1
ANALISIS TINGKAT KESEHATAN BUMN JASA KEUANGAN BIDANG USAHA PERASURANSIAN BERDASARKAN PERATURAN
MENTERI BUMN NOMOR : PER-10/MBU/2014 (Studi Kasus Pada PT Asuransi ASEI)
Disusun oleh : Ghean Ananta Putra
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya [email protected]
Dosen Pembimbing:
Dra. Wiwik Hidajah Ekowati, SE., M.Si., Ak., CA.
ABSTRACT
This study aims to determine the health level of state owned enterprise (SOE)financial services companies in the field of insurance business based on SOE Ministerial Regulation Number: PER-10 / MBU / 2014 concerning Indicators of SOE Health Rating Indicators for Financial Services in Insurance Business and Insurance Services. SOE company health assessment in terms of 3 aspects, namely financial aspects using the measurement of financial ratios, operational aspects using the company's most dominant operational activities, and administrative aspects using the timeliness of financial report submission and community development partnership programs. The object of this study is PT Asuransi ASEI for the health level in 2016-2018. This type of research is quantitative research.
The data source used is secondary data in the form of financial reports for 2016- 2018. The results showed that of the three aspects, namely financial aspects, operational aspects, administrative aspects. In 2016 until 2018 PT. ASEI Insurance obtains predicate less healthy.
Keywords: Health Level, State-Owned Enterprise, Financial Aspect, Operational Aspect, Administrative Aspect, Financial Performance.
2 ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kesehatan perusahaan BUMN jasa keuangan bidang usaha perasuransian berdasarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor : PER-10/MBU/2014 tentang Indikator Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN Jasa Keuanagn Bidang Usaha Perasuransian dan Jasa Penjamian. Penilaian kesehatan perusahaan BUMN ditinjau dari 3 aspek yaitu aspek keuangan menggunakan ukuran rasio-rasio keuangan, aspek operasional menggunakan kegiatan operasional perusahaan yang paling dominan, dan aspek administrasi menggunakaan ketepatan waktu penyampaian laporan keuangan dan program kemitraan bina lingkungan. Objek penelitian ini adalah PT Asuransi ASEI untuk tingkat kesehatan tahun 2016-2018. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan tahun 2016-2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari ketiga aspek yaitu aspek keuangan, aspek operasional, aspek administrasi. Tahun 2016 sampai dengan 2018 PT. Asuransi ASEI memperoleh predikat kurang sehat.
Kata Kunci : Tingkat Kesehatan Perusahaan BUMN, Pegadaian Blimbing, Aspek Keuangan, Aspek Operasional, Aspek Administrasi, Kinerja Keuangan.
1. Latar Belakang
Pengukuran kesehatan merupakan salah satu bentuk pengukuran prestasi yang dicapai perusahaan dalam suatu periode tertentu yang mencerminkan tingkat kesehatan perusahaan tersebut (Sutrisno, 2009:53).
Seluruh komponen harus dapat memahami kondisi keuangan perusahaannya termasuk manajemen perusahaan tersebut karena pada dasarnya kondisi keuangan memengaruhi kelangsungan hidup perusahaan secara keseluruhan. Kondisi keuangan juga merupakan faktor penting yang menjadi tolok ukur untuk memantau sejauhmana
3
perusahaan mampu menjaga kelancaran operasinya agar tidak terganggu dan seluruh elemen yang terdapat diperusahana dapat menggunakan aturan pelaksanaan keuangan secara baik dan benar.
Analisis tingkat kesehatan perusahaan dan kondisi keuangan perusahaan dapat menjadi alat bantu manajerial untuk mengambil keputusan dan dapat digunakan untuk mengevaluasi dari keputusan yang telah diambil oleh manajemen. Penilaian tingkat kesehatan perusahaan merupakan cara yang dilakukan suatu perusahaan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kelancaran proses industrinya serta menjadi tolok ukur untuk memantau sejauh mana perusahaan mampu menjaga agar kelancaran operasi perusahaan tidak terganggu (Fahmi, 2012:2).
Badan Usaha Milik Negara (BUMN) juga dapat melakukan penilaian tingkat kesehatan perusahaan sebagai upaya untuk memaksimalkan potensi untuk meningkatkan kinerja perusahaan.
