• Tidak ada hasil yang ditemukan

Annisa Surya Putri 2403202010030 Makalah Hukum Kepailitan

N/A
N/A
Rafiqa Nuzula

Academic year: 2025

Membagikan "Annisa Surya Putri 2403202010030 Makalah Hukum Kepailitan"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

1

ANALISIS AKIBAT HUKUM PASCA PUTUSAN PENGADILAN NIAGA TERAHADAP PERKARA PT DIRGANTARA

Disusun Oleh:

Annisa Surya Putri 2403202010030

Mata Kuliah:

Hukum Kepailitan

MAGISTER KENOTARIATAN FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS SYIAH KUALA

2025

(2)

1 BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG

Pembangunan di bidang ekonomi merupakan salah satu tonggak yang menopang diwujudkannya masyarakat yang makmur. Adapun faktor-faktor yang menghambat pertumbuhan perekonomian suatu negara meliputi kebangkrutan, pandemi, inflasi,2 korupsi, penurunan ekonomi yang menyebabkan banyak perusahaan yang terpuruk dan akhirnya pailit.1

Undang-Undang yang mengatur tentang Kepailitan sekarang ini Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang. Undang- undang ini dibuat dengan cakupan yang lebih luas. Cakupan yang luas ini diperlukan, karena adanya perkembangan dan kebutuhan hukum dalam masyarakat sedangkan ketentuan yang selama ini berlaku belum memadai sebagai sarana hukum untuk menyelesaikan masalah utang-piutang secara adil, cepat, terbuka, dan efektif.

Dengan adanya undang-undang ini diharapkan dapat menyelesaikan persoalan- persoalan seputar kepailitan dan kewajiaban pembayaran utang. Undang-undang ini juga mengakomodir asas-asas dalam hukum kepailitan yaitu, asas kesinambungan, asas kelangsungan usaha, asas keadilan, asas integrasi.

Sejak Tahun 1997 kondisi perekonomian nasional mengalami keterpurukan. Kondisi ini sangat berpengaruh besar terhadap iklim usaha di Negara kita. Banyak perusahaan- perusahaan baik kecil, sedang maupun perusahaan besar tidak mampu mempertahankan kelangsungan usahanya. Perusahaan-perusahaan banyak melakukan efisiensi usaha untuk tetap dalam kondisi yang survive. Efisiensi tersebut dilakukan untuk mengurangi jumlah biaya produksi, salah satu efisiensi yang dilakukan adalah dengan melakukan Pemutusan Hubungan kerja (PHK) masal.2

1 D. P. Pradiendi, D. T. Muryati, dan M. I. Aryaputra, “Tanggung Jawab Kurator Dalam Pemberesan Terhadap Hak Pekerja Selaku Kreditur Preferen Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67 Tahun 2013,”

SIJALU-Sistem Informasi Jurnal Ilmiah ISM, 2015, hlm. 2.

2 R. B. Kartoningrat, “Curator Liability for Management and Settlement of Bankruptcy Assets Based on Theoretical Justice Perspective Review,” South Eash Asia Journal of Contemporary Business, Economics and Law, Vol. 28, no. 3 2023, hlm. 9.

(3)

2 PT. Dirgantara Indonesia (Persero) merupakan salah satu perusahaan penerbangan di Asia yang berpengalaman dan berkompetensi dalam rancang bangun, penerbangan, dan manufacturing pesawat terbang. PT. Dirgantara Indonesia sebagai suatu Badan Usaha Milik Negara pun juga ikut terimbas permasalahan krisis moneter tersebut. Dan upaya yang dilakukan juga sama, yaitu melakukan PHK masal terhadap jumlah karyawan.

Permasalahan pada PT. Dirgantara Indonesia tidak berhenti sampai disini saja. Imbas dari PHK massal tersebut berujung pada gugatan karyawan atas pesangon atau kompensasi pensiun yang belum selesai dibayar oleh pihak PT. Dirgantara Indonesia.3

Pada akhirnya PT Dirgantara Indonesia mengajukan pailit yang permohonan pernyataan Pailit diajukan pada tanggal 3 Juli 2007 oleh mantan karyawan PT. Dirgantara Indonesia yaitu Heryono, Nugroho dan Sayudi sebagai Kreditor (Pemohon) Terhadap PT.

