(Study Kasus Di Pengadilan Negeri Sumenep)
Skripsi
Oleh
Tri Anjas Andi Prasetiyo 21701021170
UNIVERSITAS ISLAM MALANG FAKULTAS HUKUM
MALANG 2021
(Study Kasus Di Pengadilan Negeri Sumenep)
Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-Syarat Memperoleh Gelar Kesarjanaan Dalam Ilmu Hukum.
Oleh
Tri Anjas Andi Prasetiyo 21701021170
UNIVERSITAS ISLAM MALANG FAKULTAS HUKUM
MALANG 2021
x
TINDAK PIDANA PENCURIAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Study Kasus Di Pengadilan Negeri Sumenep)
Tri Anjas Andi Prasetiyo
Fakultas Hukum Universitas Islam Malang
Pada skripsi ini, penulis mengangkat permasalahan Analisis Penerapan Diversi Terhadap Penanganan Kasus Tindak Pidana Pencurian Yang Dilakukan Oleh Anak (Study Kasus Di Pengadilan Negeri Sumenep). Pilihan tema tersebut dilatarbelakangi dengan banyaknya kasus pencurian yang dimana anak ditempatkan sebagai pelaku tindak pidana yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya dengan proses hukum yang berbelit-belit dan membutuhkan waktu yang sama panjang. Serta dalam upaya penyelesaian dengan menggunakan pendekatan diversi sangat sulit diterapkan mengingat para penagak hukum hanya berfokus pada pemidanaan bukan pemulihan.
Berdasarkan latar belakang tersebut, karya tulis ini mengangkat rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah penerapan Diversi dalam kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep ? 2. Apa yang menjadi kendala dalam penerapan Diversi pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep ?
Penelitian ini merupakan jenis penelitian yuridis empiris, dengan pendekatan yuridis sosiologis. Pengumpulan bahan hukum melalui studi kepustakaan dan studi lapangan dengan menggunakan bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tersier. Selanjutnya data yang telah ada di kumpulakan dianalisis secara kualitatif, dengan cara memadukan antara penelitian kepustakaan dan penelitian lapangan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwa Penyelesaian secara diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep, sudah diterapkan oleh hakim anak sesuai dengan peraturan perundang-undang, yang mana bentuk penyelesaian secara diversi yang dapat ditempuh di Pengadilan Negeri Sumenep yaitu, mediasi, restitusi, permohonan maaf pelaku, pertanggungjawaban oleh pelaku terhadap korban, jaminan dari orang tua pelaku, pemulihan keadaan semula, pelayanan terahadap korban dan pemulihan pelaku melalui elemen masyarakat.
Penyelesaian tindak pidana melalui diversi, terdapat beberapa kendala terhadap penanganan tindak pidana pencurian oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep, yaitu, kurangnya pemahaman masyarakat tentang diversi, keberhasilan dari proses diversi sangat tergantung dari keluarga dan masyarakat yang menjadi tempat anak dikembalikan, dan sangat sulit menghindarkan anak dari pemidanaan secara retributive apabila melakukan pelanggaran yang sangat serius. Karena pada dasarnya keberhasilan proses penyelesaian secara diversi yaitu terletak pada pihak korban yang tidak terima dengan perbuatan pelaku dan menginginkan pembalasan berupa pidana.
Kata Kunci: Diversi, Anak, Peradilan.
xi
TINDAK PIDANA PENCURIAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Study Kasus di Pengadilan Negeri Sumenep)
Tri Anjas Andi Prasetiyo
Faculty of Law, Islamic University of Malang
In this thesis, the author raises the problem of the analysis of the application of diversion to the handling of cases of theft committed by children (a case study at the Sumenep District Court). The choice of the theme is motivated by the many cases of theft where children are placed as perpetrators of criminal acts who must be held accountable for their actions with a convoluted legal process that takes the same length of time. As well as in efforts to resolve using a diversion approach, it is very difficult to apply considering that law enforcement only focuses on punishment, not recovery.
Based on this background, this paper raises the formulation of the problem as follows: 1. How is the application of Diversion in the case of the crime of theft committed by children in the Sumenep District Court? 2. What are the obstacles in implementing Diversion in the theft crime committed by children in the Sumenep District Court?
This research is a type of empirical juridical research, with a sociological juridical approach. Collecting legal materials through library research and field studies using primary legal materials, secondary legal materials and tertiary legal materials. Furthermore, the data that has been collected will be analyzed qualitatively, by combining library research and field research.
The results of this study indicate that the diversionary settlement of the handling ofcases of theft committed by children in the Sumenep District Court, has been applied by juvenile judges in accordance with the laws and regulations, which forms of diversionary settlement that can be taken at the Sumenep District Court are, mediation, restitution, apology from the perpetrator, accountability by the perpetrator to the victim, guarantees from the parents of the perpetrator, restoration of the original situation, services to victims and recovery of perpetrators through community elements.
