• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis eksekutorial putusan mahkamah konstitusi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "analisis eksekutorial putusan mahkamah konstitusi"

Copied!
43
0
0

Teks penuh

Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan uji materi yang diajukan Muhammad Hafiz melalui putusan dengan nomor perkara 30/PUU-XVI/2018 yang intinya melarang pengurus partai politik mencalonkan diri sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) yang berlaku. dari Pemilu 2019. Jika diurai. Selanjutnya, keputusan Mahkamah Konstitusi sebagaimana tertuang dalam UU Nomor 12 Tahun 2011 hendaknya ditindaklanjuti oleh DPR atau Presiden melalui revisi undang-undang tersebut. Sehingga keabsahan peraturan KPU tersebut harus dianalisa lebih lanjut, apakah sesuai dengan keabsahan peraturan perundang-undangan yang berlaku atau sebaliknya.

Penelitian ini mencoba menjawab pertanyaan; Bagaimana kedudukan putusan Mahkamah Konstitusi dalam sistem hukum di Indonesia? Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedudukan putusan Mahkamah Konstitusi dalam sistem hukum di Indonesia secara substantif esensial dalam hukum, sesuai dengan Pasal 10 huruf (d) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Adapun tindak lanjut dari putusan tersebut nomor 30/PUU -XVI/2018 Mahkamah Konstitusi harus dilaksanakan oleh DPR atau Presiden sesuai dengan ketentuan Pasal 10 ayat (2) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011.

Namun kedua lembaga negara tersebut belum melakukan revisi terhadap UU No. 7 Tahun 2017 tentang pemilu. Belum adanya peraturan perundang-undangan yang mengatur instrumen yang dapat menetapkan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi harus dilaksanakan membuat pelaksanaan putusan Mahkamah Konstitusi sangat bergantung pada lembaga negara lainnya. Dalam hal ini, eksekusi putusan Mahkamah Konstitusi no. 30/PUU-XVI/2018 sangat bergantung pada kemauan politik DPR dan Presiden.

Nama-nama penerbit di Indonesia yang menggunakan kata Arab, misalnya Mizan, Hidayah, Taufiq, Al-Ma'arif dan lain sebagainya.

نيحرلا نوحرلا للها نسب

Rumusan Masalah

Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Diharapkan penelitian ini bermanfaat dan bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu hukum ketatanegaraan atau Siyasah, serta menambah referensi ilmu pengetahuan pada umumnya. Penelitian ini diharapkan bermanfaat dalam memberikan jawaban atas permasalahan yang diteliti, dan diharapkan dapat memberikan informasi bagi penelitian terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi dan ketatanegaraan atau siyasah.

Telaah Pustaka

Pertama, tesis yang disusun Khoirul Aziz “Keputusan MK nomor 30/PUU-XVI/2018 tentang calon anggota DPD dari sudut pandang Maslahah”. 12 Tesis ini membahas tentang dampak yang terjadi pasca putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30/PUU-XVI/2018 terhadap calon anggota PDSH dan KPU. Dan juga dampaknya terhadap pemerintah adalah munculnya distorsi politik berupa keterwakilan ganda jika anggota DPD kemungkinan besar berasal dari pengurus partai politik. Dan keberadaan pengurus partai politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah telah mengubah tujuan (keterwakilan teritorial) pembentukan lembaga ini.

Kedua, tesis yang disusun oleh Tenri Wulan Aris, SH “Desain Eksekutif Putusan Mahkamah Konstitusi dalam Kaitannya dengan Pengujian Undang-Undang (Kajian tentang Negasi Putusan Mahkamah Konstitusi dengan Putusan Mahkamah Agung)” . 13 Tugas ini berkaitan dengan desain eksekutif terhadap putusan Mahkamah Konstitusi. dalam meninjau undang-undang. Dimana banyak terjadi kasus penolakan terhadap putusan Mahkamah Konstitusi oleh lembaga negara, termasuk Mahkamah Agung. 13 Tenri Wulan Aris, SH, “Desain Eksekutif Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Pengujian Undang-Undang (Studi tentang Penyangkalan Putusan Mahkamah Konstitusi Oleh Putusan Mahkamah Agung),” Program Diploma Magister Hukum, Universitas Islam Indonesia, 2020.

Yasin Al-Arif dan Hasanuddin Muhammad bertajuk “Pembersihan Anggota DPRD menyusul Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 30/PUU-XVI/2018 tentang Perkembangan Pemilu di Indonesia, Khususnya Pemilu Anggota DPD yang dibatasi pada dua persoalan pokok. Pertama, implikasi hukum dari putusan Mahkamah Konstitusi No.30/PUU-XVI/2018 tentang pencalonan DPD dan urgensi penegasan anggota DPD RI bebas menjadi anggota partai politik.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa akibat hukum yang timbul setelah keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi no. 30/PUU-XVI/2018, perubahan mekanisme pendaftaran calon anggota pemilihan anggota DPD dan perlunya kepastian anggota DPD bebas. tujuan partai politik adalah menghindari keterwakilan ganda dan memperkuat prinsip checks and balances antara DPD dan DPR.

