KAJIAN TERHADAP TEORI GREEN TAX DI INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan untuk Menempuh Ujian Sarjana Pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya
APRILIA WULANDARI 135030401111036
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS PROGRAM STUDI PERPAJAKAN
MALANG 2017
KAJIAN TERHADAP TEORI GREEN TAX DI INDONESIA
SKRIPSI
Diajukan untuk Menempuh Ujian Sarjana Pada Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya
APRILIA WULANDARI 135030401111036
UNIVERSITAS BRAWIJAYA FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI
JURUSAN ADMINISTRASI BISNIS PROGRAM STUDI PERPAJAKAN
MALANG 2017
Judul Kajian Studi Terhadap Teori Green Tax di Indonesia Disusun oleh Aprilia Wulandari
135030401 1 1 1036
Fakultas Ilmu
Program Studi
NIM
7
Komisi Pembimbing Ketua
frrP. 19861
tt7
2U5A4 2 002Green Tax constitute tax imposed on the community activities that produce carbon emissions. Carbon emissions produced gives substance to climate change and the effects of greenhouse gases. Greenhouse effect occurs due to the increase in the air temperature caused by increased CO2, fuel combustion of coal, the burning of petroleum and natural gas combustion. The purpose of Green Tax is to reduce environmental damage and pollution as well as minimize the scarcity of resources for present and future generations in the days to come.
The data analysis was done through literature journals and books about the Green Tax by studying literature. Withdrawal of the analysis of comparing countries developed and developing countries that have implemented the Green Tax. The number of journals are used by 51 Journal, 7 books and a few websites for comparison analysis that can be used as the implementation of Green Tax Design in Indonesia.
The results of this study concluded that Green Tax can be applied in Indonesia to assess the implementation of Green Tax in some other countries as a reference implementation. Green Tax in Indonesia almost has the same character, namely to protect the environment from damage.
ii
RINGKASAN
Aprilia Wulandari, 2017, Kajian Terhadap Teori Green Tax di Indonesia, Priandhita Sukowidyanti Asmoro, SE, M.SA, Ak, 116 hal + x.
Green Tax merupakan pajak yang dikenakan atas aktivitas masyarakat yang menghasilkan emisi karbon. Emisi karbon yang dihasilkan memberikan substansi terhadap perubahan iklim dan efek gas rumah kaca. Efek gas rumah kaca terjadi akibat naiknya suhu di udara yang disebabkan oleh meningkatnya CO2, pembakaran bahan bakar batu bara, pembakaran minyak bumi dan pembakaran gas alam. Tujuan Green Tax adalah untuk mengurangi kerusakan lingkungan dan pencemaran serta meminimalisir kelangkaan sumber daya untuk generasi sekarang dan generasi di masa yang akan depan.
Analisis data dilakukan melalui literatur jurnal dan buku-buku mengenai Green Tax dengan melakukan studi kepustakaan. Penarikan analisis diperoleh dari membandingkan negara-negara maju dan berkembang yang telah menerapkan Green Tax. Jumlah jurnal yang digunakan sebanyak 51 Jurnal, 7 buku dan beberapa website sebagai bahan perbandingan analisis yang dapat digunakan sebagai desai penerapan Green Tax di Indonesia.
Hasil dari penelitian ini disimpulkan bahwa Green Tax dapat diterapkan di Indonesia dengan mengkaji penerapan Green Tax di beberapa negara lain sebagai acuan implementasi. Green Tax di Indonesia hampir memiliki kesamaan karakter yaitu untuk menjaga lingkungan dari kerusakan.
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul, Kajian Studi Teori Green Tax Di Indonesia. Tidak lupa peneliti haturkan shalawat dan salam kepada Rasul Allah SWT, pembawa kabar bahagia Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari kegelapan menuju jaman yang terang benderang.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Perpajakan pada Fakultas Administrasi Universitas Brawijaya Malang.
Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS selaku Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya;
2. Ibu Prof. Dr. Endang Siti Astuti, M.Si selaku Ketua Jurusan Administrasi Bisnis;
3. Bapak Dr. Kadarisman Hidayat, M.Si selaku Ketua Program Studi Perpajakan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang;
iii Komisi Pembimbing;
5. Keluarga saya Ayah, Ibu, dan Adik yang serta saudara yang ada di rumah yang telah mendoakan dan memberikan dukungan moral kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini;
6. Teman-teman perpajakan 2013 yang telah memacu peneliti untuk terus maju dan telah berjuang bersama;
7. Teman-teman di Tax Center 2015, dan adik-adik di Tax Center 2016 yang telah menemani hari-hari peneliti di kampus Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang;
8. Sahabat-sahabat saya Ifah, Rini, Stevie, Destria, Echa, Hana, Vivi yang memberikan semangat, menghibur dan suka menjadi peramai grub sosial media peneliti.
9. Ainul Yaqin Muslim yang telah memberikan waktu dan dukungan moral dalam menemani peneliti dalam mengerjakan skripsi.
Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu yang sangat berkontribusi atas terselesaikannya skripsi ini. Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangsih kepada dunia pendidikan dan bagi pihak yang membutuhkan.
Malang, 29 Mei 2017
Peneliti
ii
MOTTO
“Be as yourself as you want”
“Tuhan tidak pernah salah dalam memberi rezeki”
Aprilia Wulandari
iii
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur alhamdulillah kupersembahkan karya kecilku untuk orang-orang yang kusayangi:
Ayah mama tercinta motivator dalam hidupku yang tak
pernah lelah memberi doa, cinta dan kasih sayang serta
pengorbanan selama ini
xii
NO. Judul Halaman
Bagan 1 Kerangka Pemikiran... 11
Bagan 2 Milestone... 49
Bagan 3 Dampak Eksternalitas ... 51
Bagan 4 Persepsi Pemerintah Terhadap Green Tax. ... 59
Bagan 5 Persepsi Masyarakat Terhadap Green Tax. ... 69
Bagan 6 Pajak Tidak Langsung... 93
Bagan 7 Pajak Langsung. ... 93
ix
Halaman
HALAMAN JUDUL ...i
MOTTO ... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN... iii
TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI ...iv
PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ... v
RINGKASAN ...vi
SUMMARY ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ...ix
DAFTAR TABEL... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Kontribusi Penelitian ... 8
E. Identifikasi Masalah ... 9
F. Sistematika Pembahasan ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
A. Tinjauan Empiris ... 11
B. Landasan Teori ... 18
1. Pengertian Lingkungan ... 18
2. Pengertian Lingkungan Hidup Sebagai Sumber Daya ... 19
3. Pengertian Pajak ... 21
4. Pengertian Green Tax ... 22
5. Fungsi Pajak ... 23
6. Eksternalitas Negatif ... 26
7. Pengertian Kebijakan Publik ... 27
8. Kerangka Kerja Kebijakan Publik ... 28
9. Karakteristik Kebijakan ... 29
10. Tahapan Kebijakan Publik ... 30
C. Kerangka pemikiran ... 33
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
A. Jenis Penelitian ... 35
B. Fokus Penelitian ... 36
C. Sumber Data ... 36
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
E. Analisis Data... 41
x
BAB IV PEMBAHASAN ... 42 .
