Analisis Risiko Nilai Tukar Mata Uang Asing Dengan Menggunakan Metode Value at Risk (VAR) Pada Bank Muamalat Indonesia
Nur Yasinta Amalia1 , Rafika Rahmawati2
1Perbankan Syariah and Universitas Islam 45
2Perbankan Syariah and Universitas Islam 45
Corresponding Author E-mail address: [email protected]
ABSTRACT
This study aims to measure the maximum potential loss or VaR value for each type of Foreign Exchange based on the calculation results for 1 day, 5 days, and 20 days at Bank Muamalat Indonesia and determine the implementation of risk management applied by Bank Muamalat Indonesia to deal with foreign exchange risk. The research method in measuring Value at Risk of foreign exchange rates uses quantitative methods. The type of data that the author uses in this study is secondary time series data on foreign exchange rates of USD, JPY, EUR, and SAR at Bank Muamalat Indonesia. during the time period 2 January 2018 to 31 December 2018. Data analysis techniques in the study were carried out in several stages, namely calculating exchange rate returns, volatility and daily value at risk. The results showed that the maximum exchange rate risk borne in 1 day, 5 days and 20 days with a 95%
confidence level. The implementation of underlying in foreign exchange transactions at Bank Muamalat Indonesia refers to the National Sharia Council regulation No.96 / DSN-MUI / IV / 2015 concerning Sharia Hedging Transactions (Al-Tahawwuth Al-Islami / Islamic Hedging) on Exchange Rates. Bank Muamalat has conducted hedging cooperation with PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) or Indonesia Commodity (Inacom) on 05 December 2019 as a form of Foreign Exchange Rate risk management.
Keywords: Foreign Exchange Rate, Islamic Bank, Value at Risk
INTRODUCTION
Bank sebagai sebuah entitas bisnis menghadapi risiko-risiko yang memiliki potensi mendatangkan kerugian (Dalfa dkk., 2018). Suatu risiko tidak harus selalu dihindari tetapi harus dikelola dengan baik tanpa mengurangi hasil yang harus dicapai. Risiko yang dikelola dengan tepat dapat memberikan manfaat kepada Bank dalam menghasilkan profit, agar manfaat tersebut dapat tercapai maka para pengambil keputusan harus mengerti tentang cara mengestimasi risiko yang mungkin terjadi dimasa yang akan datang serta mengelola risiko tersebut (Fawziyah, 2019; Syafii & Siregar, 2020). Pengelolaan risiko merupakan hal penting dalam melakukan investasi. Setiap investor harus mampu menghadapi dan atau melakukan perlindungan atas aset investasi sesuai dengan kemampuannya menghadapi sebuah risiko (Kurniaputra & Nurhadi, 2018). Oleh karena itu, pengukuran risiko menjadi hal penting.
Risiko pasar berupa nilai tukar mata uang asing merupakan salah satu risiko yang dihadapi oleh industri perbankan (Jayantari & Seminari, 2018). Fluktuasi nilai tukar mata uang asing akan mempengaruhi kondisi bank berkaitan dengan posisi neraca bank serta aktivitas treasury. Risiko nilai tukar valuta asing (foreign exchange rate risk) timbul apabila bank berada pada posisi terbuka. Saat bank berada pada posisi beli, kerugian akan terjadi apabila nilai tukar mata uang lokal cederung naik (menguat), dan sebaliknya pada saat bank berada pada posisi jual kerugian akan terjadi apabila mata uang lokal cenderung turun (melemah) (Mukhlis, 2012;
Putra & Aryanti, 2021; Ulfa dkk., 2016). Salah satu instrumen pengukuran risiko nilai tukar mata uang asing adalah Value at Risk (VaR), Value at Risk (VaR) merupakan sebuah metode pengukuran risiko yang diperkenalkan oleh JP Morgan (Murphy, 2012). Secara umum, VaR didefinisikan sebagai pengukuran potensi kerugian maksimum dari suatu portofolio pada kondisi pasar normal dan interval waktu yang spesifik dengan tingkat kepercayaan tertentu . Karena risiko nilai tukar cenderung tidak pasti dan terus mengalami perubahan dari waktu ke waktu, maka dipandang perlu menggunakan Value at Risk (VaR) untuk mengestimasi potensi kerugian terbesar (maksimal) yang dapat terjadi dalam waktu tertentu (Pintari & Subekti, 2018;
Putra, 2022; Qudratullah, 2013). Meskipun risiko nilai tukar yang dihadapi oleh bank syariah tidak sebesar pada bank konvensional, karena pada bank syariah transaksi valuta asing yang dilakukan harus terdapat underlying transaction yang menyertainya (Midesia, 2020).