Settlement of criminal acts through diversion, there are several obstacles to the handling of the crime of theft by children at the Sumenep District Court, namely, the lack of public understanding about diversion, the success of the diversion process is very dependent on the family and community to which the child is returned, and it is very difficult to avoid the child. from retributive punishment if committing a very serious violation. Because basically the success of the diversion settlement process lies with the victim who does not accept the perpetrator's actions and wants revenge in the form of a crime.
Keywords: Diversion, Children, Justice.
1 A. Latar Belakang
Anak merupakan bagian yang tak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia dan keberlangsungan sebuah bangsa dan negara. Anak yang termasuk dalam penerus dari generasi muda biasanya amat tumbuh dan berkembang dengan kondisi sosial yang berbeda dalam kehidupan masyarakat.
Tujuan negara republik Indonesia dalam pembukaan undang-undang dasar 1945 adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan perdamaian abadi dan keadilan sosial. Ketentuan tersebut dalam rangka mewujudkan sumber daya manusia yang berkualitas dan mampu memimpin serta memelihara kesatuan dan persatuan bangsa serta melindungi hak asasi manusia yang berdasarkan pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Pemerintah sebagai penyelenggara kehidupan bernegara memberikan perlindungan dan kesejahteraan kepada masyarakat. Kebijakan pemerintah untuk melaksanakan pembangunan nasional tergabung dalam kebijakan sosial (social policy). Kebijakan penegak hukum (law enforcement policy) merupakan bagian dari kebijakan sosial (social policy) termasuk didalamnya kebijakan legislatif (legislative policy). Kebijakan penanggulangan kejahatan (criminal policy) adalah bagian dari kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy). Pelaksananaan kebijakan penegakan hukum (law enforcement policy)
terhadap penanggulangan kejahatan melibatkan semua komponen yang termuat dalam suatu sistem hukum (legal system).1
Dalam melindungi hak yang terdapat dalam setiap insan jiwa masyarakat yang bernegara termasuk menyangkut hak dasar untuk kepentingan yang terbaik bagi anak, maka dalam ketentuanya menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembangan serta berhak atas atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.2 Perlindungan hak-hak anak pada hakikatnya menyangkut langsung pengaturan dalam peraturan perundang- undang, kebijaksanaan, usaha dan kegiatan yang menjamin terwujudnya perlindungan hak-hak anak, pertama-tama didasarkan atas pertimbangan bahwa anak merupakan golongan yang rawan dan independent, disamping karena adanya golongan anak-anak yang mengalami hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangannya, baik rohani, jasmani, maupun sosial.3
Kejahatan merupakan sebuah perilaku/tindakan yang dilarang oleh negara, karena merupakan perbuatan yang merugikan negara serta masyarakat sosial yang terdampak akibat perbuatan kejahatan oleh seseorang, oleh karena dari perbuatan kejahatan yang dilakukan tersebut negara lewat sebuah peraturan yang sudah dibuat oleh badan legislatif menghukum Tindakan yang dilakukan sebagai upaya pamungkas (ultimum Remedium). Kejahatan dewasa ini tidak hanya melibatkan orang dewa semata, melainkan kejahatan sudah merambat terahap kalangan anak-anak, bukan hanya anak sebagai korban kekerasan yang
1 Marlina, (2009), Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice, Bandung: Rafika Aditama, h. 13.
2 Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945.
3 Waluyadi, (2009), Hukum Perlindungan Anak, Bandung: Mandar Maju, h. 19.
terjadi terhadap anak, yang paling memprihatikan sekarang bahwa Ketika anak itu sendiri yang menjai pelaku tindak pidana.4
Tindak pidana yang dilakukan oleh seorang anak dimulai dari sikap menyimpang anak dari norma-norma masyarakat yang cenderung mengarah ke tindak pidana atau sering disebut dengan juvenile delinquency.
Tindakan/perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak (juvenile delinquency) merupakan setiap perbuatan atau tingkah laku seorang anak yang belum berumur 18 tahun dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku serta membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan.5
Salah satu upaya pencegahan dan penanggulangan kenakalan melalui penyelenggaraan sistem peradilan pidana anak. Tujuan penyelenggaraan sistem peradilan pidana anak tidak semata-mata bertujuan untuk menjatuhkan sanksi pidana bagi anak yang telah melakukan tindak pidana, tetapi lebih difokuskan pada dasar pemikiran bahwa penjatuhan sanksi tersebut sebagai sarana mendukung mewujudkan kesejahteraan anak sebagai pelaku tindak pidana.
Anak yang melakukan pelanggaran hukum sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor diluar diri anak, seperti pergaulan, Pendidikan, teman bermain dan sebagainya, karena tindak pidana yang dilakukan oleh anak pada umumnya terpengaruh Tindakan negatif dari orang dewasa atau orang disekitarnya.6
4 Maidin Gulton, (2006), Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sisitem Peradilan Pidana Anak Di Indonesia, Bandung: Rafika Aditama, h. 35.
