1
PROPOSAL TUGAS AKHIR – QQXXXXXX
ANALISIS DAMPAK ESG DISCLOSURE TERHADAP LOYALITAS MEREK DAN NILAI PERUSAHAAN DI INDONESIA (Studi Empiris Perusahaan Non- Keuangan di Bursa Efek Indonesia Tahun 2022- 2024)
M Ariiq Alvino S NRP 5031231018
Dosen Pembimbing
Nama Pembimbing dan Gelar NIP XXXXXXXXXXXXX
Program Studi Manajemen Bisnis
Departemen Manajemen Bisnis
Fakultas Desain Kreatif dan Bisnis Digital Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya
2025
i
LEMBAR PENGESAHAN
ANALISIS DAMPAK ESG DISCLOSURE TERHADAP LOYALITAS MEREK DAN NILAI PERUSAHAAN DI INDONESIA (STUDI EMPIRIS PERUSAHAAN NON-
KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2022-2024)
PROPOSAL TUGAS AKHIR Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat
memperoleh gelar <Nama Gelar> pada Program Studi S-1 <Nama Program Studi>
Departemen <Nama Departemen>
Fakultas <Nama Fakultas>
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Oleh : <NAMA MAHASISWA>
NRP. <XXXXXXXX>
Disetujui oleh Tim Penguji Proposal Tugas Akhir :
1. Nama dan gelar pembimbing Pembimbing
2. Nama dan gelar ko-pembimbing/penguji Ko-pembimbing
3. Nama dan gelar penguji Penguji
4. Nama dan gelar penguji Penguji
5. Nama dan gelar penguji Penguji
SURABAYA Bulan, Tahun
ii
ABSTRAK
ANALISIS DAMPAK ESG DISCLOSURE TERHADAP LOYALITAS MEREK DAN NILAI PERUSAHAAN DI INDONESIA (STUDI EMPIRIS PERUSAHAAN NON-
KEUANGAN DI BURSA EFEK INDONESIA TAHUN 2022-2024)
Nama Mahasiswa / NRP : M Ariiq Alvino S / 5031231018 Departemen : Teknik Mesin FTIRS – ITS Dosen Pembimbing : Nama pembimbing dan gelar
Abstrak
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG Disclosure) terhadap tingkat loyalitas merek dan nilai perusahaan yang ditawarkan oleh perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada tahun 2022-2024. Pengungkapan faktor lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) menjadi bentuk transparansi perusahaan yang semakin penting dalam pengelolaan tantangan keberlanjutan. Hal ini dapat berdampak pada perspektif investor dan konsumen.
Untuk tujuan penelitian ini, pengungkapan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) berfungsi sebagai variabel independen, sedangkan variabel dependennya adalah nilai perusahaan (yang ditentukan oleh survei pelanggan) dan loyalitas merek (yang ditentukan oleh Tobin's Q dan indikator keuangan lainnya). Untuk menganalisis laporan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG), pendekatan kuantitatif yang dikenal sebagai analisis regresi linier berganda digunakan.
Dengan bantuan penelitian ini, diharapkan dapat diperoleh bukti nyata mengenai manfaat pengungkapan ESG terhadap loyalitas merek dan nilai perusahaan. Temuan dari penelitian ini juga akan mencakup rekomendasi tentang bagaimana perusahaan dan lembaga pemerintah di Indonesia dapat meningkatkan kebijakan pengungkapan lingkungan, sosial, dan tata kelola (LST) mereka.
Kata kunci: ESG Disclosure, Loyalitas Merk, Nilai Perusahaan
iii
ABSTRACT
ANALYSIS THE IMPACT OF ESG DISCLOSURE ON BRAND LOYALTY AND FIRM VALUE IN INDONESIA (EMPIRICAL STUDY OF NON-FINANCIAL COMPANIES
ON THE INDONESIAN STOCK EXCHANGE IN 2022-2024)
Student Name / NRP : M Ariiq Alvino S / 5031231018 Department : Manajemen Bisnis FDKBD - ITS Advisor : Nama pembimbing dan gelar
Abstract
The purpose of this study is to investigate the influence that Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure has on the level of brand loyalty and firm value offered by non- financial companies that are listed on the Indonesia Stock Exchange (IDX) between the years 2022 and 2024. Disclosing environmental, social, and governance (ESG) factors is becoming an increasingly essential kind of corporate transparency in the management of sustainability challenges. This can have an impact on the perspectives of investors and consumers. For the purpose of this investigation, environmental, social, and governance (ESG) disclosure serves as the independent variable, while the dependent variables are firm value (as determined by customer surveys) and brand loyalty (as determined by Tobin's Q and other financial indicators).
In order to analyse environmental, social, and governance (ESG) reports, a quantitative approach known as multiple linear regression analysis is utilised. With the help of this study, it is anticipated that actual proof will be provided about the favourable benefits that ESG disclosure has on brand loyalty and company value. The findings of this study will also include recommendations for how businesses and government agencies in Indonesia can enhance their environmental, social, and governance (ESG) disclosure policies.
Keywords: ESG Disclosure, Brand Loyalty, Company Value
iv
DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN i
ABSTRAK ii
ABSTRACT iii
DAFTAR ISI iv
DAFTAR GAMBAR v
DAFTAR TABEL vi
DAFTAR SIMBOL vii
BAB 1 PENDAHULUAN Error! Bookmark not defined.
1.1 Latar Belakang 8
1.2 Rumusan Masalah 8
1.3 Batasan Masalah 11
1.4 Tujuan 11
1.5 Manfaat 11
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 13
2.1 Hasil Penelitian Terdahulu 13
2.2 Dasar Teori 16
BAB 3 METODOLOGI 20
3.1 Metode yang digunakan 20
3.2 Bahan dan peralatan yang digunakan 20
3.3 Urutan pelaksanaan penelitian 20
DAFTAR PUSTAKA 21
LAMPIRAN 23
v
DAFTAR GAMBAR
vi
DAFTAR TABEL
vii
DAFTAR SIMBOL
8
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Perusahaan awalnya merupakan entitas bisnis yang bertujuan untuk menghasilkan keuntungan yang paling besar dari operasinya. Perusahaan harus memperhatikan tanggung jawab sosial, lingkungan, dan tata kelola selain menghasilkan keuntungan finansial. Menurut Scholtens (2008), hubungan yang dibangun oleh sebuah perusahaan dengan masyarakat dan lingkungannya sangat mempengaruhi seberapa lama ia bertahan. Seiring dengan peningkatan kesadaran pelanggan dan stakeholder terhadap masalah tata kelola perusahaan, lingkungan, dan sosial (ESG), praktik bisnis yang berkelanjutan menjadi lebih penting (Freeman, 1984).
