• Tidak ada hasil yang ditemukan

akses masyarakat miskin terhadap air minum bersih di

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "akses masyarakat miskin terhadap air minum bersih di"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

AKSES MASYARAKAT MISKIN TERHADAP AIR MINUM BERSIH DI PROVINSI JAWA TIMUR

JURNAL ILMIAH

Disusun oleh:

Nania Tamana 135020100111040

JURUSAN ILMU EKONOMI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2018

(2)

Akses Masyarakat Miskin terhadap Air Minum Bersih di Provinsi Jawa Timur Nania Tamana

Wildan Syafitri

Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Email: [email protected]

ABSTRAK

Air merupakan hak setiap orang. Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi kebutuhan pokok minimal sehari-hari guna memenuhi kehidupannya yang sehat, bersih, dan produktif (UUD No. 7 tahun 2004 pasal 5). Data WHO menunjukkan 2,1 Milyar penduduk dunia belum dapat mengakses air minum bersih. Sampai hari ini air minum bersih belum dapat diakses seluruh masyarakat khususnya masyarakat miskin. Sebagai provinsi dengan tingkat kontribusi terhadap kemiskinan tertinggi se-Indonesia sebesar 12,05% pada tahun 2016 maka Provinsi Jawa Timur dapat menjadi salah satu tolak ukur dalam pertumbuhan kemiskinan. Dalam penelitian ini akan menjelaskan faktor yang menyebabkan sebuah Rumah Tangga mendapat akses air minum bersih dengan metode analisis logistik biner. Dengan metode logit diharapkan bisa menjelaskan kecenderungan Rumah Tangga mendapat akses air minum bersih dengan beberapa faktor.

Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa pendapatan dan lokasi tempat tinggal Rumah Tangga berpengaruh signifikan terhadap perolehan akses air minum bersih.

Kata kunci: akses air minum bersih, pendapatan, lokasi tempat tinggal, model regresi logit, Jawa Timur.

A. Pendahuluan

Siapa yang tidak membutuhkan air. Semua makhluk hidup membutuhkan air, mulai dari mikroorganisme sampai manusia. Tidak ada kehidupan seandainya di bumi ini tidak ada air, karena air merupakan kebutuhan utama proses kehidupan (Susana, 2003). Meski sebagian besar bumi terdiri dari air, namun kurang dari 1% yang merupakan air segar atau bisa dikonsumsi.

Jumlah sumber daya alam yang terbatas ini pun kian tertekan oleh pertumbuhan jumlah penduduk dan industri di dunia (Effendi, 2003). Kebutuhan paling esensial seorang manusia akan air adalah untuk minum. Tubuh manusia (dewasa) terdiri dari 73% air (Gibson, 2005) dan membutuhkan minimal 2.5L air per hari untuk mengoptimalkan kinerja tubuh. Sebagaimana dalam teori ekonomi, persediaan air minum merupakan salah satu kebutuhan primer atau kebutuhan fisik minim atau kebutuhan hidup pokok setiap warga masyarakat, termasuk lapisan masyarakat paling miskin (Gilarso, 2004). Negara menjamin kebutuhan akan air dalam UUD No. 7 tahun 2004 pasal 5 tentang Sumber Daya Air.

Data terbaru WHO (2017) menunjukkan 2,1 Milyar penduduk di dunia tidak memiliki air minum yang aman di rumah. Menurut the Economist World Figures in Pocket 2016, pencapaian 100% akses air bersih diraih negara Singapura dan Korea. Akses terbaik terhadap air bersih selanjutnya ada di, berturut-turut, Malaysia (99,6 %), dan (Brazil 97,5%). Beberapa negara tetangga seperti Thailand (95,8%), Vietnam (95%), Philipina (91,8%), juga sudah memiliki akses air bersih yang baik. Sedangkan dua negara besar Asia yaitu India dan China, masing-masing, penduduknya mempunyai akses terhadap air bersih sebesar 92,6% dan 91,9%. Indonesia sendiri, menurut sumber informasi yang sama, baru 84,9% penduduk yang mempunyai akses terhadap air bersih. Artinya masih ada gap 15,1% menuju 100% di tahun 2019 (Handojo, 2016).

Data dari Survei Sosial Ekonomi (SUSENAS) yang dilakukan BPS tahun 2016 menunjukkan pula air minum bersih masih belum dapat diakses semua masyarakat Indonesia.

Suatu Rumah Tangga (RT) dikatakan memperoleh akses air minum bersih jika sumber air minum RT berasal dari air kemasan, air isi ulang, leding, dan sumur bor/pompa, sumur terlindung serta mata air terlindung) dengan jarak ke Tempat Penampungan Limbah/ Kotoran/ Tinja Terdekat ≥ 10 m. Pada Gambar 1 ditunjukkan 30,39 persen RT di Kalimantan Barat menggunakan sumber air

(3)

minum bersih; 75,45 persen RT di Jawa Timur menggunakan sumber air minum bersih dan 93,05 persen RT di DKI Jakarta menggunakan sumber air minum bersih.

