ANALISIS PENGAKUAN, PENGUKURAN, PENYAJIAN, DAN PENGUNGKAPAN PENDAPATAN PADA PERUSAHAAN REAL ESTATE,
PT ABC TAHUN 2020 MENURUT PERSPEKTIF SAK ETAP Arindra Dwi Ayu P 1),Wiwik Hidajah Ekowati 2)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Brawijaya Jl. MT. Haryono 165, Malang 65145, Indonesia E-mail :arindraarin1912@ gmail.com, [email protected]
Abstract : An Analysis Of The Recognition, Measurement, Presentation, And Disclosure Of The Revenue Of PT ABC, A Real Estate Company, In 2020 From The Perspective Of Indonesian Accounting Standards For Non-Publicly- Accountable Entities (SAK ETAP). This study aims to analyze whether the recognition, measurement, presentation, and disclosure of PT ABC's revenue comply the Indonesian Accounting Standards for Non-Publicly-Accountable Entities (SAK ETAP). This study employs qualitative case study approach and the data are obtained through interviews and documentation. The results of the study reveal false income recognitions: the company’s income presentation and disclosure do not comply the SAK ETAP despite the proper income measurement based on fair value;
the company recognizes a payment from land and building sales as an income not an advance payment; and the company recognizes an advance payment from a villa rental as an income. The results also indicate the company’s false income presentation in which the income statement still includes account number, and the income disclosure is applied in the income statement only. In addition, the company has not provided notes to financial statement.
Keywords : Recognition, Measurement, Presentation, Revenue Disclosure, SAK ETAP, Real Estate Company.
Abstrak : Analisis Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, Dan Pengungkapan Pendapatan Pada Perusahaan Real Estate PT ABC Tahun 2020 Menurut Perspektif SAK ETAP. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan pendapatan PT ABC sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP). Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data yang diperoleh melalui wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pengakuan penyajian, dan pengungkapan pendapatan di PT ABC masih tidak sesuai dengan SAK ETAP. Sedangkan pengukuran pendapatan berdasarkan nilai wajar sudah tepat. Pengakuan pendapatan penjualan tanah dan bangunan kurang tepat karena saat menerima uang masuk sudah diperlakukan sebagai pendapatan, seharusnya diperlakukan sebagai uang muka. Pengakuan pendapatan sewa villa juga
belum tepat karena saat menerima pembayaran di muka sudah diperlakukan sebagai pendapatan sewa. Penyajian laporan laba rugi di PT ABC kurang tepat karena di laporan laba rugi masih disertakan nomor akun, dan pengungkapan pendapatan hanya ada di laporan laba rugi saja. Perusahaan belum membuat catatan atas laporan keuangan.
Kata Kunci ; Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, Pengungkapan Pendapatan, SAK ETAP, Perusahaan Real Estate.
Perusahaan umumnya mengakui pendapatan yang berasal dari manfaat ekonomi yang diterima atau dapat diterima oleh entitas untuk entitas itu sendiri.
Permasalahan dalam akuntansi pendapatan adalah pada saat pengakuan pendapatan, pengukuran pendapatan, penyajian pendapatan dan pengungkapan pendapatan.
Mengacu kepada prinsip pengakuan unsur laporan keuangan di Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan (KKPK:4.47), Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi ketika kenaikan manfaat ekonomik masa depan yang berkaitan dengan kenaikan aset atau penurunan liabilitas telah terjadi dan dapat diukur dengan andal. Ini berarti pengakuan penghasilan terjadi bersamaan dengan pengakuan kenaikan aset atau penurunan liabilitas.
Konsep dan Prinsip Pervasif (SAK ETAP:2.22) mendefinisikan penghasilan (income) meliputi pendapatan (revenue) dan keuntungan (gain). Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, imbalan, bunga, dividen, royalty, dan sewa. Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal suatu perusahaan selama satu periode bila arus masuk tersebut berakibat menaiknya ekuitas, yang bukan berasal dari kontribusi penanaman modal.
Pendapatan merupakan penghasilan yang timbul dari aktivitas perusahaan, sedangkan beban timbul dalam usaha untuk memperoleh pendapatan serta membiayai kegiatan operasional tersebut. Konsep dan Prinsip Pervasif (SAK ETAP:2.37) menjelaskan beban mencakup kerugian dan beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa meliputi, beban pokok penjualan, upah, dan penyusutan.
Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar atau berkurangnya aset seperti kas dan setara kas, persediaan, dan aset tetap.
Kerugian mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang mungkin, atau mungkin tidak, timbul dari pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa. Jika pendapatan lebih besar dari pada biaya yang telah dibebankan maka perusahaan memperoleh laba. Namun sebaliknya jika pendapatan lebih kecil daripada biaya yang telah dibebankan maka perusahaan mengalami kerugian.
Dalam akuntansi diperlukan pengakuan dan pengukuran suatu transaksi. Pengakuan unsur laporan keuangan merupakaan proses pembentukan suatu pos dalam neraca atau laporan laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur terdapat kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir dari atau ke dalam entitas, dan pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur dengan andal.
Konsep dan prinsip pervasif (ETAP:2.30) mendefinisikan pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam laporan keuangan. Sedangkan menurut (KKPK:4.54) Pengukuran adalah proses penetapan jumlah moneter ketika unsur-unsur laporan keuangan akan diakui dan dicatat dalam laporan posisi keuangan dan laporan laba rugi.
Permasalahan pengakuan dan pengukuran pendapatan akan saling terkait dan selalu muncul apabila terjadi transaksi berhubungan dengan pendapatan. Tujuan utama dari pengakuan adalah untuk menentukan kapan suatu penghasilan diakui sebagai pendapatan dan biaya akan diakui sebagai beban. Sedangkan pengukuran adalah untuk menetapkan berapa jumlah moneter yang harus dicatat dalam pos yang sudah diakui tersebut. Pengakuan pendapatan dan beban yang sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) bagi perusahaan yang
bukan go public (tanpa akuntabilitas publik) sangat perlu dilakukan agar penentuan pendapatan dapat dilakukan secara akurat dengan demikian dapat mencerminkan kinerja perusahaan yang sesungguhnya dan laporan keuangan yang disajikan dapat menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pemakai dalam berbagai keputusan ekonomi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengakuan, pengukuran, dan penyajian dan pengungkapan pendapatan di PT ABC. Perseroan Terbatas ABC (bukan nama sebenarnya) adalah perusahaan yang bergerak dalam bidang developer perumahan villa (real estate) yang berkedudukan di Kota Batu. Adapun kegiatan dari perusahaan ini adalah membeli tanah, membangun rumah villa, dan kemudian menjual rumah villa tersebut. Pendapatan utama perusahaan bersumber dari penjualan rumah dan baru- baru ini PT ABC juga membuka lini usaha baru di bidang persewaan villa (hospitality) pada X Villa yang dikelola langsung manajemen PT ABC.
Dalam penelitian pendahuluan yang dilakukan peneliti di PT ABC terdapat permasalahan pengakuan pendapatan.
Pendapatan dari penjualan tanah dan bangunan, seperti ITJ (Ikatan Tanda Jadi), uang muka (DP) dan pendapatan maintenance fee dan persewaan villa langsung diakui sebagai pendapatan bagi perusahaan ketika uang masuk, padahal barang atau jasa belum diserahkan. Ada ketidak sesuaian tentang pengakuan pendapatan antara yang dipraktikkan perusahaan dengan SAK ETAP.
Ada beberapa penelitian terdahulu yang memiliki keterkaitan dengan pengakuan pendapatan real estat. Melya Resti (2012) meneliti akuntansi real estat dengan judul Analisis Penerapan Akuntansi Real Estat (PSAK No.44) pada PT Wahana Tata Griya Pekanbaru (PT WTG). Hasil penelitian
menunjukan bahwa PT WTG belum bisa mengklasifikasikan biaya dan pendapatan real estat yang sesuai dengan PSAK 44. PT WTG mencatat pendapatan lain-lain di luar pendapatan proyek dan dikelompokkan pada pendapatan lain-lain di luar operasional perusahaan, sehingga menyebabkan kurang informatifnya laporan keuangan yang disajikan.
Hajar (2017) meneliti mengenai Analisis Metode Pengakuan Pendapatan dan Beban atas Perusahaan Real Estat pada PT XYZ sesuai dengan PSAK No. 44. Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap metode pengakuan pendapatan dan beban pada PT XYZ adalah PT XYZ mengakui pendapatan dan bebannya dengan menggunakan metode akrual penuh (full accrual method), berdasarkan PSAK No. 44 seharusnya PT XYZ menggunakan metode persentase penyelesaian (percentage of completion method). Terdapat perbedaan antara pendapatan dan beban pokok penjualan perusahaan dengan metode yang sebelumnya digunakan perusahaan yaitu metode akrual penuh dengan metode yang seharusnya digunakan perusahaan sesuai dengan PSAK No. 44 yaitu metode persentase penyelesaian.
Firdatus Zuhriyah (2018) meneliti mengenai Analisis Penerapan Akuntansi Pengakuan Pendapatan pada Perusahaan Properti “PT Rojoland Indonesia Build”.
Pada PT Rojoland Indonesia Build, pengakuan pendapatan masih menggunakan metode cash basis. Hasil penelitian menunjukan PT Rojoland Indonesia Build belum tepat dalam mengakui pendapatannya karena down payment (DP), angsuran pada saat penerimaan diakui langsung sebagai pendapatan bagi perusahaan. Perusahaan belum bisa menggunakan metode akrual (accrual method) karena salah satu kriteria dalam menggunakan metode akrual belum terpenuhi. Hal ini bisa dilihat pada saat pembayaran uang muka angsuran pertama
sampai angsuran kedua belum mencapai 20%
dari harga jual. Salah satu kriteria dalam menggunakan metode akrual adalah harga jual akan tertagih. Harga jual akan tertagih apabila jumlah pembayaran oleh pembeli setidaknya mencapai 20% dari harga jual.
SAK ETAP merupakan penyederhanaan dari SAK yang mengadopsi IFRS dan lebih sederhana sehingga lebih mudah dalam penerapannya. SAK ETAP bab 20 adalah pernyataan yang mengatur pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan pendapatan. SAK ETAP bab 20 tentang pendapatan menerangkan bahwa pada saat jasa telah diserahkan atau ketika manfaat ekonomi beralih itu bisa diakui sebagai pendapatan. PT ABC merupakan perusahaan yang belum go public, tidak dibawah naungan Otorotas Jasa Keuangan (OJK) maka perusahaan tidak wajib memakai SAK umum, PT ABC diperkenankan memakai SAK ETAP.
Peneliti akan menganalisis pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan pendapatan yang sesuai dengan SAK ETAP yang seharusnya diterapkan oleh PT ABC. Karena pentingnya pendapatan ini dalam menghasilkan suatu laba perusahaan maka penelitian ini berjudul
“Analisis Penerapan Akuntansi Pengakuan, Pengukuran, Penyajian dan Pengungkapan Pendapatan pada Perusahaan Real Estate PT ABC Tahun 2020 Menurut Perspektif SAK ETAP.”
TELAAH PUSTAKA
GAMBARAN UMUM SAK ETAP
SAK ETAP merupakan suatu standar akuntansi yang disusun untuk mengatur pelaporan keuangan entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik adalah entitas yang:
a). Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
b). Menerbitkan laporan keuagan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.
Entitas memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:
a). Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal; atau
b). Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang, dana atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank investasi.
Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) ini merupakan standar akuntansi keuangan yang diperuntukan untuk UKM. SAK ETAP merupakan standar akuntansi keuangan yang berdiri sendiri dan tidak mengacu pada SAK umum; sebagian besar menggunakan konsep biaya historis; mengatur transaksi umum yang dilakukan oleh UKM; bentuk pengaturan lebih sederhana dalam hal pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan; dan relatif tidak berubah selama beberapa tahun.
PENDAPATAN
Pendapatan adalah hasil penjualan barang atau jasa dari aktivitas entitas.
Pendapatan menurut SAK ETAP (2009) adalah penjualan, imbalan, bunga, dividen, royalty dan sewa yang timbul dari penghasilan dalam pelaksanaan atas aktivitas entitas. Pendapatan timbul dalam pelaksanaan aktivitas perusahaan yang biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda- beda seperti penjualan, penghasilan jasa,
bunga dividen, royalti dan sewa. Menurut Kieso dan Weygandt (2018:18-3) pengertian pendapatan adalah sebagai berikut :
“Revenue is one of, if not the most, important measures of financial performance that a company reports. Revenue provides insight into a company’s past and future performance and is a significant driver of other performance measures, such a (1) EBITDA, (2) net income, (3) and earnings per share. Therefore, establishsing robust guidelines for recognizing revenue is a standart setting priority.”
Pendapatan menurut pengertian Kieso dan Weygandt di atas adalah salah satu tolak ukur dari kinerja keuangan yang dilaporkan perusahaan. Pendapatan memberikan informasi tentang kinerja masa lalu dan masa depan perusahaan dan merupakan pendorong yang signifikan dari ukuran kinerja lainnya, seperti EBIT, laba bersih, dan pendapatan per saham. Pada dasarnya pendapatan timbul dari penjualan barang atau penyerahan jasa kepada pihak lain dalam suatu periode akuntansi. Dalam perusahaan dagang, disebut sebagai pendapatan ketika penjualan produk telah selesai, sedangkan pada perusahaan jasa pendapatan diperoleh dari penyerahan jasa kepada pihak lain.
Menurut SAK ETAP (20.1), Pendapatan adalah penghasilan yang muncul dari akibat transaksi atau kejadian berikut:
a). Penjualan barang (baik diproduksi oleh entitas untuk tujuan produksi atau dibeli untuk dijual kembali);
b). Pemberian jasa;
c). Kontrak konstruksi;
d). Penggunaan aset entitas oleh pihak lain yang menghasilkan bunga, royalty atau dividen.
Pendapatan diukur berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau
masih harus diterima. SAK ETAP (20.3) menyatakan tentang pengukuran pendapatan.
Entitas harus mengukur pendapatan berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima.
Nilai wajar tersebut tidak termasuk diskon penjualan dan potongan volume.
Entitas harus mengakui pendapatan secara bruto. SAK ETAP (20.4) menyatakan Entitas harus memasukkan dalam pendapatan manfaat ekonomi yang diterima atau masih harus diterima secara bruto. Entitas harus mengeluarkan dari pendapatan sejumlah nilai yang menjadi bagian pihak ketiga seperti pajak penjualan, pajak atas barang dan jasa, dan pajak pertambahan nilai.
Pengakuan merupakan saat dimana sebuah transaksi harus diakui sebagai pendapatan. Mengenai pengakuan pendapatan dari penjualan barang SAK ETAP (20.8) menyatakan entitas harus mengakui pendapatan dari suatu penjualan barang jika semua kondisi berikut terpenuhi:
a). Entitas telah mengalihkan risiko dan manfaat yang signifikan dari kepemilikan barang kepada pembeli;
b). Entitas tidak mempertahankan atau meneruskan baik keterlibatan manajerial sampai kepada tingkat di mana biasanya diasosiasikan dengan kepemilikan maupun kontrol efektif atas barang yang terjual;
c). Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;
d). Ada kemungkinan besar manfaat ekonomi yang berhubungan dengan transaksi akan mengalir masuk ke dalam entitas; dan
e). Biaya yang telah atau akan terjadi sehubungan dengan transaksi dapat diukur secara andal.
Pendapatan hasil penyediaan jasa diakui jika hasil transaksi dapat diestimasi dengan andal. SAK ETAP (20.12) menyatakan jika
hasil transaksi yang melibatkan penyediaan jasa dapat diestimasi secara andal, maka entitas harus mengakui pendapatan yang berhubungan dengan transaksi sesuai dengan tahap penyelesaian dari transaksi pada akhir periode pelaporan (metode persentase penyelesaian). Hasil suatu transaksi dapat diestimasi secara andal jika memenuhi semua kondisi berikut:
a). Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;
b). Ada kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomis yang berhubungan dengan transaksi akan mengalir kepada entitas;
c). Tingkat penyelesaian transaksi pada akhir periode pelaporan dapat diukur secara andal; dan
d). Biaya yang terjadi dalam transaksi dan biaya penyelesaian transaksi dapat diukur secara andal.
Sebagai salah satu prinsip dalam akuntansi keuangan, istilah pengungkapan dikaitkan secara langsung dengan laporan keuangan. Pengungkapan merupakan salah satu alat yang penting untuk mengurangi kesalahan informasi. Pengungkapan pendapatan secara umum diatur dalam SAK ETAP (20.28) yang menyatakan, entitas harus mengungkapkan:
a). Kebijakan akuntansi yang diterapkan sebagai dasar pengakuan pendapatan, termasuk metode yang diterapkan untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi yang melibatkan penyediaan jasa;
b). Jumlah setiap kategori pendapatan yang diakui selama periode, termasuk pedndapatan yang timbul dari:
i.Penjualan barang;
ii.Penyediaan jasa;
iii.Bunga;
iv.Royalty v.Dividen;
vi.Jenis pendapatan signifikan lainnya.
PERUSAHAAN REAL ESTATE
Real estat merupakan tanah dan semua peningkatan permanen yang di atasnya terdapat bangunan-bangunan, seperti gedung, pembangunan jalan, tanah terbuka, serta segala bentuk pengembangan lainnya yang melekat secara permanen. Aktivitas pengembangan subsektor industri real estat adalah kegiatan perolehan tanah untuk kemudian dibangun perumahan dan atau bangunan komersial dan atau bangunan industri. Bangunan tersebut dimaksudkan untuk dijual atau disewakan, sebagai satu kesatuan atau secara eceran (retail). Aktivitas pengembangan ini juga mencakup perolehan kapling tanah untuk dijual tanpa bangunan.
Secara spesifik, aktivitas subsektor industri real estat lebih mengarah pada kegiatan pengembangan perumahan konvensional berikut sarana pendukung berupa fasilitas umum dan fasilitas sosial. Di sisi lain, aktivitas subsektor industri properti lebih mengarah pada kegiatan pengembangan bangunan hunian vertikal (antara lain apartemen, kondominium, rumah susun), bangunan komersial (antara lain perkantoran, pusat perbelanjaan) dan bangunan industri.
Dari segi pengelolaan, subsektor industri real estat cenderung lebih bebas karena adanya pemindahan hak kepemilikan dari pengembang kepada pemilik bangunan (penghuni pemukiman) sehingga pemeliharaan dan pengelolaan bangunan diserahkan sepenuhnya kepada pemilik yang bersangkutan, sedangkan subsektor industri properti lebih memiliki ketergantungan dalam hal pemeliharaan dan pengelolaan bangunan miliknya.
Dari segi pendapatan, pendapatan subsektor industri real estat diperoleh dari
penjualan dan peningkatan harga tanah, sedangkan pendapatan subsektor industri properti berasal dari penjualan, penyewaan, pengenaan service charge, dan lain-lain.
Perusahaan real estat memiliki karakteristik tertentu. Berdasarkan pernyataan yang diungkapkan oleh Tauke, Murni, dan Tulung (2017) dalam Tiara (2021), perusahaan real estat memiliki karakteristik sebagai berikut:
a. Sulit Diprediksi
Perusahaan real estate disebut sulit diprediksi karena memiliki pasang surut dengan amplitude yang besar, dimana ketika pertumbuhan ekonomi sedang tinggi, perusahaan real estat mengalami booming dan cenderung over supplied, namun ketika pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan, industri ini juga akan cepat mengalami penurunan yang cukup drastis.
a. Berisiko Tinggi
Perusahaan real estat disebut memiliki resiko tinggi karena pembiayaan dan sumber dananya secara umum diperoleh melalui kredit perbankan, padahal sektor ini beroperasi dengan menggunakan aktiva tetap berupa tanah dan bangunan, dimana tanah dan bangunan ini sulit untuk dikonversikan menjadi kas dalam waktu cepat untuk pembayaran hutang, sehingga banyak pengembang (developer) tidak dapat melunasi hutangnya tepat waktu.
Berbeda dengan itu, dibalik karakteristik perusahaan real estat yang kurang baik, perusahaan real estat akan selalu berkembang pesat dan meningkat setiap tahunnya karena tanah memiliki ketersediaan yang tetap, sedangkan jumlah penduduk Indonesia setiap tahun meningkat.
METODE PENELITIAN Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang menggunakan metode studi kasus. Menurut Sekaran dan Bougie (2017:160), data kualitatif (qualitative data) adalah data dalam bentuk kata-kata.
Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk mengumpulkan dan menganalisa data dalam bentuk katak-kata yang umumnya diperoleh melalui pertanyaan terstruktur
Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode studi kasus. Menurut Sekaran dan Bougie (2017:118), studi kasus berfokus pada pengumpulan informasi terkait objek tertentu, acara atau kegiatan, seperti unit atau organisasi bisnis tertentu. Dengan demikian, tujuan studi kasus dalam penelitian ini adalah untuk melakukan penelitian secara mendalam terhadap PT ABC di Kota Batu untuk menganalisis pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan pendapatan perusahaan real estat PT ABC sesuai dengan SAK ETAP.
Sumber Data
Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Sumber data primer dalam penelitian ini didapatkan melalui wawancara dengan pegawai bagian keuangan PT ABC.
Sumber data sekunder dalam penelitian ini berupa catatan, dokumentasi dan laporan keuangan PT ABC 2020 yang terdiri dari Laporan laba rugi 2020, Neraca 2020, Laporan Omzet bulanan untuk persewaan villa, dan Kode Akun serta dokumen terkait lainnya.
Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.Observasi
Pada penelitian ini peneliti menggunakan observasi dengan melihat catatan buku kas, bukti kas pemasukan dan pengeluaran, laporan laba rugi, dan neraca PT ABC 2020. Di sini peneliti melakukan pengumpulan data dengan pengamatan langsung ke objek dengan mencari tahu mengenai pengakuan pendapatan selama tahun 2020.
2.Wawancara
Wawancara merupakan proses pengumpulan data melalui proses tanya jawab dengan bagian keuangan PT ABC yang dapat memberikan informasi yang terkait dengan permasalahan yang diteliti.
Jogiyanto (2017:114) menyatakan bahwa wawancara adalah komunikasi dua arah untuk mendapatkan data dari responden.
Jenis wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara semiterstruktur yaitu wawancara dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tertulis dan melakukan tanya jawab langsung terhadap pihak-pihak yang bersangkutan seperti pegawai bagian keuangan dan konsultan keuangan PT ABC guna untuk mendapatkan data dan keterangan mengenai pendapatan PT ABC.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan proses pengumpulan data yang berasal dari dokumen-dokumen yang dimiliki PT ABC.
Peneliti mengumpulkan data dari Dokumentasi pada penelitian ini berupa laporan keuangan, catatan keuangan, kebijakan akuntansi, profil perusahaan, dan buku catatan-catatan transaksi keuangan selama periode 2020 yang telah dibuat oleh PT ABC.
Teknik Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti menganalisis data yang telah dikumpulkan
dengan menggunakan teknik analisis Miles dan Huberman (1994) :
1. Reduksi Data
Dalam penelitian ini reduksi data dilakukan dengan memfokuskan penelitian hanya pada pengakuan pendapatan dari penjualan rumah, dan pendapatan jasa dari persewaan villa PT ABC yang telah masuk ke sistem akuntansi Accurate.
2. Display Data atau Penyajian Data Dalam penelitian ini penyajian data adalah berupa deskripsi tentang penyajian laporan keuangan PT ABC yang terdapat pada sistem Accurate.
3. Pengambilan Keputusan atau Verifikasi Data
Kesimpulan dari penelitian ini adalah hasil dari penelitian untuk menyesuaikan apakah pengakuan, pengukuran, penyajian dan pengungkapan pendapatan PT ABC telah sesuai dengan SAK ETAP.
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Gambaran Umum Objek Penelitian Penelitian ini adalah studi kasus dengan objek penelitian di perusahaan properti PT ABC. Di bawah ini akan diuraikan mengenai sejarah singkat dan produk yang dihasilkan oleh PT ABC.
Sejarah Singkat PT ABC
PT ABC adalah perusahaan properti di Kota Batu, Jawa Timur. PT ABC berkedudukan di Kota Batu. Akte perusahaan nomor : 29 tanggal 3 Desember 2013 dari Notaris Paulus Oliver Yoesoef,SH., notaris di Kota Malang. Perusahaan mendapatkan pengesahan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan nomor : AHU-00527.AH.01.01, tanggal 7 Januari 2014. Perusahaan mendapatkan
berita acara rapat umum pemegang saham luar biasa dengan Akte No.133 pada tanggal 15 Januari 2016 dari Notaris Paulus Oliver Yoesoef,SH, notaris di Kota Malang. Akta perubahan yang terakhir nomor : 92 tertanggal 30 April 2018 dari Notaris Lenny Wibowo, SH., M.Kn, notaris di Kota Batu.
Sesuai dengan anggaran dasar perusahaan yang tertuang dalam akta pendirian, perusahaan menjalankan usahanya dalam bidang Kontruksi, Gedung Tempat Tinggal (Real Estate).
Visi Misi PT ABC:
Visi:
Menjadi Butik Developer nomor satu di Indonesia yang menyediakan hunian properti dan membuat aset pemilik properti terus berkembang.
Misi:
1. Memfokuskan perusahaan kepada Quality Service untuk tercapainya Customer Statisfaction
2. Mengembangkan sumber daya manusia sebagai aset yang bernilai bagi perusahaan sesuai dengan passion yang dimiliki.
3. Melaksanakan nilai-nilai perusahaan yang ditanam untuk tercapainya segala tujuan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang perusahaan.
Produk yang Dihasilkan oleh PT ABC PT ABC merupakan perusahaan yang menjual produk utama berupa hunian rumah villa berkonsep smart home dengan desain modern minimalis yang terletak di atas lahan strategis di Kota Batu. Terdapat 136 unit yang akan dijual. Saat ini sudah 100 unit terjual dengan 58 unit rumah ready dan 78 unit dalam progress pembangunan.
Berkonsep smart home, dengan fasilitas keamanan 24 jam, jogging track, dan mini
club house menjadikan produk utama PT ABC menjadi exclusive dan memiliki nilai investasi yang tinggi di Kota Batu.
PT ABC pada tahun 2020 mengembangkan produknya menjadi persewaan villa yang berlokasi di dalam komplek perumahan yang dijual. Persewaan villa dikelola langsung oleh manajemen PT ABC dengan sumber daya manusia dari PT ABC sendiri. Berkembangnya fungsi penginapan sekarang ini dari sekedar tempat menginap menjadi tempat pertemuan keluarga bahkan tempat rekreasi membuat persewaan milik PT ABC ini menyediakan beberapa fasilitas pendukung seperti F&B, sewa pelampung (floaties), Extra bed, jasa dokumentasi, dan jasa dekorasi untuk permintaan tamu khusus.
Cara bayar yang ditawarkan PT ABC PT ABC menawarkan tiga cara dalam pembayaran untuk setiap pembelian unit villa. Tiga cara pembayaran tersebut akan dijelaskan sebagai berikut :
a) Cash / Tunai Keras
Pembayaran dilakukan pada saat terjadinya transaksi jual beli secara lunas oleh user kepada developer.
b) In House / Tunai Bertahap
Pembayaran dilakukan secara angsuran atau cicilan melalui penerima pesanan dengan jangka waktu maximal 24x
c) KPR Bank
Pembayaran dilakukan secara angsuran atau cicilan melalui Bank sebagai pihak ke 3.
Laporan Keuangan
Laporan keuangan PT ABC yang akan disajikan adalah Neraca periode yang berakhir 31 Desember 2020 dan Laporan Laba Rugi periode yang berakhir 31 Desember 2020. Dua laporan ini yang
disajikan karena ada kaitannya dengan pembahasan skripsi. Alasan lainnya, perusahaan membuat laporan keuangan terdiri dari neraca, dan laba rugi, sedangkan laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan atas laporan keuangan perusahaan tidak membuat.
Pengakuan Pendapatan
Pendapatan utama dari PT ABC ini adalah dari penjualan unit rumah villa (termasuk tanah dan bangunan) dan persewaan villa yang dikelola sendiri oleh manajemen PT ABC.
Pengakuan Pendapatan dari Penjualan Rumah (Tanah dan Bangunan)
Pengakuan pendapatan merupakan saat dimana sebuah transaksi harus diakui sebagai pendapatan. SAK ETAP (2.36) menyatakan pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban.
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau pemenuhan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal.
Komponen pendapatan dari proyek penjualan rumah PT ABC adalah pendapatan dari penjualan tanah dan bangunan, pendapatan dari tambahan bangunan atau FSO (Form Special Order), pendapatan maintenance fee, dan pendapatan operasional lain. Akun retur penjualan berisi pengakuan pembatalan transaksi.
Akun diskon penjualan berisi pengurangan harga yang diberikan perusahaan untuk pelanggan dalam satu invoice. Diskon penjualan adalah potongan harga karena pelanggan melunasi hutang sebelum jatuh tempo atau lebih cepat dari waktu yang ditentukan.
Jurnal yang dibuat perusahaan:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Dr) Diskon Penjualan Rp.xxx
(Kr) Penjualan Rp.xxx
Berdasarkan hasil wawancara dengan manager keuangan PT ABC yakni untuk proses penjualan rumah, user membayar ITJ (Ikatan Tanda Jadi) terlebih dahulu sebelum proses negosiasi dan perhitungan harga unit yang akan dibeli.
Besaran ITJ sebesar Rp.20.000.000,- dibayarkan secara cash, setelah itu proses negosiasi harga terjadi antara user dengan manajemen.
Jurnal yang dibuat perusahaan saat menerima ITJ:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Penjualan Rp.xxx
Pembayaran yang disediakan manajemen bisa KPR, Cash, atau In House 24x. Jika user sudah sepakat dan telah memilih proses pembayaran yang sesuai, maka terbitlah Surat Konfirmasi Unit Pesanan (SKUP). Jika user tidak sesuai dengan harga dan cara pembayaran sebelum jangka waktu tujuh hari maka boleh mengajukan refund atas ITJ tersebut.
Jurnal yang dibuat perusahaan saat mengembalikan ITJ:
(Dr) Retur Penjualan Rp.xxx
(Kr) Kas Rp.xxx
Apabila user tidak sepakat dengan harga dan telah melewati jangka waktu negosiasi yang diberikan perusahaan, ITJ tersebut otomatis akan dianggap batal dan diakui perusahaan sebagai pendapatan operasional lain.
Jurnal yang dibuat perusahaan saat pengakuan pembatalan ITJ:
(Dr) Penjualan Rp.xxx
(Kr) Pendapatan Operasional Lain Rp.xxx
Untuk pembelian unit rumah dengan proses KPR maka user diwajibkan membayar DP terlebih dahulu minimal 10% dari total harga jual. Pendapatan dari uang masuk ITJ, pembayaran DP KPR, angsuran rumah, dan kelebihan tanah (FSO) dicatat sebagai pendapatan pada hari itu juga saat uang masuk ke rekening perusahaan. Jurnal yang dibuat perusahaan:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Penjualan Rp.xxx
Pendapatan maintenance fee adalah pendapatan yang diperoleh perusahaan atas iuran biaya perawatan fasilitas umum yang dibebankan pada penghuni perumahan. Dicatat dan diakui sebagai pendapatan pada saat pembayaran diterima perusahaan. Jurnal yang dibuat perusahaan pada saat menerima pendapatan maintenance fee
(Dr) Kas) Rp.xxx
(Kr) Pendapatan Maintenance Fee Rp.xxx
Pengakuan Pendapatan dari Persewaan Villa
PT ABC selain sebagai developer properti yang menjual rumah villa, pada akhir tahun 2020 mengembangkan usahanya pada jasa penginapan & hospitality. Persewaan villa yang berlokasi di dalam komplek perumahan PT ABC dikelola langsung oleh manajemen dan SDM dari PT ABC. Terdapat delapan unit rumah villa milik PT ABC yang dibuka untuk proyek persewaan villa.
Komponen pendapatan dari proyek persewaan villa berasal dari pendapatan sewa villa, F&B, sewa pelampung (floaties), Extra bed, jasa dokumentasi, dan jasa dekorasi untuk permintaan tamu khusus. Berdasarkan hasil wawancara dengan manager keuangan PT ABC yakni untuk proyek persewaan villa setiap tamu yang melakukan pembayaran sewa villa diakui sebagai pendapatan pada hari itu juga saat perusahaan menerima pembayaran atau uang masuk.
Jurnal yang dibuat perusahaan pada saat menerima pembayaran dari pendapatan sewa villa:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Pendapatan Sewa Rp.xxx Setiap tamu yang melakukan pembayaran atas fasilitas tambahan seperti laundry, F&B, sewa pelampung (floaties), Extra bed, jasa dokumentasi dan dekorasi diakui sebagai pendapatan carmela lainnya pada saat pembayaran diterima perusahaan.
Jurnal yang dibuat perusahaan pada saat menerima pembayaran atas fasilitas:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Pendapatan Carmela Lainnya Rp.xxx
Pengukuran Pendapatan
Pengukuran pendapatan adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk mengukur aset, kewajiban, penghasilan dan beban dalam laporan keuangan. Entitas harus mengukur nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima. Entitas harus memasukkan dalam pendapatan manfaat ekonomi yang diterima atau masih harus diterima secara bruto.
Pengukuran Pendapatan Penjualan Tanah dan Bangunan
PT ABC melakukan pengukuran pendapatan pada saat pembayaran diterima.
Berdasarkan hasil wawancara dengan manager keuangan PT ABC yakni transaksi memakai mata uang rupiah untuk segala transaksi pembayaran yang berkaitan dengan penjualan tanah dan bangunan. Dasar pengukuran pendapatan penjualan tanah dan bangunan adalah sebesar uang yang diterima ketika uang masuk dari ITJ, pembayaran DP KPR, angsuran rumah, kelebihan tanah (FSO) dan pendapatan maintenance fee.
Pengukuran Pendapatan Persewaan Villa Entitas harus mengukur pendapatan berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima.
Nilai wajar tersebut tidak termasuk jumlah diskon penjualan dan potongan volume.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Manager Keuangan PT ABC yakni tranaksi memakai mata uang rupiah dan tamu membayar sesuai dengan yang tertera di invoice. Dapat diketahui bahwa pengukuran pendapatan PT ABC diukur berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima.
Dasar pengukuran pendapatan adalah sebesar uang yang diterima ketika pesan villa, F&B, sewa pelampung (floaties), Extra bed, jasa dokumentasi, dan jasa dekorasi. Hal ini berarti PT ABC menggunakan dasar nilai wajar atas pembayaran yang diterima dalam pengukuran pendapatan.
Penyajian dan Pengungkapan Pendapatan Penyajian pendapatan adalah angka yang disajikan di laporan laba rugi yang diambil dari buku besar sebesar nilai wajar dari hasil penjualan. Penyajian wajar mensyaratkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi, peristiwa dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset, kewajiban, penghasilan dan beban. Penyajian pendapatan bisa dilihat di laporan laba rugi pada lampiran 2.
Perusahaan tidak membuat catatan atas laporan keuangan sehingga tidak ada kebijakan akuntansi yang tertulis di catatan atas laporan keuangan. Demikian juga kebijakan akuntansi mengenai pendapatan, tidak ada pengungkapan di catatan atas laporan keuangan. Pengungkapan mengenai pendapatan hanya ada di laporan laba rugi.
Penjelasan yang lebih rinci mengenai pendapatan tidak ada.
Penyajian dan pengungkapan Pendapatan Hasil Penjualan Tanah dan Bangunan
Berdasarkan hasil wawancara dengan manajer keuangan PT ABC mengenai laporan laba rugi bahwa, Laporan laba/rugi dibuat sesimpel, sesederhana mungkin dan angkanya bisa dipertanggung jawabkan. PT ABC membuat laporan laba/rugi yang didapat dari jumlah pendapatan dikurangi seluruh beban.
PT ABC menyajikan pendapatan dari penjualan Tanah dan Bangunan periode yang berakhir 31 Desember 2020 sebesar Rp 30.338.875.896,81.- dan Pendapatan dari Tambahan Bangunan (FSO) Rp 161.163.637.- Pendapatan Operasional lain Rp 175.826.081.- yang berasal dari pengakuan pembatalan penjualan rumah dan fee broker KPR dari bank. Pendapatan Maintenance fee yaitu pendapatan atas iuran warga untuk biaya keamanan dan kebersihan wilayah komplek sebesar Rp 85.692.606.-
Pengungkapan
Penjualan dari tanah dan bangunan secara garis besar pengungkapannya hanya ada di Laporan Laba Rugi. Perusahaan tidak membuat catatan atas laporan keuangan.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Manager keuangan PT ABC, pihak direksi atau manajemen masih dalam proses membuat kebijakan akuntansi sederhana dan untuk laporan keuangan tahun 2020 belum membuat catatan atas laporan keuangan.
Pihak manajemen masih fokus
mempromosikan persewaan villa sebagai proyek baru PT ABC.
Penyajian dan Pengungkapan Hasil Persewaan Villa
PT ABC menyajikan pendapatan dari proyek persewaan villa periode yang berakhir 31 Desember 2020 dengan akun Pendapatan Sewa Rp 84.799.250.- Beban Komisi Villa Rp 3.770.495.- Pendapatan Carmela Lainnya Rp 0.- untuk akun Beban Komisi Villa dimunculkan di akun pendapatan karena itu termasuk pendapatan yang diterima namun harus terpotong oleh OTA (Online Travel Agent).
Pengungkapan
Pendapatan dari persewaan villa secara garis besar pengungkapannya hanya ada di Laporan Laba Rugi. Perusahaan tidak membuat catatan atas laporan keuangan.
Pada akun Pendapatan Carmela Lainnya sebesar nol rupiah pada 2020 dikarenakan proyek persewaan villa baru berjalan di akhir 2020 sehingga manajemen perlu waktu untuk penyesuaian transaksi-transaksi baru. Akun Pendapatan Carmela lainnya adalah pendapatan dari F&B, sewa pelampung (floaties), Extra bed, jasa dokumentasi, dan jasa dekorasi untuk permintaan khusus tamu.
Pembahasan Hasil Penelitian
Pada bab ini akan dibahas mengenai pengakuan pendapatan menurut SAK ETAP dan pengakuan pendapatan yang diterapkan PT ABC. Untuk menganalisa perbedaan tersebut menggunakan analisis deskriptif, yaitu menganalisis, menggambarkan, dan meringkas berbagai kondisi, situasi dari data yang dikumpulkan dari laporan keuangan yang dibuat oleh PT ABC dengan SAK ETAP.
Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, dan Pengungkapan Pendapatan Penjualan Tanah dan Bangunan
Pengakuan Penjualan Tanah dan Bangunan
Pengakuan pendapatan merupakan saat dimana sebuah transaksi harus diakui sebagai pendapatan. SAK ETAP (2.36) menyatakan pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban.
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau pemenuhan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal.
Berdasarkan SAK ETAP (20.8) mengenai pendapatan disebutkan entitas harus mengakui pendapatan dari suatu penjualan barang jika semua kondisi berikut terpenuhi:
(a) Entitas telah mengalihkan risiko dan manfaat yang signifikan dari kepemilikan barang kepada pembeli;
(b) Entitas tidak mempertahankan atau meneruskan baik keterlibatan manajerial sampai kepada tingkat di mana biasanya diasosiasikan dengan kepemilikan maupun control efektif atas barang yang terjual;
(c) Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;
(d) Ada kemungkinan besar manfaat ekonomi yang berhubungan dengan transaksi akan mengalir masuk ke dalam entitas; dan
(e) Biaya yang telah atau akan terjadi sehubungan dengan transaksi dapat diukur secara andal.
Ada beberapa perlakuan akuntansi mengenai pendapatan atas penjualan tanah dan bangunan di PT ABC yang belum sesuai dengan SAK ETAP. Transaksi-transaksi tersebut adalah:
1) Pada saat menerima pembayaran atas ITJ, perusahaan menjurnal:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Penjualan Rp.xxx
Pada saat menerima pembayaran atas ITJ, seharusnya perusahaan menjurnal:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Pendapatan diterima dimuka Rp.xxx
(Kr) PPN Keluaran Rp.xxx
Penerimaan kas dari ITJ seharusnya masih diperlakukan sebagai hutang karena pada waktu menerima uang tersebut perusahaan belum mengalihkan risiko dan manfaat yang signifikan dari kepemilikan barang kepada pembeli. PPN keluaran juga harus diakui ketika menerima pembayaran.
2) Pada saat menerima DP, PT ABC mencatat:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Penjualan Rp.xxx
Pada waktu menerima DP, seharusnya PT ABC mencatat:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Pendapatan diterima dimuka Rp.xxx
(Kr) PPN Keluaran Rp.xxx Penerimaan kas dari DP, seharusnya masih diperlakukan sebagai hutang karena pada waktu menerima pembayaran tersebut perusahaan belum mengalihkan risiko dan manfaat yang signifikan dari kepemilikan barang kepada pembeli.
3) Pada waktu menerima angsuran dari user, PT ABC mencatat:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Penjualan Rp.xxx Pada waktu menerima angsuran dari user, seharusnya PT ABC mencatat:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Pendapatan diterima di muka Rp.xxx
(Kr) PPN Keluaran Rp.xxx
4) Ketika rumah sudah diserahkan, perusahaan seharusnya baru menjurnal sebagai berikut:
(Dr) Kas/Piutang Usaha Rp.xxx (Dr) Pendapatan diterima di muka
Rp.xxx
(Dr) Uang Muka Pajak Pengalihan Hak Atas Tanah dan Bangunan
(Kr) Hutang PPh Final Atas Pengalihan Tanah & Bangunan Rp.xxx
(Kr) PPN Keluaran Rp.xxx
(Kr) Penjualan Rp.xxx
Jadi seharusnya pendapatan dari penjualan rumah baru diakui ketika entitas telah mengalihkan risiko dan manfaat yang signifikan dari kepemilikan barang kepada pembeli (SAK ETAP:2.36). Kemudian dalam penjualan rumah villa PT ABC sesuai dengan peraturan pemerintah yang akhirnya memutuskan menurunkan tarif Pajak Pengahasilan final atas Pengalihan Tanah dan Bangunan (PPhTB) yang semula 5% menjadi 2,5% tahun 2016 bulan september ada anjuran dari kementrian keuangan tentang undang-undang perpajakan berubah menjadi 2,5% kalau PPN tetap 10% yang telah ditetapkan di PT ABC ini.
Pengukuran Pendapatan Penjualan Tanah dan Bangunan
Pengukuran pendapatan atas hasil penjualan tanah dan bangunan yang ada di PT
ABC adalah berdasarkan nilai wajar yaitu harga yang akan diterima dalam menjual suatu aset, ataupun harga yang dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas secara transaksi dan sering kali mengalami fluktuasi.
Pengukuran pendapatan yang dilakukan sudah sesuai dengan SAK ETAP (20.3) yang menyatakan entitas harus mengukur pendapatan berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima. Nilai wajar tersebut tidak termasuk jumlah diskon penjualan dan potongan volume.
Penyajian Pendapatan Penjualan Tanah dan Bangunan
Penyajian pendapatan di laporan laba rugi di PT ABC kurang tepat karena di laporan laba rugi masih disertakan kode akun dan nama akun yang berkaitan dengan penjualan tanah dan bangunan. Sebaiknya di laporan laba/rugi sudah tidak dicantumkan kode akun, dan hasil penjualan tanah dan bangunan bisa disajikan nilai bersihnya. Rincian hasil penjualan dan potongan-potongan bisa disajikan di catatan atas laporan keuangan.
Analisis Pengungkapan Pendapatan Penjualan Tanah dan Bangunan
Perusahaan belum membuat catatan atas laporan keuangan. Di dalam catatan atas laporan keuangan berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya.
SAK ETAP (20.28) menyatakan entitas harus mengungkapkan:
(a) Kebijakan akuntansi yang diterapkan sebagai dasar pengakuan pendapatan, termasuk metode yang diterapkan untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi yang melibatkan penyediaan jasa;
(b) Jumlah setiap kategori pendapatan yang diakui selama periode, termasuk pendapatan yang timbul dari:
(i) Penjualan barang;
(ii) Penyediaan jasa;
(iii) Bunga;
(iv) Royalty;
(v) Dividen;
(vi) Jenis pendapatan signifikan lainnya.
Perusahaan belum mengungkapkan kebijakan akuntansi yang diterapkan sebagai dasar pengakuan pendapatan, sedangkan jumlah setiap ketgori pendapatan yang diakui selama periode sudah diungkap dalam laporan laba rugi (lihat lampiran 2).
Pemecahan yang diusulkan adalah PT ABC membuat catatan atas laporan keuangan mengenai pendapatan yang berisi kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pengakuan pendapatan. Juga berisi dasar pengukuran yang digunakan dalam pengakuan pendapatan. Selain itu, di CALK berisi rincian pendapatan yang ada di laporan laba rugi.
Kebijakan akuntansi, dapat ditulis sebagai berikut:
Pengakuan pendapatan
Pendapatan penjualan diakui ketika tanah dan bangunan diserahkan kepada user atau ketika tagihan diterbitkan
Pengukuran Pendapatan
PT ABC mengukur pendapatan berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima.
Pada rincian pendapatan bisa dibuat rincian:
Pendapatan Penjualan Tanah &
Bangunan
2020 2019 Penjualan
xxx xxx
Diskon Penjualan
(xxx) (xxx)
Retur Penjualan (xxx) (xxx)_
Penjualan Bersih
xxx xxx
Pendapatan dari Tambahan Bangunan xxx_ xxx_
Penjualan Bersih Tanah & Bangunan
xxx xxx
Laporan laba-rugi yang disajikan perusahaan diusulkan disajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya, karena SAK ETAP (3.9) menyatakan informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan). Entitas memasukkan informasi komparatif untuk informasi naratif dan deskriptif jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
Jadi di catatan atas laporan keuangan mengenai pendapatan penjualan tanah dan bangunan, dibuat rinciannya dan rinciannya itu dikomparasikan dengan tahun sebelumnya.
Dengan demikian bisa diketahui perbandingan rincian penjualan tanah dan bangunan tahun ini dengan tahun sebelumnya.
Analisis Pengakuan, Pengukuran, Penyajian, dan Pengungkapan Pendapatan Persewaan Villa
Pengakuan Pendapatan Persewaan Villa Pengakuan pendapatan merupakan saat dimana sebuah transaksi harus diakui sebagai
pendapatan. SAK ETAP (2.36) menyatakan pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan aset dan kewajiban.
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi masa depan yang berkaitan dengan peningkatan aset atau pemenuhan kewajiban telah terjadi dan dapat diukur secara andal.
Berdasarkan SAK ETAP (20.12) mengenai pendapatan penyediaan jasa disebutkan jika hasil transaksi yang melibatkan penyediaan jasa dapat diestimasi secara andal, maka entitas harus mengakui pendapatan yang berhubungan dengan transaksi sesuai dengan tahap penyelesaian transaksi pada akhir periode pelaporan. Hasil suatu transaksi dapat diestimasi secara andal jika memenuhi semua kondisi berikut:
(a) Jumlah pendapatan dapat diukur secara andal;
(b) Ada kemungkinan besar bahwa manfaat ekonomis yang berhubungan dengan transaksi akan mengalir kepada entitas;
(c) Tingkat penyelesaian transaksi pada akhir periode pelaporan dapat diukur secara andal; dan
(d) Biaya yang terjadi dalam transaksi dan biaya penyelesaian transaksi dapat diukur secara andal.
Ada beberapa perlakuan akuntansi mengenai pendapatan atas persewaan villa di PT ABC yang belum sesuai dengan SAK ETAP. Transaksi-transaksi tersebut adalah:
Pada waktu menerima pembayaran dari pendapatan sewa villa, baik sebelum atau sesudah villa ditempati PT ABC mencatat:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Pendapatan Sewa Rp.xxx
Pada waktu menerima pembayaran dari pendapatan sewa villa, sebelum villa ditempati seharusnya PT ABC mencatat:
(Dr) Kas Rp.xxx
(Kr) Pendapatan diterima di muka Rp.xxx
Ketika pembayaran sudah diterima dan tamu sudah check out, perusahaan seharusnya baru menjurnal sebagai berikut:
(Dr) Pendapatan diterima di muka
Rp.xxx
(Kr) Hutang Pajak Daerah 10%
Rp. xxx
(Kr) Pendapatan Sewa
Rp.xxx
Penerimaan kas dari pembayaran sewa villa seharusnya masih diperlakukan sebagai pendapatan diterima di muka karena pada waktu menerima uang tersebut perusahaan belum memberikan jasa pemakaian villa kepada tamu. Setelah tamu menginap atau menempati villa tersebut, baru pendapatan jasa persewaan villa diakui sebagai pendapatan sewa. PT ABC pada persewaan villa jika mengacu Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. UU itu mengatur penetapan pajak hotel dan restoran paling besar masing- masing 10%.
Pengukuran Pendapatan Persewaan Villa Pengukuran pendapatan atas hasil persewaan villa yang ada di PT ABC adalah berdasarkan nilai wajar yaitu harga yang akan diterima dalam menjual suatu aset, ataupun harga yang dibayar untuk mengalihkan suatu liabilitas secara transaksi dan sering kali mengalami fluktuasi. Pengukuran pendapatan yang dilakukan sudah sesuai dengan SAK ETAP (20.3) yang menyatakan entitas harus mengukur pendapatan berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih
harus diterima. Nilai wajar tersebut tidak termasuk jumlah diskon penjualan dan potongan volume.
Pada laporan laba rugi periode yang berakhir 31 Desember 2020 terdapat akun Pendapatan Carmela lainnya sebesar nol rupiah dikarenakan persewaan villa baru berjalan di akhir tahun 2020 sehingga manajemen perlu waktu untuk penyesuaian transaksi-transaksi baru. PT ABC seharusnya membuat perincian akun Pendapatan Carmela Lainnya yang berisi pendapatan dari F&B, sewa pelampung (floaties), Extra bed, jasa dokumentasi dan dekorasi.
Penyajian Pendapatan Persewaan Villa Penyajian pendapatan di laporan laba rugi masih disertakan kode akun dan nama akun yang berkaitan dengan persewaan villa (lihat laporan laba/rugi lampiran 2).
Sebaiknya di laporan laba/rugi sudah tidak dicantumkan kode akun, dan hasil persewaan villa bisa disajikan nilai bersihnya. Rincian hasil sewa, pendapatan carmela lainnya dan potongan-potongan bisa disajikan di catatan atas laporan keuangan.
Pengungkapan Pendapatan Persewaan Villa
Perusahaan belum membuat catatan atas laporan keuangan. Di dalam catatan atas laporan keuangan berisi ringkasan kebijakan akuntansi yang signifikan dan informasi penjelasan lainnya.
SAK ETAP (20.28) menyatakan entitas harus mengungkapkan:
(c) Kebijakan akuntansi yang diterapkan sebagai dasar pengakuan pendapatan, termasuk metode yang diterapkan untuk menentukan tingkat penyelesaian transaksi yang melibatkan penyediaan jasa;
(d) Jumlah setiap kategori pendapatan yang diakui selama periode, termasuk pendapatan yang timbul dari:
(vii) Penjualan barang;
(viii) Penyediaan jasa;
(ix) Bunga;
(x) Royalty;
(xi) Dividen;
(xii) Jenis pendapatan signifikan lainnya.
Perusahaan belum mengungkapkan kebijakan akuntansi yang diterapkan sebagai dasar pengakuan pendapatan, sedangkan jumlah setiap ketgori pendapatan yang diakui selama periode sudah diungkap dalam laporan laba rugi (lihat lampiran 2). Pemecahan yang diusulkan adalah perusahaan PT ABC membuat catatan atas laporan keuangan. Di CALK mengenai kebijakan akuntansi, dapat ditulis sebagai berikut:
Pengakuan pendapatan
Pendapatan sewa diakui ketika perusahaan telah memberikan jasanya berupa pemakaian villa oleh tamu atau ketika tamu sudah cek out.
Pengukuran Pendapatan
Pendapatan sewa villa diukur berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau akan diterima.
Di Catatan atas laporan keuangan diberikan rincian tentang pendapatan carmela dengan rincian sebagai berikut:
Pendapatan Sewa xxx Beban Komisi Villa (xxx) Pendapatan Sewa Bersih xxx
Pendapatan Carmela Lainnya
Pendapatan F&B
xxx
Pendapatan Sewa Extrabed
xxx
Pendapatan Sewa Floaties
xxx
Pendapatan Dekorasi dan Dokumentasi
xxx
Pendapatan Sewa Bersih dan Pendapatan
Carmela Lainnya xxx
Laporan laba-rugi yang disajikan perusahaan diusulkan disajikan secara komparatif dengan periode sebelumnya, karena SAK ETAP (3.9) menyatakan informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangan dan catatan atas laporan keuangan). Entitas memasukkan informasi komparatif untuk informasi naratif dan deskriptif jika relevan untuk pemahaman laporan keuangan periode berjalan.
Rincian pendapatan pada persewaan villa tahun 2020 tidak bisa dikomparasikan dengan tahun sebelumnya, karena pada tahun 2019 belum ada usaha persewaan villa milik PT ABC. Jadi untuk tahun berikutnya, di catatan atas laporan keuangan mengenai pendapatan sewa carmela dibuat rinciannya dan rinciannya itu dikomparasikan dengan tahun sebelumnya.
KESIMPULAN DAN SARAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengakuan, pengukuran, penyajian, dan pengungkapan pendapatan yang diterapkan oleh PT ABC, dengan membandingkan standar yang ada di SAK ETAP. PT ABC adalah perusahaan yang bergerak di bidang real estat, dengan menjual rumah (tanah dan bangunan). Selain itu juga
menyewakan villa. Hasil penelitian dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
Pada saat mengakui pendapatan hasil penjualan tanah dan bangunan ada perlakuan akuntansi yang kurang tepat.
Perlakuan itu adalah saat menerima uang tanda jadi (ITJ), dan uang muka (DP) sudah diperlakukan sebagai pendapatan.
Penerimaan ITJ, uang muka (DP) seharusnya masih diperlakukan sebagai pendapatan diterima di muka, karena perusahaan belum mengalihkan risiko kepemilikan kepada user.
Pada saat mengakui pendapatan hasil persewaan villa ada perlakuan akuntansi yang kurang tepat. Perlakuan itu adalah saat menerima kas dari pembayaran villa ketika tamu belum check out yang sudah diperlakukan sebagai pendapatan.
Penerimaan kas dari pembayaran sewa, seharusnya masih diperlakukan sebagai pendapatan diterima di muka, karena perusahaan belum memberikan jasa pemakaian villa kepada tamu.
Pengukuran pendapatan di PT ABC berdasarkan nilai wajar. Pengukuran ini sudah sesuai dengan SAK ETAP (20.3) yang menyatakan entitas harus mengukur pendapatan berdasarkan nilai wajar atas pembayaran yang diterima atau masih harus diterima. Nilai wajar tersebut tidak termasuk jumlah diskon penjualan dan potongan volume.
Penyajian laporan laba rugi di PT ABC kurang tepat karena di laporan laba rugi masih disertakan nomor akun, seharusnya laporan laba rugi disajikan secara ringkas, sedangkan rinciannya bisa disajikan di catatan atas laporan keuangan.
Pengungkapan pendapatan hanya ada di laporan laba rugi saja. Perusahaan belum membuat catatan atas laporan keuangan. Di catatan atas laporan keuangan berisi kebijakan akuntansi yang signifikan.
Catatan atas laporan keuangan memberikan
penjelasan naratif atau rincian jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan dan informasi mengenai pos-pos yang tidak memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan. Perusahaan harus membuat Catatan Atas Laporan Keuangan (CALK) mengenai pendapatan yang berisi kebijakan akuntansi yang berkaitan dengan pengakuan pendapatan dan dasar pengukuran yang dipakai dalam pengakuan pendapatan. Selain itu berisi rincian dari pendapatan yang ada di laporan laba rugi.
Saran
Berdasarkan dari kesimpulan yang sudah dijelaskan sebelumnya, maka peneliti mengemukakan beberapa saran, yaitu:
1. Bagi perusahaan
Dianjurkan perusahaan bisa memberi kesempatan kepada peneliti selanjutnya untuk bisa mengakses data keuangan perusahaan. Dengan diberinya kesempatan untuk mengakses data keuangan, maka pembahasan bisa lebih mendalam dan angka- angka yang diperlukan dalam penelitian bisa disajikan dengan tepat. Selain itu, perusahaan seharusnya menyesuaikan pengakuan pendapatan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) untuk perusahaan yang kegiatan usahanya tidak memiliki akuntabilitas publik yang signifikan.
2. Bagi peneliti selanjutnya
Mengingat adanya keterbatasan penelitian yang disebutkan, saran untuk penelitian berikutnya adalah memperluas objek pembahasan yaitu membahas biaya- biaya dan beban yang mempengaruhi pendapatan perusahaan. Peneliti selanjutnya juga dapat menggunakan rentan waktu pelaporan yang lebih lama, misalnya 2 (dua) periode akuntansi atau lebih.
DAFTAR PUSTAKA
Cahyani, Tiara Riswanti. (2021). Studi Komparatif Rata-Rata Pendapatan Berdasarkan PSAK 44 dan Simulasi Rata-Rata Pendapatan Berdasarkan PSAK 72 (Studi Empiris pada Perusahaan Real Estat Tahun 2019) . (Skripsi Sarjana, Universitas Brawijaya).
Hajar, Ibnu. & Damayanti. (2017).
Analisis Metode Pengakuan Pendapatan Dan Beban Atas Perusahaan Real Estate Pada PT XYZ Sesuai Dengan PSAK No.44.
Diakses dari
http://eprints.jeb.polinela.ac.id/17 8
Hartono, Jogiyanto. (2017) Metodologi Penelitian Bisnis. BFE- Yogyakarta, Yogyakarta.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2018).
PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan. Jakarta: DSAK IAI &
DSAS IAI.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2013). SAK ETAP: Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. Jakarta:
DSAK IAI & DSAS IAI.
Ikatan Akuntan Indonesia. (2016).
Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan. Jakarta: DSAK IAI &
DSAS IAI.
Kieso, Donald E., Jerry J. Weygandt., dan Terry D. Warfield, (2018), Akuntansi Keuangan Menengah:
Intermediate Accounting, Edisi IFRS, Volume 1, Salemba Empat, Jakarta Selatan 12160.
Resti, Melya. (2012). Analisis Penerapan Akuntansi Real Estat (PSAK No. 44) Pada PT Wahana Tata Griya Pekanbaru. (Skripsi
Sarjana, Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim). Diakses dari http://core.ac.uk/download/pdf/30 0841110.pdf
Sekaran, U., & Bougie, R. (2017).
Metode Penelitian untuk Bisnis:
Pendekatan Pengembangan- Keahlian, Edisi 6, Buku 1, Cetakan Kedua, Salemba Empat, Jakarta Selatan 12610.
Sekaran, U., & Bougie, R. (2017).
Metode Penelitian untuk Bisnis:
Pendekatan Pengembangan- Keahlian, Edisi 6, Buku 2, Salemba Empat, Jakarta Selatan 12610.
Tauke, Murni & Joy E. Tulung., (2017). Pengaruh Kinerja Keuangan Terhadap Nilai Perusahaan Real Estate dan Properti yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Tahun 2012-2015.
Jurnal EMBA, Vol. 5(2), 919-927.
Diakses dari
https://ejournal.unsrat.ac.id/index.
php/emba/article/view/16009 Zuhriyah, F. (2018). Analisis
Penerapan akuntansi pengakuan pendapatan pada perusahaan properti "PT Rojoland Indonesia Build", Jurnal Progress Conference, Volume I, hlm 237- 244