ESG secara umum berarti sekumpulan pertimbangan tata kelola dalam pelaksanaan operasional perusahaan oleh stakeholder dan pelaksananya serta pertimbangan lingkungan dan sosial yang dapat memengaruhi kemampuan perusahaan untuk menerapkan strategi bisnisnya dan menciptakan value dalam jangka panjang. Kinerja non-keuangan suatu perusahaan ditunjukkan oleh komponen ESG, yang mencakup pertimbangan tata kelola, lingkungan, dan sosial (Al-Amin et al., 2022). Pada aspek lingkungan mencakup konservasi pada alam, pengaruh terhadap perubahan iklim, dan dampak operasi bisnis terhadap lingkungan (Asbullah et al., 2023). Di sisi lain aspek sosial mencakup masalah seperti kesetaraan antar sesama pekerja, keragaman di tempat kerja, hak asasi manusia, dan kontribusi perusahaan pada masyarakat dalam aspek sosial. Aspek tata kelola pada perusahaan mencakup struktur, independensi dewan dalam kepemilikan, hak yang dimiliki pemegang saham minoritas, perlakuan adil terhadap seluruh pemegang saham perusahaan, dan transparansi pada informasi perusahaan (Atan et al., 2018). Menurut Melinda & Wardhani (2020), Environmental, Social, and Governance (ESG) adalah salah satu komponen yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan. Kinerja ESG yang baik akan berdampak pada peningkatan nilai perusahaan. Dalam kaitannya dengan ESG, terdapat pendekatan baru untuk mengukur transparansi perusahaan yang disebut ESG disclosure (Prastiwi et al., 2018).
Dalam pengungkapan ini, perusahaan mengungkapkan kinerjanya dengan menerapkan prinsip-prinsip ESG tentang lingkungan, sosial, dan pemerintahan. Dalam pelaksanaannya, perusahaan diharapkan memenuhi standar pemerintahan perusahaan yang baik dengan menerapkan prinsip GCG dalam operasionalnya, yaitu orang-orang (Prastiwi et al., 2018).
Perusahaan harus menggunakan ESG Disclosure atau Pengungkapan untuk mengkomunikasikan penerapan ESG dan bagaimana perusahaan mengelola risiko terkait ESG kepada para pemangku kepentingannya, termasuk investor dan konsumen. Survei yang dilakukan Ernst & Young (EY) pada tahun 2022 menunjukkan bahwa sembilan puluh sembilan persen investor menganggap pengungkapan ESG perusahaan sebagai bagian dari pertimbangan mereka saat membuat keputusan investasi. Sebaliknya, terdapat lebih dari 73% investor berpendapat bahwa sebagian besar perusahaan yang ada saat ini belum mampu meningkatkan kualitas transparansi laporan keuangan dan ESG secara maksimal. Ini memberikan fakta bahwa para investor juga memperhatikan kualitas pengungkapan ESG yang dilakukan oleh para perusahaan. Di seluruh dunia, penjelasan ESG semakin diminta oleh regulator dan investor sebagai bentuk transparansi dan akuntabilitas perusahaan (KPMG, 2020).
Meskipun praktik ESG di Indonesia terus berkembang, semakin banyak perusahaan di Indonesia, terutama yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), mulai mengadopsi dan
9 mengungkapkan kinerja ESG mereka (OJK, 2021). Hasil survei yang dilakukan pada tahun 2020 oleh Globescan dan Global Reporting Initiative (GRI) menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat tertinggi dari 27 negara dalam hal keterbukaan informasi tentang laporan berkelanjutan. Tingkat kepercayaan publik di Indonesia meningkat 2% dari tahun 2016.
Hasilnya menunjukkan bahwa investor menganggap ESG sebagai salah satu ukuran kekuatan perusahaan, yang berarti pengungkapan informasi keberlanjutan semakin penting (Zahroh &
Hersugondo, 2021). Pengungkapan informasi tentang tanggung jawab sosial yang dilakukan oleh sebuah perusahaan diharapkan dapat mendorong investor untuk melakukan hal-hal yang dibutuhkan perusahaan untuk mencapai keuntungan maksimal, yang pada gilirannya akan meningkatkan nilai perusahaan (Putri & Raharja, 2013; Putri, 2021). Ini sesuai dengan teori signalling yang menyatakan bahwa pengungkapan ESG dapat memberikan sinyal positif kepada investor bahwa perusahaan tidak hanya berkonsentrasi pada memaksimalkan kekayaan investor mereka tetapi juga berkontribusi pada kemakmuran masyarakat di lingkungan tempat mereka beroperasi, yang pada akhirnya akan menghasilkan peningkatan nilai perusahaan di mata investor (Putri, 2021).
Sementara sejumlah besar penelitian telah menyelidiki hubungan antara ESG disclosure (ESGD) dan nilai perusahaan, hasilnya tidak konsisten. Hubungan positif antara ESGD dan nilai perusahaan ditunjukkan oleh penelitian yang dilakukan oleh Bashatweh et al (2023), Qureshi et al (2019), Abdi et al (2021), Melinda & Wardhani (2020), Handayati et al (2022), Fuadah et al (2022), dan Yip & Lee (2018). Ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan nilai kinerja dan pengungkapan ESG yang lebih tinggi akan memiliki nilai perusahaan yang lebih tinggi juga. Selain itu, penelitian tambahan menunjukkan korelasi negatif antara ESG dan nilai perusahaan; contohnya adalah studi Fatemi et al. (2018). Ini karena pasar dapat menganggap pengungkapan bertahap terkait ESG sebagai upaya perusahaan untuk membenarkan investasi yang berlebihan pada aktivitas ESG tersebut. Penelitian Ahmad et al. (2021) juga menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara aspek sosial dan nilai perusahaan.