A. Konsep Green Tax di Berbagai Negara ... 42
A.1 Istilah Green Tax di Berbagai Negara ... 42
A.2 Tujuan Green Tax... 51
A.3 Subyek Green Tax ... 53
A.4 Obyek Green Tax ... 55
A.5 Perkembangan Green Tax berdasarkan subyek dan obyek ... 57
A.6 Harga Pengenaan Terhadap Green Tax ... 72
B. Kebijakan Yang Mendorong Green Tax ... 75
C. Dampak Pengenaaan Green Tax di Berbagai Negara ... 79
D. Design di Indonesia ... 93
D.1 Penetapan Tujuan Penerapan Green Tax di Indonesia ... 101
D.2 Penetapan Subyek Green Tax di Indonesia ... 101
D.3 Penetapan Obyek Green Tax di Indonesia ... 105
D.4 Penetapan Dasar Pengenaan Tarif Green Tax di Indonesia ... 106
BAB V PENUTUP ... 112
A. KESIMPULAN ... 112
B. SARAN ... 114
DAFTAR PUSTAKA ... xii
ix
Halaman
HALAMAN JUDUL ...i
MOTTO ... ii
HALAMAN PERSEMBAHAN... iii
TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI ...iv
PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ... v
RINGKASAN ...vi
SUMMARY ... vii
KATA PENGANTAR ... viii
DAFTAR ISI ...ix
DAFTAR TABEL... x
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Kontribusi Penelitian ... 8
E. Identifikasi Masalah ... 9
F. Sistematika Pembahasan ... 9
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11
A. Tinjauan Empiris ... 11
B. Landasan Teori ... 18
1. Pengertian Lingkungan ... 18
2. Pengertian Lingkungan Hidup Sebagai Sumber Daya ... 19
3. Pengertian Pajak ... 21
4. Pengertian Green Tax ... 22
5. Fungsi Pajak ... 23
6. Eksternalitas Negatif ... 26
7. Pengertian Kebijakan Publik ... 27
8. Kerangka Kerja Kebijakan Publik ... 28
9. Karakteristik Kebijakan ... 29
10. Tahapan Kebijakan Publik ... 30
C. Kerangka pemikiran ... 33
BAB III METODE PENELITIAN ... 35
A. Jenis Penelitian ... 35
B. Fokus Penelitian ... 36
C. Sumber Data ... 36
D. Teknik Pengumpulan Data ... 38
E. Analisis Data... 41
x
BAB IV PEMBAHASAN ... 42 .
A. Konsep Green Tax di Berbagai Negara ... 42
A.1 Istilah Green Tax di Berbagai Negara ... 42
A.2 Tujuan Green Tax... 51
A.3 Subyek Green Tax ... 53
A.4 Obyek Green Tax ... 55
A.5 Perkembangan Green Tax berdasarkan subyek dan obyek ... 57
A.6 Harga Pengenaan Terhadap Green Tax ... 72
B. Kebijakan Yang Mendorong Green Tax ... 75
C. Dampak Pengenaaan Green Tax di Berbagai Negara ... 79
D. Design di Indonesia ... 93
D.1 Penetapan Tujuan Penerapan Green Tax di Indonesia ... 101
D.2 Penetapan Subyek Green Tax di Indonesia ... 101
D.3 Penetapan Obyek Green Tax di Indonesia ... 105
D.4 Penetapan Dasar Pengenaan Tarif Green Tax di Indonesia ... 106
BAB V PENUTUP ... 112
A. KESIMPULAN ... 112
B. SARAN ... 114
DAFTAR PUSTAKA ... xii
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur peneliti ucapkan kepada Allah SWT, Tuhan semesta alam yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya, sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul, Kajian Studi Teori Green Tax Di Indonesia. Tidak lupa peneliti haturkan shalawat dan salam kepada Rasul Allah SWT, pembawa kabar bahagia Nabi Muhammad SAW yang telah membawa umat manusia dari kegelapan menuju jaman yang terang benderang.
Skripsi ini merupakan tugas akhir yang diajukan untuk memenuhi syarat dalam memperoleh gelar Sarjana Perpajakan pada Fakultas Administrasi Universitas Brawijaya Malang.
Peneliti menyadari bahwa penyusunan skripsi ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini peneliti menyampaikan ucapan terima kasih kepada yang terhormat:
1. Bapak Prof. Dr. Bambang Supriyono, MS selaku Dekan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya;
2. Ibu Prof. Dr. Endang Siti Astuti, M.Si selaku Ketua Jurusan Administrasi Bisnis;
3. Bapak Dr. Kadarisman Hidayat, M.Si selaku Ketua Program Studi Perpajakan Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang;
iii Komisi Pembimbing;
5. Keluarga saya Ayah, Ibu, dan Adik yang serta saudara yang ada di rumah yang telah mendoakan dan memberikan dukungan moral kepada peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini;
6. Teman-teman perpajakan 2013 yang telah memacu peneliti untuk terus maju dan telah berjuang bersama;
7. Teman-teman di Tax Center 2015, dan adik-adik di Tax Center 2016 yang telah menemani hari-hari peneliti di kampus Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang;
8. Sahabat-sahabat saya Ifah, Rini, Stevie, Destria, Echa, Hana, Vivi yang memberikan semangat, menghibur dan suka menjadi peramai grub sosial media peneliti.
9. Ainul Yaqin Muslim yang telah memberikan waktu dan dukungan moral dalam menemani peneliti dalam mengerjakan skripsi.
Serta pihak-pihak lain yang tidak dapat peneliti sebutkan satu-persatu yang sangat berkontribusi atas terselesaikannya skripsi ini. Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan skripsi ini.
Semoga karya skripsi ini bermanfaat dan dapat memberikan sumbangsih kepada dunia pendidikan dan bagi pihak yang membutuhkan.
Malang, 29 Mei 2017
Peneliti
Judul Kajian Studi Terhadap Teori Green Tax di Indonesia Disusun oleh Aprilia Wulandari
135030401 1 1 1036
Fakultas Ilmu
Program Studi
NIM
7
Komisi Pembimbing Ketua
frrP. 19861
tt7
2U5A4 2 002ii
MOTTO
“Be as yourself as you want”
“Tuhan tidak pernah salah dalam memberi rezeki”
Aprilia Wulandari
iii
PERSEMBAHAN
Dengan mengucap syukur alhamdulillah kupersembahkan karya kecilku untuk orang-orang yang kusayangi:
Ayah mama tercinta motivator dalam hidupku yang tak
pernah lelah memberi doa, cinta dan kasih sayang serta
pengorbanan selama ini
Green Tax constitute tax imposed on the community activities that produce carbon emissions. Carbon emissions produced gives substance to climate change and the effects of greenhouse gases. Greenhouse effect occurs due to the increase in the air temperature caused by increased CO2, fuel combustion of coal, the burning of petroleum and natural gas combustion. The purpose of Green Tax is to reduce environmental damage and pollution as well as minimize the scarcity of resources for present and future generations in the days to come.
The data analysis was done through literature journals and books about the Green Tax by studying literature. Withdrawal of the analysis of comparing countries developed and developing countries that have implemented the Green Tax. The number of journals are used by 51 Journal, 7 books and a few websites for comparison analysis that can be used as the implementation of Green Tax Design in Indonesia.
The results of this study concluded that Green Tax can be applied in Indonesia to assess the implementation of Green Tax in some other countries as a reference implementation. Green Tax in Indonesia almost has the same character, namely to protect the environment from damage.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Masalah lingkungan menjadi permasalahan yang sangat penting untuk dipecahakan oleh berbagai negara. Permasalahan lingkungan ini tidak bisa dipisahkan dari beberapa faktor antara lain emisi karbon dan limbah pembuangan yang dihasilkan dari kegiatan industri. Emisi karbon ini juga tidak lepas dari kegiatan manusia dalam aktivitas kesehariannya. Peningkatan suhu di berbagai negara saat ini sudah mulai tidak terkendali akibat penggunaan berbagai macam zat yang memicu terjadinya pemanasan global. Pemanasan global meningkat tajam selama 10 tahun terakhir (2007-2016) yang memberikan dampak negatif terhadap lingkungan (Aviation.bmkg.go.id, diakses 21 desember 2016).
Berbagai konferensi mengenai permasalahan lingkungan diselenggarakan untuk menghasilkan solusi dalam memecahkan permasalahan lingkungan. Banyak negara yang menerapkan berbagai kebijakan untuk memecahkan permasalahan lingkungan. Ada dua cara untuk mengatasi permasalahan lingkungan, yaitu menciptakan teknologi untuk mengolah limbah dan mengurangi emisi karbon dan membuat kebijakan dari pengolahan produksi. Salah satu negara yang menciptakan teknologi sebagai solusi masalah lingkungan adalah Belanda (European Environment Agency, 2013).
