AKAD MURABAHAH
Makalah ini Disusun untuk Memenuhi Tugas pada Mata Kuliah Akuntansi Keuangan Syariah
Dosen Pengampu : Santi Yustini SE., M.Ak
Disusun Oleh:
Kelompok 5
Chairunnisa Muthmainnah M. 11230850000029
Dzakwan Panca Sakti Prakoso 11230850000085
Annisa Cahya Wardani 11230850000093
PROGRAM STUDI PERBANKAN SYARIAH FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2024
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim Assalamualaikum wr. wb.
Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kepada Allah SWT atas berkah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “AKAD MURABAHAH”. Penyusunan makalah ini dibuat sebagai salah satu bentuk penyelesaian tugas pada mata kuliah Akuntansi Keuangan Syariah.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini membutuhkan proses yang tidak mudah, mulai dari pencarian sumber-sumber materi hingga penulisan berbagai macam bab dengan diakhiri oleh daftar pustaka yang ada di akhir halaman.
Selain itu, penyusunan makalah bertujuan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi para pembaca.
Terimakasih kepada ibu dosen dan teman-teman sekalian karena telah memberikan wawasan dan referensi materi dalam menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa pula pihak-pihak lain yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah turut serta membantu dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih terdapat kekurangan dalam penyusunan makalah ini. Oleh karena itu, segala jenis kritik dan saran yang membangun akan berguna agar penulis dapat belajar dari kesalahan yang terdapat dalam pengalaman sebelumnya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
Tangerang Selatan, 17 September 2024
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
DAFTAR GAMBAR... iii
BAB I PENDAHULUAN... 1
BAB II PEMBAHASAN... 3
A. Definisi dan Penggunaan...3
B. Ketentuan Syar’I, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah...5
C. Alur Transaksi Murabahah...9
D. Cakupan Standar Akuntansi Murabahah...11
E. Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Murabahah...12
F. Penyajian Transaksi Murabahah dalam Laporan Keuangan...20
G. Pengungkapan Transaksi Murabahah...22
BAB III PENUTUP... 23
A. Kesimpulan...23
B. Saran... 23
DAFTAR PUSTAKA... 24
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1 Skema Murabahah Pesanan... 4 Gambar 1.2 Skema Murabahah Tanpa Pesanan... 5 Gambar 1.3 Alur Transaksi Murabahah... 10
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Transaksi murabahah merupakah salah satu produk unggulan pembiayaan di lembaga keuangan Syariah, termasuk perbankan syariah.
Murabahah adalah akad jual beli barang dengan harga jual sebesar harga perolehan ditambah margin atau keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan harga perolehan barang tersebut kepada pembeli. Dalam transaksi murabahah, barang yang diperjualbelikan harus ada pada saat akad terjadi, sementartara metode pembayaran dapat dilakukan secara tangguh/cicilan atau secara tunai.
Penerapan transaksi murabahah pada perbankan syariah dapat dikategorikan pada pembiayaan produktif dan pembiayaan konsumtif.
Pembiayaan produktif terkait dengan investasi dan modal kerja, sementara pembiayaan konsumtif terkait dengan keperluan konsumsi nasabah, di antaranya meliputi pembelian kendaraan, rumah, dan keperluan konsumsi lainnya.
DSN MUI mendefinisikan murabahah sebagai transaksi jual beli barang dimana penjual menegaskan harga belinya kepada pembeli dan pembeli membayarnya dengan harga yang lebih sebagai laba. Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 102 Akuntansi Murabahah (Revisi 2019) mendefiniskan murabahah sebagai akad jual beli barang dengan harga jual sebesar biaya perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan biaya perolehan barang tersebut kepada pembeli.
Sementara akuntansi murabahah merupakan aktivitas akuntansi pada transaksi murabahah, yang meliputi aspek pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian diatas maka yang menjadi persoalan utama adalah bagaimana memahami mengenai “AKUNTANSI AKAD MURABAHAH”
dapat diajukan beberapa permasalahan sebagai berikut:
1. Definisi dan Penggunaan Akad Murabahah
2. Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah Transaksi Murabahah
3. Alur Transaksi Murabahah
4. Cakupan Standar Akuntansi Murabahah
5. Teknis Penghitungan dan Penjurnalan Transaksi Murabahah 6. Penyajian Transaksi Murabahah dalam Laporan Keuangan 7. Pengungkapan Transaksi Murabahah
C. Tujuan Penulisan
Penelitian ini bertujuan untuk
1. Menjelaskan Definisi dan Penggunaan Akad Murabahah
2. Menjelaskan Ketentuan Syar’i, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah Transaksi Murabahah
3. Menjelaskan Alur Transaksi Murabahah
4. Menjelaskan Cakupan Standar Akuntansi Murabahah
5. Menjelaskan Bagaimana Teknik Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Murabahah
6. Memperlihatkan Penyajian Transaksi Murabahah dalam Laporan Keuangan
7. Menjelaskan Pengungkapan Transaksi Murabahah
BAB II PEMBAHASAN
A. Definisi dan Penggunaan
Murabahah berasal dari kata ribh yang berarti keuntungan, sedangkan dalam bahasa Inggris murabahah disebut dengan cost plus sales yang definisinya adalah akad jual beli dimana penjual dan pembeli menyepakati harga barang yang terdiri dari harga pokok dari penjual ditambah keuntungan yang disepakati (Harkaneri dan Febri Rahmi, 2019). Murabahah adalah transaksi penjualan yang didalamnya disebutkan berapa harga perolehan dan berapa keuntungan yang disepakati antara penjual dan pembeli (Sri Nurhayati dan Wasilah, 2024). Berdasarkan penjelasan-penjelasan sebelumnya jelas dalam transaksi murabahah, penjual akan menyebutkan harga barang yang akan dijual berdasar dari harga untuk memperoleh barang tersebut, lalu penjual dan pembeli akan menyepakati keuntungan yang akan didapat. Transaksi seperti ini membuat murabahah berbeda dengan transaksi konvensional dimana penjual tidak menyebut harga perolehan dan keuntungan yang didapat.