Secara umum transaksi valas dalam perbankan syariah menggunakan akad sharf (ketentuan jual beli valas menurut Fatwa DSN MUI No. 28/DSN-MUI/III/2002) (Pradesyah,
2020). Transaksi valuta asing pada bank syariah (diluar jual beli bank notes) hanya dapat dilakukan untuk tujuan lindung nilai (hedging) dan tidak dibenarkan untuk tujuan spekulatif (Pratiwi, 2016). Sebagai salah satu bank devisa syariah yang beroperasi berlandaskan prinsip syariah, Bank Muamalat Indonesia menyediakan berbagai jenis layanan produk dan jasa. Salah satunya yaitu Muamalat FX yaitu pelayanan transaksi Foreign Exchange (Valuta Asing) bagi nasabah segmen individu maupun korporasi, dan dengan berbagai jenis mata uang yang tersedia untuk di transaksikan di Bank Muamalat Indonesia.
Pada tahun 1992 Bank Muamalat Indonesia berdiri sebagai tanda dimulainya dua definisi bank, bank umum dan bank perkreditan rakyat syariah. Penerapan manajemen risiko Bank Muamalat merupakan bagian dari seluruh aktivitas perbankan, sehingga setiap pengambilan keputusan stratejik bank selalu memperhitungkan risiko yang dihadapi (BMI, 2018). Keberhasilan dari proses manajemen risiko sangat tergantung pada landasan bisnis Bank Muamalat Indonesia. Landasan tersebut dibangun melalui penguatan risk awareness di seluruh lini kerja Bank Muamalat Indonesia melalui implementasi budaya risiko, komunikasi internal yang baik, kecukupan pelatihan dan sertifikasi terkait manajemen risiko, serta penerapan penghargaan dan sanksi sebagaimana diatur dalam Ittifaq Bank Muamalat Indonesia (Baktiar
& Aedy, 2017). Melalui penerapan manajemen risiko secarqa komprehensif tersebut, diharapkan bank dapat melindungi dan menciptakan nilai tambah bagi pemangku kepentingan.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian dan menuangkannya dalam sebuah penulisan yang berjudul “Analisis Risiko Nilai Tukar Mata Uang Asing menggunakan Metode Value at Risk (VAR) pada PT. Bank Muamalat Indonesia Tbk”. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur besarnya potensi kerugian maksimum atau nilai VaR untuk masing-masing jenis valuta asing berdasarkan hasil perhitungan selama 1 hari, 5 hari, dan 20 hari pada Bank Muamalat Indonesia dan mengetahui implementasi manajemen risiko yang diterapkan oleh Bank Muamalat Indonesia untuk menghadapi risiko nilai tukar mata uang asing.