Gambar 1 Persentase RT menggunakan Sumber Air Minum Bersih tahun 2016

Sumber: BPS, 2016

Hasil lain Survei SUSENAS Maret 2016 menunjukkan Masih terdapat perbedaan yang cukup signifikan akses air minum bersih pada pedesaan dan perkotaan. Sebesar 81,47 persen rumah tangga di perkotaan sumber air minumnya dari air bersih dan 36,33 persen rumah tangga menggunakan sumber air minum layak. Di perdesaan, 59,22 persen rumah tangga sumber air minumnya enggunakan air bersih dan 47,41 persen rumah tangga menggunakan sumber air minum layak. Sedangkan di perkotaan dan perdesaan 70,53 persen rumah tangga sumber air minumnya menggunakan air bersih dan 41,73 persen rumah tangga menggunakan sumber air minum layak.

Sumber air minum layak sendiri terdiri dari leding, air hujan, dan [(sumur bor/pompa, sumur terlindung dan mata air terlindung) dengan jarak ke Tempat Penampungan Limbah/Kotoran/Tinja Terdekat ≥ 10 m].

Gambar 2 Persentase RT Menurut Jenis Sumber Air Minum Dan Tipe Daerah Tempat Tinggal

Sumber: BPS, 2016

Tiadanya akses terhadap air bersih sendiri dapat mempengaruhi kesehatan, keselamatan dan kualitas hidup sampai kemiskinan. WHO memperkirakan empat milyar kasus diare yang tejadi di dunia, dimana 88 persennya diakibatkan tidak adanya akses terhadap air minum bersih (Yongsi, 2010). UNICEF (2014) memperkirakan bahwa 1.400 anak di bawah lima tahun (balita) meninggal setiap hari karena penyakit diare terkait dengan kurangnya air bersih dan sanitasi serta kebersihan yang memadai. Sebuah studi di Kamboja menunjukkan sanitasi yang buruk membawa kerugian ekonomi sebesar US$ 448 juta per tahun yang diterjemahkan ke hilangnya per kapita sekitar US$

32. Kerugian ekonomi ini setara dengan 7,2% PDB Kamboja pada tahun 2005 dimana sepertiganya merupakan sumbangan dari tiadanya akses air minum bersih. Tiadanya akses air minum bersih juga menjadi penyebab kemiskinan. Amartya Sen, seorang filosof-ekonom, mengamati tentang kemiskinan dan menghasilkan teori kapabilitas yang tertera dalam artikel

(4)

berjudul “Equality of What”. Kemiskinan terjadi karena tidak memiliki kapabilitas untuk

“menjadi” (capabilities to functioning). Ketiadaan kapabilitas untuk menjadi itu ditandai oleh lemahnya akses terhadap pelayanan pendidikan, air bersih, kesehatan, serta berbagai kebutuhan dasar lainnya. Menurut Sen penyebab kemiskinan adalah akibat ketiadaan akses yang dapat menunjang pemenuhan kehidupan manusia. (Sen, 1999)

Kemiskinan masih menjadi persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia. Tingkat kemiskinan Indonesia menurut data terakhir dari BPS, pada September tahun 2016, mencapai 10,70% yang artinya 27,76 juta penduduk masih berada dibawah garis kemiskinan. Dari Gambar 1.3 dapat dilihat bahwa jumlah penduduk miskin di provinsi Jawa Timur merupakan yang tertinggi diantara 33 provinsi di Indonesia. Pada tahun 2016, tingkat kemiskinan provinsi Jawa Timur mencapai 12,05% dimana total penduduk miskin sebesar 4,638 juta jiwa.

Berdasarkan pemaparan diatas, peneliti tertarik untuk mengidentifikasi akses masyarakat miskin terhadap air minum bersih di Jawa Timur dengan mengunakan metode analisis regresi logistik. Apakah air minum bersih telah dapat diakses oleh masyarakat miskin? Maka dari itu judul penelitian ini adalah “Akses Masyarakat Miskin terhadap Air Minum Bersih di Jawa Timur”.

B. KAJIAN PUSTAKA 1. Kemiskinan

Kemiskinan merupakan salah satu persoalan krusial yang dialami oleh setiap negara, baik negara maju maupun negara berkembang. Selama ini sudah banyak studi dan kajian tentang kemiskinan, tetapi jawaban atas pertanyaan apa itu kemiskinan dan apa pula penyebab kemiskinan masih terus menjadi persoalan aktual dari masa ke masa. Bank Dunia (dalam BPS, 2015) mendefinisikan kemiskinan sebagai ―Poverty is lack of shelter. Poverty is being sick and not being able to see doctor. Poverty is being able to go to school and not knowing how to read.

Poverty is not having a job, is fear of the future, living one day at a time. Poverty is losing a child to illeness brought about by unclean water. Poverty is powerlessness, lack of representation and freedom”. Kemiskinan berkenaan dengan ketiadaan tempat tinggal, sakit dan tidak mampu berobat ke dokter, tidak mampu untuk sekolah dan tidak mampu untuk baca tulis. Kemiskinan adalah bila tidak memiliki pekerjaan sehingga takut menatap masa depan, dan tidak memiliki akses akan sumber air bersih. Kemiskinan adalah ketidakberdayaan, kekurangan representasi dan kebebasan.

