• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana (Studi di Pengadilan Negeri Medan)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Penerapan Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana (Studi di Pengadilan Negeri Medan)"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan kepada setiap keluarga untuk dijaga dan dipelihara. Kehadiran seorang anak adalah sebagai pelengkap di

dalam suatu keluarga. Bagi orangtua kesusksesan anak adalah hal yang membanggakan, akan tetapi pada saat ini telah banyak kasus kriminal yang

dilakukan oleh seorang anak di dalam kehidupannya sehari-hari.

Perilaku anak dalam kehidupan sehari-hari dapat mengalami

penyimpangan dikarenakan anak sedang mengalami masa perkembangan menuju

dewasa. Penggolongan proses perkembangan anak dibagi dalam 3(tiga) fase, yaitu;1

1. Fase pertama adalah dimulainya pada usia anak 0 tahun sampai dengan

7 tahun yang bisa disebut sebagai masa anak kecil dan masa perkembangan kemampuan mental, pengembangan fungsi-fungsi tubuh, perkembangan kehidupan emosional, bahasa bayi dan arti bahasa bagi anak-anak, masa kritis pertama tumbuhnya seksualitas pada anak.

2. Fase kedua adalah dimulai pada usia 7 sampai 14 tahun disebut sebagai

masa kanak-kanak, di mana dapat digolongkan ke dalam 2 periode, yaitu :

a. Masa anak Sekolah Dasar mulai dari usia 7-12 tahun adalah periode

intelektual.

b. Masa remaja/pra pubertas atau pubertas awal yang dikenal dengan

sebutan periode pueral.

3. Fase ketiga adalah dimulai pada usia 14 sampai 21 tahun, yang

dibamakan masa remaja, dalam arti sebenarnya yaitu fase pubertas dan adolescent, di mana terdapat masa penghubung dan masa peralihan dari anak menjadi orang dewasa.

(2)

Pada masa pubertas, anak mengalami gejolak dalam diri untuk menunjukkan siapa dirinya sebenarnya dan dalam fase ini anak sedang mencari

jadi dirinya. Pada fase ini, anak sering malakukan kenakalan yang terkadang

menimbulkan perbuatan jahat yang dikenal dengan istilah juvenile deliquency.

Perilaku delikuensi anak atau juvenile deliquency adalah perilaku anak yang

melanggar hukum yang apabila dilanggar oleh orang dewasa termasuk kategori

kejahatan.2

1. Secara Praktis

2. Secara Religius

3. Secara Yuridis

Bagan 1.1 Bagan Kejahatan.3

1. Secara Yuridis adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang

yang melanggar ketentuan hukum atau peraturan perundang-undangan dan terhadap pelakunya diberikan sanksi pidana.

2. Secara Religius adalah suatu pengertian mengidentikkan jahat dengan

dosa. Jahat dan Dosa dala arti religius itu merupakan sinonim.

3. Secara Yuridis adalah suatu perbuatan yang melanggar hukum atau

dilarang oleh Undang-undang.4

Suatu perbuatan itu dapat disebut sebagai delikuen apabila perbuatan

tersebut bertentangan dengan norma-norma yang ada dalam masyarakat. Penanganan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum janganlah sampai

2 Paulus Hadisuprapto, Juvenile Deliquency Pemahaman Dan Penanggulangannya, Citra Aditya Bakti, 1997, hal. 3

3 Ediwarman,dkk,Monograf Kriminologi Edisi Ketiga , Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, 2012, hal.8

4 Ibid, hal.9 Kejahatan

(3)

memunculkan stigmatisasi atau labelling dan kurangnya atau bahkan ketiadaan pembinaan terhadap mereka sehingga membuyarkan harapan mereka menjadi

pemuda yang dapat berguna bagi bangsanya.5

Permasalahan terbesar dari anak yang berhadapan dengan hukum adalah

karena Undang-Undang No.3 Tahun 1997 sudah tidak relevan lagi, undang-undang ini tidak memberikan solusi yang tepat bagi penanganan anak sebagai anak yang berhadapan dengan hukum akibatnya, akan ada tekanan mental dan

psikologis terhadap anak dan mengganggu pertumbuhannya.6

Alasan lain Undang-Undang No. 3 Tahun 1997 tidak relevan lagi, yakni:7

1. Pasal 23 Undang-Undang No.3 Tahun 1997 menunjukkan begitu

mudahnya menjatuhkan pidana kepada seorang anak yanpa memperhatikan keadaan yang di alami oleh anak.