BUMN merupakan suatu bentuk investasi pemerintah yang digunakan untuk mengelola hajat hidup orang banyak. Jumlah perusahaan BUMN yang sangat banyak dapat mendorong pertumbuhan perekonomian Indonesia dan perkembangan infrastruktur yang dapat menyejahterakan rakyat. Menurut data Kementrian BUMN diakses tahun 2018, jumlah perusahaan BUMN dengan berbagai sektor di Indonesia pada tahun 2018 berjumlah 115 perusahaan. Dari beberapa perusahaan tersebut dibagi menjadi beberapa bidang. Salah satunya adalah BUMN Jasa Keuangan Bidang Usaha Perasuransian dan jasa Penjaminan.
BUMN Jasa keuangan bidang usaha perasuransian dan jasa penjaminan terdiri dari 3 kelompok yaitu Bidang Usaha Asuransi, Bidang Usaha Jasa Penjaminan dan BUMN dalam penugasan khusus penjaminan program KUR. Pemerintah
4
Indonesia memiliki kebijakan dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja perusahaan BUMN Jasa Keuangan Bidang Usaha Perasuransian dan jasa Penjaminan. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri BUMN No:
PER-10/MBU/2014 tentang Indikator Penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara Jasa Keuangan Bidang Usaha Perasuransian dan Jasa Penjaminan.
Dalam keputusan ini penilaian tingkat kesehatan perusahaan terdiri dari tiga aspek yang meliputi aspek keuangan, administrasi dan operasional.
Penilaian terhadap aspek keuangan menggunakan lima indikator yaitu Return On Asset (ROA), Return On Equity (ROE), Likuiditas, Risk Based Capital (RBC).
Penilaian untuk aspek operasional terdapat tujuh indikator yaitu Rasio Kecukupan Investasi (RKI), Yield On Investment (YOI), Tingkat Penyelesaian Klaim, Expense Ratio, Tingkat Kepuasan Peserta (CSI Index), Pertumbuhan Iuran/Premi/IJP, Underwriting Yield. Untuk penilaian aspek administrasi tedapat lima indikator yaitu Laporan Perhitungan Tahunan, Rancangan RKAP, Laporan Periodik, Tingkat Kolektibilitas, Tingkat Efektifitas Penyaluran.
Kebutuhan akan jasa perasuransian dan jasa penjaminan dianggap semakin perlu dilakukan, baik oleh perusahaan, perseorangan maupun sektor publik di Indonesia. Asuransi dan Jasa Peminjaman merupakan sarana finansial dalam tata kehidupan untuk menghadapi risiko yang mendasar seperti risiko kematian, atau dalam mengahadapi risiko atas harga benda yang dimiliki. Demikian pula pada dunia usaha dalam menjalankan kegiatannya menghadapi berbagai resiko yang mungkin dapat menggangu kesinambungan usahanya.
Berdasarkan Peraturan Menteri Badan Usaha Milik Negara Nomor : PER- 10/MBU/2014 tentang penilaian tingkat kesehatan BUMN jasa keuangan bidang perasuransian dan penjaminan, perusahaan yang bergerak di bidang ini terdapat
5
sembilan perusahaan. Dari sembilan perusahaan tersebut terdapat delapan perusahaan perasuransian dan satu perusahaan yang bergerak pada bidang usaha penjaminan. Dan dari delapan perusahaan perasuransian tersebut peneliti memilih PT. Asuransi Ekspor Indonesia (ASEI) untuk dijadikan objek tentang penelitian tingkat kesehatan perusahaan BUMN
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesehatan PT. Asuransi ASEI periode 2016-2018 yang diukur dari Aspek Keuangan, Operasional, dan Adminitrasi menurut Peraturan Menteri BUMN Nomor : PER-10/MBU/2014.
2. TELAAH PUSTAKA
a. Badan Usaha Milik Negara ( BUMN )
BUMN adalah badan usaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh negara melalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan negara yang dipisahkan.
b. Pengertian Penilaian Kinerja
Berdasarkan Mulyadi (2009:353) menyatakan bahwa tujuan utama penilaian kinerja adalah untuk memotivasi personel dalam mencapai sasaran organisasi dan dalam mematuhi standar perilaku yang telah ditetapkan sebelumnya, agar membuahkan tindakan dan hasil yang diinginkan oleh organisasi. Standar perilaku dapat berupa kebijakan manajemen atau rencana formal yang dituangkan dalam rencana strategik, program, dan anggaran organisasi.
