Di Indonesia, praktek pewarisan didasarkan pada tiga landasan hukum, yaitu hukum Islam, hukum adat, dan hukum perdata. Praktek pewarisan juga muncul di Kesultanan Deli, seperti yang dilakukan ahli waris Sultan Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah ketika Sultan Makmun al Rasyid Perkasa Alamsyah meninggal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana ahli waris Sultan Makmun Al Rasyid dalam memanfaatkan praktik pewarisan, akulturasi warisan Islam dan warisan adat, serta bagaimana hukum Islam meninjau praktik pewarisan tersebut.
Judul : “BUDAYA WARISAN ISLAM DAN HUKUM WARISAN ADAT (STUDI KASUS PRAKTIK PEMBAGIAN WARISAN SULTAN MAKMUN AL-RASYID PERKASA ALAMSATELIAH).
Vokal Pendek yang ber Berurutan dalam Satu Kata Dipisahkan dengan Apostrof
Kata Sandang Alif +Lam
Penulisan Kata-Kata dalam Rangkaian Kalimat Ditulis menurut bunyi atau pengucapannya
Alhamdulillah, dari segala rintangan dan cobaan penulis telah menyelesaikan skripsinya yang berjudul “Praktik Pewarisan di Kesultanan Delhi pada Masa Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah” sebagai syarat bagi penulis untuk menyelesaikan pendidikannya dan memperoleh gelar Sarjana. Hukum (SH) pada Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Daniel, dan seluruh Yayasan Sultan Ma'moen Al-Rasyid yang telah membantu memberikan informasi. Istri/janda mendapat ¼, jika ahli waris tidak meninggalkan anak, maka istri/janda mendapat 1/8.
Raja pertama Kesultanan Deli adalah Panglima Gocah Pahlawan yang menjabat sebagai Sultan pada tahun 1632 dan kemudian meninggal pada tahun 1669. Salah satu peninggalan politik Makmun Al-Rasyid adalah Istana Maimun yang dibangun pada tahun 1907 yang kemudian menjadi ikon sejarah. peninggalan sejarah di kota Medan. Sepeninggal Sultan Makmun Al Rasyid, para ahli waris membagi harta warisan Sultan Makmun Al Rasyid secara musyawarah di kalangan ahli waris.
Kesultanan Deli yang menjadi kesultanan terkenal di wilayah Medan dan beragama Islam, kemudian mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, kemudian dengan adanya surat perdamaian mengenai suksesi Sultan Makmun Al-Rasyid . Perkasa Alamsyah menjadikan hal ini menarik untuk diteliti. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti lebih jauh mengenai sistem pewarisan yang digunakan di Kesultanan Deli pada masa pemerintahan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Berdasarkan latar belakang tersebut maka penulis akan mengkaji hal tersebut dalam judul skripsi “BUDAYA HUKUM WARISAN ISLAM DAN HUKUM WARISAN TRADISIONAL (Studi Kasus Praktek Pembagian Warisan Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah di Kesultanan Deli.
Rumusan Masalah
Bagaimana hukum Islam mengulas praktek pembagian warisan Sultan Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah yang dilakukan oleh ahli waris Sultan Makmun al-Rasyid Perkasa Alamsyah.
Tujuan dan Kegunaaan Penelitian
Telaah Pustaka
Buku ini membahas tentang bagaimana hukum waris diatur dalam Islam dengan menggunakan Al-Qur'an, hadis dan Kompilasi Hukum Islam sebagai landasan pembuatan undang-undang. Kajian yang masih masuk kategori pertama adalah buku karangan Amir Syarifuddin yang berjudul Warisan Islam. Buku ini hampir sama dengan buku karangan Anshary yang membahas tentang hukum waris dalam perspektif hukum Islam.
Hukum Adat Warisan Minangkabau Ditinjau dari Sinopsis Hukum Islam dan Hukum Perdata” yang dimuat dalam Jurnal Mahasiswa Humanis. Kajian yang termasuk dalam kelompok keempat membahas tentang praktik pewarisan adat dan membandingkannya dengan hukum Islam, yaitu skripsi yang ditulis oleh Ahmat Sulaiman dengan judul “ Praktek Pembagian Harta Warisan Masyarakat Adat Desa Karya Indah Kecamatan Tapung Dalam Perspektif Hukum Islam". Perdata", Majalah Mahasiswa Humanis, No.
