MAKALAH
ANALISIS PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELANGGARAN KODE ETIK YANG DILAKUKAN OLEH JAKSA
DOSEN PENGAMPU HERY ZARKASIH, S.H.,M.H
DI SUSUN OLEH:
NIZA ANGGUN CAHAYA NINGSIH 210204081
PROGRAM STUDI ILMU FALAK FAKULTAS SYARIAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI MATARAM 2024
KATA PENGANTAR
Alhamdulillah segala puji bagi Allah, berkat limpahan rahmat dan taufiq-Nya kami dapat menyelesaikan tulisan ini. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad shallallahu’alayhiwasallam, beserta keluarga, sahabat dan pengikut beliau sampai akhir jaman. Kami sampaikan rasa terima kasih kepada Dosen Pengampu Mata Kuliah
“Etika Profesi”, yakni Hery Zarkasih, S.H.,M.H. yang telah memberikan pengetahuan kepada saya terutama tentang mata kuliah ini, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ANALISIS PENEGAKAN HUKUM TERHADAP PELANGGARAN KODE ETIK YANG DILAKUKAN OLEH JAKSA
Kami menyadari betul bahwa makalah ini jauh dari kesempurnaan karena keterbatasan kemampuan dan ilmu yang kami miliki. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran serta masukan yang membangun demi kesempurnaan laporan ini. Akhirnya hanya kepada Allah kita berserah diri. Semoga tulisan inidapat bermanfaat bagi kita semua. Aamiin Allahumma Aamiin.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR... ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN... 1
1.1 Latar Belakang...1
1.2 Rumusan Masalah...3
1.3 Tujuan...3
BAB II PEMBAHASAN... 4
2.1 Pengaturan Kode Etik Jaksa di Indonesia...4
2.2 Penyelesaian Pelanggaran Kode Etik terhadap Jaksa yang melakukan Perbuatan Korupsi...4
BAB III PENUTUP... 10
3.1 Kesimpulan...10
DAFTAR PUSTAKA... 11
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Menurut ketentuan Pasal 1 angka 3 UUD 1945, Negara Republik Indonesia adalah negara hukum. Hukum adalah panglima tertinggi dalam penyelenggaraan negara. Hal ini dimaksudkan agar hukum dapat menjamin kepastian hukum bagi masyarakat yang berlandaskan keadilan bukan sekedar kekuasaan (maachsstaat) dan yang pemerintahannya berlandaskan sistem konstitusional (hukum dasar) bukan absolut. Pasal tersebut menekankan bahwa penegakan hukum dan keadilan yang memberikan manfaat, kepastian hukum, dan perlindungan hukum bagi masyarakat dalam upaya mencapai tujuan nasional merupakan salah satu asas negara hukum.
Menyelenggarakan kekuasaan kehakiman yang merdeka dan merdeka dari campur tangan pengaruh kekuasaan pemerintah dan pengaruh kekuasaan lain merupakan salah satu asas negara hukum.
Salah satu penegak hukum adalah kejaksaan, kejaksaan sebagai lembaga penegak hukum memiliki peran dalam menerapkan supermasi hukum, dalam perlindungan terhadap kepentingan hukum, penegakan HAM, serta pemberantasan praktik KKN yang diatur dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan secara spesial dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Dalam Undang-Undang Nomor 16 tahun 2004 menerangkan bahwa kejaksaan adalah lemabaga pemerintah yang melaksanakan kekuasaan negara dibidang penuntutan dan kewenangan lainnya yang dilaksanakan secara merdeka. Dalam menjalankan kewenangannya jaksa memerlukan suatu tata laku, tata pikir dan tata kerja yang memuat mengenai nilai-nilai dan norma sosial lainya selain norma hukum. Pembakuan terhadap nilai-nilai tersebut dilakukan dengan penyusunan dan penerapan kode etika profesi.