Menurut Tampubolon (2013), penilaian kinerja adalah penentuan secara periodik atas efektivitas operasional suatu organisasi, bagian organisasi dan karyawannya, berdasarkan sasaran, standar dan kriteria yang telah ditetapkan.
6
Berdasarkan pengertian tersebut dapat dinyatakan bahwa penilaian kinerja lebih ditekankan pada bagaimana karyawan sebagai bagian dari organisasi dapat mengerjakan sesuatu berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan.
c. Tingkat Kesehatan BUMN
Seiring dengan perkembangan jaman dan bertumbuhnya perekonomian Di Indonesia, perlu adanya penilainya kinerja terhadap perusahaan yang dapat mencerminkan tingkat kesehatan suatu perusahaan. Penilaian kinerja untuk perusahaan BUMN tertuang dalam Keputusan Menteri Badan Usaha Milik Negara No. KEP-100MBU/2002 tentang penilaian tingkat kesehatan Badan Usaha Milik Negara. Penilaian tingkat kesehatan BUMN digolongkan menjadi:
1) Sehat, yang terdiri dari:
AAA apabila total (TS) lebih besar dari 95 AA apabila 80<TS<95
A apabila 65<TS<80
2) Kurang sehat, yang terdiri dari:
BBB apabila 50<TS<65 BB apabila 40<TS<50 B apabila 30<TS<40
3) Tidak sehat, yang terdiri dari:
CCC apabila 20<TS<=30 CC apabila 10 <TS<20 C apabila TS<10
Penilaian tingkat kesehatan tersebut berdasarkan atas penilaian kinerja dari 3 aspek yaitu, keuangan, operasional, dan administrasi.
7 3. METODE PENELITIAN
Penilitian ini digunakan untuk memberikan gambaran data yang telah terkumpul sebagaimana adanya. Penelitian ini dilakukan untuk mengukur tingkat kesehatan perusahaan dilihat dari aspek keuangan dengan berdasarkan Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-10/MBU/2014. Dalam penelitian ini digunakan penelitian kuantitatif.. Pada penelitian ini sumber data yang digunakan adalah data sekunder berupa laporan keuangan.
4. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN a. Analisis Hasil Penilaian Aspek Keuangan
Dari keempat indikator tahun 2016-2017 pada aspek keuangan. nilai dan skor yang telah diperoleh bisa diringkas sebagai berikut:
Tabel 4.1 Rekapitulasi Penilaian dan skor Aspek Keuangan PT. Asuransi ASEI Tahun 2016. 2017. dan 2018.
Indikator 2016 2017 2018
Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor
ROE 2.47% 2 -33.30% 0 0.83% 2
ROA 0.53% 2 -11.24% 0 0.01% 2
Likuiditas 604.91% 10 740.30% 10 795.45% 10 Risk Based Capital 170.05% 3 144.53% 2.5 220.18% 3
Total Skor 17 12.5 17
Sumber : Data diolah. 2019
Tabel rekapitulasi aspek keuangan tahun 2016-2018 menunjukkan perolehan total skor yang kurang baik karena. total skor maksimal pada aspek keuangan yang sudah ditetapkan oleh Peraturan Mentri BUMN Nomor: PER-10/MBU/2014
8
adalah 35. sedangkan skor yang dicapai PT. Asuransi ASEI kurang dari 20 yang artinya belum mendekati skor maksimal . Perbedaan total skor menunjukkan adanya perunabahan yang fluktuatif. Total skor pada aspek keuangan ini nanti akan digunakan untuk menilai tingkat kesehatan perusahaan.
b. Analisis Hasil Penilaian Aspek Operasional
Indikator dalam aspek operasional selama tahun 2016 sampai 2018 mendapatkan skor sebagai berikut:
Tabel 4.2 Rekapitulasi Penilaian dan skor Aspek Operasional PT. Asuransi ASEI Tahun 2016.2017. dan 2018.
