BAB II
PENGATURAN DIVERSI DI INDONESIA
A. Konsep Diversi
1. Pengertian Diversi
Anak bukanlah untuk dihukum melainkan harus diberikan bimbingan dan pembinaan, sehingga bisa tumbuh dan berkembang sebagai anak normal yang sehat dan cerdas seutuhnya.31 Anak di dalam masa perkembangannya dapat
melakukan sesuatu perbuatan buruk yang dapat merugikan orang lain baik secara fisik maupun materil. Kejahatan Anak ini dapat dikatakan sebagai kenakalan anak. Kenakalan anak diambil dari istilah asing Juvenile Deliquency, tetapi kenakalan anak ini bukan kenakalan anak yang dimaksudkan di dalam Pasal 489 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.32 Kenakalan yang dibahas di dalam
penulisan skripsi ini adalah kenakalan anak yang melakukan perbuatan pidana sebagaimana diatur di dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana.
Menurut Kartini Kartono yang dikatakan Juvenile Deliquency adalah perilaku jahat/dusta, atau kejahatan/kenakalan anak-anak muda, merupakan gejala sakit secara sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh suatu bentuk pengabaian sosial sehingga mereka itu mengembangkan bentuk pengabaian tingkah laku yang menyimpang.33
Romli Atmasasmita memberikan pula perumusan Juvenile Deliquency, yaitu setiap perbuatan atau tingkah laku seseorang anak di bawah umur 18 tahun
dan belum kawin yang merupakan pelanggaran terhadap norma-norma hukum yang berlaku serta dapat membahayakan perkembangan pribadi si anak yang bersangkutan.34
Juvenile artinya anak-anak,anak muda, ciri karakteristik pada masa muda sifat khas pada remaja, sedangkan Deliquency artinya terabaikan, mengabaikan, yang kemudian diperluas artinya menjadi jahat, a-sosial, kriminal, dan lain-lain.35 Berdasarkan defenisi mengenai juvenile deliquency dapat ditarik kesimpulan bahwa, Juvenile deliquency adalah perbuatan jahat yang dilakukan oleh seorang anak dibawah usia 18 tahun yang menimbulkan kerugian fisik maupun materil serta immaterial bagi orang lain. Istilah kenakalan anak itu pertama kali ditampilkan pada Badan Peradilan di Amerika Serikat dalam rangka usaha membentuk suatu Undang-Undang Peradilan bagi anak di negara tersebut. Dalam Pembahasanya ada kelompok yang menekankan segi pelanggaran hukumnya, ada pula kelompok yang menekankan pada sifat tindakan anak apakah sudah menyimpang dari norma yang berlaku atau belum melanggar hukum namun, semua sepakat dasar pengertiannya adalah perbuatan yang bersifat anti sosial.36
Indonesia sendiri telah memiliki undang-undang yang memperhatikan mengenai kepentingan anak, diantarnya ialah Undang-Undang Perlindungan Anak, Undang-Undang Kesejahteraan Anak, Undang-Undang Pengadilan Anak, Undang Sistem Peradilan Pidana Anak yang menggantikan Undang-Undang Pengadilan Anak yang lama. Undang-Undang-Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak ini mengenal istilah diversi dan restorative justice.
34Ibid, hal. 11.
Menurut Agustinus Pohan , yang dimaksud Restorative Justice adalah merupakan konsep keadilan yang sangat berbeda dengan apa yang kita kenal saat ini dalam sistem hukum pidana Indonesia yang bersifat retributif. Konsep
restorative justice dari UNICEF menitikberatkan kepada keadilan yang dapat memulihkan, yaitu memulihkan bagi pelaku tindak pidana anak, korban dan masyarakat yang terganggu akibat adanya tindak pidana tersebut.37 Proses konsep
restorative justice ini dijalankan melalui diversi.
Pengertian diversi terdapat banyak perbedaan sesuai dengan praktek pelaksanaanya. United Nations Standard Minimum Rules for the Administration
of Juvenile Justice butir 6 dan 11 terkandung pernyataan mengenai diversi yakni sebagai proses pelimpahan anak yang berkonflik dengan hukum dari sistem peradilan pidana ke proses informal seperti mengembalikan kepada lembaga sosial masyarakat baik pemerintah atau non pemerintah.38
Diversi adalah Pengalihan atau pemindahan dari proses peradilan ke dalam proses alternatif penyelesaian perkara, yaitu melalui musyawarah pemulihan atau mediasi.39 Diversi adalah suatu pengalihan penyelesaian kasus-kasus anak yang diduga melakukan tindak pidana tertentu dari proses pidana formal ke penyelesaian damai antara tersangka/terdakwa/pelaku tindak pidana dengan korban yang difasilitasi oleh keluarga dan atau/masyarakat, Pembimbing Kemasyarakatan Anak, Polisi, Jaksa atau Hakim.40 Secara singkat, diversi adalah
37Ibid, hal.134.
38 Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia ( Pengembangan Konsep Diversi dan
Restorative Justice), Refika Aditama,2009, hal.11 (selanjutnya disebut buku II). 39 Wagiati Soetedjo,Op.cit, hal.135.
pengalihan penyelesaian perkara Anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.41
2. Tujuan Diversi
Prinsip pelaksanaan konsep diversi yaitu tindakan persuasif atau pendekatan non penal dan memberikan kesempatan kepada seseorang untuk memperbaiki kesalahan.42 Diversi sebagai usaha mengajak masyarakat untuk taat dan menegakkan hukum negara, pelaksanaanya tetap mempertimbangkan rasa keadilan sebagai prioritas utama disamping pemberian kesempatan kepada pelaku untuk menempuh jalur non pidana sseperti ganti rugi, kerja sosial atau pengawasan orang tua.43 Langkah pengalihan dibuat untuk menghindarkan anak dari tindakan hukum selanjutnya dan untuk dukungan komunitas, di samping itu pengalihan bertujuan untuk mencegah pengaruh negatif dari tindakan hukum berikutnya yang dapat menimbulkan stigmatisasi.44
Tujuan dilakukan diversi berdasarkan ketentuan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak adalah sebagai berikut45 ;
a. Mencapai perdamaian antara korban dan anak, b. Menyelesaikan perkara anak di luar proses peradilan, c. Menghindarkan anak dari perampasan kemerdekaan, d. Mendorong masyarakat untuk berpartisipasi, dan
41 Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak.
42 Marlina, Buku II, op.cit, hal.13. 43 Ibid, hlm.14.
44 Wagiati, Op.cit, hal. 135.
e. Menanamkan rasa tanggung jawab kepada anak.
Tujuan lain dalam proses pengalihan anak dari proses yustisial ke proses non-yustisial mempunyai urgensi dan relevansi sebagai berikut;46
a. Proses penyelesaian yang bersifat non-yustisial terhadap anak akan menghindarkan terjadinya kekerasan terpola dan sistematis, khususnya kekerasan psikologis terhadap anak oleh aparat penegak hukum. Terjadinya kekerasan terpola dan sistematis terhadap anak dalam proses pemeriksaan akan menimbulkan trauma yang sangat mendalam bagi anak. Oleh karenanya, penyelesaian yang bersifat non-yustisial melalui mekanisme diversi terhadap anak justru akan menghindarkan anak dari terjadinya kontak antara anak dengan aparat penegak hukum.
b. Melalui mekanisme diversi anak tetap diberikan peluang untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, tetapi melalui mekanisme yang lebih elegan menurut prespektif anak. Penyelesaian secara non-yustisial tidak dimaksudkan untuk membebaskan anak dari kemungkinan adanya pertanggungjawaban anak terhadap segala akibat perbuatannya. Oleh karenanya, melalui mekanisme diversi akan diperoleh keuntungan ganda. Di satu sisi anak terhindar dari berbagai dampak negatif akibat kontak dengan aparat penegak hukum, sementara di sisi lain anak tetap dapat mempertanggungjawabkan akibat perbuatannyha tanpa harus terjadi tekanan terhadap mental anak.
c. Mekanisme diversi dapat dianggap sebagai mekanisme koreksi penyelenggaraan peradilan terhadap anak yang berlangsung selama ini. Mekanisme formal yang ditonjolkan dalam proses peradilan pidana termasuk terhadap anak sering menimbulkan dampak negatif yang demikian kompleks, sehingga menjadi faktor kriminogen yang sangat potensial terhadap tindak pidana anak. d. Sebagai pengalihan proses yustisial ke proses non yustisial, diversi
berorientasi pada upaya untuk memberikan pelayanan sosial kepada pelaku kejahatan, tetapi lebih dipandang sebagai korban yang membutuhkan berbagai layanan seperti, medis, psikologi, rohani. Oleh karena sifatnya yang demikian maka diversi hakekatnya merupakan upaya untuk menghindarkan anak dari kemungkinan penjatuhan pidana. Dengan demikian, diversi juga merupakan proses depenalisasi dan sekaligus deskriminalisasi terhadap pelaku anak.
46 Kusno Adi,Diversi Sebagai Upaya Penanggulangan Alternatif Penanggulangan
Terdapat berbagai teori pemidanaan di dalam hukum pidana, teori pemidanaan dibagi menjadi tiga golongan, yaitu ;
a. Teori Absolut ( vergeldingstheorien )
Teori Absolut yang dianut oleh Immanuel Kant berpandangan tujuan pemidanaan sebagai pembalasan terhadap para pelaku karena telah melakukan kejahatan yang mengakibatkan kesengsaraan terhadap orang lain.47
b. Teori Relatif (doeltheorien )
Teori Relatif ini dilandasi tujuan sebagai berikut ;
1) Menjerakan dengan penjatuhan hukuman diharapkan pelaku atau terpidana menjadi jera dan tidak lagi mengulangi perbuatannya dan bagi masyarakat umum dapat mengetahui bahwa jika melakukan perbuatan tersebut akan mendapatkan hal yang serupa. 2) Memperbaiki pribadi terpidana dalam perlakuan pendidikan yang diberikan selama menjalani hukuman, terpidana merasa menyesal sehingga ia tidak akan mengulangi perbuatan dan kembali kepada masyarakat sebagai orang yang baik dan berguna.48
c. Teori Gabungan ( vereningingstheorien )
Teori gabungan yang salah satu penganutnya Van Bemmelen dan Grotius yang menitik beratkan keadilan mutlak yang diwujudkan dalam pembalasan, tetapi yang berguna bagi masyarakat. Dasar tiap-tiap pidana adalah penderitaan yang berat sesuai dengan beratnya perbuatan yang dilakukan oleh terpidana. Tetapi sampai batas mana beratnya pidana dan beratnya perbuatan yang dilakukan oleh terpidana
dan beratnya perbuatan yang dilakukan oleh terpidana dapat diukur dan ditentukan oleh apa yang berguna bagi masyarakat.49
Relevansi antara diversi dengan tujuan pemidanaan bagi anak nampak dalam hal-hal sebagai berikut :
a. Diversi sebagai pengalihan proses dari proses yustisial menuju proses non yustisial bertujuan menghindarkan anak dari penerapan hukum pidana yang sering kali memberikan pengalaman yang pahit berupa stigmatisasi berkepanjangan,dehumanisasi dan menghindarkan anak dari kemungkinan terjadinya prisionisasi yang menjadi sarana transfer kejahatan terhadap anak. Demikian juga tujuan pemidanaan bagi anak adalah untuk tetap memberikan jaminan kepada anak agar tumbuh dan berkembang baik secara fisik maupun secara mental.
b. Perampasan kemerdekaan terhadap anak, baik dalam bentuk pidana penjara maupun dalam bentuk perampasan yang lain melalui mekanisme peradilan pidana memberikan pengalaman yang traumatis terhadap anak, sehingga anak terganggu perkembangan dan pertumbuhan jiwanya. Pengalaman pahit bersentuhan dengan dunia peradilan akan menjadi bayang-bayang gelap kehidupan anak yang tidak mudah untuk dilupakan.50
3. Sejarah Diversi
Sebagaimana diamanatkan dalam Standart Minimum Rules for the Administration of Juvenile Justice (SMR-JJ) atau yang lebih dikenal dengan
Beijing Rule, bahwa dipandang penting adanya jaminan bagi aparat penegak hukum untuk tidak mengambil jalan formal di dalam menyelesaikan perkara anak yaitu dapat menggunakan kewenangannya (diskresi). Diskresi adalah wewenang
49 Amir Ilyas, Asas-Asas Hukum Pidana, Memahami Tindak Pidana dan
Pertanggungjawaban Pidana Sebagai syarat pemidanaan ( Disertai Teori-teori Pengantar dan Beberapa Komentar ), Rangkang Enducation, Yogyakarta dan Pukap Indonesia, hal.102-103 yang dikutip dari http://pn-bangil.go.id/data/?p=207 tanggal 12 Maret 2015. Pukul 13.00 WIB
dari aparat penegak hukum yang menangani kasus pelaku tindak pidana untuk mengambil tindakan meneruskan perkara atau menghentikan perkara. 51
Diskresi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk diversi. Dikatakan sebagai salah satu bentuk diversi dikarenakan diskresi yang dilakukan memiliki sifat menyelesaikan suatu perkara di luar peradilan sama seperti diversi yang bertujuan menyelesaikan perkara di luar peradilan.
Diversi telah lama dilakukan oleh aparat penegak hukum di luar negeri, hanya saja namanya bukanlah diversi akan tetapi menggunakan bentuk diskresi. Inggris telah lama melakukan diskresi dan mengalihkan anak kepada proses non-formal seperti pada kasus-kasus yang mempergunakan barang mainan yang membahayakan orang lain.52 Menurut aturan Children Act tahun 1908 polisi
diberi tugas menangani anak sebelum masuk ke pengadilan dengan lebih memperhatikan pemberian kesejahteraan dan keadilan kepada anak pelaku tindak pidana.53 Ketentuan Children Act tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu bentuk diskresi dan mengenai pemberian kesejahteraan dan keadilan kepada anak pelaku tindak pidana dapat menggunakan program diversi. Perkembangan pelaksanaan diversi yang dilakukan di Inggris terus dilaksanakan hingga akhir abad ke 19.54 Menurut sejarah perkembangan hukum pidana, kata diversion pertama kali dikemukakan sebagai kosa kata pada laporan pelaksanaan peradilan
51 Marlina, Disertasi Pengembangan Konsep Diversi dan Restorative Justice Dalam
Sistem Peradilan Pidana Anak di Indonesia, hlm. 137 52 Marlina, Buku I, Op.cit, hal.25
anak yang disampaikan Presiden Komisi Pidana ( President’s Crime Commision ) Australia di Amerika Serikat pada tahun 1960.55
Pada abad ke 19 , dibuatlah program besar mengenai gerakan keselamatan anak yaitu untuk membuat bentuk peradilan yang bersifat informal, lebih memberi perhatian terhadap masalah perlindungan anak secara alami daripada menitik beratkan sifat pelanggaran yang dilakukan.56 Selain itu, untuk memindahkan tanggung jawab memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan terbaik untuk memperhatikan kesejahteraan dan kepentingan terbaik untuk anak daripada keadilan terhadap pribadi atau memberikan kekuasaan kepada peradilan untuk menyatakan anak telah bersalah.57 Konsep Diversi lahir didasarkan pada kenyataan bahwa proses peradilan pidana terhadap pelaku tindak pidana melalui sistem peradilan pidana konvensional lebih banyak menimbulkan bahaya daripada kebaikan.58 Keberadaan diversi ini sangat diperlukan, sebab melalui diversi tersebut penuntutan pidana gugur dan criminal track-record anak pun serta stigmatisasi anak terjadi.59
Pada awalnya konsep diversi di Indonesia muncul dikenalkan melalui sebuah acara-acara seminar yang sering diadakan yang memberikan pengertian dan pemahamam diversi, sehingga menimbulkan semangat dan keinginan untuk mempelajari jauh lagi mengenai konsep diversi tersebut. Berdasarkan hasil
55Ibid, hal.10 56Ibid, hal.25-26 57Ibid
58 Marlina, Hukum Penitensier, Refika Aditama, 2011, hal.73 ( selanjutnya disebut buku III )
seminar yang diketahui bahwa, konsep diversi itu ditunjukan untuk memberikan perlindungan hukum bagi anak yang berhadapan dengan hukum.
Selanjutnya pada tahun 2004 di Jakarta diadakan diskusi di antara aparat penegak hukum yang terkait dalam sistem peradilan pidana anak untuk membicarakan langkah terbaik dalam upaya penanganan terhadap anak pelaku tindak pidana. Setelah adanya diskusi tersebut para hakim di Bandung secara intern membicarakan tentang langkah awal yang dapat dilakukan untuk memberikan perlindungan terhadap anak yang bermasalah dengan hukum yaitu dengan mendirikan ruang sidang khusus anak dan ruang tunggu khusus anak.60
Setelah Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak dikeluarkan maka, di dalam undang-undang tersebut dikenalah istilah diversi yang dilakukan melalui pendekatan keadilan restoratif yang dapat berupa musyawarah diversi. Melihat sejarah tersebut, maka dapat dikatakan bahwa diversi telah lama ada akan tetapi, di luar negeri pelaksanaan program diversi dilaksanakan dalam bentuk diskresi berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan bentuk musyawarah diversi.
B. Menurut Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 Tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
1. Dasar Pemikiran Dan Tujuan Sistem Peradilan Pidana Anak
a. Dasar Pemikiran Sistem Peradilan Pidana Anak
Istilah sistem peradilan pidanan anak merupakan terjemahan dari istilah
The Juvenile Justice System, yaitu istilah yang sama digunakan dengan sejumlah institusi yang tergabung dalam pengadilan, yang meliputi polisi, jaksa penuntut
umum dan penasehat hukum, lembaga pengawasan, pusat-pusat penahanan anak, dan fasilitas-fasilitas pembinaan anak.61
Hadi Supeno mengatakan dalam tulisannya, bahwa ;
“ Penjara hanya tepat untuk orang dewasa yang melakukan kejahatan.
Anak tidak tepat masuk penjara karena akan mematikan harapan masa depannya. Anak adalah pribadi otonom yang sedang tumbuh, yang dibutuhkan adalah bantuan dan bimbingan. Peradilan yang tepat untuk pelaku delikuensi anak adalah model keadilan restoratif yang bersifat memperbaiki dan memulihkan hubungan pelaku dan korban sehingga harmoni kehidupan tetap terjaga. Hukuman maksimal yang boleh
mereka terima adalah pendidikan paksa. “
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa paradigma lama dari Undang-Undang No. 3 tahun 1997 tentang Pengadilan Anak tidak bisa dipertahankan lagi karena yang terjadi adalah sebuah kriminalisasi anak oleh negara dan masyarakat.62 Dulu pengadilan anak masuk dalam sistem peradilan umum. Inilahsumber malapetaka anak karena begitu dia berhadapan dengan hukum, dia harus menyesuaikan diri dan dipaksakan untuk menerima dalil-dalil yang dikenakan terhadap orang dewasa.63 Kini, Indonesia telah mengganti Undang-Undang Pengadilan Anak yang lama dengan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak yang baru yaitu Undang-Undang No. 11 Tahun 2012. Di
dalam kata sistem peradilan pidana anak, terdapat istilah “sistem peradilan
pidana” dan istilah kata “anak” dalam frase “sistem peradilan pidana anak” mesti
61 Setya Wahyudi, Implementasi Ide Diversi dalam Pembaharuan Sistem Peradilan
Pidana Anak di Indonesia, Genta Publishing, Yogyakarta, 2011, hal.35
dicantumkan, karena untuk membedakan dengan sistem peradilan pidana dewasa.64
Sistem peradilan pidana anak merupakan sistem peradilan pidana.65 Menurut Muladi, sistem peradilan pidana merupakan suatu jaringan peradilan yang menggunakan hukum pidana sebagai sarana utamanya, baik hukum pidana materil, hukum pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana.66 Sistem Peradilan Anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.67
Setiap pembentukan undang-undang yang baik, harus disertakan dasar-dasar pembentukan perundang-undangan tersebut. Dasar-dasar-dasar peraturan perundang-undangan tersebut dapat berupa dasar filosofis, dasar yuridis, dan sosiologis. Naskah akademik RUU Sistem Peradilan Pidana Anak memuat ketentuan dasar-dasar pembentukan UU Sistem Peradilan Pidana Anak, antara lain :
1. Dasar Filosofis
Dasar filosofis ini mengafirmasi nilai-nilai Pancasila yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, dan Kemanusiaan yang adil dan beradan, sehingga sebagai bangsa yang bermartabat dan menjunjung tinggi nilai-nilai religiusitas, maka permasalahan anak yang berhadapan
64 M.Nasir Djamil, Anak Bukan Untuk Di Hukum, Catatan Pembahasan Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak, Jakarta, Sinar Grafika, 2012, hal. 43
65 Ibid, hal. 44
66 Muladi, Kapita Selekta Sistem Peradilan Pidana, Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2002, hal.4
dengan hukum harus diberikan prioritas yang terbaik bagi anak. Dasar filosofis ini adalah pandangan hidup bangsa Indonesia.68
2. Dasar Sosiologis
Dasar sosiologis ini menyangkut mengenai keadaan sosial. Undang-Undang Pengadilan Anak yang lama tidak dapat melindungi anak dari penjatuhan sanksi pidana dan tidak memberikan perlindungan hukum dalam melindungi hak-hak yang dimiliki oleh anak. Dengan demikian, perlu ada peranan dan tugas masyarakat, pemerintah, dan lembaga negara yang berkewajiban dan bertanggung jawab untuk meningkatkan kesejahteraan anak serta memberikan perlindungan khusus kepada anak yang berhadapan dengan hukum.69 3. Dasar Yuridis
Dasar yuridis berkaitan terhadap ketentuan hukum. Prinsip perlindungan hukum terhadap anak harus sesuai dengan Konvensi Hak-Hak Anak sebagaimana telah diratifikasi oleh pemerintah Republik Indonesia dengan Keputusan Presiden Nomor 36 Tahun 1990.70
4. Dasar Psikopolitik Masyarakat
Psikopolitik Masyarakat adalah suatu kondisi nyata di dalam masyarakat mengenai tingkat penerimaan atau penolakan terhadap suatu peraturan perundang-undangan. Tindak pidana yang dilakukan anak baik langsung maupun tidak langsung merupakan suatu akibat
68 M.Nasir Djamil, Op.cit, hal. 52 69Ibid
dari perbuatan dan tindakan yang dilakukan orang dewasa dalam bersinggungan dengan anak, di mana anak belum mampu secara dewasa menyikapinya.71
Selain itu, perlu juga dikenal paradigma dekriminalisasi anak. Paradigma ini mengharuskan suatu tindakan untuk pembebasan anak dari segala prespektif pidana, sejak pemeriksaan, penyelidikan, penyidikan, sampai penyangkaan terhadap anak.72 Pelaksanaan paradigma ini ialah dengan
menmpraktekkan hukum progresif, yakni hukum yang diperuntukkan bagi manusia dan kemanusiaan, dan bukan sebaliknya kemanusiaan mengabdi untuk hukum.73
b. Tujuan Sistem Peradilan Pidana Anak
Tujuan Sistem Peradilan Pidana pada dasarnya sama, yakni untuk melindungi anak dari penjatuhan pidana. Tujuan Sistem Peradilan Pidana menurut beberapa ketentuan, ialah :
1. Tujuan Sistem Peradilan Pidana Anak dengan Paradigma Restoratif Paradigma Restoratif adalah paradigma dalam menyelesaikan perkara anak dengan tujuan memulihkan kembali keadaan anak menjadi keadaan semula. Paradigma ini dianut di dalam Undang-Undang Sistem Peradilan pidana anak , dapat dilihat melalui Pasal 8 angka 1 dimana di dalam pelaksanaan diversi dilakukan melalui musyawarah yang berdasarkan keadilan restoratif. Artinya, keadilan tersebut dirasakan adil bagi anak dan dapat dijalankan oleh pelaku.
71 Ibid, hal.54
2. Tujuan Sistem Peradilan Pidana Anak Menurut The Beijing Rules Tujuan sistem peradilan pidana anak menurut The Beijing Rules, ialah:
“The juvenile justice system shall emphasize the well being of the
juvenile and shall ensure that any reaction to juvenile offenders shall
always be in proportionto the circumstances of both the offenders and
the offence.”74
Diartikan : “ Sistem Peradilan bagi anak akan mengutamakan
kesejahteraan anak dan akan memastikan bahwa reaksi apapun terhadap pelanggar-pelanggar hukum anak akan selalu sepadan dengan keadaan-keadan baik pada pelanggar hukumnya maupun pelanggaran
hukumnya.”75
3. Tujuan Sistem Peradilan Pidana Anak Menurut Konvensi Hak Anak Tujuan SPPA Menurut Konvensi Hak Anak ialah antara lain menghindarkan anak dari penyiksaan atau tindakan yang kejam,tidak manusiawi dan merendahkan martabat, menghindarkan anak dari penjatuhan hukuman pidana mati maupun pidana penjara seumur hidup tanpa kemungkinan memperoleh pelepasan/pembebasan.76 Menurut konvensi ini Tujuan SPPA ialah menekankan kepada perlindungan dan kesejahteraan anak itu sendiri. Dengan tujuan berdasarkan konvensi hak anak maka, anak dapat terhindarkan dari penjatuhan hukuman penjara yang dapat merusak masa depannya.
2. Model-Model Peradilan Anak Di Beberapa Negara
Sebelum membahas penerapan diversi di Indonesia menurut Undang-Undang No.11 Tahun 2012 ada baiknya mengenal terlebih dahulu peradilan anak yang telah ada di beberapa negara, antara lain:
a. Prancis
Di Prancis, Peradilan khusus anak-anak dinamakan Les Jurisdictions pour enfants.77 Peradilan anak di Prancis ini didasarkan kepada kebutuhan-kebutuhan yang sangat besar bagi kepentingan anak-anak dalam memperoleh perlindungan terutama terkait anak sebagai harapan bangsa dan negara untuk masa depan. Oleh karena itu, perkembangan-perkembangan mereka baik secara mental, pendidikan maupun fisik harus dilindungi oleh negara.
Tugas Hakim Peradilan Khusus untuk anak diantaranya yaitu menyidangkan perkara-perkara kejahatan yang telah terlanjur dilakukan oleh anak-anak remaja. Keputusan yang diambil dalam hal ini dapat berupa tindakan yakni:
a. Mengembalikan kepada orangtua
Anak yang melakukan kejahatan dapat dikenai tindakan berupa pengembalian anak kepada orangtuanya apabila Hakim memiliki keyakinan bahwa orangtua anak dapat mendidik dan membina anaknya tanpa harus dikenakan hukuman penjara agar menjadi anak yang berkelakuan baik. Pengembalian anak kepada orangtua dapat dilihat berdasarkan kategori tindak pidana yang dilakukan oleh anak.
b. Menempatkan di bawah pengawasan orang lain
Pengawasan yang dimaksudkan adalah Assistans Sociaux, les deleques dan educateurs (Petugas sosial, wali-wali pengawas dan pembimbing sosial/pendidik khusus). Mereka bertugas untuk mengawasi para remaja dan anak-anak yang perkaranya sudah diputus oleh pengadilan.
c. Bebas di bawah pengawasan78
b. Inggris
Pengadilan anak Inggris dinamakan Pengadilan Juvenile yaitu pengadilan anak-anak yang mengadili pelanggar usia muda, mengadili anak-anak nakal, anak terlantar atau anak di luar perhatian orang tuanya.79 Pengadilan juvenile ini dijalankan oleh seorang Hakim Ketua,dan dua orang Hakim Anggota dimana salah seorang harus wanita.
Putusan Pengadilan Juvenile dapat berupa :
a. Pembebasan sama sekali disertai dengan petuah-petuah b. Pembebasan dengan perjanjian
c. Tindakan Probation
Hakim menjatuhkan putusan berupa tindakan Probation yaitu terhadap pelanggar hukum tidak perlu dimasukkan dalam penjara melainkan cukup jika dalam kehidupan sehari-hari diawasi, dibantu dan dibimbing oleh pegawai probation untuk jangka waktu tertentu 1 (satu)
78Ibid, hal 54
tahun atau 3 (tiga) tahun. Tindakan ini dikenakan kepada terdakwa yang telah berusia 14 tahun dan telah dimintai persetujuannya terlebih dahulu.
d. Tindakan Ganti Rugi
Hakim dalam menjatuhkan putusan ganti rugi lebih menekankan kepada segi perdata. Di Inggris tindakan ini disamping dapat sebagai syarat khusus dalam hal pembebasan dengan perjanjian, dapat pula dikenakan sebagai putusan yang berdiri sendiri.
e. Pidana denda
f. Pengiriman ke rumah sakit jiwa g. Pidana pencabutan kebebasan
Jenis putusan lain dari Pengadilan Juvenile ialah tindakan terhadap orangtua anak yang melakukan pelanggaran, dengan memerintahkan agar mendidik anaknya hingga berkelakuan baik. Melalui putusan Hakim pula, anak yang melanggar hukum dapat diserahkan kepada Pemerintah ( Country ), jika Pemerintah demi kepentingan anak menganggap tidak perlu lagi memelihara maka, tanpa melalui Pengadilan menyerahkan kembali anak tersebut kepada orang tuanya.
3. Diversi Dan Restorative Justice
kebebasan dari kekerasan, diskriminasi serta stigmatisasi, serta yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan khusus mereka untuk tumbuh dan berkembang.
Undang-Undang Sistem Peradilan Anak dibuat untuk menggantikan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak yang kenyataannya tidak sesuai lagi dengan perkembangan dan kebutuhan hukum masyarakat, karena belum secara komprehensif memberikan perlindungan kepada anak yang berhadapan dengan hukum. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 menyebutkan anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak yang telah berumur 12 (dua belas) tahun, tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun yang diduga melakukan tindak pidana.
Undang-Undang Sistem Peradilan Anak ini menjelaskan Sistem Peradilan Pidana Anak adalah keseluruhan proses penyelesaian perkara anak yang berhadapan dengan hukum, mulai tahap penyelidikan sampai dengan tahap pembimbingan setelah menjalani pidana.80 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana ini mengenal konsep diversi dan Restorative Justice dalam menyelesaikan perkana anak yang berhadapan dengan hukum.
a. Diversi
Diversi dikenal melalui Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak. Perlunya Undang-Undang ini dibentuk dengan alasan Undang-Undang Nomor 3 Tahun 1997 belum secara koprehensif memberikan perlindungan kepada anak, dan dipandang perlu untuk mewujudkan peradilan yang menjamin perlindungan kepentingan terbaik terhadap anak
berhadapan dengan hukum sebagai generasi penerus bangsa.81 Diversi adalah pengalihan penyelesaian perkara anak dari proses peradilan pidana ke proses di luar peradilan pidana.82 Pokok-pokok perbedaan yang terdapat di dalam Undang-Undang No.3 Tahun 1997 tentang Pengadilan Anak dengan Undang-Undang-Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak yang baru dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : 83
Tabel 1.
Perbedaan UU No.3 Tahun 1997 dan UU 11 Tahun 2012 UU No.3 Tahun 1997
Keadilan Retributif
UU No.11 Tahun 2012
Keadilan Restoratif
Kejahatan adalah pelanggaran sistem Kejahatan adalah perlakuan terhadap individu atau masyarakat
Fokus pada pembuktian kesalahan, menimbulkan rasa bersalah dan pada perilaku masa lalu
Fokus pada pemecahan masalah dan memperbaiki kerugian
Korban diabaikan Hak dan Kebutuhan Korban
diperhatikan
Pelaku pasif Pelaku didorong untuk berpartisipasi
81 Gambaran Umum Sistem Peradilan Pidana Anak yang disampaikan dalam Pelatihan Sertifikasi Hakim Anak Badan Litbang Diklat Kumdil Mahkamah Agung Ri pada bulan Agustus 2014
82 Pasal 1 angka 7 Undang-Undang No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak
dan bertanggungjawab Pertanggungjawaban pelaku adalah
hukuman
Pertanggungjawaban pelaku adalah menunjukkan empati dan menolong untuk memperbaiki kerugian
Respon terfokus pada perilaku masa lalu pelaku
Respon terfokus pada konsekuensi derita dan kerugian sebagai akibat perbuatan pelaku
Melihat tabel diatas dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang paling mendasar ialah ada kepada keadilan yang dianut. Undang-Undang Pengadilan Anak yang lama menganut keadilan retributif sedangkan, Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak yang baru menganut keadilan Restoratif.
Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana menjelaskan bahwa diversi yang dilakukan berdasarkan kepada keadilan restoratif. Konsep diversi didasarkan pada kenyataan bahwa proses peradilan pidana terhadap anak pelaku tindak pidana melalui sistem peradilan pidana lebih banyak menimbulkan bahaya daripada kebaikan.84 Pelaksanaan diversi dapat dilakukan pada tingkat
penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan perkara anak di pengadilan negeri. Pelaksanaan diversi dapat dijalankan apabila perbuatan diancam dengan pidana penjara dibawah tujuh tahun dan bukan merupakan pengulangan tindak pidana.
Diversi yang dilakukan wajib melihat kepada kepentingan korban, kesejahteraan dan tanggungjawab anak, penghindaran stigma negatif,
penghindaran pembalasan, keharmonisan masyarakat, kepatutan, kesusilaan, dan ketertiban umum. Penyidik, Penuntut Umum, dan Hakim dalam melakukan Diversi harus mempertimbangkan katergori tindak pidana,umur anak,hasil penelitian kemasyarakatan dari Bapas dan dukungan lingkungan keluarga.
Pengecualian persetujuan korban dan/atau keluarga anak korban serta kesediaan dan keluarga korban dapat dilakukan dalam hal tindak pidana berupa pelanggaran, tindak pidana ringan, tindak pidana tanpa korban, nilai kerugian korban tidak lebih dari upah minimum provinsi setempat.85
Hasil kesepakatan yang telah dilakukan diversi dapat berisikan perdamaian dengan atau tanpa ganti kerugian, penyerahan kembali kepada orang tua/Wali, keikutsertaan dalam pendidikan atau pelatihan di lembaga pendidikan atau Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial paling lama 3 (tiga) bulan atau pelayanan masyarakat, sesuai dengan ketentuan pasal 11 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak. Selama proses diversi berlangsung sampai dengan kesepakatan diversi dilaksanakan, Pembimbing kemasyarakatan wajib melakukan pendampingan, pembimbingan, dan pengawasan. Ketentuan lebih lanjut mengenai mekanisme pelaksanaan diversi ini diatur di dalam Perma No.4 Tahun 2014.
Terhadap sanksi yang diberikan kepada aparat penegak hukum hanya berlaku bagi penyidik dan penuntut umum, terkait sanksi yang diberikan kepada Hakim telah dinyatakan bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan tidak mempunyai kekuatan hukum tetap. Pasal-pasal yang telah dicabut tersebut ialah Pasal 96, Pasal 100, dan Pasal 101 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana
Anak. Judicial review yang dilakukan terhadap pasal tersebut dilakukan oleh Ikatan Hakim Indonesia yang diwakili oleh tiga orang hakim yaitu Lilik Mulyadi, Teguh Satya Bhakti dan Andi Nurvita. Ketiga Hakim tersebut mengajukan
judicial review dengan dalil bahwa, Pasal 96, Pasal 100, dan Pasal 101 Undang-Undang Sistem Peradilan Pidana Anak membuat independensi hakim dibatasi dan dikriminalisasi. Pasal-pasal yang diajukan untuk dicabut itu dinyatakan benar bertentangan dengan Pasal 1 ayat 3, Pasal 24 ayat 1, dan Pasal 24 ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945oleh Mahkamah Konstitusi sehingga, Mahkamah Konstitusi membatalkan Pasal 96, Pasal 100 dan Pasal 101 dengan mengeluarkan Putusan MK Nomor 110/PPU – X/ 2012 tanggal 28 Maret 2013.
b. Restorative Justice
Restorative Justice adalah penyelesaian perkara tindak pidana dengan melibatkan pelaku, korban, keluarga pelaku/korban, dan pihak lain yang terkait untuk bersama-sama mencari penyelesaian yang adil dengan menekankan pemulihan kembali pada keadaan semula, bukan pembalasan.86
Menurut Tony Marshall, Restorative Justice adalah suatu proses dimana semua pihak terlibat dalam suatu tindak pidana tertentu secara bersama sama memecahkan masalah bagaimana menangani akibat dimasa yang akan datang.
Restorative Justice merupakan bentuk resolusi konflik yang membuat jelas permasalahan dengan saling menghormati individu.
Sistem Peradilan Pidana Anak mengatur penyelesaian perkara anak dengan mengutamakan pendekatan keadilan restoratif. Konsep keadilan restoratif
merupakan teori keadilan yang tumbuh dan berkembang dari pelaksanaan pemidanaan di berbagai negara dan akar budaya masyarakat yang ada sebelumnya dalam menangani permasalahan kriminal jauh sebelum dilaksanakannya sistem peradilan pidana tradisional.87
Tujuan Restorative Justice ialah memberdayakan korban, pelaku, keluarga dan masyarakat untuk memperbaiki suatu perbuatan melawan hukum dengan menggunakan kesadaran dan keinsyafan sebagai landasan untuk memperbaiki kehidupan bermasyarakat (konsep melihat keadilan tidak dari satu sisi, namum menilainya dari berbagai pihak, baik untuk kepentingan korban, pelaku dan masyarakat).
Kehadiran Restorative Justice telah menggantikan kedudukan Retributif Justice yang pernah berlaku di Indonesia, perbedaan diantara kedua keadilan ini ialah dimana keadilan retributif berfokus kepada menjatuhkan pidana kepada pelaku sebagai upaya pembalasan, sedangkan keadilan restoratif lebih menekankan kepada pelaku untuk mengakui perbuatannya dan melindungi hak-hak korban dengan jalan musyawarah untuk mencapai kesepakatan.
Prinsip Keadilan Restorative ialah mendapatkan persetujuan korban, membuat pelanggar bertanggung jawab untuk perbaiki kerugianyang timbul oleh kesalahannya, memberikan kesempatan kepada pelanggar untuk membuktikan kapasitasnya dan kualitasnya dalam mengatasi rasa bersalah secara kontruktif, melibatkan korban,orang tua, keluarga, masyarakat, dan menciptakan forum kerja sama dengan masyarakat sekitarnya untuk menangani masalah yang ada serta
menetapkan hubungan langsung antara kesalahan dengan reaksi masyarakat, teman, dan lain-lain.
Untuk lebih jelas perbedaan diversi dan keadilan restoratif dapat dilihat dalam tabel dibawah ini : dalam suatu tindak pidana tertentu bersama sama memecahkan permasalahan yang ada, bagaimana menangani akibat di masa yang akan datang
Tujuan diversi salah satunya untuk menghindari agar anak pelaku tidak di proses di peradilan
Tujuan Keadilan Restoratif adalah untuk pemulihan antara korban dan pelaku
Diversi dapat dilakukan dengan atau tanpa persetujuan korban
Keadilan Restoratif ini wajib ada persetujuan korban
Diversi fokus pada kepentingan pelaku
Keadilan Restoratif lebih berfokus pada kepentingan korban
Berdasarkan tabel diatas, dapat disimpulkan bahwa diversi dan restorative justice memiliki tujuan yang sama yaitu melindungi anak
C. Menurut Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 Tentang Pedoman Pelaksanaan Diversi Dalam Sistem Peradilan Pidana Anak
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014 secara khusus menjadi pedoman pelaksanaan diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak. Mahkamah Agung mengeluarkan Perma ini dalam rangka untuk mengatasi kekosongan hukum, yang terjadi diakibatkan oleh ketiadaan Peraturan Pemerintah untuk menetapkan mekanisme pelaksanaan diversi dalam Sistem Peradilan Pidana Anak.
Pertimbangan lain di dalam mengeluarkan Peraturan Mahkamah Agung ini ialah bertolak pada pasal 5 sampai pasal 14, Pasal 29, Pasal 42, dan Pasal 52 ayat (2) sampai dengan ayat (6) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak wajib mengupayakan Diversi pada tingkat penyelidikan,penuntutan dan pemeriksaan perkara anak di Pengadilan dengan mengutamakan pendekatan Keadilan Restoratif dan juga Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2012 belum mengatur secara jelas tentang tata cara dan tahapan proses diversi sehingga untuk itu dikeluarkanlah Peraturan Mahkamah Agung Nomor 4 Tahun 2014.
Berdasarkan Perma No.4 Tahun 2014 ini proses pelaksanaan diversi dilakukan melalui musyawarah diversi yang melibatkan fasilitator diversi dan adanya pelaksanaan kaukus yang bertujuan untuk menghasilkan kesepakatan diversi. Peraturan Mahkamah Agung menjelaskan mengenai musyawarah diversi dan memberikan arti mengenai fasilitator diversi dan juga kaukus, ialah:
masyarakat dan pihak-pihak yang terlibat lainnya untuk mencapai kesepakatan diversi melalui pendekatan keadilan Restoratif
2. Fasilitator Diversi adalah Hakim yang ditunjuk oleh Ketua Pengadilan untuk menangani perkara anak yang bersangkutan
3. Kaukus adalah pertemuan terpisah antara Fasilitator Diversi dengan salah satu pihak yang diketahui oleh pihak lainnya.
4. Kesepakatan Diversi adalah kesepakatan hasil proses musyawarah Diversi yang dituangkan dalam bentuk dokumen dan ditandatangani oleh para pihak yang terlibat dalam musyawarah Diversi.
5. Hari adalah hari kerja.88
Hari yang dimaksud ialah hari kerja dimana hari tersebut disesuaiakan dengan jadwal hakim yang menangani perkara tersebut.
Perma No.4 Tahun 2014 ini menyatakan bahwa, Diversi itu diwajibkan bagi anak yang diduga melakukan tindak pidana dimana usia anak tersebut telah berumur 12 (dua belas) tahun tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun atau telah berumur 12 (dua belas) tahun meskipun pernah kawin tetapi belum berumur 18 (delapan belas) tahun. Hakim anak wajib mengupayakan diversi dalam hal anak didakwa melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara di bawah 7 (tujuh) tahun dan didakwa pula dengan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 7 (tahun) atau lebih dalam bentuk surat dakwaan subsidaritas, alternatif, kumulatif maupun kombinasi (gabungan).89
Perma No.4 Tahun 2014 ini juga memuat persiapan diversi ialah sebagai berikut :
1. Setelah menerima Penetapan Ketua Pengadilan untuk menangani perkara yang wajib diupayak Diversi Hakim mengeluarkan Penetapan Hari Musyawarah Diversi
2. Penetapan Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat 1 memuat perintah kepada penuntut umum yang melimpahkan perkara untuk menghadirkan :
a) Anak dan orang tua/Wali atau Pendampingnya b) Korban dan/ atau orang tua/Walinya
c) Pembimbing Kemasyarakatan d) Pekerja Sosial Profesional e) Perwakilan Masyarakat
f) Pihak-pihak terkait lain yang dipandang perlu dilibatkan dalam Musyawarah Diversi.
3. Penerapan Hakim sebagaimana dimaksud pada ayat 1 dan 2 mencantumkan hari, tanggal, waktu serta tempat dilaksanakannya musyawarah diversi.90
Mekanisme Tahapan Musyawarah diversi ini ialah Musyawarah dibuka oleh fasilitator diversi dengan memperkenalkan para pihak yang hadir, menyampaikan maksud dan tujuan musyawarah diversi, serta tata tertib musyawarah untuk disepakati oleh para pihak yang hadir. Fasilitator diversi
pertama sekali menjelaskan mengenai tugas fasilitator diversi , menjelaskan secara ringkas dakwaan dan pembimbing kemasyarakatan memberikan informasi tentang perilaku dan keadaan sosial anak serta memberikan saran untuk memperoleh penyelesaian.
Fasilitator Diversi dalam hal ini wajib memberikan kesempatan kepada anak untuk didengarkan keterangannya, orang tua/ wali untukl menyampaikan hal yang berkaitan dengan perbuatan yang telah dilakukan oleh anak dan bentuk penyelesaian yang diharapkan, dan memberikan kesempatan kepada korban/anak korban/orang tua/wali untuk memberikan tanggapan dan pendapat mengenai bentuk penyelesaian yang diharapkan. Pekerja Sosial setelah mendengarkan hal tersebut dapat memberikan informasi mengenai keadaan anak korban serta masukan atau saran sebagai jalan keluar dalam permasalahan anak tersebut.
Fasilitator Diversi dapat memanggil perwakilan masyarakat maupun pihak lain atau dapat juga melakukan pertemuan terpisah (kaukus) dengan para pihak dalam mencari jalan keluar, setelah menemukan kesepakatan maka hasil musyawarah tersebut dituangkan kedalam bentuk kesepakatan diversi. Fasilitator Diversi harus memperhatikan dan mengarahkan agar kesepakatan tidak bertentangan dengan hukum, agama, kepatutan masyarakat, kesusilaan atau memuat hal yang tidak dapat dilaksanakan anak atau memuat iktikad baik.
tersebut dan setelah itu hakim menerbitkan penetapan penghentian pemeriksaan perkara. Pelaksanaan kesepakatan diversi ini harus dilakukan sepenuhnya oleh pelaku dan apabila pelaku tidak melakukan hasil kesepakatan secara penuh, maka Pembimbing Kemasyarakatan Balai Pemasyarakat dapat melaporkan kepada Hakim agar perkara tetap dilanjutkan dan dilaksanakan sesuai hukum acara peradilan anak dan mengenai putusan yang akan dijatuhkan hakim wajib mempertimbangkan pelaksanaan sebagai kesepakatan diversi.