RESEARCH METHOD
Metode penelitian dalam mengukur Value at Risk nilai tukar valuta asing menggunakan metode kuantitatif (Nurlan, 2019; Sugiyono, 2018). Jenis data yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder runtut waktu nilai tukar mata uang asing USD, JPY, EUR, dan SAR pada Bank Muamalat Indonesia. Tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam
penelitian ini adalah tehnik dokumentasi, dimana penulis mencatat data historis kurs harian atau nilai tukar mata uang asing USD, JPY, EUR dan SAR pada Bank Muamalat Indonesia selama periode waktu 2 Januari 2018 sampai dengan 31 Desember 2018. Teknik analisis data dalam penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu menghitung return nilai tukar dengan dua pendekatan, yaitu pendekatan aritmatik dan geometrik. Pendekatan aritmatik dirumuskan sebagai berikut :
𝑅𝑡 =𝑃𝑡− 𝑃𝑡−1 𝑃𝑡−1 Dimana :
Pt = Nilai tukar pada waktu t Pt-1 = Nilai Tukar pada waktu t-1 Rt = Return pada waktu t
Sedangkan penghitungan return secara geometrik adalah sebagai berikut : 𝑅𝑡 = 𝑙𝑛 𝑃𝑡
𝑃𝑡−1
Dalam menghitung data return nilai tukar diperlukan tahap pengujian untuk mengetahui apakah data tersebut valid digunakan melalui uji stasioner data, uji normalitas data, dan uji heteroskedastisitas (Huda dkk., 2012; Khoiriyah & Putra, 2022; Unaradjan, 2019). Setelah melakukan pengujian, langkah selanjutnya menghitung volatilitas nilai tukar mata uang untuk menunjukkan fluktuasi nilai tukar mata uang dari waktu ke waktu dikarenakan berbagai sebab yang mempengaruhinya. Analisis data terakhir adalah menghitung Value at Risk harian atau individual untuk mengetahui sebanyak apa nilai nominal yang menjadi risiko kerugian pada periode tertentu Perhitungan Value at Risk harian untuk masing-masing valuta asing selama 1, 5, dan 10 hari, menggunakan rumus Value at Risk (VaR) untuk aset tunggal sebagai berikut :
𝑉𝑎𝑅 = 𝐸 𝑥 𝜎 𝑥 √𝑡 𝑥 𝛼 Dimana :
VaR = Value at Risk
E = Nilai Aset (exposure) σ = Standar Deviasi
√𝑡 = Horison Waktu α = Tingkat Keyakinan
RESULTS & DISCUSSION
Hasil Perhitungan Return Nilai Tukar
Dalam penelitian ini hanya dibatasi pada 4 mata uang, yaitu Dollar Amerika (USD), Euro Eropa (EUR), Yen Jepang (JPY), Real Saudi Arabia (SAR). Data yang digunakan adalah kurs tengah harian Bank Indonesia mulai dari 2 Januari 2018 sampai dengan 31 Desember 2018.
Kurs tengah merupakan kurs antara kurs jual dan kurs beli, kurs tengah dihitung dengan menjumlahkan kurs jual dan kurs beli dan dibagi dua. Perhitungan return nilai tukar harian dilakukan menggunakan metode logaritma atau pendekatan gometrik. Perhitungan return nilai tukar dilakukan dengan pendekatan geometrik karena lebih konsisten dan lebih sesuai untuk penghitungan return atau risiko dalam berbagai mata uang. Berikut pada tabel 1 ditampilkan hasil analisa deskriptif data return masing-masing nilai tukar selama periode penelitian.
Tabel 1. Analisis Deskriptif Return Nilai Tukar
RETURN USD EUR JPY SAR
Mean 0.000275 9.75E-05 0.000359 0.000273 Median 0.000249 0.000111 0.000254 0.000275 Maximum 0.013433 0.032093 0.017068 0.013327 Minimum -0.011581 -0.031088 -0.014748 -0.011582 Std. Dev. 0.003778 0.005163 0.005316 0.003774 Skewness 0.033959 -0.100801 0.170837 0.029718 Kurtosis 3.820.533 1.345.209 3.317.980 3.803.152 Sumber: Kurs Tengah Bank Indonesia, diolah dengan aplikasi Excel dan Eviews 4.1 Berdasarkan tabel 1 diketahui bahwa nilai tukar USD, EUR, JPY dan SAR semuanya mempunyai return rata-rata benilai positif. Nilai return maksimal dimiliki oleh return nilai tukar EUR, sedangkan nilai return minimal dimiliki oleh return nilai tukar EUR. Standar deviasi terbesar terdapat pada return nilai tukar JPY, atau dengan kata lain tingkat volatilitas return nilai tukar JPY lebih besar dibandingkan ketiga return nilai tukar lainnya.