Dirgantara (Termohon). Para Pemohon adalah termasuk dari 6.561 orang pekerja yang diputuskan hubungan kerjanya oleh termohon berdasarkan putusan Panitia Penyelesaian Perburuhan Pusat (P4 Pusat) No: 142/03/02-8/X/PHK/1-2004 tanggal 29 Januari 2004 yang telah berkekuatan hukum tetap.

Berdasarkan amar putusan P4 pusat menyebutkan bahwa : PT Dirgantara Indonesia wajib memberikan kompensasi pension dengan mendasarkan pada upah pekerja terakhir dan jaminan hari tua sesuai dengan Undang-Undang No. 3 Tahun 1992. Perhitungan dana pensiun menjadi kewajiban termohon untuk membayar kepada pemohon. Yang besarnya adalah: pemohon I: Rp. 83.347.862,82, pemohon II: Rp. 69.958.079,22, pemohon III: Rp.

74.040.827,91.

Kewajiban termohon untuk membayar kompensasi pensiun kepada pemohon adalah merupakan hutang termohon kepada pemohon, utang tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih sejak Putusan P4 Pusat tanggal 29 Januari 2004. bahwa dengan tidak dilakukannya pembayaran oleh termohon, walaupun utang tersebut telah jatuh tempo dan dapat ditagih, maka termohon menurut Undang-Undang dapat dinyatakan pailit. Disamping pemohon, termohon juga mempunyai hutang kepada para pekerja lain dengan total 3500 orang sebesar Rp 291.726.254,06 dan kepada Bank Mandiri sebesar Rp. 125.658.033.228,00 oleh sebab itu telah memenuhi syarat untuk suatu badan Hukum dinyatakan pailit.

3 Jamin, Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 200), PT. Citra Aditya Bakti, 2007, hlm.

12.

(4)

3 Umumnya, perkara PKPU dan kepailitan dipicu atas adanya keadaan memaksa (force majeure) yang dapat dipergunakan sebagai dasar debitur untuk tidak melakukan pemenuhan terhadap kewajiban atau suatu keadaan yang disebabkan oleh situasi krisis di luar kendali debitur sehingga debitur terlambat atau bahkan tidak bisa memenuhi kewajibannya dimana debitur tersendat dalam memenuhi kewajibannya—apabila berlangsung dalam waktu yang lama, maka PKPU tersebut dapat beralih status menjadi pailit.

Apabila pengadilan niaga menetapkan suatu perusahaan dalam keadaan pailit, maka kekayaan debitur akan berada di bawah penyitaan umum dan debitur akan kehilangan haknya atas pengelolaan dan pengurusan kekayaannya dikarenakan telah dianggap tidak lagi mampu untuk melakukannya. Meski demikian, debitur tetap memiliki kewajiban untuk membayarkan utangutangnya kepada kreditur. 4

B. RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka masalah yang dapat dirumuskan dalam penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Apa syarat pengajuan pailit bagi suatu perusahaan?

2. Apa akibat hukum dari Pailit Perusahaan PT Dirgantara Indonesia?

3. Bagaimana pertimbangan hukum hakim dalam menjatuhkan putusan pada perkara PT.

Dirgantara Indonesia?

4 A. Ismail, “Analisis Alternatif Restrukturisasi Utang Atau Penutupan Perusahaan Pada Pandemi Covid-19 Melalui Pkpu, Kepailitan Dan Likuidasi,” Jurnal Kepastian Hukum Dan Keadilan 3, no. 1, 2022, hlm. 44–45.

(5)

4 BAB II PEMBAHASAN

A. SYARAT PENGAJUAN PAILIT PERUSAHAAN

Menurut pengertian yang diberikan dalam Black’s Law Dictionary, pengertian pailit dihubungkan dengan “ketidakmampuan untuk membayar dari seorang (debitor) atas utang- utangnya yang telah jatuh tempo. Ketidak mampuan tersebut harus disertai dengan suatu tindakan nyata untuk mengajukan, baik yang dilakukan secara sukarela oleh debitor sendiri, maupun atas permintaan pihak ketiga (di luar debitor), suatu permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan.5

Ketentuan mengenai syarat kepailitan diatur dalam Pasal 2 Ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU, yang menyebutkan bahwa debitur yang mempunyai dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh tempo dan dapat ditagih, dinyatakan pailit dengan putusan pengadilan, baik atas permohonannya sendiri maupun atas permohonan satu atau lebih kreditornya.

