ANALISIS TITIK IMPAS
Makalah ini dibuat untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Kalkulasi Biaya
Oleh:
YULIANTI 8423322005
TEKNOLOGI KIMIA TEKSTIL FENNY NURHERAWATI, S.ST.,M.M.
UNIVERSITAS INSAN CENDEKIA MANDIRI 2024
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT. Atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga dan para sahabatnya.
Makalah dengan judul Analisis Titik Impas ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah Kalkulasi Biaya, dengan dosen pembimbing Ibu Feny Nurherawati di Universitas Insan Cendekia Mandiri, Bandung.
Terima kasih atas bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak yang telah banyak berkontribusi dalam pembuatan makalah ini. Saya pribadi menyadari masih banyaknya kekurangan dalam membuat makalah ini. Saran dan kritik yang membangun sangat saya harapkan.
Bandung, 23 Oktober 2024
DAFTAR ISI
Contents
KATA PENGANTAR... i
DAFTAR ISI...ii
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL...iii
BAB I...1
PENDAHULUAN... 1
I.1 Latar belakang... 1
I.2 Tujuan pembuatan makalah...2
BAB II... 3
PEMBAHASAN... 3
II.1 Pengertian Biaya...3
II.1.1 Jenis Biaya...3
II.2 Pengertian Titik Impas (Break Even Point/BEP)...4
II.3 Perencanaan laba...9
II.3.1 Laba... 9
II.3.2 Pengertian Perencanaan Laba...9
II.3.3 Manfaat Dan Kekurangan Perencanaan Laba...10
II.4 Margin of safety... 11
II.5 Analisis hubungan Break even Point dengan laba...12
II.6 BEP dengan perubahan... 12
II.7 Kelemahan dari analisis titik impas...13
KESIMPULAN...16
DAFTAR PUSTAKA...17
Bibliography...17
DAFTAR GAMBAR DAN TABEL
gambar 1. Analisis BEP cara grafik. Diakses: 24 Oktober 2024...5
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar belakang
Mendirikan suatu perusahaan tentu memiliki beberapa tujuan yang ingin dicapai oleh pemilik dan manajemen. Hal pertama yang pasti adalah perusahaan ingin
mendapatkan keuntungan yang optimal atas usaha yang dijalankan. Karena tentunya setiap pemilik menginginkan modal yang telah ditanamkan atau dikeluarkan bisa segera kembali dan bisa mengembangkan usahanya sehingga memberikan kemakmuran bagi pemilik dan seluruh karyawannya.
Keuntungan yang diperoleh merupakan pencapaian rencana yang telah ditentukan sebelumnya. Pencapaian ini penting bagi perusahaan karena menunjukkan kesuksesan manajemen dalam mengelola perusahaan. Usaha yang dijalankan ini diharapkan memiliki umur panjang hingga beberapa tahun kedepan. Disamping itu usaha ini diharapkan dapat memberikan kemakuran bagi masyarakat dan dapat membuka lapangan kerja bagi lingkungan sekitar.
Agar dapat mempertahankan kelangsungan hidup suatu perusahaan, maka pihak manajemen membuat suatu perencanaan. Perencanaa laba salah satunya, merupakan faktor yang penting bagi manajemen karena dari perencanaan laba tersebut dapat
membantu perusahaan dalam mencapai target penjualan sehingga mendapatkan laba yang diinginkan. Mulyadi (2001:225) menyatakan laba terutama dipengaruhi oleh tiga faktor yaitu : volume produk yang dijual, harga jual produk dan biaya. Biaya menentukan harga jual untuk mencapai tingkat laba yang dikehendaki. Harga jual mempengaruhi volume penjualan, sedangkan volume penjualan langsung mempengaruhi volume produksi dan volume produksi mempengaruhi biaya.
