• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis daya saing ekspor di provinsi jawa timur

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis daya saing ekspor di provinsi jawa timur"

Copied!
114
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

diajukan kepada Institut Agama Islam Negeri Jember untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh

gelar Sarjana Ekonomi (S.E)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Jurusan Ekonomi Islam Program Studi Ekonomi Syariah

Oleh:

AFIFATUL HARIS NIM. 083 144 197

Dosen Pembimbing:

Daru Anondo, SE., M.Si.

NIP. 19750303 200901 1 009

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI JEMBER FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM

NOVEMBER 2018

(2)
(3)
(4)





“Dan dia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)nya dalam empat masa. (penjelasan itu sebagai jawaban) bagi orang-

orang yang bertanya. (Q.S. Fushilat: 10)1

1 Al-Qur”an 41:10

(5)

hidayah-Nya sehingga karya tulis ini terselesaikan melalui proses yang indah walaupun masih jauh dari kesempurnaan. Dengan iringan do’a dan rasa syukur kupersembahkan karya tulis ini kepada:

1. Kedua orang tuaku Ayah Firhat Lausi dan Ibu Siti Nurjannah atas kesabaran dan kasih sayangnya yang tiada tara, yang telah berkorban dengan segenap jiwa dan raga, do’a-do’a yang selalu dipanjatkan setiap waktu hingga mengantarkanku pada pendidikan yang lebih tinggi serta telah menjadi motivator terhebat dalam hidupku, semoga Allah senantiasa melimpahkan hidayah-Nya, kepada keduanya Amin.

2. Adikku Faisal Akbar yang menjadi motivator penyemangat dalam penulisan karya tulis ini dan seluruh keluarga besar dari Ayah dan Ibu yang juga selalu mendo’akan, memberikan semangat, serta nasihat-nasihat yang penuh makna dalam hidupku.

3. Dosen pembimbingku Bapak Daru Anondo, SE., M.Si. yang telah membimbing dalam proses penulisan karya tulis ini, memberikan motivasi intelektual dukungan moral dan spiritual.

4. Almamaterku, tempat menimba ilmu dan menemukan banyak pengalaman yang tidak terlupakan, lembaga pendidikan SD N 2 Labuhan Ratu VII Lampung Timur, SMP N 1 Way Jepara Lampung Timur, Pondok Modern

(6)

yang selama 4 tahun bersama-sama berjuang dalam menimba ilmu.

6. Seluruh saudaraku dan juga teman-temanku (Laras, Riska, Ella, Gadis, Uum, Nurul, Ipe, Fifi, Silvia, Illa, Rinda, Muna dan Putri) yang telah menyemangati selama penulisan karya tulis ini.

(7)

Nya, perencanaan, pelaksanaan dan penyelesaian dalam penulisan karya tulis ini.

Sholawat serta salam selalu kita haturkan kepada Rasulullah Saw yang telah membawa kita menuju jalan yang terang benderang yakni agama Islam.

Kesuksesan ini dapat penulis peroleh karena dukungan dari banyak pihak, oleh karena itu ucapan terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis haturkan kepada:

1. Prof. Dr. H. Babun Suharto, SE., MM, selaku Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember.

2. Dr. Moch. Chotib, S.Ag, MM., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember.

3. M.F. Hidayatullah, S.H.I, M.S.I., selaku Ketua Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember.

4. Nikmatul Masruroh, M.E.I., selaku Ketua Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember.

5. Daru Anondo, SE., M.Si. selaku Sekretaris Jurusan Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember dan pembimbing skripsi, yang telah memberikan waktu dan kesabarannya dalam membimbing dalam proses menyelesaikan skripsi ini.

(8)

7. Segenap dosen beserta staff Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember.

Yang telah memberikan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat bagi kehidupan nantinya.

Mudah-mudahan segala bentuk pertolongan yang diberikan kepada penulis mendapatkan balasan yang terbaik dari Allah SWT, dan semoga hasil penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang terkait serta dengan harapan dapat disempurnakan oleh peneliti-peneliti yang lainnya.

Jember, 02 November 2018

AFIFATUL HARIS NIM. 083 144 197

(9)

Saat ini tidak ada negara yang dapat hidup tanpa berhubungan dengan negara lain. Semua negara di dunia senantiasa berhubungan dengan negara lain dalam berbagai bentuk dan salah satunya adalah perdagangan internasional.

Perdagangan internasional yang terjadi menyebabkan perlunya perhatian lebih terhadap daya saing komoditas ekspor mengingat bahwa globalisasi menuntut adanya persaingan. Dalam indeks makro ekonomi, kinerja ekspor merupakan salah satu variabel utama dan setiap produk memiliki tingkat daya saing yang berbeda-beda. Oleh karena itu, Dari latar belakang yang telah dipaparkan tersebut peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Daya Saing Ekspor Di Provinsi Jawa Timur”.

Rumusan masalah dalam skripsi ini adalah: 1) Bagimanakah daya saing komparatif komoditas ekspor di provinsi Jawa Timur? 2) Bagaimanakah Indeks Spesialisasi Perdagangan komoditas ekspor di Provinsi Jawa Timur?

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana daya saing 5 komoditas utama ekspor Jawa Timur menurut Harmonized system 2 digit.

Penelitian ini merupakan penelitian dengan metode kuantitatif. Dengan menggunakan data sekunder berupa runtutan waktu (time series) dengan periode 5 tahun (2013-2017), jenis data yang digunakan adalah realisasi nilai ekspor 5 komoditas utama Jawa Timur, data realisasi nilai total ekspor seluruh komoditas ekspor Jawa Timur. Sedangkan data pembandingnya adalah data realisasi nilai ekspor 5 komoditas ekspor nasional dan nilai total ekspor seluruh komoditas ekspor nasional. Data kedua adalah data realisasi pengurangan nilai ekspor dan impor 5 komoditas utama Jawa Timur dengan data pembanding data realisasi penjumlahan nilai ekspor dan impor 5 komoditas utama Jawa Timur. Alat analisis menggunakan RCA (Revealed Comparative Advantage) dan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan). Sumber data yang digunakan dari BPS(Badan Pusat Statistik) Provinsi Jawa Timur, KementriaInformasi dan Komunikasi Provinsi Jawa Timur, dan sumbr lain sesuai kebutuhan peneliti. Pengolahan dilakukan menggunkaan softwear Microsoft Excel 2007.

Hasil analisis RCA (Revealed Comparative Advantage) menunjukkan komoditi perhiasan/permata, bahan kimia organik, kayu dan barang dari kayu serta ikan dan udang memiliki nilai RCA lebih dari 1 yang berarti daya saingnya kuat. Namun komoditi lemak dan minyak hewani/nabati memiliki RCA kurang dari 1 yang berarti daya saingnnya lemah. Sedangkan nilai ISP kelima komoditas ekspor lebih dari 0 (nol) yang berarti Jawa Timur cenderung melakukan ekspor daripada impor atas kelima komoditas utama tersebut.

(10)

Currently there are no countries that can live without contact with other countries. All countries in the world are always in contact with other countries in various forms and one of them is international trade. The international trade that occurred caused the need for more attention to the competitiveness of export commodities given that globalization demands competition. In the macroeconomic index, export performance is one of the main variables and each product has a different level of competitiveness. Therefore, from the background that has been described, researchers are interested in conducting research with the title "Analysis of Export Competitiveness in East Java Province".

The problem formulation in this thesis is: 1) How is the comparative competitiveness of export commodities in the province of East Java? 2) How does the Specialization Index trade in export commodities in East Java Province?

The purpose of this research is to find out how the competitiveness of 5 main commodities of East Java exports according to the 2 digit Harmonized system.

This research is a quantitative method research. By using secondary data in the form of time series with a period of 5 years (2013-2017), the type of data used is the realization of the export value of 5 main commodities of East Java, data on the realization of the total export value of all East Java export commodities. While the comparison data are data on the realization of the export value of 5 national export commodities and the total export value of all national export commodities. The second data is data on the realization of the reduction in the value of exports and imports of the five main commodities of East Java with comparative data on the realization of the total value of exports and imports of the 5 main commodities of East Java. Analytical tools using RCA (Revealed Comparative Advantage) and ISP (Trade Specialization Index). Data sources are used from BPS (Central of Statistics) East Java Province, Ministry of information and communication of East Java Province, and other resources according to the needs of researchers. Processing was carried out using Microsoft Excel 2007 softwear.