5 Wagiati Soetedjo, dan Melani, (2013), Hukum Pidana Anak, Bandung: Rafika Aditama, h. 11.
6 Marlina, (2010), Pengantar Konsep Diversi Dan Restorative Justice Dalam Hukum Pidana, Medan: USU Pres, h. 1.
Ketika anak tersebut diduga melakukan tindak pidana, sistem peradilan formal yang ada pada akhirnya menempatkan anak dalam status narapidana tentunya membawa anak yang berkonflik dengan hukum dengan konsekuensi yang cukup besar dalam tumbu kembang anak. Proses penghukuman yang diberikan kepada anak, dalam hal ini adalah penjara, tidak berhasil menjadikan anak menjadi efek jera serta menyesali dari perbuatannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik dalam menjunjung proses tumbuh kembangnya, melainkan penjara justru seringkali membuat anak semakin professional melakukan tindakan kejahatan.
Pada setiap penanganan perkara pidana aparat penegak hukum sering kali dihadapkan pada kondisi yang mewajibkan untuk melindungi dua kepentingan yang terkesan saling bertolak belakang, yakni kepentingan korban yang wajib dilindungi untuk memulihkan penderitaannya karena telah menjadi korban kejahatan (secara mental maupun fisik), dan kepentingan tertuduh/tersangka sekalipun dia bersalah, tetapi dia tetap sebagai manusia yang mempunyai hak asasi yang harus dijunjung tinggi. Oleh karena itu, pelaku harus dianggap sebagai orang yang tidak bersalah (asas praduga tak bersalah). Dalam penyelesaian perkara pidana, hukum seringkali melakukan kekeliruan dengan terlalu mengedepankan hak-hak dari tersangka/terdakwa, sementara hak-hak dari korban diabaikan.7
Perlindungan hukum terhadap anak yang berhadapan dengan hukum harus benar-benar di prioritaskan oleh aparat penegak hukum. Mengingat anak yang berhadapan dengan hukum berada pada situasi diluar kendali mental dan
7 Arfan Kimudin, Surabaya, Agustus 2015, Perlindungan Hukum Korban Tindak Pidana Pencurian Ringan Pada Proses Diversi Tangkat Penyidikan, Arena Hukum, Vol. 8 No. 2, h. 261-262.
pesisikisnya serta dalam proses penangananya aparat penegak hukum hanya melihat prosedur hukum yang berlaku saja, tidak memikirkan bagaimana kondisi kejiwaan anak yang sedang berhadapan dengan hukum. Untuk penanganan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum merupakan bagian dari kebijakan penanggulangan kejahatan bagi anak, serta apabila terjadi penahanan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum semaksimal mungkin dijauhkan dari sistem peradilan pidana anak.
Lewat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak didalamnya terdapat sebuah keharusan untuk menegakkan suatu keadilan kepada anak yang berkonflik dengan hukum dengan cara penerapan Diversi sebagai salah satu metode penyelesaian perkara anak di Indonesia. Hal tersebut tentunya dapat menjadi jalan keluar bagi perkara tindak pidana yang dilakukan oleh anak agar diselesaikan diluar peradilan, sehingga anak yang berkonflik dengan hukum tidak merasakan proses peradilan seperti pemeriksaan, penahanan dan sidang dipengadilan.
Dalam proses penanganan anak yang berhadapan dengan hukum, Diversi merupakan proses pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke poses diluar peradilan pidana.8 Langkah pengalihan dibuat untuk menghindarkan anak dari tindakan hukum selanjutnya dan untuk dukungan komunitas, disamping itu pengalihan bertujuan untuk mencegah pengaruh negatif dari tindakan hukum berikutnya yang dapat menimbulkan stigmatisasi. Apabila perkaranya tidak dapat dilakukan dengan cara mediasi Sistem Peradilan Pidana Anak harus mengacu pada due process of law,
8 Pasal 1 Ayat (7) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
sehingga Hak Asasi Anak yang diduga melakukan tindak pidana dapat dilindungi.
Diversi berupaya memberikan keadilan kepada anak yang sedang berhadpan dengan sistem peradilan akibat terlanjur melakukan tindak pidana.
Diversi diberikan kepada anak yang sedang berhadapan dengan hukum dikarenakan sebagaiman dalam ketentuan Pasal 7 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak secara tegas menyebutkan pada tingkat penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan perkara anak di pengadilan wajib mengupayakan diversi, dengan kulaifikasi tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara dibawah 7 (tujuh) tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana.
Untuk melaksanakan pembinaan dan memberikan perlindungan terhadap hak-hak anak yang sedang berhadapan dengan hukum diperlukan dukungan, baik yang menyankut kelembagaan maupun perangkat umum yang memadai sesuai dengan ketentuan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak. Salah satu bentuk tindakan kejahatan yang sering terjadi dilakukan oleh anak yaitu tindak pidana pencurian. Tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak tidak terjadi dengan sendirinya, melainkan disebabkan oleh beberapa faktor yang menyebabkan anak melakukan perbuatan melawan hukum.