Keuntungan yang didapat dapat ditentukan dalam jumlah tertentu (lump sum) seperti misal keuntungannya adalah Rp50.000 atau bisa juga berdasarkan persentase seperti 20-30% dari harga pokok. Besarnya keuntungan harus jelas dan harga barang yang disepakati tidak dapat berubah meski dibeli dengan cara kredit dan harga mata uang mengalami fluktuasi.
Penggunaan murabahah dalam transaksi dapat digambarkan seperti misalnya transaksi bank dengan nasabah. Bank akan membeli barang yang diperlukan oleh nasabah, kemudian bank akan menjual barang tersebut dengan menyebutkan berapa harga perolehan dari barang yang bersangkutan dan kemudian akan ditambah dengan keuntungan yang disepakati antara bank dan nasabah. Seperti misalnya nasabah ingin membeli mobil melalui bank A, kemudian bank akan mencari mobil tersebut dan kemudian menjualnya kepada nasabah yang bersangkutan. Jika harga perolehan dari mobil tersebut adalah
Rp200.000.000 dan disepakati keuntungan yang akan didapat bank adalah 20%, maka harga yang harus dikeluarkan oleh nasabah adalah Rp200.000.000 ditambah 20% darinya yaitu menjadi Rp240.000.000.
Transaksi murabahah juga dapat terjadi ketika penjual meminta pembeli untuk mewakilkannya dalam mencari barang yang diinginkan oleh pembeli, tapi dalam kasus ini akan terjadi 2 transaksi terpisah. Misalnya Agung ingin membeli motor dari Yanto, namun Yanto tidak memiliki motor yang diinginkan Agung, kemudian Yanto meminta Agung untuk mewakilinya untuk mencari motor yang diinginkan. Setelah ditemukan motor yang diinginkan agung, kemudian Yanto akan membeli dan memindahkan kepemilikan dari motor itu kepada dirinya. Setelah motor tersebut berpindah kepimilikan kepada Yanto, maka barulah disini motor tersebut dapat dijual kepada Agung. Transaksi jenis ini tidak boleh kepemilikannya langsung berpindah kepada si pembeli (dalam kasus ini yaitu Agung) dari penjual pertama, karena sama saja Yanto meminjamkan dana kepada Agung. Dalam pinjam-meminjam, tidak boleh ada unsur keuntungan atau kelebihan dalam pengembaliannya.
Selain daripada 2 skema penggunaan murabahah yang dijelaskan sebelumnya. Menurut Sri Nurhayati dan Wasilah (2024) transaksi murabahah juga terdapat 2 jenis akadnya, yaitu:
1. Murabahah dengan Pesanan
Dalam jenis ini, penjual akan melakukan pembelian barang kepada produsen setelah ada pesanan dari pembeli, skemanya yaitu:
Gambar 1.1 Skema Murabahah Pesanan
Keterangan:
Pembeli
Produsen
1
2 3
54 Penjual
1 (1) Melakukan akad murabahah
(2) Penjual memesan dan membeli pada supplier (3) Produsen memberikan barang pada penjual (4) Penjual menyerahkan barang pada pembeli (5) Pembeli melakukan pembayaran
2. Murabahah tanpa Pesanan
Dalam murabahah jenis ini, pembeli bisa langsung mendapatkan barang yang dia inginkan tanpa perlu menunggu barangnya disiapkan oleh produsen. Skemanya yaitu:
Gambar
1.2 Skema
Murabahah Tanpa Pesanan Keterangan:
(1) Melakukan akad murabahah
(2) Penjual memberi barang yang diinginkan pembeli (3) Pembeli melakukan pembayaran
B. Ketentuan Syar’I, Rukun Transaksi, dan Pengawasan Syariah 1. Rukun Dan Ketentuan Akad Murabahah
a. Pelaku
Pelaku cakap hukum dan baligh (berakal dan dapat membedakan), sehingga jual beli dengan orang gila menjadi tidak sah sedangkan jual beli dengan anak kecil dianggap sah. apabila seizin walinya.
b. Objek Jual Beli, harus memenuhi persyaratan berikut:
1) Barang yang diperjualbelikan adalah barang halal
Maka semua barang yang diharamkan oleh Allah, tidak dapat dijadikan sebagai objek jual beli, karena barang tersebut dapat menyebabkan manusia bermaksiat/ melanggar larangan Allah. Hal ini sesuai dengan hadis berikut ini.
