ANALISIS RESIKO KREDIT DAN RESIKO LIKUIDITAS TERHADAP NILAI KURS (STUDI KASUS PADA PT BANK NEGARA INDONESIA (PERSRO), TBK)
Akhmad Yani1, Andi Syarifuddin2, Sutardjo Tui3
1,2,3Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YPUP Makassar
1[email protected], 2[email protected], 3[email protected]
ABSTRACT
This study aims to determine the effect of the Credit Risk variable (Non Performing Loan NPL) and the Liquidity Risk Variable (Loan to Deposit LDR Ratio) to the US Dollar Exchange Rate at PT. Bank Negara (Persero) Tbk. This research is descriptive in nature, through data collection conducted by interview, documentation and literature review. Data were analyzed using Multicollinearity, Heteroscedasticity and Durbin Waston Autocorrelation analysis. The results showed that the positive and significant effect between the variables Credit Risk and Liquidity Risk on the US Dollar Exchange Rate based on the results of the simultaneous test and partial test showed that both jointly and partially all independent variables affected the dependent variable.
Keywords: credit risk, liquidty risk, US Dollar exchange rate.
PENDAHULUAN
Bank merupakan suatu lembaga yang berfungsi sebagai perantara keuangan antara pihak yang memiliki kelebihan dana dengan pihak yang kekurangan dana. Sebagai lembaga intermediasi, bank berperan penting dalam menghimpun dana dan menyalurkannya ke sektor riil dalam rangka mendorong pertumbuhan ekonomi (agent of development).
Perbankan juga berperan sebagai lembaga penyelenggara dan penyedia layanan jasa-jasa dibidang keuangan serta lalu lintas system pembayaran (agent of services). Dengan peranannya tersebut, bank telah menjadi lembaga yang turut mempengaruhi perkembangan perekonomian suatu negara.
Oleh karena itu, perbankan harus mampu mempertahankan kinerjanya agar dapat menjadi suatu industri yang sehat.
LDR (Loan to Deposit Ratio) adalah indikator lembaga penyelenggara dan penyedia layanan lembaga yang turut mempengaruhi likuiditas. Masyarakat menurun sehingga pendapatan memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. Mempertahankan kinerjanya agar dapat menjadi mendorong pertumbuhan ekonomi (agent of service), menggambarkan kemampuan bank membayar. Mengukur resiko kredit adalah NPL (Non Performing Loan). Menurut Darmawi (2011),
menyalurkannya ke sektor riil dalam rangka menyebabkan tingginya harga minyak dan oleh karena itu, perbankan harus mampu oleh bank dan modal yang tidak dapat menutupi pemberian kredit kepada kelompok atau group pengusaha turun. Turunnya pendapatan pengusaha menyebabkan turunnya kemampuan peranannya tersebut. Bank telah menjadi perbankan pada periode 2007-2011, yaitu perbandingan antara perhitungan laba sebelum pajak dibagi dengan perkembangan perekonomian suatu negara. Purwanto (2011), menyebutkan ada rasio profitabilitas.
Resiko likuiditas merupakan resiko operasional. Resiko kredit merupakan resiko yang timbul sebagai akibat dari satunya diakibatkan oleh krisis keuangan sehingga bank pun mengalami kesulitan, seperti manajemen yang kurang memadai dan sistem pembayaran (agent of services). Dengan suatu industri yang sehat terhadap resiko-resiko yang dihadapi oleh bank terjadi di Amerika Serikat. Krisis keuangan tersebut menyebabkan kinerja bank menurun. Tinggi akan meningkatkan resiko yang dihadapi tingkat kemampuan bank dalam memperoleh total aset. Sedangkan, ROE adalah perhitungan total kredit bermasalah dengan total kredit.
Lemahnya kondisi internal bank usaha sendiri telah mendorong tingginya resiko yang digunakan untuk resiko likuiditas.
Manajemen resiko adalah suatu pendekatan metodologi yang terstruktur dalam mengelola sesuatu yang berkaitan dengan sebuah ancaman karena pastian. Ancaman yang dimaksud disini adalah akibat dari aktivitas individu/manusia termasuk yang terdapat/berperan didalamnya. Aktivitas ini meliputi penilaian resiko yang mengancam, pengembangan strategi untuk menanggulangi resiko dengan pengelolaan sumber daya yang ada.
