• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kebijakan Publik Bogor

N/A
N/A
Yudi

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Kebijakan Publik Bogor"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS KEBIJAKAN PUBLIK PENGENDALIAN RAYAP SEBAGAI MASUKAN TERHADAP PERATURAN DAERAH

TENTANG BANGUNAN DI KOTA BOGOR

DISUSUN OLEH Ir. Yudi Rismayadi, MSI

Peneliti Laboratorium Biomaterial Dan Biodeteriorasi Pusat Penelitian Sumberdaya Hayati Dan Bioteknologi

Institut Pertanian Bogor

PENGANTAR

Kota Bogor memiliki posisi yang sangat strategis, wilayah ini berbatasan langsung dengan DKI Jakarta sebagai ibu kota negara, dan merupakan wilayah penyangga untuk meringankan tekanan perkembangan penduduk di ibu kota. Oleh karena itu laju pembangunan Kota Bogor sangat pesat yang ditunjukkan oleh telah tersedianya berbagai sarana permukiman, pendidikan, dan bangunan fasilitas publik lainnya. Tentunya investasi yang telah tertanam dalam bentuk sarana bangunan gedung tersebut adalah asset penting yang harus dilindungi untuk menjamin pembangunan yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Dalam kaitan tersebut sangat penting untuk memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi keandalan bangunan gedung.

Keandalan bangunan gedung tidak hanya dipengaruhi oleh bahaya kerusakan akibat kebakaran, petir, dan daya-daya alam atau gempa, banjir, angin topan, dan lain-lain tetapi juga ada masalah-masalah yang timbul akibat interaksi antara bangunan gedung dengan makhluk hidup yang secara tidak langsung terekayasa oleh aktivitas manusia menjadi faktor perusak bangunan. Salah satunya adalah kerusakan gedung akibat rayap.

Rayap di daerah tropis seperti Indonesia adalah organisme yang mampu menimbulkan kerusakan bangunan dengan bahaya yang setara bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan bahaya kebakaran dan petir. Rayap menimbulkan kerusakan bangunan gedung sebagai habitat manusia dengan tingkat kerusakan yang terus cenderung meningkat, secara nasional diduga tidak kurang dari 2,8 trilyun rupiah kerugian yang ditimbulkan oleh serangan rayap. Nilai kerugian ekonomi yang sebenarnya tidak perlu terjadi jika para pengelola memperhatikan aspek perlindungan bangunan dari

(2)

bahaya serangan rayap. Serangga ini pada saat ini tidak hanya populer menyerang kayu sebagai bagian konstruksi bagunan rumah tinggal sederhana, tetapi telah merambah menyerang gedung- gedung bertingkat tinggi seperti pusat perbelanjaan, gedung perkantoran,apartement dan hotel yang dari segi konstruksi hampir- hampir dikatakan aneh terserang rayap karena dilengkapi basement dengan lantai slab beton bertulang dan sangat minimal menggunakan kayu sebagai komponen struktural bangunan.

Munculnya Rancangan Peraturan Daerah mengenai Bangunan di Kota Bogor merupakan wujud kepedulian stakeholder bangunan di Kota Bogor. Perda sangat stategis ditinjau dalam dua perspektif yaitu 1) menyiapkan aturan legal formal di kota Bogor dalam penyelenggaraan bangunan sehingga terciptanya kondisi bangunan yang handal, sehat, dan serasi dengan alam lingkungannya dan 2) Perda merupakan jawaban kesiapan pemerintah daerah Kota Bogor dalam mengemban amanat dari Undang-undang No 28 tahun 2002 mengenai Bangunan Gedung yang telah diundangkan.

Makalah ini tidak sepenuhnya merupakan hasil analisis kebijakan publik namun mecoba mengungkapkan betapa pentingnya rayap untuk dimasukan dalam peraturan terkait dengan keandalan bangunan gedung di Kota Bogor.

Tinjauan Mengenai Persyaratan Keandalan Bangunan Dalam UU No 28 Tahun 2002

Bangunan merupakan wujud fisik hasil pekerjaan konstruksi yang menyatu dengan tempat kedudukannya dan berfungsi sebagai tempat manusia melakukan berbagai aktivitas. Oleh karena itu pandangan holistik terhadap keberadaan suatu bangunan adalah bahwa bangunan tidak terpisahkan dari berbagai faktor lingkungan yang berada di sekitar tapak bangunan baik di dalam bangunan gedung maupun di luar bangunan gedung. Faktor-faktor tersebut berinteraksi dan memberikan beragam pengaruh termasuk terhadap keandalan bangunan gedung yang merupakan totalitas fungsional bangunan dalam mendukung aktivitas manusia yang berada didalamnya. Bahkan seringkali interaksi yang terjadi menyebabkan keandalan bangunan terganggu dan dari waktu ke waktu keandalannya semakin menurun.

