Akademisi/Dosen Pengantar
Sebelumnya, izinkan saya menjabarkan sedikit uraian penelitian saya kepada Bapak/Ibu. Saya meneliti sebuah fenomena sosial di masyarakat adat Sumba yaitu kawin tangkap. Kawin tangkap, secara sederhana, adalah tradisi perkawinan di Sumba di perempuan akan diculik untuk kemudian dinikahkan. Peristiwanya sudah banyak terjadi, dan terus berulang sampai paling terakhir itu terjadi pada tahun 2023, di mana beredar video di media sosial seorang perempuan berteriak saat diangkut ke truk, yang belakangan diketahui ternyata hendak dinikahkan. Tradisi kawin tangkap yang sangat mendiskreditkan, merendahkan, dan tidak menghargai perempuan sebagai subyek otonom yang memiliki martabat dan hak untuk memberikan persetujuan dalam menjalankan hidupnya, khususnya perkawinan.
Di lain sisi, Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (CEDAW) sudah diratifikasi oleh Indonesia lewat pengundangan UU No. 7 Tahun 1984. Konvensi menjadikan negara peratifikasi sebagai subyek yang memikul tanggung jawab untuk mewujudkan adanya kesetaraan antara perempuan dan laki-laki. Tanggung jawab tersebut mengikat negara subyek untuk memenuhi setiap ketentuan yang diatur dalam Konvensi.
Terhadap hal tersebut, CEDAW mengatur bahwa Negara, memiliki kewajiban untuk:
Kewajiban Materil a. Pasal 2
b. Pasal 5
c. Pasal 16
Kewajiban Formil a. Pasal 18
Di lain sisi, menjalankan atau menghidupi/mengekspresikan suatu kebudayaan atau nilai-nilai budaya adalah hak asasi manusia sebagaimana dijamin dalam Kovenan Internasional tentang Hak- Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya (International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights) lewat diundangkannya Undang-Undang No. 11 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Economic, Social and Cultural Rights (ICESC). Pasal 18B ayat (2), Pasal 28I ayat (3), dan Pasal 32 ayat (10 Undang-Undang Dasar 1945 (UUD 1945) pun mengatur bahwa Negara mengakui adat masing-masing daerah, dan dalam beberapa ketentuan perundang- undangan lainnya pun diakui sebagai sumber hukum sepanjang sesuai dengan prinsip Negara Indonesia.
Dalam Deklarasi Vienna Pasal
Pertentangan antara 2 realita ini pada akhirnya berujung pada diskursus universalitas HAM vs partikularitas HAM yang mana membawa saya pada pertanyaan berikut ini:
1. Secara lebih detail, apakah Bapak/Ibu bisa menjelaskan, sebenarnya apa itu Universalitas dan Partikularitas HAM?
2. Menurut Bapak/Ibu, dinilai secara objektif, apakah sebaiknya HAM dipandang secara universal atau partikular.
3. A