Syarat kepailitan yang telah terpenuhi dapat diajukan permohonan pernyataan pailit ke Pengadilan Niaga. Permohonan pailit tersebut harus diajukan oleh seorang penasihat hukum yang memiliki izin praktik, sesuai dengan ketentuan Pasal 7 Ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU. Namun, dalam Pasal 7 Ayat (2) UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU terdapat pengecualian apabila permohonan pailit diajukan oleh Kejaksaan, Bank Indonesia, Bapepam, dan Menteri Keuangan, Pasal tersebut dengan tegas meniadakan keharusan untuk menggunakan penasihat hukum dalam permohonan pailitnya.6

Berdasarkan syarat yang mendasar dari pengajuan permohonan pailit tersebut, maka terhadap kasus kepailitan PT. Dirgantara Indonesia sudah bisa dikatakan memenuhi syarat dasar kepailitan tersebut. Bahwa PT. Dirgantara Indonesia mempunyai kreditor-kreditor

5 Asikin, Zaenal, Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hlm. 55.

6Lontoh, Rudhy A, Kalimang, Deni dan Ponto, Benny, Penyelesaian Utang Piutang melalui Pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni, Bandung, 2001, hlm. 71.

(6)

5 yaitu mantan karyawan dan juga kreditor lain Bank Mandiri dan juga PT. Perusahaan Pengelola Aset (Persero).

B. AKIBAT HUKUM PAILIT PERUSAHAAN PT DIRGANTARA INDONESIA Saat Pengadilan Niaga memutuskan pailit suatu debitor maka putusan tersebut akan menimbulkan akibat hukum. Menurut M. Hadi Shubhan akibat yuridis dari putusan pailit terhadap harta kekayaan debitor maupun terhadap debitor adalah sebagai berikut:7

1. Putusan pailit dapat dijalankan terlebih dahulu (serta-merta) meskipun terhadap putusan tersebut masih dilakukan upaya hukum lebih lanjut;

2. Harta kekayaan debitor yang masuk harta pailit merupakan sita umum (public attachment, gerechtelijk beslag) beserta apa yang diperoleh selama kepailitan;

3. Debitor kehilangan wewenang dalam harta kekakayaan untuk mengurus dan melakukan perbuatan kepemilikan;

4. Segala perikatan yang terbit setelah putusan pailit tidak dapat dibayar dari harta pailit.

Suatu putusan pernyataan pailit dapat menimbulkan beberapa akibat hokum diantaranya dalah sebagai berikut:

1. Akibat hukum terhadap debitor pailit:

2. Akibat hukum terhadap harta kekayaan;

3. Akibat hukum terhadap perikatan;

4. Upaya hukum terhadap putusan pailit.

Permohonan Pailit terhadap PT. Dirgantara Indonesia yang diajukan oleh mantan karyawannya ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat berakhir pada putusan Pailit PT.

Dirgantara Indonesia. Selanjutnya setelah PT. Dirgantara Indonesia pada Tanggal 4 September 2007 dinyatakan Pailit, tentu membawa akibat hokum terhadap perusahaan tersebut. Menurut Munir Fuady, akibat yuridis tersebut berlaku kepada debitor dengan 2 (dua) model pemberlakuan, yaitu sebagai berikut:

1. Berlaku demi hukum

Akibat yang paling besar dari berlakunya demi hukum adalah berlaku sitaan umum atas seluruh harta debitor. Dengan akibat hukum yang besar tersebut,

7 Naning, Imron, Peranan dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004, hlm. 167

(7)

6 selayaknya hakim benar-benar cermat dalam mengambil keputusan pailit suatu perusahaan, apalagi menyangkut suatu BUMN yang berhubungan dengan kekayaan negara melalui penyertaan modal.

2. Untuk akibat hukum tertentu dari kepailitan berlaku rule of reason

Akibat-akibat hukum yang lain yang merupakan dampak kepailitan tersebut adalah menyangkut pembayaran kompensasi pensiun tersebut. Putusan pailit terhadap PT. Dirgantara Indonesia dirasa terlalu dini, karena Hakim seharusnya memperhatikan asas kelangsungan usaha dan asas keadilan yang ada pada Undang-Undang Kepailitan dan PKPU.

