• Tidak ada hasil yang ditemukan

AMOS PARDAMEAN PANJAITAN.pdf - Repository UHN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "AMOS PARDAMEAN PANJAITAN.pdf - Repository UHN"

Copied!
44
0
0

Teks penuh

Tindak pidana pemanenan dan/atau pengumpulan dan penyimpanan hasil perkebunan secara ilegal merupakan tindak pidana yang sangat sering terjadi di masyarakat dan bisa dibilang paling meresahkan masyarakat, khususnya petani dan pengusaha perkebunan kelapa sawit. Meningkatnya tindak pidana pencurian kelapa sawit merupakan konsekuensi dari bertambahnya luas perkebunan kelapa sawit milik masyarakat/perorangan. Dalam hukum pidana, orang yang ikut serta dalam melakukan suatu tindak pidana disebut deelneming.

Partisipasi (deelneming) adalah tindak pidana yang dilakukan oleh lebih dari satu orang, yang mana terdapat keterkaitan yang sangat erat antara orang yang satu dengan orang yang lain dalam hal sikap mental dan/atau tindakan yang mengarah pada terjadinya kejahatan tersebut. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, dimana disebutkan dalam Pasal 55 huruf d bahwa setiap orang dilarang melakukan pemanenan dan/atau pengumpulan hasil tanaman secara tidak sah, dengan tindak pidana Pasal 107 huruf d dengan ancaman pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun atau denda maksimal Rp. Rp Empat Miliar) Sedangkan pelaku tindak pidana pemanenan hasil perkebunan secara ilegal diatur dalam UU No. Manfaat teoritis ini kami harapkan dapat memberikan sumbangsih atau sumbangan bagi perkembangan ilmu pengetahuan hukum khususnya hukum pidana dan lebih khusus lagi kejahatan perkebunan.

Suatu bentuk penentuan apakah tersangka atau terdakwa bertanggung jawab atas suatu tindak pidana yang dilakukan. Artinya, pelaku tindak pidana hanya akan dihukum apabila memang bersalah melakukan tindak pidana tersebut.

Kesalahan

Perbuatan yang diperlukan untuk memenuhi unsur pidana obyektif adalah harus ada unsur ilegalitas (wedderectelijkheids, perbuatan melawan hukum, onrechtma-tigedaad) dalam pelaksanaan perbuatan tersebut. Perbuatan melawan hukum adalah perbuatan yang dilarang atau diperintahkan untuk tidak dilakukan oleh peraturan pidana. Yang dimaksud dengan perbuatan melawan hukum formil adalah unsur-unsur yang bersifat konstitutif, yang terdapat pada setiap rumusan tindak pidana dalam peraturan pidana yang tertulis, meskipun sebenarnya tidak tertulis dengan tugas tidak sahnya.

Bertentangan dengan hukum formal lebih menekankan pada kepastian hukum (rechtszekerheids) yang timbul dari asas legalitas (asas legalitas, legalitas benginsel). Yang dimaksud dengan perbuatan salah materiil adalah unsur yang berkaitan dengan asas bersalah (menentukan bersalahnya pelaku tindak pidana), atau nilai keadilan hukum. Yang dimaksud dengan Justifying Basis adalah landasan yang menghilangkan sifat salah dari perbuatan yang dilakukan oleh pelaku tindak pidana.

Alasan Pemaaf

Suatu perbuatan dikualifikasikan sebagai bagian dari Unsur Pelanggaran Objektif (actus reus) sebagai bagian dari unsur delik objektif yang dilakukan sebagai tindak pidana, apabila perbuatan itu tidak memuat Dasar Pembenaran. Artinya, apabila perbuatan itu mengandung suatu pembenaran, berarti salah satu unsur obyektif kejahatan itu tidak terpenuhi, yang berarti pelaku (pelaku) kejahatan itu tidak dapat dihukum. Alasan pengampunan adalah alasan untuk menghilangkan suatu tindak pidana, yaitu alasan yang menyebabkan seseorang tidak dinyatakan bersalah/dijatuhi hukuman.

Pengertian Pemidanaan

Dalam arti luas/materiil, sistem peradilan pidana merupakan suatu rangkaian proses perbuatan hukum pejabat yang berwenang, mulai dari proses penyidikan dan penuntutan sampai dengan putusan pidana yang diberikan oleh pengadilan dan dilaksanakan oleh pejabat eksekutif. Menurut L.H.C Hulsman, sistem pidana terdiri dari “peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan sanksi dan hukuman pidana” (the legal rule for pidana sanksi dan hukuman).17. Pengertian 'hukuman' dapat diartikan sebagai 'penjatuhan atau penjatuhan hukuman', sehingga pengertian 'sistem hukuman' dapat dilihat dari dua sudut: 1.

Keseluruhan sistem (peraturan perundang-undangan) yang mengatur bagaimana hukum pidana ditegakkan atau dioperasionalkan secara konkrit sehingga seseorang dikenai sanksi pidana (hukum). 17 L.H.C.Hulsman dalam Barda Nawawi Arief, Antologi Kebijakan Hukum Pidana, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hal.