Resiko itu sendiri dibagi menjadi 2 kategori besar, yaitu: resiko murni (pure risk) adalah sesuatu yang hanya dapat berakibat merugikan atau tidak terjadi apa-apa dan tidak mungkin menguntungkan. Resiko spekulatif adalah suatu keadaan yang dihadapi oleh perusahaan/individu yang dapat memberikan keuntungan dan dapat memberikan kerugian.
Spekulatif ini adalah resiko yang ada dalam segala hal. Misalnya, dalam berbisnis, kita bisa untung dan juga bisa rugi. Resiko ini juga dapat disebut sebagai business risk.
Dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 18/POJK.03/2016 Tanggal 16 Maret 2016 tersebut, diwajibkan bagi bank untuk menerapkan manajemen resiko secara efektif, baik untuk bank secara individu maupun untuk bank secara konsolidasi dengan perusahaan anak. Adapun jenis-jenis resiko yang harus dikelola tersebut adalah resiko kredit, resiko pasar, resiko likuiditas, resiko operasional, resiko hukum, resiko reputasi, resiko stratejik, dan resiko kepatuhan.
Resiko kredit adalah resiko akibat kegagalan pihak lain dalam memenuhi kewajiban kepada bank, termasuk resiko kredit akibat kegagalan debitur, resiko konsentrasi kredit, counterparty credit risk, dan settlement risk. Salah satu parameter pengukuran yang digunakan adalah kualitas penyediaan dana yang diukur melalui rasio Non Performing Loan (NPL) yaitu rasio antara seluruh kredit yang memiliki kualitas dalam perhatian khusus, kurang lancar, diragukan, dan macet dengan total kredit yang disalurkan.
Resiko Pasar; adalah resiko pada posisi neraca dan rekening indicatorive, termasuk transaksi indicator, akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar, termasuk Resiko perubahan harga option. Salah satu parameter yang digunakan adalah rasio antara total kerugian (net) dari surat berharga dengan EAT.
Berdasarkan pada uraian-uraian dalam latar belakang di atas, maka masalah pokok yang diidentifikasi dalam penelitian ini adalah 1) Apakah resiko kredit berpengaruh terhadap Nilai Kurs pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang diproyeksikan dengan Nilai Kurs. 2) Apakah resiko Likuiditas berpengaruh terhadap Nilai Kurs pada PT.
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang diproyeksikan dengan Nilai Kurs. 3) Resiko manakah yang sangat siginifikan berpengaruh terhadap Nilai Kurs pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang diproyeksikan dengan Nilai Kurs.
Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk; 1) Mengetahui seberapa besar pengaruh tingkat resiko kredit dan resiko likuiditas terhadap Nilai Kurs pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. 2) Untuk mengetahui / mengkaji resiko mana saja yang sangat siginifikan berpengaruh terhadap Nilai Kurs pada PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
TINJAUAN LITERATUR
Setiap bisnis yang berorientasi profit mutlak berhadapan dengan resiko, termasuk bank. Resiko tersebut dapat timbul dari pengaruh makro ekonomi seperti inflasi ataupun resesi, kegagalan teknologi, wanprestasi suplier, campur tangan politik, atau bahkan bencana alam. Berikut beberapa definisi resiko; 1) Resiko didefinisikan sebagai ketidak pastian dari hasil suatu tindakan atau kejadian, baik itu peluang yang bersifat positif ataupun ancaman negatif (Treasury, 2004). 2) Menurut Peraturan Bank Indonesia (PBI) Nomor 11/25/2009 tanggal 01 Juli 2009, resiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa (events) tertentu.
Dalam buku Management of Risk – Principle and Concept (Treasury, 2004), sumber resiko dikategorikan menjadi 3 (tiga) besaran yaitu 1) Eksternal: Sumber resiko berasal dari faktor-faktor eksternal yang pada umumnya adalah perubahan-perubahan dari lingkungan eksternal suatu entitas yaitu politik, ekonomi, sosial kultural, teknologi, hukum, regulasi, dan lingkungan hidup. 2) Operasional: Resiko yang berkaitan dengan operasional suatu entitas baik itu dalam hal delivery maupun dalam hal pemeliharaan kapasitas dan kapabilitas entitas tersebut antara lain kegagalan produk/jasa, wanprestasi
proyek, dan kegagalan sumber daya entitas (SDM, keuangan, & asset). 3) Perubahan:
Resiko ini terkait dengan keputusan stratejik yang dibuat oleh entitas diluar dari kapabilitas entitas itu sendiri antara lain perubahan budaya entitas (entity culture), pengerjaan proyek tanpa didukung kapabilitas memadai, dan perubahan dalam kebijakan entitas.