The results of the RCA (Revealed Comparative Advantage) analysis show that commodities of jewelry / gems, organic chemicals, wood and articles of wood and fish and shrimp have an RCA value of more than 1 which means that their competitiveness is strong. However, animal / vegetable fats and oils have less than 1 RCA, which means their competitiveness is weak. Whereas the ISP value of the five export commodities is more than 0 (zero), which means that East Java tends to export rather than import the five main commodities.

(11)

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN PENGUJI ... iii

MOTTO ... iv

PERSEMBAHAN ... v

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... ix

ABSTRACK ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR GRAFIK DAN TABEL ... xii

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 10

C. Tujuan Penelitian ... 10

D. Manfaat Penelitian ... 11

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 11

F. Definisi Oprasional ... 13

G. Hipotesis ... 15

H. Metode Penelitian... 16

(12)

I. Sistematika Pembahasan ... 19

BAB II KAJIAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu ... 21

B. Kajian Teori ... 34

1. Perdagangan Internasional ... 35

2. Ekspor ... 41

3. Impor ... 42

4. Teori Daya Saing... 44

5. Teori Keunggulan Komparatif ... 46

6. Indeks Spesialisasi Perdagangan ... 48

BAB III PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS A. Gambaran Objek Penelitian ... 51

1. Letak Astronomis dan Geografis Jawa Timur... 51

2. Aspek Topografi ... 51

3. Gambaran Umum Perdagangan Internasional Jawa Timur... 52

B. Penyajian Data ... 56

1. Komoditi Perhiasan/Permata (HS 71) ... 56

2. Komoditi Lemak dan Minyak hewani/nabati (HS 15) ... 58

3. Bahan Kimia Organik (HS 29) ... 58

4. Kayu, Barang dari Kayu (HS 44) ... 59

(13)

2. Analisis Daya saing ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan) ... 71 3. Pengujian Hipotesis ... 79 D. Pembahasan ... 80 BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan ... 83 B. Saran ... 84 DAFTAR PUSTAKA ... 87 LAMPIRAN-LAMPIRAN

BIODATA PENULIS

(14)

1.1. Nilai Ekspor Indonesia Menurut Provinsi Asal Barang

Tahun 2013-2017 ...5 1.2. Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Jawa Timur

Tahun 2013-2017 ...6 1.3. Nilai 15 Komoditas Ekspor Unggulan Jawa Timur

Tahun 2013-2017 ...12 2.1. Perbedaan dan Persamaan Penelitian Terdahulu ...28 4.1. Neraca Perdagangan Jawa Timur Tahun 2013-2017 ...56 4.2. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditi Perhiasan/Permata

Tahun 2013-2017 ...57 4.3. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditi Lemak dan Minyak

Hewani/ Nabati Tahun 2013-2017 ...58 4.4. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditi Bahan Kimia Organik

Tahun 2013-2017 ...59 4.5. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditi Kayu, Barang dari Kayu

Tahun 2013-2017 ...60 4.6. Perkembangan Nilai Ekspor Komoditi Ikan dan Udang

Tahun 2013-2017 ...61 4.7. Perkembangan Nilai RCA Komoditi Perhiasan/Permata

Tahun 2013-2017 ...62

(15)

Tahun 2013-2017 ...67 4.10. Perkembangan Nilai RCA Komoditi Kayu, Barang dari Kayu

Tahun 2013-2017 ...68 4.11. Perkembangan Nilai RCA Komoditi Ikan dan Udang

Tahun 2013-2017

...

70 4.12. Perkembangan Nilai ISP Komoditi Perhiasan/Permata

Tahun 2013-2017 ...72 4.13. Perkembangan Nilai ISP Komoditi Lemak dan Minyak

Hewani/Nabati Tahun 2013-2017 ...73 4.14. Perkembangan Nilai ISP Komoditi Bahan Kimia Organik

Tahun 2013-2017 ...75 4.15. Perkembangan Nilai ISP Komoditi Kayu, Barang dari Kayu

Tahun 2013-2017 ...76 4.16. Perkembangan Nilai ISP Komoditi Ikan dan Udang

Tahun 2013-2017 ...78

(16)

Tahun 2013-2017 ...8 4.1. Grafik Perkembangan Nilai Ekspor Jawa Timur

Tahun 2013-2017 ...54 4.2. Grafik Perkembangan Nilai Impor Jawa Timur

Tahun 2013-2017 ...55

(17)

Saat ini tidak ada negara yang dapat hidup tanpa berhubungan dengan negara lain. Semua negara di dunia senantiasa berhubungan dengan negara lain dalam berbagai bentuk. Hubungan itu tidak terbatas dengan hubungan yang dilakukan pemerintah saja, tetapi juga perusahaan dan perorangan.

Hubungan perusahaan terutama dalam bentuk perdagangan. Perdagangan yang melibatkan para pihak lebih dari satu negara disebut perdagangan internasional atau bisnis internasional.2

Menurut Boediono, perdagangan internasional merupakan proses tukar menukar hasil atau output produksi atau pertukaran faktor-fakor produksi yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lainnya. Penduduk ini bisa warga biasa, perusahaan ekspor, perusahaan impor, perusahaan industri, perusahaan negara, dan deaprtemen pemerintah. Pertukaran atau perdagangan ini timbul karena salah satu atau dua belah pihak melihat adanya manfaat/ keuntungan tambahan yang bisa diperoleh dari pertukaran tersebut. Singkatnya manfaat perdagangan adalah untuk memperoleh “gains from trade”.3

Perdagangan internasional antar negara secara tidak langsung menimbulkan ketergantungan antara satu negara dengan yang lainnya dan

2Sutendi, Andrian. Hukum Ekspor Impor ( Jakarta: Raih Asa Sukses, 2014), Hal 7.

3 Boediono. Ekonomi Internasional Seri Sinopsis (Yogyakarta: BPFE, 2016), Hal 10-11

(18)

untuk memenuhi kebutuhan akan barang dan jasa maka terjadilah pertukaran barang dan jasa. Kegiatan ini disebut kegiatan ekspor dan impor. Dalam kegiatan ekspor dan impor, masing-masing negara memiliki keunggulan dan sisi lain juga memiliki kekurangan. Hasil produksi suatu negara lebih atau sebaliknya membutuhkan komoditas lain yang belum dapat diproduksi di negaranya. Komoditas yang dihasilkan suatu negara mungkin juga belum dapat dipakai langsung karena masih berupa bahan mentah yang memerlukan proses produksi lebih lanjut. Bahan mentah tersebut mungkin dibutuhkan negara lainnya sebagai bahan baku pabriknya.

Komoditas ekspor yang dibutuhkan tentunya harus memiliki keunggulan jika dibandingkan dengan komoditas lainnya. Untuk dapat menembus pasar internasional komoditas tersebut juga harus memiliki daya saing yang kuat.4

Keberhasilan dalam meningkatkan ekspor mencerminkan peningkatan daya saing sekaligus indikasi dari tumbuhnya dinamika positif dalam pertumbuhan ekonomi suatu negara. Berdasarkan hal ini, ekspor bukan lagi menjadi pilihan namun suatu keharusan. Keberhasilan dalam perdagangan internasional suatu negara dapat dilihat dari daya saingnya, daya saing ini merupakan suatu konsep umum yang digunakan didalam ekonomi, yang merujuk kepada komitmen terhadap persaingan pasar terhadap keberhasilanya dalam persaingan internasional. Daya saing telah menjadi kunci bagi

4 Gunawan Widjaja dan Ahmad Yani. Seri Hukum Bisnis Transaksi bisnis internsional (Ekspor Impor dan Imbal Beli). (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2003), Hal 1

(19)

perusahaan, wilayah maupun negara agar bisa berhasil untuk turut berpartisipasi dalam perdagangan bebas dunia.5

Dalam perdagangan internasional daya saing suatu komoditi dapat dapat dilihat dari keunggulan komparatifnya. Keunggulan komparatif merupakan keunggulan yang dimiliki suatu negara bila dapat memproduksi suatu komoditas lebih murah dan lebih baik yang disebabkan kombinasi faktor produksi yang ideal sehingga produktivitasnya lebih tinggi.6

Menurut Richardo, suatu negara disebut memiliki keunggulan komparatif dari negara lain jika negara tersebut mampu memproduksi lebih banyak barang atau jasa dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Perdagangan akan saling menguntungkan antara keduanya sehingga dengan keungulan komparatif suatu bangsa dapat meningkatkan standar kehidupan dan pendapatannya melalui spesialisasi produk barang atau jasa yang memiliki produktivitas dan efesiensi tinggi. Berbeda dengan Adam Smith yang menilai suatu negara memiliki keunggulan mutlak dari negara lain jika negara tersebut memproduksi barang atau jasa yang tidak dapat diproduksi Negara lain, sehingga terjadi pertukaran barang atau jasa dalam perdagangan internasional.7

Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alamnya, Negara kepulauan yang menghubungkan dari Sabang sampai Merauke. Dari

5 Dina Aprilia Puspita. “Analisis Laju Pertumbuhan dan Daya Saing Ekspor Komoditas Unggulan Jawa Timur” Skripsi Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Brawijaya, jurusan Ilmu Ekonomi, Malang. 2017.