Uji stasioneritas bertujuan untuk memastikan bahwa data return sudah stasioner atau tidak. Bila data return sudah stasioner maka data tersebut sudah layak digunakan dalam langkah atau proses perhitungan selanjutnya. Pengujian stasioneritas data return dilakukan dengan pendekatan Augmented Dickey-Fuller (ADF) menggunakan bantuan aplikasi Eviews 10. Dari hasil pengolahan data untuk uji stasioneritas dengan menggunakan software Eviews 10 diperoleh nilai ADF test untuk masing-masing return nilai tukar pada tabel 2 sebagai berikut :
Tabel 2. Hasil Uji Stasioneritas Data
VALUTA ADF TEST
CRITICAL
VALUE PROBABILITY
USD
1% -3,457400
-14,12841 5% -2,873339 0
10% -2,573133
JPY
1% -3,457400
-16,89131 5% -2,873339 0
10% -2,573133
EUR
1% -3,457400
-14,99568 5% -2,873339 0
10% -2,573133
SAR
1% -3,457400
-14,11952 5% -2,873339 0
10% -2,573133
Sumber: Kurs Tengah Bank Indonesia, diolah dengan aplikasi Excel dan Eviews 4.1 Dari hasil uji stasioneritas, semua data return memiliki nilai ADF Test Statistic yang lebih kecil dari nilai critical value 5%. Nilai critical value pada 5% adalah -2,873339 sedangkan nilai ADF Test berkisar antara -14,11952 hingga -14,99568, ini berarti semua data return stasioner atau kemungkinan adanya korelasi antar waktu dalam suatu sample sangat kecil. Sehingga tidak ada yang perlu dilakukan differencing untuk tingkat keyakinan 95%. Pengujian normalitas data return nilai tukar dilakukan dengan pendekatan Jarque Bera seperti yang dirumuskan pada persamaan atau dengan bantuan aplikasi Eviews 10. Hasil dari pengujian normalitas data return nilai tukar dari 4 mata uang dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Hasil Uji Normalitas Data Return
RETURN USD EUR JPY SAR
Jarque Bera 6,835367 1101,975 17.26848 6,539901 Probability 0,032788 0 0,333425 0,038008
Chi Square 5,991 5,991 5,991 5,991
Sumber: Kurs Tengah Bank Indonesia, diolah dengan aplikasi Excel dan Eviews 4.1 Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa data return dari nilai tukar mata uang USD, EUR, JPY dan SAR mempunyai nilai Jarque Bera>Chi Square sehingga dapat disimpulkan bahwa data returnnilai tukar mata uang USD, EUR, JPY dan SAR terdistribusi secara normal. Uji Heteroskedastis disebut juga pengujian volatilitas, pengujian heteroskedastis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan White Heteroskedasticity Test dengan bantuan aplikasi Eviews 4.1. Data return dikatakan bersifat homoskedastis apabila mempunyai nilai probabilitas F-stat
> 5% . Sebaliknya, apabila data return mempunyai nilai probabilitas F-stat < 5% maka data return bersifat heteroskedastis. Hasil dari pengujian heteroskedastis dengan pendekatan White
Heteroskedasticity Test data return nilai tukar mata uang USD, EUR, JPY dan SAR dapat dilihat pada tabel 4.