Tiga faktor tersebut saling berkaitan satu sama lain. Oleh karena itu dalam perencanaan laba jangka pendek, hubungan antara biaya, volume dan laba memegang peranan penting, sehingga dalam pemilihan alternatif tindakan dan perumusan kebijakan untuk masa yang akan datang, manajemen memerlukan informasi untuk menilai berbagai macam kemungkinan yang berakibat terhadap hasil penjualan dan laba yang akan datang.
Analisi hubungan biaya, volume laba merupakan Teknik untuk menghitung dampak
perubahan harga jual, volume penjualan dan biaya terhadap laba untuk membantu manajemen dalam perencanaan penjualan laba jangka pendek.
I.2 Tujuan pembuatan makalah
Tujuan pembuatan makalah ini untuk mengetahui analisis biaya volume dan laba dapat digunakan sebagai alat untuk merencanakan volume penjualan dan laba jangka pendek serta untuk mengetahui analisis titik impas dan margin pengaman dalam menerapkan analisis biaya volume dan laba pada pabrik tekstil.
BAB II PEMBAHASAN
II.1 Pengertian Biaya
Setiap usaha tidak lepas dari biaya, terutama untuk menjalankan aktifitas keuangan perusahaan tersebut.
Menurut Surjadi (2013:4) biaya didefinikan menjadi 2 : a. Biaya dalam arti luas
Biaya adalah pengorbanan sumber ekonomis (sifat kelangkaan) yang diukur dalam satuan mata uang yang terjadi atau kemungkinan terjadi dalam mencapai tujuan tertentu (to secure benefit)
b. Biaya dalam arti sempit
Biaya adalah bagian dari harga pokok yang dikorbankan dalam usaha memperoleh penghasilan
Biaya atau cost adalah pengorbanan sumber ekonomis yang diukur dalam satuan uang yang telah terjadi atau mungkin akan terjadi untuk mencapai tujuan tertentu
(Bustami dan Nurlela, 2013:7) II.1.1 Jenis Biaya
a. Jenis biaya menurut pengelompokan biaya 1. Biaya produksi / biaya pabrikase
- Biaya bahan baku
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk membeli bahan baku utama yang dipakai untuk memproduksi barang
- Biaya tenaga kerja langsung
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk membayar tenaga kerja utama yang langsung berhubungan dengan produk yang diproduksi dari bahan baku mentah menjadi barang jadi
- Biaya overhead pabrik
Adalah biaya yang digunakan untuk memproduksi barang, selain biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung. Biaya ini terbagi menjadi 2 yaitu biaya bahan tidak langsung dan biaya tenaga kerja tidak langsung
2. Biaya komersil - Biaya pemasaran
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk keperluan melaksanakan kegiatan pemasaran dan promosi produk
- Biaya administrasi
Adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengkoordinir dan mengendalikan kegiatan produksi dan pemasaran produk
b. Jenis biaya menurut perilaku biaya 1. Biaya tetap
Adalah biaya yang harus ditanggung oleh perusahaan dan tidak terpengaruh oleh aktifitas produksi sampai jumlah tertentu, sehingga jika dilihat dari biaya satuan akan terbalik dengan biaya produksi. Biaya tetap adalah biaya yang dalam jumlah
keseluruhan tetap konstan dalam rentang yang relevan Ketika tingkat keluaran aktifitas berubah (Hansen dan Mowen, 2012:98)
2. Biaya variabel
Adalah biaya yang berubah-ubah sesuai dengan volume produksi sehingga biaya satuan menjadi konstan. Biaya variabel adalah biaya yang dalam keseluruhan bervariasi secara proporsional terhadap perubahan keluaran,jadi biaya variabel naik ketika keluaran naik dan akan turun ketika keluaran turun (Hansen dan Mowen, 2012:100)
3. Biaya semi variabel
Adalah biaya yang jumlah totalnya berubah sesuai dengan volume produksi tetapi jumlahnya tidak sebanding.
II.2 Pengertian Titik Impas (Break Even Point/BEP)
Menurut Bambang Riyanto (2011:359) analisa Break Even adalah suatu teknik analisa untuk mengetahui hubungan antara biaya tetap, biaya variabel, keuntungan dan volume kegiatan.