Penyebaran informasi ESG meningkatkan transparansi, meningkatkan kepercayaan stakeholders, dan meningkatkan akses pembiayaan dan investasi (Dhaliwal et al., 2011).
Menurut Cheng et al. (2014), perusahaan yang secara teratur mengungkapkan kinerja ESG cenderung memiliki reputasi yang lebih optimal dan dipercaya oleh investor. Dengan menerapkan GCG yang efektif dan benar, perusahaan akan mendapatkan manfaat yang positif, yang akan menghasilkan stigma yang baik di mata masyarakat maupun investor. Meningkatnya reputasi perusahaan juga dapat meningkatkan kepercayaan pelanggan dan berdampak pada nilai dan loyalitas merek perusahaan di masa depan.
Loyalitas merek adalah ketika pelanggan memutuskan untuk membeli produk tertentu dari merek tertentu tanpa mempertimbangkan merek lain yang serupa (Schiffman & Wisenblit, 2015). Pelanggan saat ini semakin peduli dengan masalah lingkungan dan sosial. Oleh karena itu, bisnis yang menerapkan praktik ESG yang baik memiliki kemampuan untuk menumbuhkan loyalitas pelanggan yang lebih kuat (Luchs et al., 2010). Sebaliknya, ESG juga menguntungkan perusahaan. Pengungkapan laporan keberlanjutan, yang mencakup informasi keuangan dan non keuangan, memungkinkan informasi tentang kinerja perusahaan disampaikan kepada para investor pemegang saham minoritas maupun mayoritas dan membuat perusahaan memiliki tuntutan dalam memenuhi keinginan para pemegang saham. Pengungkapa ESG dengan respons masyarakat yang positif dapat meningkatkan investasi modal yang menguntungkan. Ini juga
10 berarti bahwa bisnis dapat memanfaatkan penambahan modal untuk meningkatkan produksi, penjualan, dan profitabilitas (Safriani & Utomo, 2020).
Sebagai contoh, kurangnya kesadaran tentang pentingnya penjelasan ESG, terutama di kalangan UMKM, merupakan salah satu tantangan yang masih menghadang kemajuan ESG saat ini (OECD, 2020). Loyalitas merek dan nilai perusahaan dapat terpengaruh oleh tingkat ESG disclosure yang rendah di banyak perusahaan Indonesia. Loyalitas merek pelanggan dan nilai perusahaan yang dipengaruhi oleh ESG disclosure belum banyak diteliti, terutama di Indonesia. Saat ini, perusahaan harus dapat melihat dampak dari aktivitas operasional yang berjalan, yang menunjukkan bahwa mereka tidak hanya mementingkan keuntungan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengevaluasi efek disclosure ESG terhadap loyalitas merek dan nilai perusahaan pada lingkup Indonesia. Secara khusus, penelitian kali ini diharapkan dapat menemukan hubungan antara ESG disclosure dan loyalitas merek, memeriksa bagaimana disclosure ESG mempengaruhi nilai perusahaan, dan membuat saran praktis untuk perusahaan.
Secara teoritis, penelitian ini memperkaya literatur sebelumnya tentang loyalitas merek, nilai perusahaan, dan disclosure ESG, terutama dalam konteks Indonesia. Penelitian ini dalam konteks manfaat teoritis dapat memberikan gambaran besar tentang manfaat ESG disclosure bagi bisnis dalam meningkatkan loyalitas merek dan meningkatkan nilai perusahaan (Kotler &
Keller, 2016). Selain itu, diharapkan penelitian ini akan memotivasi bisnis di Indonesia untuk meningkatkan ESG Disclosure dan pelaksanaan ESG yang bertanggung jawab. Penelitian ini mencakup perusahaan pada bidang non-keuangan yang terdata pada Bursa Efek Indonesia (BEI) yang secara rutin menerbitkan laporan keberlanjutan atau ESG dari 2022 hingga 2024.
Loyalitas merek dan nilai perusahaan adalah dua faktor dependen yang dipengaruhi oleh disclosure ESG. Sementara nilai pada perusahaan dapat dihitung melalui penggunaan indikator keuangan seperti Tobin's Q, harga saham, atau ROA, loyalitas pelanggan merek dapat diukur melalui survei pelanggan. Pendekatan kuantitatif menggunakan analisis regresi linier berganda dan pendekatan kualitatif menggunakan analisis konten digunakan untuk menganalisis laporan ESG dan memahami konteks di balik praktik ESG perusahaan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian yang sudah ada, terdapat beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut :
1. Bagaimana tingkat pengungkapan ESG pada studi kasus perusahaan kategori non- keuangan yang tercatat di BEI tahun 2022 sampai dengan 2024?
2. Bagaimana pengaruh pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap loyalitas pelanggan pada studi kasus perusahaan kategori non-keuangan yang tercatat di BEI tahun 2022 sampai dengan 2024?
3. Bagaimana dampak pengungkapan (disclosure) Environmental, Social, Goverment (ESG) terhadap nilai Perusahaan pada studi kasus perusahaan kategori non-keuangan yang tercatat di BEI tahun 2022 sampai dengan 2024?
4. Seberapa penting pengaruh transparansi dalam pengungkapan ESG untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan dan investor.
11 1.3 Batasan Masalah
1.3.1 Objek Penelitian
Penelitian ini secara eksklusif meneliti perusahaan non-keuangan yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) yang secara konsisten mengeluarkan laporan ESG atau keberlanjutan selama periode tahun 2022 sampai dengan tahun 2024.
1.3.2 Variabel Penelitian
a. Variabel independen yaitu ESG disclosure.
b. Variabel dependen yaitu Loyalitas merek dan nilai pada perusahaan.
c. Variabel kontrol adalah kapitalisasi/ukuran perusahaan, profitabilitas, leverage, dan industri.
1.3.3 Rentang Waktu
Penelitian ini hanya menganalisis data dari tahun 2022 hingga 2024 untuk memastikan data yang digunakan relevan dan terkini.