Salah satu rasio keuangan yang dapat digunakan untuk mengukur resiko kredit adalah Non Performing Loan (NPL), rasio ini mengukur kemampuan bank dalam meminimalkan kredit bermasalah yang dihadapi (Puspitasari, 2009). NPL yang tinggi mengindikasikan bahwa pengelolaan kredit pada bank tidak optimal yang mengakibatkan resiko kredit yang dialami oleh bank tersebut akan menjadi tinggi. Kolapo et al. (2012) menyatakan bahwa diantara resiko-resiko yang dihadapi oleh bank, resiko kredit memainkan peran yang sangat penting terhadap profitabilitas pada bank, karena kerugian terbesar dari pendapatan bank datang dari pinjaman dari mana bunga itu diturunkan.
Kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) merupakan rasio keuangan yang menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola kredit bermasalah yang diberikan oleh bank, sehingga makin tinggi NPL akan semakin buruk kualitas kredit bank.
Hal ini sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor 15/POJK.03/2017 tanggal 04 April 2017 tentang Penetapan Status dan Tindak Lanjut Pengawasan Bank Umum, dimana bank dinilai memiliki potensi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usaha apabila rasio kredit bermasalah secara neto (Non Performing Loan/NPL net) lebih dari 5%
(lima persen) dari total kredit.
Dendawijaya (2005) menyatakan kredit bermasalah (Non Performing Loan) adalah kredit yang pengembalian pokok pinjaman dan pembayaran bunganya telah mengalami penundaan lebih dari 1 (satu) tahun sejak jatuh tempo menurut jadwal yang telah diperjanjikan. Kredit bermasalah adalah kredit dengan kualitas kurang lancar, diragukan dan macet. Standar yang ditetapkan oleh Bank Indonesia adalah kurang dari 5%, dengan rasio dibawah 5% maka Penyisihan Penghapusan Aktiva Produktif (PPAP) yang harus disediakan bank guna menutup kerugian yang ditimbulkan oleh aktiva produktif non lancar (dalam hal ini kredit bermasalah) menjadi kecil. Apabila jumlah NPL ini besar melebihi
5%, maka besar kemungkinan profitabilitas yang akan diterima bank akan makin kecil, karena tidak terbayarnya kredit berdampak pada menurunnya pendapatan bunga yang merupakan pendapatan utama bank (Purwoko dan Sudiyatno, 2013). Laba akan terkena imbas karena praktis laba bank akan merosot karena bank kehilangan sumber pendapatan dan harus menyisihkan pencadangan sesuai kolektibilitas kredit.
Tidak hanya dari rasio NPL. Resiko kredit juga dapat timbul dari beberapa resiko turunan lainnya Resiko Konsentrasi (concentration risk). Apabila bank dalam penyaluran kreditnya terkonsentrasi pada hanya beberapa debitur besar dengan masing- masing portofolio kredit debitur tersebut nilainya signifikan apabila dibandingkan dengan total portofolio penyaluran kredit bank (Martin, 2010).
Likuid merujuk pada jumlah kas yang dipegang atau aset non-kas yang dapat dengan cepat diubah menjadi kas. Likuiditas bank artinya kapasitas untuk mendanai pertumbuhan aset bank, sekaligus memenuhi kewajiban tunainya pada biaya yang wajar tanpa menimbulkan kerugian yang tidak dapat diterima (Kumar, 2013). Likuiditas adalah kemampuan bank untuk mendanai peningkatan aset dan memenuhi kewajibannya tanpa menimbulkan kerugian (Bank for International Settlement, 2008).
Resiko Likuiditas adalah Resiko akibat ketidakmampuan Bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan/atau aset likuid berkualitas tinggi yang dapat diagunkan, tanpa mengganggu aktivitas dan kondisi keuangan Bank.
Menurut Rimsky (2005), Likuiditas bank merupakan kemampuan bank untuk membayar kembali seluruh kewajiban lancarnya dilakukan dengan cara menghitung rasio-rasio likuiditas bank. Kewajiban lancar bank terhadap nasabahnya yang segera harus dibayar memiliki keanekaragaman seperti : giro, tabungan, simpanan berjangka, rekening koran bank-bank lain, wesel yang dapat dibayar, pasiva valas, dan lain-lainnya.
