• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Kinerja Alat Kalsiner Berdasarkan Efisiensi Termal di PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk.

N/A
N/A
raisa

Academic year: 2024

Membagikan "Analisis Kinerja Alat Kalsiner Berdasarkan Efisiensi Termal di PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk."

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PT. SEMEN BATURAJA (PERSERO) TBK.

Article · January 2022

CITATIONS

0

READS

825

3 authors, including:

Safar Uddin Indonesia

227PUBLICATIONS   30CITATIONS    SEE PROFILE

All content following this page was uploaded by Safar Uddin on 13 January 2022.

The user has requested enhancement of the downloaded file.

(2)

ANALISIS KINERJA ALAT KALSINER DITINJAU DARI EFISIENSI THERMAL DI PT. SEMEN BATURAJA (PERSERO) TBK.

ARIF SETIONO1 RAKHMAT ADIWIJAYA2 SAFARUDDIN3 POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA1 SEMEN BATURAJA2,3 [email protected]1 [email protected]2

[email protected]3

ABSTRACT

Calciner is a heating aid used in all modern rotary kiln products. The calciner uses coal as fuel which is in contact with hot air from the kiln (tertiary air) coming from the grate cooler. The purpose of using the Calciner is to reduce the burning load of the rotary kiln. Calculation of the average thermal efficiency for 6 days is 50.57%. The highest efficiency will be on August 26, 2021, which is 65.41%. The increase and decrease in thermal efficiency can be caused by the large feed flow rate, where the greater the feed flow rate, the greater the calciner efficiency. In addition to the feed flow rate, efficiency is also affected by the calciner operating conditions such as the degree of calcination, dust lost, and operating temperature.

KEYWORDS: Calsiner, Mass and Heat Balance, Thermal Efficiency

ABSTRAK

Calciner merupakan alat bantu pemanasan yang digunakan semua produk rotary kiln modern.

Calciner menggunakan batubara sebagai bahan bakar yang kontak dengan udara panas dari kiln (udara tersier) yang berasal dari grate cooler. Tujuan dari penggunaan Calciner adalah mengurangi beban pembakaran dari rotary kiln. Perhitungan rata – rata efisinsi thermal selama 6 hari yaitu menghasilkan sebesar 50,57%. Efisinsi tertinggi pada tanggal 26 Agustus 2021 yaitu sebesar 65,41%. Kenaikan dan penurunan efisiensi thermal dapat disebabkan oleh besarnya laju alir umpan, dimana semakin besar laju alir umpan maka akan semakin besar efisiensi calciner. Selain laju alir umpan, efisiensi juga dipengaruhi oleh kondisi operasi calciner seperti, derajat kalsinasi, dust lost, dan suhu operasi.

KATA KUNCI: Kalsiner, Neraca Massa dan Panas, Efisiensi Thermal

PENDAHULUAN

Pengolahan semen dengan alat Kiln yang merupakan wadah pemasakan utama dalam pengolahan semen, pada tahun 1942 diperkenalkan teknologi calciner dengan tujuan menghemat bahan bakar pada rotary kiln dengan membagi reaksi kalsinasi sehingga mengurangi beban kerja rotary kiln. Teknologi calciner juga dapat membantu proses pemasakan pada rotary kiln. Calciner merupakan bagian dari preheater yang berfungsi membantu kinerja kiln dalam mendekomposisi CaCO3 menjadi CaO. Untuk mengetahui kinerja

(3)

dari Calciner dapat dilakukan perhitungan neraca massa dan neraca panas dari alat selama proses berlangsung. Analisis kinerja suatu peralatan perlu dilakukan secara berkala sehingga performa kerja alat dapat dijaga dan tetap berkerja efektif.

TINJAUAN TEORI

Calsiner sendiri merupakan merupakan salah satu reaktor di dalam suatu pabrik semen dengan proses kering. Kalsiner adalah suatu peralatan yang digunakan untuk proses kalsinasi.

Proses kalsinasi adalah proses penguraian karbonat menjadi oksida CaO dan MgO serta CO2

sebagai gas. Proses kalsinasi adalah proses penguraian karbonat menjadi oksida CaO dan MgO serta CO2 sebagai gas. Proses kalsinasi berlangsung dari cyclone I hingga cyclone III pada temperature yang berbeda dengan keberhasilan derajat kalsinasi (persentasi unsur CaO yang terurai dari senyawa karbonat) sesuai dengan desain preheater yang digunakan.