Dalam tindak pidana pencurian sendiri diatur dalam ketentuan pasal 362 sampai dengan 367 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana, dari ketentuan pasal 362 KUHP menyebutkan “barang siapa mengambil barang sesuatu, yang seleuruhnya atau Sebagian kepunyaan orang lain, dengan maksud untuk
dimiliki secara melawan hukum, diancam karena pencurian, dengan pidana penjara paling lama lima tahun atau denda paling banyak enam puluh rupiah.”
Dari ketentuan tersebut maka terdapat unsur-unsur sebagai berikut:
a. Unsur Obyektif, meliputi:
1) Mengambil 2) Suatu barang, dan
3) Yang seluruhnya atau Sebagian milik orang lain.
b. Unsur subyektif, meliputi:
1) Dengan maksud,
2) Untuk memiliki barang/benda tersebut untuk dirinya sendiri, dan 3) Secara malawan hukum.
Dengan demikian, untuk melindungi anak yang sedang berhadapan dengan hukum, penegak hukum menjadi begitu subjektif dalam menyelesaiakan suatu kasus tindak pidana, salah satunya kasus pencurian yang dilakukan oleh anak. Karena pada kenyataanya banyak kasus pencurian yang berakhir dengan jalur pengadilan dan putusanya adalah penjara, sesuai yang terjadi di pengadilan negeri sumenep. Dalam proses peradilan majelis hakim harus mempertimbangkan kondisi seorang anak jika dalam kasus pencurian yang dilakukan oleh anak vonis yang diberikan adalah pidana penjara. Hal tersebut bertolak belakang dari tujuan diversi yang mana salah satunya untuk mewujudkan perdamain antara korban dan anak, serta menyelesaikan perkara anak diluar proses peradilan.
Dari uraian latar belakang diatas penulis perlu megkaji permasalahan terkait dengan penerapan diversi terhadap pelaku tindak pidana, yang sudah
dituangkan dalam skripsi yang berjudul “Analisis Penerapan Diversi Terhadap Penanganan Kasus Tindak Pidana Pencurian Yang Dilakukan Oleh Anak (Study Kasus Di Pengadilan Negeri Sumenep)”
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah penerapan Diversi dalam kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep ?
2. Apa yang menjadi kendala dalam penerapan Diversi pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep ? C. Tujuan Peneltian
1. Untuk mengetahui penerapan Diversi dalam kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep.
2. Untuk mengeathui kendala dalam penerapan Diversi pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep.
D. Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
a. Memberi wawasan mengenai pemidanaan dan penjatuhan sanksi tehadap pelaku tindak pidana pencurian terhadap anak.
b. Mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana, khususnya tindak pidana yang dilakukan oleh anak.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Masyarakat
Mengetahui dengan benar mengenai perlindungan hukum yang dilakukan oleh penegak hukum mengenai pidana yang berkaitan dengan anak.
b. Bagi Pihak-Pihak Lain
Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan bagi Lembaga-lembaga atau pihak-pihak lain yang bertanggungjawab terhadap permasalahan tindak pidana terkait dengan anak.
E. Orisinalitas Penelitian
Berkaitan dengan peneltian ini sebelumnya telah dilakukan penelitian yang sama berkaitan dengan analisis penerapan Diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak, dan atas penelitian tersebut terdapat persamaan, perbedaan dan nilai kebaruan jika di bandingkan dengan eksistensi penelitian ini, yakni:
Skripsi yang pertama, dengan judul PROSES DIVERSI DALAM PENYELESAIAN PERKARA TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK (Studi Kasus di Wilayah Hukum Kepolisian Resor Gowa Tahun 2015- 2016), yang disusun oleh Cahyadi, Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin Makassar, memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, yaitu mengkaji proses penyelesaian diversi terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak. Sedangkan perbedaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah menganalisis proses penyelesaian secara diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak.
Dan dalam penelitian penulis membahas terkait diversi sebagai salah satu upaya hukum dalam proses pelaksanaan peradilan bagi anak yang berkonflik dengan hukum. Sedangkan pada penulisan skripsi yang berjudul PROSES DIVERSI DALAM PENYELESAIAN PERKARA TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK (Studi Kasus di Wilayah Hukum Kepolisian Resor
Gowa Tahun 2015-2016), membahas terkait dengan proses pelaksanaan diversi yang dilakukan oleh penyidik di wilayah hukum polres goa, dan kendala yang dihadapi oleh penyidik dalam pelaksanaan diversi di wilayah hukum polres gowa.