Belanda juga mencetuskan kebijakan melalui penerapan pajak untuk sampah dan limbah. Kebijakan tersebut disahkan oleh Dutch Lower House pada tahun 1979. Kebijakan pajak atas limbah dan sampah tersebut diatur dalam undang-
undang Belanda pada tahun 1994 dan dikenalkan di European Waste Framework Directive dengan julukan Hirarki Limbah. Tujuan utama dari hirarki limbah tersebut adalah untuk menghindari munculnya limbah sebanyak mungkin, mendaur ulang limbah menjadi barang berharga, menghasilkan energi dari limbah, dan hanya membuang apa yang tersisa. Kebijakan Hirarki Limbah tahun 1994 masih belum maksimal dikarenakan kurang ramah lingkungan. Pemerintah Belanda memperbaiki kebijakan Hirarki Limbah dengan kebijakan pajak yang diterapkan tahun 1995 bagi masyarakat yang membuang sampah sembarangan, penerapan pajak tentang sampah di Belanda ini paling tinggi se-Eropa (European Environment Agency, 2013).
Menurut Tang (2014:12) salah satu negara yang juga menerapkan Green Tax adalah Australia. Pemerintah Australia mengusulkan pajak karbon yang disetujui oleh Senat Australia pada November 2011. Pemberlakuan pajak karbon ini menyebabkan realokasi laba dan memberikan dampak negatif terhadap perusahaan, pemegang saham, dan kekayaan perusahaan di Australia.
Implementasi pajak karbon juga mengakibatkan turunnya tingkat pengembalian perusahaan. Selain memberikan dampak negatif pajak karbon juga memberikan dampak positif terhadap pemerintah dalam hal penerimaan negara dan untuk masyarakat dalam hal kenyamanan lingkungan.
Beberapa negara lain seperti Amerika dan China juga sudah menerapkan sistem pajak untuk mengurangi emisi karbon. Negara-negara tersebut berhasil menerapkan kebijakan pajak karbon dan mampu mengurangi emisi pencemaran lingkungan melalui peraturan pajak. Oleh karena itu, kebijakan pajak banyak
digunakan di beberapa negara untuk dijadikan salah satu solusi masalah lingkungan. (European Environment Agency, 2013)
Kebijakan Green Tax merupakan salah satu bentuk kebijakan publik. Menurut teori Edwards kebijakan publik yang baik adalah keberhasilan implementasi kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui apa yang harus dilakukan.
Tujuan dan sasaran kebijakan harus ditransmisikan kepada kelompok sasaran (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi. Apabila tujuan dan sasaran suatu kebijakan tidak jelas atau bahkan tidak diketahui sama sekali oleh kelompok sasaran, maka kemungkinan akan terjadi resistensi dari kelompok sasaran. Salah satu kebijakan yang dapat di implementasikan untuk memberikan solusi atas permasalahan lingkungan adalah Green Tax. (Subarsono,2005:90)
Menurut Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2009 tentang perubahan keempat atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan, pajak adalah kontribusi wajib kepada Negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undang-Undang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.
Konstribusi penerimaan negara dari sektor pajak ini sangat dominan di dalam Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Pajak memiliki 3 fungsi yaitu fungsi stabilitas, fungsi budgetair dan fungsi reguleren. Salah satu fungsi yang sangat krusial dalam penerapan kebijakan Green Tax adalah fungsi reguleren (mengatur), karena fungsi ini adalah alat pengatur dan pelaksana suatu kebijakan.
Dari definisi pajak dan fungsi pajak reguleren (mengatur) dapat digunakan sebagai alat kontrol lingkungan dan implementasi Green Tax. Green Tax dilihat dari sisi pengenaannya Green Tax ini pengenaannya dikenakan kepada mereka yang kegiatannya memberikan dampak negatif terhadap lingkungan lingkungan.
Green Tax memberikan banyak dampak, yaitu mengatasi permasalahan lingkungan dan menaikkan jumlah penerimaan pajak bagi negara yang menerapkannya (European Environment Agency, 2013). Green Tax mulai diadaptasi di berbagai negara berkembang seperti Thailand dan Filipina, kebijakan Green Tax yang diterapkan masih perlu banyak evaluasi di negara-negara berkembang tersebut karena implementasinya masih baru. Kebijakan Green Tax di Thailand dan Filipina memberikan dampak yang siginifikan di berbagai sektor seperti ekonomi, sosial, kesehatan serta politik. (News.ddtc.co.id, diakses 21 desember 2016)
Indonesia pernah merencanakan untuk menerapkan Green Tax, tetapi tidak terealisasi. Ada beberapa faktor yang membuat Green Tax di Indonesia tidak terealisasi, salah satunya adalah adanya kepentingan ekonomi yang menolak kebijakan Green Tax. Persepsi para pemangku kepentingan ekonomi atas bertambahnya beban pajak juga menjadi faktor tidak terealisasinya penerapan kebijakan Green Tax. Perbedaan kepentingan ekonomi dengan kepentingan lingkungan juga menjadi faktor tidak terealisasi kebijakan Green Tax.
Kepentingan ekonomi yang bertentangan dengan kebijakan Green Tax adalah dari segi laba yang berkurang apabila kebijakan Green Tax diterapkan dan realita
perusahaan bahwa dalam setiap melakukan kegiatan industri akan menghasilkan limbah dan eksternalitas negatif.
Menurut Hyman (2007:106) eksternalitas digambarkan sebagai efek yang dirasakan oleh seseorang yang ditimbulkan oleh tindakan orang lain. Eksternalitas dibagi menjadi dua yaitu eksternalias postif dan ekstrenalitas negatif. Eksternalitas positif adalah tindakan seseorang yang memberikan manfaat bagi orang lain. Jika kegiatan dari eksternalitas positif menghasilkan manfaat bagi orang lain dan orang yang menerima manfaat tersebut tidak mengeluarkan biaya, maka kegiatan produksi suatu perusahaan tersebut dikatanakan memberikan dampak positif.
Eksternalitas negatif adalah biaya yang dikenakan pada orang lain di luar sistem pasar sebagai produk dari kegiatan produktif. Eksternalitas negatif juga memberikan dampak yang kurang nyaman bagi masyarakat seperti polusi udara, pencemaran air akibat pembuangan limbah dan kerusakan akibat pertambangan yang terbuka.
Berdasarkan penjelasan eksternalitas diatas, dapat disimpulkan bahwa pajak dapat digunakan untuk mengurangi dampak eksternalitas. Pajak juga menurut fungsinya dari regulern adalah untuk mengatur dan memberikan kebijakan terhadap permasalahan yang ada di negara tersebut. Penelitian Pigou (1920:234) menjelaskan bahwa pajak yang baik adalah biaya administrasinya efisien, tidak mengganggu kegiatan ekonomi dan adil untuk semua pelaku ekonomi. Green Tax di Indonesia dapat diterapkan apabila hambatan mengenai perbedaan kepentingan ekonomi dapat diselaraskan dengan Kebijakan pemerintah mengenai Green Tax.
Pemerintah harus mengkaji mengenai masalah lingkungan dan definisi pajak
sebenarnya untuk dapat menerapkan Green Tax. Selama ini cara yang digunakan untuk mengurangi dampak lingkungan adalah pedoman pendirian usaha seperti mengacu pada Analisis Dampak Lingkungan(AMDAL).
Pada kenyataannya Analisis Dampak Lingkungan(AMDAL) tidak menjadi solusi yang maksimal atas permasalahan lingkungan yang terjadi. Perlindungan mengenai lingkungan hidup telah diatur dalam Undang- Undang Republik Negara Indonesia Nomor 32 tahun 2009 Tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, tetapi kerusakan masih terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, penerapan Green Tax sangat penting untuk mengatur lingkungan dari berbagai masalah lingkungan. Green Tax dapat digunakan untuk mengurangi dampak negatif (eksternalitas negatif) serta mencegah kerusakan lingkungan. Namun, pada kenyataannya realisasi dari amdal tersebut tidak nyata dilaksanakan dengan sebagai mana mestinya. Sebagai contoh salah satu kegagalan amdal dan CSR di indonesia adalah PT. Freeport Indonesia yang merupakan salah satu perusahaan tambang terbesar di Indonesia yang ada di Papua beroperasi sejak tahun 1969 hingga kini yang mengalami konflik berkepanjangan dengan masyarakat lokal mengenai tanah, pelanggaran adat serta kesenjangan sosial dan ekonomi (wibisono: 2007). Contoh lainnya adalah kasus pencemaran oleh PT Newmoon Minahasa Raya yang pembuangan tailing ke dasar laut dan menyebabkan laut tercemar, kualitas tangkapan menurun serta kesehatan menurun (Leimona, Fauzi:
2008).
