LAPORAN AWAL
PRAKTIKUM PENGENDALIAN MUTU PRODUK MIGAS PENENTUAN KANDUNGAN TOLUENE DALAM PERTALITE DAN
PERTAMAX DENGAN UV-VIS Dr. Eng. Ir. Oksil Venriza, S.SI., M.Eng, IPU
Disusun oleh:
Melanesia Yuliana Florensia Kemong
NIM : 231450060
Kelompok : III (3) Kelas : Logistik 2B
Asisten :
Program Studi : Logistik Minyak dan Gas
KEMENTERIAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA ENERGI DAN SUMBER
DAYA MINERAL
POLITEKNIK ENERGI DAN MINERAL AKAMIGAS Cepu,November 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan akhir tentang
“Penentuan Kandungan Toluene Dalam Pertalite Dan Pertamax Dengan Uv-Vis”.
Adapun tujuan dari disusunnya laporan akhir ini adalah sebagai syarat untuk memenuhi tugas pada mata kuliah Praktikum “ Pengendalian Mutu Produk Migas”
.
Dalam penulisan laporan akhir praktikum ini penulis mendapat banyak sekali bimbingan dan dukungan dari berabgai pihak. Dengan ini, penulis mengucapkan terima kasih pada:
1. “ Dr. Eng. Ir. Oksil Venriza, S.SI., M.Eng, IPU”, selaku dosen pada mata kuliah”praktikum Pengendalian Mutu Produk Migas” .
2. “Nama Asisten Laboratorium”, selaku asisten laboratorium.
Demikian laporan Akhir Praktikum ini telah dibuat. Tentunya masih ada banyak kekurangan dalam penulisan laporan ini. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan adanya kritik maupun saran yang membangun agar laporan akhir ini dapat menjadi lebih baik lagi kedepannya.
Kelompok 4
Arya
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... ii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar belakang... 1
1.2 Tujuan praktikum... 2
1.3 Manfaat praktikum... 2
BAB II TINJAUN PUSTAKA...3
2.1 Pertalite...3
2.2 Pertamax...3
2.3 Spektrofotometer UV-VIS...5
2.4 Bagian -bagian Spektrofotometer UV-VIS...6
BAB III METODOLOGI...7
3.1 Waktu dan Tempat...7
3.2 Alat dan Bahan...7
3.3 Prosedur Kerja...7
3.4 Rumus...7
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...8
4.1 Hasil...8
4.2 Pembahasan...8
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...9
5.1 Kesimpulan...9
5.2 Saran... 9
DAFTAR PUSTAKA...10
LAMPIRAN...11
DAFTRA GAMBAR
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Toluene merupakan bahan campuran atau zat aditif yang digunakan pada bensin, khususnya pada Pertalite dan Pertamax. Pada bahan bakar, toluene berfungsi untuk menaikan angka oktan. Itulah sebabnya nilai Research Octan Number (RON) Pertalite dan Pertamax lebih tinggi dari pada Premium, yaitu 90 dan 92. Kandungan toluene di dalam Pertalite dan Pertamax dapat dihitung dengan menggunakan Spektrofotometri UV-Vis. Spektrofotometri adalah teknik yang digunakan untuk mengukur jumlah (konsentrasi) suatu zat berdasarkan spektroskopi dan instrumennya disebut Spektrofotometer.
Spektrofotometer merupakan alat yang terdiri dari spektrometer dan fotometer.
Kedua alat tersebut memiliki peran masing-masing dalam menentukan kadar toluene didalam Pertalite dan Pertamax
Toluene dapat digunakan sebagai bahan awal dalam sintesis berbagai senyawa organik lainnya, seperti bahan peledak, pewarna, dan obat- obatan,digunakan juga sebagai standar internal dalam spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance) untuk membantu dalam kalibrasi spektrum,Toluene dapat digunakan sebagai bahan awal dalam sintesis berbagai senyawa organik lainnya, seperti bahan peledak, pewarna, dan obat- obatan,Toluene sering digunakan sebagai standar internal dalam spektroskopi NMR (Nuclear Magnetic Resonance) untuk membantu dalam kalibrasi spektrum.
Yang di cari dalam toluene Dalam analisis kimia, toluene dapat digunakan untuk menentukan kadar toluene dalam suatu sampel, misalnya dalam bahan bakar atau sampel lingkungan,Dengan mengamati kelarutan suatu senyawa dalam toluene, kita dapat memperoleh informasi tentang polaritas dan struktur molekul senyawa tersebut,Toluene dapat digunakan untuk menguji efektivitas suatu pelarut dalam reaksi kimia tertentu.Dalam beberapa kasus, toluene dapat digunakan sebagai pelacak untuk mempelajari mekanisme reaksi kimiaToluene
dapat digunakan sebagai bahan awal untuk mensintesis senyawa organik yang lebih kompleks, seperti TNT (trinitrotoluene)
1.2 Tujuan praktikum
Setelah melaksanakan percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat:
1. Untuk mengetahui konsentrasi kandungan toluene di dalam pertalite dan pertamax.
2. Untuk mengetahui perbandingan toluene di dalam pertalite dan pertamax.
3. Untuk mengetahui cara mengoperasikan Spektrofotometer UV-Vis 1.3 Manfaat praktikum
Setelah melaksanakan percobaan ini diharapkan mahasiswa dapat:
1. Dapat mengetahui konsentrasi kandungan toluene di dalam pertalite dan pertamax.
2. Dapat mengetahui perbandingan toluene di dalam pertalite dan pertamax.
3. Dapat mengetahui cara mengoperasikan Spektrofotometer UV-Vis
BAB II
TINJAUN PUSTAKA
2.1 Pertalite
Bahan bakar Pertalite adalah bahan bakar yang memiliki angka oktan 90 bahan bakar Pertalite ini juga berwarna hijau terang danlebih jernih, Pertalite juga sangat baik digunakan untuk kendaraan dengan mesin yang saat ini sudah beredar luas di seluruh indonesia. Dengan adanya tambahan additive bahan bakar Pertalite mampu menempuh jarak yang lebih jauh serta mampu juga menjaga kualitas dan harga Pertalite juga sangat terjangkau di kalangan masyarakat, Pertalite juga membuat pembakaran pada mesin kendaraan lebih baik dibandingkan dengan premium.
Bahan bakar Pertalite adalah bahan bakar minyak terbaru dari Pertamina dengan RON 90 Selain itu dengan RON 90 diharapkan pertalite dapat membuatpembakaran pada mesin kendaraan lebih baik dibandingkan denganpremium dengan RON 88. Bahanbakar pertalite diluncurkan oleh Pertamina untuk memenuhi syarat Keputusan Dirjen Migas No.0486.K/10/DJM.S/2017 tanggal 23 November 2017 tentang Standar dan Mutu (Spesifikasi) Bahan Bakar Minyak jenis Bensin 90 yang dipasarkan dalam negeri(‘a236c1f20a8ec052397dbf4bee8a078d09a9’, no date).
2.2 Pertamax
Bensin adalah cairan campuran yang berasal dari minyak bumi dan sebagian besar tersusun dari hidrokarbon serta digunakan sebagai bahan bakar dalam mesin pembakaran dalam. Kadangkala istilah mogas (kependekan dari motor gasoline, digunakan mobil) digunakan untuk membedakannya dengan avgas, gasoline yang digunakan oleh pesawat terbang ringan. Karena merupakan campuran berbagai bahan, daya bakar bensin berbeda-beda menurut komposisinya. Ukuran daya bakar ini dapat dilihat dari bilangan oktan setiap campuran. Angka oktan bensin dapat dinyatakan dalam tiga jenis, yaitu Angka Oktan Riset (Reserch Octane Number-RON), Angka Oktan Motor (Motor Octane Number) dan Distribusin Angka Oktan (Octane Number Distribution).
Bensin yang baik mempunyai nilai RON dan MON yang tinggi, sensitivitas yang rendah dan distribusi angka oktan yang homogen. Umumnya kendaraan di Indonesia saat ini menggunakan beberapa pilihan jenis bahan bakar Pertamina untuk motor bensin antara lain Premium dan Pertamax. Masin masing jenis bahan bakar tersebut memiliki angka oktan yang berbeda. Angka oktan menunjukan berapa besar tekanan maksimum yang dapat diberikan di dalam mesin sebelum bensin terbakar secara spontan.
Pada tekanan tertentu bahan bakar akan menyala seiring adanya tekanan pada piston yang menaikkan temperatur di dalam silinder.Penyalaan yang diakibatkan tekanan ini tidak dikehendaki karena dapat menyebabkan detonasi.
Penyalaan yang baik disebabkan dari pengapian busi. Oleh sebab itu dengan penggunaan bahan bakar yang sesuai dengan perbandingan kompresi yang tepat untuk mesin yang digunakan, diharapkan akan mengoptimalkan kinerja mesin,
mengurangi kerusakan dan yang lebih penting lagi akan dapat mengefisiensikan penggunaan bahan bakar. Pertamax merupakan jenis bahan bakar dengan angka oktan 92.
Bensin pertamax dianjurkan digunakan untuk kendaraan bahan bakar bensin yang mempunyai perbandingan kompresi tinggi (9,1 : 1 sampai 10,0 : 1). Pada bahan bakar pertamax ditambahkan aditif sehingga mampu membersihkan mesin dari timbunan deposit pada fuel injector dan ruang pembakaran. Bahan bakar pertamax sudah tidak menggunakan campuran timbal sehingga dapat mengurangi racun gas buang kendaraan bermotor seperti nitrogen oksida dan karbon monooksida. Bensin pertamax berwarna kebiruan dan memiliki kandungan maksimum sulfur (S) 0,1%, timbal (Pb) 0,013% (jenis tanpa timbal) dan Pb 0,3% (jenis dengan timbal), oksigen (O) 2,72%, pewarna 0,13 gr/100 L, tekanan uap 45 ÷ 60 kPa, titik didih 205 ºC, serta massa jenis (suhu 15ºC) 715 ÷ 780 kg/m3.
Pertamax merupakan bahan bakar minyak yang diproduksi oleh Pertamina dengan nilai oktan 92 yang diluncurkan pertama kali pada tahun 1999 sebagai pengganti Premix 98 karena unsure MTBE yang yang berbahaya bagi lingkungan. Dibandingkan dengan bensin premium yang memiliki nilai oktan 88, Pertamax menghasilkan timbal dan kandungan Nox dan Cox yang lebih sedikit. BBM ini telah dikembangkan untuk digunakan pada kendaraan yang diproduksi setelah tahun 1990. Pertamax ditujukan untuk kendaraan yang memiliki tekhnologi setara Electronic Fuel Injection (EFI) dan catalyc converters (pengubah katalitik).
Dengan nilai oktan yang dikandung Pertamax terdapat beberapa keunggulan yang dimiliki dibandingkan premium. Saat ini sudah banyak sekali produsen kendaraan 3 bermotor yang memproduksi kendaraan dengan teknologi EFI yang tujuannya adalah agar lebih ramah lingkungan. Semakin tinggi rasio kompresi kendaraan maka semakin tinggi pula nilai oktan yang dibutuhkan untuk proses pembakaran. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan efisiensi atau irit bahan bakar(‘BAB_2_tinjauan_pustaka (1)’, no date)
2.3 Spektrofotometer UV-VIS
Spektrofotometer UV-VIS adalah salah satu metode instrumen yang paling sering diterapkan dalam analisis kimia untuk mendeteksi senyawa (padat/cair) berdasarkan absorbansi foton. Agar sampel dapat menyerap foton pada daerah UV-VIS (panjang gelombang foton 200 nm – 700 nm), biasanya sampel harus diperlakukan atau derivatisasi, misalnya penambahan reagen dalam pembentukan garam kompleks dan lain sebagainya. Unsur diidentifikasi melalui senyawa kompleksnya.
Persyaratan kualitas dan validitas kinerja hasil pengukuran spektrofotometer dalam analisis kimia didasarkan pada acuan ISO 17025, Good Laboratory Practice (GLP) atau rekomendasi dari Pharmacopeia (EP, DAB, USP). Dalam ISO 17025 (2005) butir 5.5 di nyatakan bahwa alat uji yang menentukan hasil pengukuran harus dikalibrasi. Spektrofotometer UV-VIS merupakan alat utama maka harus di kalibrasi. Kalibrasi instrumen Spektrofotometer meliputi: Akurasi Panjang Gelombang , Akurasi fotometri, Resolution, Kebocoran sinar/Straylight, Base line Stability, base line flatnest, dan akurasi detektor.
Latar belakang dilakukan kalibrasi spektrofotometer adalah melaksanakan ketentuan ISO 17025 (2005) butir 5.5 yang menyatakan bahwa alat uji yang menentukan hasil pengukuran harus/wajib dikalibrasi. Mengingat jumlah pemakaian instrument yang banyak dan sering, maka perlu di lakukan pengecekan unjuk kinerja alat dengan kalibrasi. Pengukuran kalibrasi Spektrofotometer UV-VIS (Shimadzu UV 1800) di LPPT UGM ini bertujuan untuk mengetahui unjuk kinerja instrumen apakah masih sesuai dengan standar yang dipersyaratkan apa tidak. Dengan mengetahui unjuk kinerja alat maka
akan dapat menjamin mutu hasil data pengukuran dalam kegiatan penelitian maupun pengujian
2.4 Bagian -bagian Spektrofotometer UV-VIS
Spektrofotometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur transmitans (T atau%T) atau absorbans (A) sebagai fungsi dari panjang gelombang.
Komponen alat spektrofotometer Gambar diatas ini terdiri dari sumber sinar, monokromator, sel, detektor dan rekorder (meter). Sepintas mirip dengan komponen fotometer filter, namun sesungguhnya terdapat perbedaan dalam hal sumber sinar, monokromator dan detektor yang digunakan. Sumber sinar untuk fotometer filter kawat wolfram/tungsten, sedangkan untuk spektrofotometer uv adalah lampu awamuatan hidrogen atau lampu deterium dan spektrofotometer sinar tampak tetap lampu wolfram. Monokromator pada fotometer filter adalah filter (filter serapan atau filter interferensi) sedangkan pada spektrofotometer prisma atau kisi difraksi. Detektor pada fotometer filter adalah foto sel, sedangkan pada spektrofotometer adalah tabung foton hampa (Vacuum phototube) atau tabung foton pelipat ganda (photomultiplier tube). Kedua jenis detektor ini jauh lebih peka dari pada fotosel(Zackiyah n.d.).
BAB III METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
3.2 Alat dan Bahan
3.3 Prosedur Kerja
3.4 Rumus
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil
Sampel : 7ml Toluene + 3ml Pertaline Pengernceran sampel x (0,01)
m1x v1 =m2x v2 0,01x9,99=m2x 10
m2=0,00999
m1x v1 =m2x v2 0,00999x0,5=m2x 10
m2=0,0 004995 m1x v1 =m2x v2 0,0004995x0,5=m2x 10
m2=0,00 024975
% Toluene dalam sampe x = |produk|
|pelarut|× A ×99,9 % =0,3838
0,8076× 10,000
0,24975×99,9 % = 1,89946 %
4.2 Pembahasan
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
5.2 Saran
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
Lampiran 1
Lampiran 2