"Sesungguhnya Allah mengharamkan menjualbelikan khamar, bangkai, babi, patung- patung." (HR. Bukhari Muslim)
Penjual 2 Pembeli
3
2) Barang yang diperjualbelikan harus dapat diambil manfaatnya atau memiliki nilai, dan bukan merupakan barang-barang yang dilarang diperjualbelikan, misalnya: jual beli barang yang kedaluwarsa.
3) Barang tersebut dimiliki oleh penjual
Jual beli atas barang yang tidak dimiliki oleh penjual adalah tidak sah karena bagaimana mungkin ia dapat menyerahkan kepemilikan barang kepada orang lain atas barang yang bukan miliknya. Jual beli oleh bukan pemilik barang seperti ini, baru akan sah apabila mendapat izin dari pemilik barang.
"Barangsiapa membeli barang curian sedangkan dia tahu bahwa itu hasil curian, maka sesungguhnya dia telah bersekutu di dalam dosa dan aibnya." (HR. Al Baihaqi)
4) Barang tersebut dapat diserahkan tanpa tergantung dengan kejadian tertentu di Masa depan.
Barang yang tidak jelas waktu penyerahannya adalah tidak sah, karena maat menimbulkan ketidakpastian (gharar), yang pada gilirannya dapat merugikan salah satu pihak yang bertransaksi dan dapat menimbulkan persengketaan. Misalnya, menjual mobil yang hilang dengan harga Rp40.000.000; si pembeli berharap mobil itu akan ditemukan. Demikian juga jual beli atas barang yang sedang digadaikan atau telah diwakafkan.
5) Barang tersebut harus diketahui secara spesifik dan dapat diidentifikasikan oleh pembeli sehingga tidak ada gharar (ketidakpastian)
Jual beli gharar seperti ungkapan penjual kepada pembeli, "Saya jual spring bed yang saya miliki," tidak jelas spring bed mana yang akan dijual. Hikmah dilarangnya jual beli gharar ini adalah gharar dapat menimbulkan sikap permusuhan dan kerugian harta pada salah satu pihak, serta dalam rangka menjaga harta. Namun demikian, jual beli yang mengandung gharar terbagi menjadi tiga hukum: ada yang dilarang, diperbolehkan, dan diperselisihkan para ulama. Bila gharar
(ketidakjelasan) sifatnya ringan, karena adanya kebutuhan dan merupakan satu kesatuan serta tidak mungkin lepas darinya, maka gharar jenis ini diperbolehkan menurut kesepakatan para ulama. Adapun gharar yang disepakati keharamannya adalah jual beli yang belum ada wujudnya (ma'dum). Banyak di antara gharar yang masuk dalam ranah perselisihan para ulama, seperti jual beli sesuatu yang terpendam di tanah seperti wortel, kacang tanah, bawang, dan lain-lain.
6) Barang tersebut dapat diketahui kuantitas dan kualitasnya dengan jelas, sehingga tidak ada gharar.
Apabila suatu barang dapat dikuantifikasi/ditakar/ditimbang maka atas barang yang diperjualbelikan harus dikuantifikasi terlebih dahulu agar tidak timbul ketidakpastian (gharar). Sesuai dengan hadis berikut ini.
"Bagaimana jika Allah mencegahnya berbuah, dengan imbalan apakah salah seorang kamu mengambil harta saudaranya?" (HR. Al Bukhari dari Anas) Berdasarkan hadis ini, dapat disimpulkan jual beli secara ijon dilarang.
Contoh lainnya: jual beli buah mangga yang masih di pohon. Jual beli seperti ini dilarang dikarenakan kuantitas mangga belum diketahui secara pasti. Apabila hasil buah mangga lebih banyak dari harga yang disepakati maka akan menguntungkan pihak pembeli dan sebaliknya akan merugikan pihak penjual
7) Harga barang tersebut jelas
Harga atas barang yang diperjualbelikan diketahui oleh pembeli dan penjual berikut cara pembayarannya tunai atau tangguh sehingga jelas dan tidak ada gharar. Contohnya, penjual berkata kepada pembeli, jika kamu membayar 1 bulan harganya Rp700.000. Tetapi jika kamu membayar 2 bulan maka harganya menjadi Rp750.000. Pembeli pun setuju, tanpa menyatakan harga mana yang dia setujui sehingga harga tidak jelas, kecuali dinyatakan harga yang mana yang disepakati. Begitu harga itu disepakati maka harga tersebut tidak boleh berubah.
8) Barang yang diakadkan ada di tangan penjual
Barang dagangan yang tidak berada di tangan penjual akan menimbulkan ketidakpastian (gharar). Hakim bin Hizam berkata:
"Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku membeli barang dagangan, apakah yang halal dan apa pula yang haram daripadanya untukku?"
Rasulullah bersabda: "Jika kamu telah membeli sesuatu, maka janganlah kau jual sebelum ada di tanganmu".