Pajak lingkungan di Indonesia sebenarnya telah ada salah satunya adalah Pajak Bumi Bangunan Mineral dan Batubara yang diatur dalam Peraturan
Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-32/PJ/2012 tanggal 28 Desember 2012 tentang Tata Cara Pengenaan Pajak Bumi dan Bangunan Sektor Pertambangan untuk Pertambangan Mineral dan Batubara. Pajak Bumi Bangunan Mineral dan Batubara adalah PBB atas bumi dan/atau bangunan di kawasan yang digunakan untuk kegiatan pertambangan mineral dan batubara. Kawasan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba meliputi wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis dan wilayah di luar wilayah izin pertambangan atau wilayah pertambangan sejenis yang merupakan satu kesatuan yang digunakan untuk kegiatan usaha pertambangan Minerba. Atas sistem pemajakan tersebut secara tidak langsung di Indonesia telah menerapkan kebijakan pajak yang hampir serupa dengan Green Tax.
Berdasarkan latar belakang yang peneliti paparkan secara singkat tersebut, maka peneliti tertarik mengkaji teori Green Tax untuk digunakan sebagai pertimbangan pemerintah Indonesia dalam memberikan solusi atas permasalahan lingkungan yang saat ini dihadapi negara indonesia dengan judul Kajian Studi Teori Green Tax.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas didapat rumusan masalah antara lain sebagai berikut:
1. Apakah kebijakan Green Tax dapat diterapkan di Indonesia?
2. Bagaimana desain Green Tax yang sesuai untuk diterapkan di Indonesia?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan Rumusan masalah diatas didapat tujuan penelitian antara lain sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui penerapan Green Tax di Indonesia
2. Untuk menjelaskan desain Green Tax yang sesuai untuk diterapkan di indonesia Indonesia
D. Kontribusi Penelitian A. Bagi Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberi kontribusi dalam ilmu pengetahuan terkait dengan implementasi Green Tax. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi atau penelitian terdahulu untuk penelitian selanjutnya.
B. Bagi Kebijakan
Hasil penelitian ini diharapkan mampu memberikan masukan untuk memecahkan solusi permasalahan lingkungan dengan upaya pajak dan dapat meningkatkan penerimaan pajak. Penelitian ini diharapkan mampu untuk menciptakan kebijakan pajak terkait lingkungan
C. Bagi Praktisi
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi acuan perusahaan untuk menyikapi kebijakan mengenai Green Tax.
E. Identifikasi Masalah
Dari uraian yang telah diuraikan dalam latar belakang penelitian ini, ternyata ada beberapa penelitian yang dilakukan tentang Green Tax namun penelitian yang berkenaan dengan kajian studi Green Tax masih belum banyak dilakukan. Karena itu, pokok permasalahan yang kan diteliti melalui penelitian ini adalah kajian studi penerapan Green Tax.
F. Sistematika Penulisan
Dibawah ini akan diuraikan secara singkat sistematika penulisan.
BAB I : PENDAHULUAN
Unsur-unsur yang termuat dalam bab ini yaitu latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kontribusi penelitian, identifikasi masalah, serta sistematika penulisan
BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bagian ini menguraikan tentang teori pengertian lingkungan, Pengertian Lingkungan Hidup Sebagai Sumber Daya, Pengertian Pajak, Pengertian Green Tax, Fungsi Pajak, Pengertian Kebijakan Publik, Kerangka Kerja Kebijakan Publik, Karakteristik Kebijakan, serta Tahapan Kebijakan Publik.
BAB III : METODE PENELITIAN
Bagian ini menguraikan tentang jenis penelitian, fokus penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data.
BAB IV: PEMBAHASAN
Bagian ini menguraikan tentang Konsep Green Tax Di Berbagai Negara, Istilah Green Tax Di Berbagai Negara, Tujuan Green Tax, Subyek Green Tax, Obyek Green Tax, Perkembangan Green Tax Berdasarkan Subyek Dan Obyek, Harga Pengenaan Terhadap Green Tax, Dan Kebijakan yang Mendorong Green Tax.
BAB V: PENUTUP
Bagian ini menguraikan tentang Kesimpulan dan Saran.
11
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Tinjauan Empiris
Tinjauan empiris digunakan peneliti sebagai pembanding pada penelitian ini. Tinjauan empiris merupakan tinjauan yang diperoleh dari observasi dan studi kepustakaan. Tinjauan empiris yang digunakan dalam penelitian ini sebagai berikut:
Tabel 1 Penelitian Terdahulu
No Judul Jenis Penelitian dan lokasi penelitian
Hasil 1. Ayu (2013),
Formulasi kebijakan pajak lingkungan (Environtmental Taxation) sebagai instrumen perlindungan lingkungan hidup menurut prinsip regulerend
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Lokasi penelitian di DKI Jakarta
Diperoleh kesimpulan bahwa konsep pajak lingkungan yang diterapkan di negara China dan India menunjukkan penerapan konsep yang berbeda. Di China, fokus penerapan Green Tax adalah dalam sektor sumberdaya energi terutama energi terbaru.
Green Tax diberikan berupa fiskal di beberapa elemen pajak seperti PPh dan PPN, dan insentif pajak untuk proyek Energi Performance Contracting (EPC). India juga memfokuskan pada sumber daya energi terbaru. Instrumen Green Tax yang diberikan pemerintah India juga memberikan pendanaan bagi pengembangan energi terbaru di India. Penerapan Carbon Credit dan Clean Development Mechanisms(CDMs). Di India juga merupakan langkah
No Judul Jenis Penelitian dan lokasi penelitian
Hasil
pemerintah untuk mewujudkan green policynya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif.
2. Lussak (2011), Green Tax System di Swedia:Strategi Goran Person memakai isu lingkungan untuk mempertahankan koalisi
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan library research.
Diperoleh kesimpulan bahwa pajak karbon dipilih sebagai kebijakan utama Swedia dalam menghadapi perubahan iklim karena hal tersebut ternyata menjadi kunci keberhasilan pemerintah mempertahankan koalisi. Munculnya isu ini diawal rencana koalisi, perdebatan selama bertahun- tahun, hingga kebijakan yang terus diperbaiki, membuat pajak karbon selalu menjadi pusaran kepentingan politik.
Ternyata pusaran politik inilah yang menjadikan pajak karbon menarik untuk dijadikan komoditas politik. Pelajaran berharga lain dari struktur insentif pajak karbon adalah Goran Persson melihat ancaman dan peluang politik Swedia, terutama yang berhubungan dengan PSD.
Inilah yang menjadi dasar Persson menggunakan strategi defensive coalition melalui isu lingkungan. Sejak
memunculkan Persson Plan hingga memegang jabatan perdana menteri, Goran Persson mampu mengolah isu dalam peta kekuatan politik Swedia.
3. Lee et al. (2016), Governance, Vulnerability To Climate change, and Green
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif..
Lokasi penelitian di Vietnam
Diperoleh kesimpulan bahwa penelitian ini menyoroti pentingnya tata kelola dan rentan perubahan iklim akibat pertumbuhan ekonomi. Ada
No Judul Jenis Penelitian dan lokasi penelitian
Hasil Growth:
International Evidence.
sebuah literatur empiris mengenai Environtmental Kuznet Curve (EKC), bahwa tidak semua polusi membentuk U terbalik pada pola EKC (Lipford dan Yandle 2010).
Hal ini disebabkan oleh faktor pendapatan dan emisi seperti sistem birokrasi, pemangku kepentingan tertentu,
ketidaksetujuan perusaahaan yang menghambat Pemerintah dalam menerapkan kebijakan terhadap lingkungan. Faktor- faktor tersebut merupakan indikator yang digunakan dalam penelitian ini sehingga menggunakan dua faktor utama yaitu pemerintah dan rentan perubahan iklim akibat pertumbuhan ekonomi dengan menggunakan sampel negara secara global.