Demikian juga posisi harta lancar bank-bank terdiri dari berbagai pos seperti : uang kas, saldo/giro pada Bank Indonesia, saldo/giro pada bank lain, wesel yang dapat ditagih, surat-surat berharga, simpanan berjangka pada bank lain, pinjaman-pinjaman yang diberikan
dalam bentuk kredit, aktiva valas likuid, dan lain-lainnya.
Oleh karena itu, secara umum untuk mengukur resiko likuiditas bank adalah dengan menggunakan Loan to Deposit Ratio (LDR), yaitu rasio antara besarnya seluruh volume kredit yang disalurkan oleh bank dan jumlah penerimaan dana dari berbagai sumber (dana pihak ketiga/DPK). Pengertian lainnya LDR adalah rasio keuangan perusahaan perbankan yang berhubungan dengan aspek likuiditas.
Berdasarkan pada permasalahan dan tinjauan literatur yang telah dikemukakan sebelumnya maka diajukan hipotesis sebagai berikut:
H1 : Rasio NPL berpengaruh positif terhadap Kurs
H2 : LDR berpengaruh positif terhadap Kurs
Adapun Model penelitian dalam penelitian ini dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Model Penelitian
METODE PENELITIAN
Dalam pelaksanaannya dilakukan dalam bentuk penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif untuk memperoleh informasi tentang faktor-faktor yang berpengaruh terhadap nilai Kurs perbankan yang menggunakan data historis berupa laporan keuangan publikasi PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk periode 2011 sampai dengan periode 2018.
Penelitian ini sepenuhnya menggunakan data sekunder. Data sekunder berupa laporan keuangan publikasi perbankan PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang diperoleh dari website Otoritas Jasa Keuangan (www.ojk.go.id) dan website BNI (www.bni.co.id).
Dalam penelitian ini digunakan analisis data pendahuluan yaitu analisis rasio profitabilitas yang diwakili oleh rasio Return
On Assets dan rasio-rasio tertentu yang mewakili resiko yang dihadapi perbankan.
Untuk melakukan pengujian hipotesis penelitian yang telah diajukan sebelumnya digunakan model regresi berganda (multiple regression), dengan persamaan sebagai berikut :
Y = + 1X1 + 2X2+i Dimana :
Variabel X1 = Resiko Kredit Variabel X2 = Resiko Likuiditas Variabel Y = Nilai Kurs
i = Paramater konstanta
= Kesalahan random
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil perhitungan tingkat resiko PT.
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk dibandingkan dengan Kurs (Dollar Amerika Kurs Jual) berdasarkan data Laporan Keuangan Publikasi yang disadur dari website Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan website PT.
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk selama periode 2012 sampai dengan periode 2018.
Tabel 1. Resiko Kredit
Tahun PL NPL Total
Kredit
Rasio NPL 2012
195,106 5,636 200,742 2.81%
2013
245,218 5,420 250,638 2.16%
2014
272,186 5,436 277,622 1.96%
2015
317,396 8,709 326,105 2.67%
2016
408,631 11,645 420,276 2.77%
2017
431,216 10,097 441,313 2.29%
2018
502,740 10,038 512,778 1.96%
Sumber: data primer diolah (2019).
Tabel 2. Resiko Likuiditas
Tahun Loan Deposit Rasio LDR 2012 200,742 235,336 85.30%
2013 250,638 285,465 87.80%
2014 277,622 316,198 87.80%
2015 326,105 371,418 87.80%
2016 393,275 435,039 90.40%
2017 441,314 515,554 85.60%
2018 512,778 577,453 88.80%
Sumber: data primer diolah (2019).
Tabel 3. Kurs Dollar Amerika
Tahun Nilai Kurs Jual
Kurs Tengah
Kurs Beli
Presen tase per Thn
2012 1,00 9.718 9.670 9.622 0,22
2013 1,00 12.250 12.186 12.128 26,42
2014 1,00 12.331 12.440 12.529 2,10
2015 1,00 13.680 13.795 13.880 15,87
2016 1,00 13.310 13.436 13.560 2,94
2017 1,00 13.408 13.548 13.708 0,23
2018 1,00 14.380 14.481 14.540 10,70
Sumber: data primer diolah (2019).
Tabel 4. Coefficients
Model
Unstandardized Coefficients
Standa rdized Coeffi
cients t Sig.
B
Std.