Tabel 4. Hasil Uji White Heteroskedasticity Test Data Return Prob. F-Stat Kesimpulan
USD 0.7588 Homokedastis
EUR 0.0910 Homokedastis
JPY 0.9849 Homokedastis SAR 0.6867 Homokedastis
Sumber: Kurs Tengah Bank Indonesia, diolah dengan aplikasi Excel dan Eviews 4.1 Berdasarkan tabel 4 diketahui bahwa data return nilai tukar mata uang USD, EUR, JPY dan SAR semuanya bersifat homokedastis. Dengan kata lain data return tersebut mempunyai variance error yang sama sepanjang nilai X. Hasil perhitungan Value at Risk (VaR) pada nilai tukar mata uang USD, EUR, JPY dan SAR diperoleh nilai kerugian maksimal yang terjadi dalam 1 hari, 5 hari dan 20 hari dengan tingkat kepercayaan 95% adalah sebagai berikut :
Tabel 5. Hasil Perhitungan VaR Harian
VALUTA
EKSPOSUR VOLATILITY
CONFIDENCE LEVEL
VALUE AT RISK (VaR)
V0 σ 1 HARI 5 HARI 20 HARI
Α
(a) (b) (c)
USD
58.766.743 0,003778 1,6449
365.202
1.826.010
7.304.039 EUR
51.389.737 0,005163 1,6449
436.433
2.182.167
8.728.669 JPY
64.904.897 0,005316 1,6449
567.547
2.837.736
11.350.943 SAR
220.501.478 0,003774 1,6449
1.368.841
6.844.203
27.376.813
Sumber : Data diolah dengan Eviews 4.1 dan Excel
Berdasarkan hasil perhitungan VaR harian pada mata uang USD, EUR, JPY dan SAR didapatkan hasil bahwa nilai kerugian maksimal yang mungkin akan terjadi. Besaran nilai kerugian maksimal yang akan ditanggung dalam 1 hari pada mata uang USD sebesar Rp.
365.202,- , EUR sebesar Rp. 436.433,- , JPY sebesar Rp. 567.547,- , SAR sebesar Rp.
1.368.841,- . Besaran nilai kerugian maksimal yang akan ditanggung dalam 5 hari pada mata uang USD sebesar Rp. 1.826.010,- , EUR sebesar Rp. 2.182.167,- , JPY sebesar Rp. 2.837.736,- , SAR sebesar Rp. 6.844.203,- . Besaran nilai kerugian maksimal yang akan ditanggung dalam 20 hari pada mata uang USD sebesar Rp. 7.304.039,- , EUR sebesar Rp. 8.728.669,- , JPY sebesar Rp. 11.350.943,- , SAR sebesar Rp. 27.376813,- .
Pembahasan
Analisis Risiko Nilai Tukar Mata Uang Asing Menggunakan Metode Value at Risk (Var) Pada Bank Mualamat Indonesia
Berdasarkan hasil penelitian yang tertera pada tabel 4 menunjukkan hasil perhitungan Value at Risk (VaR) pada nilai tukar mata uang USD, EUR, JPY dan SAR diperoleh nilai kerugian maksimal yang terjadi dalam 1 hari, 5 hari dan 20 hari dengan tingkat kepercayaan 95%. Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi kestabilan nilai tukar yaitu permintaan valuta asing dan penawaran valuta asing. Faktor yang mempengaruhi permintaan valuta asing yaitu pembayaran impor, semakin tinggi impor barang dan jasa maka semakin besar permintaan terhadap valuta asing sehingga nilai tukar akan cenderung melemah. Sebaliknya jika impor menurun, maka permintaan valuta asing menurun sehingga mendorong menguatnya nilai tukar.
Kedua, faktor aliran modal keluar, semakin besar aliran modal keluar maka semakin besar permintaan valuta asing dan pada lanjutannya akan memperlemah nilai tukar. Aliran modal keluar meliputi pembayaran hutang penduduk Indonesia (baik swasta maupun pemerintah) kepada pihak asing dan penempatan dana penduduk Indonesia keluar negeri. Ketiga, kegiatan spekulasi, semakin banyak kegiatan spekulasi valuta asing yang dilakukan oleh spekulan, maka semakin besar permintaan terhadap valuta asing sehingga memperlemah nilai tukar mata uang lokal terhadap mata uang asing.