Sementara itu konsep dasar kemiskinan menurut Badan Pusat Statistik (BPS), dalam situsnya, dijelaskan bahwa untuk mengukur kemiskinan, BPS menggunakan konsep kemampuan memenuhi kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur dari sisi pengeluaran. Jadi penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata pengeluaran perkapita perbulan dibawah garis kemiskinan.

Kemiskinan kerap kali didefinisikan sebagai fenomena ekonomi dalam arti kurangnya pendapatan seseorang untuk memenuhi standar hidup layak. Levitan (1980) misalnya mendefiniskan kemiskinan sebagai kekurangan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang dibutuhkan untuk mencapai standar hidup yang layak. Sedangkan Schiller (1979), kemiskinan adalah ketidaksanggupan untuk mendapatkan barang-barang dan pelayanan-pelayanan yang memadai untuk memenuhi kebutuhan sosial yang terbatas (Ala, 1981). Namun, menurut Suyanto (2013) menyatakan bahwa kemiskinan sesungguhnya adalah masalah sosial yang jauh lebih kompleks dari sekedar persoalan kekurangan pendapatan. Kemiskinan juga menyangkut kerentanan, ketidakberdayaan, keterisolasian sebagaimana dikemukakan oleh Chambers (1987) sebagai perangkap kemiskinan (deprivation trap).

Dari beberapa definisi kemiskinan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa kemiskinan merupakan ketidakmamupan seorang individu untuk memenuhi kebutuhan pokoknya atau ketidakmampuan seorang individu untuk memenuhi standar hidup layak.

1.1 Kemiskinan Menurut Amartya Sen

Amartya Sen merupakan seorang pemenang penghargaan Nobel tahun 1998 atas kontribusinya terhadap perkembangan ilmu ekonomi mengenai kelaparan, teori pengembangan

(5)

manusia, ekonomi kesejahteraan, dasar mekanisme kemiskinan, dan politik liberalisme. Menurut Sen dalam bukunya yang berjudul Poverty and Famine : An Essay Entitlement and Deprivation, Sen menyebutkan bahwa kemiskinan dan kelaparan bukan hanya karena bencana alam, tetapi juga kediktatoran dalam sistem politik suatu negara. Sen menunjukkan bahwa kemiskinan yang melanda beberapa negara Asia Afrika adalah akibat dari kelengahan negara yang mengatasnamakan demokrasi dalam roda perekonomianya. Sen menyebutkan bahwa kebebasan adalah salah satu cara untuk mengentaskan kemiskinan. Bebas diartikan dalam bermacam-macam hal. Sen banyak membahas tentang pembangunan sebagai salah satu cara untuk menuntaskan kemiskinan. Kebebasan merupakan sebuah tolok ukur pembangunan dengan dua alasan :

a. Alasan evaluatif, penilaian atas keberhasilan pembangunan dipahami berdasarkan sejauh mana kebebasan manusia meningkat. Dengan peningkatan kebebasan, manusia semakin mampu untuk mengungkapkan dan berusaha memenuhi kebutuhanya.

b. Alasan efektivitas, keberhasilan pembangunan sepenuhnya tergantung pada manusia yang bebas. Dengan kebebasan yang dimiliki manusia mampu menentukan tujuan dan cara pemenuhan kebutuhanya.

Untuk mewujudkan hal tersebut, perlu dilihat dari dua sudut pandang yaitu the primary end dan the principal means. Primary end atau konstitutif mengacu pada pentingnya membangun manusia, dan principal means atau peran instrumental mengacu pada sarana-prasarana akses untuk kesejahteraan masyarakat yaitu pada lima atribut menurut Amartya Sen, pertama yaitu kebebasan politik, kedua yaitu kesempatan dalam bidang ekonomi, yang ketiga kesempatan dalam bidang sosial (pendidikan, layanan kesehatan dan lainya), jaminan adanya keterbukaan (transparan), serta yang terakhir adalah jaminan keamanan. Maka mengacu dari teori diatas, dalam penelitian ini ingin membuktikan kebebasan masyarakay miskin dalam mengakses kebutuhan pokoknya yaitu air minum bersih. Yang selanjutnya diharapkan hal ini dapat menuntaskan kemiskinan di Indonesia.

2. Pendapatan

Berdasarkan BPS (2016) Pendapatan rumah tangga adalah pendapatan yang diterima oleh rumah tangga bersangkutan baik yang berasal dari pendapatan kepala rumah tangga maupun pendapatan anggota-anggota rumah tangga. Pendapatan rumah tangga dapat berasal dari balas jasa faktor produksi tenaga kerja (upah dan gaji, keuntungan, bonus, dan lain lain), balas jasa kapital (bunga, bagi hasil, dan lain lain), dan pendapatan yang berasal dari pemberian pihak lain (transfer).

