• Tidak ada hasil yang ditemukan

analisis restrukturisasi kredit, nonperforming loan (npl), dan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan "analisis restrukturisasi kredit, nonperforming loan (npl), dan"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS RESTRUKTURISASI KREDIT, NONPERFORMING LOAN (NPL), DAN RECOVERY HAPUS BUKU KREDIT TERHADAP PROFITABILITAS (ROA)

PADA PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSERO) Tbk Agussalim1, Andi Syarifuddin2, Sutardjo Tui3

[email protected], [email protected], [email protected]

1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar

ABSTRACT

This study aims to find out the enfluence to NonPerforming Loans (NPL), Credit Restructuring and Write-Off Recovery on Profitability (ROA) at PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk for the period 2010 - 2018. The method used in this research is descriptive quantitative. The results of data analysis with multiple linear regression (multiple regression) with SPSS version 25 regression equation Y = 3.906 - 0.134X1 - 0.136X2 + 0.001X3. which shows that NPL (X1) and Credit Restructuring (X2) show opposite (negative) attitudes towards Profitability (ROA) while Credit Book Write-Off Recovery (X3) shows a direct (positive) effect on Profitability (ROA). Hypothesis testing is the F test for simultaneous test and t test for partial test with a significance level of 5%. Based on the research results, it can be ignored that there is a simultaneous influence between NonPerforming Loans (NPL), Credit Restructuring and Write-Off Recovery on Return On Asset (ROA), and partially there is no significant effect shown by NPL and Write-Off Recovery on Profitability (ROA)) while Credit Restructuring has no significant effect on Profitability (ROA)

Keywords: NonPerforming Loan, Credit Restructuring, Recovery Write off Credit and Return on Aset

PENDAHULUAN

Perbankan merupakan sektor penting dalam pembangunan dan dipandang sebagai inti dari sistem perekonomian di setiap negara dimana arus ekonomi dan keuangan mengalir di dalamnya. Hal ini dikarenakan perbankan yang berfungsi sebagai financial intermediary diantara pihak pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak-pihak yang membutuhkan dana. Penyaluran dana yang dilakukan oleh bank dalam bentuk kredit atau bentuk-bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak memiliki peranan yang sangat penting dalam perekonomian. Kredit merupakan bagian terbesar dari aset yang dimiliki oleh bank yang bersangkutan.

Dalam penyaluran kredit, bank harus siap menghadapi risiko kredit yang menyebabkan kredit tersebut menjadi bemasalah. Risiko kredit merupakan suatu risiko akibat kegagalan atau ketidakmampuan nasabah mengembalikan jumlah pinjaman yang diperoleh dari bank beserta bunganya sesuai dengan jangka waktu yang telah ditentukan.

Kredit bermasalah atau NonPerforming Loan (NPL) menunjukkan kemampuan manajemen

bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank, sehingga semakin tinggi NPL, maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang berdasarkan kolektibilitasnya yang pada prinsipnya berdasarkan pada kontinuitas pembayaran oleh debitur.

Berdasarkan peraturan Bank Indonesia No. 31/147/KEP/DIR tanggal 12 November 1998 tentang kualitas aktiva produktif, maka kualitas kredit dapat digolongkan menjadi lancar (pass), dalam perhatian khusus (special mention), kurang lancar (substandard), diragukan (doubtfull), dan macet (loss).

Peningkatan kredit bermasalah atau NonPerforming Loan (NPL) yang dialami perbankan nasional mengakibatkan bank kehilangan kemampuannya dalam menghasilkan laba yang optimum dari kegiatan pokoknya tersebut. Dengan meningkatnya kredit bermasalah, maka dampak positif yang ditimbulkan oleh penyaluran kredit tidak dapat terjadi. Hal ini dikarenakan pendapatan operasional dari pemberian kredit sangat kecil karena bunga yang seharusnya diterima oleh bank dari penyaluran kredit tidak diterima secara penuh.