2. Alasan Karakteristik Anak

Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 menyebutkan: ...”untuk tumbuh

dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial, dan

berakhlak mulia ,...” Jadi, anak merupakan individu yang masih harus

tumbuh dan berkembang dalam segala aspek, sehingga anak belum dapat menentukan pilihan perbuatan secara benar.

3. Alasan Masa Depan Anak

Sebagaimana yang disampaikan sebelumnya, anak yang dipidana terlabel dan terstigmatisasi selepas pemidanaan sehingga menyulitkan pertumbuhan psikis dan sosial anak ke depan.

4. Undang-undang ini tidak memberikan jalan untuk memulihkan keadaan

anak kepada keadaan semula dimana anak belum berhadapan dengan hukum.

Model di dalam Undang-Undang No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak tidak sesuai lagi dalam mengatasi permasalahan hukum mengenai anak dan untuk itu Pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 11 Tahun 2012

tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana

5 M.Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk Di Hukum, Sinar Grafika, Jakarta Timur, 2013, hal.4

(4)

Anak lebih mengutamakan konsep diversi dan restorative justice dalam menyelesaikan permasalahan anak dibandingkan dengan melakukan penjatuhan

penjara terhadap anak.

Undang-Undang Sistem Peradilan Anak memerintahkan agar dikeluarkan

Peraturan Pemerintah terkait pelaksanaan diversi akan tetapi, pelaksanaan diversi tersebut belum juga ada dan untuk mengisi kekosongan hukum di dalam pedoman pelaksanaan diversi ini maka, diterbitkanlah PERMA No. 4 Tahun 2014 tentang

Pedoman Pelaksanaan Diversi Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.

Model restorative justice yang dimuat dalam undang-undang ini adalah

mengenai pemulihan ke kondisi semula dan menggunakan pemidanaan sebagai jalan terakhir bagi anak, sehingga perlu proses penyelesaian di luar peradilan

pidana yakni dengan cara diversi.8 Diversi ini sendiri masih dapat dikatakan baru

sehingga, banyak aparat penegak hukum belum mengetahui aturan pelaksanaan ini dan ketika memperoleh berkas perkara aparat penegak hukum langsung

melimpahkannya kepada kejaksaan maupun pengadilan untuk disidangkan dan ini menjadi hambatan dalam pelaksanaan diversi yang merupakan suatu kewajiban.

Selain itu, di dalam undang-undang dan Perma yang telah di terbitkan oleh Mahkamah Agung terkait pengaturan diversi di Indonesia masih dapat dikatakan abu-abu karena belum jelas memuat mengenai syarat-syarat untuk menjadi

fasilitator diversi dan kemampuan apa saja yang dibutuhkan untuk menjadi seorang fasilitator diversi.

(5)

Tempat pelaksanaan yang dibutuhkan dalam melakukan diversi ini juga tidak banyak dimiliki oleh pengadilan bahkan, ada pengadilan yang tidak

memiliki tempat pelaksanaan diversi dan terkadang menggunakan ruang sidang sebagai tempat melakukan diversi. Hambatan terbesar selanjutnya ialah kurangnya

pengetahuan mengenai diversi bagi aparat penegak hukum di dalam menyelesaikan kasus, ini dapat dilihat dengan banyaknya perkara yang dilimpahkan ke pengadilan tanpa melalui proses diversi.

Hambatan yang dihadapi dalam melaksanakan diversi ini juga dapat terbilang cukup berat dikarenakan diversi baru dikenal di Indonesia dan

masyarakat sendiri juga masih banyak yang tidak mengerti dengan tata cara pelaksanaan diversi baik di tingkat penidikan, penuntutan, maupun tingkat pengadilan sehingga, dapat memungkinkan tidak terlaksananya diversi di dalam

setiap tingkatan yang ada baik penyidikan, penuntutan, maupun pemeriksaan anak di pengadilan.