1.3.4 Metode Pengumpulan Data
Data loyalitas merek diperoleh melalui survei pelanggan, sedangkan data mengenai nilai perusahaan dan ESG Disclosure bersumber dari laporan keuangan dan laporan keberlanjutan, dengan menggunakan metodologi kuantitatif melalui analisis regresi linier berganda dan metodologi kualitatif melalui analisis konten.
1.3.5 Keterbatasan Data
Jika data ESG disclosure tidak tersedia untuk semua perusahaan, penelitian ini akan membatasi sampel pada perusahaan yang telah menerbitkan laporan ESG secara lengkap.
1.4 Tujuan
Penelitian ini memiliki berbagai tujuan berdasarkan rumusan masalah penelitian yang ada diantaranya adalah
5. Mengkaji tingkat pengungkapan ESG pada studi kasus perusahaan kategori non- keuangan yang tercatat di BEI tahun 2022 sampai dengan 2024
6. Mengkaji pengaruh pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap loyalitas pelanggan pada studi kasus perusahaan kategori non-keuangan yang tercatat di BEI tahun 2022 sampai dengan 2024
7. Menguji dampak pengungkapan Environmental, Social, and Governance (ESG) terhadap penilaian pada studi kasus perusahaan kategori non-keuangan yang tercatat di BEI tahun 2022 sampai dengan 2024
8. Menawarkan wawasan dan data empiris kepada korporasi mengenai pentingnya keterbukaan dalam ESG Disclosure untuk meningkatkan kepercayaan pelanggan dan investor.
1.5 Manfaat
Dengan terlaksananya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi partisipan langsung maupun tidak langsung, serta bagi individu yang tidak terlibat dalam
12 pengembangannya. Manfaat yang diinginkan dari penelitian ini mencakup manfaat teoritis, praktis, dan akademis.
1.5.1 Manfaat Teoritis
Penulis berharap bahwa penelitian ini dapat memberikan manfaat bagi para pembaca dengan meningkatkan pemahaman mereka terhadap literatur mengenai pengungkapan ESG, loyalitas merek, dan nilai perusahaan, khususnya dalam konteks Indonesia. Penelitian ini menguji teori-teori termasuk Teori Sinyal, Ekuitas Merek Berbasis Pelanggan, dan Teori Pemangku Kepentingan dalam kerangka ESG Disclosure. Penelitian ini mengatasi kesenjangan penelitian dengan mengeksplorasi hubungan antara ESG Disclosure, loyalitas merek, dan nilai perusahaan, sebuah topik yang masih belum dieksplorasi dalam literatur yang ada, sekaligus menyempurnakan penelitian sebelumnya.
1.5.2 Manfaat Praktis
Pada aspek manfaat praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pandangan dan rekomendasi praktis terhadap keuntungan ESG Disclosure dalam meningkatkan loyalitas merek dan meningkatkan nilai bisnis. Menjelaskan bagaimana ESG Disclosure mempengaruhi nilai perusahaan, sehingga membantu investor dalam pengambilan keputusan investasi. Memberikan wawasan kepada regulator, seperti OJK, dalam merumuskan norma dan hukum yang berkaitan dengan ESG Disclosure di Indonesia, dan meningkatkan pengetahuan publik tentang pentingnya praktik ESG dalam mempromosikan operasi perusahaan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab.
1.5.3 Manfaat Akademis
Pada aspek akademis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan acuan bagi para peneliti lain yang tertarik dengan topik yang serupa, terutama dalam konteks Indonesia, dan berfungsi sebagai bahan pembelajaran atau studi kasus dalam mata kuliah yang berkaitan dengan pemasaran, keuangan, atau keberlanjutan bisnis.
13
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hasil Penelitian Terdahulu
Dalam melaksanakan penelitian, kami juga mengobservasi berbagai penelitian terdahulu untuk dijadikan referensi dasar bagi kami sebelum membangun dasar pemikiran pada penelitian.
Berikut penjabaran studi yang telah dilakukan sebelumnya dijabarkan dalam Tabel 2.1 Artikel Tujuan
Penelitian
Metode Variabel Relevansi Dengan Penelitian
Melinda, A., &
Wardhani, R.
(2020) “Pengaruh lingkungan, sosial, tata kelola, dan kontroversi terhadap nilai perusahaan : Bukti dari Asia”
Menganalisi s pengaruh performa ESG terhadap nilai pada perusahaan di lingkup Asia.
Kuantitatif (Data panel, regresi linier) pada perusahaan di Asia (2015–
2019).
Independen:
Skor ESG.
Dependen:
Tobin’s Q.
Kontrol:
Leverage, profitabilitas.
1. Menunjukkan hubungan positif ESG dan nilai perusahaan.
2. Relevan sebagai dasar empiris untuk konteks Asia, termasuk Indonesia.
Handayati, Y., Puspitasari, D.
M., & Susilowati,
I. (2022)
“Pengungkapan ESG dan nilai perusahaan”
Menguji pengaruh ESG disclosure terhadap nilai pada perusahaan yanng tercatatat di BEI.
Kuantitatif (Analisis regresi, sampel 120 perusahaan non-
keuangan di BEI).
Independen:
ESG disclosure (indeks GRI).
Dependen:
ROA, harga saham.
1. ESG disclosure meningkatkan nilai perusahaan.
2. Relevan karena fokus pada perusahaan non-keuangan di BEI.
Luchs, M. G., Naylor, R. W., Irwin, J. R., &
Raghunathan, R.
(2010).
“Tanggung jawab keberlanjutan : Potensi efek negatif dari etika terhadap
preferensi produk”
Meneliti dampak praktik keberlanjuta n (ESG) pada
loyalitas konsumen.
Eksperimen dan survei konsumen di AS.
Independen:
Atribut produk ramah
lingkungan.
Dependen:
Loyalitas merek.
1. Produk dengan ESG tinggi meningkatkan loyalitas.
2. Relevan untuk mengaitkan ESG disclosure dengan loyalitas merek.
Putri, N. K. A.
(2021) “ESG disclosure and investor trust:
Evidence from the Indonesian stock market”
Meneliti peran ESG disclosure dalam membangun kepercayaa n investor di BEI.
Kuantitatif (Survei investor, analisis SEM).
Independen:
Kualitas ESG disclosure.