4. Tang (2014), Carbon Tax, Corporate Carbon Profile and Financial Return.
Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian kuantitatif.
Lokasi penelitian di Australia
disimpulkan bahwa pajak karbon yang diusulkan memiliki dampak negatif terhadap kekayaan pemegang saham diukur dengan tingkat pengembalian. Dampak
negatif tersebut juga bervariasi di beberapa sektor yaitu ditemukan efek paling signifikan dalam bahan, industri dan sektor keuangan.
Bukti penelitian ini juga menunjukkan dua cakupan.
Cakupan pertama
menunjukkan bahwa karbon berpengaruh secara langsung terhadap perusahaan,
berpengaruh terhadap tingkat pengembalian. Cakupan dua menunjukkan bahwa emisi karbon tidak berpengaruh
No Judul Jenis Penelitian dan lokasi penelitian
Hasil
terhadap pajak, karena emisi tidak jatuh di bawah lingkup pajak. Selain itu, efek pasar memiliki efek yang sangat besar dalam perkembangan penerapan pajak karbon.
Akhirnya, Temuan menunjukkan bahwa efek kebijakan pajak karbon terhadap pasar modal
memberikan dampak kepada eksekutif perusahaan bahwa kebijakan pajak karbon memberikan dampak yang merugikan terhadap para pelaku pasar. Hal ini mungkin karena Pemerintah Australia secara tiba-tiba mengubah kebijakan, serta kebanyakan perusahaan tidak siap. Namun, pajak karbon di Australia merupakan era baru dalam transisi menuju pembatasan kegiatan ekonomi GHG. Studi kami hanya menggambarkan dari dampak pajak karbon ini, dan kami percaya efek yang lebih akan terlihat dalam waktu dekat. Reaksi investor terhadap kebijakan pajak karbon ditanggapi negatif, dan dalam penelitian ini
menunjukkan bahwa ada kesenjangan harapan antara pemangku kepentingan dan praktek perusahaan selama periode tahun ini dengan struktur reformasi legislatif.
Dengan demikian, implikasi praktis dari penelitian ini adalah bahwa dengan peraturan semakin ketat di masa yang akan datang perusahaan Australia harus
No Judul Jenis Penelitian dan lokasi penelitian
Hasil
melakukan strategi kebijakan tersebut lebih proaktif untuk meminimalkan pajak karbon mereka agar memberikan efek jangka panjang untuk
pembangunan berkelanjutan.
Ayu (2013), penelitian dengan judul Formulasi kebijakan pajak lingkungan (Environtmental Taxation) sebagai instrumen perlindungan lingkungan hidup menurut prinsip regulerend. Menyatakan bahwa konsep pajak lingkungan yang diterapkan di negara China dan India menunjukkan penerapan konsep yang berbeda. Fokus penerapan Green Tax di China adalah dalam sektor sumberdaya energi terutama energi terbaru. Green Tax diberikan berupa fiskal di beberapa elemen pajak seperti PPh dan PPN, dan insentif pajak untuk proyek Energi Performance Contracting (EPC). India juga memfokuskan pada sumber daya energi terbaru. Instrumen Green Tax yang diberikan pemerintah India juga memberikan pendanaan bagi pengembangan energi terbaru di India. Penerapan Carbon Credit dan Clean Development Mechanisms (CDMs). India juga merupakan langkah pemerintah untuk mewujudkan green policy-nya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Perbedaan penelitiannya adalah terletak pada perbedaan obyek pembahasan yaitu penelitian Ayu membahas Green Tax yang diterapkan di Ibu Kota Jakarta dengan mengadopsi dari negara Asia yang telah menerapkan Green Tax. Sedang penelitian terbaru mengkaji Green Tax dari negara Eropa dan Asia sebagai acuan untuk memeprtimbangkan
implementasi di Negara Indonesia dampak eksternalitas dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh emisi karbon.
Lusak (2011), dalam judul Green Tax System di Swedia Strategi Goran Person memakai isu lingkungan untuk mempertahankan koalisi. Diperoleh kesimpulan bahwa pajak karbon dipilih sebagai kebijakan utama Swedia dalam menghadapi perubahan iklim karena hal tersebut ternyata menjadi kunci keberhasilan pemerintah mempertahankan koalisi. Munculnya isu ini diawal rencana koalisi, perdebatan selama bertahun-tahun, hingga kebijakan yang terus diperbaiki, membuat pajak karbon selalu menjadi pusaran kepentingan politik.
Ternyata pusaran politik inilah yang menjadikan pajak karbon menarik untuk dijadikan komoditas politik. Pelajaran berharga lain dari struktur insentif pajak karbon adalah Goran Person melihat ancaman dan peluang politik Swedia, terutama yang berhubungan dengan PSD. Inilah yang menjadi dasar Persson menggunakan strategi defensive coalition melalui isu lingkungan. Sejak memunculkan Persson Plan hingga memegang jabatan perdana menteri, Goran Persson mampu mengolah isu dalam peta kekuatan politik Swedia. Penelitian Lussak (2011) mengkaji Green Tax untuk kepentingan politik dan koalisi, sedangkan penelitian terbaru mengkaji Green Tax dari negara Eropa dan Asia sebagai acuan untuk memeprtimbangkan implementasi di Negara Indonesia sebagai upaya untuk mengurangi dampak eksternalitas dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh emisi karbon.
Lee et al. (2016) dalam judul Governance, Vulnerability To Climate change, and Green Growth, International Evidence. Diperoleh kesimpulan bahwa
penelitian ini menyoroti pentingnya tata kelola dan rentan perubahan iklim akibat pertumbuhan ekonomi. Ada sebuah literatur empiris mengenai Environtmental Kuznet Curve (EKC), bahwa tidak semua polusi membentuk U terbalik pada pola EKC (Lipford dan Yandle 2010). Hal ini disebabkan oleh faktor pendapatan dan emisi seperti sistem birokrasi, pemangku kepentingan tertentu, ketidaksetujuan perusaahaan yang menghambat Pemerintah dalam menerapkan kebijakan terhadap lingkungan. Faktor-faktor tersebut merupakan indikator yang digunakan dalam penelitian ini sehingga menggunakan dua faktor utama yaitu pemerintah dan rentan perubahan iklim akibat pertumbuhan ekonomi dengamn menggunakan sampel negara secara global. Penelitian ini lebih membahas dampak dan faktor penerapan Green Tax, sedangkan penelitian terbaru mengkaji Green Tax dari negara Eropa dan Asia sebagai acuan untuk memeprtimbangkan implementasi di Negara Indonesia sebagai upaya untuk mengurangi dampak eksternalitas dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh emisi karbon.
Tang (2014) dalam judul Carbon Tax, Corporate Carbon Profile and Financial Return. Dari hasil studi ini dapat disimpulkan bahwa pajak karbon yang diusulkan memiliki dampak negatif terhadap kekayaan pemegang saham diukur dengan tingkat pengembalian. Dampak negatif tersebut juga bervariasi di beberapa sektor yaitu ditemukan efek paling signifikan dalam bahan, industri dan sektor keuangan. Bukti penelitian ini juga menunjukkan dua cakupan. Cakupan pertama menunjukkan bahwa karbon berpengaruh secara langsung terhadap perusahaan, berpengaruh terhadap tingkat pengembalian. Cakupan dua menunjukkan bahwa emisi karbon tidak berpengaruh terhadap pajak, karena emisi
tidak jatuh di bawah lingkup pajak. Selain itu, efek pasar memiliki efek yang sangat besar dalam perkembangan penerapan pajak karbon. Akhirnya, temuan menunjukkan bahwa efek kebijakan pajak karbon terhadap pasar modal memberikan dampak kepada eksekutif perusahaan bahwa kebijakan pajak karbon memberikan dampak yang merugikan terhhadap para pelau pasar. Hal ini mungkin karena Pemerintah Australia secara tiba-tiba mengubah kebijakan, serta kebanyakan perusahaan tidak siap. Namun, pajak karbon di Australia merupakan era baru dalam transisi menuju pembatasan kegiatan ekonomi GHG. Studi ini hanya menggambarkan dari dampak pajak karbon ini, dan kami percaya efek yang lebih akan terlihat dalam waktu dekat. Reaksi investor terhadap kebijakan pajak karbon ditanggapi negatif, dan dalam penelitian ini menunjukkan bahwa ada kesenjangan harapan antara pemangku kepentingan dan praktek perusahaan selama periode tahun ini dengan struktur reformasi legislatif. Dengan demikian, implikasi praktis dari penelitian ini adalah bahwa dengan peraturan semakin ketat di masa yang akan datang perusahaan Australia harus melakukan strategi kebijakan tersebut lebih proaktif untuk meminimalkan pajak karbon mereka agar memberikan efek jangka panjang untuk pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini lebih membahas dampak kekayaan terhadap pemegang saham di Australia atas penerapan Green Tax, sedangkan penelitian terbaru mengkaji Green Tax dari negara Eropa dan Asia sebagai acuan untuk memeprtimbangkan implementasi di Negara Indonesia sebagai upaya untuk mengurangi dampak eksternalitas dan kerusakan lingkungan yang disebabkan oleh emisi karbon.