Sedangkan menurut Mankiw (2016) pendapatan ini dibagi menjadi dua yaitu nominal dan riil.

Secara definisi pendapatan nominal adalah pendapatan yang dihitung dengan harga yang berlaku.

Sedangkan pendapatan riil adalah Pendapatan Riil adalah pendapatan yang dihitung dengan harga konstan (mendasarkan pada harga tahun tertentu yang dijadikan tahun dasar). Pendapatan merupakan faktor internal seseorang untuk melakukan kegiatan konsumsi seperti yang disebutkan oleh Kotler (2002) bahwa tingkat pendapatan mempengaruhi bagaimana seseorang melakukan kegiatan konsumsi.

Menurut Kotler (2002), keputusan pembelian adalah tindakan dari konsumen untuk mau membeli atau tidak terhadap produk. Dari berbagai faktor yang mempengaruhi konsumen dalam melakukan pembelian suatu produk atau jasa, biasanya konsumen selalu mempertimbangkan kualitas, harga dan produk sudah yang sudah dikenal oleh masyarakat Sebelum konsumen memutuskan untuk membeli, biasanya konsumen melalui beberapa tahap terlebih dahulu yaitu, (1) pengenalan masalah, (2) pencarian informasi. (3) evaluasi alternatif, (4) keputusan membeli atau tidak, (5) perilaku pascapembelian. Pengertian lain tentang Keputusan pembelian menurut Schiffman dan Kanuk (2000: 437) adalah “the selection of an option from two or alternative choice”. Dapat diartikan, keputusan pembelian adalah suatu keputusan seseorang dimana dia memilih salah satu dari beberapa alternatif pilihan yang ada.

Menurut konsep Millenium Development Goals (MDGs), pendapatan merupakan parameter utama seseorang dianggap mencapai taraf hidup baik atau tidak (BPS, 2016). Secara utuh MDGs menyebutkan bahwa Indeks Pembangunan Manusia (IPM) sebagai dasar pengukuran perbandingan kesejahteraan masyarakat di dunia. IPM menjelaskan bagaimana penduduk dapat mengakses hasil pembangunan dalam memperoleh pendapatan, kesehatan, pendidikan, dan sebagainya (BPS, 2016). IPM diperkenalkan oleh United Nations Development Programme (UNDP) pada tahun 1990 dan dipublikasikan secara berkala dalam laporan tahunan Human Development Report (HDR). Indeks IPM berusaha menyusun peringkat semua negara pada skala

(6)

nol (kinerja pembangunan manusiaterendah) hingga satu (kinerja pembangunanmanusia tertinggi) berdasarkan tiga kriteria atau hasil akhir pembangunan, yaitu: (1) Ketahanan hidup yang diukur berdasarkan harapan hidup saat kelahiran; (2) Pengetahuan yang dihitung berdasarkan tingkat rata- rata melek huruf di kalangan penduduk dewasa dan angka rata-rata masa sekolah dan (3) Kualitas standar hidup yang diukur berdasarkan pendapatan per kapita riil yang disesuaikan dengan paritas dayabeli (PPP, Purchasing Power Parity) (Rizki 2007).

3. Lokasi Tempat Tinggal

Lokasi tempat tinggal merupakan salah satu faktor dalam mendapatkan air bersih. Konsep keputusan pembelian oleh Kotler (2002) bahwa dalam permintaan barang faktor yang terlibat di dalamnya tidak hanya harga tapi juga sisi dimensi lainnya, seperti jarak tempuh, bentuk daerah, kesamaan bahasa dan lain-lain. hal tersebut juga terjadi pada permintaan air bersih.

Permintaan air bersih dipengaruhi salah satunya adalah lokasi. Lokasi suatu tempat menentukan bagaimana air itu diminta. Seperti yang dikatakan oleh Raksanagara (2017) bahwa penggunaan air bersih pada masyarakat kumuh permintaan air bersih rendah diakibatan oleh hambatan lingkungan. Sedangkan permintaan air bersih di daerah perkotaan didorong oleh rasa pentingnya menggunakan air bersih, dengan kata lain tingkat pendidikan. Lokasi tempat tinggal pada dasarnya merupakan faktor utama pendorong bagaimana seseorang berperilaku (Kotler, 2002). Dorongan dalam berperilaku tersebut yang menyebabkan keputusan-keputusan utama dalam melakukan tindakan, termasuk tindakan ekonomi.

C. Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Lokasi penelitian adalah provinsi Jawa Timur. Data yang digunakan merupakan data SUSENAS tahun 2016. Dalam penelitian ini, analisis data menggunakan logistik biner untuk mengetahui faktor seseorang memperoleh akses air minum bersih

Tabel 1 Definisi Variabel Operasional

Variabel Klasifikasi Kode

Akses Air Minum Bersih

Tidak ada akses air minum bersih

Ada akses air minum bersih

0

1

Pendapatan

Pendapatan Miskin < Garis Kemiskinan (Rp.321.761)

Pendapatan Tidak Miskin > Garis Kemiskinan (Rp.321.761)

0 1

Lokasi Tempat Tinggal

Desa Kota

0 1 Sumber: Penelitian peneliti

D. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

Data dianalisis menggunakan STATA 12.0. Sebelum dilakukan analisis logit, dilakukan Uji Hosmer-Lemeshow, Uji G (serentak), Uji Parsial. Uji Hosmer-Lemeshow untuk mengetahui model fit atau tidak dengan data yang ada. Uji G (serentak) dilakukan untuk mengetahui apakah ada variabel bebas minimal satu yang mempengaruhi variabel terikat, sedangkan uji parsial merupakan uji untuk mengetahui masing-masing variabel bebas mempunyai pengaruh dan signifikan terhadap variabel dependen (terikat).

(7)

0 1000 2000 3000 4000 5000 6000

Tidak Ada Ada

1. Crosstabulasi Pendapatan Rumah Tangga dan Akses Air Minum Bersih

Gambar 3 Crosstabulasi Pendapatan Rumah Tangga dan Akses Air Minum Bersih

Pada Grafik 4.1 dijelaskan responden yang masuk dalam kategori pendapatan sangat kaya paling banyak memperoleh akses air minum bersih. Pada Grafik 4.1 terlihat bahwa jika pendapatan sebuah Rumah Tangga semakin tinggi maka akses untuk memperoleh air minum bersih akan semakin besar pula. Sebaliknya, semakin rendah pendapatan sebuah Rumah Tangga maka akses untuk memperoleh air minum bersih semakin kecil. Hal ini sesuai dengan dugaan penelitian terkait hubungan pengaruh pendapatan terhadap akses air minum bersih.

2. Crosstabulasi Lokasi dan Akses Air Minum Bersih

Tabel 2 Hasil Crosstabulasi Lokasi Tempat Tinggal dan Akses Air Minum Bersih Lokasi

Tempat Tinggal

RT yang Tidak Memperoleh Akses Air Minum Bersih

RT yang Memperoleh Akses Air Minum Bersih

Total

Desa 10.5% 37.2% 47.7%

Kota 10.3% 42.0% 52.3%

20.8% 79.2% 100.0%

Pada Tabel 4.5 ditunjukkan 10,5% RT di Desa dan 10,3% RT di Kota yang Tidak memperoleh akses air minum bersih. Hal ini menunjukkan lebih banyak Masyarakat Desa yang tidak memperoleh air minum bersih dibandingkan dengan masyarakat kota. Terdapat pula sebanyak 37,2% Masyarakat Desa dan 42% Masyarakat Kota yang memperoleh akses air minum bersih. Hal ini menunjukkan masyarakat kota lebih mudah mengakses air minum bersih dibandingkan dengan masyarakat di desa.

3. Crosstabulasi Pendapatan, Lokasi Tempat Tinggal dan Akses Air Minum Bersih Tabel 3 :Crosstab Gender, Migrasi, Pendidikan dan Pengangguran

Pendapatan Lokasi

Akses Air Minum

Bersih Total

Tidak Ada Ada

Sangat Miskin Desa 3,12% 9,05% 12,17%

(8)

Kota 2,51% 5,32% 7,83%

Miskin Desa 2,53% 8,25% 10,78%

Kota 2,48% 6,74% 9,22%

Menengah Desa 2,62% 9,85% 12,46%

Kota 1,87% 5,67% 7,54%

Kaya Desa 1,48% 5,65% 7,12%

Kota 2,25% 10,63% 12,88%

Sangat Kaya Desa 0,73% 4,42% 5,14%

Kota 1,23% 13,63% 14,86%

21% 79% 100%

Sumber : Data SUSENAS Tahun 2016, diolah

Pada Tabel di atas dijelaskan responden yang paling banyak memperoleh akses air minum bersih yaitu sebesar 13,63% (5320 RT) adalah responden dalam kategori pendapatan sangat kaya dan tinggal di kota. Selanjutnya akses air minum bersih paling banyak diperoleh RT kaya yang tinggal di kota. Tetapi untuk responden kategori pendapatan menengah, miskin dan sangat miskin justru yang tinggal di desa lebih banyak memperoleh akses air minum bersih dibanding di kota.

Hal ini menunjukkan bahwa variabel pendapatan berpengaruh terhadap akses air minum bersih masyarakat kota tetapi tidak pada masyarakat desa.

Pendapatan sangat kaya dan sangat miskin yang dapat mengakses air minum bersih jauh intervalnya menunjukkan pendapatan berpengaruh terhadap akses air minum bersih. Pendapatan sangat kaya di kota lebih besar persentasenya dibanding sangat kaya di desa disebabkan oleh faktor-faktor lain. Salah satu faktor yang mungkin terdapat adalah tingkat pendidikan. Dimana menurut penelitian Larson, et al (2007) pendidikan yang tinggi atau rumah tangga yang memiliki rata-rata pendidikan yang tinggi akan cenderung memanfaatkan perusahaan swasta sebagai penyuplai air bersih dibandingkan rumah tangga dengan pendidikan yang lebih rendah. Jumlah RT di desa dan kota juga mempengaruhi dimana RT dengan pendapatan lebih tinggi cenderung berada di kota dibanding di desa.

