ANALISIS NASKAH DRAMA “PESTA TERKAHIR” KARYA RATNA SARUMPAET
Diajukan untuk Memenuhi salah satu Tugas Mata Kuliah Kajian Drama
Dosen Pengampu:
Man Hakim, M.Pd
Disusun Oleh:
Celi Alodia (2188201068)
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH BENGKULU Hasil
UNSUR INTRINSIK 1. Alur/Plot
Alur adalah rangkaian peristiwa dan konflik yang menggerakkan jalan cerita. Alur drama mencakup bagian-bagian pengenalan cerita, konflik awal, perkembangan konflik, hingga penyelesaian. Sebuah plot yang menarikakan bisa mengigiring penonton atau pembaca menuju kegentingan yang diiginkan penulis drama.
Analisis Alur (plot) pada naskah drama Pesan Terakhir karya Ratna Sarumpaet, No Peristiwa Jenis Peristiwa Kutipan
1. Adegan 1 Perdebatan THAMRIN
Jangan gitulah Bang ... Ada yang tersinggung nih ...
POHAN
Siapa yang tersinggung?
2. Adegan 2 Berkabung Suasana berubah murung. Suara “laillah haillah” kembali
Terdengar. Haryati masuk. Ia dari tempat agak berjarak ia menatap sekeliling, lalu terfokus pada keranda dimana jasad ayahnya terbaring
3. Adegan 3 Persahabatan HARYATI
Kau satu-satunya sahabatku Surti ---- Pergilah sahabat ... Tinggalkan aku!
4. Adegan 4 Penyesalan HARYATI
Tapi apa kamu kira aku tidak ikut terluka ...
Sekarang ini apa yang kupunya selain penyesalan
2. Latar
Latar adalah keterangan mengenai tempat, ruang, dan waktu di dalam naskah drama.
Latar tempat, yaitu penggambaran tempat kejadian di dalam naskah drama.
Latar waktu, yaitu penggambaran waktu kejadian di dalam naskah drama.
Latar Suasana, yaitu berkaitan dengan situasi atau kondisi yang terjadinya peristiwa dalam cerita (Mengacu kata sifat).
Analisis latar (tempat, waktu, dan suasana) pada naskah drama drama “Pesan Terakhir karya Ratna Sarumpaet,
No Latar Tempat Kutipan
1. Pendopo DI SEBUAH PENDOPO, DIKEDIAMAN BAPAK SEPUH. SAYUP SAYUP, DARI KEJAUHAN
TERDENGAR SUARA ORANG-ORANG
MEMBACAKAN “LA ILAH HA ILLALLAH No Latar Waktu Kutipan
1. Siang hari -
No Latar Suasana Kutipan
1. Kecewa HARYATI
Adakah sungkawa yang lebih dalam dari sungkawa seperti ini ... Ketika orang-orang serempak meratap menangisi kepergiannya . Ketika orang-orang berduyun-duyun menuju
rumah duka, dan pasar-pasar, pusat-pusat kota menjadi hening. Sunyinya menegakkan bulu roma ...
2. Marah HARYATI
Aku sendirian kini ... Betulkah seburuk itu ? Betulkah tak satupun dari apa yang kulakukan dalam hidupku yang mampu membelaku kini? Pergilah Pahlawan! Pergilah!
Aku tidak membutuhkan siapa-siapa ... Aku tidak membutuhkan apa-apa ...
3. Tokoh
Tokoh dalam drama adalah orang-orang yang hidup dalam arti watak dan karakternya terungkap melalui penampilan fisik, tindakan, ucapan, perasaan, dan kehendak diri sendiri maupun kehendak orang lain.
Analisis tokoh pada naskah drama Pesan Terakhir karya Ratna Sarumpaet, Tabel 1: Jumlah tokoh dan berdasarkan dari segi peran
No Nama Tokoh Peran Kutipan
1. Haryati Anak dari Pak Sepuh Meski hampir semua orang, pelayan, penjaga, tetangga, kerabat telah meninggalkannya, ditemani seekor anjing peliharaannya, (DOMKY), seorang sahabat
(SURTI), seorang pelayan (MANDOR), dan empat orang kenalan (KIMIN, POHAN, THAMRIN, HARUN), Haryarti dengan teguh mempersiapkan sebuah penghormatan terakhir yang benar- benar baik dan sepadan dengan kebesaran nama Ayahnya. yang sebenarnya tidak pernah menjadi 2. Surti Sahabat Haryati
3. Thamrin Kenalan Pak Sepuh 4. Harun Kenalan Pak Sepuh
5. Pohan Kenalan Pak Sepuh
6. Kimin Kenalan Pak Sepuh
7. Domki Seekor Anjing
8 Mandor Pak mandor
sahabat keluarga Bapak SEPUH.
Meski hampir semua orang, pelayan, penjaga, tetangga, kerabat telah meninggalkannya, ditemani seekor anjing peliharaannya, (DOMKY), seorang sahabat
(SURTI), seorang pelayan (MANDOR), dan empat orang kenalan (KIMIN, POHAN,
9. Duha Suami Haryati DUHA
Tidak ! Semua sudah berakhir HARYATI. Sebagai Ayah anak- anakmu, aku punya kewajiban menghentikanmu menjadi penipu.