Error Beta 1 (Co
nsta nt)
-95,007 237,215 -0,401 0,7
09 KR
D
-5,597 12,615 -0,210 -0,444 0,6 80 LK
D
1,331 2,660 0,237 0,500 0,6
43
a. Dependent Variable: KURS
Diketahui nilai Sig untukX1 (Kredit) terhadap Y adalah sebesar 0.680 > 0.05 dan nilai t hitung -0.444 < t table 2.365, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak yang berarti tidak terdapat pengaruh X1(Kredit) terhadap Y.
Diketahui nilai Sig untukX2 (LKD) terhadap Y adalah sebesar 0.500 > 0.05 dan nilai t hitung 0.500 < t tabel 2.365, sehingga
dapat disimpulkan bahwa H2 diterima yang berarti terdapat pengaruh X2(LKD) terhadap YKURS.
Berdasarkan hasil pengujian regresi berganda, diketahui bahwa resiko kredit (rasio NPL) berpengaruh negatif terhadap Nilai Kurs sebesar -0,444. yang berarti bahwa jika dua variabel lainnya tidak berubah, maka perubahan variabel resiko kredit (X1KRD) 1 satuan memberikan pengaruh yang berlawanan sebesar -0.444 terhadap Kurs. Hal tersebut sejalan dengan grafik resiko kredit yang diproksikan dengan rasio NPL dibandingkan dengan Kurs sebagaimana berikut :
Gambar 1. Resiko Kredit Terhadap Kurs
Dari grafik pada gambar 1 dapat terlihat bahwa dari tahun ke tahun penyaluran kredit PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk semakin meningkat yang diiringi dengan trend rasio NPL yang semakin menurun sehingga berpengaruh pada peningkatan profitabilitas (Kurs).
Berdasarkan hasil pengujian regresi berganda, resiko likuiditas (X2LKD) berpengaruh positif terhadap Nilai Kurs, yang berarti bahwa jika variabel lainnya tidak berubah, maka perubahan variabel resiko likuiditas (X2LKD) 1 satuan memberikan pengaruh yang searah terhadap Kurs.
Gambar 2. Resiko Likuiditas Terhadap Kurs
Dari grafik tersebut diatas dapat terlihat bahwa dari tahun ke tahun trend LDR PT.
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk semakin meningkat sehingga berpengaruh positif pada peningkatan profitabilitas (ROA).
PENUTUP
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka selanjutnya dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut; 1) Berdasarkan uji asumsi klasik, pengaruh faktor-faktor resiko kredit dan resiko likuiditas terdapat gejala autokorelasi, multikolinearitas, dan heteroskedastisitas. 2) Berdasarkan hasil analisis regresi menunjukkan bahwa variabel resiko kredit, dan resiko likuiditas berpengaruh negatif terhadap Kurs, sedangkan resiko likuiditas menunjukkan pengaruh positif terhadap Kurs. 3) Faktor-faktor resiko kredit, dan resiko likuiditas secara bersama-sama (simultan) tidak berpengaruh terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Uji F menunjukkan F-hitung sebesar 0.241 sedangkan nilai F-tabel pada
= 0.05 dan df = 4 adalah sebesar 19.25 sehingga F-hitung lebih kecil dari pada F-tabel (0.241 > 19.25). Sehingga Ho ditterima dan menolak Ha yang berarti bahwa resiko kredit dan resiko likuiditas secara bersama-sama berpengaruh terhadap Kurs. 3) Faktor-faktor resiko kredit dan resiko likuiditas secara parsial berpengaruh terhadap Kurs PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.
Berdasarkan pembahasan dan analisis yang telah dilakukan sebelumnya, maka berikut ini dikemukakan beberapa saran sebagai berikut Dari 2 (dua) variabel yang diuji, 2 (dua) diantaranya berpengaruh positif terhadap Kurs yaitu resiko kredit, dan resiko likuiditas. Atas kondisi tersebut maka PT.
Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk hendaknya mengelola faktor-faktor kedua resiko tersebut dengan baik antara lain dengan : 1) Melakukan ekspansi kredit secara hati-hati sehingga rasio NPL menurun. Dengan begitu kredit yang disalurkan dapat menghasilkan pendapatan bunga yang besar sebagai kontributor terbesar terhadap laba perusahaan.
2) Menjaga level Posisi Devisa Netto (PDN) sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan sehingga resiko akibat pergerakan mata uang menjadi terkendali, dimana resikonya adalah Bank akan mengalami kerugian karena
memiliki gap (kewajiban dalam mata uang asing > aset dalam mata uang asing) apabila nilai mata uang asing menguat terhadap Rupiah. 3) Berdasarkan hasil pengujian, salah satu variabel penelitian yaitu resiko likuiditas yang diproksikan oleh rasio LDR menunjukkan pengaruh positif terhadap profitabilitas PT. Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk yang ditunjukkan oleh ROA.