6 Ibid. Hal 2.

7 Deliarnov, IPS Ekonomi untuk SMP Dan MTS Kelas IX (Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama, 2006) Hal. 41-42.

(20)

pulau–pulau tersebutlah menghasilkan banyak sumber daya alam karena di setiap pulau berbeda akan kekayaan sumber daya alamnya. Meskipun kaya akan sumber daya alam, salah satu kelemahan Indonesia adalah belum mampu untuk mengelola hasil sumber daya alamnya sendiri sehingga harus mengekspor barang keluar negeri dalam kondisi mesih mentah atau belum menjadi barang jadi atau setengah jadi. apabila Indonesia mampu memproduksi barang mentahnya sendiri, pastilah harga barang ekspor tersebut menjadi lebih tinggi jika dipasarkan diluar negeri dan indonesia tidak perlu mengimpor terlalu banyak barang karena mampu memproduksinya sendiri dan mengurangi penegeluaran luar negeri sehingga terjadi keseimbangan atau bahkan surplus dalam neraca perdagangan.

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi yang menyumbang ekspor terbesar ketiga dibandingkan dengan provinsi-provinsi lain yang ada di Indoensia. Hal ini menunjukkan Jawa Timur memiliki keunggulan dibeberapa komoditas ekspor sehingga mampu menuyumbang angka yang cukup besar bagi ekspor nasional. Berikut nilai ekspor Jawa Timur dibandingkan dengan beberapa provinsi di Indonesia.

(21)

Tabel 1.1

Nilai Ekspor Indonesia Menurut Provinsi Asal Barang Tahun 2013-2014

No

Provinsi

Nilai FOB (Juta USD)

2013 2014 2015 2016 2017

1 Jawa Barat 26.379,08 24.496,1 25.693,7 25.726,7 29.205,2 2 Kalimantan

Timur 31.099,0 26.217,0 18.408,0 13.963,0 17.694,6 3 Jawa Timur 15.508,4 18.767,2 17.120,1 18.953,0 19.613,9 4 Riau 22.614,2 22.142,1 14.396,4 13.711,8 16.401,5 5 Kepulauan Riau 9.512,3 8.720,2 10.077,4 10.199,6 11.147,0 6 DKI Jakarta 11.375,1 11.546,2 11.538,1 11.029,6 9.366,2 7 Banten 9.884,8 10.231,2 9.046,2 9.326,9 11.238,4 8 Sumatera Utara 9.359,1 9.162,1 7.646,8 7.656,0 8.855,0 9 Kalimantan

Selatan 8.774,1 7.810,8 5.702,9 5.359,6 7.332,4 10 Jawa Tengah 6.135,8 6.451,0 6.344,9 6.437,4 7.641,4 11 Lampung 3.924,5 3.895,8 3.874,0 3.191,7 3.873,3 12 Jambi 4.021,4 3.971,7 2.635,8 1.895,9 2.553,5 13 Papua Barat 3.467 3.966,1 2.741,8 1.759,7 1.983,3 14 Sumatera Selatan 3.839,3 3.078,9 2.483,4 2,027,3 4.016,8 15 Papua 2.728,4 1.529,6 2.728,7 2.099,6 2.543,2 16 Sumatera Barat 1.902,9 1.852,9 1.582,7 1.494,2 1.900,4 17 Sulawesi selatan 1.602,7 1.747,9 1.403,0 1.172,3 1.184,5 18 Kepulauan

Bangka Belitung 2.034,4 1.810,8 1.1.49,7 1.345,7 1.859,9 19 Kalimantan

Tengah 1.402,7 1.096,6 1.064,1 966,3 1.800,5 20 Sulawesi Tengah 297,14 77,25 503,2 1.565,1 3.030,0

21 NTB 407,1 316,0 1.479,4 1.585,7 1.113,2

22 Sulawesi Utara 1.013,2 794,6 1.021,7 1.019,9 972,3 23 Kalimantan

Barat 1.365,6 658,7 561,9 625,6 1.373,7

24 Bali 528,5 536,3 498,4 504,2 536,5

25 Kalimantan

Utara 115,8 151,1 301,6 729,6 959,8

26 Sulawesi

Tenggara 983,53 351,3 236,9 219,2 382,8

27 Aceh 979,2 524,4 107,0 56,1 146,7

28 DI Yogyakarta 295,0 329,0 333,8 333,7 390,7 29 Sulawesi Barat 271,2 258,4 306,2 350,5 385,9

30 Bengkulu 322,4 241,4 155,4 158,9 275,3

31 Maluku Utara 731 29,9 11,1 45,1 272,5

32 Maluku 133,9 38,5 15,8 164,6 89,5

33 NTT 26,6 23,2 26,6 54,1 68,9

34 Gorontalo 5,3 15,24 32,6 5,3 2,4

Sumber: BPS (data diolah)

(22)

Ekspor Jawa Timur selama kurun waktu lima tahun (2013-2017) terakhir menunjukkan trend yang cukup fluktuatif. Pada tahun 2017 terjadi peningkatan pada ekspor dan impor. Peningkatan ekspor sebesar 3,39%

sedangkan impor mengalami peningkatan yang cukup signifikan sebesar 18,94% dibandingkan tahun sebelumnya. Selama tahun 2013-2017 terjadi kenaikan impor yang lebih besar dibandingkan ekspor sehingga neraca perdagangan luar negeri Jawa Timur menunjukkan nilai yang terus menurun, dan mengalami defisit. Tahun 2016 perkembangan ekspor Jawa Timur menunjukkan perkembangan yang lebih baik, karena neraca perdagangan luar negeri Jawa Timur mengalami surplus. Akan tetapi tahun 2017 kembali mengalami defisit seperti tahun 2015.

Tabel 1.2

Perkembangan Nilai Ekspor dan Impor Jawa Timur Tahun 2013-2017 Tahun Ekspor (juta USD) Impor (juta USD) Neraca

2012 15.125,56 24.477,25 -9.351,69

2013 15.508,41 25.046,10 -9.537,69

2014 18.767,26 25.210,96 -6.443,69

2015 17.120,19 19.286,53 -2.166,35

2016 18.953,02 18.594,38 358,63

2017 19.613,91 22.115,57 -2501,66

Sumber : BPS (data diolah)

Komoditas non migas merupakan penyumbang ekspor utama jika dibandingkan dengan ekspor migas Jawa Timur. Ekspor non migas menyumbang lebih dari 90% total ekspor jawa timur. Komoditi non migas dalam lima tahun terakhir (2013-2017) menyumbang rata-rata ekspor jawa timur sebesar 95,53% dan komoditi migas hanya menyumbang 4,47%. Nilai

(23)

ekspor komoditi non migas Jawa Timur meliputi sektor pertanian, sektor industri, sektor pertambangan dan sektor lain-lain. Sektor pertanian dan industri mempunyai nilai ekspor tertinggi terhadap total ekspor non migas jawa timur.