Penurunan keandalan bangunan tentunya akan mengakibatkan seluruh totalitas fungsional bangunan yang mempunyai nilai keselamatan,

(3)

kenyamanan, kesehatan, keharmonisan lingkungan dan lain sebagainya terganggu sehingga memberikan dampak finansial maupun non finansial khususnya yang terkait dengan masalah keamanan dan kenyamanan pemakaian bangunan.

Penurunan keandalan bangunan gedung adalah hasil resultante dari proses kemunduran kualitas bangunan (building deterioration) akibat bekerjanya faktor perusak bangunan. Watt 1999 mengklasifikasi faktor-faktor perusak bangunan sebagaimana disajikan dalam Tabel 1.

Tabel 1. Klasifikasi Faktor Perusak Bangunan

Penyebab

Bekerja di luar bangunan Bekerja di dalam bangunan

Atmosfer Tanah Penghuni Akibat

desain Penyebab mekanik

Gravitasi Beban salju dan

hujan Tekanan

tanah dan air Beban hidup Beban mati Penurunan

kekuatan dan pembebanan

Tekanan salju, suhu dan kelembaban

Amblas,

Bergeser Pelekukan Pergeseran, Penyusutan

Energi kinetik Angin, hujan

Es, badai pasir Gempa bumi Akibat internal,

Pemakaian Penurunan kadar Air Getaran dan bumi Bunyi guruh,

pesawat, ledakan, lalulintas, mesin

Getaran lalu lintas

Bunyi & getaran musik, hiburan, alat rumah

Bunyi dan getaran

Penyebab electromagnet

Radiasi Radiasi matahari,

radiasi radioaktif Radiasi

radioaktif Lampu, radiasi

radioaktif Radiasi permukaan

Listrik Cahaya Arus listrik - Listrik statis &

suplai listrik

Magnetisme - - Medan magnet Medan Magnet

Penyebab suhu Panas, embun, perubahan suhu

Panas tanah embun

Panas tubuh, rokok

Pemanasan, Kebakaran Penyebab kimia

Air dan larutan Kelembaban udara,kondensasi, presipitasi

Air tanah dan

air permukaan Penyemprotan air, kondensasi, deterjen, alkohol

Pemanasan, kebakaran

Penyebab oksidasi Oksigen, ozon, Nitrooksida

Potensial elektrokimia

Disenfektan, pemutih

Potensial elektrokimia Penyebab reduksi

(4)

Penyebab

Bekerja di luar bangunan Bekerja di dalam bangunan

Atmosfer Tanah Penghuni Akibat

desain

Asam Asam karbonat,

asam sulfurat, kotoran burung

Asam karbonat,

asam humat

Cuka, asam sitrat, asarn karbonat

Asam sulfat, asam karbonat

Basa - Kapur Sodium,potasium Semen

Garam Kabut garam Nitrat, fosfat,

klorida, sulfat

Sodium klorida Gips, sulfat

Bahan kimia netral Debu Batu kapur, Silica

Lemak, minyak, tinta, debu

Lemak, minyak, debu Penyebab Biologi

Tumbuhan dan Mikroba

Bakteri, benih Tumbuhan

Bakteri, lumut jamur, akar pohon

Bakteri, tanaman hias

-

Hewan Serangga,

Burung Tikus, rayap, Hewan piaraan -

Dalam Undang-Undang No 28 Tahun 2002 Bangunan Gedung persyaratan keandalan bangunan meliputi:

1). Persyaratan keselamatan bangunan, 2). Persyaratan kesehatan bangunan

3). Persyaratan kenyamanan bangunan; dan 3). Persyaratan kemudahan

Terkait dengan masalah keselamatan bangunan sebagaimana diatur dalam pasal 17 hingga pasal 20 dapat diinventarisir beberapa faktor yang mempengaruhi keselamatan bangunan, yaitu terkait dengan:

1). Persyaratan bangunan dalam mendukung beban muatannya;

2). Kemampuan bangunan dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kebakaran dan bahaya petir.