Skripsi yang kedua, dengan judul TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN DIVERSI (Studi Kasus Di Polrestabes Makssar), yang disusun oleh Imam Sumantri, Mahasiswa Uiversitas Alauddin Makassar, memiliki persamaan dengan penelitian punulis yaitu, penerapan diversi terhadap anak yang berhadap dengan hukum, sedangkan perbedaan pada penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah mengkaji proses penyelesaian secara diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak. Dan dalam penelitian penulis membahas terkait diversi sebagai salah satu upaya hukum dalam proses pelaksanaan peradilan bagi anak yang berkonflik dengan hukum. Sedangkan dalam pembahasan pada skripsi yang berjudul TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN DIVERSI (Studi Kasus Di Polrestabes Makssar), membahasan terkait dengan penerapan diversi serta hambatan terhadap penerapan diversi di polrestabes makassar dan membahas terkait dengan penerapan diversi dalam perspektif hukum islam.
Skripsi yang ketiga, dengan judul IMPLEMENTASI DIVERSI TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ANAK (Studi Kasus Kejaksaan Negeri Sleman), yang disuse oleh Mayasari, Mahasiswi Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, memiliki persamaan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis yaitu, menganalisis
proses diversi terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana, sedangkan perbedaan dengan penelitian penulis adalah pada penelitian penulis mengkaji penerapan penyelesaian secara Diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak dan kendala yang dihadapi dalam penerapan penyelesaian secara Diversi pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak. Sedangkan pada skripsi yang berjudul IMPLEMENTASI DIVERSI TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ANAK (Studi Kasus Kejaksaan Negeri Sleman), membahas analisis terhadap implementasi diversu dalam tindak pidana yang dilakukan oleh anak.
Berdasarkan persamaan, perbedaan dan konstribusi yang dimiliki oleh tiap-tiap penelitian tersebut dan terdapat kebaruan atas penelitian ini yakni:
No. PROFIL JUDUL
1. CAHYADI
SKRIPSI UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR
PROSES DIVERSI DALAM
PENYELESAIAN PERKARA
TINDAK PIDANA YANG
DILAKUKAN ANAK (Studi Kasus di Wilayah Hukum Kepolisian Resor Gowa Tahun 2015-2016),
ISU HUKUM
1. Bagaimanakah proses pelaksanaan diversi yang dilakukan oleh penyididk di wilayah hukum polres gowa?
2. Kendala apa yang dihadapi oleh penyidik dalam pelaksanaan diversi di wilayah hukum polres gowa?
HASIL PENELITIAN
1. Pelaksanaan diversi di Wilayah Hukum Polres Gowa belum terlaksana secara optimal. Dari 125 kasus yang melibatkan anak sebagai pelaku pada tahun 2015 dan tahun 2016, hanya 85 kasus saja yang berhasil dilaksanakan diversi. hal ini menunjukkan
bahwa masih terdapat beberapa kasus yang tidak dapat terlaksana diversi.
2. Dalam mengupayakan diversi, aparat kepolisian polres gowa masih mengalami beberapa hambatan yakni terbatasnya waktu yang diberikan dalam mengupayakan diversi, kesulitan menghadirkan para pihak yang terkait, terbatasnya jumlah penyidik anak yang tersedia sehingga semua perkara yang melibatkan anak di tangani oleh pihak polres, dan kurangnya kesadaran pihak korban terkait diversi sehingga menolak adanya proses diversi yang diupayakan.
PERSAMAAN Sama-sama mengkaji proses penyelesaian diversi terhadap tindak pidana yang dilakukan oleh anak.
PERBEDAAN
Penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah menganalisis proses penyelesaian secara diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak. Dan dalam penelitian penulis membahas terkait diversi sebagai salah satu upaya hukum dalam proses pelaksanaan peradilan bagi anak yang berkonflik dengan hukum. Sedangkan pada penulisan skripsi yang berjudul PROSES DIVERSI
DALAM PENYELESAIAN PERKARA
TINDAK PIDANA YANG DILAKUKAN ANAK (Studi Kasus di Wilayah Hukum Kepolisian Resor Gowa Tahun 2015-2016), membahas terkait dengan proses pelaksanaan diversi yang dilakukan oleh penyidik di wilayah hukum polres goa, dan kendala yang dihadapi oleh penyidik dalam pelaksanaan diversi di wilayah hukum polres gowa.
KONTRIBUSI
Berguna bagi penulis untuk menambah wawasan dan pengetahuan di bidang hukum khususnya terkait permasalahan tindak pidana tentang anak.
No. PROFIL JUDUL
2 IMAM SUMANTRI
SKRIPSI
UIVERSITAS ALAUDDIN MAKASSAR
TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN
DIVERSI (Studi Kasus Di Polrestabes Makssar) ISU HUKUM
1. Bagaimanakah bentuk penerapan diversi di polrestabes makassar?
2. Apa saja kendala dalam penerapan diversi di polrestabes makassar?
3. Bagaimanakah pandangan hukum islam terhadap penerapan diversi khususnya di polrestabes makassar?
HASIL PENELITIAN
1. Penerapan diversi di Polrestabes Makassar sudah sesuai dengan Undnag-undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 tahun 2015 tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi Dan Penanganan Anak Yang Belum Berumur 12 (Dua Belas) Tahun.