Calsiner sendiri merupakan merupakan salah satu reaktor di dalam suatu pabrik semen dengan proses kering. Kalsiner adalah suatu peralatan yang digunakan untuk proses kalsinasi.

Proses kalsinasi adalah proses penguraian karbonat menjadi oksida CaO dan MgO serta CO2

sebagai gas. Proses kalsinasi adalah proses penguraian karbonat menjadi oksida CaO dan MgO serta CO2 sebagai gas. Proses kalsinasi berlangsung dari cyclone I hingga cyclone III pada temperature yang berbeda dengan keberhasilan derajat kalsinasi (persentasi unsur CaO yang terurai dari senyawa karbonat) sesuai dengan desain preheater yang digunakan. Pada kalsiner terdapat dua sistem yaitu:

a. In Line Calciner (ILC) Aliran udara pembakaran di kalsiner di suplai dari udara tersier dan udara dari kiln. Gambar in line calciner dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar 1. Gambar Inline Calsiner Sumber : Manias, Con. G

b. Separate Line Calsiner Udara panas tersier dari cooler masuk ke kalsiner melalui sentral inlet di dasar konis dan gas buang keluar kalsiner melalui sisi outlet di bagian atas. Gambar separate line calciner dapat dilihat pada gambar 2.

Gambar 1. Gambar Separate Line Calsiner Sumber : Manias, Con. G

Suspension preheater yang digunakan di PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk adalah preheater dengan dua string. Pemanasan raw meal dilakukan oleh preheater siklon empat tingkat. Aliran material dari silo raw meal diangkut oleh conveyer masuk ke bagian puncak preheater (tingkat 1) sedangkan gas panas masuk ke siklon paling bawah berlawanan arah dengan arah aliran material masuk. Aliran gas panas dimungkinkan karena adanya isapan fan, sedangkan material bergerak karena gaya gravitasi. Material yang mengalir dari atas bertemu dengan gas panas dari bawah dalam saluran yang menghubungkan cyclone. Pada saat

(4)

tersebut terjadi perpindahan panas dari gas ke material. Material yang sempat terbawa oleh gas dari bawah dipisahkan dengan cyclone dan selanjutnya dialirkan ke bawah.

Calciner memiliki 2 input yaitu input yang berasal dari hasil siklon double string berupa calciner feed yang memiliki kadar air sangat rendah. Input kedua merupakan batubara dari bagian bawah hasil coal mill dengan kadar air rendah dengan dorongan blower. Sumber panas berasal dari udara tersier yang didorong grate cooler melewati hasil klinker panas sehingga suhu udara tersier diatas 700 C. Kontak keduanya menghasilkan pemanasan yang memicu reaksi kalsinasi Reaksi kalsinasi pada calciner PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk terjadi pada perubahan CaCO3 dan MgCO3 menjadi oksida Ca (CaO) dan Oksida Mg (MgO).

CaCO3 CaO + CO2

MgCO3 MgO + CO2

Suhu umum yang terjadi di dalam calciner berkisar 850 C. hal ini membuat calciner menghasilkan exhaust gas dalam jumlah besar yang dibutuhkan pada siklon I hingga III.

Exhaust gas diharapkan dapat mendorong O2 sehingga pada siklon I preheater diharapkan jumlah O2 dibawah 2%. Karena pada aliran gas ini digunakan dalam pengeringan coal. Hasil yang diharapkan yaitu reaksi kalsinasi banyak terjadi pada calciner. Sehingga pada proses di kiln, umpan yang berupa kiln feed siap dimasak. Karena jika suhu kiln feed tidak siap, hasil klinker tidak akan baik sehingga pada cement mill digunakan klinker dalam jumlah besar untuk mencapai kualitas yang diinginkan.

2.3 Efisiensi Thermal Calsiner

Efisiensi merupakan salah satu indikasi dalam mengetahui kinerja alat yang digunakan.