(5)

Selanjutnya dalam penjelasan pasal 18 yang dimaksud dengan persyaratan bangunan dalam mendukung beban muatannya adalah sebagai berikut:

Berdasarkan UU No 28 Tahun 2002, persyaratan keandalan bangunan merupaka n kemampuan bangunan dalam mencegah (preventif action) dan menanggulangi (curatif action) faktor-faktor perusak bangunan yang mengancam bangunan gedung. Secara rinci undang-undang menyebutkan faktor-faktor tersebut terdiri dari:

1. Kerusakan akibat bahaya kebakaran 2. Bahaya petir

3. Penurunan keandalan bangunan akibat beban mutannya dan perilaku alam, meliputi

a. Menurunnya kualitas material (deteriorasi) akibat penyusutan relaksasi, kelelahan, dll.

b. Gempa (tektonik dan vulkanik) c. Angin ribut/badai

d. Tanah longsor e. Banjir

f. Bahaya akibat serangga perusak dan jamur

Bahaya kebakaran dan petir memiliki tingkat perhatian yang sangat tinggi dalam peraturan perundangan-undangan No 28 Tahun 2002. Bahaya petir dan kebakaran diuraikan dalam batang tubuh undang-undang, yaitu pasal 17 sampai pasal 20. Sementara itu penurunan keandalan bangunan akibat bahaya serangga perusak (khususnya rayap) hanya terakomodasi dalam penjelasan pasal 18 baik dalam UU No 28 Tahun 2002.

(6)

Di wilayah Kota Bogor, keandalan bangunan terhadap bahaya rayap harus mendapat perhatian yang lebih tinggi atau setara dengan bahaya kebakaran dan bahaya petir. Kerusakan akibat serangan rayap jauh lebih tinggi kasusnya dibandingkan kerusakan akibat kebakaran dan petir terutama pada bangunan-bangunan untuk fungsi hunian dan bangunan milik pemerintah daerah Kota Bogor. Oleh karena itu, sesungguh peraturan kebijakan publik mengenai bahaya rayap perlu mendapat penguatan yang menempatkannya pada tingkat yang setara dengan faktor perusak bangunan dari bahaya kebakaran dan bahaya petir yang dalam RAPERDA Kota Bogor diletakan dalam Paragraf 2 dan Paragraf 3.

Logic Of Inquiry Penguatan Pasal-Pasal Mengenai Bahaya Rayap

Kebijakan publik lahir dari kombinasi aktivitas politik dan intelektual.

Demikian halnya dengan tinjauan terhadap penguatan pasal-pasal mengenai bahaya rayap harus merupakan hasil dari proses politis yang tidak terlepas dari usaha pengungkapan permasalahan secara kristis dengan mengkomunikasikan pengetahuan mengenai rayap dan potensi bahayanya bagi keselamatan bangunan gedung serta manfat-manfaat penangulangannya melalui kajian intelektual. Tentunya proses politik merupakan kewenangan stakeholder yang lain, oleh karena itu bahasan ini hanya ingin mengantarkan kembali pengetahuan yang sudah diketahui mengenai pentingnya bahaya rayap diakomodasi dalam peraturan daerah sebagai bentuk pemecahan masalah dari terjadinya kerusakan-kerusakan bangunan gedung oleh serangan rayap selama ini (Logic of Inquiry).

Rayap merupakan organisme yang mampu tetap bertahan pada perubahan tipe ekosistem alami menjadi ekosistem-ekosistem pertanian, perkebunan, dan HTI (agroekosistem) bahkan pada ekosistem yang sepenuhnya dikendalikan oleh manusia (urban ekosistem). Pada lingkungan urban inilah rayap menjadi masalah yang mengganggu keandalan bangunan gedung.

(7)

Tidak ada bagian dari lingkungan urban di Indonesia yang steril dari serangan rayap, bahkan di sebagai besar daerah di Jawa frekuensi serangan rayap pada bangunan gedung lebih dari 25%. Di DKI Jakarta frekuensi serangan rayap mencapai 78,3%. Sementara itu hasil survey di Kota Bogor pada tahun 2003 menunjukkan bahwa serangan rayap pada bangunan rumah tinggal sangat tinggi, yaitu rata-rata frekuensi serangan rayap di Bogor Barat sebesar 69,23%, Bogor Tengah 81,18%, dan di Bogor Timur sebesar 63,33%. Frekuensi serangan rayap pada masing-masing kelurahan di wilayah Bogor Barat, Bogor Tengah dan Bogor Timur adalah sebagai berikut:

1. Frekuensi serangan rayap di setiap kelurahan di Kecamatan Bogor Barat menunjukkan bahwa frekuensi serangan rayap terendah adalah 54,8% di Kelurahan Sindang Barang dan frekuensi serangan tertinggi di Kelurahan Semplak, yaitu 86,6%.

2. Frekuensi serangan rayap di Kecamatan Bogor Tengah tertinggi terjadi di Kelurahan Paledang dengan frekuensi serangan 90%. Sedangkan yang terendah di Kelurahan Panaragan 71,4%.