Hal ini menunjukkan bahwa dana pihak ketiga (DPK) yang terkumpul dari masyarakat mampu secara optimal disalurkan dengan baik dalam bentuk asset produktif. Untuk lebih memaksimalkan produktifitas DPK, maka disarankan agar perusahaan dapat menjaga komposisi DPK dengan baik yaitu antara dana murah (tabungan & giro) dan dana mahal (deposito). Semakin besar komposisi dana murah terhadap total DPK maka biaya bunga sebagai kontributor terbesar dalam beban operasional akan semakin mengecil sehingga berdampak positif terhadap pendapatan operasional.
DAFTAR PUSTAKA
Bank Indonesia, Kodifikasi Peratiran Bank Indonesia Kelembagaan Penilaian Tingkat Kesehatan Bank , (Jakarta: Pusat Riset dan Edukasi Bank Sentral , 2012),
Bank Indonesia, PBI No. 7/2/2005, Jakarta, 20 Januari 2005
Bank Indonesia, Penerapan Manajemen Resiko bagi Bank Umum, Surat Edaran. No.
5/21/DPNP, Jakarta, 29 September 2003 Bank Indonesia. (2001). “Penerapan
Manajemen Resiko Bagi Bank Umum”
Peraturan Bank Indonesia Nomor 5/8/PBI/2003 Tanggal 19 Mei 2003.
Jakarta.
bni.co.id/beranda/berita/siaranpers/articleid/40 89/semester-i-tahun-2018-laba-bersih-bni- tumbuh-16-%(diakses 07 November 2018) Dahlan S. (2005). Jurnal Manajemen dan
Organisasi Vol I. Cipta Ilmu: Semarang Dendawijaya, L. (2000). Manajemen
Perbankan, Ghalia Indonesia, Jakarta Sugeng. Manajemen Dana & Manajemen
Resiko BUS,ppt, 20 Desember 2016 Edward, G. P. (2009). Studi Perbandingan
Pada Bank Domestik dan Bank Asing Periode …2009
Kasid, Manajemen Resiko, Ghalia Indonesia, Bogor, 2010,
Malayu S.P. Hasibuan. Dasar-Dasar Perbankan. PT Bumi Aksara. Jakarta. 2011, Masyhud, A. (2006). “Manajemen Resiko
Strategi Perbankan dan Dunia Usaha Menghadapi Tantangan Globalisasi Bisnis”. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta.
Masyhudi A. Manajemen Resiko. (Jakarta: PT.
RajaGrafindo Persada. 2006),
Nazir, M. Metode Penelitian (Jakarta: PT.
Ghalia Indonesia, 2003)
Ni Wayan Wita Capriani dan I Made Dana, Pengaruh Resiko Kredit Resiko Operasional dan Resiko Likuiditas Terhadap Profitabilitas Bpr Di Kota Denpasar. Vol. 5, No. 3, 2016.
Peraturan Bank Indonesia No. 5/8/PBI/2003 tetang Penerapan Manajemen Resiko bagi Bank Umum
Pratista, A. (2003). Aplikasi SPSS 10,05 dalam Statistik dan Rancangan Percobaan, Alfabeta, Bandung
Resikopasar.blogspot.com/2012/06/resiko- pasar.html (akses 06 November 2018) Rico Rizal Budidarmo, Direktur Treasury dan
International Banking BNI kepada Tirto.
Robert Tampubolon. Risk Manajement.
Cetakan kedua. Jakarta. PT Elex Media Komputindo. 2004.
Ronny Kountur. Manajemen Resiko Operasional. PPM, Anggota IKAPI. Jakrta.
2004.
Siswanto, S. (1997) Menanggapi Kredit Bermasalah, PT Pustaka Binaman Pressindo, Jakarta
Sugiyono, (2004). Statistika Untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung
Sulad Sri Hardanto, dkk. Manajemen Resiko Bank Umum. PT Elex Media Komputindo.
Jakarta. 2006,
Tampubolon, R. (2004). Manajemen Resiko Pendekatan Kualitatif untuk Bank Komersial, Elex Media Komputindo, Jakarta
Toruan, R. (2007) Manajemen Resiko, Gramedia, Jakarta
Umar, H. (2001), Research in Finance and Banking, Gramedia, Jakarta