Efisiensi Thermal pada unit Calciner merupakan suatu hal yang penting untuk diperihatikan, karena efisiensi Efisiensi pada calsiner menjadi hal penting dikarenakan merupakan tolak ukur dalam mengetahui kinerja calsiner. Efisiensi thermal dapat menentukan seberapa banyak panas yang hilang sehingga diketahui seberapa baik alat tersebut bekerja. Efisiensi peralatan Calciner dapat diketahui dengan perhitungan energi yang terpakai dan energi yang terbuang.

Evaluasi kinerja peralatan perlu dilakukan dalam suatu industri secara berkala untuk menjaga performa kerja alat sehingga tetap bekerja dengan efisien.

Dalam menentukan kinerja alat calsiner tentunya terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi alat tersebut. Faktor-faktor ini dapat berupa komponen neraca massa yang masuk dan keluar, neraca panas, serta panas hilang ( heat loss) yang terjadi selama proses kalsinasi pada calsiner

METODE

Data umpan Calciner yang didapatkan dari pabrik adalah sebagai berikut :

Tabel 1 Preheater Feed

Tanggal

Preheater Feed (ton/jam)

Calciner Feed

(C)

Fine Coal Mass Flow (ton/jam) 26 Agustus 2021 282.87 778 18,78 27 Agustus 2021 246.56 809 14,51 28 Agustus 2021 262.22 814 18,21 29 Agustus 2021 280.59 775 19,72 30 Agustus 2021 336.88 772 20,01 31 Agustus 2021 337.23 768 20,62

(5)

Data yang diperoleh berupa data primer maupun sekunder selanjutnya diolah sehingga diperoleh hasil yang diperlukan,

Gambar 3. Metodelogi

Data yang telah didapat dari pabrik kemudian diolah untuk menghitung nilai dari neraca massa dan neraca panas dengan perhitungan :

Dalam kondisi steady state akumulasi = 0, sehingga

Perhitungan neraca panas yang masuk akan menghasilkan proses dengan panas yang dibawa keluar, dirumuskan dengan:

sehingga diperoleh efisiensi thermal yang dapat dirumuskan dengan:

PEMBAHASAN

Calciner merupakan alat bantu pemanasan yang digunakan semua produk rotary kiln modern. Calciner menggunakan batubara sebagai bahan bakar yang kontak dengan udara panas dari kiln (udara tersier) yang berasal dari grate cooler. Tujuan dari penggunaan Calciner adalah mengurangi beban pembakaran dari rotary kiln.

Perhitungan data neraca massa dan neraca panas dilakukan untuk mengetahui kinerja dari Calciner sehingga dapat dihitung Efisiensi Thermal. Data perhitungan selama 6 hari

Massa Masuk - Massa Keluar = Akumulasi

Massa Masuk = Massa

Q = M x Cp x ΔT

(6)

dimulai pada tanggal 26 Agustus 2021 hingga 31 Agustus 2021, dengan umpan masuk Calciner berkisaran 270 – 360 ton/jam. Dan juga kebutuhan batubara masuk Calciner berkisaran 11,8 – 21 ton/jam.

Berdasarkan perhitungan neraca massa dan neraca panas didapatkan : Tabel 2. Neraca Massa Calsiner

Tabel 3. Neraca Panas Calsiner

Dari perhitungan neraca massa dan neraca panas selama 6 hari menghasilkan nilai efisiensi yang dapat dilihat pada grafik gambar 4. berikut ini.

Gambar 4. Grafik Efisiensi Thermal Calsiner 65.41%

57.09%58.49%58.94%61.04%60.91%

50.00%

55.00%

60.00%

65.00%

70.00%

26 Agt 2021

27 Agt 2021

28 Agt 2021

29 Agt 2021

30 Agt 2021

31 Agt 2021

Efisiensi Thermal

Tanggal Input Output

26 Agt 2021 362.180,0 362.180,0 27 Agt 2021 433.579,16 433.579,16 28 Agt 2021 410.809,64 410.809,64 29 Agt 2021 442.091,36 442.091,36 30 Agt 2021 496.809,81 496.809,81 31 Agt 2021 502.985,13 502.985,13

Tanggal Input Output

26 Agt 2021 143577262,46 143577262,46 27 Agt 2021 174895935,82 174895935,82 28 Agt 2021 167492040,43 167492040,43 29 Agt 2021 176355816,01 176355816,01 30 Agt 2021 190150038,48 190150038,48 31 Agt 2021 193123150,98 193123150,98