Kerangka Teori

Secara teoritis tatanan peraturan hukum dapat dikaitkan dengan ajaran Hans Kelsen tentang Stufenbau Des Recht atau Hierarki Hukum yang menjelaskan bahwa peraturan hukum merupakan suatu susunan yang berlapis-lapis dan setiap peraturan hukum yang lebih rendah timbul dari peraturan yang lebih tinggi. Untuk lebih memahami teori Stufenbau des Recht harus dikaitkan dengan ajaran Kelsen lainnya yaitu Reine Rechtslehre atau Teori Hukum Murni.16 Adanya suatu tatanan atau hierarki pengaturan hukum dalam suatu sistem hukum sesuai dengan apa yang dikemukakan Hans. Kelsen, sebagai hierarki norma (stufenbau des Recht). Oleh karena itu, ini bukanlah suatu sistem standar yang terkoordinasi, yang seolah-olah saling bersebelahan pada tingkat yang sama, namun suatu hierarki dari tingkat standar yang berbeda. ketertiban hukum, .. oleh karena itu bukanlah suatu sistem norma-norma yang terkoordinasi, yang seolah-olah berdiri berdampingan pada tingkat yang sama, tetapi suatu hierarki dari tingkat-tingkat norma yang berbeda)”.17. Keberadaan sistem hukum bukanlah suatu sistem aturan-aturan hukum yang saling berhubungan dalam kedudukan yang setara, melainkan suatu hierarki aturan-aturan yang derajatnya berbeda-beda.

Artinya standar yang lebih rendah berlaku, timbul dan didasarkan pada standar yang lebih tinggi, berlaku standar yang lebih tinggi, timbul dan didasarkan pada standar yang lebih tinggi lagi, dan seterusnya sampai suatu standar yang tidak dapat direduksi menjadi definitif, yaitu standar dasar. standar (Grundnorm).18. Selain itu, menurut Nawiasky, norma hukum tersebut tidak hanya berlapis-lapis, tetapi juga Stufenformig (berbentuk kerucut atau seperti stupa).19. Sebagai implementasi teori hierarki dalam sistem hukum Indonesia, hal ini dapat dilihat pada ketentuan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Hukum.

Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945; (b) Resolusi Majelis Permusyawaratan Rakyat; (c) Undang-undang/Peraturan Kerajaan bukannya undang-undang; (d) Peraturan Kerajaan; (e) Peraturan Presiden; (f) Peraturan Daerah Wilayah; dan (g) Peraturan Daerah/Bandar. Jika dilihat dari sisi yang lain, fiqh siyasah dusturiyyah dapat dibagi menjadi empat bidang: Pertama, bidang siyasah tesyri'iyah, termasuk di dalamnya masalah ahl al-hall wa al 'aqd, perwakilan urusan orang, hubungan. . antara orang Islam dan bukan Islam dalam sesebuah negara, seperti Perlembagaan, undang-undang, peraturan pelaksanaan, peraturan daerah, dll. Kedua, bidang siyasah tanfidijah, antaranya masalah imamah, masalah bay’ah, wuzara, walij al-ahdi dan lain-lain.

Jenis penelitian ini adalah penelitian kepustakaan. Penelitian diperoleh dari berbagai sumber seperti buku, jurnal, majalah, manuskrip, dokumen dan lain sebagainya. 24. Penelitian ini bersifat deskriptif-analitis, yaitu penelitian dengan cara mengumpulkan data kemudian mendeskripsikan, mengklarifikasi dan menganalisis secara mendalam dan komprehensif permasalahan yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.25 Penulis kemudian mencari dan mengumpulkan data dengan menggunakan mengenai keputusan dan tindak lanjutnya. ke atas. dalam putusan Mahkamah Konstitusi Nomor .30/PUU-XVI/2018. Observasi atau observasi adalah suatu kegiatan yang melibatkan pencatatan fenomena secara sistematis.26 Dalam hal ini penulis menggunakan pendekatan normatif yang menjadi fokus penelitian ini yaitu Putusan Mahkamah Hukum dan Konstitusi Nomor 30/PUU-XVI. /2018 dalam perspektif .

Pendekatan ini merupakan pendekatan yang dilakukan dengan melakukan pendekatan terhadap permasalahan hukum, norma kemudian mengkaji buku-buku, jurnal dan ketentuan hukum yang relevan dengan permasalahan yang diteliti.Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif yaitu dengan cara menganalisis dan mendeskripsikan data yang dikumpulkan. dari pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus. Setelah data dianalisis dan diuraikan melalui pendekatan perundang-undangan dan pendekatan kasus, maka dapat ditarik kesimpulan untuk data yang spesifik.