Nilai ekspor non migas dalam kurun beberapa tahun terakhir (2012- 2017) cenderung naik turun (fluktuatif). Tahun 2012 ekspor non migas mencapai USD 15.524,17 juta, kembali turun ditahun berikutnya, 2013 sebesar USD 15.055,24 juta. Tahun 2014 mengalami kenaikan menjadi USD 17.983,98 juta dan kembali turun sebesar USD 15.655,90 juta tahun 2015 dan kembali naik ditahun 2016 sebesar USD 17.944,07 juta dan naik di tahun 2017 menjadi 18.362,33 Juta USD.8

Menurut pengelompokan jenis barang ekspor menggunakan klasifikasi tarif indonesia tahun 2017 (BTKI-2017) yang didasarkan atas Harmonized System (HS) 2 digit, jawa timur memilik beberapa komoditas ekspor unggulan yaitu; perhiasan/permata, lemak dan minyak hewani/nabati, bahan kimia organik, kayu dan barang dari kayu, ikan dan udang, dan beberapa komoditas lainnya. Berikut realisasi perkembangan nilai ekspor non migas khususnya 5 (lima) komoditas utama ekspor jawa timur pada gambar.

8 https://jatim.bps.go.id/ diakses tanggal 15 februari 2018 pukul 15.42 wib

(24)

Gambar 1.1

Perkembangan Nilai 5 Komoditas Ekspor Jawa Timur Tahun 2013-2017

0,00 1.000,00 2.000,00 3.000,00 4.000,00 5.000,00

2013 2014 2015 2016 2017

Perhiasan/permata

Lemak & minyak nabati/hewani Bahan kimia organik

Kayu & barang dari kayu

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa perhisan/permata memiliki nilai ekspor tertinggi dalam lima tahun terakhir bahkan beberapa tahun sebelumnya. Selama tiga tahun berturut-turut (2014-2016) perhiasan/permata terus mengalami kenaikan, namun mengalami penurunan ditahun 2107.

Komoditi lemak dan minyak hewani/nabati dan bahan kimia organik mengalami kenaikan yang cukup baik ditahun 2014, namun setelah itu turun dan mengalami kenaikan nilai ekspor yang cukup lambat. Kayu dan barang dari kayu serta komoditas ikan dan udang, terus mengalami kenaikan meskipun perkembangannya cukup lambat.

Ekspor non migas yang menjadi komoditas ekspor utama cenderung fluktuatif. Hal ini menunjukkan kondisi daya saing komoditas non migas berubah-ubah. Menjadi tantangan tersendiri bagi setiap produsen ekspor untuk meningkatkan daya saing komoditas tersebut. Terlebih dahulu kita harus melihat sejauh mana keunggulan komparatif dan dari masing-masing komoditas tersebut jika dibandingkan dengan komoditas yang sama di daerah/negara lainnya.

(25)

Keunggulan komparatif (theory of comparative advantage) merupakan teori yang dikemukakan oleh David Ricardo. Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Richardo berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya.9

Keunggulan komparatif ini diuji dengan analisis RCA. RCA menunjukkan perbandingan antara pangsa ekspor komoditas suatu negara terhadap pangsa pasar ekspor komoditas tersebut dari seluruh dunia. RCA menunjukkan pada suatu kondisi dimana jika ekspor suatu daerah dari suatu jenis barang lebih tinggi daripada pangsa pasar barang yang sama didalam jumlah ekspor nasional, berarti daerah tersebut memiliki keunggulan komparatif atas produksi dan ekspor dari barang tersebut.

Selain melakukan kegiatan ekspor, Jawa timur juga melakukan kegiatan impor dalam perdagangan luar negeri. Bahkan ada beberaapa komoditas ekspor yang juga menjadi komoditas impor jawa timur. Hal ini menunjukkan jawa timur juga mengimpor beberapa komoditas yang sama dengan komoditas yang mereka ekspor. Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu produk. ISP ini dapat menggambarkan apakah untuk suatu jenis produk, negara cenderung menjadi negara eksportir atau importir

9 http://www.academia.edu/34791060/keunggulan_komparatif.docx

(26)

Kondisi globalisasi yang terjadi menyebabkan perlunya perhatian lebih terhadap daya saing komoditas ekspor mengingat bahwa globalisasi menuntut adanya persaingan. Dalam indeks makro ekonomi, kinerja ekspor merupakan salah satu variabel utama. Sebagai provinsi yang menyumbang ekspor terbesar ketiga di Indonesia, Jawa Timur memiliki potensi ekspor yang cukup besar. Sehingga berangkat dari permasalahan ini, peneliti ingin menganalisis seberapa kuat daya saing beberapa komoditas ekspor non migas Jawa Timur, karena setiap produk memiliki tingkat daya saing yang berbeda- beda. Mungkin ada beberapa produk yang memiliki tingkat daya saing rendah, namun masih tetap dilakukan ekspor. Dan mungkin ada komoditas yang mempunyai daya saing tinggi namun ekspor yang dilakukan rendah.

Dari uraian diatas peneliti tertarik untuk mengambil judul “Analisis Daya Saing Ekspor di Provinsi Jawa Timur”.

B. Rumusan Masalah

1. Bagimanakah daya saing komparatif komoditas ekspor di provinsi Jawa Timur?

2. Bagaimanakah Indeks Spesialisasi Perdagangan komoditas ekspor di Provinsi Jawa Timur?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui daya saing komparatif komoditas ekspor di provinsi Jawa Timur.

2. Untuk mengetahui Indeks Spesialisasi Perdagangan komoditas ekspor di Provinsi Jawa Timur.

(27)

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi penulis, dapat menambah wawasan dan pengetahuan penulis, dengan mencoba mengetahui sejauh mana ilmu pengetahuan yang penulis pelajari diperkuliahan dengan praktek di lapangan.

2. Bagi peneliti lain, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pembanding, pustaka, referensi, serta informasi dalam menulis penelitian yang sejenis.

3. Bagi pemerintah, dapat dijadikan sebagai bahan informasi dalam pengambilan kebijakan guna terwujudnya kemajuan bagi pengembangan produk ekspor Jawa Timur yang efektif dan berdaya saing.

4. Bagi Pihak-pihak yang berkepentingan, sebagai referensi dan pertimbangan dalam mengevaluasi dan membuat keputusan yang berhubungan dengan perkembangan daya saing produk ekspor Jawa Timur.

E. Ruang Lingkup Penelitian a. Variabel Penelitian

Variabel penelitian meliputi faktor-faktor yang berperan dalam peristiwa atau gejala yang akan diteliti. Dalam penelitian ini, variabel- variabel yang menjadi obyek penelitian antara lain;

1. Daya saing ekspor 2. Keunggulan komparatif

3. Indeks spesialisasi perdagangan b. Indikator Penelitian

(28)

Dalam penelitian ini menggunakan nilai ekspor yang dinyatakan dengan FOB (Free On Board) dalam satuan USD dan nilai Impor yang dinyatakan dengan CIF (Cost, Insurance And Freight).

Periode time series yang digunakan dalam penelitian ini adalah dari tahun 2013 sampai dengan 2017. Komoditi yang penulis ambil merupakan 5 komoditas ekspor unggulan Jawa Timur yang selama 5 tahun terakhir menunjukkan nilai ekspor terbesar dibandingkan dengan komoditas lainnya, yaitu; (1) perhiasan/permata, (2) lemak dan minyak hewani/nabati, (3) kayu, barang dari kayu (4) bahan kimia organik, (5) ikan dan udang.

Tabel 1.3

Nilai 15 Komoditas Ekspor Unggulan Jawa Timur Tahun 2013-2017

No Komoditas Nilai FOB (Juta USD) Total

2013 2014 2015 2016 2017

1 Perhiasan/Permata 1.216,37 2.929,92 3.290,01 4.161,76 3.088,39 14.686,45 2 Minyak dan lemak

hewani/nabati 1.364,96 1.666,90 1.206,52 1.282,43 1.391,12 6.911,93 3 Kayu, Barang dari

Kayu 1.051,65 1.395,67 865,98 841,06 902,56 5.517,25

4 Bahan kimia

organik 928,34 1.076,09 1.074,99 1.148,30 1.289,53 5.056,92 5 Ikan dan Udang 810,87 970,02 988,6 1.059,86 1.160,97 4.990,32 6 Kertas/Karton 897,78 925,04 880,07 811,89 815,41 4.330,19

7 Tembaga 599,50 882,92 636,34 871,70 1.201,24 4.191,70

8 Bahan bakar

mineral 445,76 784,35 625,48 1.009,53 1.233,44 4.098,56 9 Berbagai produk

kimia 405,91 607,49 450,90 578,32 708,57 2.751,19

10 Perabot, penerang

rumah 464,39 567,66 554,43 511,82 531,73 2.630,03

11 Daging dan Ikan

Olahan 460,82 603,58 520,70 497,11 509,70 2.591,91

12 Alas kaki 494,52 580,85 523,92 502,72 461,09 2.563,10

13 Mesin/peralatan

listrik 533,55 535,21 482,49 471,65 511,50 2.534,40

14 Tembakau 363,90 405,32 389,33 367,24 440,67 1.966,46

15 Kopi, Teh,

Rempah-rempah 270,95 337,75 348,26 387,20 395,57 1.739,73 Sumber: BPS (data yang diolah)

(29)

F. Definisi Oprasional 1. Daya saing

Daya saing merupakan kemampuan dari individu, wilayah, maupun suatu barang untuk menjadi lebih unggul dari yang lainnya.

