"Aku Terbiasa Berdoa dalam Setiap Aktivitas"
Berdoa menjadi satu cara manusia berkomunikasi dengan Tuhannya. Begitu pula dalam Islam, doa mempunyai kedudukan penting dalam ajaran agama.
Setiap harinya, umat muslim memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk meminta rezeki, memohon ampun, dan sebagainya. Dalam Islam, keutamaan doa memang sangat luar biasa.
Doa tidak saja jadi cara untuk meminta kepada Allah SWT. Lebih dari itu, dengan doa, seorang muslim bisa semakin dekat dengan sang penciptanya. Di kehidupan ini pun sudah banyak orang yang membuktikan kekuatan dari doa.
Namun untuk bisa diterima, tentunya doa harus diucap dengan tulus. Oleh karena itu, sudah semestinya umat muslim memahami keutamaan doa.
1. Keutamaan Doa dalam Islam
Adapun beberapa keutamaan tersebut antara lain Allah SWT akan mengabulkan setiap permohonan yang disampaikan dalam doa. Hal tersebut tertulis dalam salah satu ayat Al Quran yang, artinya:
"Dan Tuhanmu berfirman, 'Berdoalah kepada-ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu.
Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina dina'." (QS Ghafir : 60).
Selain ayat di atas, janji Allah SWT yang akan mengabulkan setiap doa, juga terkandung dalam surah Al-Baqarah, ayat 186, yang artinya sebagai berikut:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran."
2. Berdoa dengan Bersungguh-Sungguh
Namun untuk mendapat keutamaan doa tentunya setiap umat Islam harus berdoa dengan adab yang benar, sesuai dengan ajaran Rasulullah SAW. Adapun salah satu adab berdoa dalam Islam yaitu harus dilakukan dengan bersungguh-sungguh. Hal tersebut diungkapkan Rasulullah SAW dalam salah satu hadisnya.
Dari Anas bin Malik Radhiyallahu anhu, bahwasanya ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:
"Apabila salah seorang di antara kalian berdoa maka hendaklah ia bersungguh-sungguh dalam permohonannya kepada Allah dan janganlah ia berkata, 'Ya Allah, apabila Engkau sudi, maka kabulkanlah doaku ini,' karena sesungguhnya tidak ada yang memaksa Allah."
3. Berdoa Penuh Harapan dan Keyakinan
Berdoa dilakukan dengan penuh harap dan keyakinan. Pasalnya, Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang berdoa dengan penuh harapan dan keyakinan.
Khususnya, pada hamba-Nya yang ketika berdoa takut tidak dikabulkan lantaran merasa banyak dosa. Sementara, terkait dengan doa yang penuh keyakinan, Allah SWT juga menjelaskannya secara langsung dari salah satu ayatnya, yang berbunyi:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah),
bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
(QS Al Baqarah : 186).
4. Melakukan Taubat
Untuk mendapatkan keutamaan doa yang dikabulkan, seorang muslim juga harus melakukan taubat. Taubat, bisa menjadi bukti bahwa seorang muslim bersungguh-sungguh dalam beriman dan bertakwa pada Allah SWT.
5. Menjauhi Hal-Hal yang Diharamkan
Selain melakukan taubat, dalam kesehariannya seorang muslim juga diharuskan selalu menjauhi hal-hal yang diharamkan. Baik itu dalam bentuk makanan, harta, dan sebagainya.
Pasalnya, menurut salah satu hadis Rasulullah SAW, melakukan dan mengonsumsi hal-hal yang haram disebut bisa jadi satu penghalang dikabulkannya doa.
6. Memuji Allah SWT
Tak sekadar meminta, dalam berdoa seorang muslim juga perlu memanjatkan pujian kepada Allah SWT. Bahkan, sangat dianjurkan untuk memulai setiap doa dengan puji-pujian
terhadap Allah SWT, misalnya: "Ya Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang".