B. Landasan Teori
1. Pengertian Lingkungan
Menurut Pasal 1 angka 1 UU-PPLH lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.
Menurut Soemarwoto lingkungan hidup adalah ruang yang ditempati suatu makhluk hidup bersama dengan benda hidup dan tak hidup didalamnya. Sifat lingkungan hidup ditentukan oleh bermacam-macam faktor. Pertama, oleh jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidup tersebut. Kedua, hubungan atau interaksi antara unsur dalam lingkungan hidup itu. Ketiga, kelakuan atau kondisi unsur lingkungan hidup. Keempat, faktor non-materiil suhu, cahaya dan kebisingan.
2. Pengertian Lingkungan Hidup Sebagai Sumber Daya
Menurut Bidayani (2005:92) dengan mengkaitkan mutu lingkungan dengan derajat pemenuhan kebutuhan dasar, berarti lingkungan itu merupakan sumberdaya. Dari lingkungan itu kita mendapatkan unsur-unsur yang kita perlukan untuk produksi dan konsumsi. Dari lingkungan itu kita mendapatkan unsur-unsur yang kita perlukan untuk produksi dan konsumsi. Sebagian dari sumberdaya itu dimiliki oleh perorangan atau badan tertentu dan sebagian lagi milik umum. Sumberdaya milik umum mempunyai sifat-sifat yang berbeda dari modal yang biasa kita kenal dalam perusahaan yang dimiliki secara pribadi
atau badan tertentu. Karena milik umum, orang dapat menggunakannya tanpa pungutan bayaran atau hanya dengan pungutan ringan. Misalnya, orang dapat menghirup udara untuk pernafasan atau menggunakan udara untuk membakar bahan bakar mesin dan mengangkut limbah tanpa bayaran. Kita dapat juga dengan bebas membuat sumur dan menggunakan airnya untuk keperluan rumah tangga, menggunakan sungai dan laut untuk pelayaran dan menangkap ikan di sungai dan laut, serta menikmati hawa segar dan pemandangan indah daerah pegunungan.
Akan tetapi sumberdaya mempunyai daya regenerasi dan asimilasi yang terbatas. Selama eksploitasi atau permintaan pelayanan ada di bawah batas daya regenerasi atau similasi, sumberdaya terbarui itu dapat digunakan secara lestari. Namun apabila batas itu dilampaui, sumberdaya itu akan mengalami kerusakan dan fungsi sumberdaya itu sebagai faktor produksi dan konsumsi atau sarana pelayanan akan mengalami gangguan.
Sumberdaya lingkungan milik umum sering dapat digunakan untuk bermacam peruntukan secara simultan, tanpa suatu peruntukan mengurangi manfaat yang dapat diambil dari peruntukan lain sumberdaya yang sama itu. dikarenakan pemanfaatan sumberdaya lingkungan milik umum dapat dilakukan tanpa atau hanya dengan pungutan yang ringan saja, unit produksi maupun unit konsumsi cenderung memaksimumkan pemanfaatannya, sehingga mudah terjadi pemanfaatan yang tidak rasional.
Untuk menghindari penggunaan yang tidak rasional itu diperlukan campur tangan pemerintah dalam pengelolaan sumberdaya. Dasar hukum
ini terdapat dalam Undang-Undang Dasar 1945, pasal 33, ayat 3, yang mewajibkan agar bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Untuk ini perlu dikembangkan sistem pajak dan pungutan lain, serta sistem insentif dan disinsentif. Misalnya, suatu perusahaaan yang mengolah limbahnya menjadi industri sampingan mendapat keringanan pajak. Dengan demikian industri itu akan mendapat insentif untuk melakukan penelitian untuk mengolah limbahnya menjadi produk lain yang dapat dijual dengan keuntungan. Dengan ini industri itu akan mendapatkan keuntungan ganda, yaitu dari hasil sampingannya itu dan dari keringanan pajak.
3. Pengertian Pajak
Menurut Thomas dalam Andriani (2012:3), pajak adalah iuran masyarakat kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan umum (undang- undang) dengan tidak mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran- pengekuaran umum berhubung tugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
Menurut Thomas dalam Soemitro (2012:3), pajak ialah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontra prsetasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan untuk membayar
pengeluaran umum. Definisi tersebut kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut: Pajak adalah peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk public saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai public investment.
Menurut Subarsono (2005:109) pajak merupakan pembayaran wajib dari individu dan perusahaan kepada pemerintah guna membiayai pengeluaran pemerintah. Namun demikian, pajak juga dapat digunakan untuk perilaku masyarakat. Sebagai contoh pajak dengan tarif tinggi dapat dikenakan pada minuman keras dengan maksud mengurangi jumlah masyarakat yang menggunakan minuman keras. Sementara itu, tarif pajak ekspor produk kerajinan dapat dikurangi dengan maksud untuk menggenjot volume eksport barang kerajinan dan mengembangkan industri kecil.
4. Pengertian Green Tax
Green Tax umumnya digunakan sebagai kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk mengurangi emisi karbon, efek rumah kaca serta mengatasi kelangkaan bahan bakar. Langkah-langkah yang diterapkan melalui Green Tax dan pemerintah memungut Green Tax dari konsumen. (www.carbonbrief.org,2016).
Menurut penelitian Garrison (2011), Gallagher dan Muechlegger (2008), Koskela et al. (1998), mendefinisikan Green Tax sebagai pajak yang dikenakan atas aktivitas masyarakat yang menghasilkan emisi
karbon. Emisi karbon yang dihasilkan memberikan substansi terhadap perubahan iklim dan efek gas rumah kaca. Efek gas rumah kaca terjadi akibat naiknya suhu di udara yang disebabkan oleh meningkatnya CO2,
pembakaran bahan bakar batu bara, pembakaran minyak bumi dan pembakaran gas alam. Adanya efek gas rumah kaca membuat suatu negara membuat kebijakan melalui Green Tax.
Green Tax berdasarkan penelitian Tang (2014) yang berjudul”
Carbon Tax, Corporate Carbon and Financial Return” di Australia Green Tax dikenal dengan istilah Carbon Tax. Hal tersebut karena banyaknya industri yang dalam kegiatannya tidak lepas dari menghasilkan emisi karbon. Oleh karena itu, pemerintah Australia mengusulkan penerapan Carbon Tax untuk mengatur kegiatan industri di Australia agar kegiatan industri yang menghasilkan emisi karbon berkurang. Carbon Tax di Australia disetujui pada November 2011 dan diterapkan sejak 1 Juli 2012 dengan menuai pro dan kontra di berbagai kalangan seperti politisi, perusahaan, pemilik saham dan masyarakat.
Penerapan Carbon Tax ini dirasa para pemegang saham memberikan dampak negatif, karena merealokasi laba dan berdampak negatif terhadap kekayaan pemegang saham.