Walaupun barang yang dijadikan sebagai objek akad tidak ada di tempat, namun barang tersebut ada dan dimiliki penjual. Hal ini diperbolehkan asalkan spesifikasinya jelas dan pihak pembeli mempunyai hak al-khiyar (melanjutkan atau membatalkan akad). Al- khiyar sendiri banyak jenisnya, akan tetapi hanya dijelaskan 3 (tiga) jenis saja yaitu:
a) Khiyar al-majlis (hak pilih di lokasi transaksi)
Pembeli masih mempunyai hak khiyar apabila masih berada dalam satu tempat (majelis) dengan penjual. Pengertian majelis di sini mencakup tiga hal; tempat, waktu, dan tema pembicaraan.
b) Khiyar asy-syarth (hak pilih dalam persyaratan)
Khiyar jenis ini adalah hak pilih karena persyaratan yang diminta oleh salah satu dari dua pihak yang bertransaksi, atau diminta masing-masing pihak untuk dirinya sendiri atau untuk pihak lain agar diberikan hak memilih antara melanjutkan atau menggagalkan transaksi dalam jangka waktu tertentu.
c) Khiyar al-aib
Pembeli mempunyai hak untuk meneruskan atau membatalkan apabila terdapat cacat dalam barang yang dibelinya dan sebelumnya tidak ada informasi yang jelas dari pihak penjual. Akan tetapi jika barangnya sudah bertambah atau berkurang sebelum diketahui cacatnya, maka pihak yang dirugikan berhak mendapatkan
kompensasi atau ganti rugi senilai dengan pengurangan harga barang akibat cacat tersebut.
c. Ijab Kabul
Pernyataan dan ekspresi saling ridha/rela di antara pihak-pihak pelaku akad yang dilakukan secara verbal, tertulis, melalui korespondensi atau menggunakan cara-cara komunikasi modern. Apabila jual beli telah dilakukan sesuai dengan ketentuan syariah maka kepemilikannya.
pembayarannya, dan pemanfaatan atas barang yang diperjualbelikan menjadi halal. Begitupun sebaliknya.
2. Pengawasan Syariah Transaksi Murabahah
Pengawasan terhadap transaksi murabahah dilakukan oleh Dewan Pengawas Syariah (DPS) yang berfungsi untuk memastikan kepatuhan terhadap ketentuan syariah. DPS melakukan pemeriksaan langsung ke lembaga keuangan syariah minimal dua kali setahun untuk memastikan bahwa produk murabahah tidak melanggar prinsip syariah, seperti tidak mengandung unsur riba atau penipuan. Proses pengawasan meliputi:
a. Pemeriksaan: DPS melakukan audit langsung terhadap lembaga keuangan untuk menilai kepatuhan produk murabahah.
b. Pengawasam: Selain pemeriksaan fisik, pengawasan juga dilakukan melalui laporan administratif yang mencakup semua transaksi yang dilakukan.
c. Evaluasi: DPS mengevaluasi produk murabahah secara berkala untuk memastikan bahwa produk tersebut memenuhi standar syariah dan memberikan perlindungan kepada konsumen.
C. Alur Transaksi Murabahah
Dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 102 Akuntansi Murabahah disebutkan bahwa murabahah dapat dilakukan berdasarkan pesanan atau tanpa pesanan. Pada murabahah berdasarkan pesanan, penjual melakukan pembelian barang setelah ada pemesanan dari pembeli. (Eliza, 2022)
Dalam syarat murabahah terdapat beberapa hal yaitu seperti: (1) Penjual dan pembeli, hal ini dimana kedua pihak harus ikhlas dan mampu untuk melakukan transaksi jual beli, (2) Objek jual beli, dimana barang yang diperjualbelikan tersedia atau penjual sanggup untuk mengadakan barang tersebut berwujud , barang tersebut merupakan barang yang halal dan sah milik penjual. (Dr. Renny Oktafia, 2020). Dalam pembiayaan murabahah, terdapat adanya dua pihak yang melakukan transaksi jual beli, yaitu bank syariah sebagai penjual dan nasabah sebagai pembeli barang. Berikut alur transaksi murabahah:
Gambar 1.3 Alur Transaksi Murabahah
Alur transaksi murabahah terdiri dari enam alur seperti gambar diatas dimana nasabah dan bank syariah berperan penting, berikut penjelasannya:
1. Pertama, diawali dengan adanya pengajuan pembelian barang oleh nasabah. Pada saat itu, dilakukan rencana transaksi jual beli yang akan dilakukan. Poin inti dari negosiasi antara bank dan nasabah pembeli terkait harga barang, jangka waktu pembayaran, margin, dan besaran angsuran per bulan.
2. Selanjutnya, Bank sebagai penjual mempelajari kemampuan nasabah dalam membayar piutang murabahah. Jika rencana pembelian telah disepakati oleh kedua pihak, maka akad murabahah dilaksanakan.
3. Ketiga, setelah melakukan akad murabahah dengan pesanan disepakati, selanjutnya bank melakukan pembelian barang kepada pemasok. Untuk murabahah tanpa pesanan, bank dapat langsung menyerahkan barang kepada nasabah. Pembelian barang dengan pesanan dapat diwakilkan kepada nasabah atas nama bank.