Setelah putusan pailit dijatuhkan, maka hakim akan menentuka kurator dan hakim pengawas, setelah ditentukan kurator dan hakim pengawas maka kurator kan melakukan perdamaian atau homologasi. Apabila upaya perdamaian gagal dilakukan dalam rapat pencocokan piutang, baik itu disebabkan karena tidak ditawarkan, tidak diterima, ataupun ditolak berdasarkan putusan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap, maka harta pailit dinyatakan dalam keadaan insolven.8

Oleh karenanya, kurator dapat mengupayakan cara agar harta pailit tidak berkurang—dan dapat memenuhi hak-hak kreditur yang tertunda. Salah satunya dengan cara melakukan penjualan harta pailit. Upaya penjualan aset pailit dapat dilakukan dengan upaya lelang sebagaimana diatur dalam Pasal 185 UU 37/2004. Sebelum dilakukan lelang, harta pailit terlebih dahulu di-appraisal untuk mengetahui nilai atau harga dari barang yang akan dijual. Hasil appraisal nantinya akan melahirkan 3 (tiga) tingkatan nilai barang, yakni nilai pasar, nilai wajar, dan nilai likuidasi.

Apabila upaya lelang tidak berhasil, maka atas izin hakim pengawas, curator dapat melakukan upaya penjualan dibawah tangan. Ketika kedua upaya belum juga berhasil, atas izin Hakim Pengawas, kurator dapat memutuskan tindakan atas pemberesan harta pailit termasuk melakukan peminjaman dalam rangka meningkatkan harta pailit kepada pihak ketiga.

8 R. B. Kartoningrat dan E. Krisharyanto, “Principles of Statutory Duty and Fiduciary Duty in The Responsibility of The Bankruptcy Curator,” Media Iuris, Vol. 6, No. 2, 2023, hlm. 211.

(8)

7 C. PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM PAILIT DALAM MEMUTUSKAN

PERKARA PT. DIRGANTARA

Perkara pailit antara PT Dirgantara Indonesia dengan Mantan Karyawannya ini di putuskan oleh hakim dengan beberapa pertimbangan dimana Termohon Pailit (PT Dirgantara Indonesia) menganggap bahwa Permohonan pailit cacad hukum karena pemohon pailit tidak mempunyai kepastian hukum untuk mengajukan permohonan pailit terhadap termohon pailit. Termohon pailit menyangkal adanya utang karena termohon pailit tidak memiliki utang atau kewajiban dalam bentuk apapun kepada pemohon pailit.

Permohonan Pailit diajukan berdasarkan Putusan P4P padahal atas Putusan P4P tersebut proses hukumnya belum selesai.

Unsur Utang dapat di tagih dalam Pasal 2 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak terpenuhi karena yang didalilkan tidak ada Unsur jatuh tempo dalam Pasal 2 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak terpenuhi karena tidak ada utang yang telah jatuh tempo atau utang yang menyatakan waktu pembayaranya dari termohon pailit kepada pemohon pailit. Unsur pembuktian sederhana dalam Pasal 8 Ayat (1) Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang tidak pernah terpenuhi karena utang yang didalilkan tidak pernah ada. Permohonan pailit cacat hukum karena utang yang didalilkan oleh pemohon pailit masih dalam taraf perselisihan dan saat ini perselisihan yang dimaksud sedang ditangani oleh Pusat Mediasi Nasional.

Maka berdasarkan hal tersebut, Majelis Hakim memberikan pertimbangan bahwa Majelis Hakim sependapat dengan pemohon bahwa termohon pailit PT. Dirgantara Indonesia tidak termasuk adalm kategori sebagai BUMN yang bergerak di bidang kepentingan publik yang seluruh modalnya terbagi atas saham sehingga dengan demikian pemohon pailit mempunyai kapasitas hukum untuk mengajukan permohonan pailit terhadap termohon pailit PT. Dirgantara Indonesia. Pertimbangan lain adalah bahwa majelis hakim menilai bahwa tidak cukup alasan bagi majelis hakim untuk mempertahankan eksistensi termohon pailit, hal ini dengan mendasarkan pada kinerja keuangan Termohon belum menunjukkan perbaikan yang berarti.

