Kelompok 8
Anom 23 | Anisa 24 | Dianti 43
Aliran Kalam Klasik
Mu’tazilah
Pokok Pembahasan
Latar Belakang
5 Pokok Ajaran Mu’tazilah
Kalam
Pandangan Aristoteles dan Alam Raya
Metafisika
01 02 03
Pendapat Masyhur dan Kurang Masyhur
Latar Belakang Munculnya Aliran Mu’tazilah
● Sejarah Munculnya Aliran Mu'tazilah (Pendapat Masyhur)
Aliran Mu'tazilah muncul di kota Bashrah (Irak) pada abad ke-2 Hijriah, sekitar tahun 105-110 H, pada masa pemerintahan Khalifah Abdul Malik bin Marwan dan Khalifah Hisyam bin Abdul Malik.Awal mula kemunculan Mu'tazilah berkaitan dengan perdebatan teologis antara Wasil bin Atha' dan gurunya, Hasan al-Bashri.
Wasil bin Atha' berpendapat bahwa pelaku dosa besar tidak dapat dikategorikan sebagai mukmin atau kafir, melainkan berada di antara dua posisi tersebut (al- manzilah baina al-manzilatain). Karena perbedaan pendapat ini, Wasil bin Atha' memisahkan diri (i'tazala) dari kelompok Hasan al-Bashri, sehingga aliran ini kemudian disebut Mu'tazilah.
Dengan demikian, nama Mu'tazilah berasal dari peristiwa Wasil bin Atha' yang memisahkan diri dari Hasan al-Bashri. Aliran ini kemudian berkembang menjadi salah satu aliran teologi Islam yang berpengaruh, terutama pada masa Dinasti Abbasiyah.
Latar Belakang Munculnya Aliran Mu’tazilah
● Pendapat Lain (Kurang Masyhur)
Aliran Mu'tazilah muncul kira-kira pada permulaan abad pertama Hijriah di kota Basrah (Irak). Mereka muncul sebagai respon terhadap persoalan teologis yang berkembang di kalangan Khawarij dan Murjiah akibat adanya peristiwa tahkim (arbitrase). Golongan Mu'tazilah berbeda pendapat dengan Khawarij dan Murjiah tentang pemberian status kafir kepada orang yang berbuat dosa besar. Jadi, Mu'tazilah muncul sebagai respon terhadap perdebatan teologis di kalangan umat Islam pada masa itu, khususnya terkait status orang yang berbuat dosa besar.
Pemikiran Kalam Aliran Mu’tazilah
Aliran Mu'tazilah terkenal dengan golongan rasionalis Islam. Mu'tazilah bukan hanya kritis terhadap Al-Qur'an dan Hadis nabi. Melainkan juga kritis terhadap filsuf Yunani. Meskipun golongannya terpecah menjadi 20, adapun 5 pokok atau prinsip yang dianut oleh kaum Mu-tazilah yakni sebagai berikut :
● Tauhid (Keesaan) : golongan Mu'tazilah tidak mengakui sifat-sifat Allah sebagai suatu yang qadim yang lain daipada ZatNya.
● Al'adl (Keadilan) : bagi kaum Mu'tazilah dasar keadilan Allah yaitu meletakkan pertanggungjawaban manusia atas segala perbuatannya.
● Al-Wa'ad wal wa'id (janji dan ancaman) : ajaran ini kelanjutan dari prinsip sebelumnya. Mereka yakin bahwa janji Allah akan memberikan pahala atau syurga, sementara ancaman akan menjatuhkan pada siksa neraka dan itu pasti dilakukan oleh Allah karena Allah sendirilah yang menjanjikannya.
Pemikiran Kalam Aliran Mu’tazilah
● Almanzilah bainal manzilatain (tempat diantara dua tempat) : menurut Washil seseorang yang berbuat dosa besar (selain musyrik) bukan termasuk mu'min dan bukan kafir, melainkan fasiq.
● Amar ma'ruf nahi munkar : untuk mempertahankan atau meluruskan ajaran Islam, aliran Mu'tazilah tidak segan-segan menggunakan
kekerasan dalam jihadnya.
Lima ajaran pokok diatas menjadi syarat wajib bagi golongan Mu’tazilah, yang kemudian mempengaruhi sebagian dari era pemerintahan Abbasiyah, terutama pada zaman khalifah Harun Ar-Rasyid dan juga putranya Al- Ma’mun.
Meskipun golongan ini di era sekarang hampir tidak ada namun sebagian pemikiran-pemikirannya masih sering dikaji oleh para Pembaharu Islam. Di Indonesia sendiri ada Harun Nasution yang seringkali dicap sebagai Neo- Mu’tazilah.
Metafisika dan Kosmologi
● Pandangan Aristoteles
Mu'tazilah dalam bidang metafisika mengambil faham Aristoteles, yaitu kesatuan transenden. Faham ini kemudian digunakan oleh mereka untuk menjelaskan tentang keesaan Allah (Tauhid). Oleh karena itu bagi Mu'tazilah yang Qadim hanyalah Dzat Allah semata, dan selain Dzat-Nya tidaklah Qadim (termasuk sifat-sifat Allah dan Al-Qur'an).
● Tentang Alam Raya
Dalam menjelaskan tentang alam raya dan sekitarnya mereka menggunakan konsep Al-'Adl, yaitu menjelaskan bahwa keadilan Allah adalah dengan tidak mengingkari apa yang telah ditetapkannya (Sunnatullah). Sebagaimana menurut penafsiran mereka dalam Al-Qur'an surah al-Ahzab : 62, yaitu bahwa Allah akan selalu berlaku sesuai dengan Sunnatullah.
Allah telah menciptakan alam raya ini dengan segala keteraturannya, dan Allah tidak akan mengubahnya karena itu akan menunjukkan sifat ketidakadilan.