktor risiko ini dalam upaya pencegahan, diagnosis, dan pengelolaan NAFLD.
Daftar pustaka
Alam, S., Fahim, S. M., Chowdhury, M. A. B., Hassan, Md. Z., Azam, G., Mustafa, G., Ahsan, M., & Ahmad, N. (2018). Prevalence and risk factors of non‐alcoholic fatty liver disease in Bangladesh. JGH Open, 2(2), 39–46. https://doi.org/10.1002/jgh3.12044
Ayoub, F., Trillo-Alvarez, C., Morelli, G., & Lascano, J. (2018). Risk factors for hepatic steatosis in adults with cystic fibrosis: Similarities to non-alcoholic fatty liver disease. World Journal of Hepatology, 10(1), 34–40. https://doi.org/10.4254/wjh.v10.i1.34
Banini, B. A. and S. A. J. (2016). “Nonalcoholic Fatty Liver Disease: Epidemiology, Pathogenesis, Natural History, Diagnosis, and Current Treatment Options.” Clinical Medicine Insights Therapeutics, 8, 75–84.
Chung GE, L. Y. Y. J. C. E. K. M. Y. J. et al. (2018). Genetic polymorphisms of PNPLA3 and SAMM50 are associated with nonalcoholic fatty liver disease in a Korean population. Gut Liver, 12(3), 16–23.
Daniel D. Setiono, F. E. N. W. E. B. I. P. (2022). Risk Factors of Non-Alcoholic Fatty Liver Disease in Adults. Jurnal Kedokteran, 10(2), 234–241.
Jarvis, H., Craig, D., Barker, R., Spiers, G., Stow, D., Anstee, Q. M., & Hanratty, B. (2020).
Metabolic risk factors and incident advanced liver disease in non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD): A systematic review and meta-analysis of population-based observational studies. PLOS Medicine, 17(4), e1003100.
https://doi.org/10.1371/journal.pmed.1003100
Kim G, J. S. N. C. K. E. (2018). Statin use and the risk of hepatocellular carcinoma in patients at high risk: a nationwide nested case-control study. J. Heptanol, 68.
Kong, L., Yang, Y., Li, H., Shan, Y., Wang, X., & Shan, X. (2023). Prevalence of nonalcoholic fatty liver disease and the related risk factors among healthy adults: A cross-sectional study in Chongqing, China. Frontiers in Public Health, 11.
https://doi.org/10.3389/fpubh.2023.1127489
Non-alcoholic Fatty Liver Disease Study Group, L. A. B. S. A. C. B. S. B. C. et al. (2015). . Epidemiological modifiers of non-alcoholic fatty liver disease: focus on high-risk groups. Dig Liver Dis, 47, 997–1006.
Sui-Weng Wong & Wah-Kheong Chan. (2020). Epidemiology of non-alcoholic fatty liver disease in Asia. Indian Journal Of Gastroenterology, 39, 1–8.
Targher G, B. L. R. S. Z. G. Z. L. Falezza. G. (2006). Associations between liver histology and cortisol secretion in subjects with non-alcoholic fatty liver disease. Oxford Universty.
Yang JD, A. M. P. H. G. C. S. A. D. A. et al. (2014). Gender and menopause impact severity of fibrosis among patients with nonalcoholic steatohepatitis. Hepatology, 59.
Younossi, Z., Anstee, Q. M., Marietti, M., Hardy, T., Henry, L., Eslam, M., George, J., &
Bugianesi, E. (2018). Global burden of NAFLD and NASH: trends, predictions, risk factors and prevention. Nature Reviews Gastroenterology & Hepatology, 15(1), 11–20.
https://doi.org/10.1038/nrgastro.2017.109