PENDAHULUAN
Latar Belakang
Ketersediaan sumber daya manusia rumah sakit disesuaikan dengan kebutuhan rumah sakit berdasarkan jenis rumah sakit dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat. Standar tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Kesehatan no. 129 Tahun 2008 tentang Standar Minimal Pelayanan Rumah Sakit. Sistem BPJS dan sistem entry di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
Rumah Sakit X menawarkan dua jenis layanan, yakni layanan pasien umum dan pasien JKN (Jaminan Kesehatan Nasional). Peningkatan volume pelayanan resep terlihat dari rangkuman data jumlah pelayanan resep di Bagian Farmasi rumah sakit.
Meningkatnya jumlah pelayanan resep di Fasilitas Farmasi Rumah Sakit X berdampak pada beban kerja tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker). Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan sebelumnya, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang analisis beban kerja tenaga teknis kefarmasian dengan menggunakan metode sampling kerja pada Fasilitas Farmasi Rumah Sakit X pada tahun 2019.
Rumusan Masalah
Pada periode 2017, jumlah resep yang terisi sebanyak 28.160 resep, tahun 2018 sebanyak 34.850 resep, dan pada bulan Januari hingga Februari 2019, jumlah resep yang terisi sebanyak 6.368 resep. Bagaimana menganalisis beban kerja tenaga teknis farmasi pada instalasi Farmasi Rumah Sakit X ditinjau dari aktivitas dan penundaan pengambilan sampel. Bagaimana menganalisis beban kerja tenaga teknis kefarmasian di instalasi Farmasi Rumah Sakit X ditinjau dari performance sampling.
Cara menganalisis beban kerja tenaga teknis farmasi dengan metode sampling kerja di Instalasi Farmasi Rumah Sakit x tahun 2019.
Tujuan Penelitian
- Tujuan Umum
- Tujuan Khusus
Manfaat Penelitian
- Bagi Penulis
- Bagi Universitas Binawan
- Bagi Rumah Sakit
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi Rumah Sakit
Ruang Lingkup Penelitian
TINJAUAN PUSTAKA
- Beban Kerja
- Definisi Beban Kerja
- Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Beban Kerja
- Dampak Beban Kerja
- Analisis Beban Kerja
- Work Sampling
- Time and Motion Study
- Daily Log
- Penggolongan Beban Kerja
- Pembagaian Kerja
- Jenis Beban Kerja
- Beban Berlebih Kuantitatif
- Beban Berlebih Kualitatif
- Beban Kerja
- Beban Kerja Subjektif
- Beban Kerja Objektif
- Tenaga Teknis Kefarmasian
- Job Description Tenaga Teknis Kefarmasian
- Job description
- Job Description Tenaga Teknis Kefarmasian
- Kerangka Teori
Beban kerja adalah jumlah unit kerja yang ditugaskan pada suatu sumber daya dalam jangka waktu tertentu. Menurut Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 81/MENKES/I/2004, beban kerja adalah jumlah jenis pekerjaan yang harus diselesaikan oleh tenaga kesehatan. Beban kerja dapat dilihat dari aktivitas langsung, aktivitas tidak langsung dan aktivitas lainnya seperti aktivitas pribadi dan aktivitas tidak produktif.
Metode Ilyas menggunakan pendekatan permintaan, artinya metode ini menghitung beban kerja yang perlu dilakukan berdasarkan permintaan untuk memproduksi unit suatu produk atau jasa dalam waktu yang dibutuhkan. Dengan demikian, bebannya juga bergantung pada volume transaksi bisnis yang harus dilakukan oleh tenaga kerja individu atau unit organisasi. Beban kerja kualitatif merupakan beban kerja individu akibat tuntutan kerja yang melebihi batas kemampuan kognitif dan teknis individu tersebut.
Sampai batas tertentu, beban kerja ini menyebabkan pekerjaan menjadi tidak produktif dan merugikan individu pekerja. Secara obyektif beban kerja dilihat dari total konsumsi waktu atau jumlah kegiatan yang dilakukan. Beban kerja obyektif merupakan pengukuran beban kerja di lapangan yang dinyatakan dalam bentuk proporsi konsumsi waktu kerja yang dibedakan dengan beban kerja langsung.
METODE PENELITAN
- Kerangka Konsep
- Jenis dan Rancangan Penelitian
- Objek Penelitian
- Definisi Operasional
- Sumber Data Penelitian
- Data Primer
- Data Sekunder
- Alat Penelitian / Instrumen Penelitian
- Pengumpulan Data
- Pengelolahan Data dan Analisis Data
- Pengelolahan Data
- Analisis Data
Analisis data dilakukan dengan mengambil gambaran besar beban kerja tenaga teknis kefarmasian pada Fasilitas Farmasi Rumah Sakit. Kegiatan yang dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) pada Fasilitas Farmasi Rumah Sakit X dibagi menjadi empat kategori kegiatan yaitu langsung kegiatan produktif, kegiatan produktif tidak langsung, kegiatan non produktif dan kegiatan pribadi.
Hasil observasi total waktu terhadap jenis kegiatan tenaga teknis farmasi di instalasi farmasi rumah sakit X selama empat belas hari. Hal ini menyisakan banyak waktu luang yang dapat mendorong tenaga teknis kefarmasian (asisten apotek) untuk melakukan pekerjaan non-produktif di Instalasi Farmasi. Total waktu per jenis kegiatan tenaga teknis farmasi di instalasi farmasi rumah sakit X selama empat belas hari.