Dokumen pembelian barang diserahkan oleh pemasok kepada bank.
4. Dengan dasar akad yang dilakukan bank syariah dan nasabah, maka bank akan membelikan barang ke pemasok dan mengirimkan barang yang diinginkan oleh nasabah kepada nasabah sesuai dengan keiinginan nasabah.
5. Supplier mengirimkan barang pesanan ke nasabah dengan atas perintah bank syariah. Nasabah menerima barang dan dokumen kepemilikan barangnya.
6. Kemudian, setelah menerima barang, selanjutnya nasabah pembeli membayar kepada bank. Pembayaran kepada bank pada umumnya secara angsuran/cicilan sejumlah uang tertentu selama jangka waktu yang disepakati. (Eliza, 2022)
D. Cakupan Standar Akuntansi Murabahah
Standar akuntansi tentang jual beli murabahah mengacu pada PSAK 102 tentang Akuntansi Murabahah yang mulai berlaku efektif per 1 januari 2008. PSAK 102 menggantikan PSAK 59 yang menyangkut tentang pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan murabahah. (Dr. Renny Oktafia, 2020)
Menurut PSAK 102 , Cakupan ketentuan akuntansi yang diatur dalam akuntansi murabahah dapat diterapkan untuk lembaga keuangan syariah dan koperasi syariah yang melakukan transaksi murabahah baik penjual maupun pembeli. Lembaga keuangan syariah yang dimaksud dalam PSAK tersebut, meliputi: perbankan syariah, lembaga keuangan syariah nonbank (asuransi, koperasi, lembaga pembiayaan, dan dana pensiun), serta lembaga keuangan lain
yang diizinkan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku untuk menjalakan transaksi murabahah.
Standar ini memuat berbagai definisi terkait transaksi murabahah dan memberikan penjelasan tentang karakteristik transaksi murabahah. Standar ini tidak mencakup pengaturan perlakuan akuntansi atas obligasi syariah (sukuk) yang mengunakan akad murabahah dikarenakan terdapat PSAK yang membahas tentang sukuk yaitu PSAK 110. Praktik penerapan standar akan dibahas secara khusus pada bagian berikut tentang pengenalan akun-akun di laporan posisi keuangan (neraca) dan akun-akun laba rugi.
Berbagai transaksi yang perlu diakui dalam transaksi ini oleh penjual antara lain penerimaan uang muka murabahah, pengakuan dan pengukuran terkait aset murabahah pada saat perolehan, aset murabahah setelah perolehan jika terjadi penurunan nilai aset atau diskon pembelian. Adapun saat akad dilakukan, standar ini memberikan panduan tentang pengakuan dan pengukuran piutang murabahah, keuntungan murabahah, denda jika pembeli lalai dalam melakukan kewajibannya, potongan pelunasan piutang murabahah dan potongan angsuran murabahah. (Dr. Renny Oktafia, 2020)
PSAK 102 juga memberikan panduan bagi pembeli akhir. Beberapa hal yang secara khusus diatur dalam standar ini antara lain adalah utang yang timbul dari transaksi aset yang diperoleh, beban murabahah, diskon pembelian yang diterima dari penjual, denda yang dibayar akibat kelalaian, dan potongan uang muka akibat pembatalan pembelian.
E. Teknis Perhitungan dan Penjurnalan Transaksi Murabahah
Terdapat beberapa teknis perhitungan dan penjurnalan yang diperlukan dalam akad murabahah, diantaranya yaitu:
a. Teknis Perhitungan
Harkaneri dan Febri Rahmi (2019) mengungkapkan kalau terdapat 3 teknis perhitungan dalam akad murabahah, yaitu:
a. Perhitungan Penentuan Margin Murabahah
Dalam praktik perbankan, margin biasanya dihitung dengan menggunakan metode anuitas, dimana makin lama jangka waktu pembiayaan, maka makin besar margin yang dikenakan pada nasabah. Diskusi ekonomi syariah membolehkan hal ini karena anuitas hanya terjadi pada saat penentuan margin, setelah margin ditentukan maka nilainya akan tetap dan tidak akan berubah.
b. Perhitungan Angsuran Per Bulan dan Pendapatan yang Diakui Angsuran per bulan bersifat rata dan nilainya tetap sepanjang masa pelunasan. Rumus perhitungan angsuran per bulan dapat dilakukan sebagai berikut:
c.
Perhitungan Pendapatan Margin yang Diakui saat Jatuh Tempo atau Pembayaran Angsuran
Bank atau pihak terkait akan mengakui adanya pendapatan margin setiap tanggal jatuh tempo pembayaran. Jika bank atau pihak terkait menggunakan metode pendekatan proporsional maka pendapatan margin pada setiap tanggal jatuh tempo adalah sama, sedangkan jika menggunakan pendekatan anuitas maka pendapatan margin akan lebih besar pada bulan pertama daripada bulan-bulan lainnya. Rumus menghitung pendapatan margin adalah:
Persentase Keuntungan = Total Margin x 100%
Biaya Perolehan diluar uang muka b. Penjurnalan
Terdapat 2 jenis penjurnalan dalam akad murabahah, yaitu penjurnalan untuk penjual dan penjurnalan untuk pembeli.