Salah satu cara untuk melaksanakan kode etik dan regulasi terjadi dalam profesi jaksa, dan jaksa berkewajiban menjalankan dan melaksanakan semua etika profesi yang berlaku padanya. Menurut Saherojdi, istilah jaksa berasal dari bahasa Sansekerta yang artinya mengawasi atau mengontrol yaitu pembina urusan sosial. Jaksa adalah pejabat
fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang yang berfungsi sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap dan kewenangan lain yang dijalankan sesuai dengan hukum. Jaksa adalah pejabat fungsional instansi pemerintah, pengangkatan dan pemberhentian jaksa tidak dilakukan oleh kepala negara, tetapi oleh ketua jaksa.
Kode etik jaksa serupa dengan kode etik lainnya. Mengandung nilai-nilai luhur dan ideal sebagai norma perilaku profesional. Jika bisa dilaksanakan sesuai dengan tujuan ke depan maka akan dihasilkan jaksa yang memiliki kualitas moral yang baik. Jadikan kehidupan peradilan negara kita berhasil. Sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kekuatan penegakan hukum di bidang penegakan hukum, sudah selayaknya setelah kurun waktu tersebut Kejaksaan mempertimbangkan kembali keberadaan lembaga ini agar dapat terbentuk paradigma baru jaksa dari refleksi tersebut, yang tercermin pada Sikap moral, pikiran dan perasaan. Oleh karena itu, Kejaksaan tetap akan mengakui identitasnya dalam menjalankan tugasnya sebagai wakil nasional dan wali masyarakat di bidang penegakan hukum.
Selain itu, kejaksaan di Indonesia terdapat lima kode etik profesi yang dimana semuanya itu mengatur bagaimana hukum itu ditegakkan sesuai dengan fakta pelanggaran dan hukum yang berlaku. Kode etik ini juga sebaai barometer untuk mengukur sejauh mana profesionalisme penegak hukum. Profesionalisme seorang jaksa sungguh sangat penting dan mendasar, sebab sebagaimana disebutkan diatas, bahwa di tangannyalah hukum menjadi hidup, dank arena kekuatan dan otoritas yang dimilikinya inilah sampai muncul pertanyaan bahwa (it doesn’t matter what the law says, what matter is what the guy behind the desk interprents the law to say). (Priyo Utomo, Etika Dan Profesi, Jakarta, Gramedia, 1998)
Salah satu kasus pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh oknum jaksa yaitu Tindak Pidana Korupsi di Indonesia seringkali disebabkan oleh penyalahgunaan jabatan.
Tindakan tersebut merupakan perbuatan menyalahi aturan dan norma-norma di lingkungan masyarakat yang dapat merugikan bagi banyak orang yang dilakukan seseorang dalam menyalahgunakan kekuasaanya demi keuntungan peribadi. Tindak Pidana Korupsi yang disingkat dengan tipikor dapat dibagi menjadi 2 aspek, yaitu aspek ekonomi dan aspek
politis. Aspek ekonomi merupakan keadaan dimana seseorang melakukan korupsi karena ingin memperkaya diri sendiri ataupun orang lain dan tindakan tersebut dapat merugikan perekonomian negara. Sedangkan aspek politis adalah tindakan penyalahgunaan jabatan dalam politik, yakni dilakukan untuk mempengaruhi orang banyak demi kekuasaan jabatan oleh pelaku. Seperti memberikan bantuan berupa sembako yang didapat dari hasil korupsi.
(Syahrul Borman M , 2023) 1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaturan kode etik jaksa di Indonesia ?
2. Bagaimana penyelesaian pelanggaran kode etik terhadap jaksa yang melakukan korupsi ?
1.3 Tujuan
1. untuk mengetahui pengaturan kode etik jaksa di Indonesia.
2. untuk mengetahui bagaimana penyelesaian pelanggaran kode etik terhadap jaksa yang melakukan korupsi.
BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengaturan Kode Etik Jaksa di Indonesia
Etika secara bahasa berasal dari bahasa Yunani “ethos” yang mempunyai banyak arti seperti padang rumput, tempat tinggal, kebiasaan, watak, sikap dan cara berpikir.