Dependen:
Kepercayaan investor.
1. Transparansi ESG meningkatkan
kepercayaan.
2. Relevan untuk argumen sinyal positif ke investor.
14 Fatemi, A.,
Glaum, M., &
Kaiser, S. (2018)
“Kinerja ESG dan nilai perusahaan : Peran moderasi dari
pengungkapan”
Menganalisi s moderasi ESG
disclosure pada hubungan ESG-nilai perusahaan.
Data panel (48 negara, 2010–
2016).
Independen:
Kinerja ESG.
Dependen:
Nilai perusahaan.
Moderator:
ESG disclosure.
1. ESG hanya
berdampak positif jika diungkapkan secara transparan.
2. Relevan untuk menekankan pentingnya kualitas pengungkapan.
Tabel 2.1
Penelitian ekstensif tentang pengungkapan ESG telah dilakukan di berbagai negara dan industri.Melinda dan Wardhani (2020) menunjukkan hubungan positif antara kinerja ESG dan nilai perusahaan di Asia, yang menunjukkan bahwa skor ESG yang lebih tinggi berbanding lurus dengan nilai Tobin's Q yang lebih besar juga. Penelitian mereka mendukung gagasan bahwa pengungkapan ESG yang efektif dapat meningkatkan kepercayaan investor.Sebuah studi yang dilakukan oleh Handayati, Puspitasari, dan Susilowati (2022) di Indonesia menganalisis korelasi antara pengungkapan ESG dan nilai pada perusahaan di antara berbagai perusahaan non-keuangan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia.Temuan ini menunjukkan bahwa indeks pengungkapan ESG yang tinggi memiliki efek positif pada aspek Return on Assets (ROA) dan harga saham perusahaan, menekankan pentingnya transparansi informasi di pasar.
Temuan penelitian menunjukkan bahwa indeks pengungkapan ESG yang tinggi memiliki efek positif terhadap aspek finansial Return on Assets (ROA) dan fluktuasi harga saham perusahaan, menyoroti pentingnya transparansi informasi di pasar.Temuan penelitian menunjukkan bahwa indeks pengungkapan ESG yang tinggi memiliki pengaruh positif pada aspek Return on Assets (ROA) dan harga saham perusahaan, menyoroti pentingnya transparansi informasi di pasar.Luchs et al. (2010) menggambarkan bahwa atribut keberlanjutan produk memiliki dampak positif terhadap loyalitas konsumen dalam kerangka loyalitas merek.Luchs et al. (2010) menunjukkan bahwa atribut keberlanjutan produk memiliki efek positif terhadap loyalitas konsumen dalam kerangka loyalitas merek.Penelitian ini menyoroti bahwa konsumen kontemporer memprioritaskan pertimbangan etis dalam keputusan pembelian mereka, dan perusahaan yang fokus pada praktik ESG lebih mungkin untuk meningkatkan loyalitas pelanggan.Studi Putri (2021) tentang pasar saham Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan kualitas pengungkapan ESG berkorelasi dengan meningkatnya kepercayaan investor, sesuai dengan teori sinyal.Studi ini menyajikan bukti empiris yang menunjukkan bahwa transparansi informasi keberlanjutan secara signifikan mempengaruhi pengambilan keputusan investasi.
Studi ini menyajikan bukti empiris yang menunjukkan bahwa transparansi informasi keberlanjutan secara signifikan mempengaruhi pengambilan keputusan investasi. Sebaliknya, Fatemi, Glaum, dan Kaiser (2018) menentukan bahwa kinerja ESG secara positif mempengaruhi nilai perusahaan hanya ketika diungkapkan dengan kualitas tinggi.Pengungkapan parsial atau transparan dapat diartikan oleh pasar sebagai sinyal negatif.
Temuan penelitian menunjukkan ketidakkonsistenan dalam bukti nyata pada hubungan antara pengungkapan ESG dan nilai pada perusahaan atau loyalitas pelanggan.Ini menyoroti perlunya penelitian tambahan, terutama terkait dengan negara-negara berkembang seperti Indonesia.
15 2.2 Research Gap
Banyak penelitian mulai melihat hubungan antara disclosure ESG dan kinerja perusahaan khususnya dalam hal nilai perusahaan seiring dengan peningkatan perhatian dunia terhadap masalah tata kelola, lingkungan, dan perusahaan (ESG). Pengungkapan ESG yang kuat dapat meningkatkan nilai perusahaan, kepercayaan investor, dan reputasinya, menurut studi sebelumnya, seperti Bashatweh et al. (2023), Qureshi et al. (2019), Abdi et al. (2021), dan Melinda & Wardhani (2020). Hasil yang didapatkan ini sejalan dengan signaling theory, atau teori sinyal, yang menyampaikan bahwa perusahaan dengan transparansi tentang aktivitas keberlanjutan dapat memberikan sinyal yang baik bagi pasar.
Namun, temuan penelitian di bidang ini tidak selalu tepat. Sebagian besar penelitian, seperti yang dilakukan Fatemi et al. (2018), justru menemukan bahwa pengungkapan ESG dapat dipersepsikan negatif oleh pasar, khususnya bila dianggap sebagai justifikasi terhadap investasi yang kurang efisien. Bahkan, Ahmad et al. (2021) menemukan bahwa tidak semua aspek ESG berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan, menandakan bahwa konteks industri dan geografis menjadi faktor penting yang harus dipertimbangkan. Hal ini menunjukkan bahwa masih terdapat ambiguitas dan ketidakpastian dalam memahami hubungan antara ESG disclosure dan nilai perusahaan.
Selain itu, dampak disclosure ESG terhadap elemen keuangan seperti nilai perusahaan lebih difokuskan dalam sebagian besar penelitian yang ada, sementara sedikit yang secara eksplisit mengkaji dampaknya terhadap loyalitas merek dari perspektif pelanggan. Padahal, di era konsumen yang semakin sadar lingkungan dan sosial, loyalitas merek menjadi salah satu aset strategis perusahaan yang dapat diperkuat melalui praktik keberlanjutan yang transparan. Luchs et al. (2010) melakukan penelitian yang menunjukkan bahwa merek yang berkomitmen terhadap masalah keberlanjutan membuat konsumen lebih setia. Namun, penelitian ini hanya berfokus pada negara maju dan tidak banyak berubah untuk situasi di Indonesia.