Menurut Kasmir (2011:332) Analisa titik impas adalah suatu keadaan dimana perusahaan
beroperasi dalam kondisi tidak memperoleh pendapatan (laba) dan tidak pula menderita
kerugian. Artinya dalam kondisi ini jumlah pendapatan yang diterima sama dengan jumlah biaya yang dikeluarkan. Sedangkan menurut Susan Irawati (2007:161) Break even analysis merupakan Teknik analisis yang mempelajari bagaimana pengaruh dari volume produksi atau volume penjualan yang berubah terhadap struktur biaya tetap dan biaya variabel serta tingkat hasil penjualan, sehingga pada akhirnya memiliki pengaruh terhadap tingkat rugi dan laba.
Jadi Analisa Break Even Point dapat diartikan sebagai suatu titik atau keadaan dimana perusahaan didalam operasinya tidak memperoleh keuntungan dan tidak mengalami kerugian.
Dengan kata lain pada keadaan tersebut, dimana pendapatan sama dengan modal yang
dikeluarkan. Maka perusahaan tidak mengalami keuntungan ataupun kerugian atau yang sering dinamakan dengan impas. Teknik dalam Analisa BEP yaitu untuk mempelajari hubungan antara biaya tetap /FC, biaya variabel/VC, keuntungan dan volume aktivitas. Atau sering juga disebut Cost-profit-volume analysis (CPV analysis).
Total keuntungan dan kerugian yang pada posisi 0, titik break even point dapat terjadi bila perusahaan dalam operasinya menggunakan biaya tetap dan volume penjualan hanya cukup untuk menutup biaya tetap dan biaya variabel. Akan berbeda apabila penjualan hanya cukup untuk menutup biaya variabel dan sebagian biaya tetap, maka perusahaan akan menderita kerugian. Demikian pula sebaliknya perusahaan akan memperoleh keuntungan, bila penjualan melebihi biaya variabel dan biaya tetap yang harus dikeluarkan.
Berdasarkan keadaannya, titik impas dibagi menjadi titik impas nilai penerimaan, titik impas volume penjualan dan titik impas harga. Titik impas nilai penerimaan terjadi ketika usaha tidak mengalami keuntungan maupun kerugian dalam nilai penjualan. Titik impas volume penjualan terjadi ketika usaha tidak mengalami kerugian dan keuntungan pada volume penjualan.
Sedangkan titik impas harga ketika tidak ada keuntungan maupun kerugian yang timbul pada suatu harga tertentu yang telah ditetapkan dalam usaha.
Analisis break even digunakan dalam analisis laporan keuangan untuk mengetahui : - Hubungan antara penjualan, biaya dan laba
- Struktur biaya tetap dan biaya variabel
- Kemampuan perusahaan memberikan margin untuk menutupi biaya tetap
- Kemampuan perusahaan dalam menekan biaya dan batas dimana perusahaan tidak mengalami laba dan rugi atau dikatakan impas.
Dengan adanya analisis break even point (tituk impas) tersebut akan sangat membantu perusahaan dalam perencanaan keuangan, penjualan dan produksi, sehingga perusahaan dapat mengambil keputusan untuk meminimalkan kerugian dan melakukan prediksi keuntungan yang diharapkan melalui penentuan sebagai berikut :
- Harga jual persatuan - Produksi minimal
- Mendesain produk dan lain-lain
Ada beberapa hal yang perlu diketahui supaya dalam menentukan titik impas tersebut dapat ditentukan dengan tepat antara lain adalah sebagai berikut :
- Tingkat laba yang ingin dicapai dalam suatu periode
- Kapasitas produksi yang tersedia atau yang mungkin dapat ditingkatkan - Besarnya biaya yang harus dikeluarkan, mencakup biaya tetap maupun biaya
variabel
Analisis break even point secara umum dapat memberikan informasi kepada perusahaan pada pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya dan tingkat keuntungan yang akan diperoleh pada level penjualan tertentu. Dan dapat membantu perusahaan dalam mengambil keputusan mengenai hal-hal sebagai berikut:
- Jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak mengalami kerugian
- Jumlah penjualan yang harus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu - Seberapa jauh berkurangnya penjualan agar perusahaan tidak mengalami kerugian - Untuk mengetahui efek perubahan harga jual, biaya dan volume penjualan
terhadap keuntungan yang diperoleh.