Dalam bentuk jamak, etika dikenal sebagai suatu kebiasaan (K. Bertens, 2007). Dari sini diketahui jika etika merupakan ajaran mengenai baik atau buruk serta hal-hal yang dapat diterima umum. Menurut KBBI, etika mempunyai makna sebagai ilmu mengenai apa yang baik dan buruk, sekelompok asas atau nilai akhlak dan nilai mengenai yang benar atau yang salah.
Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 tentang Kejaksaan Republik Indonesia, Jaksa adalah pejabat fungsional yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk bertindak sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap serta wewenang lain berdasarkan undang-undang.
Etika adalah cabang ilmu yang mengkaji pertanyaan tentang apa yang merupakan perilaku yang benar atau salah secara moral pada manusia. Kemahiran teknis dalam penuntutan kasus merupakan fungsi pekerjaan utama kejaksaan. Sedangkan kode etik profesi kejaksaan sangat penting untuk diakui sebagai jaksa yang memiliki integritas pribadi dan disiplin yang tinggi untuk menjalankan tugas penegakan hukum dalam mewujudkan keadilan dan kebenaran (Prapanca,2019)
Salah satu lembaga tertua dalam sistem penegakan hukum atau salah satu komponen dalam sistem peradilan pidana di Indonesia adalah kejaksaan. Kejaksaan adalah institusi terdepan dalam pemberantasan kejahatan di Indonesia, karena di kejaksaan terdapat urat nadi hukum. Melalui kejaksaan undang-undang dan tujuan hukum seperti tegaknya keadilan kebenaran dan kesamaan di depan hukum dapat ditegakkan. Tugas dan wewenang jaksa adalah sebagai penuntut umum dan pelaksana putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap dalam perkara pidana.
Profesi jaksa termasuk subs item dari profesi hukum yang ada di Indonesia. Profesi jaksa ini juga mempunyai kode etik yang mengikat seperti profesi-profesi lainnya. Kode etik jaksa mengandung nilai-nilai luhur sebagai pedoman berperilaku dalam suatu berprofesi jaksa. Apabila kode etik ini dijalankan sesuai dengan tujuannya maka akan melahirkan jaksa-jaksa yang bermoral baik dalam melaksanakan tugasnya sehingga peradilan di negara kita akan mengarah pada keberhasilan. Untuk mengemban tugas profesi, usaha-usaha yang dilakukan oleh jaksa bukan hanya untuk memenuhi unsur-unsur yang terkandung dalam ketentuan-ketentuan hukum melainkan mendengar dan memperjuangkan sesuatu yang benar-benar terjadi. Profesionalisme seorang jaksa sungguh sangat penting dan mendasar sebab di tangannyalah hukum menjadi hidup.
Setiap ketentuan dalam Kode Etik Kejaksaan dapat diputuskan secara terpisah, baik di dalam jam kerja maupun di luar jam kerja. Berdasarkan Pasal 12 “Seorang jaksa wajib mengetahui dan menaati Kode Etik Kejaksaan dan setiap pimpinan satuan kerja wajib mengupayakan agar jaksa di lingkungannya menaati Kode Etik Kejaksaan, Jaksa yang terbukti melakukan pelanggaran dapat mengajukan tindakan administrative, Tindakan administratif sekarang tidak lagi mengesampingkan ketentuan pelanggaran dan konsekuensi disiplin yang sepenuhnya didasarkan pada kebijakan disiplin pegawai negeri sipil jika ada ketentuan yang mungkin dilanggar” Tindakan administratif yang dimaksud menurut pasal, yaitu “Pembebasan dari tugas-tugas Jaksa, paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama (1) satu tahun dan/atau Pengalihtugasan pada satuan kerja yang lain, paling singkat 1 (satu)tahun dan paling lama 2 (dua) tahun, Apabila selama menjalani tindakan administratif diterbitkan Surat Keterangan Kepegawaian (Clearance Kepegawaian) maka dicantumkan tindakan administratif tersebut, Setelah selesai menjalani tindakan administratif, Jaksa yang bersangkutan dapat dialih tugaskan kembali ketempat semula atau kesatuan kerja lain yang setingkat dengan satuan kerja sebelum dialih tugaskan”
Regulasi spesifik berkaitan dengan kode etik profesi jaksa diatur dalam Peraturan Jaksa Agung No. Per-014/ A/ JA/ 11/2012. Kehadiran peraturan a quo merupakan bentuk respon kejaksaan dalam memberikan pelayanan dengan melalui birokrasi yang bersih, efektif, efisien, transparan dan akuntabel. Kode etik perilaku jaksa berdasarkan Peraturan Jaksa Agung Nomor. Per-014/ A/ JA/ 11/2012 Tentang Kode Perilaku Jaksa dimaknai
sebagai norma acuan perilaku jaksa dalam menjalankan profesinya dengan menjaga martabat profesinya baik di dalam maupun di luar kedinasan. Kewajiban jaksa dalam mengimplementasikan kode etik profesinya juga terbagi atas kewajibannya kepada negara, kepada institusi, kepada institusi jaksa dan kepada masyarakat.