(2)

Posisi asset BNI diikuti dengan posisi pinjaman yang diberikan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk selama periode 5 (lima) tahun (2014-2018) menunjukkan pertumbuhan .yang cukup signifikan, seiring dengan pertumbuhan pinjaman posisi Non Performing Loan (NPL) juga menunjukkan peningkatan pada periode 2014-2016, namun pada tahun 2017-2018 ratio NPL cenderung membaik atau menurun dibandingkan periode tahun 2014-2016, sebagaimana tabel dan grafik berikut ini

Gambar 1. Grafik Pertumbuhan Asset dan Pinjaman BNI periode 2014 -2018

Sumber: Laporan Keuangan Auditeed PT.BNI (Persero) Tbk (www.bni.co.id)

Tabel 1. Posisi Kredit dan Kualitas Kredit BNI Periode Tahun 2014-2018

Sumber: Laporan Keuangan Auditeed PT.BNI (Persero) Tbk (www.bni.co.id)

Upaya penyelamatan kredit dengan cara restrukturisasi kredit (rescheduling, reconditioning dan restrukturing) dan pendudukan tunggakan kewajiban bunga, denda dan biaya dalam perjanjian yang biasa di kenal dengan Perjanjian Penyelesaian Hutang (PPH) dapat dilakukan kepada debitur yang mengalami kesulitan dalam memenuhi kewajiban, namun masih memiliki prospek usaha dan dinilai koorperatif dan beritikat baik.

Profitabilitas menunjukkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba melalui semua

kemampuan dan sumber yang ada.

Profitabilitas mencerminkan kemampuan bank dalam menghasilkan laba secara efektif dan efisien. Penilaian tingkat profitabilitas perusahaan perbankan dengan kinerja keuangan sebagai berikut: return on equity, return on asset, net profit margin, dan rasio biaya operasional. Pada penelitian ini, penulis menghitung tingkat profitabilitas dengan menggunakan rasio return on asset.

Salah satu rasio untuk mengukur profitabilitas adalah Return On Asset (ROA) yang merupakan rasio untuk mengukur kemampuan bank dengan keseluruhan dana yang ditanamkan dalam aktiva yang digunakan untuk operasi bank dalam menghasilkan keuntungan sehingga dari rasio tersebut dapat diketahui tingkat efisiensi penggunaan dana dalam kegiatan operasional bank. Semakin tinggi ROA, berarti perusahaan semakin mampu mendayagunakan aset dengan baik untuk memperoleh keuntungan.

Berdasarkan masalah pokok yang telah dikemukakan di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi restrukturisasi kredit (R3), non performing loan (NPL), dan recovery hapus buku kredit pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, untuk mengetahui kondisi Return On Asset (ROA) pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan untuk mengetahui pengaruh Restrukturisasi Kredit, Non Performing Loan (NPL) dan Recovery Hapus Buku Kredit terhadap Return On Asset (ROA) pada PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk TINJAUAN LITERATUR

Perbankan sebagai lembaga intermediary mempunyai dua misi atau kepentingan yang seharusnya dapat berjalan harmonis. Disatu sisi perbankan mempunyai peranan strategis dalam pelaksanaan pembangunan dimana dari segi perkreditan melakukan pembiayaan proyek-proyek pembangunan maupun membantu permodalan para pengusaha disamping sebagai mitra pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Disisi lainnya fungsi agen pembangunan (agent of development) harus seiring dengan tujuan komersial yaitu memperoleh keuntungan operasional yang dikenal dengan profitabilitas (IBI, 2018).

Menurut Ikatan Bankir Indonesia (IBI, 2018) untuk memperoleh profitabilitas yang

(3)

optimal bank harus menyalurkan dana yang diperolehnya melalui kredit pada sektor-sektor yang layak dibiayai (feasible). Peningkatan pinjaman ini harus didasarkan pada prinsip sehat dan mempunyai kemampuan membayar kembali baik bunga maupun pokok pinjaman.

Selain mempertimbangkan feasibilitas permohonan kredit perbankan harus mencermati iklim ekonomi makro dan mewaspadai setiap kemungkinan akan perubahan kebijakan pemerintah. Kebijakan pemerintah di sektor moneter seperti tight money policy secara makro dapat memberikan implikasi negatif terhadap eksistensi bisnis.

Kasmir (2014) menyatakan bahwa dalam bahasa latin kredit disebut “credere” yang artinya percaya. Maksudnya, pemberi kredit percaya kepada penerima kredit, bahwa kredit yang disalurkannya pasti akan dikembalikan sesuai perjanjian. Sedangkan bagi penerima kredit berarti menerima kepercayaan, sehingga mempunyai kewajiban untuk membayar kembali pinjaman tersebut sesuai dengan jangka waktunya. Oleh karena itu, untuk meyakinkan bank bahwa nasabah benar-benar dapat dipercaya, maka sebelum kredit diberikan terlebih dahulu bank mengadakan analisis kredit. Analisis kredit mencakup latar belakang nasabah atau perusahaan prospek usahanya, jaminan yang diberikan serta faktor-faktor lainnya. Tujuan analisis ini adalah agar bank yakin bahwa kredit yang diberikan benar-benar aman.

