PERENCANAN OPERASI PEOPLE MOVER SYSTEM SEBAGAI MODA TRANSPORTASI ANTAR TERMINAL DI
BANDARA INTERNASIONAL SOEKARNO HATTA
Almira Illini Bastari NIM : 15008107
Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung
Pendahuluan
Pengembangan bandara akan membuat jarak antar fasilitas menjadi lebih besar, sehingga untuk mencapai dari satu fasilitas ke fasilitas lain akan menjadi terlalu jauh jika ditempuh hanya dengan berjalan kaki. Saat ini, moda transportasi yang disediakan oleh Bandara Internasional Soekarno Hatta untuk penumpang berpindah terminal adalah shuttle bus. Namun, dalam perencanaan Grand Design Soekarno Hatta, transportasi antar terminal akan menggunakan moda lain yang disebut dengan People Mover System, kendaraan tanpa pengendara yang memliki jalur pelayanan terpisah dari jalan raya. Tujuan dari tugas akhir ini adalah untuk merencanakan operasional People Mover System dan mengevaluasi shuttle bus.
Metode Penelitian
Terdapat beberapa tahap yang digunakan yaitu pengumpulan data, pengolahan data dan analisis. Data terdiri dari dua yaitu data sekunder yang merupakan data penumpang yang didapat dari PT. Angkasa Pura II (Persero), sedangkan data primer merupakan hasil survey penumpang dan stopping-running time shuttle bus. Data ini diperlukan untuk menentukan jumlah unit kendaraan serta headway dari People Mover System dan sebagai pembanding terhadap moda eksisting.
Data dan Analisis
Dari data sekunder yang diperoleh bahwa People Mover System merupakan double loop, self propelled, side platform dan panjang lintasan adalah 5588 m.
Data sekunder juga menunjukkan potensi demand People Mover System memiliki variasi di tiap jam selama 24 jam karena dipengaruhi oleh faktor jam sibuk. Survey penumpang shuttle bus mengidentifikasi proporsi penumpang yang akan menggunakan pesawat terbang atau tidak sehingga memengaruhi kapasitas dari People Mover yaitu 88 penumpang. Berdasarkan demand penumpang per jam per arah serta kapasitas People Mover, kebutuhan People Mover diestimasi berdasarkan variasi headway serta jumlah unit kendaraan per rangkaian. Dengan melibatkan perhitungan keceptan kemudian diperoleh waktu total perjalanan adalah 736 detik atau 12,27 menit dengan menggunakan dwell time maksimum 80 detik.
Headway yang dihasilkan merupakan headway operasional minimum untuk masing-masing arah.
i. Arah pertama:
00.01-06.00 8 menit 06.01-12.00 5 menit 12.01-18.00 4 menit 18.01-24.00 7 menit
ii. Arah kedua:
00.01-01.00 7 menit 01.01-05.00 10 menit 05.01-11.00 4 menit 11.01-13.00 6 menit 13.01-16.00 2,5 menit 16.01-21.00 6 menit 21.01-23.00 10 menit 23.01-24.00 5 menit
Jumlah unit kendaraan per rangkaian adalah tetap yaitu 3 unit People Mover, sedangkan jumlah rangkaian berbeda. Pada arah pertama jumlah rangkaian paling banyak yang dibutuhkan adalah 4 rangkaian, dan untuk arah kedua adalah 5 rangkaian. Adapun jumlah rangkaian mininum untuk dua arah adalah 2 rangkaian.
Gambar I.1 GAPEKA arah Terminal 1→Integrated Building→Terminal 2→Terminal 3→Terminal 1
Gambar I.2 GAPEKA arah Terminal 1→Terminal 3 →Terminal 2→ Integrated Building →Terminal 1
Dari 21 data untuk mengevaluasi waktu perjalanan shuttle bus yang ada, lalu dibandingkan dengan target waktu dari pihak penyedia jasa bis.
Tabel I.1 Perbedaan antara waktu survey dan target waktu Asal
(Subterminal/
Terminal)
Tujuan (Subterminal/
Terminal)
Target Waktu (menit)
>Target Waktu (menit)
Total Data
Memenuhi target waktu
Tidak memenuhi target waktu
1A 1B 3 2 21 90,477 9,523
1B 1C 3 6 21 71,429 28,571
1C 2D 5 1 21 95,239 4,761
2D 2E 2 3 21 85,715 14,285
2E 2F 3 1 21 95,239 4,761
2F 3 6 4 21 80,953 19,047
3 1A 5 19 21 9,524 90,476
Perbandingan antara moda eksisting dan moda rencana dilakukan dengan membandingkan faktor-faktor yang memengaruhi keandalan.
Tabel I. 2 Perbandingan shuttle bus dan People Mover System No Faktor
diperhatikan
Shuttle bus People Mover System
1 Lama waktu tempuh
Tidak pasti Pasti
2 Lama waktu berhenti
0 detik (tidak berhenti) hingga 286 detik
80 detik atau kurang , bergantung pada jumlah penumpang
3 Barang bawaan
Ruang barang bawaan sempit
Barang bawaan dapat diletakkan di dekat penumpang
4 Pengawasan Lebih sulit karena melibatkan manajemen dan pengawasan lapangan
Lebih mudah karena dikendalikan di ruang kontrol
Referensi
LAPI ITB, P.T. 2010. Grand Design Bandar Udara Internasional Soekarno Hatta, 64-83
Lea+Elliot, Kimley-Horn and Associates, Inc., Randolph Richardson Associates. 2010. ACRP Report 37: Guidebook for Planning and Implementing Automated People Mover Systems at Airports, (online), (http://onlinepubs.trb.org/onlinepubs/acrp/acrp_rpt_037. pdf , diakses 16 April 2012), 7-145.
Suhardono, Edy. 2001. Panorama Survey. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.