Dimana pengupayaan diversi ditekankan dengan melihat kepentingan terbaik bagi anak yang berkonflik dengan hukum maupun anak sebagai korban. Anak yang dapat diupayakan diversi di tingkat penyelidikan adalah anak yang belum beruisia delapanbelas (18) tahun yang di buktikan dengan akta kelahiran serta perbuatan pidana yang dilakukan oleh anak diancam dengan pidana pokok dibawah 7 tahun dan bukan merupakan pengulangan pidana. Penerapan diversi juga melibatkan pihak-pihak yang berkaitan seperti korban dan keluaraga korban, tersangka dan keluarga tersangka, BAPAS, BAPEMAS, lembaga atau organisasi sosial pendamping anak (korban dan tersangka).
2. Hambatan-hambatan dalam penerapan diversi menurut unit PPA Polrestabes Makassar yaitu, Terbatasnya fasilitas sebagai alat untuk pelaksanaan diversi seperti, ruang mediasi untuk musyawarah, ruang khusus anak, dan lembaga penempatan anak sementar, Pandangan masyarakat khususnya keluarga korban terhadap diversi yang cendrung negatif yang berakibat adanya dendam dan pengucilan bagi anak yang berkonflik dengan hukum serta masyarakat yang masih ingin melakukan pembalasan bagi pelaku dengan cara memberikan hukuman atau pidana. Dan yang terakhir, Sikap keluarga korban yang menganggap dengan adanya diversi hanya akan membebaskan anak dari tanggung jawab atas tindak pidana yang dilakukannya.
3. Diversi dalam Undang-undang No. 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang merupakan gagasan baru yang bermuara pada The Beijing Rules pada hakekatnya telah diatur di dalam hukum Islam yang dikenal dengan konsep islah (perdamaian). Suatu konsep yang mengedepankan penyelesaian perkara secara kekeluargaan. Perbedaan mendasar dari konsep islah dengan diversi terletak pada kasus-kasus yang dapat ditempuh dengan upaya damai. Dalam islah kasus-kasus yang tidak dapat ditempuh adalah tindak pidana yang masuk ke dalam kategori Hudud seperti zina, menuduh zina, miras, pencurian, murtad dan pemberontakan. Selain kategori tersebut dapat ditempuh jalan damai sekalipun melibatkan kasus berat seperti pembunuhan dan sebagainya. Sedangkan dalam diversi, patokannya adalah periode kurungan. Upaya perdamaian dapat ditempuh selagi diancam dengan kurungan di bawah 7 tahun dan bukan residivis.
PERSAMAAN
Sama-sama mengkaji penerapan diversi terhadap anak yang berhadap dengan hukum.
PERBEDAAN
Perbedaan pada penelitian yang dilakukan oleh penulis adalah mengkaji proses penyelesaian secara diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak. Dan dalam penelitian penulis membahas terkait diversi sebagai salah satu upaya hukum dalam proses pelaksanaan peradilan bagi anak yang berkonflik dengan hukum. Sedangkan dalam pembahasan pada skripsi yang berjudul TINJAUAN HUKUM ISLAM TERHADAP PENERAPAN DIVERSI (Studi Kasus Di Polrestabes Makssar), membahasan terkait dengan penerapan diversi serta hambatan terhadap penerapan diversi di polrestabes makassar dan membahas terkait dengan penerapan diversi dalam perspektif hukum islam.
KONTRIBUSI
Berguna bagi penulis untuk menambah wawasan dan pengetahuan di bidang hukum khususnya terkait permasalahan tindak pidana tentang anak yang berkonflik dengan hukum dengan menggunakan upaya Diversi.
No. PROFIL JUDUL
3 MAYASARI
SKRIPSI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
IMPLEMENTASI DIVERSI TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ANAK (Studi Kasus Kejaksaan Negeri
Sleman) ISU HUKUM
1. Bagaimana implementasi diversi terhadap pelaku tindak pidana anak di kejaksaan negeri sleman?
2. Bagaimana perlindungan terhadap hak-hak anak sebagai pelaku tindak dalam proses diversi?
HASIL PENELITIAN
1. Diversi merupakan penyelesaian perkara anak yang dilakukan di luar peradilan formal dengan tujuan menghindarkan dari stigmatisasi Anak yang Berhadapan dengan Hukum (ABH), diversi terhadap pelaku tindak pidana anak pada tingkat penuntutan di Kejaksaan Negeri Sleman berdasarkan pada Pasal 8, Pasal 9, dan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Adapun proses diversi dalam penerapannya adalah dengan mendatangkan korban, keluarga korban, pelaku, keluarga pelaku, serta ketua lingkungan (RT, RW), Guru BK, BAPAS dan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA).