Berdasarkan latar belakang mengenai pengaturan diversi di Indonesia dan peraturan pelaksanaan serta hambatan yang di hadapi dalam melaksanakan

diversi, maka mengenai latar belakang tersebut diangkatlah penulisan mengenai

“Penerapan Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana dengan

studi di Pengadilan Negeri Medan” untuk dijadikan sebagai judul skripsi.

B. Perumusan Masalah

Rumusan masalah di dalam penulisan skripsi ini adalah :

1. Bagaimana pengaturan diversi dalam peraturan perundang-undanggan

(6)

2. Bagaimana pelaksanaan diversi di Pengadilan Negeri Medan ?

3. Bagaimana upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi hambatan

dalam pelaksanaan diversi ?

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

1. Tujuan Penulisan

Tujuan yang ingin dicapai dari penulisan skripsi ini adalah :

a. Untuk mengetahui pengaturan diversi di dalam peraturan

perundang-undangan di Indonesia.

b. Untuk mengetahui pelaksanaan diversi yang dilakukan di Pengadilan

Negeri Medan.

c. Untuk mengetahui upaya yang dapat dilakukan untuk menghadapi

hambatan divesi.

2. Manfaat Penulisan

Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penulisan skripsi ini adalah :

a. Manfaat Teoritis

Secara teoritis diharapkan dapat membantu memahami pengaturan

diversi yang dimuat di dalam peraturan perundang-undangan, mengetahui bagaimana pelaksanaan diversi di Pengadilan Negeri Medan, dan memberikan pemahaman dalam mengatasi hambatan pelaksanaan diversi.

b. Manfaat Praktis

Secara praktis diharapkan dapat memberikan bantuan dalam

(7)

di Pengadilan Negeri Medan dan juga memberikan masukan dalam mengatasi hambatan pelaksanaan diversi.

D. Keaslian Penulisan

Berdasarkan hasil pemeriksaan dan hasil penelitian yang dilakukan oleh

pihak Fakultas Hukum Universitas mengenai Penerapan Diversi Terhadap Anak Sebagai Pelaku Tindak Pidana dengan studi Pengadilan Negeri Medan

dinyatakan bahwa belum pernah ada dilakukan penulisan yang sama dengan judul

skripsi diatas. Keaslian penulisan ini berfokus kepada pengaturan diversi dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, penelitian terhadap mekanisme

pelaksanaan diversi, hambatan dalam pelaksanaan diversi, penyelesaian terhadap hambatan diversi, syarat-syarat pelaksanaan diversi, dan jenis tindak pidana yang dapat dilakukan diversi oleh Pengadilan Negeri Medan. Penelitian inilah yang

membedakan dengan penelitian lainnya yang ada di dalam Universitas Sumatera Utara maupun diluar Universitas Sumatera Utara.

E. Metode Penelitian

1. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum normatif. Penelitian hukum normatif ini juga dapat disebut penelitian doktrinal. Penelitian doktrinal ini terdiri atas penelitian yang berupa

usaha menginvntarisasi hukum positif, penelitian yang berusaha untuk menemukan asas-asas dan dasar falsafah hukum positif dan penelitian yang

(8)

menyelesaikan suatu perkara.9 Penelitian hukum yang dilakukan juga didukung oleh data empiris.

2. Sumber Data

Sumber data dipergunakan dalam penelitian skripsi ini adalah data

sekunder. Data Sekunder adalah berupa semua publikasi tentang hukum yang berhubungan dengan penulisan ini. Antara lain : Buku-buku Hukum, Kamus

Hukum, Jurnal Hukum, Seminar, Wawancara, dan Bahan Kuliah.10 Data sekunder

yang digunakan dalam penulisan skripsi ini antara lain berasal dari buku milik pribadi maupun pinjaman dari perpustakaan, artikel-artikel baik yang diambil dari

media cetak maupun elektronik, dokumen-dokumen pemerintah, termasuk peraturan perundang-undangan.