Pengertian kredit menurut Undang- Undang RI No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang No. 10 Tahun 1998 adalah Penyediaan uang atau tagihan yang dapat dipersamakan dengan itu, berdasarkan persetujuan atau kesepakatan pinjam meminjam antara bank dengan pihak lain yang mewajibkan pihak peminjam melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu dengan jumlah bunga, imbalan atau pembagian hasil keuntungan.

Hasibuan (2017) menjelaskan bahwa kebijaksanaan perkreditan bank harus diprogram dengan baik dan benar. Program perkreditan harus didasarkan pada asas yuridis, ekonomis, dan kehati-hatian. Yuridis artinya program perkreditan harus sesuai dengan undang-undang perbankan dan ketetapan Bank Indonesia. Ekonomis artinya menetapkan rentabilitas yang ingin dicapai dan tingkat bunga kredit yang disalurkan. Kehati-hatian

artinya besar plafond kredit (legal lending limit

= BMPK) harus ditetapkan atas hasil analisis yang baik dan objektif berdasarkan asas 5C, 7P, dan 3R dari setiap calon peminjam

Prinsip 7P dalam pemberian kredit (Kasmir, 2014)

1. Personality (kepribadian), adalah sifat dan perilaku yang dimiliki calon debitur yang mengajukan permohonan kredit bersangkutan, dipergunakan sebagai dasar pertimbangan kredit.

2. Party adalah mengklasifikasikan nasabah ke dalam klasifikasi-klasifikasi atau golongan- golongan tertentu berdasarkan modal, karakter, dan loyalitasnya, di mana setiap klasifikasi nasabah akan mendapatkan fasilitas yang berbeda dari bank.

3. Purpose (tujuan), adalah tujuan dan penggunaan kredit oleh calon debitur apakah untuk kegiatan konsumtif atau sebagian modal kerja. Tujuan kredit ini menjadi hal yang menentukan apakah permohonan calon debitur disetujui atau ditolak.

4. Prospect adalah prospek perusahaan di masa datang, apakah akan menguntungkan (baik) atau merugikan (jelek). Jika prospek terlihat baik maka kredit dapat diberikan, sebaliknya jika jelek maka kredit ditolak.

5. Payment (pembayaran), adalah mengetahui bagaimana pembayaran kembali kredit yang diberikan.

6. Profitability adalah untuk menganalisis bagaimana kemampuan nasabah mendapatkan laba.

7. Protection bertujuan agar usaha dan jaminan mendapatkan perlindungan. Perlindungan dapat berupa jaminan barang, jaminan orang, atau jaminan asuransi.

Prinsip 3R dalam pemberian kredit (Hasibuan, 2014)

1. Returns adalah penilaian atas hasil yang akan dicapai perusahaan calon debitur setelah memperoleh kredit. Apabila hasil yang diperoleh cukup untuk membayar pinjamannya dan sekaligus membantu perkembangan usaha calon debitur bersangkutan maka kredit diberikan. Akan tetapi jika sebaliknya maka kredit jangan diberikan.

2. Repayment adalah memperhitungkan kemampuan, jadwal, dan jangka waktu pembayaran kredit oleh calon debitur.

3. Risk bearing ability adalah memperhitungkan besarnya kemampuan

(4)

perusahaan calon debitur untuk menghadapi resiko, apakah perusahaan calon debitur risikonya besar atau kecil. Kemampuan perusahaan menghadapi resiko ditentukan oleh besarnya modal dan strukturnya, jenis bidang usaha, dan manajemen perusahaan bersangkutan. Jika risk bearing ability perusahaan besar maka kredit tidak diberikan, tetapi apabila risk bearing ability perusahaan kecil maka kredit diberikan.

Hariyani (2015) menyatakan bahwa yang dimaksud dengan kredit bermasalah ialah kredit yang tergolong kredit kurang lancar, diragukan, dan kredit macet. Istilah kredit bermasalah telah digunakan Perbankan Indonesia sebagai terjemahan problem loan yang merupakan istilah yang sudah lazim digunakan di dunia internasional. Istilah lain yang biasa dipakai bagi istilah kredit bermasalah adalah non- performing loan. Berdasarkan pendapat ini dapat disimpulkan bahwa kredit macet adalah bagian dari kredit bermasalah. Tingkat kesehatan bank salah satunya diukur dari tingkat rasio kredit bermasalah NPL atau biasa dikenal dengan rasio NPL.

Kolektibilitas kredit menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 7/2/PBI/2005 Tanggal 20 Januari 2005.