Ditemukan pula dari tabel hasil estimasi diatas, kelompok pendapatan kaya dan sangat kaya masih terdapat RT yang tidak dapat mengakses air minum bersih. Menurut BPS, jika sumber air utama yang digunakan rumah tangga untuk minum adalah air kemasan, air isi ulang, dan leding meteran, leding eceran, sumur bor/pompa, sumur terlindung serta mata air terlindung dengan jarak ke Tempat Penampungan Limbah/Kotoran/Tinja Terdekat ≥ 10 meter. RT kaya dan sangat kaya di kota mendapat masalah kurangnya jarak standar sumber air minum dengan tempat penampungan limbah/ kotoran/ tinja terdekat. Hal ini merujuk dari UNICEF Indonesia (2012) menjelaskan bahwa Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta menunjukkan bahwa 41 persen sumur gali yang digunakan oleh rumah tangga berjarak kurang dari 10 meter dari septik tank. Septik tank jarang disedot dan kotoran merembes ke tanah dan air tanah sekitarnya. Laporan Bank Dunia tahun 2007 menyebutkan bahwa hanya 1,3 persen penduduk memiliki sistem pembuangan kotoran. Sistem pipa rentan terhadap kontaminasi akibat kebocoran dan tekanan negatif yang disebabkan oleh pasokan yang tidak teratur. Ini merupakan masalah khusus dimana konsumen menggunakan pompa hisap untuk mendapatkan air bersih dari sistem perariran kota.

4. Analisis Ekonometrik

Hasil estimasi dari model binary logit menggunakan aplikasi statistik STATA. Penulis melakukan model regresi logistik yang terdiri dari 39 model per kabupaten/kota yaitu 29 kabupaten, 9 kota dan Provinsi Jawa Timur. Pada estimasi model Provinsi Jawa Timur, kedua variabel signifikan dimana variabel pendapatan dengan prob value 0,000 dan koefisien 0,361 dan variabel lokasi dengan prob value 0,000 dan keofisien 0,106. Pada tingkat kabupaten hasil estimasi cukup beragam. Kedua variabel signifikan pada kabupaten Jember, Pasuruan, Jombang, Nganjuk,

(9)

Tuban, dan Sumenep. Sedangkan pada tingkat kota, variabel lokasi tempat tinggal tidak berpengaruh karena data yang sejenis atau homogen.

5. Pembahasan

Menurut analisis ekonometrik, pendapatan dan lokasi tempat tinggal berpengaruh signifikan terhadap akses air minum bersih di tingkat Provinsi Jawa Timur. Sebagaimana teori Indeks Pembangunan Manusia yang menyatakan pendapatan mempengaruhi standar hidup layak seseorang, menurut analisis ekonometrik dapat dibuktikan. Namun ada tingkat kabupaten dan kota, terdapat pula beberapa daerah yang variabel pendapatannya signifikan dan tidak. Contohnya pada kabupaten Jember probabilitas pendapatan berpengaruh terhadap akses air minum bersih sedangkan di kab. Trenggalek variabel pendapatan tidak berpengaruh signifikan. Artinya di daerah Trenggalek orang miskin dan tidak miskin tidak ada diskriminasi fasilitas air minum bersih.

Variabel pendapatan yang signifikan pada sepuluh daerah tidak memiliki kofisien bertanda negatif, artinya jika pendapatan semakin tinggi maka akses air minum bersih semakin bagus dan sebaliknya jika pendapatan semakin rendah maka akses terhadap air minum bersih semakin sulit.

Sehingga masyarakat miskin di sepuluh daerah tersebut akses terhadap air minum bersihnya jelas berkurang. Selain itu, terdapat permasalahan variabel pendapatan pada tingkat kabupaten dan kota dimana kurang dari separuhnya signifikan terhadap akses air bersih karena tidak meratanya cakupan pelayanan air bersih di Provinsi Jawa Timur (Bappeda Jatim, 2015). Menurut data Susenas 2013, di Jawa Timur terdapat beberapa kabupaten/kota yang seluruh penduduknya sudah mengkonsumsi air bersih. Masing-masing, Kota Kediri, Kota Batu, Kota Surabaya, Kota Pasuruan, Kota Probolinggo, Kota Malang, Kota Madiun dan Kabupaten Madiun. Secara umum, rasio pelayanan infrastruktur air minum sampai dengan tahun 2013, mencapai 62,74%. Selain itu juga terjadi karena adanya perbedaan karakteristik tiap wilayah dimana telah dijelaskan pada gambaran geografis Jawa Timur.