7. Menggunakan Suara yang Lembut
Berdoa ibarat sedang melakukan komunikasi secara langsung dengan Allah SWT. Oleh karena itu, diharuskan bagi setiap muslim untuk menggunakan suara yang lemah lembut.
Adab menggunakan suara yang lembut ini, di antaranya terdapat dalam QS. Al A'raf : 55, yang artinya:
"Katakanlah: "Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu seru, Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang terbaik) dan janganlah kamu mengeraskan suaramu dalam sholatmu dan janganlah pula merendahkannya dan carilah jalan tengah di antara kedua itu."
8. Menghadap Kiblat
Sebagaimana sholat, ternyata berdoa menurut adab Islam sebaiknya juga dilakukan dengan menghadap ke kiblat. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dalam salah satu hadis.
"Dari Jabir radhiallahu 'anhu, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika berada di Padang Arafah, beliau menghadap kiblat, dan beliau terus berdoa sampai matahari terbenam."
(HR. Muslim).
9. Berdoa di Waktu Mustajab
Salah satu adab berdoa dalam Islam yang tidak boleh dilewatkan adalah berdoa di waktu mustajab. Ya, memanjatkan doa di waktu-waktu khusus yang mustajab bisa jadi satu kunci dari dikabulkannya doa. Sebagaimana yang disinggung Rasulullah dalam hadisnya yang berbunyi:
"Allah turun ke langit dunia setiap malam, ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Allah berfirman, 'Siapa yang berdoa kepada-Ku, Aku kabulkan, siapa yang meminta, akan Aku beri, dan siapa yang memohon ampunan pasti Aku ampuni'." (HR. Muslim).
“Semoga kita termasuk orang-orang yang suka berdoa disegala kegiatan, dari sebelum dimulai sampai diakhir kegiatan yang kita kerjakan. Wallahu ‘alam bisshowaab
Games
Surat-Surat
Tempat : di dalam ruangan
Petunjuk
Hafalan adalah sesuatu yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang dikehendaki. Hafalan bisa dikembangkan dengan cara mengulang berkali-kali, melihat, membiasakan menghafal tanpa harus melihat ke atau alat-alat modern yang lain dengan tanpa berpikir atau
menggunakan pikiran.
Salafus sholeh (orang sholeh terdahulu) sangat perhatian dengan hafalan ini, sehingga sebagian mereka mengatakan: "Barangsiapa menghafalkan matan (teks hadits) maka akan mendapatkan bermacam-macam ilmu, dan berangsiapa yang hanya melihat dengan indera tidak akan mendapatkan apa-apa."
Pada waktu itu anak-anak kecil belum berumur 10 tahun pun telah hafal Al-Qur'an Al-Karim, bahkan hafal beberapa kitab dan matan-matan hadits. Oleh karena itu, permainan itu
tergantung pada hafalan and ingatan.
Cara Bermain:
Salah seorang berdiri, kemudian setelah semua peserta mendengarkan dengan seksama, dia memilih sebuah surat dari Al-Qur'an, misal: "Ath-Thuur", kemudian dia mengatakannya dengan suara yang lantang sehingga terdengar oleh semuanya: "Ath-Thuur" kemudian yang lain yang dia pilih ("At-Taubah misalkan"). Maka dia mengatakan "Ath-Thuur", "At-Taubah".
Kemudian orang ketiga menyebutkan dua surat tersebut dan surat ketiga yang dia pilih "Al- Kahfi" misalkan. Maka dia mengatakan "Ath-Thuur", "At-Taubah", "Al-Kahfi", …, begitulah seterusnya.
Setiap orang menyebutkan surat-surat sebelumnya kemudian ditambah dengan surat baru yang lain. Dan siapa saja yang tidak bisa mengurutkan atau lupa surat apa maka dia keluar dari permainan. Sampai akhirnya tidak ada yang tersisa melainkan hanya seorang. Maka dialah sang juara, dan diberi gelar Hafidh.