Tabel 2. Penetapan Kolektibiliti Berdasarkan Pembayaran Pokok Dan Bunga Kolektibiliti

Ketepatan

pembayaran pokok dan bunga

Lancar Pembayaran tepat

waktu, perkembangan rekening baik dan tidak ada tunggakan serta

sesuai dengan

persyaratan kredit.

Dalam Perhatian Khusus

Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga sampai dengan 90 hari

Kurang Lancar Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 90 hari sampai dengan 120 hari.

Diragukan Terdapat tunggakan pembayaran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 120 hari sampai dengan 180 hari.

Macet Terdapat tunggakan

pembayaran pokok dan atau bunga yang telah melampaui 180 hari.

Sumber : Peraturan Bank Indonesia (PBI) No.

7/2/PBI/2005 Tanggal 20 Januari 2005

Hariyani (2014) menjelaskan tentang Rasio NPL atau rasio kredit bermasalah. Rasio ini menunjukkan bahwa kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini, maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah kredit bermasalah semakin besar maka kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar. Kredit dalam hal ini adalah kredit yang diberikan kepada pihak ketiga, tidak termasuk kredit kepada bank lain.

Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan, dan macet.

Rasio NPL ini dapat dirumuskan sebagai berikut (sesuai SE BI No. 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001).

Total Kredit Bermasalah

NPL = --- X 100%

Total Kredit

Menurut IBI (2018), kondisi eksternal dan internal (dari sisi debitur dan sisi bank) dapat mempengaruhi kelancaran kewajiban debitur kepada bank. Kondisi eksternal antara lain: perubahan kondisi ekonomi dan kebijakan/peraturan yang mempengaruhi usaha debitur; tingkat persaingan yang tinggi, perubahan teknologi dan perubahan preferensi pelanggan sehingga mengganggu prospek usaha debitur; faktor risiko geografis terkait bencana alam. Sedangkan terkait kondisi internal yang menyebabkan kredit menjadi bermasalah (NPL) dapat dilihat dari sisi debitur dan sisi bank yaitu: 1) internal debitur yang terdiri dari sikap kooperatif dan itikad baik debitur, kredit tidak digunakan untuk tujuan yang seharusnya sesuai yang diperjanjikan, strategi usaha tidak tepat, konflik internal debitur yang berpengaruh terhadap aktivitas bisnis debitur; 2) internal bank yang terdiri dari analisa kredit dan penilaian risiko yang kurang memadai antara lain terjadi over/under financing, pemantauan terhadap fasilitas kredit kurang memadai, adanya fraud yang dilakukan oleh oknum karyawan bank terkait penyaluran kredit, penguasaan agunan yang lemah baik dari objek atau pengikatan.

(5)

Kasmir (2014) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan informasi mengenai itikad baik (willingness to pay) dan kemampuan membayar (ability to pay) dapat digunakan konsep 5C, sebagai suatu variabel yang menjadi faktor-faktor yang mempengaruhi kredit macet dari pemberian kredit kepada debitur. Konsep 5C terdiri dari:

1. Character, kemauan atau itikad baik debitur untuk menggunakan kredit sesuai dengan tujuan, melunasi kewajibannya serta mematuhi syarat yang ditentukan.

2. Capacity, kemampuan debitur untuk melunasi kewajibannya disamping kemampuan dan pengalaman dalam mengelola bisnisnya.

3. Capital, modal yang dimiliki debitur untuk menjalankan usahanya dan indikasi daya tahan usaha dalam menghadapi siklus atau fluktuasi ekonomi.

4. Condition, kondisi saat ini dan masa mendatang memungkinkan usaha dapat berkembang. Kondisi eksternal dinilai sebagai faktor yang dapat mempengaruhi usaha pemohon baik secara positif maupun negatif antara lain meliputi kondisi ekonomi, politik, hukum, sosial maupun budaya dan lain-lain.

5. Collateral, jaminan yang dikuasai bank dan memungkinkan untuk dicairkan bila debitur tidak dapat memenuhi kewajibannya. han dari lingkungan eksternal suatu entitas yaitu politik, ekonomi, sosial kultural, teknologi, hukum, regulasi, dan lingkungan hidup.

Menurut SK Direksi BI No. 31/147/KEP/

DIR tanggal 12 November 1998 Penilaian terhadap kolektibilitas kredit dilakukan berdasarkan tiga hal, yaitu prospek usaha, kondisi keuangan, dan kemampuan pembayaran.

Menurut IBI (2018), penyelamatan kredit bermasalah adalah serangkaian tindakan yang dilakukan bank terhadap debitur bermasalah untuk memperbaiki kinerja usaha debitur dan kualitas kreditnya yang didasarkan atas hasil analisis bank debitur masih mempunyai prospek, memiliki itikad baik dan mampu membayar kewajibannya kepada bank.