2.2 Penyelesaian Pelanggaran Kode Etik terhadap Jaksa yang melakukan Perbuatan Korupsi
Menurut Wirjono Prodjodikoro kejahatan diartikan sebagai “overtredigen” atau perbuatan yang melanggar sesuatu dan berkaitan dengan hukum, yang secara sederhana berarti kegiatan melawan hukum (Wirjono Prodjodikoro, 2003). Pelanggaran adalah setiap perbuatan Jaksa yang melanggar kewajiban dan/atau larangan dalam ketentuan Kode Perilaku Jaksa, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja. Jaksa harus memperhatikan dan menghormati hukum dan aturan etika yang berlaku dalam profesinya.
Tujuannya adalah untuk memberikan pedoman, alasan dan batasan kepada jaksa dalam wilayah hukumnya. Kode etik sebagai batasan menjadi penting ketika tindakan penuntutan yang tidak tepat atau bahkan pelanggaran aturan dapat dihukum sesuai dengan tindakan seseorang. Selain ukuran-ukuran pengaruh yang diterapkan dalam kode etik, ada juga sanksi lain, yaitu sanksi pidana atas pelanggaran kode etik kejaksaan.
Komisi kejaksaan harus bertindak lebih tegas terhadap jaksa-jaksa yang melanggar kode etik Jaksa. Hal itu dikarenakan pelanggaran kode etik oleh jaksa telah meningkat.
Pencegahan dapat dilakukan dengan cara memberi edukasi dalam bidang karakter kepada seluruh warga Kejaksaan mengenai pentingnya kode etik jaksa dalam menjalankan tugasnya, idak hanya dibekali pertanggungjawaban secara ilmiah tetapi juga Pertanggungjawaban lahiriyah karena seorang penegak hukum harus memiliki dua aspek penting tersebut. Hal ini wajib diterapkan agar semua jaksa mengikuti kode etik kejaksaan selama bekerja. Selain itu, kejaksaan harus aktif dalam menindak jaksa yang melanggar aturan etik serta menjatuhkan hukuman yang sebanding dengan perbuatannya. Dengan cara tersebut, kejaksaan diharapkan tidak melanggar aturan kode etik lagi. (Prahandini, Elfryda 2023)
Seorang jaksa dalam menjalankan profesinya wajib mematuhi serta menghormati peraturan perundang-undangan dan kode etik yang mengaturnya. Hal ini bertujuan untuk
memberikan arahan, landasan, dan juga batasan bagaimana seharusnya seorang jaksa bertindak dalam lingkup kewenangannya. Kode etik sebagai batasan memiliki peranan apabila terhadap perbuatan jaksa yang tidak sesuai atau bahkan melanggar ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi sesuai dengan perbuatannya. Selain penerapan sanksi kode etik terdapat juga sanksi lainnya yaitu sanksi disiplin PNS apabila melanggar peraturan disiplin PNS dan sanksi pidana apabila perbuatan tersebut merupakan perbuatan pidana.