Praktik pewarisan ini tidak sesuai dengan hukum Islam yang mengatur pewarisan dalam Al-Qur'an dan Hadits. Kemudian ada pula karya ilmiah yang masuk dalam kategori keempat yaitu karya ilmiah karya Ismail yang berjudul “Akulturasi Hukum Islam dengan Hukum Warisan Adat Minangkabau” yang dimuat di Jurnal al-Hurriyah. Penelitian yang dilakukan menunjukkan adanya dialog rekonstruktif antara hukum adat Minangkabau dan hukum Islam.
Metode Penelitian
Dalam hal ini yang menjadi subjek penelitian adalah keturunan Sultan Makmun Al-Rasyid Perkas Alamsyah yaitu Tengku Ismail. Data primer dalam penelitian ini diperoleh dari dokumen, arsip atau manuskrip yang menggambarkan praktek pembagian harta warisan Sultan Makmun al-Rasyid2 dan seorang informan yaitu cicit Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Wawancara adalah percakapan dengan tujuan tertentu yang dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara sebagai pihak yang mengajukan pertanyaan dan pihak yang diwawancarai sebagai jawaban atas pertanyaan 17.
Pewawancara menggunakan metode wawancara terbuka, yaitu dengan menggunakan serangkaian pertanyaan standar yang telah disiapkan. Yang diwawancarai adalah cicit Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah yang memberikan informasi mengenai praktik pewarisan di Kesultanan Deli pada masa Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Pendekatan historis merupakan pendekatan yang menjelaskan kajian yang diteliti berdasarkan sejarahnya.
Pendekatan normatif adalah pendekatan yang didasarkan pada seluruh hikmah yang terkandung dalam teks yang menganalisis permasalahan berdasarkan yuridis-formal dan/atau hukum formil 20. Dalam hal ini penyusun akan menggunakan Al-Qur'an dan hadis, serta hukum adat dalam analisis masalah ini. . Dalam penelitian ini penulis menggunakan teknik analisis kualitatif dan menarik kesimpulan berdasarkan analisis induktif yaitu dengan menganalisis data yang bersifat khusus kemudian menarik kesimpulan yang bersifat umum yaitu dengan menganalisis praktik pembagian harta peninggalan Sultan Makmun al-Rasyid yang dilakukan oleh ahli waris. Sultan Makmun al. -Rasidi dengan dalil-dalilnya: dalil-dalil Al-Qur'an, hadis, Rangkuman hukum Islam dan hukum adat.
Kerangka Teoritik
Aturan ini mencakup beberapa hal, seperti peralihan hak milik, penentuan siapa yang akan menjadi ahli waris, dan penentuan besarnya harta yang akan diberikan kepada ahli waris. Dalam pewarisan masyarakat Jahiliah terdapat satu adat istiadat, yaitu membagi harta warisan hanya kepada ahli waris laki-laki dewasa saja. Asas ini juga merupakan asas yang mengakhiri praktek orang-orang jahil yang membagi harta warisan hanya kepada ahli waris laki-laki dewasa.
Harta warisan adalah harta yang ditinggalkan oleh ahli waris dan kepemilikan atas harta tersebut akan diberikan kepada ahli waris. Oleh karena itu, sebelum harta ahli waris dibagikan, ahli waris harus melepaskan harta ahli waris untuk mengurus jenazah, melunasi hutang dan memenuhi wasiat. Dalam kajian hukum waris Islam, ahli waris disebut dengan wariṡ, yaitu seseorang yang akan mewarisi harta warisan dari ahli waris yang mempunyai alasan untuk mewaris.
Secara umum ahli waris dapat digolongkan menjadi dua golongan, yaitu żawī al-furūḍ dan 'aşabah. Berbagai hal yang berkaitan dengan peralihan hak milik atas harta ahli waris kepada ahli waris, penentuan siapa ahli waris dan bagiannya, ditentukan oleh ketentuan hukum adat yang ada dalam masyarakat. Sistem pewarisan kolektif, yaitu sistem pewarisan dimana harta warisan merupakan harta yang dimiliki secara bersama-sama dan tidak dapat dimiliki sendiri oleh ahli waris.