Upaya yang dilakukan bank dalam penyelamatan kredit bermasalah antara lain : 1. Rescheduling, reconditioning dan

restructuring (R3). Rescheduling adalah perubahan syarat kredit terkait jadwal pembayaran jangka waktu kredit/grace

periode terkait pelunasan pokok, bunga, denda dan biaya dengan syarat debitur masih memiliki prospek usaha, debitur memiliki itikad baik untuk membayar kewajiban dan agunan yang dikuasai cukup mencover. Reconditioning adalah perubahan syarat kredit yang tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, jangka waktu, tingkat suku bunga, penundaan pembayaran bunga dan persyaratan lainnya, namun tidak termasuk penambahan dana/injeksi dan konversi menjadi equity. Restructuring adalah perubahan syarat kredit yang terkait penambahan dana bank, konversi tunggakan bunga menjadi pokok atau equity bank

2. Manajemen asistency, yaitu bantuan konsultasi dan manajemen profesional yang diberikan bank pada nasabah yang masih mampu dan jika tidak berhasil dilanjutkan dengan penyelesaian kredit.

3. Debt to Equity Swap, yaitu kesepakatan untuk mengkonversi utang menjadi equity dengan penyertaan modal sementara dalam rangka penyelamatan kredit dalam bentuk penyertaan modal oleh bank pada perusahaan debitur dengan kriteria debitur

masih prospek, manajemen

koperatif/terbuka dan beritikat baik.

4. Perjanjian Penyelesaian Hutang (PPH) yaitu penyelesaian tunggakan kewajiban (Bunga, denda dan biaya) dengan cara mengansur yang didudukkan dalam akta perjanjian penyelesaian hutang dengan kriterian debitur masih memiliki prospek, manajemen koperatif dan beritikat baik

Profitabilitas mengukur tingkat pengembalian investasi yang telah dilakukan oleh perusahaan, baik dengan menggunakan dana yang bersumber dari pemilik maupun dari aktiva yang dimiliki perusahaan. Return On Asset (ROA) adalah salah satu rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan manajemen bank dalam memperoleh keuntungan (laba) secara keseluruhan. Rasio profitabilitas ini sekaligus menggambarkan efisiensi kinerja bank yang bersangkutan.

Return On Asset (ROA) sangat penting, karena rasio ini mengutamakan nilai profitabilitas suatu bank yang diukur dengan asset produktif yang dananya sebagian besar berasal dari Dana Pihak Ketiga (DPK). Semakin besar Return On Asset (ROA) suatu bank maka semakin besar pula tingkat keuntungan yang dicapai bank

(6)

tersebut dari segi penggunaan asset Menurut Surat Edaran BI No 3/30/DPNP tanggal 14 Desember 2001, rasio ROA dapat diukur dengan perbandingan antara laba sebelum pajak terhadap terhadap total asset (total aktiva) semakin besar ROA akan menunjukan kinerja keuangan yang semakin baik, karena tingkat pengembalian (return) semakin besar.

Perhitungan return on asset berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No. 6/23/DPNP tanggal 31 Mei 2004 adalah sebagai berikut :

Laba Sebelum Pajak

ROA = --- X 100%

Total Asset

Gambar 2. Model Penelitian

Sumber: Agussalim (2020)

Berdasarkan rumusan masalah dan uraian-uraian yang telah dikemukakan, maka hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini ialah:

1. Adanya pengaruh secara simultan Restrukturisasi Kredit (R3), Non Performing Loan (NPL) dan Recovery Hapus Buku terhadap Return On Asset (ROA) pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

2. Adanya pengaruh secara parsial Restrukturisasi Kredit (R3), Non Performing Loan (NPL) dan Recovery Hapus Buku kredit terhadap Return On Asset (ROA) pada PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian adalah suatu kegiatan yang menggunakan metode yang sistematis untuk memperoleh data yang meliputi pengumpulan data dan analisis data. Jenis penelitian yang digunakan dalam penellitian ini adalah kuantitatif desktriptif, yaitu dengan cara

mendeskripsikan atau menggambarkan data yang terkumpul dengan mengambil data dokumentasi (data sekunder) yang ada di PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk berupa laporan keuangan auditeed yang telah dipublikasikan melalui website www.bni.co.id Dalam penelitian ini terdapat dua variable penelitian yaitu: 1) Variabel independen merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab timbulnya variabel dependen (terikat). Dalam penelitian ini varibel independen adalah restrukturisasi kredit, NonPerforming Loan (NPL) dan Recovery Hapus Buku Kredit; 2) Variabel dependen merupakan varibel yang menjadi akibat karena adanya varibel bebas. Dalam penelitian ini varibel dependen adalah Return on Aset (ROA).

Tabel 3. Definisi Operasional

Dalam penelitian ini metode analisis yang digunakan untuk mengetahui pengaruh Restrukturisasi Kredit, NonPerforming Loan (NPL) dan Recovery Hapus Buku Kredit terhadap Return On Aset, yaitu dengan menggunakan analisis regresi linier berganda (multiple regression), uji asumsi klasik (multikolinieritas, heteroskedastisitas dan autokorelasi) dan pengujian hipotesis (uji F dan uji t). Model regresi berganda (multiple regression), dengan persamaan sebagai berikut:

Y =  + 1X1 + 2X2 + 3X3+i

Rumusan Variabel Penelitian

Variabel Konsep Variabel Indikator Skala

Variabel Independen Restrukturisasi Kredit (R3) = X2

Rescheduling: Penjadwalan Ulang fasilitas kredit termasuk penambahan grace periode.

Reconditioning : perubahan syarat kredit tidak terbatas pada perubahan jadwal pembayaran, tingkat bunga, penundaan pembayaran, dll Restructuring : Perubahan syarat-syarat kredit termasuk penambahan kredit.

1 Rescheduling 2.Reconditioning 3.Restrukturing

Ratio

Variabel Independen Non Performing Loan (NPL) = X1

Non Performing Loan (NPL) merupakan kredit yang pembayaran kewajiban pokok dan bunga telah lewat 90 hari atau lebih setelah jatuh tempo atau kredit yang pembayarannya secara tepat waktu sangat diragukan.

Non Performing Loan terdiri atas kredit yang digolongkan sebagai kredit kurang lancar (Gol.3), diragukan (Gol.4) dan Macet (Gol.5).

Sumber : PSAK No.31 ttg Akuntansi Perbankan (revisi 2000)

Kredit Kurang Lancar Kredit Diragukan Kredit Macet

Ratio

Variabel Independen Recovery Hapus Buku Kredit = X3

Recovery Hapus Buku Kredit Recovery Hapus Buku Kredit terhadap Hapus Buku Kredit yang merupakan pendapatan recovery/other income dalam laporan Laba Rugi

1 Hapus Buku Kredit 2.Recovery Hapus Buku 3.Ratio Recovery HB terhadap Hapus Buku Kredit

Ratio

Variabel Dependen Return On Asset (ROA) = Y

Return On Asset (ROA) merupakan salah satu ratio profitabilitas yang mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba dari aktiva yang digunakan.

Return on Asset adalah perbandingan antara pendapatan bersih (net income) dengan rata2 aktiva (everage asset) atau perbandingan antara laba sebelum pajak terhadap total asset (Zainal Abidin (2003 : 64)

1 Laba sebelum pajak 2 Total Aktiva Laba sblm pajak ROA = --- x 100%

Total Aktiva

Ratio

(7)

Dimana:

Variabel X1 = Rasio Restrukturisasi Kredit Variabel X2 = Rasio NonPerforming Loan Variabel X3 = Rasio Recovery Hapus Buku

i = Paramater konstanta

 = Kesalahan random

HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Restrukturisasi Kredit terhadap ROA Restrukturisasi kredit adalah upaya perbaikan yang dilakukan BNI dalam kegiatan perkreditan terhadap debitur yang mengalami kesulitan dalam pemenuhan kewajiban, namun debitur masih mempunyai etikat baik dan prospek usaha dalam bentuk rescheduling, reconditioning dan restructuring. Ratio kredit yang dilakukan restrukturisasi terhadap Return On Aset oleh PT. BNI (Persero) Tbk periode 2010 s/d 2018 sebagaiman grafik sbb :

2. Non Performing Loan (NPL terhadap ROA Non Performing Loan adalah ratio kredit bermasalah yang terdiri dari kredit kurang lancar (call 3), kredit diragukan (call 4) dan kredit macet (call 5) terhadap Retrun On Aset (ROA) PT. BNI (Persero) Tbk selama periode tahun 2010 s/d tahun 2018 adalah sbb :

3. Recovery Hapus Buku Kredit terhadap ROA Recovery hapus buku kredit adalah besarnya recoverry/setoran penyelesaian kredit yang telah dihapus buku terhadap kredit yang di hapus buku yang diakui sebagai pendapatan lainnya (Other Income) dalam laporan Rugi/Laba pada PT. BNI (Persero) Tbk periode tahun 2010 s/d tahun 2018 sebagai berikut:

Berdasarkan hasil analisis regresi berganda (multiple regression) dengan menggunakan SPSS versi 25 menunjukkan adanya hubungan dan variasi arah hubungan antara variabel bebas dengan variabel independen. Pengaruh dan arah hubungan tersebut dapat ditunjukkan pada tabel berikut ini:

(8)

Tabel 4. Pengaruh dan Arah Hubungan antar Variabel

Variabel bebas

Koefisi en regresi

Arah Pengaruh

Uji teori terhadap variabel bebas (Constant) 3.906

X1 Rasio NPL

-.134 Negatif Berpengaruh X2 Rasio

R3

-.136 Negatif Berpengaruh X3

Recovery HB

.001 Positif Berpengaruh

R2 (Determina si)

- 0.788 Berpengaruh

Sumber: Data diolah (2020)

Berdasarkan hasil analisis regresi pada tabel tersebut diatas menunjukkan bahwa variabel NonPerforming Loan (NPL) dan Restrukturisasi Kredit (R3) berpengaruh negatif terhadap ROA, sedangkan Recovery HB Kredit menunjukkan pengaruh positif terhadap ROA. Dari hasil analisis tersebut maka disusun persamaan regresi:

Y = 3.906 – 0.134X1 – 0.136X2 + 0.001X3

Dari hasil persamaan regresi tersebut dapat diinterpretasikan sebagai berikut:

1. Nilai koefisien regresi NonPerforming Loan (NPL) (X1) = -0.134, mengandung tanda (-) yang berarti bahwa jika dua variabel lainnya tidak berubah, maka perubahan variabel risiko kredit (X1) 1 satuan memberikan pengaruh yang berlawanan sebesar 0.134 terhadap ROA.

2. Nilai koefisien regresi Restrukturisasi Kredit (X2) = -0.136, mengandung tanda (-) yang berarti bahwa jika dua variabel lainnya tidak berubah, maka perubahan variabel risiko kepatuhan (X2) 1 satuan memberikan pengaruh yang berlawanan sebesar 0.136 terhadap ROA.

3. Nilai koefisien regresi Recovery Hapus Buku Kredit (X3) = +0.001, mengandung tanda (+) yang berarti bahwa jika dua variabel lainnya tidak berubah, maka perubahan variabel risiko pasar (X3) 1 satuan memberikan pengaruh yang searah sebesar 0.001 terhadap ROA.

4. Nilai koefisien Determinsi (R2) sebesar 0.788 artinya varibel dependen ROA dipengaruhi 78,80% oleh variabel independen NPL, Restrukturisasi Kredit dan Recovery Hapus Buku Kredit sisanya

sebesar 21,20% dipengaruhi oleh faktor lainnya. Dari grafik tersebut dapat terlihat bahwa dari tahun ke tahun trend LDR PT.

Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk semakin meningkat sehingga berpengaruh positif pada peningkatan profitabilitas (ROA).

Tabel 5. Hasil Uji Hipotesis

1. Pengujian hipotesis pertama (secara bersama-sama)

Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa F-

hitung sebesar 6.200 sedangkan nilai F-tabel

pada  = 0.05 dan df = 3 adalah sebesar 5.409 sehingga F-hitung lebih besar dari pada F-tabel (6.200 > 5.409). Sehingga Ho ditolak dan menerima Ha yang berarti bahwa rasio NPL, rasio Restrukturisasi kredit dan Recovery HB kredit secara bersama-sama berpengaruh tidak signifikan terhadap ROA pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

2. Pengujian hipotesis kedua (secara parsial) Berdasarkan tabel 5 menunjukkan bahwa t-

hitung lebih kecil dari nilai t-tabel sehingga Ho ditolak dan menerima Ha yang berarti rasio NPL dan recocery HB kredit secara parsil berpengaruh tidak signifikan terhadap profitabilitas (ROA) pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, sedangkan rasio Restrukturisasi Kredit secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (ROA) pada PT. BNI (Persero) Tbk.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab

Variabel

Independen Kesimpulan

F-hitung F-tabel t-hitung t-tabel Sig.

Pengujian bersama- sama

6.200 5.409 - - 0.39 Fhitung > Ftabel Ho ditolak Ha diterima.