Lokasi tempat tinggal mempengaruhi akses air minum bersih. Sebagaimana terdapat pada analisis tabel silang antara lokasi tempat tinggal dan akses air minum bersih. Orang yang tinggal di kota cenderung memiliki akses air bersih lebih baik dibandingkan masyarakat desa. Hal ini dapat terjadi karena adanya ketimpangan pembangunan desa dan kota. Menurut hasil estimasi menggunakan model logit binomial, di Tulungagung masyarakat di kota cenderung mempunyai masalah air minum bersih sedangkan di Pasuruan masyarakat di desa cenderung bermasalah mengakses air minum bersih. Di Nganjuk orang yang tinggal di kota cenderung tidak punya banyak masalah memperoleh akses air bersih, sebaliknya masyarakat yang tinggal di desa cenderung punya masalah memperoleh akses air bersih. Begitu pula di daerah Jember, Pasuruan, Jombang, Nganjuk, Tuban, Gresik, Sumenep yang memiliki koefisien positif. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat kota tidak sepenuhnya lebih mudah mendapat akses air minum bersih.

Beberapa daerah yan signifikan variabel lokasinya terdapat yang bertanda negatif, artinya justru mereka yang di pedesaan aksesnya lebih bagus. Daerah- daerah ini dapat menjadi percontohan dalam penyediaan air minum bersih seperti Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Bondowoso, dan Magetan karena terdapat pemerataan pelayanan air bersih.

Menurut teori ketersediaan air, dimana masyarakat desa memiliki sumber daya air yang lebih besar dibandingkan masyarakat kota. Sebagaimana terdapat pada hasil analisis tabel silang antar ketiga variabel, bahwa tingkat pendapatan tidak mempengaruhi akses air minum bersih saat masyarakat tersebut berada di desa dikarenakan jumlah masyarakat pendapatan semakin kaya cenderung berada di perkotaan dan pendidikan masyarakat.

Menurut Bappeda Jawa Timur masih rendahnya cakupan layanan air bersih di Jawa Timur disebabkan rendahnya peningkatan pelayanan air bersih di perkotaan dan perdesaan. Khususnya untuk penduduk miskin dan daerah kekeringan. Juga stagnasi dalam penurunan tingkat kebocoran air, serta masalah tarif air minum yang tidak mampu mengimbangi biaya produksi, sehingga tidak dapat mencapai kondisi pemulihan biaya. Pada beberapa daerah juga kerap terjadi konflik kepentingan dalam pemanfaatan sumber air baku. Hal ini disebabkan adanya kepentingan peruntukan sumber air untuk non air bersih, maupun karena kendala batas administrasi wilayah.

Permasalahan lain, pelayanan air bersih non perpipaan yang sebagian besar di perdesaan yang dikonsumsi secara mandiri.

(10)

E. KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan

Terdapat pengaruh pendapatan terhadap akses air minum bersih masyarakat di tingkat Provinsi Jawa Timur. Terdapat diskriminasi fasilitas air minum bersih di beberapa daerah. Daerah - daerah yang perlu diperhatikan adalah Kabupaten Jember, Kab. Situbondo, Kab. Pasuruan, Kab.

Jombang, Kab. Nganjuk, Kab. Tuban, Kab. Bangkalan, Kab. Sumenep, Kota Mojokerto, dan Kota Madiun. Akses air minum bersih masyarakat miskin di sepuluh daerah tersebut cenderung lebih kurang dibandingkan masyarakat tidak miskin. Terdapat pengaruh lokasi tempat tinggal masyarakat dalam memperoleh air minum bersih di Provinsi Jawa Timur yaitu di desa dan kota. Di Nganjuk, Jember,Pasuruan, Jombang, Nganjuk, Tuban, Gresik, dan Sumenep, orang yang tinggal di kota cenderung tidak punya banyak masalah memperoleh akses air bersih, sebaliknya masyarakat yang tinggal di desa cenderung punya masalah memperoleh akses air bersih.

2. Saran

Dari kesimpulan yang telah dikemukakan sebelumnya, maka penulis akan dapat menyajikan saran sebagai masukan, yaitu pemerintah sebagai penjamin kebutuhan akan air setiap lapisan masyarakat, khususnya masyarakat miskin. Masyarakat yang tinggal di desa juga masih membutuhkan perhatian pemerintah agar tidak terjadi diskriminasi akses air minum bersih antara masyarakat desa dan kota. Permasalahan yang dihadapi dalam penyediaan air minum bersih saat ini antara lain masih rendahnya cakupan pelayanan air minum. Rendahnya cakupan pelayanan tersebut secara operasional merupakan refleksi dari pengelolaan yang kurang efisien maupun kurangnya pendanaan untuk pengembangan sistem. Beberapa daerah dapat menjadi contoh dalam menyediakan air minum bersih yaitu Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Bondowoso, dan Magetan karena terdapat pemerataan pelayanan air bersih.

DAFTAR PUSTAKA

Aldilarachma, Nurlia. 2008. Analisis Rasio Keuangan Perusahaan yang Melakukan Merger dan Akuisisi Dengan Metode Regerisi Logistik. Jakarta: Fakultas Ekonomi dan Ilmu Sosial Universitas Syarif Hidayatullah.