Pelanggaran terhadap kode etik jaksa itu sendiri didefinisikan sebagai setiap perbuatan Jaksa yang melanggar kewajiban dan/atau larangan dalam ketentuan Kode Perilaku Jaksa, baik yang dilakukan di dalam maupun di luar jam kerja. Berdasarkan definisi di atas maka pelanggaran terhadap etik jaksa bukan saja perbuatan yang melanggar larangan tetapi juga kewajiban, yang baik dalam waktu menjalankan profesinya atau tidak.
Hal ini berarti setiap waktu dan saat kode etik melekat dengan jaksa.
Dalam hal terjadi pelanggaran kode etik jaksa, pihak yang berwenang melakukan penyelesaian yang dimulai dari tahap pemeriksaan sampai dengan putusan adalah majelis kode perilaku. Majelis kode perilaku sendiri merupakan wadah yang dibentuk dalam lingkup kejaksaan yang terdiri ketua yang merangkap anggota, yaitu pejabat yang berwenang membentuk Majelis Kode Perilaku atau pejabat yang ditunjuk, sekretaris merangkap anggota, serta seorang anggota dari unsur PJI dengan jenjang kepangkatannya tidak lebih rendah dari oknum Jaksa yang akan diperiksa.
Pembentukan MKP sendiri merupakan kewenangan dari komisi kejaksaan yang merupakan tindak lanjut dari adanya laporan atau pengaduan dari masyarakat terhadap kinerja dan perilaku jaksa dan pegawai kejaksaan dalam menjalankan tugas dan wewenangnya. Dalam hal pemeriksaan terhadap pelanggaran harus diselesaikan dalam kurun waktu 30 hari, apabila berdasarkan hasil pemeriksaan dinyatakan perbuatan tersebut terbukti melanggar ketentuan kode etik maka terhadap jaksa yang bersangkutan dikenakan tindakan administratif. Sanksi tindakan administratif sendiri terdiri:
a) Pembebasan dari tugas-tugas Jaksa, paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama (1) satu tahun; dan/atau
b) Pengalih tugasan pada satuan kerja yang lain, paling singkat 1 (satu) tahun dan
Berdasarkan Pasal 13 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia, terdapat sanksi yang akan dikenakan kepada seorang jaksa yang melanggar Kode Etik atau melanggar sumpah atau janji jabatannya. Sanksi tersebut berupa diberhentikan tidak dengan hormat dari jabatannya. Sanksi ini akan diberlakukan “apabila seorang jaksa dipidana karena melakukan tindak pidana kejahatan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, terus menerus melalaikan kewajiban dalam menjalankan tugas/pekerjaannya, melanggar larangan menjadi pengusaha, pengurus atau karyawan badan usaha milik negara/daerah, atau badan usaha swasta dan advokat sebagaimana diatur dalam Pasal 11, melanggar sumpah atau janji jabatan sebagaimana diatur dalam Pasal 10, atau melakukan perbuatan tercela.”
Namun, sebelum diberhentikan tidak dengan hormat, jaksa yang bersangkutan diberi kesempatan untuk membela diri di hadapan Majelis Kehormatan Jaksa. Hal ini diatur dalam Pasal 13 ayat 2 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia. Dengan adanya sanksi tersebut, diharapkan dapat menjaga integritas dan profesionalisme jaksa dalam menjalankan tugasnya serta memberikan perlindungan hukum terhadap pelanggaran etika dan kewajiban jabatan yang dilakukan oleh seorang jaksa.