Dalam pengamatan ini seluruh kegiatan yang biasa dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) di Fasilitas Farmasi Rumah Sakit X. Untuk tenaga teknis kefarmasian di Fasilitas Farmasi Rumah Sakit
Dengan demikian ditetapkan waktu aktivitas produktif tenaga teknis farmasi pada instalasi farmasi RS X adalah 18328 menit dengan persentase sebesar 71,54%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) di Instalasi Farmasi Rumah Sakit X termasuk dalam kelompok beban kerja (35%-75%). Sementara itu, hasil wawancara diperoleh oleh seorang staf teknis senior farmasi di Pabrik Farmasi Rumah Sakit
Berdasarkan hasil penelitian terkait analisis beban kerja tenaga teknis kefarmasian di Instalasi Farmasi Rumah Sakit X, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut. Nilai uji kinerja atau tingkat kinerja tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) pada instalasi Farmasi Rumah Sakit X sebesar 78,67%. Berdasarkan aktivitas ketenagakerjaan tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) di Instalasi Farmasi Rumah Sakit
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
- Gambaran Lokasi Penelitian
- Hasil Pengamatan
- Pengamatan
- Perhitungan
- Activity and delay sampling
- Performance Sampling
- Analisis Beban Kerja Tenaga Teknis Kefarmasian
- Hasil Wawancara
Terdapat Instalasi Farmasi yang terdiri dari Kepala Instalasi Farmasi dan dibantu oleh apoteker, tenaga teknis kefarmasian dan administrasi. Sedangkan kegiatan produktif tidak langsung adalah kegiatan yang tidak bersentuhan langsung dengan pasien, kegiatan non produktif adalah segala kegiatan yang dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) yang bukan merupakan tugas dan tanggung jawabnya, serta tidak ada. Proses observasi ini berlangsung selama empat belas hari mulai tanggal 06 -19 Mei 2019 dan setiap kegiatan yang dilakukan oleh tenaga teknis farmasi di Instalasi Farmasi akan dicatat berdasarkan jenis kegiatannya.
Selama empat belas hari pengamatan, jumlah waktu setiap jenis kegiatan tenaga teknis kefarmasian (asisten apotek) setiap harinya tidak sama. Persentase yang paling sedikit digunakan di kalangan tenaga teknis kefarmasian saat ini menyangkut aktivitas pribadi yaitu persentase 9,07%. Sedangkan waktu kegiatan non produktif tenaga teknis kefarmasian paling sedikit terjadi pada hari Selasa dan Kamis, karena pada dua hari tersebut jumlah pengunjung klinik spesialis saraf dan dokter spesialis penyakit dalam relatif lebih tinggi dibandingkan dengan klinik lainnya.
Kegiatan manufaktur adalah setiap kegiatan atau pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) yang merupakan tugas dan tanggung jawabnya. Kegiatan langsung adalah kegiatan yang dilakukan secara langsung dengan pasien/konsumen, berikut ini tercantum seluruh kegiatan yang biasa dilakukan oleh tenaga teknis farmasi (6). Total waktu yang digunakan tenaga teknis farmasi dalam melakukan kegiatan produksi langsung selama empat belas hari berturut-turut adalah 13932 menit dengan persentase 54,38%.
Kegiatan produktif langsung tenaga teknis farmasi adalah kegiatan penyiapan resep rawat jalan yang memakan waktu 4134 menit dengan share 29,67%, sedangkan waktu yang paling sedikit dihabiskan adalah kegiatan pemberian PRB kepada pasien (pasien rujukan) dengan waktu 80 menit. menit dengan persentase 0,57%. Dimana kegiatan ini paling sering dilakukan oleh tenaga teknis farmasi yaitu dalam arti merapikan/mendistribusikan obat dan memeriksa mesin kasir barang dan obat. Kegiatan non produksi adalah seluruh kegiatan yang dilakukan oleh tenaga kefarmasian pada bagian pelayanan Pabrik Farmasi di rumah sakit.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa nilai sampel kinerja atau tingkat kinerja tenaga teknis kefarmasian (asisten apoteker) di Fasilitas Farmasi Rumah Sakit X selama empat tahun adalah 78,67%. Banyaknya keluhan mengenai kelebihan tenaga teknis kefarmasian di Fasilitas Farmasi Rumah Sakit kemungkinan disebabkan oleh peningkatan jumlah pelayanan resep yang cukup signifikan, baik pelayanan resep rawat jalan maupun pelayanan resep rumah sakit. Berdasarkan hasil wawancara dengan Kepala Instalasi Farmasi Rumah Sakit mengenai beban kerja tenaga teknis kefarmasian menyatakan bahwa beban kerja saat ini masih.
Pembahasan
- Analisis beban kerja tenaga teknis kefarmasian di
Mereka menerima beberapa pengaduan dari tenaga teknis kefarmasian di Instalasi Farmasi terkait masalah kekurangan tenaga dan menerima surat.
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Beban kerja di Instalasi Farmasi termasuk dalam kategori beban kerja rata-rata dan jika dilihat dari rata-rata waktu kegiatan non produktif yang dilakukan oleh tenaga teknis kefarmasian di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Tinggi pada jam dan hari tertentu khususnya pada rawat jalan. dan kasus rawat inap. layanan resep sedang sibuk.
Saran
Pedoman Wawancara