a. Penjurnalan untuk Penjual
Total Piutang - Uang Muka Jumlah Bulan Pelunasan Angsuran Per Bulan =
Jika penjual memperoleh aset Rp10.000.000, maka jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Aset Murabahah 10.000.000
Kas 10.000.000
Jika penjual menjual asetnya dengan tangguhan senilai Rp12.000.000 <1 tahun, maka jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Kas/Piutang Murabahah 12.000.000
Aset Murabahah 10.000.000
Pendapatan Margin Murabahah 2.000.000
Jika penjual menjual asetnya dengan tangguhan >1 tahun, maka jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Piutang Murabahah 12.000.000
Aset Murabahah 10.000.000
Margin Murabahah Tangguhan 2.000.000
Jika terjadi penurunan nilai sebesar Rp500.000 dan terjadi penurunan nilai murabahah pesanan mengikat (ditulis sebagai beban, jika tidak mengikat maka ditulis sebagai kerugian) jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Beban Penurunan Nilai 500.000
Aset Murabahah 500.000
Jika terdapat diskon sebelum akad maka akan menjadi pengurang biaya perolehan aset murabahah
Ilustrasi: pembelian barang senilai Rp10.000.000 dibayar tunai, diperoleh diskon 5%, jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Aset Murabahah (10.000.000 -
500.000 9.500.000
Kas 9.500.000
Jika diskon terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang disepakati menjadi hak pembeli maka akan diberikan pada pembeli, jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Kas 500.000
Utang pada Pembeli 500.000
Jika diskon terjadi setelah akad murabahah dan sesuai akad yang disepakati menjadi hak penjual maka akan diberikan pada penjual, jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Kas 500.000
Pendapatan Murabahah 500.000
Kewajiban penjual kepada pembeli atas pengembalian diskon tersebut akan terhapus saat dilakukan pembayaran pada pembeli, jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Utang pada Pembeli 500.000
Kas 500.000
Dan juga saat dananya akan dipindahkan sebagai dana kebajikan jika pembeli sudah tidak dapat dijangkau oleh penjual, jurnalnya adalah:
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Utang pada Pembeli 500.000
Dana Kebajikan - Pendapatan 500.000
Jika disepakati kalau terjadi keterlambatan maka dikenakan denda Rp1.000/hari dan pembeli mengalami keterlambatan 2 hari, maka jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Kas 500.000
Dana Kebajikan -
PendapatanDenda 500.000
b. Penjurnalan untuk Pembeli
Jika pembeli membeli aset senilai Rp10.000.000 dengan pembayaran tunda dengan nilai Rp12.000.000 dibayar selama 12 kali, maka jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Aset 10.000.000
Beban Murabahah Tangguhan 2.000.000
Utang Murabahah 12.000.000
Jika pembeli membeli aset senilai Rp10.000.000 dengan pembayaran tunda dengan nilai Rp12.000.000 dibayar selama 12 kali dengan uang muka yang dibayar senilai Rp1.000.000, maka jurnalnya adalah
Jurnal saat pembeli membayar uang muka
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Uang Muka 1.000.000
Kas 1.000.000
Jurnal saat penjualan barang saat pembeli sudah membayar uang muka
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Aset 10.000.000
Beban Murabahah Tangguhan 2.000.000
Utang Murabahah 12.000.000
Utang Murabahah 1.000.000
Uang Muka 1.000.000
Jika pembeli membeli barang senilai Rp10.000.000 dengan diskon 5% dibayar tunai, maka jurnal untuk diskon yang diterima adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Kas 500.000
Beban Murabahah Tangguhan 500.000
Jika disepakati setiap keterlambatan akan dikenakan denda senilai Rp1.000/hari dan pembeli telat membayar 2 hari, maka jurnalnya adalah
Tanggal Keterangan PR Debit Kredit
Kerugian - Denda 2.000
Kas/Utang 2.000
c. Penjurnalan dengan Kasus
Pada tanggal 5 Januari 2020 PT HANIYA melakukan negosiasi dengan Bank Murni Syariah untuk memperoleh fasilitas murabahah dengan pesanan untuk pembelian kendaraan sebuah mobil dengan rencana sebagai berikut:
Harga Barang = Rp 100 juta
Uang Muka = Rp 10 juta (10% dari harga barang) Pembiayaan oleh Bank = Rp 90 juta
Margin = Rp 18 juta
Harga Jual = Rp 118 juta (harga barang + margin) Jumlah Bulan Angsuran = 24 bulan
Biaya Administrasi = 1% dari pembiayan oleh bank 1. Perhitungan angsuran per bulan
= = Rp 4.500.000
2. Perhitungan margin yang didapat dari perbandingan margin dengan biaya perolehan
Persentase Keuntungan = Total Margin x 100%
Biaya Perolehan diluar uang muka Persentase Keuntungan = 18.000.000 x 100% 20%
90.000.000