Tujuan dari pertemuan itu adalah untuk membicarakan apa yang diinginkan oleh pihak korban dan pelaku, dan setelah ada kesepakatan dibuat surat kesepakatanyang disaksikan bersama olehpihak-pihak yang diundangPenuntut Umum Anak, Penuntut Umum Anak memohon Surat Penetapan dari Pengadilan Negeri, dan setelah adanya penetapan pihak Penuntut Umum Anak mengajukan surat perihal penghentian penuntutan (P-13) kepada Kejaksaan Tinggi Yogyakarta, yang selanjutnya dari Kejaksaan Tinggi Yogyakarta mengajukan hal serupa kepada Kejaksaan Agung RI dan pihak Kejaksaan Agung yang mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKPP).
2. Perlindungan terhadap hak-hak pelaku tindak pidana anak dalam proses diversi berdasarkan pada Pasal 64 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Adanya Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) adalah dalam rangka kegiatan perlindungan, rehabilitas, advokasi, dan reunifikasi bagi anak yang
membutuhkan perlindungan, serta adanya peran serta BAPAS dari awal proses diversi sampai pelaksanaan kesepakatan diversi merupakan sebuah bentuk perlindungan terhadap pelaku.
PERSAMAAN Sama-sama menganalisis proses diversi terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana, PERBEDAAN Perbedaan dengan penelitian penulis adalah
pada penelitian penulis mengkaji penerapan penyelesaian secara Diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak dan kendala yang dihadapi dalam penerapan penyelesaian secara Diversi pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak. Sedangkan pada skripsi yang berjudul IMPLEMENTASI DIVERSI TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA ANAK (Studi Kasus Kejaksaan Negeri Sleman), membahas analisis terhadap implementasi diversu dalam tindak pidana yang dilakukan oleh anak.
KONTRIBUSI Berguna bagi penulis untuk menambah wawasan dan pengetahuan di bidang hukum khususnya terkait permasalahan tindak pidana tentang anak
Sedangkan pada penelitian penulis adalah:
PROFIL JUDUL
Tri Anjas Andi Prasetiyo SKRIPSI
UNIVERSITAS ISLAM MALANG
ANALISIS PENERAPAN DIVERSI TERHADAP PENANGANAN
KASUS TINDAK PIDANA PENCURIAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK
(Study Kasus Di Pengadilan Negeri Sumenep)
ISU HUKUM
1. Bagaimanakah penerapan penyelesaian secara Diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep ?
2. Apa yang menjadi kendala yang dihadapi dalam penerapan penyelesaian secara Diversi pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep ?
NILAI KEBARUAN
1. Dasar-dasar proses penyelesaian secara diversi sebagai bentuk penyelesaian tindak pidana yang dilakukan oleh anak.
2. Peraturan perundang-undangan sebagai hukum positif yang ada dan konvensi hak-hak anak menjadi pedoman dalam penyelesaian secara diversi terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.
3. Perkembangan tata cara pelaksanaan proses sistem peradilan pidana terhadap anak yang berhadapan dengan hukum.
F. Sistematika Penulisan
Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang arah dan tujuan penulisan skripsi ini, maka secara garis besar dapat digambarkan sistematika penulisan skripsi ini sebagai berikut:
BAB I: PENDAHULUAN
Pada bagian Bab Pendahuluan ini berisikan gambaran singkat mengenai isi peneltian yang terdiri dari Latar Belakang, Rumusan Masalah, Tujuan Penelitian, Manfaat Peneltian, Metode Peneltian, Orisinalitas Penelitian, dan Sistematika Penulisan, yang memberikan pemahaman secara umum terhadap isi dari penelitian.
BAB II: TINJAUAN PUSTAKA
Pada Bab Tinjuan Pustaka ini berisi mengenai, Tindak Pidana Pencurian, Tindak Pidana Anak (pengertian anak, hak-hak anak, sistem peradilan pidana anak), dan Diversi.
BAB III: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Pembahasan dalam Bab ini adalah memebahas atau menguraikan hal-hal yang telah tertulis pada rumusan masalah diantaranya adalah, pertama menguraikan tentang bagaimanakah penerapan Diversi dalam kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep, dan yang kedua menguraikan apa yang menjadi kendala dalam penerapan Diversi pada tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep.
BAB IV: PENUTUP
Dalam Bab ini akan dipaparkan mengenai kesimpulan dan saran-saran terkait dengan permasalahan yang diteliti.
62 A. Kesimpulan
1. Penyelesaian secara diversi terhadap penanganan kasus tindak pidana pencurian yang dilakukan oleh anak di Pengadilan Negeri Sumenep, sudah diterapkan oleh hakim anak sesuia dengan peraturan perundang-undang.
Penyelesaian secara diversi dilakuan dengan cara mempertemukan pelaku, keluarga pelaku, pihak korban, serta pihak-pihak terkait, dengan pendekatan keadilan restoratif, yang mana bentuk penyelesaian secara diversi yang dapat ditempuh di Pengadilan Negeri Sumenep yaitu, mediasi, restitusi, permohonan maaf pelaku, pertanggungjawaban oleh pelaku terhadap korban, jaminan dari orang tua pelaku, pemulihan keadaan semula, pelayanan terahadap korban dan pemulihan pelaku melalui elemen masyarakat.
2. Penyelesaian tindak pidana melalui diversi, terdapat beberapa kendala yang terjadi terhadap penanganan anak yang berkonflik dengan hukum dalam tindak pidana pencurian di Pengadilan Negeri Sumenep, yaitu, kurangnya pemahaman masyarakat tentang diversi, keberhasilan dari proses diversi sangat tergantung dari keluarga dan masyarakat yang menjadi tempat anak dikembalikan, dan sangat sulit menghindarkan anak dari pemidanaan secara retributive apabila melakukan pelanggaran yang sangat serius. Karena pada dasarnya keberhasilan proses penyelesaian secara diversi yaitu terletak pada pihak korban yang tidak terima dengan perbuatan pelaku dan menginginkan pembalasan berupa pidana.
B. Saran
Untuk memberikan kemajuan dalam bidang pembangunan hukum di masa sekarang dan yang akan datang, disarankan kepada aparat penegak hukum, mulai dari tingkat kepolisian, kejaksaan, sampai dengan pengadilan, agar memberikan pemahaman yang seluas-luas luasnya terkait dengan penyelesai tindak pidana dengan menggunakan upaya divers kepada masyarakat. Karena pada dasarnya masyarakat tidak paham apa itu diversi.
Sehingga mengakibatkan upaya pembalasan pidana dalam lingkup masyarakat.
Adami Zhazawi, 2007, Pelajaran Hukum Pidana, Jakarta: Rajawali Pers.
Abdulkadir Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung, Citra Aditya Bakti.
Bambang Waluyo, 2002, Penelitian Hukum Dalam Praktek, Jakarta: Sinar Grafika, Burhan Ashsofa, 2007, Metode Penelitian, Semarang: Media Press
Erdianto Effendi, 2011, Hukum Pidana Indonesia, Suatu Pengantar, Bandung:
Rafika Aditama.
Lexy J Moleng, 2007, Metode Penelitian Kualitatif, Bandung: Tarsito.
Marlina, 2009, Peradilan Pidana Anak di Indonesia, Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice, Bandung: Rafika Aditama.
_______, 2010, Pengantar Konsep Diversi dan Restorative Justice Dalam Hukum Pidana, Medan: USU Pres.
Muladi, 1995, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: Badan Penerbit UNDIP.
Maidin Gulton, 2006, Perlindungan Hukum Terhadap Anak Dalam Sisitem Peradilan Pidana Anak Di Indonesia, Bandung: Rafika Aditama.
Nasir Djamil, 2013, Anak Bukan Untuk Dihukum, Jakarta: Sinar Grafika.
Romli Atmasasmita, 2010, Sistem Peradilan Pidana Kontemporer, Jakarta:
Kencana.
Ridwan Hasibuan 1994, Kriminologi Dalam Arti Sempit dan Ilmu-Ilmu Forensic, Medan: USU Press.
R. Soesilo, 1995, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP), Bogor: Politeia.
Soerjono Soekanto 1996, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta: UI Press.
Sudarsono 2007, Kamus Hukum, Jakarta: Rineka Cipta.
Sidik Sunaryo, 2004, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Malang: UMM Press.
Waluyadi, 2009, Hukum Perlindungan Anak, Bandung: Mandar Maju.
Wagiati Soetedjo, dan Melani, 2013, Hukum Pidana Anak, Bandung: Rafika Aditama.
Peraturan Perundang-Undangan
Undang-Undang Dasar Negara Kesatuan Republik Indonesia 1945.
Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak
Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak.
Perauran Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pedoman Dalam Pelaksanaan Diversi Dalam Peradilan Pidana Anak.
Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 65 Tahun 2015 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi dan Penanganan Anak yang Belum Berumur 12 (Dua Belas) Tahun.
Jurnal
Arfan Kimudin, Surabaya, Agustus 2015, Perlindungan Hukum Korban Tindak Pidana Pencurian Ringan Pada Proses Diversi Tangkat Penyidikan, Arena Hukum, Vol. 8 No. 2.
Faisol, dkk, (,,,,), Pengaturan Pertanggungjawaban Pidana Korporasi Terkait Tindak Pidana Perdagangan Orang, (,,,,,,,,), Vol. (,,), No. (,,), h. (,,).
Sry Rahayu, 2015, Diversi Sebagai Alternatif Penyelesaian Perkara Tindak Pidana Yang Dilakukan Anak Dalam Perspektif Sistem Peradilan Pidana Anak, Jurnal Ilmu Hukum, Vol. 3, No. 1.
Setyo Utomo, 2013, Sistem Pemidanaan Dalam Hukum Pidana Yang Berbasis Restorative Justice, Mimbar Justitia Fakultas Hukum Universitas Suryakencana Vol. 5, Nomor. 01.