Adapun penawaran valuta asing dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, faktor penerimaan hasil ekspor, semakin besar volume penerimaan ekspor barang dan jasa maka semakin besar jumlah valuta asing yang dimiliki oleh suatu negara dan pada lanjutannya nilai tukar terhadap mata uang asing yang dimiliki semakin menguat atau terapresiasi. Sebaliknya jika ekspor menurun maka jumlah valuta asing yang dimiliki semakin menurun sehingga nilai tukar juga cenderung mengalami depresiasi. Kedua, faktor aliran modal masuk, semakin besar aliran modal masuk maka nilai tukar akan cenderung semakin menguat. Aliran modal masuk tersebut dapat berupa penerimaan hutang luar negeri, penempatan dana jangka pendek oleh pihak asing dan investasi langsung pihak asing.
Dalam penelitian Swandayani & Kusumaningtias, (2012) nilai tukar valas pada perbankan mempunyai pengaruh terhadap tingkat profitabilitas. Nilai tukar valas akan menentukan imbal hasil investasi riil. Mata uang yang menurun secara jelas akan mengurangi daya beli dari pendapatan dan keuntungan mod al yang didapat dari jenis investasi apapun. Penurunan investasi ini akan mempengaruhi kegiatan operasional bank
syariah. Sehingga setiap perubahan nilai tukar valas akan mempengaruhi pendapatan dan profit bank syariah (Khoiriyah dkk., 2022). Penelitian Azmy (2018) mengatakan bahwa nilai tukar valas berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas. Sedangkan, penelitian oleh Welta & Lemiyana (2017) terhadap bank umum menunjukkan hasil yang berbeda. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa nilai tukar valas tidak berpengaruh signifikan terhadap profitabilitas bank umum. Penelitian Addury, (2019) menunjukkan nilai tukar rupiah terhadap dollar akan direspon oleh perbankan syariah dengan mengurangi pembiayaan valuta asing sehingga resiko kredit perbankan yang diukur dengan nilai Non Performing Financing akan mengalami penurunan.
Dapat disimpulkan bahwa permintaan dan penawaran valuta asing sangat dipengaruhi oleh perkembangan ekspor dan impor serta aliran modal masuk dan keluar negeri.
Perkembangan ekspor dan impor dipengaruhi oleh harga relative antara suatu negara dengan negara mitra dagangnya. Semakin tinggi laju inflasi suatu negara dibandingkan negara lainnya, maka harga barang ekspor suatu negara akan lebih mahal dan dapat menurunkan ekspor serta pada kelanjutannya akan menurunkan nilai mata uang suatu negara.
Pada dasarnya praktik hedging yang dilakukan menggunakan kontrak forward dan spot yang tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang dilakukan bank konvensional (Antonio, 2001). Namun praktik dari hedging yang boleh diterapkan pada perbankan syariah adalah praktik hedging yang telah ditentunkan berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional melalui Fatwa No: 96/DSN-MUI/IV/2015. Menurut Fatwa Dewan Syariah Nasional Ulama Indonesia telah menerbitkan fatwa No.96/DSN-MUI/IV/2015 tentang transaksi lindung nilai syariah (Al-Tahawwuth Al-islami/Islami Hedging). Dalam mempertimbangkan fatwa syariah transaksi lindug nilai yang berdasarkan prinsip syariah sangat diperukan unuk mendukung perkembngan industri lindung nilai syariah. Selain itu nilai tukar menjadi cara untuk mengurangi resiko yang timbul akibat adanya fluktuasi nilai tukar.
Implementasi underlying pada transaksi valuta asing di Bank Muamalat Indonesia mengacu pada peraturan Dewan Syariah Nasional No.96/DSN-MUI/IV/2015 tentang Transaksi Lindung Nilai Syariah (Al-Tahawwuth Al-Islami / Islamic Hedging) atas nilai tukar. Penelitian ini selaras dengan penelitian Anwar dkk., (2022) yang menunjukkan bahwa pada Bank Syari’ah Mandiri akad yang digunakan dalam hedging adalah transaksi Spot. Dengan demikian Bank Syari’ah Mandiri telah melakukan praktik hedging sesuai dengan fatwa DSN –MUI No 96/DSN-MUI/IV/2015. Bank Muamalat sudah melakukan kerjasama hedging dengan PT.
Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) atau Indonesia Commodity (Inacom) pada 05 Desember 2019 sebagai bentuk manajemen risiko Kurs Valuta Asing.
CONCLUSION
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat ditarik kesimpulan menunjukkan bahwa maksimal risiko nilai tukar mata uang asing (exchange rate risk) yang di tanggung dalam 1 hari, 5 hari dan 20 hari dengan tingkat kepercayaan 95%. Implementasi underlying pada transaksi valuta asing di Bank Muamalat Indonesia mengacu pada peraturan Dewan Syariah Nasional No.96/DSN-MUI/IV/2015 tentang Transaksi Lindung Nilai Syariah (Al- Tahawwuth Al-Islami / Islamic Hedging) atas nilai tukar. Bank Muamalat Indonesia sudah melakukan kerjasama hedging dengan PT. Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) atau Indonesia Commodity (Inacom) pada 05 Desember 2019 sebagai bentuk manajemen risiko kurs valuta asing.
Dari hasil penelitian ini, selain telah diperoleh kesimpulan yang merupakan jawaban atas penelitian ini ada beberapa saran yang dapat disampaikan yaitu metode Value at Risk ini dapat dimanfaatkan untuk mengestimasi risiko nilai tukar mata uang asing (exchange rate) dengan baik dan rekomendasi untuk penelitian selanjutnya dapat dilakukan perhitungan Value at Risk portofolio dan membandingkan nilai risiko sebelum dan setelah Bank Muamalat menerapkan hedging syariah atau lindung nilai syariah.
REFERENCES
Addury, M. M. (2019). Pengaruh Harga Minyak Dunia dan Nilai Tukar Terhadap Resiko Perbankan Syariah di Indonesia Periode 2007-2018. Wahana Islamika: Jurnal Studi Keislaman, 5(1), 1–18.
Antonio, M. S. (2001). Bank Syariah: Dari teori ke praktik. Gema Insani.
Anwar, K., Rahmatika, A. N., & Amarudin, A. A. (2022). Praktik Hedging Di Bank Syariah Mandiri Perspektif Fatwa DSN MUI NO 96/IV/2015. Izdihar: Jurnal Ekonomi Syariah, 2(1), 73–81.
Azmy, A. (2018). Analisis pengaruh rasio kinerja keuangan terhadap profitabilitas bank pembiayaan rakyat syariah di indonesia. Jurnal Akuntansi, 22(1), 119–137.
Baktiar, A., & Aedy, H. (2017). Murabahah Implementation in Islamic Bank (Study at Bank Muamalat Kendari Branch). IOSR Journal of Economics and Finance, 8(5), 13–27.
BMI. (2018). Sejarah Bank Muamalat. dalam https://www. muamalat. co. id,(diakses pada tanggal 2 April 2021, jam 16.04).
Dalfa, S., Tresnati, R., & Srisusilawati, P. (2018). Kajian bauran pemasaran pembiayaan KPR Islamic banking menggunakan analisis SWOT (studi kasus pada BPRS Al Salaam cabang Bandung). Prosiding hukum ekonomi syariah, 696–701.
Fawziyah, Z. W. U. (2019). Analisis Manajemen Risiko Pembiayaan Murabahah di PT BPRS Artha Madani Kantor Pusat Bekasi. MASLAHAH (Jurnal Hukum Islam dan Perbankan Syariah), 10(2), 81–101.
Huda, N., Rini, N., Mardoni, Y., & Putra, P. (2012). The analysis of attitudes, subjective norms, and behavioral control on muzakki’s intention to pay zakah. International Journal of business and social science, 3(22).
Jayantari, I. A. A. U., & Seminari, N. K. (2018). Peran Kepercayaan Memediasi Persepsi Risiko terhadap Niat Menggunakan Mandiri Mobile Banking di Kota Denpasar.
Khoiriyah, U., & Putra, P. (2022). Analisis Jalur Pengaruh Pengambilan Keputusan Bertransaksi Melalui BSI Mobile. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 8(3).
Khoiriyah, U., Syam, A. H. B., Larasati, L., Maulana, M. D., & Rahmawati, R. (2022). Analisis Profitabilitas Bank Syariah Swasta di Indonesia sebelum dan Sesudah Covid-19 (Dengan Menggunakan Metode Horizontal). Shafin: Sharia Finance and Accounting Journal, 2(1), 21–33.
Kurniaputra, A. Y., & Nurhadi, M. (2018). Pengaruh Persepsi Kemudahan, Risiko Dan Manfaat Terhadap Keputusan Nasabah Menggunakan Mobile Banking BRI Di Surabaya.
Journal of Business & Banking, 8(1). https://doi.org/10.14414/jbb.v8i1.1557
Midesia, S. (2020). Dampak Covid-19 pada pasar saham syariah di Indonesia. Jurnal Penelitian Ekonomi Akuntansi (JENSI), 4(1), 68–79.
Mukhlis, I. (2012). Analisis volatilitas nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar. Journal of Indonesian Applied Economics, 5(2).
Murphy, E. V. (2012). What Is Systemic Risk? Does It Apply to Recent JP Morgan Losses?.
Congressional Research Service.
Nurlan, F. (2019). Metodologi penelitian kuantitatif. CV. Pilar Nusantara.
Pintari, H. O., & Subekti, R. (2018). Penerapan Metode GARCH-Vine Copula untuk Estimasi Value at Risk (VaR) pada Portofolio. Jurnal Fourier, 7(2), 63–77.
Pradesyah, R. (2020). Pengaruh Promosi Dan Pengetahuan Terhadap Minat Masyarakat Melakukan Transaksi Di Bank Syariah (Studi Kasus Di Desa Rahuning). Al-Sharf:
Jurnal Ekonomi Islam, 1(2).
Pratiwi, N. (2016). Praktik Ekonomi Islam pada Bank Mandiri Syariah cabang Indramayu Jatibarang. Ejournal Insklusif Edisi 1 Volume, 1, 1–16.
Putra, P. (2022). Does Firm Size, Leverage and Profitability Effect On Coefficient Earnings Response (ERC) with Islamic Social Reporting (ISR) As Intervening Variable? Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 8(2), 1103–1114.
Putra, P., & Aryanti, R. (2021). Factors Affecting Disclosure of Islamic Social Reporting on Companies Listed In Jakarta Islamic Index 2017-2019. Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 7(3), 1206–1214.
Qudratullah, M. F. (2013). Perbandingan Berbagai Model Conditionally Heteroscedastic Time Series Dalam Analisis Risiko Investasi Saham Syariah Dengan Metode Value At Risk.
Jurnal Fourier, 2(1), 1–9.
Sugiyono. (2018). Metode Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif dan R&D. Alfabeta Bandung.
Swandayani, D. M., & Kusumaningtias, R. (2012). Pengaruh inflasi, suku bunga, nilai tukar valas dan jumlah uang beredar terhadap profitabilitas pada perbankan syariah di Indonesia periode 2005-2009. AKRUAL: Jurnal Akuntansi, 3(2), 147–166.
Syafii, I., & Siregar, S. (2020). Manajemen Risiko Perbankan Syariah. 1(1), 662–665.
Ulfa, M., Puspitaningtyas, Z., & Bidhari, S. C. (2016). Pengaruh fluktuasi nilai tukar mata uang rupiah-dolar terhadap profitabilitas perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI periode 2010-2014. Jurnal Ekonomi & Bisnis, 10(2), 131–142.
Unaradjan, D. D. (2019). Metode penelitian kuantitatif. Penerbit Unika Atma Jaya Jakarta.
Welta, F., & Lemiyana, L. (2017). Pengaruh Car, Inflasi, Nilai Tukar Terhadap Profitabilitas Pada Bank Umum Syariah. I-Finance: A Research Journal on Islamic Finance, 3(1), 53–66.