Dalam konsep ekonomi wilayah atau ekonomi regional yang dimaksud dengan daya saing adalah kemampuan suatu wilayah untuk menghasilkan produksi yang lebih tinggi dibanding wilayah lainnya.10

Konsep daya saing dalam perdagangan internasional terkait dengan keunggulan yang dimiliki suatu komoditas atau kemampuan suatu negara dalam menghasilkan komoditas tersebut secara lebih efisien daripada negara lain. Daya saing dapat juga dikatakan sebagai kemampuan suatu komoditas untuk memasuki pasar luar negeri dan kemampuan untuk bertahan dalam pasar tersebut, dalam artian jika suatu produk mempunyai daya saing maka produk tersebutlah yang banyak diminati oleh banyak konsumen.

2. Keunggulan komparatif

Keunggulan komparatif adalah keunggulan yang diperoleh oleh suatu negara dari melakukan spesialisasi produksi terhadap suatu barang yang memiliki harga relatif yang lebih rendah dari negara lain. Suatu negara akan cenderug melakukan kegiatan ekspor untuk komoditas yang

10 Muhammad Amsal Sabhan. Kolaborasi Pembangunan Ekonomi di Negara Berkembang.

(Makassar: CV. SAH MEDIA,2018), Hal 67.

(30)

memiliki keunggulan komparatif yang kuat dan mengimpor komoditas yang memiiliki keungguan komparatif yang lemah.

3. Indeks spesialisasi perdagangan

Indeks Spesialisasi Perdagangan (ISP) digunakan untuk menganalisis posisi atau tahapan perkembangan suatu produk. ISP ini dapat menggambarkan apakah untuk suatu jenis produk, negara cenderung menjadi negara eksportir atau importir.

4. Ekspor

Ekspor adalah proses transportasi barang atau komoditas dari suatu negara ke negara lain. Menurut undang-undang No. 2 Tahun 2009 tentang lembaga pembiayaan ekspor indonesia dijelaskan bahwa ekspor adalah kegiatan mengeluarkan barang dari daerah Pabean indonesia dan/atau dari wilayah negara Republik Indonesia. 11

Ekspor merupakan suatu kegiatan yang banyak memberikan keuntungan bagi para pelakunya, adapun keuntungan-keuntungaan tersebut antara lain, meningkatkan laba perusahaan dan devisa Negara, membuka pasar baru diluar negeri, dan membiasakan diri bersaing dengan pasar internasional. Ekspor dapat meningkatkan pendayagunaan sumber- sumber daya domestik di suatu negara, selain itu ekspor juga dapat meningkatkan pembagian lapangan kerja dan skala setiap produsen domestik agar mampu menghadapi persaingan dari Negara lain. Dalam

11 www.jdih.kemenkeu.go.od/fullText/2009/2TAHUN2009UU.HTM

(31)

penelitian ini ekspor yang diteliti adalah ekspor non migas komoditas di Jawa Timur.

5. Impor

Impor adalah kegiatan memasukkan barang dari luar daerah Indonesia atau disebut juga dengan daerah pabean kedalam daerah Indonesia dengan memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Contohnya, sebuah perusahaan melakukan kegiatan impor tau mengimpor barang dari luar daerah pabean ke Indonesia.12

G. Hipotesis

Dari rumusan masalah diatas dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut;

1. Hipotesis 1 (H1) = Komoditas ekspor unggulan Jawa Timur yang meliputi;

perhiasan/permata, lemak dan minyak hewani/nabati, bahan kimia organik, kayu dan barang dari kayu, serta ikan dan udang memiliki nilai RCA (Revealed Comparative Advantege) lebih dari 1 yang berarti komoditas ekspor Jawa Timur memiliki keunggulan komparatif jika dibandingkan dengan komoditas yang sama dengan beberapa provinsi lain di Indonesia.

2. Hipotesis 2 (H2) = Komoditas ekspor unggulan Jawa Timur yang meliputi;

perhiasan/permata, lemak dan minyak hewani/nabati, bahan kimia organik, kayu dan barang dari kayu, serta ikan dan udang memiliki nilai ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan) lebih dari 0 (nol) yang berarti nilai ekspor atas komoditas diatas lebih besar dari impor atas komoditas yang sama selama lima tahun terakhir.

12 www.beacukai.go.id/faq/pengertian-impor.html.

(32)

D. Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini membahas mengenai analisis daya saing ekspor di Provinsi Jawa Timur. Pendekatan Penelitian yang dipakai adalah pendekatan kuantitatif dengan data sekunder, yaitu penelitian yang menekankan pada pengujian teori-teori melalui pengukuran variabel- variabel dengan angka dan melakukan analisis data dengan prosedur statistik.13

2. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Penelitian ini menggunakan teknik dokumentasi. Metode dokumentasi merupakan suatu teknik untuk memperoleh data atau informasi mengenai berbagai hal yang ada kaitannya dengan penelitian dengan jalan melihat kembali laporan-laporan tertulis, baik berupa angka maupun keterangan (tulisan atau papan, tempat kertas dan orang). Pada penelitian ini metode dokumentasi dipakai untuk mengetahui data ekspor dan impor komoditas ekspor di Provinsi Jawa Timur yang diperoleh dari (BPS) Badan Pusat Statistik dan (Kominfo) Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Selain data-data laporan tertulis, untuk kepentingan penelitian ini juga digali berbagai data, informasi dan referensi dari berbagai sumber pustaka dan internet.

13 Sugiono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2016), Hal 7.

(33)

3. Analisis Data

Analisis data yang digunakan untuk mengukur daya saing ekspor Provinsi Jawa Timur adalah RCA (Revealed comparative advantage) dan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan).

a. RCA (Revealed Comparative Advantage).

Konsep RCA dikenalkan oleh Balassa, yang didasarkan atas kondisi bahwa keunggulan komparatif tercapai apabila suatu negara melakukan perdagangan dengan negara lain sehingga keunggulan komparatif diukur dengan cara (a) membandingkan bagian relatif dari ekspor suatu negara dipasar dunia, dan (b) menunjukkan perubahan relatif sepanjang waktu. Pada mulanya Balassa menggunakan dua konsep pemikiran, pertama: didasarkan pada rasio ekspor dan impor, dan yang kedua: pada prestasi ekspor relatif.

Dengan alasan bahwa impor lebih peka terhadap tingkat perlindungan tarif, dan pada perkembangan selanjutnya Balassa meninggalkan ukuran yang pertama. Balassa mengevaluasi prestasi ekspor masing- masing komoditi di negara-negara tertentu dengan membandingkan bagian relatif ekspor suatu negara dalam ekspor dunia.

RCA menunjukkan perbandingan antara pangsa ekspor komoditas suatu negara terhadap pangsa pasar ekspor komoditas tersebut dari seluruh dunia. RCA menunjukkan pada suatu kondisi dimana jika ekspor suatu daerah dari suatu jenis barang lebih tinggi daripada pangsa pasar barang yang sama didalam jumlah ekspor

(34)

nasional, berarti daerah tersebut memiliki keunggulan komparatif atas produksi dan ekspor dari barang tersebut. Nilai RCA antara nol dan lebih besar dari nol. Nilai 1 dianggap garis pemisah antara keunggulan dan ketidakunggulan komparatif. Lebih besar dari 1 berarti daya saing dari daerah yang bersangkutan untuk produk yang diukur diatas rata- rata cukup kuat. Formulasi perhitungan RCA :

RCA =

Keterangan:

Xij = Nilai ekspor komoditas i dari Jawa Timur Xj = Nilai total ekspor Jawa Timur

Xiw = Nilai ekspor komoditi i nasional.