Indikator 2016 2017 2018
Nilai Skor Nilai Skor Nilai Skor
RKI 40.89% 0 46.31% 0 54.43% 0
YOI 11.17% 10 7.19% 8 5.72% 0
Pertumbuhan premi/iuran/IJP
-41.72% 0 1.34% 3 -28.18% 0
Underwriting Yield 20.38% 10 -1.99% 0 30.10% 10
Expense Ratio 57.27% 0 55.79% 0 75.41% 0
Total Skor 20 11 10
Sumber : Data diolah. 2019
Tabel rekapitulasi aspek keuangan tahun 2016-2018 menunjukkan perolehan total skor yang kurang baik karena. total skor maksimal pada aspek operasional yang sudah ditetapkan oleh Peraturan Mentri BUMN Nomor: PER-10/MBU/2014 adalah 50. sedangkan skor yang dicapai PT Asuransi ASEI kurang dari 30 yang artinya belum mendekati skor maksimal . Perbedaan total skor menunjukkan adanya penurunan dan kenaikan fluktuatif yang signifikan. Total skor pada aspek
9
keuangan ini nanti akan digunakan untuk menilai tingkat kesehatan perusahaan.
c. Analisis Hasil Penilaian Aspek Administrasi
Dari keseluruhan aspek administrasi dapat deketahui total skor selama tahun 2016 sampai 2017. setiap indikator mendapat skor sebgai berikut:
Tabel 4.3 Total Skor Aspek Administrasi
Indikator Skor
2016 2017 2019
Laporan Perhitungan Tahunan 3 3 3
Rencana RKAP 3 3 3
Laporan Periodik 3 3 3
Kinerja PKBL 3 3 3
Total 12 12 12
Sumber: Data Diolah. 2019
Berdasarkan tabel tersebut dapat dilihat perolehan skor dalam penyaampaian laporan perhitungan tahunan. rancangan RKAP. dan laporan periodik selalu mendapatkan nilai maksimal. Hal ini dikarenakan PT. Asuransi ASEI selalu melaksanakan penyampaian laporan selalu tepat waktu, serta untuk kinerja PKBL pada PT. Asuransi ASEI diberikan skor 3.
d. Penilaian Tingkat Kesehatan Pegadaian Blimbing
Menurut Peraturan Mentri BUMN Nomor : PER-10/MBU/2014. PT ASEI termasuk kedalam Perusahaan BUMN bidang jasa keuangan yang bergerak di sektor asuransi. Dalam menentukan penilaian tingkat kesehatan digunakan jumlah skor dari ketiga aspek. Total bobot yang telah ditetapkan untuk aspek keuangan 35. aspek operasional 50. dan aspek administrasi 15. Berdasarkan penilaian aspek
10
keuangan. aspek operasional. dan aspek administrasi pada PT. Asuransi ASEI selama tahun 2016 sampai dengan 2018 maka didapat total skor untuk menilai tingkat kesehatan perusahaan. Penilaian PT. Asuransi ASEI selama tahun 2016 sampai 2018 disajikan sebagai berikut:
Tabel 4.4 Penilaian Tingkat Kesehatan PT Asuransi ASEI tahun 2016. 2017.
dan 2018 Berdasarkan Peraturan Mentri BUMN No: PER- 10/MBU/2014
Keterangan Total Skor
2016 2017 2018
Aspek Keuangan 17 12.5 17
Aspek Operasional 20 11 10
Aspek Administrasi
12 12 12
Total 49 35.5 39
Kategori BB B B
Predikat KURANG SEHAT KURANG SEHAT KURANG SEHAT Sumber: Data Diolah. 2019
Dari tabel di atas menunjukkan bahwa penilaian tingkat kesehatan PT.
Asuransi ASEI berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No: PER-10/MBU/2014 memperoleh predikat kurang sehat pada tahun 2016. 2017 dan 2018 dengan skor masing-masing sebagai berikut:
a. Tahun 2016 total skor yang diperoleh PT. Asuransi ASEI untuk penilaian kesehatan sebesar 49. Berdasarkan Peraturan Menteri BUMN No: PER- 10/MBU/2014 berada pada interval 40<TS<50 sehingga memperoleh kategori BB dengan predikat kurang sehat.
