Kritik dan Apresiasi Arsitektur Bagas Fajar Febriyanto - 20051010017
Mengulik Keindahan Graha Lakon : Apresiasi Sebuah Karya Nusantara
Graha lakon merupakan sebuah bangunan kantor kontraktor, hasil desain Andyrahman Architect dan kliennya yang berada di Wonoasri, Madiun. Dengan mengusung tema laras- kontras yakni menciptakan keselarasan dari sebuah elemen yang kontras atau berbeda. Dengan permaianan elemen fasad dan elemen ruang dalam yang ditata dinamis untuk menciptakan suasana nyaman dan tenang layaknya rumah masa lampau dan ditambah dengan penggunaan material tradisional (lawas) dengan material modern (kontemporer) yang menjadi perspektif baru serta daya Tarik mengapa desain kantor ini dapat menggugah rasa seni bagi yang melihat.
Ketika berada di depan bangunan ini, sudah disajikan tampilan fasad bangunan yang membuat saya terdiam sejenak karena bingung sebenarnya bangunan ini konsepnya seperti apa, tampilan bukaan yang digunakan antara mau mengusung konsep tradisional atau modern karena jendela bagian bawah dibuat dengan material kontemporer besi dan kaca seperti bangunan modern pada umunya namun pintunya menggunakan pintu kayu model jawa kuno dengan aksen ukiran pada kusennya, ditambah jendela di lantai keduanya full menggunakan jendela kayu kuno yang penataannya disusun dinamis, ada yang diputar ke bawah sehingga bagian rosternya menghadap kebawah ada yang arah hadapnya dibalik, yang harusnya diposisikan di luar justru dihadapkan kedalam, sehingga impresi pertama ketika melihatnya ialah bangunan ini mengusung konsep tradisional, namun jika lebih jeli melihatnya ada hal yang membuat orang yang melihat akan tersenyum dan takjub, yaitu permainan warnanya, sebuah jendela kuno yang umumnya digunakan hanya untuk sirkulasi udara/bukaan yang lebih ke fungsinya bukan sifat arsitekturalnya disulap dengan hanya bermain warna warna yang ceria, kenapa demikian?, ternyata di lantai 2 menjadi ruang kerja atau office nya sehingga guna mnciptakan suasana yang lebih hidup dan produktif, maka elemen didalamnya dirancang lebih atraktif dan dinamis melalui elemen bukaan yang dipikirkan penggunaan warnanya dan finishing interiornya juga dibuat ada yang dinding batanya terekspos ada yang tidak, penggunaan lampu lampu model kuno yang menggantung dengan konsep industrial yang membuat suasana layaknya rumah masa kecil sehingga pegawai/staff lebih nyaman dan tidak jenuh ketika bekerja
Setelah dari bagian luar, melewati pintu utama dan memasuki bagian dalam Graha lakon maka akan dibuat terdiam kembali dan terkesima dengan penampilan elemen interiornya, kok bisa bangunan dengan fungsi kantor, tidak terlihat dan memiliki suasana layaknya kantor konvensional. Pertama kali masuk akan dibuat bingung dan bertanya-tanya, karena dengan permainan elemen jendela-jendela yang berada di dalam ruangan bukan diluar bangunan sebagaimana mestinya, dan hal ini langsung terjawab ketika memperhatikan letaknya lebih detail lagi, posisinya berada di antara area transisi yang mana bagian depan sebagai lobby dari pintu depan dan bagian belangnya juga area transisi dari pintu di samping kanan bangunan, fungsi jendela jendela disusun memutar/pivot windows ini sebagai sekat antar area transisi tersebut, namun visibilitasnya dibuat lebih jelas agar hubungan ruangnya lebih homogen dan menyatu.
Gambar tampilan fasad Graha Lakon
Gambar ruang kerja lantai 2 Graha Lakon
Kritik dan Apresiasi Arsitektur Bagas Fajar Febriyanto - 20051010017
Menilik Lebih dalam bagian Graha Lakon, yakni pada area resepsionis dan ruang makan, dimana permainan elemen jendela kayu kuno kembali dimunculkan namun bukan sebagai jendela untuk sirkulasi atau bukaan bangunan, namun sebagai ornamen interior, orang yang melihat akan dibuat senyum sendiri dengan tatanan jendela yang atraktif dan disusun berirama menutupi dinding dan ada yang menggantung seperti sebuah lukisan namun nyata dan dapat dirasakan teksturnya. Permainan warna pastel yang ‘colorful’ membuat orang melihatnya lebih hidup, serta adanya penggunaan lampu spotlight mengarah ke jendela-jendela kuno tersebut semakin menciptakan suasana liveness dan dinamis. Ditambah bagian tengah ruangan terdapat taman kecil yang terbuka tanpa sekat antara area public yakni resepsionis dengan area servis yaitu dapur dan ruang makan, untuk menegaskan kesatuan hubungan antar ruang yang lebih dinamis dengan elemen alam didalamnya, jika berada di ruang makan dengan view taman indoor dan hiasan dinding daun jendela-jendela kuno membuat perspektif/pengalaman ruang pada bangunan ini layaknya sebuah galeri seni pribadi, kondisi ruang yang tidak membosankan dan nyaman dengan pemilihan meja dan kursi kayu kuno seperti rumah-rumah tempo dulu ditambah adanya taman dan vegetasi didekatnya membuat udara mengalir dan menciptakan suasana sejuk dan asri sehingga membuat betah berada disini cukup lama.
Obyek yang mungkin banyak terlewatkan namun menjadi penentu pengalaman ruang dalam mengagumi graha lakon ini ialah permainan lantainya, ketika pengunjung maupun karyawan yang hendak masuk kedalam namun dari pintu yang berbeda, maka pengalaman ruang yang didapatkan pun akan berbeda karena bagaimana orang akan melewati atau mengakses setiap ruang dipikirkan pengalaman melintasinya, misalnya jika lewat pintu depan orang yng dating akan melewati lantai keramik layaknya rumah-rumah modern karena menjadi area public yang dapat diakses pertama kali, setelah itu jika hendak menuju area servis seperti dapur, ruang makan atau tangga maka akan melewati lantai kayu yang disusun berirama dengan lapisan bata dibawahnya, membuat pengalaman berjalan lebih beragam dan dinamis. Hal ini akan berbeda pula jika orang melewati pintu samping, setelah melewati pintu pengguna akan dibuat terkejut dan tersenyum dengan permainan lantainya layaknya pijakan setapak pada taman atau pijakan tengah pada kolam-kolam ikan, sehingga menjadikan pengalaman untuk masuk lebih atraktif tidak monoton, selain itu material yang digunakan sebagai pijakan juga berbeda lagi, yakni menggunakan batu bata untuk lebih menegaskan kesan alaminya seperti melintasi sebuah kolam ikan yang disekelilingnya terdapat genangan air yang tidak mungkin untuk dipijak atau dilintasi selain pijakan setapak tersebut. Dari semua kecerdasan perancangan dan pelaksanaan dalam mengkomunikasikan visual tampilan bangunan hingga pengalaman ruang benar benar diperhatikan hingga detail terkecil yang menegaskan perspektif dalam memahami Graha Lakon ini.
Gambar jendela di dalam ruangan berada diantara area transisi
Gambar suasana resepsionis dan ruang makan dengan taman indoor didalamnya
Kritik dan Apresiasi Arsitektur Bagas Fajar Febriyanto - 20051010017
Gambar permukaan lantai jika dari pintu samping Gambar permukaan lantai jika dari pintu depan