Handojo, Rudianto.2016. Mengelola Air Bersih. Air Bersih. Engineering Weekly: Mengelola Air Bersih No.02 W1 Maret 2016

Badan Pusat Statistik. 2016. Kemiskinan dan Ketimpangan. http://bps.go.id. Diakses 18, Maret, 2016.

Dajan Anto. 1974. Pengantar Metode Statistik Jilid II. Jakarta : PT Pustaka LP3ES Indonesia Effendi, Hefni.2003.Telaah Kualitas Air, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Erdianto, Kristian.2017. BNPB: Ribuan Desa di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara Krisis Air.

Kompas

Ghozali, Imam. 2005.Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.

Gibson, Rosalind S.2005.Principles of Nutritional Assessment.New York: Oxford University Press Gilarso, T.2004.Pengantar Ilmu Ekonomi Makro, Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Hyman, D. 2005. Publik Finance A Contemporary Application of Theory to Policy, Eight Edition.

Thomson. South-Western. North Carolina State University.

Kuncoro, M.(2003). Metode riset untuk bisnis dan ekonomi: Bagaimana Meneliti & Menyusun Tesis.Jakarta: Erlangga.

(11)

Liu, D., Li, T., and Liang, D. 2013. Incorporating Logistic Regression to Decision-Theoretic Rough Sets for Classifications. International Journal of Approximate Reasoning, 55(2014), 197-210.

Putra, H.S dan Nanang Rianto. 2017.Pengaruh Akses Air Bersih Terhadap Kemiskinan Di Indonesia: Pengujian Data Rumah Tangga. Jurnal Sosial Ekonomi Pekerjaan Umum, Vol.9, No.1

Nawari. 2010. Analisis Regresi. Jakarta: PT Elex Media Komputindo

Raksanagara, Ardini S, et all.2017.Faktor yang Memengaruhi Perilaku Penggunaan Air Bersih pada Masyarakat Kumuh Perkotaan berdasar atas Integrated Behavior Model.MKB, Volume 49 No. 2, Juni 2017

Rizki, Bhimo, Samsubar Saleh.2007.Keterkaitan Akses Sanitasidan Tingkat Kemiskinan:Studi Kasus Di Propinsi Jawa Tengah. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 12 No. 3, Desember 2007 Hal: 223 – 233.

Sen, Amartya. 1999. Development as Freedom. New York: Anchor Books. Chicago Stanislaus S. 2006. Pedoman Analisis Data dengan SPSS. Yogyakarta :Graha Ilmu

Susana, Tjutju.2003.Air Sebagai Sumber Kehidupan. Oseana, Volume XXVIII, Nomor 3, 2003:

17-25.

Suharyadi, dan S. K. Purwanto.2009. Statistika: Untuk Ekonomi dan Keuangan Modern, Edisi 2, Buku 1. Jakarta : Penerbit Salemba Empat.

Syamsuddin, A.R & Damiyanti, Vismaia S. 2011. Metode Penelitian Pendidikan Bahasa.

Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Wahyunindyawati, Wahyunindyawati and Sari, Dyana, Ekonomi Sumberdaya Alam Dan Lingkungan (Economics of Natural Resources and the Environment) (March 26, 2016).

Available at SSRN:https://ssrn.com/abstract=2916841 or

http://dx.doi.org/10.2139/ssrn.2916841

Yongsi, H H. Blaise Nguendo.2010. Suffering for Water, Suffering from Water: Access to Drinking water and Associated Health Risks in Cameroon. Journal of Health, Population and Nutrition, 2010 Oct; 28(5): 424–435.

Referensi

Dokumen terkait

Perlindungan hukum terhadap konsumen dalam pelayanan air bersih Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Mangutama Kabupaten Badung dilatarbelakangi oleh pihak

Untuk mengatahui bagaimana kualitas pelayanan penyediaan air bersih di Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Ternate. Indikator yang dimaksud yaitu, Tangibles, atau

PDAM Tirta Binangun sebagai perusahaan daerah yang memberikan pelayanan penyediaan air bersih pada masyarakat Kulon Progo, melihat banyaknya kebutuhan air

Untuk memenuhi tanggung jawab negara dalam menjamin pemenuhan hak rakyat atas air bersih dan akses terhadap air bersih, Pemerintah Pusat melalui Pemerintah Daerah menyerahkan

Akses air minum dipengaruhi oleh faktor pendidikan, kepadatan penduduk, jenis rumah, kepemilikan rumah, dan pengolahan air tergantung oleh sumber daya air

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “ Akses Terhadap Air Minum yang Aman di Kabupaten/ Kota Provinsi Jawa Timur: Pendekatan Permintaan”4. Sholawat serta

Dari analisi yang dilakukan terhadap tingkat kemiskinan dan tingkat akses air bersih terhadap 17 kabupaten dan kota di Provinsi Sumatera Selatan selama empat

42 42 Variabel penelitian dan definisi nya dapat dilihat atau digambarkan melalui tabel dibawah ini: Tabel 2.0 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional NO Variabel Definisi