Menurut Kibria (2014:1) Green Tax adalah pajak cukai, pajak terhadap penyebab polusi lingkungan atau barang yang penggunaannya menghasilkan polutan. Green Tax dimaksudkan untuk memperbaiki lingkungan atau mengurangi dampak negatif terhadap
lingkungan untuk menciptakan lingkungan yang baik. Green Tax adalah jenis instrumen dalam eknomi untuk mengatasi masalah lingkungan. Hal ini diyakini bahwa Green Tax akan mengurangi kerusakan lingkungan dengan cara yang paling mahal dengan mendorong perubahan perilaku perusahaan, organisasi, masyarakat, rumah tangga, serta individu. Pajak yang dikenakan atas pencemaran memberikan insentif yang jelas untuk pencemar untuk mengurangi emisi.
5. Fungsi Pajak
Menurut Sumarsan (2013:5) pajak mempunyai peranan yang sangat penting dalam kehidupan bernegara, khususnya di dalam pelaksanaan pembangunan karena pajak merupakan sumber pendapatan negara untuk membiayai semua pengeluaran termasuk pengeluaran pembangunan. Berdasarkan hal diatas maka pajak mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
a.) Fungsi budgetair (penerimaan)
Pajak berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat bagi kas negara, yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran- pengeluaran pemerintah. Untuk menjalankan tugas-tugas rutin negara dan melaksanakan pembangunan, negara membutuhkan biaya. Biaya ini dapat diperoleh dari penerimaan pajak. Dewasa ini pajak digunakan untuk pembiayaan rutin seperti belanja pegawai, belanja barang, pemeliharaan, dan lain sebagainya. Untuk
pembiayaan pembangunan, uang dikeluarkan dari tabungan pemerintah, yakni penerimaan dalam negeri dikurangi pengeluaran rutin. Tabungan pemerintah ini dari tahun ke tahun harus ditingkatkan sesuai kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin meningkat dan ini terutama diharapkan dari sektor pajak.
b.) Fungsi Regulerend
Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur struktur pendapatan di tengah masyarakat dan struktur kekayaan antara para pelaku ekonomi. Fungsi mengatur ini sering menjadi tujuan pokok dari sistem pajak, paling tidak dalam sistem perpajakan yang benar tidak terjadi pertentangan dengan kebijaksanaan negara dalam bidang ekonomi dan sosial. Sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu di luar bidang keuangan, terutama banyak ditujukan terhadap sektor swasta. Contohnya dalam rangka menggiring penanaman modal, baik dalam negeri maupun luar negeri, diberikan berbagai macam fasilitas keringanan pajak. Dalam rangka melindungi produksi dalam negeri, pemerintah menetapkan bea masuk yang tinggi untuk produk luar negeri.
Menurut Subarsono (2005:107) regulasi dimaksudkan membatasi perilaku individu, masyarakat, dan perusahaan baik perusahaan swasta maupun perusahaan publik. Barangsiapa yang tidak taat pada regulasi akan dikenai sanksi oleh pemerintah. Untuk implementasi regulasi diperlukan keterlibatan polisi dan sistem
peradilan. Menurut Resmi (2011:3) terdapat dua fungsi pajak, yaitu fungsi budgetair (sumber keuangan negara) dan fungsi regulerend (pengatur)
a. Fungsi Budgetair (sumber keuangan negara)
Pajak mempunyai fungsi budgetair, artinya pajak merupakan salah satu sumber penerimaan pemerintah untuk membiayai pengeluaran baik rutin maupun pembangunan. Sebagai sumber keuangan negara, pemerintah berupaya memasukkan uang sebanyak-banyaknya untuk kas negara. Upaya tersebut ditempuh dengan cara ekstensifikasi maupun intensifikasi pemungutan pajak melalui penyempurnaan peraturan berbagai jenis pajak seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), Pajak Bumi Bangunan (PBB), dan lain-lain.
b. Fungsi Regulerend (Pengatur)
Pajak mempunyai fungsi pengatur, artinya pajak sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan pemerintah dalam bidang sosial dan ekonomi, serta mencapai tujuan-tujuan tertentu di luar bidang keuangan. Beberapa contoh penerapan pajak sebagai fungsi pengatur adalah:
(1). Pajak yang tinggi dikenakan terhadap barang-barang mewah. Pajak Penjualan atas Barang Mewah dikenakan pada saat terjadi transaksi jual beli barang mewah. Semakin mewah suatu barang maka tarif pajaknya semakin tinggi sehingga barang tersebut semakin mahal harganya.
Pengenaan pajak ini dimaksudkan agar rakyat tidak berlomba-lomba untuk mengonsumsi barang mewah (mengurangi gaya hidup mewah) (2). Tarif pajak progresif dikenakan atas penghasilan dimaksudkan agar pihak yang memperoleh penghasilan tinggi memberikan kontribusi (membayar pajak) yang tinggi pula, sehingga terjadi pemerataan pendapatan.
(3). Tarif pajak ekspor sebesar 0%, dimaksudkan agar para pengusaha terdorong mengekspor hasil produksinya di pasar dunia sehingga dapat memperbesar devisa negara.
(4). Pajak penghasilan dikenakan atas penyerahan barang hasil industri tertentu seperti industri semen, industri rokok, industri baja, dan lain- lain. Dimaksudkan agar terdapat penekanan produksi terhadap industri tersebut karena dapat mengganggu lingkungan atau polusi (membahayakan kesehatan)
(5). Pembebasan pajak penghasilan atas sisa hasil usaha koperasi, dimaksudkan untuk mendorong perkembangan koperasi di indonesia (6). Pemberlakuan Tax Holiday, dimaksudkan untuk menarik investor asing agar menanamkan modalnya di Indonesia.
6. Eksternalitas Negatif
Menurut Rosdiana (2012:66) contoh eksternalitas negatif terjadi pada konsumsi rokok, harga individu adalah sebesar harga rokok ketika orang membeli rokok, misalnya Rp. 500 per batang tetapi masih ada harga lain yang harus ditanggung oleh masyarakat dan perokok itu sendiri. Biaya yang harus
ditanggung adalah biaya berobat sakit yang disebabkan oleh rokok, waktu yang hilang karena sakit sebab akan berpengaruh terhadap produktivitas. Kemudian dari rokok tersebut juga menyebabkan orang lain sakit sebab rokok juga akan dihirup oleh perokok pasif yang terpaksa menghirup asap rokok.
Selanjutnya menurut Rosdiana (2012:41) dalam Pigou (1877-1959) pajak yang dipungut untuk mengoreksi eksternalitas negatif disebut pajak pigouvian.
Dalam mengatasi eksternalitas negatif, para ekonom umumnya lebih menganjurkan instrumen pemungutan pajak karena lebih dianggap lebih efisien untuk mengurangi polusi.
7. Pengertian Kebijakan Publik
Kebijakan publik menurut Subarsono dalam Dye (1981:1) adalah apapun pilihan pemerintah untuk melakukan atau tidak melakukan (public policy is whatever governments choose to do or not to do). Konsep tersebut sangat luas karena kebijakan publik mencakup sesuatu yang tidak dilakukan oleh pemerintah di samping yang dilakukan oleh pemerintah ketika pemerintah menghadapi suatu masalah publik. Definisi kebijakan publik dari Dye (1981:1) tersebut mengandung makna yaitu:
a) Kebijakan publik tersebut dibuat oleh badan pemerintah, bukan organisasi swasta;
b) Kebijakan publik menyangkut pilihan yang harus dilakukan atau tidak dilakukan oleh badan pemerintah
Kebijakan pemerintah untuk tidak membuat program baru atau tetap pada status quo, misalnya tidak menunaikan pajak adalah sebuah kebijakan
publik. Menurut Anderson dalam Subarsono (1973:3) mendefinisikan kebijakan publik sebagai kebijakan yang ditetapkan oleh badan-badan dan aparat pemerintah. Walaupun disadari bahwa kebijakan publik dapat dipengaruhi oleh para aktor dan faktor dari luar pemerintah.
