Sejak tahun 1970-an, pemerintah telah menggulirkan kembali program peningkatan kesejahteraan yang meliputi pendidikan, kesehatan perorangan, kesehatan reproduksi dan pengentasan kemiskinan. Salah satu kebijakan yang selaras dengan MDGs adalah implementasi kebijakan Jaring Pengaman Sosial (SPS), yang meliputi SPS di bidang pendidikan, kesehatan, dan pembangunan daerah sebagai upaya penanggulangan kemiskinan. Padahal, pengentasan kemiskinan dalam pembangunan jangka menengah (MDT) ditargetkan lebih cepat daripada MDGs itu sendiri.
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat diketahui bahwa tujuan dari kegiatan Laporan Capaian Pembangunan MDG di Kabupaten Asmat adalah. Kebijakan utama penanggulangan kemiskinan di daerah dilaksanakan melalui program penanggulangan kemiskinan (pro-poor), perluasan lapangan kerja (pro-job) dan pertumbuhan ekonomi (pro-growth) yang ditujukan untuk pemerataan distribusi pendapatan antar kelompok masyarakat, mengurangi beban masyarakat miskin. , pemenuhan kebutuhan dasar dan pemerataan pembangunan antar daerah. Pemerintah daerah (provinsi) mendukung penuh kabupaten/kota sebagai daerah percontohan implementasi MDGs dengan memberikan bantuan keuangan.
Hal ini antara lain karena upaya penanggulangan kemiskinan merupakan upaya terpadu yang harus dilakukan oleh semua pihak, termasuk masyarakat miskin itu sendiri, dengan komitmen yang kuat dari seluruh unsur pimpinan seperti pemerintah, organisasi masyarakat dan kelompok masyarakat. Dalam kaitannya dengan sosial budaya masyarakat, upaya pengentasan kemiskinan tidak akan berhasil kecuali disertai dengan program penyadaran masyarakat, yaitu upaya untuk mengurangi atau bahkan menghilangkan mentalitas dan budaya miskin dengan mengingatkan, membujuk dan mendorong masyarakat. untuk mencoba bangkit dari kemiskinan dengan melakukan kerja keras dan membiasakan rasa malu menerima bantuan sebagai orang miskin.
MENURUNKAN ANGKA
Menurunkan Angka Kematian Balita sebesar dua-pertiganya
Menurunkan angka kematian ibu sebesar tiga-perempatnya dalam
MEMERANGI HIV/AIDS, MALARIA DAN PENYAKIT
Mengendalikan penyebaran HIV dan AIDS dan mulai
Mengendalikan penyakit
MEMASTIKAN KELESTARIAN
Memadukan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan
Menurunkan proporsi penduduk tanpa akses terhadap
Mencapai perbaikan yang berarti dalam kehidupan
MEMBANGUN KEMITRAAN
Mengembangkan sistem keuangan dan perdagangan yang
Menangani hutang negara berkembang melalui upaya
Bekerjasama dengan negara lain untuk mengembangkan dan
Bekerjasama dengan swasta dalam memanfaatkan teknologi
Zainuddin
- Pelaksanaan Penanggulangan Sampah Di Kota Pekanbaru
- Menelisik Pelaksanaan Pengawasan DPRD Kota
- Hambatan dalam Pelaksanaan Fungsi Pengawasan
- Mengatasi Hambatan dalam
- Rumusan Masalah
- Maksud dan Tujuan Penelitian 1. Maksud Penelitian
- Kegunan Penelitian 1. Kegunaan Praktis
- Melalui hasil dari penelitian ini, diharapkan dapat memecahkan
- Kegunaan Akademis
- Pendapatan Asli Daerah Menurut Halim & Kusufi
- Kerangka Pemikiran
- Hipotesis
- Operasionalisasi Variabel
- Tenik Pengumpulan Data 1. Penelitian lapangan
- Unit Analisis
- Hasil Penelitian
- Pembahasan
- Efektivitas
- Populasi dan Sampel
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Objek Penelitian
- Analisis Deskriptif Variabel Imple- mentasi Kebijakan (X)
- Analisis Deskriptif Variabel Efektivitas (Y)
- Analisis Koefisien Korelasi Pearson Product Moment
- Analisis Koefisien Determinasi Koefisien determinasi diperoleh
- Uji Signifikasi
- Saran
Pada tahun 2014 luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung baru mencapai 12,14% dari 30% total luas Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kota Bandung. Pemanfaatan ruang terbuka hijau yang tidak efisien erat kaitannya dengan implementasi kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) di Kota Bandung yang tidak berjalan maksimal. Efisiensi pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung belum optimal, hal ini terlihat dari adanya indikasi permasalahan.