Xw = Nilai total ekspor komoditi nasional. 14 b. ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan)

Indeks Spesialisasi Perdagangan merupakan suatu metode umum yang sering digunakan sebagai alat ukur tingkat daya saing.

Indeks ini digunakan untuk melihat apakah untuk suatu jenis barang, sebuah Negara/wilayah cenderung menjadi eksportir atau importir.

Secara implisit, indeks ini mempertimbangkan sisi permintaan dan penawaran (sajak ekspor-impor).

14 Op. Cit. Asmara Rosihah. Hal 25

(35)

ISP =

X = Ekspor M = Impor

i = Komoditas tertentu a = Negara

Nilai dari ISP adalah antara -1 dan +1. Jika nilai dari ISP (0 <

ISP ≤ 1), maka komoditas bersangkutan mempunyai daya saing yang kuat atau negara tersebut cenderung sebagai pengekspor komoditas tersebut (supply domestik lebih besar daripada permintaan domestik).

Sebaliknya, daya saing rendah atau cenderung sebagai pengimpor (supply domestik lebih kecil daripada permintaan domestik) jika nilai ISP negatif (-1≤ISP<0). Jika indeksnya naik berarti daya saingnya naik dan sebaliknya.15

H. Sistematika Pembahasan

Dalam penulisan penelitian ini, sistematika penulisan terbagi menjadi empat bab penulisan yang disusun sebagai berikut :

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini menjelaskan tentang latar belakang permasalahan dalam penelitian, tujuan dan alasan penulis melakukan penelitian ini. Bab ini juga menjelaskan tentang variabel, indikator penelitian serta dan sementara hasil penelitian serta tahapan penelitian yang digunakan dengan metode

15 Op. Cit. Asmara Rosihah. Hal 29-30.

(36)

perhitungan analisisnya. Bab ini terdiri dari beberapa sub bab, yakni latar belakang, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, ruang lingkup penelitian, definisi oprasional, hipotesis dan metode penelitian.

BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Bab ini menjelaskan tentang laporan hasil penelitian terdahulu dan teori-teori yang digunakan sebagai dasar acuan penelitian. Bab ini terdiri dari sub bab penelitian terdahulu dan landasan teori.

BAB III PENYAJIAN DATA DAN ANALISIS

Bab ini menjelaskan tentang hasil perhitungan dan analisis dari hasil perhitungan data ststistik. Bab ini terdiri dari sub bab gambaran obyek penelitian, penyajian data, analisis dan pengujian hipotesis dan pembahasan.

BAB IV PENUTUP

Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan akhir dari hasil pembahasan dan saran yang menyertai simpulan penelitian ini.

(37)

BAB II

TINJAUAN KEPUSTAKAAN A. Penelitian Terdahulu

1. Jurnal “Laju Pertumbuhan dan Analisa Daya Saing Ekspor Unggulan di Provinsi Kalimantan Selatan” tahun 2008 oleh Safriansyah. Komoditi yang diteliti adalah komoditi ekspor unggulan Kalimantan Selatan yaitu;

(1) karet alam; (2) kayu; (3) rotan; (4) tambang; (5) perikanan. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan data sekunder dari tahun 2003-2007.

Alat analisis menggunakan RCA (Revealed Comparative Advange), RCTA (Revealed Comparative Trade Advantage) dan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan). Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data, pertumbuhan ekspor di kalimantan selatan selalu meningkat. Tingkat rata-rata ekspor di kalimantan selatan adalah 25,4% sejak tahun 2003 hingga 2007 Sementara rata-rata tertinggi produk unggulan ekspor adalah 150, 01% untuk produk karet sedangkan tarif terendah rata-rata adalah - 3,06% untuk Rotan. Hasil perhitungan RCA hanya 2 komoditi yang memiliki nilai RCA lebih dari 1 yaitu produk kayu dan tambang. Analisis RCTA menyetakan ada 3 komoditi yang memiliki keunggulan komparatif yaitu komoditi tambang, karet alam dan perikanan.

Sedangkan dengan alat analisis ISP kelima komoditi ekspor unggulan memiliki daya saing.16

16 Safriansyah. “Laju Pertumbuhan dan Analisa Daya Saing Ekspor Unggulan di Provinsi Kalimantan Selatan” , Jurnal Ekonomi Pembangunan, Vol 8. No.2, Desember 2010. Hal 327-343.

(38)

2. Jurnal “Analisis Daya Saing Produk Ekspor Sumatera Utara” tahun 2010 oleh Budi Ramanda Bustami dan Paidi Hidayat. Komoditi yang diteliti adalah 10 komoditi ekspor unggulan Sumatera Utara yaitu; (1) udang;

(2) kerang dan sejenisnya segar dan dingin; (3) kopi; (4) tembakau; (5) getah karet alam; (6) lemak dan minyak nabati; (7) minyak dan lemak nabati olahan; (8) kayu lapis; (9) kayu olahan; (10) alumunium; (11) serta barang-barang perlengkapan pakaian bukan tekstil. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan data sekunder dari tahun 2000-2010. Alat analisis menggunakan RCA (Revealed Comparative Advange), RCTA (Revealed Comparative Trade Advantage) dan ISP (Indeks Spesialisasi Perdagangan). Dari hasil penelitian menggunakan metode RCA, hampir semua produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara memiliki daya saing, kecuali produk udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, produk kayu lapis dan produk kayu olahan yang daya saingnya dipasar internasional masih rendah. Berdasarkan metode RCTA, tingkat daya saing produk ekspor Provinsi Sumatera Utara memiliki hasil yang berbeda dengan metode RCA. Produk ekspor unggulan Provinsi Sumatra Utara dengan metode RCTA terdapat pada produk tembakau, minyak, lemak nabati dan hewani olahan, produk alumunium dan produk barang- barang dan perlengkapan pakaian, bukan tekstil. Produk kopi, getah karet alam, dan produk lemak dan minyak nabati berdasarkan metode RCA memiliki daya saing, tetapi dengan metode RCTA memiliki daya saing yang rendah. Kondisi ini mengindikasikan produk tersebut memiliki

(39)

persaingan kuat dengan produk impor yang masuk ke Provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan metode ISP yang memperoleh nilai positif memperlihatkan semua produk ekspor unggulan cenderung di ekspor, walaupun ada beberapa produk ekspor yang daya saingnya lemah, seperti udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, kayu lapis dan kayu olahan.17

3. Skripsi “Analisis Daya Saing Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Ekspor Mutiara” oleh Fitri Karlinda tahun 2012, Departemen Ilmu Ekonomi Fakultas Ekonomi Dan Manajemen, IPB. Komoditi yang diteliti adalah komoditi mutiara. Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan data sekunder dari tahun 2009-2011. Alat analisis menggunakan RCA (Revealed Comparative Advange) dan EDP (Export Product Dynamics). Berdasarkan analisis daya saing melalui analisis RCA didapatkan hasil bahwa mutiara Indonesia di Negara Australia sebesar 16.031, Hongkong 5.718 dan Jepang 2.999 yang berarti nilai (RCA>1) memiliki keunggulan komparatif atau daya saing yang kuat. Sedangkan melalui analisis Export Product Dynamics (EPD), didapatka hasil bahwa posisi daya saing mutiara Indonesia di Negara Australia, dan Jepang berada pada posisi rising star. Sedangkan di Negara Hongkong berada pada posisi falling star. Dari kedua analisis daya saing tersebut

17 Budi Ramanda Bustami dan Paidi Hidayat. “Analisis Daya Saing Produk Ekspor Provinsi Sumetera Utara”. Jurnal Ekonomi dan Keuangan,Vol.1. No. 2, Januari 2013. Hal 56-70.

(40)

menunjukkan bahwa mutiara Indonesia memiliki daya saing yang kuat dan mengalami peningkatan ekspor ke Negara Jepang dan Australia.18 4. Jurnal “Analisis Daya Saing Ekspor Komoditi Unggulan Non Migas di

Provinsi Sumatera Selatan” tahun 2014 oleh Anton Trianto. Komoditi yang diteliti adalah komoditi ekspor non migas Sumatera Selatan yaitu;

(1) karet; (2) sawit (CPO); (3) batubara; (4) kayu/produk dari kayu; (5) udang; (6) kopi; (7) teh . Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan data sekunder dari tahun 2009-2013. Alat analisis menggunakan RCA (Revealed Comparative Advange). Berdasarkan perhitungan RCA terhadap tujuh komoditi unggulan ekspor non migas Sumatera Selatan didapat bahwa hanya komoditi karet dan batubara yang dapat dikategorikan sebagai komoditi yang memiliki daya saing yang cukup tinggi. Rata-rata nilai RCA komoditi karet dan batubara selama tahun 2005-2013 adalah 17.20 dan 1.31. angka tersebut di atas nilai 1 yang berarti komoditi tersebut memiliki daya saing yang baik. Sementara komoditi unggulan non migas lainnya udang, teh dan kopi memiliki RCA 0,96, 0,95 dan 0,99. Angka ini masih belum mencapai angka 1 namun memiliki daya saing yang cukup baik. Sedangkan komoditi CPO dan kayu/ produk kayu, memliki nilai rata-rata RCA sebesar 0,77 dan

18 Fitria Karlinda. “Analisis Daya Saing dan Faktor yang Mempengarungi Permintaan Ekspor Mutiara Indonesia”. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB. 2012. Hal 40-48.

(41)

0,69. Berdasarkan angka tersebut, berarti 2 komoditi tersebut merupakan komoditi yang kurang memiliki daya saing.19

5. Jurnal “Analisis Daya Saing Komoditi Ekspor Unggulan Indonesia Di Pasar Internasional” oleh Farid Ustriaji dkk tahun 2015. Komoditi yang diteliti adalah komoditi ekspor unggulan Indonesia yaitu; (1) tekstil dan produk tekstil; (2) elektronik; (3) karet dan produk karet; (4) sawit dan produk sawit; (5) produk hasil hutan; (6) alas kaki; (7) otomotif; (8) udang; (9) kakao; (10) kopi . Jenis penelitian adalah kuantitatif dengan data sekunder dari tahun 2010-2014. Alat analisis menggunakan RCA (Revealed Comparative Advange). Dari hasil penelitian dengan perhitungan RCA menunjukkan bahwa industri sawit, hasil hutan, alas kaki, kakao, kopi, karet dan tekstil tahun 2010-2014 (RCA>1) artinya ekspor tersebut memiliki daya saing diatas daya saing rata-rata dunia.

Nilai tertinggi pada industri sawit pada tahun 2014 dengan nilai RCA 54,28. Sedangkan elektronik dan otomotif di tahun 2012-2014 (RCA<1) artinya ekspor tersebut memiliki daya saing yang lemah. Dan industri udang tahun 2010-2011 (RCA>1) artinya memiliki daya saing diatas rata-rata daya saing dunia. Tahun 2012-2014 (RCA<1) artinya ekspor tersebut memiliki daya saing yang lemah.20

6. Skripsi “Analisis Daya Saing Komoditas Ekspor Indonesia” oleh Sri Rahayu Utami tahun 2017. Komoditas yang diteliti merupakan 5

19 Anton Trianto. “Analisis Daya Saing Ekspor Komoditi Unggulan Non Migas di Provinsi Sumetera Selatan”. Jurnal Ekonomi Pembangunan. Vol.1 No. 2, 2014. Hal 45-58.

20 Farid Ustriaji. “Analisis Daya Saing Komoditi Ekspor Unggulan Indonesia di Pasar Internasional”. Jurnal Ekonomi Pembangunan Vol. 14, No.02, Desember 2016. Hal 150-158.

(42)

komoditas unggulan Indonesia yaitu udang, kopi, kakao, karet alam dan kelapa sawit. Penelitia ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan data sekunder time series periode 2011-2015, jenis data yang digunakan merupakan data nilai total ekspor seluruh komoditas ekspor Indonesia dengan data pembandingnya adalah realisasi nilai ekspor seluruh komoditas dunia. Alat penelitiannya menggunakan RCA (revealed comparative advantage). Hasil analisis RCA menunjukkan komoditi udang, kopi dan kakao memiliki daya saing lemah (>1) yang berarti posisi daya saing Indonesia masih dibawah negara-negara pesaing lainnya. Untuk komoditas karet alam dan sawit memiliki daya saing kuat (<1) yang berarti posisi daya saing Indonesia di atas negara-negara pesaingnya untuk 2 komoditas tersebut.21

7. Skripsi “Sistem Jual Beli Padi Menggunakan Panjar Menurut Perspektif Hukum Ekonomi Islam” oleh Riskatul Hasanah tahun 2017. Komoditi yang diteliti adalah padi di Desa Sukamakmur Kecamatan Ajung Kabupaten Jember. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Analisis data menggunakan deskriptif normatif dan keabsahan data menggunakan triangulasi sumber. Hasil penelitian bahwa praktek jual beli padi menggunakan panjar yangn dilakukan di Desa Sukamakmur Kecamatan Ajung Kabupaten Jember

21 Sri Rahayu Utami. “Analisis Daya Saing Komoditas Ekspor Indonesia”. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Alaudin Makassar. 2017. Hal 45-70.

(43)

bermula dari pembeli yang kerumah penjual untuk menawar padi petani, namun adakalanya penjual yang mendatangi pembeli . setelah tawar- menawar terjadi terjadilah pembeli memberikan uang panjar yang disepakati keduanya dan sisa uang pelunasan akan diberikan saat padi panen. Apabila jual beli dilanjutkan maka uang panjar akan masuk dalam harga pembayaran. Namun, jika dibatalkan pembeli maka uang akan hangus. Hukum jual beli seperti panjar dinyatakan dilarang oleh syariat karena termasuk dalam gharar karena terdapat unsur ketidakpastian didalamnya.22

8. Skripsi “Analisis Daya Saing Ekspor Kakao Indonesia” oleh Luthfi Ikhtiari tahun 2018. Komoditi yang diteliti merupakan komoditi kakao Indonesia selama tahun 2012-2016 dengan pembanding ekspor kakao dari Pantai Gading, Ghana, Nigeria Dan Kamerun. Alat nalisis menggunakan analisis Revealed Comparative Advantage (RCA) dan Revealed Symmetric Comparative Advantage (RSCA). Dari hasil analisis RCA kakao Indonesia memiliki nilai RCA lebih dari 1 yang artinya memiliki daya saing yang kuat di pangsa pasar dunia. Hasil perhitungan RSCA menunjukkan komoditi kakao Indonesia selama lima tahun terakhir memiliki nilai RSCA yang lebih besar dari 0 artinya kakao Indonesia mampu bersaing dipasar dunia karena memiliki keunggulan

22 Riskatul Hasanah. “Sistem Jual Beli Menggunakan Panjar Menurut Perspektif Hukum Ekonomi Islam”. Skripsi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam IAIN Jember. 2017. Hal 40-71.

(44)

komparatif dan terspesialisasi pada produk kakao. Artinya Indonesia bisa memproduksi kakao lebih murah dibandingkan dengan negara lain.23

Tabel 2.1

Persamaan dan Perbedaan Penelitian Terdahulu

No Judul Persamaan Perbedaan

1 Analisa Daya Saing Ekspor Unggulan Di Provinsi

Kalimantan Selatan tahun 2008 oleh Safriansyah.

1) Menggunakan data sekunder.

2) Jenis penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif.

3) Menggunakan teori

keunggulan komparatif.

1) Produk yang diteliti merupakan produk unggulan kalimantan selatan , sedangkan peneliti produk non migas jawa timur menurut HS 2 digit.

2) Alat analisis data menggunakan RCA dan

RCTA. Penulis

menggunakan RCA dan ISP.

3) Hasil perhitungan RCA komoditi kayu dan tambang memiliki daya saing. Analisis RCTA menyetakan ada 3 komoditi yang memiliki keunggulan komparatif yaitu komoditi tambang, karet alam dan perikanan. Sedangkan dengan alat analisis ISP kelima komoditi ekspor unggulan memiliki daya saing. Sedangkan hasil penelitian sekarang perhitungan RCA menunjukkan daya saing ekspor yang kuat kecuali komoditi lemak dan minyak hewani/nabati.

Hasil ISP menunjukkan kelima komoditi

23 Luthfi Ikhtiari. “Analisis Daya Saing Ekspor Kakao Indonesia”. Skripsi Fakultas Ekonomi UII Yogyakarta. 2018. Hal 24-55.