Margin per bulan = 20% x biaya perolehan per bulan
3. Perhitungan persentase keuntungan dari perbandingan margin dengan total piutang bersih
Persentase keuntungan = (total margin/total piutang bersih) x 100%
118.000.000 - 10.000.000 24
= (18.000.000/108.000.000) x 100%
= 16,67%
Margin per bulan = Persentase keuntungan x angsuran per bulan
= 16,67% x 4.500.000
= 750.000
Pokok per bulan = angsuran per bulan – margin per bulan = 4.500.000 – 750.000 = Rp 3.750.000 Berarti untuk setiap pembayaran angsuran sebesar Rp4.500.000 per bulan, didalamnya terdapat margin Rp750.000 dan pokok sebesar Rp3.750.000
4. Penjurnalan
Pengakuan Uang Muka
Menurut PSAK no 102: uang muka diakui sebagai uang muka pembelian sebesar jumlah yang diterima dengan cara mendebet rekening nasabah senilai uang muka yang disepakati. Jurnal untuk pengakuan uang muka adalah:
Tanggal Keterangan Debit Kredit
05/01/2020 Debet rekening tabungan
PT Haniya 10.000.000
Uang muka 10.000.000
Pembelian Barang oleh Bank Syariah
Pada tanggal 7 Januari 2020, Bank Syariah membeli barang secara tunai untuk keperluan transaksi murabahah dengan PT HANIYA, bank membeli barang kepada pemasok senilai Rp100 juta. Jurnalnya adalah:
Tanggal Keterangan Debit Kredit
07/01/2020 Persediaan aset murabahah 100.000.000
Kas 100.000.000
Jika Akad Murabahah Tidak Jadi Disepakati
Misal pada tanggal 10 Januari 2020 PT HANIYA membatalkan rencana pembeliannya dan meminta kembali uang muka yang telah didebit. Atas pembatalan rencana pembelian tersebut, Bank Syariah memotong uang muka sebesar Rp1.000.000 untuk mengganti biaya yang telah dikeluarkan. Jurnal pengembaliannya yaitu:
Tanggal Keterangan Debit Kredit
10/01/2020 Uang Muka 10.000.000
Pendapatan Operasional 1.000.000
Kas 9.000.000
Jika Akad Murabahah Disepakati
Misal pada tanggal 10 Januari 2020, PT HANIYA menandatangani akad murabahah sebagaimana yang telah dinegosiasikan pada tanggal 5 Januari 2020. Pada saat akad disepakati, terdapat beberapa transaksi yang perlu dicatat yaitu:
a) Penjualan murabahah oleh bank kepada PT HANIYA
b) Pengakuan uang muka sebagai bagian pelunasan piutang
murabahah
c) Pengakuan pendapatan administrasi dan penerimaan lain atas biaya yang dibebankan kepada nasabah pembiayaan Misal dalam transaksi murabahah PT HANIYA, nasabah dikenakan biaya-biaya sebagai berikut:
Biaya administrasi : Rp900.000
Tanggal Keterangan Debit Kredit
10/01/2020 Piutang Murabahah 118.000.000
Persediaan Aset Murabahah 100.000.000 Margin Murabahah yang
Ditangguhkan 18.000.000
Tanggal Keterangan Debit Kredit
10/01/2020 Uang Muka 10.000.000
Piutang Murabahah 10.000.000
Biaya materai : Rp30.000 Biaya notaris : Rp225.000 Biaya asuransi : Rp378.000
Pembayaran Angsuran Dilakukan pada Waktu Jatuh Tempo
Pada saat jatuh tempo tanggal 10 Februari 2020, nasabah membayar angsuran sebesar Rp4.500.000, maka jurnalnya adalah:
Tanggal Keterangan Debit Kredit
05/01/2020 Kas/Rekening Nasabah 4.500.000
Piutang Murabahah 4.500.000
Margin Murabahah yang
Ditangguhkan 750.000
Pendapatan Margin Murabahah 750.000 F. Penyajian Transaksi Murabahah dalam Laporan Keuangan
1. Bagi Penjual
Penyajian transaksi murabahah di laporan keuangan bergantung pada rekening yang terpengaruh oleh transaksi murabahah. Berikut adalah penyajian rekening-rekening yang berkaitan dengan transaksi murabahah.
a. Piutang Murabahah
Piutang murabahah disajikan di laporan posisi keuangan pada bagian aset dengan nama rekening piutang murabahah. Berdasarkan PSAK 102, piutang murabahah disajikan sebesar nilai bersih yang dapat direalisasikan (net realizable value), yaitu saldo piutang murabahah dikurangi penyisihan kerugian piutang. Saldo piutang murabahah
Tanggal Keterangan Debit Kredit
05/01/2020 Debet rekening tabungan PT
Haniya 1.533.000
Pendapatan Administrasi 900.000
Persediaan Materai 30.000
Rekening Notaris 225.000
Rekening Perusahaan Asuransi 378.000
diperoleh dari selisih antara piutang murabahah dengan margin murabahah ditangguhkan.
b. Margin Murabahah Ditangguhkan
Margin murabahah ditangguhkan disajikan di laporan posisi keuangan pada bagian aset dengan nama margin murabahah ditangguhkan sebagai pengurang (contra account) piutang murabahah. Piutang murabahah belum jatuh tempo terdiri atas piutang murabahah lancar. Adapun piutang murabahah jatuh tempo terdiri atas piutang murabahah dalam perlakuan khusus, piutang murabahah kurang lancar, piutang murabahah diragukan, dan piutang murabahah macet.
c. Aset Murabahah
Rekening ini disajikan di laporan posisi keuangan pada bagian aset.