Tindak Pidana Memanen Hasil Perkebunan Tanpa Izin dan Unsur- Unsurnya

Pada prinsipnya, “petik” dan “panen” yang tidak sah dikategorikan sebagai tindak pidana pencurian, yang secara khusus diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Perkebunan. Terdakwa Dermawan Tarigan merupakan pelaku yang melakukan tindak pidana dimana Terdakwa Dernawan Tarigan melakukan tindak pidana dengan mengambil 14 tandan buah segar batang kelapa sawit (TBS) dari PT. Lonsum tanpa izin PT dengan barang bukti penggunaan sepeda motor Vario dan keranjang memanjang untuk memudahkan terdakwa Dermawan Tarigan mengangkut batang sawit PT 14 dengan cara tersebut.

Kualitas pelakunya, misalnya pegawai negeri yang melakukan tindak pidana berdasarkan Pasal 415 KUHP. Dengan demikian, unsur subjektif dan objektif sebagaimana diatur dalam UU No. 39 Tahun 2014 tentang Perkebunan, yang mengatur peraturan terkait perkebunan.

Tujuan Pemidanaan

Rumusan tujuan pemidanaan dimaksudkan sebagai “fungsi pengendalian pengendalian” dan sekaligus memberikan landasan filosofis, rasionalitas, dan motivasi pemidanaan yang jelas dan terarah.24. Dengan merumuskan tujuan pemidanaan, maka diketahui fungsi pendukung hukum pidana secara umum yang harus dicapai sebagai tujuan akhir berupa terwujudnya kesejahteraan dan perlindungan masyarakat (pertahanan sosial dan kesejahteraan sosial). Sehubungan dengan tiga alasan mengapa hukum pidana masih diperlukan, sebagaimana dikemukakan oleh Roeslan Saleh, yaitu: “Dampak kejahatan atau hukuman tidak hanya ditujukan kepada pelaku pidana, tetapi juga menimpa orang-orang yang tidak jahat, yaitu anggota masyarakat. yang mentaati norma-norma masyarakat”26.

Jenis-jenis kejahatan dalam pengambilan hasil perkebunan tanpa izin. Jenis-jenis kejahatan dalam perkebunan adalah sebagai berikut:

Jenis-Jenis Tindak Pidana Memanen Hasil Perkebunan Tanpa Izin Jenis-jenis dalam tindak pidana perkebunan yaitu sebagai berikut

Dikaitkan dengan jenis tindak pidana pencurian yang terkait dengan istilah pemanenan dan pemanenan liar dalam UU Perkebunan, antara lain pengambilan, pengambilan merupakan suatu barang dagangan, karena status barang tersebut sebagian atau seluruhnya dimiliki oleh orang lain dan tujuan dari perbuatan tersebut. delik adalah dengan tujuan untuk memiliki sesuatu yang melawan hukum (melawan hak). Pada hakekatnya, “panen” dan “panen” ilegal dikategorikan sebagai tindak pidana pencurian, yang selanjutnya diatur secara khusus dalam UU Perkebunan. Setiap Orang yang melepaskan sumber daya genetik tanaman perkebunan yang terancam punah dan/atau dapat merugikan kepentingan nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam

27 Saiful Asmuni Harahap, Penerapan hukum perkebunan pada pelaku pencurian kelapa sawit di areal perkebunan, jilid 1 terbitan 2 tahun 2020, hal Salah satu asas negara hukum adalah wetmatigheid van bestuur atau pemerintahan berdasarkan peraturan perundang-undangan. Oleh karena itu, setiap tindakan hukum pemerintah, baik dalam pelaksanaan fungsi pengaturan maupun fungsi pelayanan, harus didasarkan pada kewenangan yang diberikan oleh peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Pejabat yang menerbitkan izin usaha perkebunan pada tanah hak ulayat masyarakat hukum adat sebagaimana dimaksud dalam pasal 17 ayat lima miliar rupiah). Berdasarkan Pasal 1 angka 15 yang menyatakan “Setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi, baik yang berbentuk badan hukum maupun tidak”. Demikian tampak dari pasal 113 ayat

Tinjauan Umum Mengenai Penyertaan 1. Pengertian Penyertaan

Bentuk-bentuk Penyertaan

Mereka yang, dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, ancaman atau penipuan, atau dengan menawarkan peluang, sumber daya atau informasi, dengan sengaja mendorong orang lain untuk mengambil tindakan. Dalam aksi penyertaan tersebut, terdakwa Dermawan Tarigan melakukan tindak pidana tersebut dengan dibantu oleh rekannya Duane Tampubolon (berkas tersendiri), karena dalam kronologi putusan telah ditentukan bahwa terdakwa Duane Tampubolon membantu terdakwa Dermawan Tarigan, seperti halnya Dermawan yang mengangkat kasus tersebut. buah-buahan yang tertinggi dan Duane Tampubolon yang mengangkut atau membawa hasil jarahannya dengan kereta. Dengan cara ini, terdakwa Duane Tampubolon membantu atau mendampingi terdakwa Dermawan Tarigan dalam melakukan kejahatan atau menjadi pembantu (Accomplice) pada saat kejahatan itu dilakukan dan dibantu sebelum kejahatan itu dilakukan.