Berpengaruh tidak signifikansi (Sig.0.39 > 0.05) Pengujian secara parsial

Rasio NPL (X1)

Rasio Restrukturisasi (X2)

Recovery HB (X3)

-0.983

-2.970

0.138 2.262

2.262

2.262 0.371

0.031

0.895

-2.262 < -0.983 <

2.262

Berpengaruh tdk signifikan -2.262 > -2.970 <

2.262 ➔ Tidak Berpengaruh signifikan -2.262 < 0.138

<2.262 Berpengaruh tdk signifikan Sumber : Data diolah

(9)

sebelumnya, maka selanjutnya dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:

1. Berdasarkan uji asumsi klasik, pengaruh nonperforming loan (NPL), restrukturisasi kredit (R3) dan recovery hapus buku kredit (HB) tidak terdapat gejala autokorelasi, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas.

2. Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel rasio NPL, dan rasio Restrukturisasi Kredit berpengaruh negatif terhadap ROA, sedangkan recovery Hapus Buku Kredit menunjukkan pengaruh positif terhadap ROA. Pengaruh negatif berturut-turut adalah variabel rasio NPL sebesar (-0.134) dan rasio Restrukturisasi Kredit sebesar (- 0.136), sedangkan variable recovery HB Kredit sebesar (0.001)

3. Varibel rasio NonPerforming Loan (NPL), rasio Restrukturisasi Kredit (R3) dan recovery Hapus Buku Kredit (HB) secara bersama-sama (simultan) berpengaruh terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

4. Rasio NPL dan recovery Hapus Buku Kredit (HB) secara parsial berpengaruh tidak signifikan terhadap Profitabilitas yang diwakili oleh ROA, sedangkan rasio Restrukturisasi Kredit (R3) secara parsial tidak berpengaruh signifikan terhadap Profitabilitas (ROA) pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

Berdasarkan pembahasan dan analisis yang telah dilakukan sebelumnya, maka berikut ini dikemukakan beberapa saran sebagai berikut:

1. Melakukan ekspansi kredit secara prudend sehingga rasio NPL menurun. Dengan begitu kredit yang disalurkan dapat menghasilkan pendapatan bunga yang maksimal sebagai kontributor terbesar terhadap laba perusahaan.

2. Melakukan upaya restrukturisasi terhadap fasilitas kredit secara selektif sesuai kriteria debitur yang mengalami kesulitan pembayaran pokok dan/ atau bunga kredit serta debitur yang masih memiliki prospek usaha yang baik dan dinilai mampu memenuhi kewajiban setelah dilakukan restrukturisasi.

3. Memaksimalkan pendapatan dari recovery atau penagihan hapus buku kredit.

4. Peneliti menyadari bahwa pada penelitian ini terdapat kekurangan dari segi metode dan variabel-variabel penelitian yang hanya

difokuskan pada 3 (tiga) variabel yaitu Rasio NPL, Rasio Restrukturisasi Kredit dan Recovery Hapus Buku Kredit pengaruhnya terhadap Profitabilitas yang diwakili oleh Return on Aset (ROA). Oleh karena itu kepada peneliti selanjutnya diharapkan dapat mengembangkan penelitian pada metode dan variabel penelitian terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

DAFTAR PUSTAKA

Hasibuan, Malayu, S.P. (2016). Dasar-Dasar Perbankan. Jakarta: Bumi Aksara.

Hariyani, Iswi. (2015). Restrukturisasi dan Penghapusan Kredit Macet. Jakarta: PT.

Alex Media Komputindo.

Hadi, Juwanda. (2017). Pengaruh Non Performing Loan (NPL) Terhadap Return On Asset (ROA) pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Periode 2011-2015.

Jurnal E-Bis Vol.1

Ikatan Bankir Indonesia (IBI). Cetakan Kedua 2018. Bisnis Kredit Perbankan. Jakarta: PT.

Gramedia Pustaka Utama.

Kasmir. (2014). Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya. Depok: PT Raja Grafindo Persada.

Suliyanto, 2018. Metode Penelitian Bisnis.

Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Sofyan, Marwansyah,. Rini, Kurniasari. (2014).

Analisis Non Performing Loan terhadap Return On Asset pada Bank Mandiri periode 2007-2012. Jurnal Moneter Vol1.

Surat Edaran Bank Indonesia No. 7/3/DDPN Tahun 2005Tentang Sistem Penilaian Ting kat Kesehatan Bank.

V, Wiratna, Sujarweni. (2019). Metodologi Penelitian Bisnis dan Ekonomi. Yogyakarta:

PT. Pustaka Baru.

Referensi

Dokumen terkait

Mitra Djamal FMIPA Detection of heavy metal compounds using surface enhanced Raman spectroscopy SERS substrate Program Staf Exchange dan Research Grant 9 Dr.. FMIPA Development of 2D