Kesenjangan lain yang teridentifikasi adalah rendahnya tingkat ESG disclosure di Indonesia, meskipun secara global tuntutan terhadap pelaporan keberlanjutan semakin meningkat. Survei Globescan dan GRI (2020) memang menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tingkat kepercayaan publik yang tinggi terhadap laporan keberlanjutan, namun dalam praktiknya, kualitas dan konsistensi laporan ESG antar perusahaan masih sangat bervariasi. Rendahnya
16 adopsi praktik ESG yang menyeluruh di Indonesia juga memperbesar tantangan dalam mengukur dampak nyata dari ESG disclosure terhadap loyalitas merek dan nilai perusahaan.
Selain itu, pendekatan metodologis dalam banyak penelitian sebelumnya masih terfokus pada analisis kuantitatif berbasis data sekunder, tanpa mengombinasikannya dengan pendekatan kualitatif seperti analisis isi laporan ESG untuk memahami konteks dan kedalaman penerapan ESG di perusahaan. Tidak adanya kombinasi metode ini dapat menyebabkan interpretasi yang tidak akurat dari dampak ESG disclosure pada variabel dependen yang diteliti.
Oleh sebab itu, penelitian ini hadir untuk melengkapi kekurangan penelitian sebelumnya dengan (1) mengeksplorasi pengaruh ESG disclosure tidak hanya terhadap nilai perusahaan, tetapi juga terhadap loyalitas merek di konteks Indonesia, (2) mengadopsi pendekatan campuran (mixed methods) dengan analisis kuantitatif dan kualitatif, (3) memprioritaskan perusahaan non-keuangan yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia, dan (4) memberikan kontribusi empiris untuk mendukung adopsi ESG disclosure yang lebih strategis dalam membangun kepercayaan konsumen dan mendorong daya saing perusahaan pada pasar indonesia dan global.
2.3 Dasar Teori 2.3.1 ESG Disclosure
Environmental, Social, and Governance (ESG) disclosure mengacu pada pengungkapan kinerja perusahaan dalam aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola yang ditujukan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas (Scholtens, 2008). Pengungkapan ini menjadi semakin penting karena tuntutan stakeholder terhadap praktik bisnis yang berkelanjutan (Freeman, 1984). Menurut KPMG (2020), perusahaan dengan ESG disclosure yang baik cenderung memiliki reputasi lebih kuat dan akses yang lebih mudah terhadap pembiayaan. Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK, 2021) telah mendorong penerapan ESG melalui Roadmap Keuangan Berkelanjutan, meskipun implementasinya masih berkembang.
Tiga komponen utama terdiri dari pengungkapan ESG: Environmental (Lingkungan). Ini mencakup kebijakan perusahaan yang menangani dampak lingkungan, seperti konservasi sumber daya alam, penggunaan energi terbarukan, emisi karbon, dan pengelolaan limbah (Asbullah et al., 2023). Pengungkapan lingkungan yang baik cenderung lebih disukai oleh pelanggan dan investor (Melinda & Wardhani, 2020). Yang kedua adalah komponen sosial Mencakup praktik perusahaan dalam memperlakukan karyawan, hubungan dengan masyarakat, serta kontribusi sosial (Prastiwi et al., 2018). Isu-isu seperti kesetaraan gender, kesehatan dan keselamatan kerja, serta pemberdayaan komunitas lokal menjadi bagian penting dalam pengungkapan sosial (Ahmad et al., 2021). Komponen ketiga yaitu governance (Tata Kelola Perusahaan) yaitu struktur kepemimpinan perusahaan, independensi dewan direksi, kebijakan anti-korupsi, dan perlindungan hak pemegang saham minoritas (Bashatweh et al., 2023). Tata kelola yang baik cenderung meningkatkan nilai perusahaan dan mengurangi risiko (Fatemi et al., 2018).
Seiring dengan upaya Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Roadmap Keuangan Berkelanjutan, praktik penjelasan ESG di Indonesia semakin berkembang (OJK, 2021). Survei oleh Globescan dan Global Reporting Initiative (GRI) (2020) menunjukkan bahwa Indonesia menempati peringkat tertinggi dalam keterbukaan informasi keberlanjutan, dengan tingkat
17 kepercayaan publik mencapai 81%. Ini menunjukkan bahwa pengungkapan ESG sangat penting bagi konsumen dan investor (Zahroh & Hersugondo, 2021).
2.3.2 Loyalitas Merk
Loyalitas merek adalah kecenderungan pelanggan untuk membeli produk dengan suatu merek sekali lagi dan menolak produk pesaing (Schiffman & Wisenblit, 2015). Loyalitas merek mencerminkan keterikatan emosional dan kepercayaan konsumen terhadap suatu merek, yang dapat dipengaruhi oleh persepsi positif terhadap praktik bisnis perusahaan, termasuk ESG (Luchs et al., 2010). Penelitian terdahulu menunjukkan bahwa perusahaan yang mengungkapkan praktik ESG secara transparan cenderung membangun kepercayaan yang lebih tinggi di mata konsumen (Kotler & Keller, 2016). Beberapa mekanisme pengaruh ESG terhadap loyalitas merek antara lain
1) Citra Perusahaan yang Positif, Konsumen semakin peduli terhadap isu keberlanjutan, sehingga perusahaan dengan pengungkapan ESG yang baik lebih mudah mendapatkan dukungan (Handayati et al., 2022)
2) Diferensiasi Merek, ESG dapat menjadi pembeda kompetitif di pasar, terutama di industri dengan tingkat persaingan tinggi (Fuadah et al., 2022).
3) Kepercayaan Konsumen, Transparansi dalam pengungkapan ESG meningkatkan persepsi kejujuran dan tanggung jawab perusahaan (Putri & Raharja, 2013).