(7)

Hasil perhitungan nilai efisiensi thermal pada calciner pada gambar 4. Mengalami perubahan kenaikan dan penurunan setiap harinya. Efisiensi tertinggi terdapat pada tanggal 26 Agustus 2021 yaitu sebesar 65,41 %, sedangkan efisiensi thermal terkecil pada tanggal 27 Agustus 2021 57,09%. Perhitungan rata – rata efisinsi thermal selama 6 hari yaitu menghasilkan sebesar 50,57%. Kenaikan dan penurunan efisiensi thermal dapat disebabkan oleh besarnya laju alir umpan, dimana semakin besar laju alir umpan maka akan semakin besar efisiensi calciner. Selain laju alir umpan, efisiensi juga dipengaruhi oleh kondisi operasi calciner seperti, derajat kalsinasi, dust lost, dan suhu operasi.

KESIMPULAN

Perhitungan rata – rata efisinsi thermal selama 6 hari yaitu menghasilkan sebesar 50,57%. Efisinsi tertinggi pada tanggal 26 Agustus 2021 yaitu sebesar 65,41%. Kenaikan dan penurunan efisiensi thermal dapat disebabkan oleh besarnya laju alir umpan, dimana semakin besar laju alir umpan maka akan semakin besar efisiensi calciner. Selain laju alir umpan, efisiensi juga dipengaruhi oleh kondisi operasi calciner seperti, derajat kalsinasi, dust lost, dan suhu operasi.

Pemeliharaan peralatan dan Untuk mendapatkan kinerja calciner yang baik, maka perlu dilakukan perawatan atau turn around secara rutin pada alat calciner untuk menjaga kinerja calciner.

DAFTAR PUSTAKA

FLSmidth. 1990. Buku Panduan PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk. Baturaja.

FLSmidth. 2003. Buku Panduan PT. Semen Baturaja (Persero) Tbk. Baturaja.

Holderbank,K.E.2000.Cement Seminar Process TecnologyI.Holderbank Managenement &

Consulting.

Peray,K.E.1979.Cement Manufacturer’s Handbook. Chemical Publishing Co., Inc ,New York.

Keefe, B. P. and Shenk, R. E.. 2002. “Staged Combustion for Low - NOx Calciners”.

Jacksonville, Florida. IEEE-IAS/PCA Cement Industry Technical Conference.

Perry,R.H.2008.Perry’s Chemical Engineering Hand Book,6 th ed.Mc Graw Hill Inc , New York.Tedings, APCAC XVII Technical Conference

View publication stats

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa strategi pemasaran yang dilakukan pada PT Semen Baturaja (Persero) Pabrik Panjang

ANALISIS PENGENDALIAN PIUTANG DAGANG PADA PT SEMEN INDONESIA (PERSERO), TBK... ANALISIS PENGENDALIAN PIUTANG DAGANG PADA PT SEMEN INDONESIA

Judul laporan akhir ini adalah “ Pengaruh Total Quality Management terhadap Biaya Kualitas pada PT Semen Baturaja (Persero) Tbk”. Laporan Akhir ini merupakan salah satu syarat

Simpulan yang bisa diambil adalah Implementasi program CSR PT Semen Baturaja (Persero) Tbk yang cukup optimal dilakukan kepada masyarakat dilihat dari tingkat

Etos kerja, motivasi, dan iklim organisasi secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja Departemen Asset & Office Management PT Semen Baturaja Persero Tbk, ini

Penggunaan listrik pada hammer crusher di PT Semen Baturaja (Persero), Tbk selama masa penelitian adalah sebesar 185,4 kW dengan ukuran rata-rata hasil fragmentasi peledakan

Penggunaan modal kerja PT Semen Baturaja (Persero) Tbk belum efisien, karena perusahaan belum mampu membayar hutang jangka pendek sehingga perusahaan tidak berada

Dalam Laporan Tugas Akhir ini kami membahas “Analisis Laporan Keuangan untuk Mengukur Kinerja Keuangan pada PT Semen Indonesia Persero Tbk.” Makalah ini dibuat dalam rangka memperdalam