Ada 4 konsep penggunaan break even point 1. Fixed cost/biaya tetap
Artinya biaya tetap atau tidak berubah meskipun volume produksi berubah 2. Variable cost/biaya variabel
Artinya biaya berubah-ubah sesuai dengan perubahan volume produksi 3. Penghasilan/revenue
Merupakan jumlah pendapatan yang diterima oleh penjual barang 4. Laba/profit
Merupakan sisa penghasilan setelah dikurangi biaya tetap dan biaya variabel
Ada dua cara untuk menentukan titik impas yaitu dengan melakukan pendekatan Teknik persamaan dan pendekatan grafis.
a. Penentuan impas dengan Teknik persamaan dilakukan dengan rumus sebagai berikut :
Biaya tetap Impas (dalam satuan produk yang dijual) =
Harga jual persatuan - biaya variabel persatuan
Atau
Biaya tetap Impas (dalam rupiah penjualan) =
Biaya variabel 1-
Harga jual per unit Atau
Impas (dalam rupiah penjualan = unit impas x harga jual per unit) Contoh kasus :
Titik impas dalam meter kain jika diketahui harga jual per meter Rp 10.000, biaya variable permeter Rp 6.000 dan biaya tetap total Rp 20.000.000.
Biaya tetap Impas (dalam satuan produk yang dijual) =
Harga jual persatuan - biaya variabel persatuan
20.000.000 =
10.000 – 6.000 = 5000 meter Impas dalam rupiah = unit impas x harga jual per unit = 5000 meter x Rp. 10.000 = Rp 50.000.000
Jadi titik impas akan tercapai ketika penjualan mencapai 5000 meter kain atau nilai penjualan telah mencapai Rp 50.000.000
b. Perhitungan impas dapat dilakukan juga dengan menentukan titik pertemuan antara garis pendapatan penjualan dengan garis biaya dalam suatu grafik. Mulyadi (2005:250)
menyatakan titik pertemuan antara garis pendapatan penjualan dengan garis biaya merupakan titik impas.
gambar 1. Analisis bep cara grafik. Diakses: 24 Oktober 2024 c. Perhitungan impas multiproduk
Beberapa perusahaan memproduksi lebih dari satu produk. Perhitungan break even pointnya tidaklah berbeda. Penghitungan multiproduk, cara yang dapat digunakan adalah dengan mengidentifikasi bauran penjualan (sales mix) dari produk-produk yang
dipasarkan. Bauran penjualan/sales mix adalah kombinasi relatif dari berbagai produk yang dijual perusahaan (Hansen dan Mowen, 2011;16)
Analisis Break even point ini di asumsikan bahwa tidak ada perubahan dalam penjualan campuran (sales mix). Metode - metode perhitungan yang dapat digunakan untuk menghitung titik impas multiproduk adalah :
I. Biaya tetap total BEP total =
Biaya variabel total 1-
penjualan total
II.
Biaya tetap total BEP total =
MIR total
Dimana MIR total : Marginal Income Ratio Total
III. BEP total = Biaya tetap total + biaya variable pada BEP total + nol Sumber : Djarwanto (2010:242)
II.3 Perencanaan laba II.3.1 Laba
Laba adalah perbedaan antara pendapatan dengan beban, jika pendapatan melebihi beban maka hasilnya adalah laba (Simamora, 2000:25). Laba merupakan selisih pendapatan dan keuntungan setelah dikurangi beban dan kerugian. Laba merupakan salah satu pengukur aktifitas operasi dan dihitung berdasarkan atas dasar aktual (Subramanyan, 2003:407).