3. Metode Pengumpulan Data

Penulisan skripsi ini menggunakan metode Library Research (Penelitian

Kepustakaan). Studi kepustakaan adalah teknik pengumpulan data dengan

mengadakan studi penelaahan terhadap buku-buku, literatur-literatur, catatan-catatan, dan laporan-laporan yang ada hubungannya dengan masalah yang akan

dipecahkan.11

4. Analisa Data

Metode analisis yang akan di gunakan untuk penelitian hukum normatif ini

adalah dengan menggunakan metode analisis kualitatif. Perolehan data dari analisis kualitatif ini ialah diperoleh dari berbagai sumber, dengan menggunakan

9 M.Dhana Ginting, Bahan Mata Kuliah Metodelogi Penelusuran dan Penelitian Hukum, April 2014, hal.6

10 Ibid, hal. 2

(9)

teknik pengumpulan data yang bermacam-macam (triangulasi).12 Data kualitatif adalah data yang nonangka, yaitu berupa kata, kalimat,pernyataan dan dokumen.

Dalam penelitian kualitatif, analisa data lebih difokuskan selama proses di

lapangan bersamaan dengan pengumpulan data.13

F. Tinjauan Kepustakaan

1. Pengertian Diversi

Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan

pidana ke proses proses peradilan di luar peradilan pidana.14 Menurut Jac E.

Bynum dalam bukunya Juvenile Deliquency a Sociological Approach, yaitu:

Diversion is ‘an attempt to diveert, or channel out, youthful offenders from the

juvenile system’ (terjemahan diversi adalah sebuah tindakan atau perlakuan untuk

mengalihkan atau menempatkan pelaku tindak pidan anak keluar dari sistem

peradilan pidana).15

Tujuan yang ingin dicapai dalam pelaksanaan diversi ini adalah untuk

mencapai perdamaian antara korban dan anak, menyelesaikan perkara anak secara non-litigasi serta menanamkan rasa bertanggung jawab dan bersalah kepada

seorang anak dan untuk mencegah seorang anak menjadi pelaku tindak pidana di masa depan.

Diversi tidak bertujuan untuk mengabaikan hukum dan keadilan sama

sekali,akan tetapi berusaha memakai unsur pemaksaan seminimal mungkin untuk

12 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif , Alfabeta, Bandung, 2013, hal.87 13 Ibid, hal.90

(10)

membuat orang mentaati hukum.16 Diversi sebagai usaha mengajak masyarakat

untuk taat dan menegakkan hukum negara, pelaksanaannya tetap

mempertimbangkan rasa keadilan sebagai prioritas utama disamping pemberian kesempatan kepada pelaku untuk menempuh jalur non pidana seperti ganti rugi,

kerja sosial atau pengawasan orang tua.

Tiga jenis pelaksanaan program diversi dilaksanakan yaitu :

a. Pelaksanaan kontrol secara sosial (social control orientation), yaitu

aparat penegak hukum menyerahkan pelaku dalam tanggung jawab pengawasan atau pengamatan masyarakat dengan ketaatan pada persetujuan atau peringatan yang diberikan. Pelaku menerima tanggung jawab atas perbuatannya dan tidak diharapkan adanya kesempatan kedua bagi pelaku oleh masyarakat.

b. Pelayanan sosial oleh masyarakat terhadap pelaku (social service

orientation), yaitu melaksanakan fungsi untuk mengawasi, mencampuri, memperbaiki dan menyediakan pelayanan pada keluarga dan pelaku. Masyarakat dapat mencampuri keluarga pelaku untuk memberikan perbaikan atau pelayanan.

c. Menuju proses restorative justice atau perundingan (ballanced or

restorative justice), yaitu melindungi masyarakat, memberi kesempatan pelaku bertanggung jawab langsung pada korban dan masyarakat dan membuat kesepakatan bersama antara korban pelaku dan masyarakat. Pelaksanaaanya semua pihak yang terkait dipertemukan untuk

bersama-sama mencapai kesepakatan tindakan pada pelaku.17

2. Pengertian Anak

Pengertian mengenai anak belum serempak dan masih sangat bervariatif di Indonesia. Khusus dalam lingkup hukum pidana, pengertian mengenai anak juga masih sangat banyak. Batasan usia anak menurut hukum positif di Indonesia,

antara lain:

16 Ibid, hal:14

(11)

a. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak menyatakan , anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan

belas) tahun,termasuk anak yang masih didalam kandungan.18

b. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan

Pidana Anak, anak dikategorikan menjadi dua, yakni:

1) Anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang berkonflik dengan hukum, anak yang menjadi korban tindak pidana, dan anak

yang menjadi saksi tindak pidana.19

2) Anak yang Berkonflik dengan Hukum yang selanjutnya disebut

Anak adalah anak yang berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana20.

c. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia

menyatakan, anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18

(delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih

dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.21

d. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang

Hukum Acara Pidana menyatakan, anak yang diperbolehkan untuk

18 Pasal 1 angka 1Undang-Undang No. 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak 19 Pasal 1 angka 2Undang-Undang No.11 Tahun 2012 tentangSistem Peradilan Pidana Anak

20 Pasal 1 angka 3Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

(12)

memberikan keterangan tanpa sumpah adalah anak yang umurnya

belum cukup 15 (lima belas) tahun dan belum pernah kawin.22

e. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak

menyatakan, anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua

puluh satu) tahun dan belum pernah kawin.23

f. Konvensi Hak Anak menyatakan, anak adalah setiap orang yang berusia

dibawah 18 tahun, kecuali berdasarkan undang-undang yang berlaku

untuk anak-anak, kedewasaan telah dicapai lebih cepat.24

Berdasarkan Konvensi Hak-Hak anak, hak-hak anak secara umum dapat

dikelompokkan dalam 4 (empat) kategori hak-hak anak, antara lain :

a. Hak untuk kelangsungan hidup ( The Right To Survival ) yaitu hak-hak

untuk melestarikan dan mempertahankan hidup ( The Right of Live )

dan hak untuk memperoleh standar kesehatan tertinggi dan perawatan sebaik-baiknya.

b. Hak terhadap perlindungan ( Protection Right ) yaitu hak-hak dalam

konvensi hak anak yang meliputi hak perlindungan dari diskriminasi, tindak kekerasan dan keterlantaran bagi anak yang tidak mempunyai keluarga bagi anak-anak pengungsi.

c. Hak untuk tumbuh kembang ( Developments Rights ) yaitu hak-hak

anak dalam konvensi Hak-Hak Anak yang meliputi segala bentuk pendidikan dan hak untuk mencapai standar hidup bagi perkembangan

fisik, mental, spiritual, moral dan sosial anak ( The rights of standart of

living ).

d. Hak untuk berpartisipasi ( Participation Rights ), yaitu hak-hak anak

yang meliputi hak untuk menyatakan pendapat dalam segala hal yang

mempengaruhi anak.25

3. Pengertian Pelaku Tindak Pidana

Pelaku tindak pidana (Dader) menurut doktrin adalah barang siapa yang

melaksanakan semua unsur-unsur tindak pidana sebagai mana unsur-unsur

22 Pasal 171 angka 1 Kitab Hukum Acara Pidana

23 Pasal 1 angka 2 Undang-Undang No.4 Tahun 1979 tentang Kesejahteraan Anak 24 Pasal 1 Konvensi Hak-Hak Anak

(13)

tersebut dirumuskan di dalam undang-undang menurut KUHP. Kata “barang

siapa” menunjukkan pelaku perbuatan tersebut adalah seorang manusia dan bukan

badan hukum. Pelaku tindak pidana dapat dihukum sebagai orang yang melakukan peristiwa pidana, apabila :

a. Orang yang melakukan,yang menyuruh melakukan atau turut

melakukan perbuatan itu;

b. Orang yang dengan pemberian,perjanjian,salah memakai kekuasaan

atau pengaruh,kekerasan,ancaman atau tipu daya atau dengan memberi kesempatan,daya-upaya atau keterangan,sengaja membujuk untuk

melakukan sesuatu perbuatan.26

Berdasarkan hal di atas Pelaku Tindak Pidana dikategorikan menjadi 4

(empat) macam yaitu27 :

1) Orang yang melakukan (pleger).