Sistematika Pembahasan

Bab ini memuat uraian mengenai putusan dan dampak putusan Mahkamah Konstitusi terhadap pencalonan anggota DPD RI. Bab keempat merupakan pembahasan hasil analisis terhadap Putusan Eksekutif Mahkamah Konstitusi Nomor 30/PUU-XVI/2018. Bab kelima merupakan bab terakhir yang akan memaparkan kesimpulan hasil penelitian dan rekomendasi berdasarkan hasil penelitian.

Kedudukan putusan Mahkamah Konstitusi dalam peraturan perundang-undangan adalah sebagai materi substantif undang-undang sebagaimana diatur dalam Pasal 10 huruf (d) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Keputusan KPU tersebut menyusul keputusan Mahkamah Konstitusi yang menyetujui PKPU Nomor 26 Tahun 2018 berdasarkan UU Pemilu. Jika dilihat dari sudut siyasah dusturiyah, berdasarkan asas legalitas, KPU tidak berwenang mengikuti putusan Mahkamah Konstitusi, karena dalam Pasal 10 huruf (d) Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan menjelaskan bahwa salah satu materi substantif yang wajib diatur dengan undang-undang adalah sebagai berikut: Putusan Mahkamah Konstitusi. Sedangkan kedudukan KPU dalam hierarki peraturan perundang-undangan berada di bawah undang-undang. Kelanjutan putusan Mahkamah Konstitusi nomor 30/PUU-XVI/2018 harus dilakukan oleh DPSH dan Presiden.

Belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai instrumen pelaksana putusan mahkamah konstitusi yang harus dilaksanakan, sehingga pelaksanaan putusan mahkamah konstitusi sangat bergantung pada lembaga negara lainnya. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan putusan Mahkamah Konstitusi seringkali tidak dihormati atau bahkan diabaikan oleh lembaga yang bersangkutan.

Saran

Perlu dibuat aturan mengenai mekanisme atau prosedur hukum agar putusan Mahkamah Konstitusi dapat dilaksanakan dan diberikan sanksi kepada pihak yang menyikapi putusan tersebut maupun yang tidak mau melaksanakan putusan tersebut. Salah satu caranya adalah dengan merevisi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2020 tentang Mahkamah Konstitusi. Hasbi Ash-Shiddieqy: Sumber Hukum Islam dan Relevansinya dengan Pemikiran Hukum Islam di Indonesia”, Jurnal Al-Ahwal, Vol.1, No.1. Tindak lanjut putusan Mahkamah Konstitusi yang bersifat konstitusional bersyarat dan mengandung norma baru”, Jurnal Konstitusi, Vol.12, No.3, September.

Desain Eksekutif Putusan Mahkamah Konstitusi Tentang Judicial Review Undang-Undang (Menelaah Negasi Putusan Mahkamah Konstitusi Oleh Putusan Mahkamah Agung)". "Kedudukan dan Kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam Sistem Hukum Konstitusi Indonesia" Jurnal Reformasi Hukum, Vol.II, No.2.

Referensi

Dokumen terkait

Lebih lanjut menurut Mahkamah, berdasarkan Pasal 58 UU MK yang berbunyi, ”Undang-undang yang diuji oleh Mahkamah Konstitusi tetap berlaku, sebelum ada putusan yang

Dalam Pasal 51 ayat (1) Undang-undang Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi, sebagaimana yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 8 Tahun 2011, menyatakan

Tindak lanjut atas putusan Mahkamah Konstitusi oleh bukan addressat utama yaitu pembentuk undang-undang justru menimbulkan masalah baru dan produknya tersebut

Dengan demikian, putusan Mahkamah Konstitusi, yang merupakan putusan hakim mengalahkan Undang-Undang Kekuasaan Kehakiman dan Undang-Undang Mahkamah Agung, di mana ketentuan

Dalam hal putusan Mahkamah Konstitusi atas pengujian undang-undang yang mengabulkan permohonan Pemohon yang amar putusannya menyatakan bahwa materi muatan ayat, pasal,

apabila putusan Mahkamah Konstitusi menyangkut pengujian undang- undang menyatakan bahwa suatu undang-undang tidak memiliki kekuatan mengikat karena bertentangan dengan

PENGARUH PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI TERHADAP PERUBAHAN UNDANG-UNDANG NOMOR 1 TAHUN 1974 TENTANG PERKAWINAN TINJAUAN PUTUSAN MAHMAKAH KONSTITUSI NOMOR 46/PUU-VIII/2010 DAN PUTUSAN

Dokumen ini berisi Putusan Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia terkait pengujian Undang-Undang Pemilihan