Laba merupakan suatu kelebihan pendapatan atau keuntungan yang layak diterima oleh perusahaan, karena perusahaan tersebut telah melakukan
pengorbanan untuk kepentingan lain pada jangka waktu tertentu. Laba diperlukan untuk mengetahui konstribusi produk dalam menutupi biaya nonproduksi.
II.3.2 Pengertian Perencanaan Laba
Tujuan akhir dalam menjalankan perusahaan adalah untuk memperoleh laba yang sebesar-besarnya. Laba dijadikan dasar ukuran kinerja kemampuan manajemen dalam mengoperasikan harta perusahaan. Laba harus direncanakan dengan teliti agar manajemen dapat mencapainya secara efektif. Perencanaan laba merupakan titik awal perusahaan mengambil suatu keputusan suatu keputusan yang berhubungan dengan kehiduan operasional perusahaan.
Perencanaan laba adalah pengembangan dari suatu rencana operasi, guna mencapai cita-cita dan tujuan perusahaan. Laba adalah penting dalam
perencanaan karena tujuan utama dari suatu rencana adalah laba yang memuaskan (Carter, 2009 : 4).
Perencanaan laba, sebaiknya perusahaan mempertimbangkan beberapa faktor seperti yang di ungkapkan oleh Carter ( 2009 : 5 ) yakni :
A. Laba atau rugi yang di akibatkan dari volume penjualan.
B. Volume penjualan yang di perlukan untuk menutup semua biaya dan menghasilkan laba yang mencukupi untuk membayar deviden serta menyediakan kebutuhan bisnis masa depan.
C. Titik impas / Break even point.
D. Volume penjualan yang dapat di capai dengan kapasitas operasi sekarang.
E. Kapasitas operasi yang diperlukan untuk mencapai tujuan laba.
F. Tingkat pengembalian atas modal yang di gunakan II.3.3 Manfaat Dan Kekurangan Perencanaan Laba
Perencanaan laba sangatlah penting dan membawa begitu banyak manfaat terhadap perusahaan. Dengan adanya perencaan laba, perusahaan mampu
menganalisa dan membuat sebuah keputusan. Dalam bukunya, Carter ( 2009 : 7 ) menguraikan beberapa manfaat perencanaan laba, yakni :
a. Perencaaan laba menyediakan suatu pendekatan yang disiplin terhadap identifikasi dan penyelesaian masalah.
b. Perencanaan laba menyediakan arahan ke semua tingkat manajemen.
c. Perencanaan laba meningkatkan koordinasi.
d. Perencanaan laba menyediakan suatu cara untuk memperoleh ide dan kerja sama dari semua tingkatan manajemen.
e. Anggaran menyediakan suatu tolak ukur untuk mengevaluasi kinerja aktual dan meningkatkan kemampuan individu-individu
Sedangkan kekurangan dari perencanaan laba yakni :
a. Peramalan bukanlah suatu ilmu pengetahuan pasti ; terdapat sejumlah pertimbangan dalam estimasi manapun.
b. Anggaran dapat memfokuskan perhatian manajemen pada cita-cita ( seperti tingkat produksi yang tinggi atau tingkat penjualan kredit yang tinggi ) yang tidak selalu sesuai dengan tujuan keseluruhan organisasi.
c. Perencanaan laba harus memperoleh komitmen dari manjemen puncak dan kerjasama dari semua anggota manajemen.
d. Perencanaan laba tidak menghilangkan atau menggantikan peranan administrasi.
e. Penyusunanya memakan waktu II.4 Margin of safety
“ Margin of Safety atau tingkat keamanan merupakan hubungan atau selisih antara penjualan tertentu ( sesuai anggaran ) dengan penjualan pada titik impas, artinya batas aman yang digunakan untuk mengetahui berapa besar penjualan yang dianggarkan untuk mengantisipasi penurunan penjualan agar tidak mengalami kerugian” ( Kasmir, 2010 : 178 ).
Tujuan menghitung Margin of Safety adalah untuk memberikan informasi sejauh mana volume penjualan yang direncanakan tersebut boleh turun untuk menjaga agar perusahaan tidak mengalami kerugian. Berikut merupakan rumus yang digunakan untuk menghitung Margin of Safety :
MoS = Penjualan yang direncanakan – penjualan pada titik impas Margin of Safety
MoS Ratio = x 100%
Penjualan yang direncanakan
Penjualan yang dianggarkan – penjualan BEP
Mos Ratio = x 100%
Penjualan yang dianggarkan
II.5 Analisis hubungan Break even Point dengan laba
Tujuan utama sebuah perusahaan adalah untuk mendapatkan keuntungan yang optimal, hal ini dapat terlaksana jika disertai dengan peningkatan jumlah penjualan poduk. Rencana strategis untuk meningkatkan volume penjualan harus dilakukan oleh manajemen untuk mendapatkan keuntungan yang maksimal dengan mempertimbangkan berbagai usulan kegiatan yang berakibat pada perubahan harga jual, volume penjualan, biaya tetap dan biaya variabelnya
Munawir ( 2007 : 184 ) menjelaskan bahwa pencapaian laba yang maksimal, dapat di tempuh dengan melakukan langkah sebagai berikut :
a. Menekan biaya produksi maupun biaya operasi serendah mungkin dengan mempertahankan harga jual dan volume penjualan yang ada.
b. Menentukan harga jual sesuai dengan laba yang di kehendaki c. Meningkatkan volume penjualan sebesar mungkin
Ketiga komponen diatas mempunyai hubungan yang sangat erat dan berkaitan.
Biaya akan menentukan harga jual, harga jual akan mempengaruhi volume penjualan, sementara itu volume penjualan mempengaruhi biaya. Dengan keterkaitan tersebut, analisis Break Even Point dapat digunakan untuk mengetahui keterkaitan ketiganya.
Analisa ini juga dapat membantu perencanaan kegiatan sehingga dapat digunakan untuk menentukan target penjualan optimal sehingga tujuan perusahaan dalam mencapai laba maksimal dapat terpenuhi.
II.6 BEP dengan perubahan
Titik impas (BEP) dalam praktiknya akan berubah seiring terjadinya berbagai perubahan kondisi lingkungan dan kebijakan. Artinya pihak manajemen harus selalu mengantisipasi apabila terjadi perubahan-perubahan yang akan menyebabkan perubahan perolehan titik impas. Berikut adalah berbagai sebab yang mengakibatkan perubahan titik impas :
1. Pengaruh perubahan harga jual perunit
Jika harga jual perunit mengalami kenaikan atau penurunan, maka nilai titik impas akan ikut berubah. Jika harga perunit mengalami kenaikan, maka nilai titik impas akan mengalami penurunan, begitu pula sebaliknya. Jika harga jual perunit turun, maka nilai titik impas akan naik.
2. Pengaruh perubahan jumlah biaya tetap
Dalam analisis titik impas, biaya tetap secara total diasumsikan tetap (konstan). Jadi apabila ada perubahan biaya tetap, otomatis titik impas akan berubah. Jika biaya tetap naik maka nilai titik impas juga akan naik. Sebaliknya jika biaya tetap turun maka nilai titik impas akan ikut turun. Perubahan biaya tetap biasanya diakibatkan karena adanya tambahan kapasitas produksi, ada kenaikan atau penurunan (efisiensi).
3. Pengaruh perubahan jumlah biaya variabel
Titik impas juga akan berubah apabila terjadi perubahan biaya variabel, baik kenaikan ataupun penurunan.
4. Pengaruh perubahan penjualan campuran
Penjualan campuran merupakan gambaran perimbangan penjualan antara beberapa macam produk yang dihasilkan suatu perusahaan. Oleh karena itu, pengaruh ini berlaku apabila perusahaan memiliki dua macam produk atau lebih.
5. Penentuan harga jual minimum
Setiap perusahaan pasti selalu menetapkan keuntungan yang ingin diperoleh sebelum menjalankan suatu usaha. Oleh karenanya, perlu ditetapkan penjualan minimum yang harus dicapai sebelum memproduksi barang sehingga keuntungan dapat tercapai sesuai target yang telah di tetapkan.
II.7 Kelemahan dari analisis titik impas
Disamping memiliki tujuan dan mampu memberikan manfaat yang cukup banyak bagi pemimpin perusahaan, analisis titik impas juga memiliki beberapa kelemahan. Berikut beberapa kelemahan analisis titik impas :
a. Perlu asumsi
Artinya titik impas membutuhkan banyak asumsi, terutama mengenai hubungan antara biaya dengan pendapatan. Padahal terkadang asumsi yang digunakan sudah sesuai dengan realita yang terjadi ke depan.
b. Bersifat statis
Artinya analisis ini hanya digunakan pada titik tertentu, bukan pada suatu periode tertentu c. Tidak digunakan untuk mengambil keputusan akhir
Artinya analisis titik impas hanya baik digunakan jika ada penentuan kegiatan lanjutan yang dapat dilakukan
d. Tidak menyediakan pengujian aliran kas yang baik
Artinya jika aliran kas telah ditentukan melebihi aliran kas yang harus dikeluarkan, proyek dapat diterima dan hal-hal lainnya dianggap sama
e. Hubungan penjualan dan biaya
Hubungan penjualan dan biaya adalah dalam hal biaya, jika penjualan dilakukan dalam kapasitas penuh, tetapi memerlukan tambahan penjualan, akan ada tambahan biaya tenaga kerja atau upah yang mengakibatkan naiknya biaya variabel dan jika diperlukan tambahan peralatan atau pabrik. Maka biaya tetap juga akan meningkat
f. Kurang mempertimbangkan resiko yang terjadi selama masa penjualan
Artinya selama masa penjualan begitu banyak resiko yang mungkin dihadapi, misalnya kenaikan harga bahan baku, yang akan berpengaruh terhadap harga jual dan pada
akhirnya akan berpengaruh pada jumlah penjualan secara keseluruhan, baik unit maupun rupiah.
g. Pengukuran kemungkinan penjualan
Artinya jika hendak membuat grafik pulang pokok yang didasarkan kepada harga penjualan yang konstan, untuk melihat kemungkinan ada pada berbagai tingkat harga harus dibuatkan semua grafik untuk tiap tingkat harga.
Namun, meskipun analisis titik impas memiliki banyak kelemahan, manajemen masih dapat menggunakannya sebagai salah satu alat perencanaan keuangan, terutama perencanaan laba, produksi, maupun perencaaan penjualan ke depan. Hanya saja bagaimana perusahaan dapat melihat kelemahan di atas sebagai bahan koreksi atau pertimbangan lain dalam menentukan kebijakannya.
KESIMPULAN
Dengan adanya analisis titik impas (break even analysis) adalah bahwa perusahaan dapat
mengetahui pada titik penjualan berapa biaya total sama dengan pendapatan total, sehingga tidak ada laba maupun rugi. Analisis ini membantu manajemen memahami jumlah minimum unit produk yang harus dijual agar bisnis tidak merugi.
Selain itu analisis ini juga berguna dalam perencanaan keuangan, penetapan harga dan pengambilan keputusan terkait pengembangan bisnis atau pengendalian biaya. Dengan mengetahui titik impas, perusahaan dapat membuat strategi yang lebih baik untuk mencapai profitabilitas.
DAFTAR PUSTAKA
Bibliography
Az-Zahra, U., Jabir, F., & Rajab, Z. (2021). Analisis Titik Impas. Makasar: Universitas Islam Negeri Alaudin.
Chalil, D. C. (2018). Titik Impas dan Perencanaan Laba dalam Bisnis. Jurnal Mitra Manajemen.
Rosario, R. (2013). Analisis Biaya Volume Laba Sebagai Upaya Merencanakan Volume Penjualan Kamar dan Laba Jangka Pendek pada Hotel Sintesa Peninsula Manado . cendekia.