2.3.3 Nilai Perusahaan
Nilai pada perusahaan biasanya dihubungkan dengan harga saham perusahaannya, yang membuat investor mempertimbangkan harga saham saat memilih investasi. Oleh karena itu, menurut Mercyana et al. (2022), peningkatan nilai perusahaan, terutama perusahaan yang sudah go public, sangat penting karena kemakmuran pemegang saham sebagai investor ditunjukkan oleh nilai saham yang lebih tinggi. Tobin's Q digunakan untuk memproyeksikan nilai perusahaan dalam penelitian ini untuk menentukan apakah nilai pasar perusahaan sama dengan biaya penggantinya, atau biaya penggantian. Dapat disimpulkan bahwa Tobin's Q menunjukkan hubungan antara nilai pasar dan nilai intrinsik perusahaan (CFI, 2023).
Nilai perusahaan didefinisikan sebagai persepsi pasar terhadap kinerja dan prospek perusahaan di masa depan. Persepsi pasar ini dapat diukur melalui indikator seperti Return on Assets (ROA), harga saham, atau Tobin's Q (Melinda & Wardhani, 2020).Terdapat dua perspektif utama dalam literatur mengenai dampak ESG disclosure terhadap nilai pada perusahaan yaitu
1) Pengungkapan ESG dapat meningkatkan nilai perusahaan melalui peningkatan reputasi, akses ke pendanaan yang lebih murah, dan daya tarik investor (Cheng et al., 2014). Studi oleh Bashatweh et al. (2023) dan Qureshi et al. (2019) mengemukakan bahwa sebagian besar perusahaan yang melakukan pengungkapan ESG yang lebih baik memiliki nilai pasar yang lebih tinggi.
2) Menurut beberapa penelitian, seperti Fatemi et al. (2018), investasi ESG dapat dianggap sebagai biaya tambahan yang mengurangi profitabilitas jangka pendek. Selain itu, Ahmad et al. (2021) menemukan bahwa, tergantung pada konteks industri, tidak semua aspek ESG memiliki dampak yang signifikan terhadap nilai perusahaan.
2.3.4 Signaling Theory
18 Teori signaling pertama kali dibuat oleh Spence (1973) untuk pasar tenaga kerja, tetapi kemudian digunakan dalam banyak bidang, seperti keuangan dan akuntansi. Teori ini menjelaskan bagaimana suatu pihak (dalam hal ini perusahaan) memberikan sinyal kepada pihak lain (investor, konsumen, atau pasar) untuk mengurangi asimetri informasi.
Pengungkapan informasi terkait lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) menunjukkan bahwa bisnis dikelola secara bertanggung jawab pada aspek ESG (Dhaliwal et al., 2011).
Perusahaan dengan kinerja ESG yang baik akan mengungkapkannya secara transparan untuk membedakan diri dari pesaing yang kurang berkinerja baik (Melinda & Wardhani, 2020).
2.3.5 Stakeholder Theory
Stakeholder Theory dikembangkan oleh Freeman (1984) yang menyatakan bahwa perusahaan tidak hanya bertanggung jawab kepada pemegang saham (shareholders), tetapi juga kepada semua pihak yang berkepentingan (stakeholders), termasuk karyawan, pelanggan, komunitas, dan lingkungan. Teori ini menekankan bahwa keberlanjutan bisnis bergantung pada kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan berbagai pemangku kepentingan, bukan hanya mengejar keuntungan jangka pendek (Freeman, 1984). ESG disclosure merupakan salah satu cara perusahaan menunjukkan komitmennya terhadap kepentingan stakeholders (Atan et al., 2018). Dengan mengungkapkan ESG secara terbuka, perusahaan yang memiliki tanggung jawab penuh pada aspek sosial dan lingkungan dapat meningkatkan kepercayaan pihak berwenang (OJK, 2021). Investor dan konsumen semakin mempertimbangkan faktor ESG dalam pengambilan keputusan, sehingga pengungkapan ESG dapat memengaruhi loyalitas merek dan nilai perusahaan (Scholtens, 2008).
2.3.6 Customer Based Brand Equity (CBBE) Theory
CBBE Theory dikemukakan oleh Keller (1993) dan kemudian dikembangkan dalam karya Kotler & Keller (2016). Teori ini menjelaskan bahwa nilai suatu merek (brand equity) dibangun berdasarkan persepsi, pengalaman, dan loyalitas pelanggan. Menurut teori ini, loyalitas merek terbentuk melalui empat tahap yaitu Brand Identity (Kesadaran merek), Brand Meaning (Asosiasi merek), Brand Response (Respon emosional dan evaluatif terhadap merek), Brand Relationship (Loyalitas dan keterikatan jangka panjang) melalui penerapan Customer-Based Brand Equity (CBBE) Theory, ESG disclosure dapat memperkuat brand meaning dengan membentuk citra perusahaan yang bertanggung jawab dan berkelanjutan (Kotler & Keller, 2016).
2.3.7 Agency Theory
Jensen dan Meckling (1976) menciptakan agency theory, yang melihat pengaruh pada pihak yang memberi tugas (pimpinan) dan pihak yang melaksanakan tugas (agen). Dalam konteks bisnis, hubungan ini sering melibatkan pemegang saham (principal) serta manajer (agent) perusahaan. Berdasarkan teori agensi ini, ketika manajer bertindak menjadi agent serta pemegang saham menjadi principal, informasi tak simetri merupakan hasil yang tak terhindarkan dari adanya hubungan agensi.
Informasi tak simetri didefinisikan sebagai keadaan di mana satu pihak memiliki jumlah informasi yang lebih besar atau lebih baik daripada pihak lain, yang mampu mengarah pada ketidakseimbangan dalam pengetahuan dan potensi risiko. Informasi tak simetri dapat menciptakan konflik agensi, karena manajer mungkin memiliki informasi yang tidak disadari
19 oleh pemegang saham, yang dapat berdampak terhadap pengambilan keputusan dan nilai perusahaan. Eisenhardt (1989) menekankan bahwa masalah inti dalam hubungan agensi adalah potensi konflik antara tujuan pemegang saham dan manajer.