Orang yang melakukan adalah seorang pribadi yang melakukan suatu peristiwa pidana yang diatur didalam Kitab Undang-Undang Hukum

Pidana. Orang ini adalah seorang yang sendirian telah berbuat mewujudkan segala anasir atau elemen dari peristiwa pidana.

2) Orang yang menyuruh melakukan (doen pleger)

Orang yang menyuruh melakukan sedikitnya ada dua orang

yaitu seorang yang menyuruh (doen plegen) dan yang disuruh (plegen).

Orang yang menyuruh melakukan adalah satu-satunya orang yang dapat dihukum atas perbuatannya sendiri sedangkan, orang yang disuruh

(plegen) tidak dapat dihukum dikarenakan sebagai suatu alat yang

digunakan oleh seorang yang menyuruh (doen plegen).

(14)

Orang yang disuruh (plegen) tidak dapat dihukum karena tidak dapat dipertanggung-jawabkan atas perbuatannya sendiri, misalnya :

orang tersebut tidak cakap, perbuatan tersebut dilakukan pada saat

keadaan terpaksa (overmacht), atas perintah jabatan yang tidak sah,tidak

adanya unsur kesengajaan yang terdapat didalam diri orang yang disuruh.

3) Orang yang turut melakukan (medpleger)

Orang yang turut melakukan adalah seorang yang ikut melakukan suatu perbuatan secara bersama-sama. Turut melakukan dalam arti kata

bersama-sama melakukan. Tidak boleh hanya melakukan perbuatan persiapan saja atau perbuatan yang sifatnya menolong, sebab jika

demikian, maka orang yang menolong itu tidak masuk “medepleger” akan

tetapi dihukum sebagai “ membantu melakukan “ (medeplichtge). Turut

melakukan memiliki sifat yang berupa pelaksanaan dari suatu perbuatan

pidana,sedangkan membantu melakukan adalah sifat membantu di dalam menjalankan suatu tindak pidana.Perbuatan yang sifatnya membantu

dihukum berdasarkan pasal 56 KUHP.

4) Orang yang membujuk melakukan (uitlokking)

Orang yang membujuk melakukan disini adalah seseorang yang

membujuk orang lain dengan cara menyalahgunakan kekuasaannya sendiri,melakukan suatu pemberian kepada orang lain, melakukan kekerasan agar seseorang takut dan mau mengikuti perkataan yang

(15)

Syarat-syarat uit lokking:

(a) harus adanya seseorang yang mempunyai kehendak untuk melakukan

tindak pidana

(b) harus ada orang lain yang digerakkan untuk melakukan tindak pidana

(c) cara menggerakan harus menggunakan salah satu daya upaya yang

tersebut didalam pasal 55 (1) sub 2e (pemberian,perjanjian, ancaman, dan lain sebagainya)

(d) orang yang digerakan harus benar-benar melakkan tindak pidana sesuai

dengan keinginan orang yang menggerakan28

Pelaku tindak pidana dapat berupa manusia maupun badan hukum.

Manusia sebagai pelaku tindak pidana dapat dilihat berdasarkan pasal 55 KUHP sedangkan, terhadap badan hukum tidak dapat dikatakan sebagai pelaku tindak

pidana berdasarkan KUHP dikarenakan KUHP hanya ditujukan terhadap manusia

atau naturlijke persoon. Badan Hukum adalah suatu perkumpulan atau organisasi

yang oleh hukum dilakukan seperti manusia, yaitu memiliki hak dan kewajiban,

dan memiliki hak digugat maupun menggugat di pengadilan.29 Badan Hukum

dapat dikatakan sebagai pelaku tindak pidana apabila melakukan kejahatan

korporasi.Menurut Bismar, di dalam KUHP yang dianggap sebagai subjek hukum

pidana hanyalah orang perseorangan dalam konotasi biologis yang alami (naturlijkee person)30 sehingga, KUHP saat ini tidak bisa dijadikan sebagai

landasan untuk pertanggungjawaban pidana oleh korporasi, namun hanya

dimungkinkan pertanggungjawaban oleh pengurus korporasi. Berdasarkan

pandangan yang diberikan oleh Bismar tesebut dapat disimpulkan, bahwa korporasi dapat dikenakan pertanggungjawaban pidana yang ditujukan kepada

28 Lisa, Hukum Pidana, diakses dari

http://makalah-hukum-pidana.blogspot.com/2014/01/pelaku-tindak-pidana-dader.html pada tanggal 27 Maret 2015. Pukul 22.12 WIB.

29 Jurnal Cendikia, Vol.1, No.2, Oktober 2012, hal.2-3 30 Bismar Nasution, Kegiatan Hukum Ekonomi, diakses dari

(16)

pengurus korporasi. Dengan pandangan tersebut juga dapat disimpulkan, korporasi tidak dapat dikatakan sebagai pelaku tindak pidana akan tetapi,

pengurus korporasi dapat dikatakan sebagai pelaku tindak pidana.

G. Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran secara menyeluruh sesuai dengan aturan dan penulisan karya ilmiah, maka penulisan dibuat secara sistematika penulisan hukum. Adapun sistematika penulisan skripsi ini adalah sebagai berikut :

BAB I : Berisikan Pendahuluan yang menguraikan latar belakang judul penulisan diangkat, perumusan masalah, tujuan dan manfaat

penulisan, keaslian penulisan, metode penulisan, tinjauan

kepustakaan, sistematika penulisan.

BAB II : Bab ini membahas mengenai pengaturan penerapan diversi yang

meliputi pembahasan konsep diversi dan keadilan restoratif (restorative justice), perbedaan konsep diversi dan restorative justice,

pembahasan diversi berdasarkan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 dan mekanisme pelaksanaan diversi menurut Peraturan

Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014.

BAB III : Bab ini membahas mengenai ketentuan Tindak Pidana yang dapat

dilakukan proses diversi, syarat-syarat pelaksanaan diversi, dan

membahas mengenai prosedur dan tata cara pelaksanaan diversi di Pengadilan Negeri Medan, serta mempelajari hambatan-hambatan di

(17)

BAB IV : Bab ini membahas mengenai upaya yang dapat dilakukan untuk

menghadapi hambatan pelaksanaan diversi dengan cara melihat dari

segi substansi hukum, cultur, dan struktur aparat penegak hukum yang ada.

BAB V : Bab ini berisikan kesimpulan dari bab-bab terdahulu serta berisi saran

Referensi

Dokumen terkait

(2) Faktor-faktor yang menjadi penghambat pelaksanaan diversi dalam penyelesaian perkara anak sebagai pelaku tindak pidana oleh Polresta Surakarta, adalah : anak tidak

Praktik diversi dalam penyelesaian perkara anak sebagai upaya perlindungan anak pelaku tindak pidana kecelakaan lalu lintas dilakukan oleh Kepolisian yang diatur

Hambatan-hambatan yang dihadapi Pembimbing Kemasyarakatan dalam pelaksanaan proses diversi terhadap anak yang melakukan tindak pidana pencurian di Pengadilan Negeri

Penerapan diversi terhadap anak sebagai pelaku tindak pidana berdasarkan Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang nomor 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak

Proses diversi dalam perkara anak sebagai pelaku tindak pidana pencabulan harus dilaksanakan di Setiap Peradilan Negeri dan penerapan diversi dilakukan sesuai pengaturan

11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak terhadap anak sebagai pelaku dalam kasus kecelakaan lalu lintas sebagai salah satu proses penyelesaian kasus tindak

No 11 tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, Konsep Diversi telah. muncul lebih dari dua puluh tahun yang lalu sebagai alternative

Dari penjelasan tersebut dapat diketahui bahwa anak pelaku tindak pidana terorisme tidak dapat dilakukan diversi, namun dalam pedoman pelaksanaan rehabilitasi sosial yaitu Peraturan