3. Frekuensi serangan rayap di Kecamatan Bogor Timur di setiap kelurahan, yaitu Kelurahan Sukasari, Kutampala, dan Tajur secara berturut-turut adalah 60%, 63,3% dan 66,7%.

Sementara itu nilai rata-rata kerugian ekonomis akibat serangan rayap pada tiga daerah yang diamati pada tahun 1986 yaitu Bogor, Jakarta, dan Surabaya terbatas pada rumah tinggal secara berturut-turut adalah Rp.

159.000,-; Rp 271.500,-; dan di Surabaya Rp 222.000,-. Secara nasional, total kerugian serangan rayap pada tahun 2005 diperkirakan mencapai 2,8 trilyun. Nilai kerugian tersebut merupakan beban yang harus dipikul oleh publik dan merupakan masalah yang perlu dirumuskan untuk mencari solusi.

Dalam kerangka itulah nilai strategis mengakomodasi bahaya serangan rayap dalam aturan perundang-undangan sehingga aset publik, pemerintah, dan swasta dapat dimanfaatkan dan berfungsi secara optimal dengan masa pakai yang cukup panjang sesuai yang direncanakan. Di samping itu mengakomadasi aspek keandalan bangunan gedung dari serangan rayap

(8)

tidak hanya akan berimplikasi pada masalah teknis ekonomis, tetapi lebih jauh juga akan berimplikasi pada aspek sosial dan ekologis.

Manfaat Penguatan Pasal-Pasal Mengenai Bahaya Rayap

Tidak dapat dipungkiri bahwa serangan rayap telah menimbulkan beban yang sangat besar bagi pemerintah dan masyarakat akibat kerugian ekonomis yang sangat besar. Pemerintah dan masyarakat terpaksa harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mengganti komponen kayu bangunan yang rusak dan biaya untuk menanggulangi rayap sebagai agen perusaknya.

Di samping itu ada beban sosial yang dipikul karena hilangnya kesempatan dan kenyamanan untuk menikmati bangunan gedung yang bebas kerusakan akibat serangan rayap.

Berdasarkan kondisi tersebut, upaya pengendalian bahaya rayap yang dikuatkan dalam aturan legal formal (perundang-undangan mengenai bangunan gedung) juga akan memberikan manfaat tidak saja manfaat ekonomis, tetapi juga manfaat sosial dan di pihak lain ada manfaat tidak langsung bagi aspek lingkungan berupa kelestarian hutan sebagai sumber pemasok kayu bahan bangunan.

Manfaat ekonomis pengendalian bahaya rayap terletak pada menurunnya biaya perawatan bangunan dan umur pakai bangunan yang lebih tinggi. Para pemilik bangunan dapat menghindari pengeluaran biaya yang timbul akibat dari serangan rayap. Biaya yang dapat diselamatkan setara dengan nilai kerugian ekonomis yang terjadi yang timbul sebagai akibat tidak diaplikasikan pengendalian bahaya rayap.

Pengendalian bahaya rayap juga akan mengurangi resiko yang timbul yang terkait dengan aspek keselamatan penggunaan bangunan. Tanpa upaya pengendalian bahaya rayap telah sangat banyak bangunan atap yang roboh akibat serangan rayap. Kondisi ini akan mempengaruhi rasa aman dan kenyamanan penggunaan gedung. Dengan sendirinya maka upaya

(9)

pengendalian bahaya rayap akan meningkatkan tingkat keamanan dan kenyamanan penggunaan bangunan gedung.

Di pihak lain, umur penggunaan kayu yang dapat ditingkatkan melalui pengendalian bahaya rayap akan menyebabkan penggantian kayu semakin berkurang, effisiensi penggunaan kayu meningkat, dan kekhawatiran penggunaan kayu tidak awet semakin berkurang karena terlindungi. Kondisi tersebut pada akhirnya akan menyebabkan penurunan kegiatan penebangan pohon di hutan sebagain sumber pemasok kayu. Dengan demikian hutan semakin terjaga dan aspek kelestariannya menjadi lebih mudah dipertahankan.

Tingginya bahaya serangan rayap juga telah membuka lapangan kerja baru yaitu dengan berdirinya perusahaan-perusahaan pengendali rayap termasuk industri-industri termitisida pendukungnya. Tidak kurang dari 150 perusahaan pengendali rayap terdapat di wilayah Jakarta dan sekitarnya (JABODETABEK) dengan jumlah orang yang menggantungkan hidupnya dari industri ini tidak kurang dari 6000 jiwa. Tentunya dalam kondisi dimana lapangan pekerjaan yang sangat terbatas pada saat ini, kehadiran perusahaan-perusahaan pengendalian rayap merupakan bagian yang penting dalam menyerap angkatan kerja yang tidak mampu terserap.