Sistematika Penulisan
Sistem patrilineal adalah sistem yang memungkinkan terciptanya kelompok-kelompok dalam satu garis yang selalu menghubungkan garis keturunan sendiri berdasarkan ayah. Sistem matrilineal merupakan sistem kekerabatan yang memungkinkan terciptanya kelompok-kelompok dalam garis keturunan yang menghubungkan garis keturunan sendiri-sendiri atas dasar ibu. Sistem orang tua atau bilateral adalah sistem kekerabatan yang memungkinkan terciptanya kelompok-kelompok dalam garis keturunan yang menghubungkan garis keturunan sendiri dengan garis keturunan ayah dan ibu.
Pembahasan pada bab ini menjadi landasan penelitian dan keterbatasan dalam menyikapi skripsi. Bab kedua berisi pembahasan tentang hukum waris dalam Islam yang bersumber dari Al-Qur'an, Hadits, dan juga Kompilasi Hukum Islam. Bab ketiga berisi pembahasan tentang gambaran Kesultanan Deli dan juga Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah.
Dalam hal ini pembahasan meliputi sejarah Kesultanan Deli, letak geografis Kesultanan Deli, kondisi sosial budaya masyarakat, profil Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah, praktik suksesi di Kesultanan Deli pada masa masa Sultan Makmun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah. Bab Empat, pada bab ini pembahasan meliputi ulasan hukum Islam mengenai praktek pewarisan di Kesultanan Deli pada masa Sultan Makmun Al. Bab ini juga memuat analisis data yang diperoleh dengan menggunakan kerangka teori penelitian.
Kesimpulan
Terjadi akulturasi antara hukum adat dan hukum Islam dalam praktik pembagian warisan yang dilakukan oleh ahli waris Sultan Makmun al-Rasyid. Dalam hal ahli waris berhak menerima warisan dan warisan dibuka sesuai dengan hukum waris Islam. Namun dalam menentukan besarnya harta yang akan diterima, sudah sesuai dengan hukum adat Melayu dan hukum adat Jawa yang menggunakan musyawarah untuk mufakat dan mempertimbangkan keadaan ahli waris dalam pembagian harta warisan.
Dari penjelasan di atas terlihat bahwa ada beberapa praktek pembagian warisan yang sesuai dengan syariat Islam dan ada pula yang tidak sesuai dengan syariat Islam. Amalan yang sesuai dengan hukum Islam adalah pembukaan warisan ketika pewaris meninggal dunia, pembagian warisan dengan sistem multilateral, dan ahli waris yang berhak atas warisan.
Saran
Hadist
Fiqih atau Ushul Fiqih
Nasution, Amin Husein, 2012, Hukum Waris, Analisis Perbandingan Pemikiran Mujtahid dan Komposisi Hukum Islam, Jakarta: Rajawali Press.
Lain-lain
Nasution, Khoiruddin, Pengantar Kajian Islam, Jakarta: Rajawali Press, 2018 Nasution, Muhammad Sofwan “Akulturasi Budaya Masyarakat Tionghoa di Kota Padangsidimpuan,” Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya Ilmu Pengetahuan, Universitas Sumatera Utara, 2018. Nasution, Sundari, “Hak Ahli Waris Atas Warisan Lisan Masyarakat Batak Toba (Kajian Putusan Mahkamah Agung RI Nomor : 428 PK/PDT/2009),” Tesis, Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2021.
Nova, Lena, “Hukum Adat Waris di Minangkabau Ditinjau dari Kompilasi Hukum Islam dan Hukum Perdata”, Jurnal Mahasiswa Humanis, Vol. Sentia, Ana, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Praktek Pewarisan Pada Masyarakat Rambutan”, Skripsi, UIN Raden Fatah Palembang, 2016. Sirait, , “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Penyelenggaraan Pembagian Warisan Adat Batak Toba”, Skripsi, Fakultas Ilmu Budaya Ilmu Pengetahuan Islam, Universitas Islam Indonesia.
Sulaiman, Ahmat, “Praktik pembagian harta warisan pada masyarakat adat desa Karuya Indah kabupaten Tapung dalam perspektif hukum Islam”, skripsi, Riau, Sultan Syarif Kasim Fakultas Ilmu Syariah dan Hukum, 2010. Wantaka, Agus dkk , “Pembagian Warisan Dalam Perspektif Hukum Islam dan Hukum Adat Jawa (Studi Banding),” Jurnal Prosiding Al-Hidayah, STAI al-Hidayah Bogor, No. Zeinudin, Moh, FIkri, “Studi Banding Aspek Ontologis Pembagian Warisan Menurut Hukum Islam dan Hukum Adat Jawa”, Jurnal Unifikasi, No.