Ketidakselarasan ini dapat menyebabkan inefisiensi dan kehilangan agensi, di mana hasil untuk pemegang saham tidak optimal karena adanya kepentingan pribadi manajer. Teori agensi dapat menjadi landasan praktik bisnis yang memiliki maksud untuk menaikkan nilai perusahaan serta menyokong kesejahteraan para pemegang saham. Manajemen yang bertindak sebagai agent diharuskan untuk dapat mengelola perusahaan dengan mengambil keputusan yang terbaik untuk meningkatkan kekayaan para principal, yakni para pemegang saham. Apabila manajemen lebih mengutamakan kepentingan pribadinya, hal ini berpotensi mengurangi keuntungan yang dapat diraih oleh perusahaan (Herdyanti et al., 2018).
20
BAB 3 METODOLOGI
3.1 Metode yang digunakan
3.2 Bahan dan peralatan yang digunakan 3.3 Urutan pelaksanaan penelitian
21
DAFTAR PUSTAKA
Abdi, Y., Li, X., & Càmara-Turull, X. (2021). Exploring the impact of sustainability (ESG) disclosure on firm value and financial performance (FP) in airline industry: The moderating role of size and age. Environment, Development and Sustainability, 24(4), 5052–5079.
https://doi.org/10.1007/s10668-021-01649-w
Ahmad, N., Mobarek, A., & Roni, N. N. (2021). Revisiting the impact of ESG on financial performance of FTSE350 UK firms: Static and dynamic panel data analysis. Cogent Business
& Management, 8(1), 1900500. https://doi.org/10.1080/23311975.2021.1900500
Al-Amin, M., Hoque, N., & Muttakin, M. B. (2022). Does ESG disclosure influence firm performance? Sustainability, 14(13), 7595. https://doi.org/10.3390/su14137595
Asbullah, M. A., Said, R., & Yusoff, H. (2023). ESG disclosure and firm performance:
Evidence from Southeast Asia. Journal of Cleaner Production, 382, 135210.
https://doi.org/10.1016/j.jclepro.2022.135210
Atan, R., Alam, M. M., Said, J., & Zamri, M. (2018). The impacts of environmental, social, and governance factors on firm performance: Panel study of Malaysian companies. Management of Environmental Quality: An International Journal, 29(2), 182–194.
https://doi.org/10.1108/MEQ-03-2017-0033
Bashatweh, I. A., Al-Slehat, Z. A. F., & Maghyereh, A. I. (2023). ESG disclosure and firm value: The moderating role of governance mechanisms. Corporate Social Responsibility and Environmental Management, 30(1), 1–15. https://doi.org/10.1002/csr.2431
Cheng, B., Ioannou, I., & Serafeim, G. (2014). Corporate social responsibility and access to finance. Strategic Management Journal, 35(1), 1–23. https://doi.org/10.1002/smj.2131
Dhaliwal, D. S., Li, O. Z., Tsang, A., & Yang, Y. G. (2011). Voluntary nonfinancial disclosure and the cost of equity capital: The initiation of corporate social responsibility reporting. The Accounting Review, 86(1), 59–100. https://doi.org/10.2308/accr.00000005
Ernst & Young (EY). (2022). How will ESG performance shape your future value? EY Global Institutional Investor Survey.
Fatemi, A., Glaum, M., & Kaiser, S. (2018). ESG performance and firm value: The moderating role of disclosure. Global Finance Journal, 38, 45–64. https://doi.org/10.1016/j.gfj.2017.03.001 Freeman, R. E. (1984). Strategic management: A stakeholder approach. Pitman.
Fuadah, L. L., Prastiwi, A., & Safitri, O. E. (2022). ESG disclosure and firm value: Evidence from Indonesia. Journal of Asian Finance, Economics and Business, 9(3), 175–185.
Handayati, Y., Puspitasari, D. M., & Susilowati, I. (2022). Does ESG disclosure affect firm value? Evidence from Indonesia. Journal of Economics, Finance and Accounting Studies, 4(1), 1–12.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing management (15th ed.). Pearson.
KPMG. (2020). The time has come: The KPMG survey of sustainability reporting 2020. KPMG International.
22 Luchs, M. G., Naylor, R. W., Irwin, J. R., & Raghunathan, R. (2010). The sustainability liability: Potential negative effects of ethicality on product preference. Journal of Marketing, 74(5), 18–31. https://doi.org/10.1509/jmkg.74.5.018
Melinda, A., & Wardhani, R. (2020). The effect of environmental, social, governance, and controversies on firms’ value: Evidence from Asia. Journal of Asian Finance, Economics and Business, 7(11), 723–732. https://doi.org/10.13106/jafeb.2020.vol7.no11.723
OECD. (2020). ESG investing: Practices, progress, and challenges. OECD Publishing.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2021). Roadmap keuangan berkelanjutan tahap II (2021–2025).
OJK.
Prastiwi, A., Fuadah, L. L., & Safitri, O. E. (2018). Pengaruh pengungkapan ESG terhadap nilai perusahaan dengan kinerja keuangan sebagai variabel pemoderasi. Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, 15(2), 145–160.
Putri, N. K. A., & Raharja, S. (2013). Pengaruh pengungkapan corporate social responsibility terhadap nilai perusahaan. Jurnal Akuntansi dan Keuangan, 15(2), 78–90.
Qureshi, M. A., Kirkerud, S., Theresa, K., & Ahsan, T. (2019). The impact of sustainability (ESG) disclosure on firm value: The moderating role of competitive advantage. Journal of Accounting and Finance, 19(2), 1–15.
Safriani, A., & Utomo, M. N. (2020). ESG disclosure and firm performance: Evidence from Indonesia. Journal of Economics and Business, 3(2), 45–58.
Schiffman, L. G., & Wisenblit, J. L. (2015). Consumer behavior (11th ed.). Pearson.
Scholtens, B. (2008). A note on the interaction between corporate social responsibility and financial performance. Ecological Economics, 68(1-2), 46–55.
https://doi.org/10.1016/j.ecolecon.2008.01.024
Yip, E., & Lee, J. (2018). ESG disclosure and firm performance: The moderating role of corporate governance. Asian Journal of Business Ethics, 7(1), 1–20.
Zahroh, D., & Hersugondo, H. (2021). Pengaruh pengungkapan ESG terhadap nilai perusahaan dengan profitabilitas sebagai variabel moderasi. Jurnal Ilmiah Akuntansi dan Bisnis, 16(2), 200–215.
23