Tabel 2: Tokoh Utama dan Pendamping.
No Nama Tokoh
Interaksi dengan tokoh lain
Muncul setiap Adegan
Keterangan
1. Haryati Surti
Thamrin
Harun
Pohan
Kimin
Domki
Mandor
Duha
A.1 A.2 A.3 A.4
Tokoh Utama
2. Surti Haryati
Thamrin - Harun - Pohan - Kimin -
Domki
Mandor - Duha -
A.1 A.2 A.3 A.4
Tokoh Pendamping
3. Thamrin Haryati Surti -
Harun
Pohan
Kimin
Domki - Mandor - Duha -
A.1 A.2 A.3 - A.4 -
Pendamping
Harun Haryati
Surti - Thamrin
A.1 A.2 A.3 -
Pohan
Kimin
Domki - Mandor - Duha -
A.4 -
Pohan Haryati
Surti -
Harun
Thamrin
Kimin
Domki - Mandor - Duha -
A.1 A.2 A.3 - A.4 -
Kimin Haryati
Surti -
Harun
Pohan
Thamrin Domki - Mandor - Duha -
A.1 A.2 A.3 - A.4 -
Domki Haryati
Surti
Harun - Pohan - Kimin - Thamrin - Mandor - Duha -
A.1 A.2 A.3 - A.4 -
Mandor Haryati
Surti - Harun - Pohan - Kimin - Thamrin - Domki -
Duha
A.1 - A.2 - A.3 A.4
Duha Haryati
Surti - Harun - Pohan - Kimin - Thamrin - Mandor Domki -
A.1 - A.2 - A.3 A.4
Tabel 3: Penokohan dan Karakter
Analisis penokohan pada naskah drama Pesan Terakhir karya Ratna Sarumpaet, No Nama Tokoh Karakter Kutipan
1. Haryati Sombong, ego Orang tua: “ (Mengakhiri hidupnya).
Aku membunuh, oleh sebab itu aku ada”.
2. Surti Penyayang SURTI
Aku sahabatmu HARYATI.
3. Thamrin Baik THAMRIN
Gua setuju. Ipar gua, yang kayanya masih nanggung aja, hidupnya udah kalang kabut nggak karuan. Mau beli ini, mau beli itu, mau punya yang ini, punya yang itu. Sekarang lihat Pak Sepuh ini ... Apa yang dia kagak punya? Uang, kekuasaan --- Udah mati begini, mati aja ... Semua harta dan kekuasaan yang dia punya dulu tetap aja nggak mampu bikin dia hidup lagi ....
Harun Baik HARUN
Aku kadang bersyukur betul jadi orang kecil. Segala sesuatu bisa dihadapi dengan sederhana. Hidup kita sederhana, kebutuhan kita sederhana, mati kitapun sederhana.
Pohan Rasional POHAN
Tinggi kali falsafahmu itu RUN. Tapi kalau perut anak-anakmu menjerit kelaparan. Merengek pengen ini itu.
Apa falsafah seperti itu bisa bikin mereka tentram?
Kimin Baik POHAN
Lupa pada mati itu sudah kodrat manusia. Itu makanya Agama dikirim.
Mau yang lebih, itu juga kodrat. Sudah kaya, mau lebih kaya. Sudah punya kuasa, mau lebih berkuasa.
Ambil contoh kecil sajalah si Jumi yang manis itu. Sudah cantik dia.
Tapi masih juga mau lebih cantik. Dia ganjallah hidungnya dengan pelastik.
Sekarang? Hidungnya malah mancung kekiri ...
Domki Setia HARYATI
Orang-orang berkata, “Seekor anjing selalu lebih memahami majikannya ketimbang seorang sahabat”.
Mandor Setia HARYATI
Tidak ada di negri ini yang lebih setia dari kamu Mandor. Tapi kenapa ya, orang-orang setia identik ternyata sangat dengan ketololan?
Duha Rasionaitas DUHA
Tidak ! Semua sudah berakhir HARYATI. Sebagai Ayah anak- anakmu, aku punya kewajiban menghentikanmu menjadi penipu 4. Amanat
Amanat adalah pesan moral yang ingin disampaikan seorang pengarang kepada pembaca atau penonton. Amanat drama selalu berhubungan dengan tema dan ceritanya, amanat juga menyangkut nilai yang ada di masyarakat, dan disampaikan secara implisit.
Amanat atau pesan yang dapat di ambil dari naskah drama di atas adalah [1]
harus berbuat baik kepada siapapun dan [2] kita adalah mhkluk social yang akan membutuhkan orang lain, jadi saling menghormati antar sesam.
5. Tema
Tema adalah gagasan pokok atau jug ide yang mendasari pembuatan dari sebuah drama. Tema merupakan gagasan utama yang menjalin struktur isi drama, tema berkaitan dengan proses jalan cerita sebuah drama.
Tema dalam naskah drama Pesan Terakhir karya Ratna Sarumpaet, adalah mengajarkan tentang bagaimana kita sebagai manusia mampu menghargai manusia yang lain, keran sejatinya kita adalah mahkluk social yang saling membutuhkan.