Namun demikian, dikarenakan setelah melakukan transaksi pembelian pihak penjual melakukan penyerahan aset murabahah kepada pembeli maka rekening ini biasanya memiliki saldo nol. Bank mendebit dan mengkredit rekening aset murabahah secara bersamaan dengan jumlah yang sama.
d. Pendapatan Margin Murabahah
Rekening ini disajikan di laporan laba rugi pada bagian pendapatan dengan nama rekening pendapatan margin murabahah. Rekening pendapatan margin murabahah merupakan gabungan total saldo murabahah akrual dan total saldo murabahah kas. Pendapatan margin murabahah ini berasal dari realisasi margin murabahah ditangguhkan.
Penjual pada umumnya menyampaikan laporan bagi hasil baik tahunan maupun secara bulanan kepada pembeli.
Berikut akan digambarkan penyajian rekening-rekening tersebut di dalam laporan keuangan penjual secara sederhana:
ENTITAS SUKSES JAYA (PENJUAL) Laporan Posisi Keuangan
Per 31 Desember 2020
ASET
……….
……….
Piutang Murabahah:
Piutang Murabahah
Margin Murabahah Ditangguhkan Saldo Piutang Murabahah
Penyisihan Kerugian Piutang
Piutang Murabahah (net realizable value)
……….
……….
XXX (XXX)
XXX (XXX)
XXX XXX
XXX XXX XXX
2. Bagi Pembeli
Beban murabahah tangguhan disajikan sebagai pengurang (contra account) utang murabahah.
UD. ADIL MAKMUR (PEMBELI) Laporan Posisi Keuangan
Per 31 Desember 2020 LIABILITAS
……….
……….
Utang Murabahah:
Utang Murabahah
Beban Murabahah Ditangguhkan Saldo Piutang Murabahah
……….
……….
XXX (XXX)
XXX XXX
XXX XXX XXX
G. Pengungkapan Transaksi Murabahah
Pengungkapan transaksi murabahah terbagi menjadi 2, yaitu pengungkapan bagi penjual dan pengungkapan bagi pembeli.
1. Pengungkapan bagi Penjual
Penjual mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah tetapi tidak terbatas pada harga perolehan aset murabahah, janji pemesanan dalam murabahah berdasarkan pesanan sebagai kewajiban atau bukan, dan pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
2. Pengungkapan bagi Pembeli
Pembeli mengungkapkan hal-hal yang terkait dengan transaksi murabahah tetapi tidak terbatas pada nilai tunai aset yang diperoleh dari transaksi murabahah, jangka waktu murabahah tangguh, dan
pengungkapan yang diperlukan sesuai PSAK No. 101 tentang Penyajian Laporan Keuangan Syariah.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Murabahah merupakan salah satu akad jual beli dalam sistem keuangan syariah yang paling banyak digunakan oleh lembaga keuangan syariah, khususnya perbankan syariah. Akad ini melibatkan penjualan barang dengan harga perolehan ditambah dengan margin keuntungan yang disepakati. Penjual dalam akad ini harus secara jelas mengungkapkan harga perolehan barang tersebut kepada pembeli.
Proses transaksi murabahah memiliki beberapa tahapan, dimulai dari negosiasi antara bank dan nasabah, penjualan barang dari pemasok kepada bank, dan penyerahan barang kepada nasabah dengan pembayaran secara tunai atau cicilan. Terdapat juga standar akuntansi khusus yang mengatur transaksi murabahah (PSAK 102), yang mencakup pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan transaksi tersebut dalam laporan keuangan.
B. Saran
Praktisi keuangan syariah perlu memahami lebih dalam teknis perhitungan dan penjurnalan transaksi murabahah sesuai ketentuan syariah dan standar akuntansi, Penjual harus menjaga transparansi dalam mengungkapkan harga perolehan dan margin keuntungan untuk keadilan transaksi, Pengawasan oleh Dewan Pengawas Syariah perlu ditingkatkan agar transaksi murabahah tetap sesuai syariah, dan juga Lembaga keuangan syariah harus terus mengembangkan produk murabahah sesuai kebutuhan nasabah sambil tetap mematuhi prinsip syariah.
DAFTAR PUSTAKA
Dr. Renny Oktafia, S. M. (2020). Akuntansi Perbankan Syariah. Jawa Timur : UMSIDA Press.
Eliza, A. (2022). Tinjauan Atas PSAK 102 (Revisi 2019) dan PSAK 102 (Revisi 2016) Tentang Akuntansi Murabahah. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 8(03), 2022, 2882-2892, 2-3.
Nurhayati, S. &. (2024). Akuntansi Syariah di Indonesia . Jakarta: Salemba Empat.
Rahmad Kurniawan, S. M. (2020). Akuntansi Syariah Pendekatan PSAK Terbaru.
Yogyakarta: K - Media.
Rahmi, H. &. (2019). Akuntansi Perbankan Syariah. Depok: Rajawalli Pers.