Dalam kasus Farizal (Nandarson, M 2016), seorang jaksa, terlibat dalam penyalahgunaan profesi hukum dengan menerima suap sebesar Rp 440 juta dan melanggar Kode Etik Profesi Kejaksaan. Tindakan-tindakan yang dilakukannya meliputi tidak menangkap Xaveriandy Sutanto, tidak hadir dalam sidang terkait kasus peredaran gula impor, tidak memberikan informasi kepada tim kejaksaan lainnya, dan membantu Sutanto menyusun eksepsi dakwaan. Tindakan-tindakan ini melampaui kewenangan seorang jaksa dan melanggar tugas dan kewajiban yang seharusnya dilakukan. (Prahandini, Elfryda 2023)
Pasal 7 huruf a dan b Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor PER - 014/A/JA/11/2012 tentang Tata Cara Penyidik terbukti dilanggar oleh Kejaksaan Farizal (Antara, 2017) . Penuntut Umum tidak diperkenankan menerima hadiah atau keuntungan baik dari pihak yang berwenang maupun yang tidak berwenang berdasarkan pasal ini. Tindakan Farizal bertentangan dengan cita-cita keadilan yang disimbolkan dengan lambang Kejaksaan Agung, yaitu Prinsip Tri Krama Adhyaksa, Prinsip dilanggar adalah satya, perilakunya yang tidak menentu dalam menegakkan keadilan dan kebenaran dalam tindakannya.. Karena setiap orang sama
kedudukannya di mata hukum, maka ia harus memperlakukan setiap terdakwa secara adil dalam kedudukannya sebagai penuntut.
Jaksa Penuntut Umum (JPU) mengajukan pasal alternatif terhadap Farizal. Pelanggaran pertama adalah melanggar Pasal 12 huruf a UndangUndang Nomor 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 di samping Pasal 64 ayat (1) KUHP. Kedua, tidak memenuhi Pasal 64 ayat (1) KUHP juncto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Dengan syarat agar terdakwa tetap dalam tahanan, Jaksa Farizal divonis 5 tahun penjara dikurangi dengan waktu tahanan terdakwa, denda sebesar Rp. 250.000.000 subsidair 6 bulan kurungan, dan diharuskan membayar ganti rugi sebesar Rp 335,6 juta (Saputra, A 2021). Jaksa Farizal diberhentikan dengan tidak hormat karena alasan Pasal 13 Ayat (1) Huruf a, d, dan e Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan selain dijatuhi hukuman penjara dan denda atas pelanggaran etik dan hukum yang dilakukannya.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kode etik jaksa diuraikan dalam Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor PER-014/A/JA/11/2012 tentang Kode Etik Jaksa. Peraturan ini mengatur hak dan tanggung jawab jaksa, serta laranganlarangan yang berlaku bagi mereka. Kode etik jaksa berlaku baik di dalam maupun di luar batas-batas profesinya, sehingga menjadi bagian permanen dari jaksa. Jika seorang jaksa terlibat dalam tindakan korupsi, masalah ini dapat diselesaikan dengan menggunakan kode etik profesi atau proses hukum yang tepat. Majelis Kode Etik menangani penyelesaian kode etik, sedangkan prosedur hukumnya memerlukan kerja sama dengan Kepolisian dan Komisi Pemberantasan Korupsi. Sebagai akibat dari tindakan tersebut, pelakunya akan menghadapi hukuman seperti pemecatan dengan tidak hormat dan penjara.
DAFTAR PUSTAKA Antara (2017), “Jaksa Farizal Dituntut 5 Tahun Penjara”
https://www.medcom.id/nasional/hukum/4KZE0dEk-jaksa-farizaldituntut-5-tahun-penjara Nandarson, M (2016), “Pelanggaran Kode Etik Jaksa Farizal Terkait Kasus Pengusaha yang Suap Irman Gusman” https://batam.tribunnews.com/2016/09/22/ini-dia-pelanggaran-kodeetik- jaksa-farizal-terkait-kasus-pengusaha-yang-suap-irmangusman
Prapanca, Wisnu Gita (2019), “Penegakan Hukum terhadap Jaksa yang Melakukan Tindak Pidana Narkotika. Logika: Jurnal Penelitian Universitas Kuningan 10, no. 01 (2019): 60-68.
Suparman Marzuki,”Menggagas Peradilan Etik di Indoneisa”, (Jakarta: Sekretariat Jendral Komisi Yudisial RI,2015). Soerjono Soekanto & Sri Mamudji, Penelitian Hukum Normatif : Suatu Tinjauan Singkat. (Jakarta :Raja Grafindo Persada, 2003).
Undang–Undang Nomor 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan Republik Indonesia (Lembar Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 67 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4401). Peraturan Jaksa Agung Republik Indonesia Nomor
PER-014/A/JA/11/2012 Tentang Perilaku Jaksa.