UNSUR EKSTRINSIK
Biografi Pengarang
Iwan Simatupang adalah sastrawan tahun 1960-an yang menulis karya-karya yang bersifat inkonvensional sebagai pertanda angin baru dalam kesusastraan Indonesia.
Iwan Simatupang lahir di Sibolga, Sumatera Utara, tanggal 18 Januari dengan nama Iwan Martua Dongan Simatupang. Sebagian masa kecil Iwan dilaluinya di Aceh,
daerah yang dikenal sebagai “serambi Mekah”. Kemudian, pada masa remajanya dia tinggal di Sibolga, tempat kelahirannya, yaitu pusat agama Protestan di Sumatra Utara. Iwan Simatupang akhirnya memilih agama Katolik sebagai agamanya sampai akhir hayat.
Iwan mulai menulis pada awal 1950an. Kala itu, ia tengah belajar di Fakultas Kedokteran, Sekolah Kedokteran Surabaya. Mula-mula Iwan mengirimkan naskahnaskahnya ke Siasat, Zenith, Mimbar Indonesia. Karya-karya awal atau setidaktidaknya yang mula ia publikasikan, adalah sajak-sajak. Namun, menurut pendapat Dami N. Toda, sajak-sajak tersebut kurang berhasil. Diksi dan verifikasinya terlampau dipaksa-paksakan menanggung beban ide atau tema, sehingga tak memberi harapan bagi kepengarangan Iwan di dunia kepenyaira.
PENDEKATAN MIMETIK 1. Teori Pendekatan Mimetik
Pendekatan mimetik adalah suatu jenis pendekatan yang dalam analisisnya, mengkaji hubungan antara suatu karya sastra dengan kenyataan yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Menurut Semi (2021, hlm 7), kritik mimetik (mimetic criticism), yaitu kritik yang bertolak pada pandangan bahwa karya sastra merupakan suatu tiruan atau penggambaran dunia dan kehidupan manusia. Oleh sebab itu, kritik sastra mimetik cenderung untuk mengukur kemampuan satu karya sastra menangkap gambaran kehidupan yang dijadikan sebagai objek.
Dalam berbagai aspek kehidupan banyak hal yang dapat dinilai dengan pendekatan mimetik ini. Peneliti dapat menganalisis dari segi agama, pendidikan, sosial, politik, budaya, dan hal yang lainnya. Khusus dalam penelitian ini, penulis memilih untuk memfokuskan analisis pada aspek sosial dan budaya saja. Menurut penulis pendekatan mimetik ini, merupakan jenis pendekatan yang tepat untuk mengkaji nilai sosial dan budaya dalam suatu cerpen. Penulis berharap dengan adanya analisis aspek sosial dan budaya terhadap suatu cerpen ini dapat membuat seorang siswa dapat menghargai, dan juga melestarikan setiap kebudayaan yang ada di Indonesia.
Seperti yang dikatakan oleh Semi (2021, hlm 21), Kritik sastra berfungsi pula untuk membina tradisi kebudayaan, membentuk suatu tempat berpijak cita rasa yang benar, melatih kesadaran, dan secara sadar pula
mengarahkan pembaca kepada pembinaan pengertian tentang makna kehidupan. Hal yang dijelaskan oleh Semi tersebut bermaksud untuk pembinaan terhadap kebudayaan dan apresiasi seni.
Pemahaman unsur sosial pada naskah drama akan memberikan gambaran nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Nilai sosial tersebut melingkupi hubungan pengarang dengan masyarakat dan hasil karya sastra dengan masyarakat. Nilai sosial akan memudahkan pembaca untuk memahami nilai sosial masyarakat drama, sehingga pemahaman terhadap isi drama dapat menyeluruh. Oleh sebab itu dalam mengkaji naskah drama tersebut harus tepat dalam penggunaan pendekatan, dalam hal ini pendekatan sosiologi.
2. Analisis Pendekatan Mimetik pada Naskah Drama (Aspek Sosial)
Terdapat beberapa kritik sosial dan kritik politik yang dipresentasikan dalam naskah drama “Pesta Terakhir” karya Ratna Sarumpaet yang terlihat dari penggambaran peristiwa yang terjadi dalam naskah. Penggambaran kritik di atas terangkum dalam 3 konsep sosiologi sastra Hipollyte Taine yakni saat (momen), Ras, dan Lingkungan (milieu). Kritik sosial yang disampaikan dalam konsep Momen terbagi kedalam (1). Momen manusia individu dimana Tokoh Thamrin yang terlihat begitu dominan menyampaikan kritik. (2) Momen manusia kelompok dimana Tokoh Pohan dan Tokoh Haryati begitu menonjol dalam naskah. Tokoh Pohan mewakili kelompok masyarakat, edangkan Tokoh Haryati mewakili kelompok Pemerintahan. (3) Momen sosial, dalam momen ini terdapat gabungan dari dialog Tokoh pada Momen Individu dan Momen Kelompok yang diwakili oleh Tokoh Thamrin dan Tokoh Haryati yang dominan dalam dialog.