(45)

unggulan ekspor memiliki daya saing yang kuat.

2 Analisis Daya Saing Produk Ekspor

Sumatera Utara tahun 2010 oleh Budi Ramanda Bustami dan Paidi Hidayat.

1) Data yang digunakan sama-sama menggunakan data sekunder.

2) Jenis penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif.

1) Produk ekspor yang diteliti berdasarkan SITC (Satandart international trade classification) dan peneliti berdasarkan produk non migas HS (Harmonized System) 2 digit.

2) Alat analisis data menggunakan RCA dan

RCTA. Penulis

menggunakan RCA dan ISP.

3) Dari hasil penelitian menggunakan metode RCA, hampir semua produk ekspor unggulan Provinsi Sumatera Utara memiliki daya saing, kecuali produk udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, produk kayu lapis dan produk

kayu olahan.

Berdasarkan metode RCTA, tingkat daya saing produk ekspor Provinsi Sumatera Utara terdapat pada produk tembakau, minyak, lemak nabati dan hewani

olahan, produk

alumunium dan produk barang-barang dan perlengkapan pakaian, bukan tekstil. Produk kopi, getah karet alam, dan produk lemak dan

minyak nabati

Berdasarkan metode ISP yang memperoleh nilai positif memperlihatkan semua produk ekspor

(46)

unggulan cenderung di ekspor, walaupun ada beberapa produk ekspor yang daya saingnya lemah, seperti udang, kerang dan sejenisnya segar atau dingin, kayu lapis dan kayu olahan.Sedangkan hasil penelitian sekarang perhitungan RCA menunjukkan daya saing ekspor yang kuat kecuali komoditi lemak dan minyak hewani/nabati.

Hasil ISP menunjukkan kelima komoditi unggulan ekspor memiliki daya saing yang kuat.

3 Analisis Daya Saing Dan Faktor-Faktor Yang

Mempengaruhi Permintaan Ekspor Mutiara oleh Fitri Karlinda tahun 2012.

1) Data yang digunakan sama-sama menggunakan data sekunder.

2) Jenis penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif.

3) Menggunakan teori

keunggulan komparatif.

1) Objek penelitian terdahulu merupakan produk mutiara Indonesia sedangkan peneliti saat ini produk non migas Jawa Timur.

2) Alat peneliti tedahulu menggunakan RCA dan EDP, sedangkan peneliti sekarang menggunakan RCA dan ISP.

3) Hasil penelitian terdahu melalui analisis RCA menunjukkan komoditi mutiara memiliki daya saing yang kuat dan analisis Export Product Dynamics (EPD), didapatka hasil bahwa posisi daya saing mutiara Indonesia di Negara Australia, dan Jepang berada pada posisi rising star. Sedangkan di Negara Hongkong berada pada posisi falling star.

(47)

Sedangkan hasil penelitian sekarang perhitungan RCA menunjukkan daya saing ekspor yang kuat kecuali komoditi lemak dan minyak hewani/nabati.

Hasil ISP menunjukkan kelima komoditi unggulan ekspor memiliki daya saing yang kuat.

4 Analisis Daya Saing Ekspor Komoditi Unggulan Non

Migas di

Provinsi Sumatera Selatan tahun 2014 oleh Anton Trianto

1) Menggunakan data sekunder.

2) Jenis penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif.

3) Objek penelitian merupakan produk ekspor non migas.

4) Menggunakan teori

keunggulan komparatif.

1) Alat analisis data peneliti terdahulu menggunakan

RCA, penulis

menggunakan RCA dan ISP.

2) Hasil penelitian terdahulu berdasarkan perhitungan RCA terhadap tujuh komoditi unggulan ekspor non migas Sumatera Selatan didapat bahwa hanya komoditi karet dan batubara yang memiliki keunggulan komparatif.

Sedangkan hasil penelitian sekarang perhitungan RCA menunjukkan daya saing ekspor yang kuat kecuali komoditi lemak dan minyak hewani/nabati.

Hasil ISP menunjukkan kelima komoditi unggulan ekspor memiliki daya saing yang kuat..

(48)

5 Analisis Daya Saing

Komoditi Ekspor Unggulan Indonesia di Pasar

Internasional oleh Farid Ustriaji dkk tahun 2015.

1) Data yang digunakan sama-sama menggunakan data sekunder.

2) Jenis penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif.

3) Menggunakan teori

keunggulan komparatif.

1) Objek penelitian terdahulu merupakan produk unggulan Indonesia, sedangkan peneliti saat ini produk non migas Jawa Timur.

2) Alat analisis data peneliti terdahulu menggunakan analisis pertumbuhan dan RCA, sedangkan peneliti saat ini menggunakan RCA dan RCTA.

3) Dari hasil penelitian dengan perhitungan RCA menunjukkan bahwa industri sawit, hasil hutan, alas kaki, kakao, kopi, karet dan tekstil tahun 2010-2014 (RCA>1) artinya ekspor tersebut memiliki daya saing diatas daya saing rata-rata dunia. . Sedangkan elektronik dan otomotif di tahun 2012- 2014 (RCA<1) artinya ekspor tersebut memiliki daya saing yang lemah.

Dan industri udang tahun 2010-2011 (RCA>1) artinya memiliki daya saing diatas rata-rata daya saing dunia. Tahun 2012-2014 (RCA<1) artinya ekspor tersebut memiliki daya saing yang lemah. Sedangkan hasil penelitian sekarang perhitungan RCA menunjukkan daya saing ekspor yang kuat kecuali komoditi lemak dan minyak hewani/nabati.

Hasil ISP menunjukkan kelima komoditi unggulan ekspor

(49)

memiliki daya saing yang kuat.

6 Analisis Daya Saing

Komoditas Ekspor Indonesia”

oleh Sri

Rahayu Utami tahun 2017.

1) Menggunakan data sekunder 2) Menggunakan

jenis penelitian deskriptif kuantitatif.

1) Objek penelitian terdahulu adalah komoditas ekspor unggulan Indonesia, sedangkan peneliti komoditas ekspor Jawa Timur.

2) Alat analisis menggunakan RCA sedangkan peneliti sekarang menggunakan RCA dan ISP.

3) Hasil analisis RCA menunjukkan komoditi udang, kopi dan kakao memiliki daya saing lemah (>1) yang berarti posisi daya saing Indonesia masih dibawah negara-negara pesaing lainnya. Untuk komoditas karet alam dan sawit memiliki daya saing kuat (<1) yang berarti posisi daya saing Indonesia di atas negara- negara pesaingnya untuk 2 komoditas tersebut.

Sedangkan hasil penelitian sekarang perhitungan RCA menunjukkan daya saing ekspor yang kuat kecuali komoditi lemak dan minyak hewani/nabati.

Hasil ISP menunjukkan kelima komoditi

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan: Daya saing ekspor karet alam Provinsi Jawa Tengah yang ditinjau dari keunggulan kompetitif dengan menggunakan analisis XCI (Export

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis daya saing ekspor pada sektor dan komoditas Indonesia apabila dibandingkan dengan negara ASEAN-5 di pasar

Data yang digunakan berupa data volume dan nilai ekspor krisan Indonesia, ekspor krisan dunia, serta ekspor krisan dari empat negara eksportir krisan lainnya di ASEAN yaitu

regresi linear berganda untuk pengaruh volume ekspor kayu Indonesia, kurs rupiah terhadap dollar Amerika Serikat dan PDB Amerika Serikat terhadap nilai ekspor

Nilai ekspor kepiting yang dimaksud dalam penelitian ini adalah realisasi nilai ekspor pada komoditi kepiting Provinsi Bali dari tahun 2000-2013 yang secara operasional

1) Perkembangan ekspor komoditas lada Indonesia yang ditunjukan dengan volume dan nilai ekspor di pasar internasional berfluktuasi, dalam periode 2001-2010 nilai

Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan; a Kinerja produksi komoditas kelapa sawit Sumatera Utara mengalami fluktuasi dalam 10 tahun terakhir; b Kinerja ekspor kelapa sawit menunjukkan

Komoditas udang vaname merupakan komoditas strategis dalam perdagangan internasional, sehingga perlu adanya penanganan yang tepat dalam peningkatan daya saing ekspor udang vaname agar