8. Kerangka Kerja Kebijakan Publik
Kerangka kerja kebijakan publik akan ditentukan oleh beberapa variabel sebagai berikut:
a. Tujuan yang akan dicapai. Ini mencakup kompleksitas tujuan yang akan dicapai. Apabila tujuan kebijakan semakin kompleks, maka semakin sulit mencapai kinerja kebijakan. Sebaliknya, apabila tujuan kebijakan semakin sederhana, maka semakin mudah untuk mencapainya.
b. Preferensi nilai seperti apa yang perlu dipertimbangkan dalam pembuatan kebijakan. Suatu kebijakan yang mengandung berbagai variansi nilai akan jauh lebih sulit untuk dicapai dibanding dengan suatu kebijakan yang hanya mengejar satu nilai.
c. Sumberdaya yang mendukung kebijakan. Kinerja suatu kebijakan akan ditentukan oleh sumberdaya finansial, material, dan infrastruktur lainnya.
d. Kemampuan aktor yang terlibat dalam pembuatan kebijakan. Kualitas dari suatu kebijakan akan dipengaruhi oleh kualitas para aktor yang terlibat dalam proses penetapan kebijakan. Kualitas tersebut akan ditentukan dari tingkat pendidikan, kompetensi, dalam bidangnya, pengalaman kerja, dan integritas moralnya.
e. Lingkungan yang mencakup lingkungan sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya. Kinerja dari suatu kebijakan akan dipengaruhi oleh konteks sosial, ekonomi, politik tempat kebijakan tersebut diimplementasikan.
f. Strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan. Strategi yang digunakan untuk mengimplementasikan suatu kebijakan akan mempengaruhi kinerja dari suatu kebijakan. Strategi yang digunakan dapat bersifat to-down approach atau buttom-up approach, otoriter atau demokratis.
9. Karakteristik Kebijakan
Menurut Mazmanian dan Sabatier dalam Subarsono (2005:94) karakterisitk kebijakan terdiri antara lain:
a) Kejelasan isi kebijakan
Ini berarti semakin jelas dan rinci isi sebuah kebijakan akan mudah diimplementasikan karena implementor mudah memahami dan menterjemahkan dalam tindakan nyata. Sebaliknya, ketidakjelasan isi kebijakan merupakan potensi lahirnyaa distorsi dalam implementasi kebijakan.
b) Seberapa jauh kebijakan tersebut memiliki dukungan teoritis. Kebijakan yang memiliki dasar teoritis memiliki sifat lebih mantap karena sudah teruji, walaupun untuk beberapa lingkungan sosial tertentu perlu ada modifikasi.
c) Besarnya alokasi sumberdaya finansial terhadap kebijakan tersebut.
Sumberdaya keuangan adalah faktor krusial untuk setiap program sosial.
Setiap program juga memrlukan dukungan staff untuk melakukan
pekerjaan-pekerjaan administrasi dan teknis, serta memonitor program, yang semuanya itu perlu biaya.
d) Seberapa besar adanya keterpautan dan dukungan antar berbagai institusi pelaksana. Kegagalan program sering disebabkan kurangnya koordinasi vertikal dan horizontal antar instansi yang terlibat dalam implementasi program.
e) Kejelasan dan konsistensi aturan yang ada pada badan pelaksana.
f) Tingkat komitmen aparat terhadap tujuan kebijakan. Kasus korupsi yang terjadi di negara-negara dunia ketiga, khususnya di Indonesia salah satu sebabnya adalah rendahnya tingkat komitmen aparat untuk melaksanakantugas dan pekerjaan atau program-program.
g) Seberapa luas akses kelompok-kelompok luar untuk berpartisipasi dalam implementasi kebijakan. Suatu program yang memberikan peluang luas bagi masyarakat untuk terlibat akan relatif mendapat dukungan masyarakat.
Masyarakat akan merasa terasing atau terealienasi apabila hanya menjadi penonton terhadap program yang ada di wilayahnya.
10. Tahapan Kebijakan Publik
Menurut Ripley dalam Subarsono (2005:11) dalam penyusunan agenda kebijakan ada tiga kegiatan yang perlu dilakukan yakni:
a) Membangun persepsi di kalangan stakeholders bahwa sebuah fenomena benar-benar dianggap sebagai masalah. Sebab bisa jadi suatu gejala oleh sekelompok masyarakat tertentu dianggap masalah, tetapi oleh sebagian masyarakat yang lain atau elite politik bukan dianggap sebagai masalah.
b) Membuat batasan masalah
c) Memobilisasi dukungan agar masalah tersebut dapat masuk dalam agenda pemerintah. Memobilisasi dukungan ini dapat dilakukan dengan cara mengorganisir kelompok-kelompok yang ada dalam masyarakat, dan kekuatan-kekuatan politik, publikasi melalui media masa dan sebagainya.
Pada tahap formulasi dan legitimasi kebijakan, analisis kebijakan perlu mengumpulkan dan menganalisis informasi yang berhubungan dengan masalah yang bersangkutan, kemudian berusaha mengembangkan alternatif- alternatif kebijakan, membangun dukungan dan melakukan negosiasi, sehingga sampai pada sebuah kebijakan yang dipilih.
Tahap selanjutnya adalah implementasi kebijakan. Pada tahap ini perlu dukungan sumberdaya, dan penyusunan organisasi pelaksana kebijakan.
Dalam proses implementasi sering ada mekanisme insentif dan sanksi agar implementasi suatu kebijakan berjalan dengan baik. Dari tindakan kebijakan akan dihasilkan kinerja dan dampak kebijakan, dan proses selanjutnya adalah evaluasi terhadap implementasi, kinerja, dan dampak kebijakan.
Hasil evaluasi ini bermanfaat bagi penentuan kebijakan baru di masa yang akan datang, agar kebijakan yang akan datang lebih baik dan berhasil.
Menurut Howlet dan Ramesh dalam Subarsono (2005:13) menyatakan bahwa proses kebijakan publik terdiri dari lima tahapan sebagai berikut:
a) Penyusunan agenda (agenda setting), yakni suatu proses agar suatu masalah bisa mendapat perhatian dari pemerintah.
b) Formulasi kebijakan (policy formulation), yakni proses perumusan pilihan- pilihan kebijakan oleh pemerintah.
c) Pembuatan kebijakan (decision making), yakni proses ketika pemerintah memilih untuk melakukan suatu tindakan atau tidak melakukan suatu tindakan.
d) Implementasi kebijakan (policy kebijakan), yaitu proses untuk melaksanakan kebijakan supaya mencapai hasil.
e) Evaluasi kebijakan (policy evaluation), yakni proses untuk memonitor dan menilai hasil atau kinerja kebijakan.
C. Kerangka Pemikiran
Menurut Sugiyono (2010:60) kerangka berpikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigma penelitian harus didasarkan pada kerangka berpikir. Dapat dijabarkan bahwa masalah lingkungan di dunia yang sangat mengkhawatirkan kelangsungan hidup makhluk hidup yang berdampak negatif terhadap kerusakan lingkungan dan eksternalitas negatif. Atas dampak negatif dari masalah lingkungan tersebut beberapa negara menerapkan kebijakan untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Salah satu kebijakan yang diterapkan oleh beberapa negara adalah Green Tax. Penerapan Green Tax di beberapa negara memberikan dampak yang berpengaruh terhadap kondisi di suatu negara, dampak Green Tax terdiri dari dampak positif dan dampak negatif. Dari penerapan Green Tax dapat dikaji implementasinya untuk dijadikan sebagai acuan
desain di Indonesia. Perlunya untuk mengkaji penerapan Green Tax dari beberapa negara adalah untuk digunakan sebagai contoh jika digunakan sebagai regulasi atas lingkungan. Berdasarkan pemaparan mengenai penelitian Green Tax diatas diperoleh kerangka pemikiran sebagai berikut:
Bagan 1 Kerangka Pemikiran Sumber: diolah peneliti (2017)
Masalah lingkungan di dunia
Eksternalitas
Kebijakan atas kerusakan lingkungan
Green Tax
Design Green Tax di Indonesia Dampak positif
Green Tax
Dampak negatif Green Tax
Kerusakan lingkungan
Subyek Green Tax
Obyek Green Tax