Kesimpulan dan Rekomendasi

1. Rancangan Peraturan Daerah Kota Bogor tentang Bangunan harus mengakomodasikan faktor-faktor yang terkait dengan persyaratan keandalan bangunan gedung sebagaimana UU No 28 Tahun 2002.

Namun demikian UU No 28 Tahun 2002 tidak cukup proporsional dalam menempatkan bahaya rayap dibandingkan dengan faktor lain yang mempengaruhi keandalan bangunan seperti bahaya kebakaran dan petir.

Padahal, di pihak lain bahaya rayap pada bangunan sangat tinggi. Oleh karena itu RAPERDA Kota Bogor perlu memberikan penguatan pada masalah yang terkait dengan bahaya rayap.

(10)

2. Penguatan pasal-pasal mengenai bahaya rayap pada RAPERDA dapat ditinjau dari dua alasan penting/logis (Logic of Inquiry), yaitu besarnya kecendrungan potensi serangan rayap dan kerugian-kerugian ekonomis yang ditimbulkanya.

3. Atural legal formal seperti perda akan mendorong upaya pengendalian bahaya rayap dalam penyelenggaraan bangunan gedung sehingga akan diperoleh manfaat-manfaat ekonomis, ekologis, dan sosial. Oleh karena itu sudah selayaknya apabila pengendalian bahaya rayap menempati posisi penting dalam batang tubuh perda tentang bangunan di Kota Bogor (rancangan usulan pasal-pasal mengenai bahaya rayap terlampir).

(11)

Lampiran 1. Usulan Penambahan Ketentuan mengenai Rayap dalam Rancangan Peraturan Daerah Kota Bogor Tentang Bangunan

No BAB/PASAL KETERANGAN URAIAN ISI

1 Paragraf 3 Keandalan Terhadap

Gangguan Rayap

Penambahan Paragraf 3 Pasal 54

1. Persyaratan kemampuan bangunan dalam mencegah dan menanggulangi bahaya kerusakan akibat rayap perusak bangunan merupakan kemampuan bangunan untuk melakukan perlindungan terhadap bahaya kerusakan akibat rayap perusak bangunan melalui sistem proteksi anti rayap pra konstruksi atau sistem proteksi anti rayap paska konstruksi.

2. Sistem proteksi anti rayap pra konstruksi atau sistem proteksi anti rayap paska konstruksi harus menjamin bangunan gedung tidak mengalami kerusakan yang diakibatkan serangan rayap

3. Ketentuan lebih lanjut mengenai sistem proteksi anti rayap pra konstruksi dan sistem proteksi anti rayap paska konstruksi diatur dengan Peraturan Walikota

Referensi

Dokumen terkait

Komponen Pertumbuhan Proporsional (PP) di Kabupaten Bogor pasca kebijakan upah minimum, bernilai positif yang mengindikasikan bahwa terjadi pertumbuhan kesempatan kerja yang

HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Kinerja Perspektif Pelanggan Sasaran strategi yang ditetapkan oleh KPS Bogor pada perspektif pelanggan ini ada dua yakni 1 kepuasan anggota

Saran untuk memberikan kontribusi peningkatan Kualitas Pelayanan Publik pada Kantor Kecamatan Cariu Kabupaten Bogor ditinjau dari Komunkasi Organisasi, yaitu: (1)

Sasaran strategis yang ditetapkan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan di KOPTI Kabupaten Bogor terdiri dari tiga sasaran strategis yaitu adanya evaluasi kinerja

Pembelajaran dan Pertumbuhan Sasaran strategis yang ditetapkan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan di KOPTI Kabupaten Bogor terdiri atas tiga sasaran

Sasaran strategis yang ditetapkan pada perspektif pembelajaran dan pertumbuhan di KOPTI Kabupaten Bogor terdiri dari tiga sasaran strategis yaitu adanya evaluasi kinerja

Organisasi publik merupakan organisasi birokrasi pemerintahan yang menerapkan kewenangan dan kekuasaan yang legal (formal) dengan adanya kualitas keahlian dalam pola struktur

Dalam Implementasi Perwali nomor 25 tahun 2009 berdasarkan Peraturan Daerah yang baru yaitu Perda Nomor 2 tahun 2019 : Kawasan Tanpa Rokok adalah Kawasan Tanpa Rokok adalah ruangan