(9)

8 Berdasarkan ketentuan Pasal 2 ayat (1) Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, debitor dapat dinyatakan pailit apabila telah memenuhi persyaratan sebagai berikut:

1. Mempunyai dua atau lebih kreditor Setelah majelis hakim meneliti dengan seksama maka majelis hakim berpendapat bahwa syarat tersebut sudah terpenuhi, yaitu mempunyai lebih dari kreditur;

2. Tidak dapat membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih, syarat tersebut berdasarkan bukti-bukti telah terpenuhi.

Atas dasar pertimbangan-pertimbangan tersebut maka Majelis Hakim memutuskan sebagai berikut:

1. Mengabulkan permohonan pemohon untuk seluruhnya;

2. Menyatakan bahwa PT. Dirgantara Indonesia (persero) pailit dengan segala akibat hukumnya;

3. Mengangkat Taufik Nugroho,SH sebagi kurator dalam kepailitan ini;

4. Menunjuk H. Zulfahmi, SH, M.Hum, Hakim Niaga Jakarta Pusat sebagai Hakim Pengawas.

5. Membebankan kepada Termohon Pailit untuk membayar biaya perkara sebesar Rp.

5.000.000,00.

Putusan pailit terhadap PT. Dirgantara Indonesia dirasa terlalu dini, karena Hakim seharusnya memperhatikan asas kelangsungan usaha dan asas keadilan yang ada pada Undang-Undang Kepailitan dan PKPU. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada, kemudian PT. Dirgantara Indonesia melalui kementerian Keuangan mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung. Kemudian kasus kepailitan PT. Dirgantara Indonesia berujung pada Pembatalan Putusan Pailit oleh Mahkamah Agung yaitu dalam Putusannya Nomor : 075 K/Pdt. Sus/2007. Pembatalan putusan pailit tersebut berakibat hukum bahwa terhadap PT. Dirgantara Indonesia tetap dapat melanjutkan kegiatan usaha seperti biasanya.9

9 C. A. Sukma, H. Citra, dan D. Sommaliagustina, “Kedudukan Kurator Dalam Pemberesan Harta Pailit Sesuai Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 (Studi Kasus Putusan Nomor: 4/PDT.SUSPAILIT/ 2020/PN.NIAGA SBY),” JUDAKUM (Jurnal Dedikasi Hukum) 2, no. 3, 2023, hlm. 220

(10)

9 BAB III PENUTUP KESIMPULAN

Adanya Putusan Pengadilan Niaga Nomor 41/Pailit/2007/PN.Niaga/Jkt.Pst maka PT Dirgantara Indonesia (Persero) dinyatakan pailit, berdasarkan pertimbangan hukum Majelis Hakim yang telah sesuai dengan UU No. 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU yaitu terbukti dengan adanya dua atau lebih kreditor dan memiliki sedikitnya satu utang berupa kewajiban membayar kompensasi gaji dan dana pensiun dari putusan P4P yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.

Berdasarkan syarat yang mendasar dari pengajuan permohonan pailit tersebut, maka terhadap kasus kepailitan PT. Dirgantara Indonesia sudah bisa dikatakan memenuhi syarat dasar kepailitan tersebut. Bahwa PT. Dirgantara Indonesia mempunyai kreditor-kreditor yaitu mantan karyawan dan juga kreditor lain Bank Mandiri dan juga PT. Perusahaan Pengelola Aset (Persero).

Akibat hukum dari Putusan Pengadilan Niaga Nomor 41/Pailit/2007/PN.Niaga/ Jkt.Pst, yaitu PT Dirgantara Indonesia (Persero) dinyatakan Pailit dan tidak berwenang mengurus harta pailit.

Harta pailit tersebut kemudian diurus dan dibereskan oleh Kurator perorangan dan diawasi oleh Hakim Pengawas yang telah ditunjuk dalam putusan pailit. Atas putusan pailit tersebut maka seluruh harta perusahaan PT Dirgantara Indonesia (Persero) berada dalam sita umum dan terhadap putusan tersebut telah pula dilakukan upaya hukum hukum kasasi ke Mahkamah Agung.