Tinjauan Umum Mengenai Dasar Pertimbangan Hakim 1. Pengertian Dasar Pertimbangan Hakim

  • Pertimbangan Yuridis
  • Jenis Penelitian
  • Metode Pendekatan Masalah
  • Sumber Bahan Hukum
  • Metode Penelitian
  • Analisis Badan Hukum

Disebut mulia dan sentral karena hakim dalam memutus perkara harus menyebutkan irahirah “Demi keadilan berdasarkan Tuhan Yang Maha Esa” yang berarti apapun keputusan hakim tanpa memperhatikan apakah ia sadar akan akibat dari keputusan itu dan bagaimanapun caranya. wacana yang tampak dari putusan tersebut, hakim ketika membacakan putusan menyatakan dengan jelas, tegas dan tegas bahwa ia memutuskan untuk mewujudkan keadilan atas dasar keimanan kepada Tuhan Yang Maha Esa.33. Pembahasan subjudul ini dimaksudkan untuk mengetahui apa saja yang menjadi pertimbangan hakim dalam mengambil keputusan, khususnya keputusan yang mengandung hukuman. Pertimbangan hukum adalah pertimbangan hakim berdasarkan fakta-fakta hukum yang terungkap dalam persidangan dan ditetapkan oleh undang-undang sebagai hal-hal yang harus dimasukkan.

32 Binsar Gultom, Pandangan Kritis Hakim Terhadap Penegakan Hukum di Indonesia, Medan: Pustaka Bangsa Pres, 2008, hal. 34 Nurhafifah dan Rahmiati, Pertimbangan hakim dalam menjatuhkan hukuman mengenai hal yang memberatkan dan meringankan dalam putusan, Jurnal Ilmu Hukum Nr. Alat bukti tersebut di atas tidak termasuk alat bukti karena undang-undang mengatur lima jenis alat bukti, yaitu keterangan saksi, keterangan ahli, surat, petunjuk, dan keterangan terdakwa.

Maksud dari irah-irah suatu putusan pengadilan adalah bahwa dalam mengambil suatu putusan, hakim harus memperhatikan hukum yang berlaku, doktrin yang berlaku, hukum perkara, kronologis perkara dan keyakinannya, karena putusan yang diucapkan itu dapat dipertanggungjawabkan akan menghasilkan hasil. Tuhan Mahakuasa. . Hakim adalah pejabat kehakiman negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk memutuskan suatu perkara yang diajukan kepadanya. Kekuasaan mengadili sesuai dengan ketentuan Pasal 1 ayat (9) KUHAP, yaitu: “Persidangan adalah serangkaian tindakan hakim untuk menerima, menyelidiki, dan memutus perkara pidana berdasarkan asas kebebasan, keadilan dan ketidakberpihakan di hadapan pengadilan, sesuai dengan tata cara yang ditentukan oleh undang-undang. Ini".

Jaminan kebebasan hakim tersebut diperkuat dengan pemberian sanksi pidana bagi orang yang melanggar ketentuan tersebut, sebagaimana diatur dalam Pasal 3 ayat (3) Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman, bahwa barangsiapa dengan sengaja melanggar larangan tersebut diancam dengan pidana. Pada dasarnya tujuan kebebasan hakim dalam mengadili dan memutus perkara adalah agar pengadilan dapat melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya agar dapat mengambil keputusan berdasarkan kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan perundang-undangan yang dilakukan dengan cara menganalisis peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan permasalahan hukum.

Undang-Undang Perkebunan menyatakan bahwa perkebunan adalah segala kegiatan yang mengelola sumber daya alam, sumber daya manusia, sarana produksi, alat dan mesin, budidaya, pemanenan, pengolahan dan pemasaran yang berkaitan dengan tanaman perkebunan.Usaha perkebunan adalah suatu usaha yang menghasilkan barang/atau jasa perkebunan. Bahan hukum primer adalah bahan hukum yang terdiri atas peraturan perundang-undangan dan keputusan hakim. Jenis metode yang digunakan dalam penulisan skripsi ini adalah metode penelitian kepustakaan hukum, yaitu cara atau metode yang digunakan dalam penelitian hukum yang dilakukan dengan cara meneliti bahan-bahan pustaka yang ada.

Referensi

Dokumen terkait

tersebut dihubungkan dengan tujuan dari pemidanaan bukanlah untuk memberikan nestapa bagi pelaku tindak pidana melainkan bersifat preventif, edukatif dan korektif, maka hukuman yang

2.1.2 Pasal-Pasal Berlaku Adapun pasal-pasal yang menjadi acuan pada penelitian kali ini yaitu tentang pencurian, terhimpun dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana KUHP, Bab XXII –

Berkaitan dengan hal tersebut diatas, penulis menyoroti salah satu kasus asal tindak pidana yang dilakukan Tjoe Mei Lan yang telah dianggap melanggar pasal 114 Undang-Undang no 35 tahun

Dengan demikian, tindak pidana pencemaran nama baik yang terdapat dalam ketentuan Pasal 27 ayat 3 juncto Pasal 45 ayat 1 Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2008 harus dikaitkan dengan