Objek penelitian dalam penelitian ini adalah Dinas Tata Ruang dan Permukiman (DISTARCIP) sebagai pelaksana tata ruang kota Bandung dan Dinas Pemakaman dan Pertamanan (DISCAMTAM) sebagai instansi pemerintah daerah kota Bandung yang berwenang mengelola ruang terbuka hijau di Bandung. Kota. Untuk melihat keberhasilan implementasi kebijakan RTRW Kota Bandung dapat diukur melalui isi kebijakan dan konteks kebijakan. Isi kebijakan dalam penelitian ini lebih mengacu pada bagaimana posisi pelaksana kebijakan RTRW Kota Bandung mempengaruhi implementasi kebijakan RTRW Kota Bandung.
Salah satu subvariabel yang digunakan dalam penelitian ini untuk mengukur keberhasilan implementasi kebijakan RTRW Kota Bandung adalah konteks kebijakan. Untuk melihat efektivitas pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung dapat diukur dengan melihat tujuan organisasi dan pelaksanaan fungsi atau cara untuk mencapai tujuan tersebut. Dari hasil koefisien determinasi diketahui besarnya dampak implementasi kebijakan RTRW terhadap efektivitas pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung sebesar 57,76%, sedangkan sisanya sebesar 42,24%. . dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini.
Hasil penelitian terhadap subvariabel content kebijakan dan konteks kebijakan tentunya dapat memberikan gambaran bagaimana implementasi kebijakan RTRW berpengaruh signifikan terhadap efektivitas pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Peran pelaksana kebijakan RTRW tentunya menjadi tolok ukur keberhasilan implementasi kebijakan RTRW di Kota Bandung. Hal ini disebabkan pada dasarnya permasalahan pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung tidak terlepas dari ketiga implementasi tersebut.
Hal ini menunjukkan bahwa penyusunan materi RTRW berpengaruh terhadap efisiensi pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Perlunya kerjasama yang terintegrasi antara pemerintah, swasta dan masyarakat tentunya mempengaruhi efisiensi penggunaan ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Faktor partisipasi masyarakat dalam pengelolaan dan pemeliharaan ruang terbuka hijau merupakan wujud dari pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung.
Jika kita lanjutkan dari hal tersebut maka dapat dilihat bahwa partisipasi masyarakat sangat berpengaruh terhadap efisiensi penggunaan ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Jadi Ho ditolak yang artinya implementasi kebijakan RTRW berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung. Adanya pengaruh positif dan signifikan terlihat dari berbagai arahan kebijakan RTRW Kota Bandung yang berimplikasi pada efektifitas pemanfaatan ruang terbuka hijau di Kota Bandung.
Pengaruh Lingkungan Sosial Terhadap Efektivitas Pelaksanaan Kebijakan Penataan Ruang Wilayah Kota Bandung (Studi Pemanfaatan Ruang di Wilayah Bandung Utara).
ANALISISATAS PENGUKURAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH
Definisi Kinerja dan Pengukuran Kinerja
Masalah pengukuran kinerja ini, khususnya yang berkaitan dengan metrik yang fokus pada penyerapan anggaran oleh instansi pemerintah, menjadi perhatian penulis dan menurut pandangan penulis merupakan masalah yang cukup krusial yang perlu kita perhatikan. Pengukuran kinerja sektor publik (pemerintah) digunakan untuk mengetahui sejauh mana kinerja telah dicapai dalam kurun waktu tertentu dan untuk menunjukkan tantangan atau hambatan pencapaian kinerja. Pengukuran kinerja sektor publik Sistem pengukuran kinerja sektor publik Mardiasm adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu manajer publik menilai pencapaian strategi melalui alat ukur finansial dan non finansial.
Tujuan pengukuran kinerja sektor publik meliputi: (1) membantu meningkatkan kinerja pemerintah, (2) alokasi sumber daya dan pengambilan keputusan, dan (3) mewujudkan akuntabilitas publik dan meningkatkan komunikasi kelembagaan. Kinerja diukur dengan menggunakan pengukuran kinerja dimana matriks digunakan untuk mengukur efisiensi atau efektivitas suatu kegiatan (Matthews, 2011). Meskipun ada sedikit bukti efektivitasnya, sistem pengukuran kinerja terus diimplementasikan berdasarkan asumsi bahwa sistem pengukuran kinerja ini akan berdampak positif terhadap kinerja (Bourne, Kennerley & Franco-Santos, 2005).
Ada tiga komponen dalam sistem pengukuran kinerja menurut Poister (2003), antara lain: (1) pengumpulan dan pengolahan data, (2) analisis, dan (3) tindak lanjut atau pengambilan keputusan. Hasil kajian literatur sistem pengukuran kinerja juga telah dilakukan oleh Powers (2009) yang mengusulkan kerangka kerja evaluasi efektivitas sistem pengukuran kinerja. Konsep lain pengukuran kinerja di sektor publik, menurut Mardiasmo, mengacu pada konsep value for money (VFM).
Efisiensi berkaitan dengan hubungan antara keluaran berupa barang atau jasa yang dihasilkan dengan sumber daya yang digunakan untuk menghasilkan keluaran. Instruksi Presiden (INPRES) Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah mewajibkan setiap instansi pemerintah mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas dan fungsinya, termasuk pengelolaan sumber daya yang ada berdasarkan rencana strategis. Menjadikan otoritas publik akuntabel, sehingga dapat bekerja secara efisien, efektif, dan tanggap terhadap aspirasi masyarakat dan lingkungannya.
Selanjutnya SAKIP dalam PP 8 Tahun 2006 tentang pelaporan keuangan dan kinerja badan publik ini dikembangkan secara terintegrasi dengan sistem perencanaan, sistem anggaran, sistem keuangan dan sistem akuntan publik. SAKIP juga tertuang dalam Perpres No. 29 Tahun 2014 tentang Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah, yang menyatakan bahwa SAKIP adalah rangkaian sistematis berbagai kegiatan, alat dan prosedur yang dirancang untuk tujuan menentukan dan mengukur, mengumpulkan data, mengklarifikasi, meringkas dan pelaporan kinerja badan pemerintah dalam kaitannya dengan akuntabilitas dan peningkatan kinerja badan pemerintah. Mengenai pedoman teknis perjanjian kinerja, pelaporan kinerja dan tata cara review laporan kinerja instansi pemerintah diterbitkan PERMENPAN No.
Rencana Strategis
Pelaksanaan SAKIP dilakukan untuk menghasilkan laporan kinerja berkualitas yang selaras dan sejalan dengan tahapan, antara lain:
Perjanjian Kinerja
Pengukuran kinerja
Pengelolaan Kinerja
Pelaporan Kinerja
Review dan Evaluasi Kinerja Review merupakan langkah
- Rumusan Masalah
- Tujuan
- Kegunaan
- Partai Politik
- Kepemimpinan
- Syarat-Syarat Kepemimpinan Agar seorang pemimpin dapat
- Perempuan
- Perempuan dalam Islam
- Pro dan Kontra kepemimpinan politik Perempuan
- Kepemimpinan Politik Megawati Karier politik Megawati terbilang
Perempuan seringkali mendapat perlakuan diskriminatif karena dianggap berada di bawah laki-laki, seperti tidak diperbolehkan melakukan aktivitas di luar rumah, namun perempuan berusaha mendobrak pemahaman tersebut dengan banyaknya perempuan yang bekerja di luar rumah dan berpartisipasi dalam politik bahkan menjadi seorang pemimpin. Kepemimpinan perempuan dalam politik menuai pro dan kontra, bagi ulama konservatif dan tradisionalis, perempuan tidak diperbolehkan menjadi pemimpin apalagi jika menduduki posisi tertinggi, sedangkan yang memperbolehkan perempuan memimpin dalam kegiatan politik diwakili oleh ulama moderat yang berasal dari pandangan bahwa kedudukan antara laki – laki dan perempuan adalah sama, maka jika perempuan memiliki kemampuan untuk memimpin, maka diperbolehkan. Perempuan dianggap tidak layak memegang kekuasaan atau memiliki keterampilan seperti laki-laki, karena banyak yang merasa perempuan adalah makhluk yang lemah dan perlu dilindungi.
Perempuan sebagai bagian dari masyarakat seringkali dipandang sebagai masyarakat yang terpinggirkan sehingga terjadi ketimpangan status sosial antara laki-laki dan perempuan. Pada dasarnya Islam tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan, yang membedakan mereka hanyalah amal dan ketakwaannya kepada Allah. Artinya: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, Kami akan memberikan kepada mereka kehidupan yang baik dan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka miliki.
Ciri-ciri perempuan di atas kemudian diperkuat oleh struktur budaya yang ada, terutama adat istiadat, sistem sosial ekonomi dan pengaruh pendidikan yang membuat posisi perempuan berada di bawah laki-laki. Namun dalam perkembangannya kaum feminis mengupayakan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang, termasuk partisipasi perempuan dalam politik praktis. Kalimat ini menunjukkan bahwa memberi roti kepada perempuan sudah menjadi kelaziman bagi laki-laki, karena dalam keluarga laki-laki sebagai kepala keluarga wajib memenuhi kebutuhan keluarganya.
Dari hadits ini, para ulama berpendapat bahwa syarat al imam al a'zhom (kepala negara atau presiden) harus laki-laki. Aku belum pernah melihat orang yang kurang akal dan iman untuk mengguncang pria yang kuat, kecuali salah satu dari kalian, wahai wanita. Perempuan telah menjadi setara dengan laki-laki, hal ini terlihat dari banyaknya perempuan yang mampu bekerja dan menduduki jabatan pimpinan, tanpa melupakan kewajibannya sebagai ibu terhadap anaknya dan istri terhadap suaminya, anak terhadap ibu dan bapaknya.
Yang menimbulkan masalah dan perdebatan adalah ketika terjadi benturan kepentingan, budaya dan egoisme pribadi antara laki-laki dan perempuan. Saat ini, banyak wanita bahkan bertukar peran dengan pria, dan banyak wanita tangguh yang mampu melakukan pekerjaan yang dilakukan oleh pria. Dalam kedudukan antara wanita dan pria dalam Islam adalah sama, yang membedakan mereka adalah iman dan taqwa kepada Allah.