Putusan pailit terhadap PT. Dirgantara Indonesia dirasa terlalu dini, karena Hakim seharusnya memperhatikan asas kelangsungan usaha dan asas keadilan yang ada pada Undang- Undang Kepailitan dan PKPU. Berdasarkan pertimbangan-pertimbangan hukum yang ada, kemudian PT. Dirgantara Indonesia melalui kementerian Keuangan mengajukan Kasasi ke Mahkamah Agung. Kemudian kasus kepailitan PT. Dirgantara Indonesia berujung pada Pembatalan Putusan Pailit oleh Mahkamah Agung yaitu dalam Putusannya Nomor : 075 K/Pdt.

Sus/2007. Pembatalan putusan pailit tersebut berakibat hukum bahwa terhadap PT. Dirgantara Indonesia tetap dapat melanjutkan kegiatan usaha seperti biasanya.

(11)

10

DAFTAR PUSTAKA

A.Ismail, “Analisis Alternatif Restrukturisasi Utang Atau Penutupan Perusahaan Pada Pandemi Covid-19 Melalui Pkpu, Kepailitan Dan Likuidasi,” Jurnal Kepastian Hukum Dan Keadilan 3, no. 1, 2022

Asikin, Zaenal, Hukum Kepailitan dan Penundaan Pembayaran di Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002.

C.A. Sukma, H. Citra, dan D. Sommaliagustina, “Kedudukan Kurator Dalam Pemberesan Harta Pailit Sesuai Undang-Undang No. 37 Tahun 2004 (Studi Kasus Putusan Nomor:

4/PDT.SUSPAILIT/ 2020/PN.NIAGA SBY),” JUDAKUM (Jurnal Dedikasi Hukum) 2, no. 3, 2023.

D.P. Pradiendi, D. T. Muryati, dan M. I. Aryaputra, “Tanggung Jawab Kurator Dalam Pemberesan Terhadap Hak Pekerja Selaku Kreditur Preferen Berdasarkan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 67 Tahun 2013,” SIJALU-Sistem Informasi Jurnal Ilmiah ISM, 2015.

Jamin, Ginting, Hukum Perseroan Terbatas (UU No. 40 Tahun 200), PT. Citra Aditya Bakti, 2007.

Lontoh, Rudhy A, Kalimang, Deni dan Ponto, Benny, Penyelesaian Utang Piutang melalui Pailit dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Alumni, Bandung, 2001.

Naning, Imron, Peranan dan Tanggung Jawab Kurator Dalam Pengurusan dan Pemberesan Harta Pailit, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2004.

R. B. Kartoningrat dan E. Krisharyanto, “Principles of Statutory Duty and Fiduciary Duty in The Responsibility of The Bankruptcy Curator,” Media Iuris, Vol. 6, No. 2, 2023.

1

Referensi

Dokumen terkait

37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU tersebut menentukan pula bahwa dalam hal putusan atas permohonan pernyataan pailit ditetapkan oleh Pengadilan Niaga yang berbeda

Pasal 1 butir 6 Undang-undang Kepailitan Nomor 37 Tahun 2004 menyebutkan secara jelas definisi mengenai utang : “Utang adalah kewajiban yang dinyatakan atau dapat dinyatakan dalam

Dalam Pasal 6 ayat (3) UU Kepailitan Tahun 2004, kewenangan untuk menolak permohonan pailit yang diajukan kepada pihak-pihak tersebut di atas, tidak lagi diletakkan kepada

Pengecualian harta pailit yang dapat disegel diatur dalam Pasal 22 Undang-undang Nomor 37 Tahun 2004 Tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang yang terdiri dari (a)

Dalam penelitian ini Menurut Undang-Undang Nomor 37 tahun 2004 tentang Kepailitan dan PKPU secara umum tugas Kurator adalah melakukan pengurusan dan/atau pemberesan harta pailit

37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diperoleh suatu kesimpulan bahwa dengan dilanjutkannya usaha dari debitur (perseroan)

37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang diperoleh suatu kesimpulan bahwa dengan dilanjutkannya usaha dari debitur (perseroan)

Syarat-syarat untuk mengajukan permohonan pernyataan pailit dapat dilihat pada pasal 2 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan