Alhamdulillah, peneliti panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala nikmat dan hidayah-Nya, sehingga skripsi ini berjudul “Mekanisme pelaksanaan ganti kerugian bagi terpidana dengan pembebasan dari sudut pandang hukum positif dan hukum pidana Islam (kepada keputusan nomor: 1/Pid.Pra/2022/PN Nga)' dapat diselesaikan. Mukhibbatul Khurriya, 2023: Mekanisme Pelaksanaan Reparasi Narapidana Bebas Putusan Dalam Perspektif Hukum Positif dan Hukum Pidana Islam (Tentang Putusan Nomor: 1/Pid.Pra/2022/PN Nga). Berdasarkan data pada direktori putusan Mahkamah Agung, ditemukan banyak permohonan ganti rugi di Indonesia yang tidak dikabulkan, sehingga peneliti fokus pada salah satu putusan yang memberikan ganti rugi, yaitu putusan nomor: 1/Pid.Pra/2022 /PN Tidak.
Permasalahan yang timbul dalam tata cara pemberian ganti rugi pada dasarnya tidak berhubungan dengan masalah tata cara khusus pembayaran ganti rugi sesuai dengan kewenangan PP No. 92 Tahun 2015. Teknik pengumpulan datanya menggunakan studi dokumen terkait aturan hukum positif yang berlaku terhadap ganti rugi. bagi terpidana dengan pembebasan. Hasil penelitian adalah : 1) Pertimbangan yuridis terhadap putusan mengacu pada ketentuan terpenuhinya alat bukti yang telah dilakukan terdakwa dalam tuntutan ganti ruginya, apabila tergugat dapat membuktikan hal tersebut maka sangat mungkin terjadi akan diberikan atas dasar keadilan dan keadilan hukum. 2) Mekanisme pelaksanaan ganti kerugian berdasarkan Hukum Positif terhadap orang yang dibebaskan masih menggunakan aturan lama yaitu berdasarkan KMK nomor 983/KMK.01/1983.
Dan pandangan hukum pidana Islam mengenai ganti rugi didasarkan pada luka dan penderitaan yang dialami sehubungan dengan perlindungan jiwa atau Hifdz An-Nafs.
- Latar Belakang
- Fokus Penelitian
- Tujuan Penelitian
- Manfaat Penelitian
- Definisi Istilah
- Sistematika Pembahasan
8 Martunis, “Studi Perbandingan Kompensasi dalam Qanun Jinayat dan KUHP Aceh,” (Skripsi, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2021), 45. Peneliti tertarik untuk mengangkat salah satu putusan tentang tuntutan ganti kerugian pada Putusan No. : 1/Pid.Pra/2022/PN.Nga dengan keputusan menerima permohonan ganti rugi yang telah diajukan. Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah peneliti kemukakan di atas, maka peneliti tertarik untuk mengkaji, meneliti, menganalisis permasalahan tersebut dalam suatu proposal penelitian yang berjudul “Mekanisme pelaksanaan pemberian ganti rugi terhadap terpidana dengan putusan bebas dalam perspektif hukum positif dan hukum pidana Islam. (Untuk Keputusan Nomor: 1/Pid.Pra/2022/PN Nga)".
Bagaimana mekanisme pemberian ganti rugi terhadap mereka yang diputus bebas berdasarkan kedudukan hukum positif dan hukum pidana Islam? Untuk mengetahui mekanisme pemberian santunan kepada narapidana yang telah keluar dari penjara berdasarkan pandangan hukum positif dan hukum pidana Islam. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan atau acuan penelitian dalam kajian ilmiah khususnya hukum pidana terkait mekanisme pelaksanaan ganti rugi terhadap terpidana bebas dari perspektif hukum positif dan pidana Islam. hukum.
Sedangkan arti perspektif yang lain adalah berkaitan dengan sudut pandang atau sudut pandang.18 Dalam hal ini adalah sudut pandang peneliti dalam kaitannya melihat perkara ganti rugi terhadap terpidana dengan pembebasan dari sudut pandang hukum positif dan sudut pandang yang lain. yaitu Hukum Pidana Islam.
Penelitian Terdahulu
Tesis Martunis, 2021.1 berjudul “Studi Banding Kompensasi Dalam Hukum Pidana Islam dan KUHP (KUHP)”. Permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah aturan mengenai ganti rugi dalam Qanun Jinayat dan KUHP serta perbedaannya. Analisis hukum kompensasi dan rehabilitasi bagi terdakwa yang dijatuhi hukuman bebas (Vrijspraak)”.
Fokus penelitiannya adalah bagaimana pengaturan kompensasi dan rehabilitasi terhadap seseorang yang dituduh dan dibebaskan. Lalu bagaimana proses pembayaran ganti rugi dan pemulihan nama baik terdakwa yang sudah dibebaskan? 3 Ade Wahyu Prasetyo, “Analisis Yudisial Terhadap Kompensasi dan Rehabilitasi Terdakwa yang Divonis Bebas (Acquittal)” (Skripsi, Universitas Muhammadiyah Metro, 2021).
Disertasi Della Damayanti, 2021.4 dengan Judul “Penerapan Santunan Terhadap Korban Penangkapan Melawan Hukum (Fault In Persona) Dalam Perkara Pidana Nomor 98/Pid.Pra/2016/PN JKT.Sel”. 4 Della Damayanti, “Penerapan Santunan Terhadap Korban Penangkapan Melawan Hukum (Fault In Persona) Dalam Perkara Pidana (Studi Kasus: Nomor Perkara 98/Pid.Pra/2016/PN JKT.Sel)” (Skripsi, UIN Syarif Hidayatullah. Skripsi dari Martunis pada tahun 2021 dengan judul “Studi Banding Kompensasi dalam Hukum Pidana Islam dan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)”.
Persamaannya sama dengan penelusuran proses pemberian ganti kerugian dan hambatan pelaksanaan putusan hakim acara pendahuluan mengenai ganti rugi. Bedanya, tesis ini fokus pada studi perbandingan kompensasi, sedangkan peneliti fokus pada mekanisme pemberian kompensasi dengan objek penelitian yaitu Putusan Nomor: 1/Pid.Pra/2022/PN Oleh Pengadilan Negeri. Fokus penelitian adalah pelaksanaan pemberian santunan terhadap korban salah tangkap dengan menggunakan dua perspektif yaitu hukum pidana Islam, sedangkan peneliti memfokuskan pemberian ganti rugi terhadap narapidana pembebasan dari perspektif hukum positif dan hukum pidana Islam.
Tesis Della Damayanti berjudul “Penerapan Santunan Bagi Korban Penangkapan Melawan Hukum (Kesalahan Pribadi) dalam Nomor Perkara Pidana”. Tesis ini berfokus pada kontroversi yang dihadapi dalam penegakan keputusan kompensasi bagi korban penahanan ilegal, sedangkan peneliti berfokus pada mekanisme kompensasi.
Kajian Teori
Jenis Penelitian
Pendekatan Penelitian
Sumber Bahan Hukum
Teknik Pengumpulan Bahan Hukum
Analisis Bahan Hukum
Pertimbangan Hakim Terhadap Putusan Pemberian Ganti Kerugian
Nomor Perkara: 1/Pid.Pra/2021/PN Nga ganti kerugian pemohon dalam perkara aquo adalah laki-laki bernama H.M. Besar kecilnya nominal ganti rugi merupakan pertimbangan hakim di pengadilan berdasarkan nilai imbalan atau ganti rugi kepada seseorang yang disangka melakukan tindak pidana dan juga pihak yang terlibat. Kisaran nilai ganti rugi kepada pihak yang menderita kerugian berdasarkan sebab minimal Rp 500.000 hingga Rp.
Kisaran nilai ganti rugi kepada pihak-pihak yang menderita kerugian karena sebab minimal sebesar Rp. Kisaran nilai ganti rugi kepada pihak yang dirugikan berdasarkan alasan yaitu minimal Rp hingga Rp yaitu berdasarkan alasan seseorang kehilangan nyawa atau meninggal dunia. Berdasarkan peraturan pemerintah terbaru tentang penerapan KUHAP, terdapat perubahan nilai ganti rugi yang menjadi lebih besar, namun peraturan baru ini tidak mengakomodasi besaran ganti rugi atas kerugian yang tidak bersifat materi atau tidak besar. dirasakan. oleh korban dan keluarganya.
Permohonan ganti kerugian (Pasal 95 KUHAP) dan permohonan rehabilitasi bagi seseorang yang perkara pidananya telah dihentikan pada tingkat penyidikan atau penuntutan (Pasal 97 KUHAP). Oleh karena keadaan-keadaan yang dialami oleh tersangka, keluarganya atau kuasa hukumnya, maka mereka mempunyai hak untuk menuntut ganti rugi berdasarkan tuntutan penangkapan atau penahanan tanpa melalui proses hukum atau kesalahan identifikasi tersangka atau kesalahan dalam penerapan peraturan hukum.9 Sementara itu. , pemohon dapat mengajukan permohonan rehabilitasi setelah membacakan putusan, kepada pengadilan paling lambat 14 hari setelah membacakan putusan kepada pemohon. 10. Putusan dengan ganti rugi atau ganti kerugian Maksudnya, putusan itu menentukan besar kecilnya ganti rugi yang harus dibayarkan kepada pihak yang ditangkap atau ditahan secara tidak sah.
Thoiyibi meminta ganti rugi praperadilan atas kerugian materil dan nonmateriil yang dideritanya di penjara. Agar tergugat dalam perkara ini dapat membuktikan kerugiannya di persidangan, sepanjang yang dituntutnya masih di bawah batas nominal tertinggi yang dapat dituntut, maka besar kemungkinan ganti rugi akan diberikan dengan jumlah di atas. UMR. Banding tidak dapat dilakukan, termasuk kasus aquo yang berkaitan dengan tuntutan ganti rugi.
Namun dalam praktiknya, hanya segelintir orang yang mengajukan tuntutan ganti rugi atas hak-hak mereka, yang dilanggar dalam proses pengadilan karena proses yang sulit dan ketidaktahuan terhadap mekanisme peradilan. Para peneliti juga menemukan bahwa sangat sedikit kasus ganti rugi yang diberikan dan jumlah nominal ganti rugi tidak sepadan dengan biaya yang dikeluarkan selama proses litigasi yang sedang berlangsung.
Mekanisme Pemberian Ganti Kerugian Terpidana Putus Bebas Berdasarkan
Kesimpulan
1/Pid.Pra/2022/PN Nga yang dimaksud dengan ketentuan pemenuhan alat bukti yang telah diambil oleh tergugat dalam tuntutan ganti rugi, apabila tergugat dapat membuktikannya maka besar kemungkinan dikabulkan pada dasar keadilan dan keadilan hukum. Karena belum adanya kepastian hukum mengenai peraturan pelaksanaan Menteri Keuangan mengenai mekanisme kompensasi sebagaimana diatur dalam PP no. Sedangkan dalam hukum pidana Islam, ganti rugi didasarkan pada luka dan penderitaan yang diderita sehubungan dengan perlindungan nyawa Hifdz An-Nafs.
Ketentuan mengenai besaran santunan (diyat) dalam Fiqih Jinayah tidak dijelaskan secara rinci, namun yang menjadi acuannya adalah kerugian akibat proses peradilan yang dijalani.
Saran
Kompensasi bagi tersangka, terdakwa dan terpidana dalam perspektif hak asasi manusia dan tanggung jawab negara. 34; Penyelesaian ganti rugi dalam perkara pidana berdasarkan penetapan praperadilan: kajian di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.” 34; Implementasi ganti kerugian terhadap korban salah tangkap (error in persona) dalam perkara pidana (Studi kasus: . Kasus nomor 98 /Pid.Pra/2016/PN JKT.Sel). Tesis : UIN Syarif Hidayatullah, 2021.
34; Kajian Komparasi Ganti Kerugian dalam Qanun Jinayat Aceh dan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). Tesis: Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2021. 34. Permasalahan Implementasi Kebijakan Rehabilitasi dan Kompensasi Narapidana Korban Penangkapan Melawan Hukum dalam Perspektif Hak Asasi Manusia." Lex Librum: Jurnal Ilmu Hukum, Vol 9 (Desember 2022). Setiawan Yuzak Eliezer dan Peter Jeremiah Setiawan, “Penegakan Hukum dalam Konsep Pemenuhan Kompensasi Negara Berdasarkan Kesalahan Penerapan Hukum.” Vol.
34;Analisis Pelaksanaan Santunan Terhadap Korban Salah Ditangkap Menurut Hukum Pidana Islam." Skripsi: Universitas Islam Negeri Walisongo, 2018. 34;Kepastian Hukum Pemberian Santunan Melalui Putusan Praperadilan (Studi Kasus Putusan Nomor 10/Pid.Pid .Pra./2022/PN .MTR).” Jurnal Birokrasi: Jurnal Hukum dan Tata Kelola Sosial Politik Indonesia, Vol.34;Masalah Tata Cara Eksekusi Ganti Kerugian Dalam Perkara Pidana.” Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, Vol.19, No.3, (September 2019).
Permohonan untuk menghukum Termohon I dan Termohon II karena berbuat salah dan salah menerapkan hukum terhadap Pemohon, karena Pemohon ditahan oleh Termohon I pada tanggal 07 Mei 2018 sampai dengan tanggal 05 Juli 2018, dilanjutkan oleh Termohon II pada tanggal 04 Juli 2018 sampai dengan tanggal 14 Oktober 2018. penahanan ini, pemohon mendapat uang pengganti sebesar Rp. Hak menuntut ganti rugi telah habis masa berlakunya karena melampaui batas waktu sebagaimana dimaksud berdasarkan pasal 7 ayat (1) PP 92 Tahun 2015. Selanjutnya, permohonan ganti rugi pemohon ditolak karena telah habis masa berlakunya sebagaimana dikutip berdasarkan pasal 7 pada ayat (1) PP 92 Tahun 2015.
Oleh karena itu, permohonan pemohon ditolak karena tidak memenuhi unsur dan persyaratan ketentuan ganti rugi. Ratio Decidendi Pendapat hakim, penangkapan yang dilakukan telah sesuai dengan sistem hukum, artinya ganti rugi yang diajukan tergugat dalam menjalankan proses penahanan terhadap pemohon harus ditolak.