11
b. Tahun 2017 total skor yang diperoleh PT Asuransi ASEI untuk penilaian kesehatan sebesar 35.5. Berdasarkan Peraturan Mentri BUMN No: PER- 10/MBU/2014 berada pada interval 30<TS<40 sehingga memperoleh kategori B dengan predikat kurang sehat.
c. Tahun 2017 total skor yang diperoleh PT Asuransi ASEI untuk penilaian kesehatan sebesar 39. Berdasarkan Peraturan Mentri BUMN No: PER- 10/MBU/2014 berada pada interval 30<TS<40 sehingga memperoleh kategori B dengan predikat kurang sehat.
5. PENUTUP
Pemerintah Indonesia memiliki kebijakan dalam melakukan pengawasan terhadap kinerja perusahaan perasuransian BUMN. Kebijakan tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri BUMN No: PER-10/MBU/2014 tentang penilaian Tingkat Kesehatan Badan Usaha Milik Negara Jasa Keuangan Bidang Usaha Perasuransian dan Jasa Penjaminan. Dalam keputusan ini penilaian tingkat kesehatan perusahaan terdiri dari tiga aspek yang meliputi aspek keungan, administrasi dan operasional. Peraturan ini digunakan untuk menilai tingkat kesehatan pada PT. Asuransi ASEI.
Pada aspek keuangan perolehan skor setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Jika diambil rata-rata total skor selama tiga tahun adalah 15,5. Perolehan tersebut tergolong kurang baik karena masih belum mendekati total skor maksimal yaitu 35. Kemudian pada aspek operasional terjadi penurunan total skor setiap tahunnya. Jika dirata-rata total skor selama tiga tahun adalah 13,67. Perolehan tersebut tergolong kurang baik karena masih belum mendekati total skor
12
maksimal yaitu 50. Pada aspek administrasi total skor yang dipeoleh mencapai poin maksimal. Jika dirata-rata total skor selama tiga tahun adalah 12. Perolehan tersebut sangat baik karena menyamai skor maksimal yaitu 12.
Setelah diperoleh skor dari ketiga aspek, dapat dinilai tingkat kesehatan PT.
Asuransi ASEI setiap tahunnya. Pada tahun 2016 PT. Asuransi ASEI mendapatkan total skor 49 yang termasuk dalam kategori BB dengan perolehan predikat KURANG SEHAT. Pada tahun 2017 total skor PT. Asuransi ASEI menurun menjadi 35,5 yang termasuk dalam kategori B dengan perolehan predikat KURANG SEHAT. Pada tahun 2018 total skor PT. Asuransi ASEI meningkat menjadi 39 yang termasuk dalam kategori B dengan perolehan predikat KURANG SEHAT.
6. DAFTAR PUSTAKA
Fahmi, I. (2012). Analisis Laporan Keuangan, Cetakan Ke 2. Bandung: Alfabeta.
Kementrian BUMN. (2018). Statistik Jumlah BUMN. Diakses dari http://www.bumn.go.id/halaman/0-Statistik-Jumlah-BUMN.
Mulyadi. (2009). Akuntansi Manajemen: Konsep, Manfaat, dan Rekayasa. Jakarta:
Salemba Empat.
Tampubolon. (2013). Manajemen Keuangan. Jakarta : Mitra Wacana Media.
Peraturan Menteri BUMN Nomor: PER-10/MBU/2014 tentang Indikator Penilaian Tingkat Kesehatan BUMN Jasa Keuangan Bidan Usaha Perasuransian dan Jasa Penjaminan. Diakses dari http://jdih.bumn.go.id/unduh/PER- 10/MBU/2014.pdf
Surat Keputusan Menteri BUMN Nomor: KEP-100/MBU/2002 tentang Tingkat
Kesehatan Perusahaan BUMN. Diakses dari
http://jdih.bumn.go.id/unduh/KEP-102/MBU/2002.pdf
Sutrisno. (2009). Manajemen Keuangan Teori, Konsep dan Aplikasi. Edisi Pertama.
Cetakan Ketujuh. Yogyakarta : Ekonisia.
Undang–undang Republik Indonesia No. 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha
Milik Negara. Diakses dari
https://www.komisiinformasi.go.id/regulasi/download/id/100